Anda di halaman 1dari 30

DAFTAR ISI

Daftar Isi........................................................................................................................... 1 Pendahuluan...................................................................................................................... 2 Laporan Kasus...................................................................................................................3 Studi Kasus & Pembahasan...............................................................................................8 Tinjauan Pustaka............................................................................................................... 18 Kesimpulan........................................................................................................................28 Daftar Pustaka................................................................................................................... 29

BAB I PENDAHULUAN Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk alat gerak pasif, proteksi alat-alat di dalam tubuh, metabolism kalsium dan mineral, dan organ hemopoetik. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria). Di samping itu persediaan vitamin D yang adekuat diperlukan untuk menyerap kalsium dari makanan dan memasukkannya ke dalam tulang. Tulang juga merupakan jaringan ikat yang dinamis yang selalu diperbarui melalui proses remodeling yang terdiri dari proses resorpsi dan formasi. Dengan proses resorpsi, bagian tulang yang tua dan rusak akan dibersihkan dan diganti oleh tulang yang baru melalui proses formasi. Kedua proses ini bekerja secara seimbang dalam keadaan normal. Pada pasien osteoporosis proses resorpsi lebih aktif dibandingkan formasi, sehingga terjadi defisit massa tulang dan tulang menjadi semakin tipis dan perforasi. Osteoporosis merupakan penyakit tulang sistemik yang ditandai penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tubuh mungkin gagal membentuk tulang baru yang cukup, atau proses resorpsi lebih dominan daripada proses formasi, atau keduanya bisa terjadi bersamaan. Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Pada tahap lanjut penyakit penurunan densitas tulang mulai tampak pada radiografi rutin, pasien juga menjadi rentan terhadap fraktur terutama di korpus vertebra, pelvis, femur, dan tulang penyangga beban lainnya.

BAB II LAPORAN KASUS Seorang wanita, Ny. Winny, usia 67 tahun datang ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Daerah jam 10 malam, diantar anaknya dengan keluhan nyeri pinggang. Pasien masih mampu berjalan tanpa alat bantu. Dari hasil anamnesis didapatkan data pasien sebagai berikut : Nama Usia Pekerjaan Alamat Anak Cucu : Ny. Winny : 67 tahun : pensiunan karyawati Departemen Pendidikan : Jl. Tawakal Jakarta Barat : 5 orang : 13 orang

Riwayat penyakit sekarang Sekitar 2 jam yang lalu, saat akan masuk ke mobil, terpeleset dan jatuh terduduk di aspal dari posisi berdiri. Menurut pasien pada saat jatuh benturan yang terjadi tidak keras. Pada saat berusaha berdiri dari posisi duduk tersebut, pasien merasa nyeri pada pinggang, tetapi masih sanggup berdiri dan berjalan, walaupun harus berpegangan karena menahan sakit pada pinggang. Beberapa waktu kemudian nyeri pinggang dirasakan semakin berat. Kedua anggota gerak bawah dapat digerakkan, tidak ada rasa kesemutan atau kebas pada kedua anggota gerak bawah. Buang air besar dan buang air kecil dirasa normal dan terkontrol. Pasien mengaku sudah tidak mengalami menstruasi sejak 17 tahun yang lalu, tidak memiliki
3

kebiasaan merokok, tidak minum alkohol, tidak minum obat anti alergi. Tidak melakukan olahraga teratur, dan aktivitas paling banyak adalah nonton TV di kamar. Riwayat penyakit dahulu Tidak ada riwayat penyakit : darah tinggi, jantung, kencing manis Belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya

Dari Pemeriksaan Fisik ditemukan: Status generalis Kesadaran compos mentis, tidak tampak pucat, ekspresi wajah kesakitan. Datang dengan berjalan digandeng anak dan posisi badan sedikit membungkuk. Tanda vital: TD 130/85mmHg, N 100x/menit, suhu 36,5C, pernapasan 16x/menit, BB 58kg, TB 160cm Mata : tidak ikterik, tidak pucat THT : dalam batas normal Fungsi jantung : tidak ada kelainan Fungsi paru : tidak ada kelainan Abdomen : dalam batas normal

Status lokalis panggul Look (inspeksi): Postur tubuh membungkuk, merasa nyeri saar diminta menegakkan badan
4

Feel (palpasi): Nyeri tekan dan spasme otot pada area vertebra lumbal Move (gerak): Gerak aktif thoracolumbal terbatas karena nyeri

Dari gambaran radiologi vertebra Lumbal didapatkan gambaran sebagai berikut

(1)

(2) 5

Hasil pemeriksaan BMD terlampir :

(3)

(4)

(5)

(6)

(6)

(7) 7

BAB III STUDI KASUS & PEMBAHASAN

Daftar Masalah Wanita, 67 tahun

Hipotesis dan Analisis Post menopause Osteoporosis

Nyeri pinggang

Fraktur kompresi lumbal Low back pain Muscle fatigue Hernia nucleus pulposus

Masih mampu berjalan tanpa alat bantu, Fraktur/ dislokasi tidak mengenai bagian kedua anggota gerak bawah dapat digerakkan ekstremitas inferior Terpeleset dan jatuh terduduk dari posisi Fraktur femur berdiri Dislokasi articulatio coxae Spondylolisis spondylolisthesis

Tidak ada rasa kesemutan/ kebas pada kedua Trauma tidak mengenai saraf (tidak merusak anggota gerak bawah BAB dan BAK dirasa normal dan terkontrol saraf) Fungsi saraf otonom baik

Tidak mengalami menstruasi sejak 17 tahun Post menopause yang lalu Fungsi ovarium menurun Tidak lagi menghasilkan estrogen Tidak melakukan olahraga teratur, aktivitas Faktor inhibisi kerja osteoblast terbanyak adalah menonton TV di kamar Faktor stimulasi kerja osteoclast
8

Faktor risiko osteoporosis meningkat

Dari beberapa pernyataan masalah di atas, dapat kita tambahkan anamnesis yang dapat lebih menunjang dan mengarahkan kita kepada diagnosis, sebagai berikut : a) Identitas Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS berguna untuk mengetahui background pasien, yang nantinya berhubungan dengan tatalaksana dan prognosis kita, sudah tertera di atas b) Keluhan utama Apakah keluhan utama pasien? keluhan utama pasien datang dengan nyeri pinggang akibat terjatuh, sudah tertera di atas

c) Riwayat penyakit sekarang (1) Bagian mana yang pertama kali terkena benturan pada saat terjatuh? untuk memprediksi bagian mana dari tubuh yang menderita trauma sehingga dapat tercipta hipotesis (2) Seperti apa rasa nyeri yang dirasakan akibat terjatuh, apakah tumpul atau tajam? sakit yang tajam menandakan fase akut, sedangkan sakit yang tumpul menandakan fase kronik (3) Apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar? rasa sakit yang menjalar atau menyebar dapat menandakan kalau akibat dari trauma mempengaruhi sampai kepada bagian saraf (4) Berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada

malam hari atau siang hari? awal timbulnya nyeri penting untuk mengetahui apakah nyeri sudah diderita sebelum trauma ataukah baru diderita setelah terjadi trauma. Nyeri yang tidak berkurang pada saat isirahat menandakan adanya infeksi yang purulen

d) Riwayat Penyakit Dahulu Apakah dulu pasien pernah terjatuh? penting untuk mengetahui riwayat trauma Apakah pasien mempunyai penyakit tulang? ditanyakan untuk mengeliminasi hipotesis apakah rasa nyeri di pinggang diakibatkan oleh trauma ataukah oleh penyakit tulang lain yang pernah diderita pasien, seperti spondilitis tuberkulosis Apakah pasien penderita Diabetes? penting ditanyakan untuk mengetahui adakah penyakit sistemik lain yang diakibatkan oleh DM

e) Riwayat Penyakit Keluarga Apakah ada keluarga pasien yang mempunyai penyakit tulang? Seperti osteoporosis, osteomalasia? berhubungan dengan penyakit tulang dari pasien yang mungkin diderita Apakah ada keluarga pasien yang merupakan penderita Diabetes? berhubungan dengan riwayat penyakit DM pasien apabila ada

f) Riwayat penggunaan obat Apakah pasien sudah meminum obat untuk mengurangi rasa sakit? obat-

10

obatan analgetik yang dijual bebas di pasaran banyak mengandung kortikosteroid yang dapat memperparah osteoporosis Apakah pasien sedang meminum obat-obat anti alergi? berhubungan dengan riwayat penyakit alergi yang mungkin diderita pasien

Dari pemeriksaan inspeksi, terlihat pasien masih mampu berjalan sendiri tanpa alat bantu dan kedua anggota gerak bawah dapat digerakkan, karena itu, hipotesis fraktur femur dan dislokasi articulatio coxae dapat dihilangkan mengingat trauma tidak mengenai bagian ekstremitas inferior. Sedangkan untuk hipotesis HNP, juga dapat diabaikan karena pada usia 55 tahun ke atas, discus intervertebralis sudah mengeras sehingga sangat jarang terjadi hernia nucleus pulposus (umur pasien ini 67 tahun). Untuk hipotesis LBP dan muscle fatigue, tidak ditemukan keterangan lebih lanjut yang mendukung hipotesis tersebut, seperti sering melakukan aktivitas berat yang membebani kerja lumbal ataupun aktivitas monoton yang dapat menyebabkan LBP serta faktor-faktor risiko lain seperti obesitas, kebiasaan kerja yang salah, postur buruk, dan riwayat merokok. Dari pemeriksaan fisik dan laboratorium lebih lanjut, hipotesis lebih mengarah kepada fraktur kompresi (wedges) pada lumbal, terutama L1 dan L3. Hal itu didukung dengan gambaran radiologis yang akan dibahas lebih lanjut pada bab selanjutnya. Selain itu, dari hasil BMD, pasien dapat didiagnosis mengalami osteoporosis yang cukup berat sehingga meningkatkan risiko fraktur. Pasien dapat lebih mudah mengalami fraktur walupun benturan yang dialami tidak begitu keras (berdasarkan hasil anamnesis) akibat dari tulang yang tipis dan keropos akibat osteoporosis. INTERPRETASI GAMBARAN RADIOLOGIS & BMD Pada gambaran radiologi Antero-Posterior (AP) vertebra lumbal, gambar nomor (1) dan (6), terlihat bentukan wedges pada vertebra Lumbal 1 dan Lumbal 3 hasil gambaran radiologis

11

ini semakin menguatkan hipotesis terjadi fraktur kompresi pada pasien ini.

Sedangkan pada gambaran radiologis Lateral dari vertebra lumbal, gambar nomor

(2),

tampak bahwa os. Sacrum dari pasien ini lebih condong ke posterior, di mana hipotesis kami mengatakan bahwa keadaan ini diakibatkan oleh keadaan fraktur kompresi yang menekan tulang vertebra ke bawah pada saat pasien jatuh terduduk.

Berdasarkan hasil pemeriksaan BMD (Bone Mass Density) pasien ini, total nilai T-score di regio femur adalah -2,7. Sedangkan nilai T-score pada regio vertebra lumbal berkisar <-3,0, di mana bagian yang terparah yaitu pada L-3 dengan T-score -3,9. Berdasarkan nilai T-score
12

yang kita dapatkan, dapat disimpulkan bahwa pasien ini menderita osteoporosis tingkat berat, yaitu dengan kriteria T-score <-2,5 dan mengalami fraktur (pasien ini memenuhi kedua kriteria tersebut). Dari kesimpulan di atas, semakin menguatkan hipotesis bahwa pasien ini mengalami fraktur kompresi patologis pada vertebranya akibat faktor resiko osteoporosis. Keadaan osteoporosis ini mengakibatkan peningkatan kemungkinan fraktur yang disebabkan oleh trauma kecil sekalipun.

Femur

Vertebra lumbal

DIAGNOSIS KERJA Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen dan tes BMD, maka diagnosis kerja yang kami tegakkan adalah fraktur kompresi patologis pada vertebra lumbal, terutama L1 dan L3 et causa trauma disertai osteoporosis yang meningkatkan risiko fraktur akibat keadaan tulang yang lemah, tipis, dan keropos.

PENATALAKSANAAN (8) Pada pasien ini, penatalaksanaan yang diberikan bertujuan untuk memfiksasi bagian vertebra

13

lumbal yang mengalami fraktur, salah satunya dapat dengan diberikan alat bantu berupa korset lumbal. Pasien dianjurkan untuk melakukan fisioterapi untuk mengembalikan fungsi dan struktur tulang vertebra ke semula, serta agar pasien dapat berjalan normal kembali. Tindakan operatif pada pasien ini tidak dianjurkan mengingat usia pasien yang sudah 67 tahun. Selain mengatasi fraktur kompresi pada vertebra, penatalaksanaan juga ditujukan pada usaha mengurangi osteoporosis yang telah terjadi pada pasien ini. Penatalaksanaan osteoporosis yang dapat diberikan pada pasien ini antara lain : Edukasi dan Pencegahan 1. Pasien dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik yang teratur untuk memelihara kekuatan, kelenturan dan koordinasi sistem neuromuskular serta kebugaran, sehingga mencegah resiko terjatuh. Contohnya dengan berjalan 30-60 menit/hari, bersepeda dan berenang. 2. Jaga asupan kalsium 1000-1500 mg/hari, baik melalui makanan sehari-hari maupun suplementasi. 3. Hindari merokok dan minum alkohol. 4. Kenali berbagai penyakit dan obat-obatan yang dapat menimbulkan osteoporosis. 5. Hindari dalam mengangkat beban-beban yang berat. 6. Hindari berbagai hal yang dapat menyebabkan penderita terjatuh. 7. Hindari defisiensi vitamin D, terutama pada orang-orang yang kurang terpajan sinar matahari atau pada penderita dengan fotosensitifitas. Medikamentosa
14

1. Estrogen Proses resorpsi oleh osteoklas dan formasi oleh osteoblas dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor humeral dan faktor sistemik. Sitokin yang meningkatkan kerja osteoklas adalah granulocyte macrophage colony stimulating factors, macrophage colony stimulating factors, tumor necrosis , interleukin 1 dan interleukin 6. Sedangkan faktor lokal yang meningkatkan kerja osteoblas adalah IL-4 dan transforming growth factor . 2. Raloksifen Raloksifen merupakan anti estrogen yang mempunyai efek seperto estrogen di tulang dan lipid, tetapi tidak menyebabkan perangsangan endometrium dan payudara. Golongan preparat ini disebut juga selective estrogen receptor modulators (SERM). Mekanisme kerja rolaksifen terhadap tulang, sama dengan estrogen, tidak sepenuhnya diketahui dengan pasti, tetapi disuga melibatkan TGF3 yang dihasilkan oleh osteoblas dan osteoklas dan berfungsi menghambat diferensiasi osteoklas dan kehilangan masa tulang. 3. Bifosfonat Bifosfonat dapat mengurangi resorpsi tulang oleh osteoklas dengan cara berikatan pada permukaan tulang dan menghambat kerja osteoklas dengan cara mengurangi produksi proton dan enzim lisosomal dibawah osteoklas. Bifosfonat juga memiliki efek tak langsung terhadap osteoklas dengan cara merangsang osteoblas menghasilkan substansi yang dapat menghambat osteoklas dan menurunkan kadar stimulator osteoklas.

15

4. Kalsitonin Kalsitonin adalah suatu peptida yang terdiri dari 32 asam amino yang dihasilkan oleh sel C kelenjar tiroid dan berfugsi menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas. 5. Strontium ranelat Strontium ranelat merupakan obat osteoporosis yang memiliki efek ganda, yaitu meningkatkan kerja osteoblas dan menghambat kerja osteoklas. Akibatnya tulang endosteal terbentuk dan volume trabelar meningkat.

PROGNOSIS Ad vitam : Ad bonam

Prognosis ad vitam pada pasien ini adalah ad bonam karena tanda vital pasien masih dalam batas normal.

Ad fungsionam : Dubia ad bonam Prognosis ad fungsionam kami perkirakan dubia ad bonam, karena dilihat dari keadaan saat pasien datang yang masih bisa berjalan. Sedangkan dengan derajat keparahan osteoporosis tingkat berat yang diderita pasien, ditambah lagi dengan usia yang sudah lanjut ditakutkan apabila pengobatan yang dilaksanakan tidak adekuat untuk menangani osteoporosisnya, maka fraktur yang telah terjadi bisa semakin parah dan dapat berujung pada kecacatan fungsi.

Ad sanationam : Dubia ad malam


16

Penentuan prognosis ad sanationam pada pasien ini tergantung pada apakah si pasien akan mengalami trauma lagi atau tidak. Karena derajat osteoporosisnya tingkat berat, trauma yang kecil sekalipun dapat menyebabkan fraktur patologis pada pasien, sehingga prognosis yang kami berikan adalah dubia ad malam.

17

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI FRAKTUR Fraktur merupakan terputusnya kontinyuitas dari tulang, lempeng epifisis, atau tulang rawan sendi. KLASIFIKASI FRAKTUR(2) Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu: a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan) : 1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. 2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara

hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.

b.

Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur: 1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. 2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
18

a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut) b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.

c.

Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma : 1) Fraktur Transversal : fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. 2) Fraktur Oblik : fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga. 3) Fraktur Spiral : fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. 4) Fraktur Kompresi : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain . Contohnya adalah fraktur kompresi pada vertebra 5) Fraktur Avulsi : fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.

d.

Berdasarkan jumlah garis patah : 1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. 2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan. 3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada

19

tulang yang sama.

e.

Berdasarkan pergeseran fragmen tulang : 1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh. 2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas: a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping). b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut). c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

f.

Berdasarkan posisi frakur : Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : 1. 1/3 proksimal 2. 1/3 medial 3. 1/3 distal

g. h.

Fraktur Kelelahan : fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang. Fraktur Patologis : fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.

ETIOLOGI FRAKTUR Etiologi fraktur secara umum yaitu : Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar dari pada daya tahan tulang akibat trauma. Fraktur terjadi karena penyakit tulang seperti tumor tulang, osteoporosis yang disebut fraktur pathologis.
20

Fraktur stress atau fatigue, fraktur yang fatigue biasanya sebagai akibat dari penggunaan tulang secara berlebihan yang berulang ulang.

Fraktur kompresi (Wedge fractures) diakibatkan adanya kompresi pada bagian depan corpus vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur kompresi adalah fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra. Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya metastase kanker dari tempa lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra tersebut menjadi lemah dan akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi. Vertebra dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada ukuran vertebra sebenarnya

DEFINISI OSTEOPOROSIS Osteoporosis merupakan penyakit tulang sistemik yang ditandai penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tubuh mungkin gagal membentuk tulang baru yang cukup, atau proses resorpsi lebih dominan daripada proses formasi, atau keduanya bisa terjadi bersamaan. Pada tahap lanjut penyakit, penurunan densitas tulang mulai tampak pada radiografi rutin, pasien rentan
21

terhadap fraktur terutama di korpus vertebra, pelvis, femur, dan tulang penyangga beban lainnya. FAKTOR RESIKO OSTEOPOROSIS(3) Umur Faktur osteoporotik akan meningkat dengan meningkatnya umur. Insidens fraktur pergelangan tangan meningkat secara bermakna setelah umur 50-an, fraktur vertebra setelah umur 60-an, dan fraktur panggul setelah umur 70-an. Jenis kelamin Pada perempuan, risiko fraktur 2 kali dibandingkan laki-laki pada umur yang sama dan lokasi fraktur tertentu. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Densitas masa tulang Setiap penurunan densitas massa tulang 1 SD berhubungan dengan peningkatan risiko fraktur 1,5-3,0 SD.

Ras/Suku Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.

Keturunan Penderita osteoporosis Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti
22

kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Dalam garis keluarga mempunyai kemungkinan untuk memiliki struktur genetik tulang yang sama. Glukokortikoid Glukokortikoid merupakan penyebab osteoporosis sekunder dan fraktur osteoporotik yang terbanyak. Glukokortikoid akan menyebabkan gangguan absorbsi kalsium di usus dan peningkatan ekskresi kalsium lewat ginjal sehingga akan menyebabkan hipokalsemia, hiperparatiroidisme sekunder, dan peningkatan kerja osteoklas. Selain itu glukokortikoid akan menekan produksi gonadotropin, sehingga produksi estrogen menurun dan akhirnya osteoklas akan meningkat kerjanya, sehingga formasi tulang menurun. Riwayat fraktur Riwayat fraktur merupakan faktor risiko timbulnya fraktur osteoporotic di kemudian hari dengan risiko 2 kali. Risiko ini terutama tampak pada fraktur vertebra. Penderita dengan 2 fraktur vertebra atau lebih akan memiliki risiko untuk fraktur vertebra berikutnya sampai 12 kali lipat pada tingkat BMD manapun. Gaya hidup yang kurang baik Minuman berkafein dan beralkohol. Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).

23

Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.

Kurang olahraga. Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.

Merokok Rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Penyebabnya karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan. Disamping itu, rokok dapat menyebabkan hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi.

Kurang kalsium Jika konsumsi kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang

Mengkonsumsi Obat Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi dapat menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga
24

menyebabkan penyakit osteoporosis. Penyakit lain Pada gagal ginjal, ginjal gagal menyerap kembali kalsium dalam darah yang dibutuhkan oleh tubuh. Sebagai kompensasi tubuh akan mengambil kalsium dari tulang.

JENIS OSTEOPOROSIS(1) Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya Tipe I atau osteoporosis pasca menopause disebabkan oleh defisiensi estrogen akibat menopause. Estrogen membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Tipe II atau osteoporosis senilis disebabkan oleh gangguan absorpsi kalsium di usus sehingga menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder yang mengakibatkan timbulnya osteoporosis. Osteoporosis sekunder adalah osteoporosis yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat25

obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

PREVALENSI OSTEOPOROSIS(5,6) Studi di dunia :

Satu diantara tiga wanita di atas usia 50 tahun dan satu diantara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis.

Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk.

Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia. Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. (Studi Cummings et al, 1989)

Studi di Indonesia :

Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 1836%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%.

Rata-rata penderita yang terserang osteoporosis berusia di atas 50 tahun. Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis
26

atau keretakan tulang.


Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China.

DIAGNOSIS OSTEOPOROSIS(8) Pemeriksaan diagnostik pada osteoporosis dapat melalui a) Pemeriksaan Radiologi (1) Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan

menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. (2) BMD (bone mineral density) yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur densitas masa tulang. Pemeriksaan ini berguna untuk memperkuat diagnosis osteoporosis. Nilai T-score berhubungan dengan kekuatan tulang dan risiko fraktur. Bila digunakan nilai Z-score untuk diagnosis osteoporosis maka akan didapatkan banyak hasil negatif palsu walaupun terdapat fraktur fragilitas dan osteoporosis tidak akan makin meningkat dengan bertambahnya umur.(8)

b) Pemeriksaan Laboratorium (1) Pemeriksaan bone marker pada darah (P1NP & Beta-Cross Laps)

27

KOMPLIKASI Komplikasi yang paling sering dan serius dari osteoporosis adalah fraktur. Fraktur patologis dapat terjadi di semua tulang karena penurunan densitas tulang walaupun osteoporosis biasanya terjadi di tulang pangkal paha, panggul, pergelangan tangan dan kolumna vertebralis. tubuh Fraktur kompresi pada tulang vertebra dapat menyebabkan deformitas yang dapat membuat postur tubuh penderita berubah. Selain itu fraktur tulang belakang dapat menyebabkan rasa nyeri , dan kelumpuhan akibat tekanan pada medulla spinalis. Pada kasus yang parah, deformitas kurva vertebra dapat menyebabkan rotasi iga yang akan

menngganggu pernapasan. Penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari juga biasa terjadi setelah fraktur.

BAB V KESIMPULAN

Osteoporosis adalah salah satu penyakit yang menimpa tulang karena berkurangnya massa dan kepadatan tulang. Akibat dari osteoporosis, tulang dapat menjadi lebih rapuh dan mudah mengalami fraktur. Faktor resiko terbesar dari osteoporosis sendiri ialah usia, dimana osteoporosis sangat rentan terjadi pada lansia. Pada pasien ini didapatkan diagnosa fraktur kompresi patologis pada vertebra lumbal, terutama L1 dan L3 et causa trauma disertai osteoporosis yang meningkatkan risiko fraktur akibat keadaan tulang yang lemah, tipis, dan keropos. Hal ini didapat dari berbagai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan dan faktor usia pasien tersebut. Untuk itu dapat dilakukan beberapa penatalaksanaan yang tepat untuk
28

menangani fraktur serta osteoporosis yang terjadi pada pasien ini seperti upaya operatif, medika mentosa serta edukasi untuk tidak memperparah keadaan osteoporosisnya. Prognosis yang didapat juga bergantung terhadap kemauan pasien menjalani terapi serta menjaga kondisi tulangnya agar osteoporosis yang dialami tidak menjadi semakin parah.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi Idrus, Simadibrata, Setiati S. 2010. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 5th ed. Jakarta; p. 2650-2.

2.

Corwin EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. 3th ed. (Diterjemahkan oleh : Subekti NB). EGC: Jakarta. P.340-342 ;351.

3. Team

medicastore. Penyebab dan Faktor Risiko Osteoporosis. Available at

http://www.medicastore.com/osteoporosis/artikel_utama/2/Penyebab_Osteoporosis_dan_ Faktor_Risiko_Osteoporosis.html. Accesed on: October 27, 2011. Updated on: June 4, 2010. 4. Melton LJ 3d. Epidemiologi Spine osteoporosis tulang belakang.. 1997; 22 (24 Suppl): 2S-11s.

29

5.

Melton LJ 3d, Kan SH, MA Frye, Wahner HW, O'Fallon WM, Riggs BL. Epidemiologi patah tulang belakang pada wanita Am J Epidemiol.. 1989; 129:1000-11.

6.

Cooper C, Atkinson EJ, Jacobsen SJ, O'Fallon WM, Melton LJ 3d. Studi berbasis populasi untuk bertahan hidup setelah patah tulang osteoporosis Am J Epidemiol.. 1993; 137:1001-5.

7.

Kenny A, Taxel P. Osteoporosis pada pria yang lebih tua. Clin Cornerstone. 2000; 2:4551.

8.

Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramudiyo R. Pemeriksaan Densitometri Tulang. In: Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, Editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed. Jakarta: EGC; 2009. p.2477-80.

30