Anda di halaman 1dari 37

STASE KEPERAWATAN GERONTIK LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

J DENGAN HIPERTENSI DI WISMA GODOMADONO PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA ABIYOSO PAKEM, SLEMAN YOGYAKARTA

Di Susun Oleh : SUWARNININGSIH 3213030

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN IV SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA 2013
Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta Telp (0274) 434200

A. DEFINISI DAN BATASAN LANSIA Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994). Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal. WHO mengelompokkan usia lanjut sebagai berikut : 1. Middle Age : 45 59 tahun 2. Elderly Age : 60 74 tahun 3. Old : 75 90 tahun 4. Very Old : lebih dari 91 tahun Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga kelompok yakni : a) Kelompok lansia dini (55 64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia. b) Kelompok lansia (65 tahun ke atas). c) Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun. B. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA 1. Perubahan Fisik Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen. a. Sistem pernafasan pada lansia. 1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal. 2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.

3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml. 4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m), menyebabkan terganggunya prose difusi. 5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan. 6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. 7) kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi. Sistem persyarafan pada lansia. 1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan. 2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir. 3) Mengecilnya syaraf panca indera. 4)Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia. 1) Penglihatan a) Kornea lebih berbentuk skeris. b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).

d) Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap. e) Hilangnya daya akomodasi. f) Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang. g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala. 2) Pendengaran. a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) : Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun. b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. c) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin. 3) Pengecap dan penghidu. a) Menurunnya kemampuan pengecap. b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang. 4) Peraba. a) Kemunduran dalam merasakan sakit. b) Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin. b. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut. 1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.

2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. 3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ). 4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal 170/95 mmHg ). c. Sistem genito urinaria. 1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. 2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin. 3) Pembesaran prostat 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun. 4) Atropi vulva. 5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna. 6) Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus. d. Sistem endokrin / metabolik pada lansia.

1) Produksi hampir semua hormon menurun. 2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah. 3) Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH. 4) Menurunnya aktivitas tiriod BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat. 5) Menurunnya produksi aldosteron. 6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron. 7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess). e. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut. 1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. 2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit. 3) Esofagus melebar. 4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun. 5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. 6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). 7) Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

f. Sistem muskuloskeletal. 1) Tulang kehilangan densikusnya rapuh dan risiko terjadinya fraktur 2) kyphosis. 3) persendian besar & menjadi kaku. 4) pada wanita lansia > resiko fraktur. 5) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ). a. Gerakan volunter gerakan berlawanan. b. Gerakan reflektonik Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus. c. Gerakan involunter Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus d. Gerakan sekutu Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter. g. Perubahan sistem kulit & karingan ikat. 1). Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. 2). Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa 3). Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi. 4). Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.

5). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik. 6). Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. 7). Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu. 8). Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. 9). Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun. 10). Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. h. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan seksual. 1) Perubahan sistem reprduksi. a) selaput lendir vagina menurun/kering. b) menciutnya ovarium dan uterus. c) atropi payudara. d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur. e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik. 2) Kegiatan seksual. Seksualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi, 2) rohani, Secara rohani tertuju pada

orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial untuk kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas. Seksualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan seksualitas dalam pengalaman sek. 2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa. b. kesehatan umum c. tingkat pendidikan d. Keturunan (herediter) e. Lingkungan f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri

Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit. Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berharihari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk. Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu. Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial. 1. perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka. 2. Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak. 3. Gangguan halusinasi. 4. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi. 5. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri. 3. Perubahan Spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya

(Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970). C. PENYAKIT YANG UMUM TERJADI PADA LANSIA 1. Osteo Artritis (OA) OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan biologik yang mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi, dan perkapuran. OA

merupakan penyebab utama ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi risikonya karena trauma, penggunaan sendi berulang dan obesitas. 2. Osteoporosis Osteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang dimana masa atau kepadatan tulang berkurang. Terdapat dua jenis osteoporosis, tipe I merujuk pada percepatan kehilangan tulang selama dua dekade pertama setelah menopause, sedangkan tipe II adalah hilangnya masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya produksi vitamin D. 3. Hipertensi Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis), serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal 4. Diabetes Mellitus Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa dimana gula darah masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus, dimana kadar gula darah sewaktu diatas atau sama dengan 200 mg/dl dan kadar glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola makan yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut mempertinggi risiko DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75 tahun menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar, banyak berkemih, mudah lelah, berat badan terus berkurang, gatal-gatal, mati rasa, dan luka yang lambat sembuh. 5. Dimensia Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan seharihari. Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia lanjut. Adanya riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit vaskular/pembuluh darah (hipertensi,

diabetes, kolesterol tinggi), trauma kepala merupakan faktor risiko terjadinya demensia. Demensia juga kerap terjadi pada wanita dan individu dengan pendidikan rendah. 6. Penyakit jantung koroner Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada, sesak napas, pingsan, hingga kebingungan. 7. Kanker Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi sebuah sel mengalami perubahan bahkan sampai merusak sel-sel lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah ini mengalami mutasi karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan, mulai dari yang ringan sampai berubah sama sekali dari keadaan awal (kanker). Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung. Faktor resiko yang paling utama adalah usia. Dua pertiga kasus kanker terjadi di atas usia 65 tahun. Mulai usia 40 tahun resiko untuk timbul kanker meningkat. PENGKAJIAN PADA LANSIA A. Hal-hal yang mendasari timbulnya perhatian kepada lanjut usia Meliputi : 1. Pensiunan dan masalah-masalahnya 2. Kematian mendadak karena penyakit jantung dan stroke 3. Meningkatnya jumlah lanjut usia 4. Pemerataan pelayanan kesehatan 5. Kewajiban pemerintah terhadap orang cacat dan jompo 6. Perkembangan ilmu ; Gerontologi ; Geriatri 7. Program PBB

8. Konferensi Internasional di WINA tahun 1983 9. Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit 10. Mahalnya obat-obatan 11. Tahun lanjut usia Internasional 1 Oktober 1999 B. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lanjut Usia Menurut Depkes (1993) dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan, pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok seperti lingkungan keluarga atau di rumah, Panti werdha atau puskesmas yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan anggota keluarga atau bukan tenaga keperawatan diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah sakit atau panti. Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain : 1. Lanjut usia aktif : asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene, kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga; kebersihan lingkungan seperti tempat tidur, dan ruangan; maknana yang sesuai misalnya porsi kecil bergizi, bervariaasi dan mudah dicerna dan kesegaran jasmani. 2. Untuk lanjut usia pasif; hal yang perlu diperhatikan pada dasarnya sama seperti di atas, khususnya bagi lansia yang lumpuh perlu dicegah terjadinya dekubitus. C. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia a. Pendekatan Fisik Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progesivitasnya. Kemunduran fisik akibat proses ketuaan dapat mempengaruhi ketahanan tuubh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar.

b. Pendekatan Psikis Perawat dapat berperan segai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungan. Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik dan kelainan yang dideritanya. Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita dari masa lampau yang membosankan. Kemunduran ingatan akan mewarnai tingkah laku mereka dan lemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. c. Pendekatan Sosial Mengadakan diskusi, tukar pikiran dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatanuntuk berkumpul bersama dengan sesame klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. d. Pendekatan Spiritual Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama, terutama bila klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian. D. Tujuan Asuhan Keperawatan 1. Agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan : a. Peningkatan kesehatan b. Pencegahan penyakit c. Pemeliharan kesehatan 2. Mempertahankan kesehatanserta kemampuan dari kereka yang usianya lebih lanjut dengan jalan perawatan dan pencegahan 3. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (Life Support).

4. Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut) 5. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnose yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelaiann tertentu. 6. Mencari upaya semaksimal mungkin agar para klien yang menderita suatu penyakit/gangguan masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (melakukan kemandirian secara maksimal). E. Fokus Asuhan Keperawatan Lanjut Usia 1. Peningkatan kesehatan 2. Pencegahan penyakit 3. Mengoptimalkan fungsi mental 4. Mengatasi gangguan kesehatan yang umum F. Pengkajian Tujuan : 1. Menentukan kemampuan klien untu memeihara diri sendiri 2. Melengkapi dasar-dasar rencana perawatan individu Meliputi aspek : 1. Fisik Wawancara : a. Pandangan lanjut usia tentang kesehatannya b. Kegiatan yang mampu dilakukan lanjut usia c. Kebiasaan Lanjut usia merawat diri sendiri d. Kekuatan fisik lanjut usia otot, sendi, penglihatan dan pendengaran e. Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, buang air besar/kecil f. Kebiasaan gerak badan.olah raga.senam lanjut usia

g. Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan h. Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum obat. i. Masalah-masalah seksual yang dirasakan Pemeriksaan fisik a. Pemeriksan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi untuk mengetahui perubahan system tubuh. b. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan pemeriksaan fisik yaitu : Head to toe Sistem tubuh 2. Psikologis a. Apakah mengenal masalah-masalah utamanya b. Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan c. Apakah dirinya merasa dibutuhkan atau tidak d. Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan e. Bagaimana mengatasi stress yang dialami f. Apakah mudah dalam menyesuaikan diri g. Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan h. Apakah harapan pada saat ini dan akan dating i. Perlu dikaji juga mengenai fungsi kognitif; daya ingat, proses piker, alam perasaan, orientasi dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah 3. Sosial Ekonomi a. Darimana sumber keuangan lanjut usia b. Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang

c. Dengan siapa dia tinggal d. Kegiatan organisasi apa yang diikuti lanjut usia e. Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya f. Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah g. Siapa saja yang biasa mengunjunginya h. Seberapa besar etergantungannya i. Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginan dengan fasilitas yang ada 4. Spiritual a. Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya b. Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan, misalnya pengajian. c. Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah. d. Apakah lanjut usia terlihat sabar dan tawakal 5. Pengkajian dasar a. Temperatur Mungkin serendah 35oC Lebih teliti diperiksa di sublingual

b. Pulse (denyut nadi) Kecepatan, irama, volume Apikal, radial, pedal

c. Respirasi Kecepatan, irama dan kedalaman Tidak teraturnya pernafasan

d. Tekanan darah Saat baring, duduk, berdiri Hipotensi akibat posisi tubuh

e. Berat badan Berat badan perlahan-lahan hilang pada tahun-tahun terakhir

f. Tingkat orientasi g. Memory h. Pola tidur i. Penyesuaian psikososial Sistem Persyarafan 1. Kesimetrisan raut wajah 2. Tingkat kesadaran adanya perubahan-perubahan dari otak Kebanyakan mempunyai daya ingatan yang menurun

3. Mata: pergerakan, kejelasan melihat, adanya katarak 4. Pupil : kesamaan, dilatasi 5. Ketajaman penglihatan menurun karena menua 6. Sensory deprivation (gangguan sensorik) 7. Ketajaman pendengaran Apakah menggunakan alat bantu dengar

8. Adanya rasa sakit atau nyeri Sistem Kardiovaskuler 1. Sirkulasi perifer, warna dan kehangatan 2. Auskultasi denyut nadi apical

3. Periksa adanya pembengkakan vena jugularis 4. Pusing 5. Sakit 6. Edema Sistem Gastrointestinal 1. Status gizi 2. Pemasukan diet 3. Anoreksia, tidak dicerna, mual dan muntah 4. Mengunyah dan menelan 5. Keadaan gigi, rahang dan rongga mulut 6. Auskultasi bising usus 7. Palpasi apakah perut kembung ada pelebaran kolon 8. Apakah ada konstipasi, diare, dan inkontinensia. Sistem Genitourinarius 1. Warna dan bau urine 2. Distensi kandung kemih, inkontinensia. 3. Frekuensi, tekanan atau desakan 4. Pemasukan dan pengeluaran cairan 5. Disuria 6. Seksualitas Kurang minat untuk melaksanakan hubungan seks Adanya kecacatan sosial yang mengarah ke aktivitas seksual

Sistem Kulit 1. Kulit

Temperatur, tingkat kelembaban Keutuhan luka, luka terbuka, robekan Turgor Perubahan pigmen

2. Adanya jaringan parut 3. Keadaan kuku 4. Keadaan rambut Sistem Muskuloskeletal 1. Kontraktur Atrofi otot Ketidakadekuatan gerakan sendi

2. Tingkat Mobilisasi Ambulasi dengan atau tanpa bantuan/peralatan Keterbatasan gerak Kekuatan otot Kemampuan melangkah atau berjalan

3. Gerakan sendi 4. Paralisis 5. Kifosis Psikososial 1. Menunjukan tanda-tanda meningkatnya ketrgantungan 2. Fokus-fokus pada diri bertambah 3. Memperlihatkan semakin sempitnya perhatian

4. Membutuhkan bukti nyata akan rasa kasih saying yang berlebihan

A. Masalah Kesehatan (Hipertensi) 1. Definisi Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya tekanan sistolik >140 mmHg dan tekanan diastolik >90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001).Menurut WHO (1978), tekanan darah 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Kategori Normal tinggi (perbatasan ) Stadium I Ringan Stadium 2 Sedang Stadium 3 Berat Stadium 4 Sangat Berat 2. Klasifikasi Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : (Darmojo, 1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain. 3. Etiologi Hipertensi pada lansia dapat disebabkan oleh interaksi bermacam-macam faktor, antara lain: Kelelahan, proses penuaan, keturunan, diet yang tidak seimbang, stress, sosial budaya. Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahanperubahan pada : a. Elastisitas dinding aorta menurun. b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku. Sistolik (Atas) 130-190 140-159 160-179 180-209 210 Diastolik (Bawah) 85-89 90-99 100-109 110-119 120

c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun. Kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi. e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, datadata penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah: Faktor keturunan, Menurut data dari statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. Ciri perseorangan. Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur (jika umur bertambah maka TD meningkat), Jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan), Ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih). Kebiasaan hidup. Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr), Kegemukan atau makan berlebihan.

Stress:

Merokok, Minum

alcohol, Minum

obat-obatan

(ephedrine,

prednison, epineprin) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor, Vascular, Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol, Vaskulitis, Kelainan endokrin, DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Saraf, Stroke, Ensepalitis, SGB, Obatobatan, Kontrasepsi oral, Kortikosteroid. 4. Patofisiologi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui

system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Sedangkan bagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001). Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

Patways

umur

Jenis kelamin

Gaya hidup

obesitas

Elastisitas

, arteriosklerosis

hiperten si Kerusakan vaskuler pembuluh darah Perubahan struktur Penyumbatan pembuluh darah vasokonstriksi Gangguan sirkulasi

otak

ginjal

Pembuluh darah

Retina

Resistensi pembuluh darah Nyeri Gangguan otak kepala pola tidur

Suplai O2 otak menurun sinkop

Vasokonstriksi pembuluh darah ginjal Blood flow munurun Respon RAA Rangsang aldosteron Retensi Na Edem a

sistemik

koroner

Spasm e arteriol
diplopia

vasokonstriksi

Iskemi miocard Nyeri dada Fatique Intoleransi aktifitas

Afterload meningkat Penurunan curah jantung

e Resti injuri

Gangguan perfusi jaringan

5. Tanda dan gejala Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.

6. Pemeriksaan Penunjang a. Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor-factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia. b. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal c. Glukosa: Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) d. Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik. e. Kalsium serum: Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi

f. Kolesterol dan trigliserid serum: Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) g. Pemeriksaan tiroid: Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi h. Kadar aldosteron urin/serum: Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) i. Urinalisa: Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. j. Asam urat: Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi k. Steroid urin: Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme l. IVP: Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal / ureter m. Foto dada: Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung n. CT scan: Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati o. EKG: Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. 7. Penatalaksanaan Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi pemeliharaan kardiovaskuler tekanan yang berhubungan dibawah dengan pencapaian dan darah 140/90 mmHg.

Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : a. Terapi tanpa Obat: Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi : 1) Diet. Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr, diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh, penurunan berat badan, penurunan asupan etanol, menghentikan merokok 2) Latihan Fisik. Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olahraga yang mempunyai

empat

prinsip

yaitu

Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu. 3) Edukasi Psikologis. Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi: Tehnik Biofeedback. Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. 4) Tehnik relaksasi. Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks. 5) Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ). Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. b. Terapi dengan Obat. Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint National Committee On Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

B. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a) Aktifitas/ istirahat Gejala Tanda Gejala Tanda c) : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton : Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea : Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner aterosklerosis. : Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disrythmia, denyutan nadi jelas, bunyi jantung murmur, distensi vena jugularis Integritas Ego Gejala Tanda : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor stress multiple (hubungan, keuangan, pekerjaan) : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), peningkatan pola bicara d) Eliminasi Gejala e) :Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat penyakit ginjal ), obstruksi. Makanan/ cairan Gejala :Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol), mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat penggunaan diuretik. Tanda f) Gejala Tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem. :Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital, gangguan penglihatan. :Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori, perubahan retina optik. Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan. g) Nyeri/ ketidaknyamanan Gejala :Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/ masssa. h) Pernafasan Gejala :Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea, batuk dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok. Neurosensori

b) Sirkulasi

Tanda :Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan alat bantu pernafasan. i) Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi, cara brejalan. 2. Pemeriksaan Diagnostik: Hb: untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap volume cairan (viskositas), BUN: memberi informasi tentang fungsi ginjal, glukosa: mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi), kalsium serum, kolesterol dan trygliserid, urin analisa, foto dada, CT Scan, EKG. 3. Kemungkinan Diagosa Keperawatan a. Gangguan rasa nyaman nyeri (sakit kepala) b/d peningkatan tekanan vaskuler serebral.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake

nutrisi inadekuat c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. d. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic. e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurang paparan informasi f. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. g. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang, motorik atau persepsi. 4. Intervensi a. Gangguan rasa nyaman nyeri (sakit kepala) b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Menghilangkan rasa nyeri Kriteria hasil : Melaporkan ketidanyamanan hilang atau terkontrol, mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan. Intervensi : 1) Pertahankan tirah baring selama fase akut R/ Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi,

2) Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher R/ Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral,efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya. 3) Hilangkan/minimalkan BAB R/ Aktifitas yang meningkatkan vasokontraksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan vaskuler serebral. 4) Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan R/ Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang berlebihan yang memperberat kondisi klien. 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti ansietas, diazepam. R/ Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf simpatis. b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhb.d intake nutrisi inadekuat Tujuan : Kriteria ideal Intervensi: 1) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi R/ Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya aterosklerosis, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi. 2) Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet R/ Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diit terakhir. kebutuhan nutrisi terpenuhi Hasil : Klien menunjukkan peningkatan berat badan, aktifitas vasokontraksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya batuk panjang, mengejan saat

menunjukkan perilaku meningkatkan atau mempertahankan berat badan

3) Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk kapan dan dimana makan dilakukan, lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan R/ Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk dimakan

memfokuskan perhatian pada factor mana pasien telah/dapat mengontrol perubahan. 4) Intruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging dll) R/ dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan,jeroan) Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis. 5) Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi R/ c. Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Tujuan : tidak terjadi intoleransi aktivitas Kriteria Hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan atau diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur Intervensi: 1) Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter : frekwensi nadi 20 x/menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatan TD, dipsnea, atau nyeri dada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsan R/ Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress, aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja jantung. 2) Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri R/ Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual.

3) Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri R/ Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung 4) Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi/rambut dengan duduk dan sebagainya R/ Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 5) Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih periode aktivitas R/ d. Jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan mencegah kelemahan. Inefektif koping individu b.d mekanisme koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistik. Tujuan : klien menunjukkan tidak ada tanda-tanda inefektif koping : Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan Kriteria Hasil

konsekuensinya, menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi, mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari dan mengubahnya. Intervensi: 1) Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan R/ Mekanisme adaptif perlu untuk megubah pola hidup seorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari. 2) Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala, ketidak mampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah R/ Manifestasi mekanisme koping maladaptif mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic. 3) Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya

R/

Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam

mengubah respon seseorang terhadap stressor. 4) Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan R/ Keterlibatan memberikan klien perasaan kontrol diri yang Memperbaiki keterampilan koping, dan dapat berkelanjutan.

menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik. 5) Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan ketimbang membatalkan tujuan diri / keluarga: R/ dan tidak berdaya.
e.

Perubahan yang perlu harus

diprioritaskan secara realistic untuk menghindari rasa tidak menentu Kurang pengetahuan Tujuan : mengenai kondisi penyakitnya berhubungan

dengan kurangnya informasi mengenai penyakitnya. Klien menunjukkan peningkatan pengetahuan mengenai penyakitnya Kriteria hasil: Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regiment pengobatan, mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan. Mempertahankan TD dalam parameter normal. Intervensi: 1) Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut R/ Mengidentifikasi tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudah dalam menentukan intervensi. 2) Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardivaskuler yang dapat diubah, misalnya : obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok, pola hidup penuh stress dan minum alcohol (lebih dari 60 cc/hari dengan teratur) R/ Faktor-faktor resiko ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal. 3) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat R/ Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal

klien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis. Bila klien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan 4) Jelaskan kontinyu, pada klien maka perubahan proses perilaku penyakit tidak akan dipertahankan. tentang hipertensi (pengertian,penyebab,tanda dan gejala,pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut) melalui penkes R/ f. Resiko Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien tentang proses tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan penyakit hipertensi. vasokontriksi pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung Kriteria Hasil : Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah/beban kerja jantung, mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien. Intervensi: 1) Observasi tekanan darah R/ Perbandingan dari tekanan darah memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan vaskuler. 2) Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer R/ Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati saat palpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi dan kongesti vena. 3) Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas R/ S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels, mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik. 4) Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler R/ Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung. 5) Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas atau keributan ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal

R/

Membantu

untuk

menurunkan

rangsangan

simpatis,

meningkatkan relaksasi 6) Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi R/ Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah. 7) Kolaborasi dengan dokter dalam pembrian terapi anti hipertensi dan diuretik: R/ g. Menurunkan tekanan darah. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang, motorik atau persepsi. Tujuan : Tidak terjadi cidera Kriteria hasil: Mengidentifikasi faktor yang meningkatkan resiko terhadap cedera, memperagakan tindakan keamanan untuk mencegah cedera, meminta bantuan bila diperlukan Intervensi: 1) Lakukan tindakan untuk mengurangi bahaya lingkungan R/ Membantu menurunkan cedera. Bila penurunan sensitifitas taktil menjadi masalah ajarkan klien untuk melakukan: Kaji suhu air mandi dan bantalan pemanas sebelum digunakan, kaji ekstremitas setiap hari terhadap cedera yang tak terdeteksi. 2) Pertahankan kaki tetap hangat dan kering serta kulit dilemaskan dengan lotion emoltion: R/ Kerusakan sensori pasca CVA dapat mempengaruhi persepsi klien terhadap suhu. 3) Lakukan tindakan untuk mengurangi resiko yang berkenaan dengan pengunaan alat bantu R/ Penggunaan alat bantu yang tidak tepat atau tidak pas dapat meyebabkan regangan atau jatuh 4) Anjurkan klien dan keluarga untuk memaksimalkan keamanan di rumah R/ Keamanan yang baik meminimalkan terjadinya cidera

Daftar pustaka Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC. Dep Kes RI, 2010. Diet Rendah garam, Pozi Pusat Dep Kes RI, Jakarta Djarwoto B. Pengobatan Hipertensi ,Bag IPD FK UGM, Yogyakarta Doenges, Marilynn E , dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan . Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC. http://www.scribd.com/doc/45725767/hipertensi-pada-lansia diakses tanggal 20 Maret 2012. Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: EGC. Smeltzer, Suzanne; and Benda G Bare. (2001), Buku Saku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC. Soeparman dkk, 2007, Ilmu Penyakit dalam, Jilid 1, edisi 2. UI Press, Jakarta. Darmojo, Boedhi,et al.2000.Beberapa masalah penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Friedman,M. Marilyn. (2010). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik. Jakarta: EGC. Jhonson & Leny. (2010). Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Nuha Medika Mansjoer,Arif., et al. (2008). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI: Media Aescullapius. Smeltzer SC, Bare BG. (2008). Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Edisi 8. Jakarta: EGC. Suprajitno. (2010). Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam Praktek. Jakarta: EGC. Sri Rahayu dkk. 2007. Nutrisi untuk klien hipertensi . Jakarta