Anda di halaman 1dari 79

KEORGANISASIAN

1. Pendahuluan.

Organisasi itu sama tuanya dengan peradaban manusia. Sejarah mencatat bahwa keterangan-keterangan tertua mengenai organisasi di masa lampau adalah dari dikalangan ketentaraan. Menurut ketrangan-keterangan tersebut tercatat bahwa tentara-tentara dari zaman Mesir paling tua, laskar-laskar Asiria yang tertua, legiun-legiun Romawi pada zaman Julius Caesar, sudah terorganisasi dengan baik dan tertib. Demikian pula dengan arsitektur-arsitektur bangunan megah serta karya-karya seni lainnya sudah berabad-abad lamanya bertahan sebagai warisan yang masih dikagumi oleh generasi sekarang, hendaklah dilihat sebagai hasil usaha suatu pengorganisasian yang baik. Candi Borobudur misalnya, hanya dapat diwujudkan berkat suatu sistem kerja yang diatur dengan tertib melalui suatu organisasi, entah apa pun bentuknya. Saat ini perkembangan kehidupan keorganisasian sudah berkembang pesat, baik itu organisasi massa, politik, kepemudaan hingga organisasi perusahaan, HIMPALA salah satu contohnya. Perkembangan itu menunjukkan bahwa apapun yang menjadi tujuan suatu organisasi, prinsip-prinsip dasar tertentu selalu berlaku, guna mengatur tertibnya kegiatan yang dilakukan serta alat-alat yang digunakan. Prinsip inilah yang akan kita 'kupas', namun ada satu hal bahwa yang pen-ting bukan hanya keberadaan organisasi tersebut saja, tetapi melainkan juga orang-orang yang ada dan hidup di dalamnya. Inti dari organisasi adalah manajemen, sedangkan inti dari manajemen adalah kepemimpinan sedangkan inti dari kepemimpinan adalah Pengambilan keputusan dan 'Human Relation' (komunikasi). 2. Administrasi.

Kata 'Administrasi' berasal dari kata Yunani AD + MINISTRARE yang berarti pengabdian atau 'service' atau pelayanan. Untuk mencapai suatu tujuan, pertama-tama orang harus berpikir, kemudian mengatur/ menentukan bagaimana caranya mencapai tujuan tersebut. Keseluruhan dari aktivitas-aktivitas tersebut dirangkum dalam suatu pengertian ADMINISTRASI. Jadi administrasi secara singkat adalah : "Aktivitas-aktivitas untuk mencapai suatu tujuan atau proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan". Untuk itu diperlukan beberapa perangkat administrasi. Ada pun perangkat tersebut adalah ; Perangkat Pengendali Administrasi, Perangkat Operasi Administrasi dan Perangkat Pendukung Administrasi a. Perangkat Pengendali Administrasi. Adalah suatu alat atau sarana yang mengendalikan kegiatan administrasi secara terarah dalam mencapai suatu tujuan. Ada tiga perangkat pengendali administrasi ini, yaitu : idiil, konstitusional dan operasi. 1) Idiil. : Pancasila, lambang, simbol, nama. Anggaran Dasar dan Anggaran

2) Konstitusional : Undang-undang Dasar, Rumah Tangga. 3) Operasi : Negara dan organisasi

Misalnya (operasi) negara kita Indonesia, (Idiil) mempunyai dasar negara yang dipakai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, dan (konstitusional) mempunyai ketentuan dan aturan mengenai ketatanegaraan yaitu Undanag-undang Dasar 1945. b. Perangkat Operasi Administrasi. 1) 2) 3) Manajemen. Organisasi. Kepemimpinan.

yaitu yang memimpin dan melaksanakan tugas-tugas kegiatan manajerial atau proses manajemen yang diwadahi oleh organisasi. c. Perangkat Pendukung Administrasi. 1) Material/ logistic, Baik pengadaan, penggunaan maupun pemeliharaan. biaya, diutamakan untuk penggunaan dan pertanggung

2) Anggaran jawabannya. 3. Manajemen.

Pada prinsipnya definisi dari manajemen adalah : "Suatu proses/ kegiatan/ usaha pencapaian tujuan tertentu melalui kerja sama dengan orang lain". Dengan kata lain, bahwa arti langsung dari manajemen adalah PENGELOLAAN. Persoalan pokok yang timbul pada manajemen adalah : Mengapa orang-orang mau melaksanakan perintah, sedangkan orang-orang itu mengetahui bahwa hasil perintah tersebut bukan untuk mereka melainkan untuk yang memerintah. Tentu saja banyak alasan untuk menjawabnya, namun ada satu hal yang penting bahwa orang-orang yang diperintah merasa senang dalam menerima dan menjalankannya. Mengapa mereka merasa senang ?. Jawabnya, karena umumnya orang-orang akan merasa senang apabila kebutuhan-kebutuhan pokok dasar dari orang-orang tersebut secara minimum dapat terpenuhi. Ada pun kebutuhan tersebut adalah : a. Yang bersifat material : Sandang, pangan, papan, dll.

b. Yang bersifat non-material : Kebutuhan akan rasa harga diri, keselamatan, rasa belongingness and love, akan rasa berpatisipasi dan akan rasa aktualisasi. Rasa Harga Diri. Manusia selalu berusaha dan menginginkan selalu dijaga dan dihormati secara wajar oleh orang lain, betapa pun rendahnya kedudukannya. Rasa Keselamatan (Sefety). Mengandung pengertian yang sangat luas dan komplek. Dapat dilihat dari faktor lingkungan kerja, faktor keluarga, faktor kesehatan, dan lain-lain. Rasa Belongingness and Love. Belongingness : suatu perasaan dimana setiap orang/ anggota mempunyai rasa ikut memiliki dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pada ikatan organisasi di mana ia bergabung. Love : Cinta kepada tugas atau pekerjaan, cinta kepada organisasi, cinta kepada rekan-rekan seorganisasi, dan lain-lain.

Rasa Berpartisipasi. Peranan seorang ketua/ senior sangat dominan, sehingga para anggota yang dengan aktif ikut berpartisipasi dapat merasakan bahwa ia turut bertanggung jawab pula pada organisasinya. Rasa Aktualisasi. Manusia memerlukan perhatian yang sewajarnya, terutama dari ketua/orang yang ditua-kan atas hasil pekerjaannya.

Hal-hal di atas, belum tentu dapat menjamin akan terwujudnya prestasi kerja para anggota secara otomatis dan menyeluruh, karena masih ada faktor-faktor seperti ; Alat/ perkakas/ kerja, keadaan tempat kerja, sistem : pengetahuan (kepandaian), kepemimpinan, motivasi, dll. Tujuan utama dalam mempelajari manajemen adalah guna memperoleh suatu cara, teknik, metode yang terbaik agar dengan sumber daya yang terbatas (modal, tenaga, dll) dapat diperoleh hasil/ guna yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain, guna mendapatkan efisiensi dan dayaguna (efektifitas). Yang dimaksud dengan efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara 'input' dan 'output' atau antara pendapatan dan pengeluaran. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan berdayaguna adalah : tepat, cepat, hemat dan selamat. Pemimpin adalah orang yang akan melaksanakan manajemen, sehingga dia harus dapat melaksanakan fungsi manajemen. Ada pun fungsi-fungsi manajemen adalah : a. Kedalam organisasi. 1) Perencanaan (Planning). Perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Perencanaan dapat dikatakan baik, jika : Dapat menjawab pertanyaan 5W + H : What, Why, Where, When, Who dan How. Dapat melaksanakan dengan kemampuan yang ada (operasional). Berambisi namun realistik. Kontinyu (berkesinambungan). Stabil dan fleksibel. Komparatif (menyeluruh). Berdasarkan skala prioritas. Adanya Network Planning (gambaran urutan kegiatan/ program kerja).

Batasan-batasan ini tidaklah mutlak, bergantung dari jenis organisasinya. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa perencanaan yang tepat terletak pada prinsip 'komitmen', yaitu perencanaan sebaiknya didasarkan pada waktu yang diperlukan untuk dapat memenuhi ketetapan-ketetapan organisasi tersebut. 2) Pengorganisasian (Organizing). Pengorganisasian adalah keseluruhan aktifitas manajemen, mengelompokkan orang-orang dengan menetapkan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawab masing-masing agar mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Bertujuan untuk membagi-bagi tugas atau pekerjaan sesuai keahliannya. 3) Penggerakkan (Actuiting). Yaitu upaya yang dilakukan pimpinan agar setiap anggota organisasi kerkeinginan berusaha mencapai tujuan bersama yang telah ditentukan. Usaha ini penting dilakukan untuk melawan hambatan fisik, emosi, dll, yang biasanya terjadi pada bawahan dalam melakukan tugas-tugas, sehingga mereka dapat bekerja dengan bergairah dan bersemangat.

Ada pun unsur-unsur pergeraknya antara lain : motivasi (bimbingan dan dorongan), kepemimpinan dan komunikasi. 4) Pengawasan (Controlling). Pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan memperbaiki (mengoreksi) dengan maksud agar pelaksanaan tugas-tugas sesuai dengan rencana semula (planning). 5) Pelaporan (Reporting). Sebagaimana lazimnya dari suatu manajemen yang baik, setelah selesai melakukan kegiatan biasanya diadakan pelaporan hasil kegiatan. Pelaporan ini berguna sekali untuk : pertanggung jawaban kegiatan tersebut, eva luasi yang berguna sebagai bahan masukan untuk merencanakan kegiatan sesudahnya (berikutnya), dan sebagai dokumentasi. b Keluar organisasi. 1) 2) 3) Dapat mewakili badan. Mengadakan hubungan dengan masyarakat. Melakukan kegiatan sebagai warga negara.

Agar menajemen dapat mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya, sangatlah diperlukan adanya alat-alat manajemen yang dapat dirumuskan menjadi 6 M, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 4. Men and moral Money Methods Materials Machines Market : Tenaga kerja manusia dan wataknya : Uang yang diperlukan : Cara/ sistem : Bahan-bahan/ alat-alat yang diperlukan : Mesin-mesin yang diperlukan : Pasaran.

Organisasi.

Banyak sekali pendapat yang menyatakan definisi organisasi ini, tetapi yang kita pergunakan adalah dari Kamus Administrasi, yaitu : "Organisasi adalah suatu sistem usaha kerja sama dari pada sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama". Sistem kerja usaha ini dapat terdiri dari bermacam-macam unsur sumber daya dan unsur-unsur organisasi yang saling mendukung. Organisasi itu sendiri timbul atau terjadi apabila ada dua orang atau lebih bersama-sama menjalankan pekerjaan untuk kepentingan bersama. Jika pekerjaan itu hanya dijalankan oleh satu orang saja, maka tidak perlu ada organisasi. Dasar organisasi adalah 'apanya' bukan 'siapanya'. Jadi yang dipentingkan adalah APAKAH tugas kerja dari organisasi ?, bukan siapa orangnya yang akan memegang organisasi. Dengan demikian bila kita telah mengerti tugas suatu organisasi, barulah kita mencari orang-orangnya yang akan memimpin organisasi tersebut. Jika kita mencari orangnya terlebih dahulu mungkin terjadi kekurangan informasi, sehingga diadakan formasi yang sesungguhnya tak perlu. Jika asas yang mendahulukan 'apa' daripada 'siapa', itu dijalankan, maka usaha-usaha ke arah The right man in the right place terjamin. Arti-nya, suatu tugas pekerjaan benar dipangku oleh orang yang ahli dalam bidangnya, cakap dan sanggup serta mampu menjalankan tugas.

Organisasi mempunyai tiga unsur, yaitu : a. b. c. Himpunan orang-orang. Bekerja sama. Pencapaian tujuan bersama.

Dari unsur-unsur ini kemudian dapat dirumuskan ciri dari suatu organisasi. Ciri setiap organisasi adalah, bahwa tindakan yang dilakukan hendaklah secara sadar dan terarah demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Jadi penyesuaian dan pengarahan ke tujuan itu adalah sifat yang terdapat baik pada organisasi maupun pimpinannya. Organisasi yang baik haruslah memenuhi syarat-syarat tentang ketepatgunaan dan efisiensi. 5. Hubungan antara manajemen dan organisasi.

Organisasi sebagai tempat atau wadah dari pada manajemen mempunyai hubungan yang erat sekali dengan manajemen itu sendiri dan saling mempengaruhi. Jika organisasi baik, tetapi manajemen tidak baik, sudah barang tentu memiliki pengaruh sehingga organisasi tersebut tidak dapat bergerak. Demikian sebaliknya, jika manajemen baik, tetapi organisasi buruk akan menimbulkan mismanagemen, yaitu suatu kesalahan/ kekeliruan tindakan yang terjadi ketika berlangsungnya proses pencapaian tujuan, misalnya pemberian pimpinan, bimbingan atau proses pemberian fasilitas-fasilitas. Sehingga dapat dikatakan, hubungan antara manajemen dan organisasi seperti hubungan 'jiwa dengan raga'. Bila salah satu terganggu, maka lainnya akan terpengaruh. Manajemen yang terkandung sebagai penggerak organisasi adalah : a. Personal/Orang. Ada yang melakukan kegiatan manajeriaal (pimpinan) dan ada yang diatur (anggota). b. Sasaran/Target. Berbeda dengan tujuan. Sasaran adalah suatu tahapan kegiatan untuk mencapai suatu bagian dari tujuan. c. Policy (Kebijaksanaan). Merupakan alat pembantu untuk melakukan dan menggerakkan kegiatan. Ini akan mempengaruhi corak dari organisasi tersebut. d. Prosedur Kerja. Suatu rangkaian dari tata-cara pelaksanaan yang berkaitan satu dengan lainnya secara kronologis. e. Metoda Kerja. Suatu cara untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas tertentu dengan menggunakan kecakapan/ keterampilan tertentu, juga memperhatikan waktu dan biaya. f. Operasi. Operasi ini terdiri dari : Perencanaan, pelaksanaan, pengevaluasian dan laporan. 6. Kepemimpinan.

Suatu organisasi tidak dapat dipisahkan dari pimpinannya. Hal ini berlaku bagi organisasi di setiap bidang yang ada. Kepemimpinan itu berkaitan dengan kegiatan suatu kelompok orang, dengan susunan serba teratur; entah apa pun sifatnya susunan tersebut; bekerja sama ke arah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang pemimpin harus tetap bertumpu dengan jelas pada tujuan organisasi, tidak lepas pula masalah fungsi dan tugas seorang pemimpin. Pemimpin telah menunaikan fungsinya, manakala ia berhasil membawa organisasinya mencapai sasaran atau tujuan organisasi tersebut, dengan memperhatikan kaidah-kaidah atau norma-norma yang berlaku bagi organisasi tersebut.

Suatu fungsi baru akan memperoleh arti yang sesungguhnya setelah dijelaskan tugas-tugas yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsinya. Ada beberapa tugas-tugas pokok yang diberikan kepada pihak pimpinan, meskipun tidak lengkap, yaitu : a. Penetapan sasaran organisasi.

b. Menyusun rencana kebijaksanaan umum, yang dipadukan dengan pandangan dan aspek yang mungkin timbul dari sasaran-sasaran tersebut. c. Mempersiapkan rancangan kegiatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

d. Menyusun kegiatan-kegiatan dan alat-alat dengan yang paling berdaya guna, yang meliputi : 1) 2) 3) Memilih orang-orang serta alat-alatnya. Struktur pelaksanaan (organisasi). Penataan cara kerja.

e. Pelimpahan kebijaksanaan, yaitu melimpahkan tugas dan wewenang kepada pimpinan (orang) yang jenjangnya lebih rendah (para pelaksana). f. g. Memberikan instruksi-instruksi untuk pelaksanaan. Menyelenggarakan koordinasi bagi kebijaksanaan dan pelaksanaan.

h. Mengawasi pelaksanaan dan uji coba kebijaksanaan yang ditempuh mengenai kemungkinan-kemungkinan diadakannya perbaikan dalam penyusunan kebijaksanaan, ketepatgunaan keputusan yang diambil, juga cara melaksanakannya. Jadi intisari tugas pemimpin adalah mempengaruhi orang-orang yang ada disekitarnya, agar orang-orang tersebut suka diantar ke satu tujuan tertentu. Ciri-ciri Watak Orang. Pepatah Belanda menyatakan bahwa para pemimpin itu tidak dapat dibentuk, melainkan ia dilahirkan untuk itu. Maksudnya adalah, bahwa pemimpin itu suatu seni, yang berdasarkan sifat-sifat, terutama ciri-ciri watak sebagaimana melekat pada seseorang semejak lahir. Tetapi ada pepatah Amerika yang sangat bertolak belakang dengan pepatah di atas, yaitu : "A manajer is made, not born", bahwa sama juga dengan fungsinya bahwa kepemimpinan dapat dibentuk. Kedua pepatah tersebut memang berbeda dan bertolak belakang, namun ke duanya mengandung kebenaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memimpin itu bukan hanya suatu seni yang dapat diwariskan, melainkan juga sesungguhnya suatu keahlian yang harus dipupuk melalui persiapan yang mantap. Disamping syarat-syarat tentang keahlian dan keterampilan, maka ada hal-hal yang tidak kurang pentingnya yaitu ciri dan watak yang harus dimiliki seorang pemimpin. Menurut Alfred Carrard, beberapa ciri yang cukup penting, yaitu : a. Pemahaman manusia. Dapat menghayati perasaan orang-orang yang dipimpinnya.

b. Obyektivitas. Yaitu kemampuan untuk melihat situasi dan keadaan sebagaimana adanya, sehingga cukup bersifat jujur dan adil kepada semua orang yang dihadapi.

c. Percaya kepada diri sendiri. keputusan yang diambil sendiri.

Mengetahui keinginannya sendiri dan mempercayai memahami

d. Dapat bertindak tegas. Meliputi kemampuan untuk kemungkinan-kemungkinan yang serba baru dan memanfaatkannya.

e. Berprakarsa. Dapat mengambil keputusan dan dapat melakukan penyesuaian pada keadaan yang selalu berubah-ubah. f. Kesanggupan menghadapi tugas. kesadaran penuh. g. Kemauan keras. kehendaknya. Sanggup memikul tanggung jawab dengan

Yang berarti dapat memaksa orang lain untuk mengikuti

Selain hal-hal ini, masih terdapat beberapa sifat penting baik fisik maupun mental : a. b. Fisik : kesehatan, kemampuan bekerja, daya tahan, dll.

Mental : keluwesan mental, daya tanggap, pengertian dan penilaian.

Tidaklah mungkin kiranya untuk membuat suatu daftar mengenai syarat-syarat dan sifat-sifat seorang pemimpin secara keseluruhan. Akan sulit untuk mengharapkan bahwa seseorang sudah memiliki semua ciri-ciri diatas dan hal ini memang tidak mutlak dikehendaki. Yang terpenting adalah bahwa dalam kepribadiannya terdapat perimbangan yang secukupnya antara ciri-ciri yang termaksud. Aspek-aspek Kepemimpinan. a. Aspek Internal. Aspek ini identik dengan ketatalembagaan. Yang harus mendapat perhatian adalah tentang bagaimana keadaan organisasi, geraknya, tuntutannya serta tujuan organisasi. Dalam aspek ini yang harus diperhatikan adalah : 1) Pandangan pemimpin terhadap organisasi harus menyeluruh.

2) Sebagai seorang pemimpin harus cepat, tepat dan tegas dalam mengambil keputusan. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, yang berarti memudahkan pelaksanaan. Mengambil keputusan pada hakekatnya merupakan proses memilih satu diantara berbagai alternatif. Sekali diambil pilihan/ keputusan tidak boleh ditarik kembali. Dalam rangka pengambilan keputusan inilah yang biasanya para bawahan menilai cakap atau tidaknya seorang pimpinan. 3) 4) Harus pandai mendelegasikan wewenang kepada bawahan. Harus dapat memperoleh dukungan dari bawahannya.

b. Aspek Eksternal. Seorang pemimpin harus melihat perkembangan siatuasi masyarakat yang ada di luar lingkungannya. Apakah masyarakat merasa senang atau tidak, dirugikan atau tidak, dll. Tipe-tipe Kepemimpinan. a. Kepemimpinan Pribadi (Personal Leadership). Suatu tipe dimana pemimpin secara langsung menghubungi atau mengadakan kontak dengan staffnya. Dia tidak mengingat akan adanya jenjang hirarkhi yang sebenarnya sudah ada yang diberi wewenang dan tanggung jawab. Tipe kepemimpinan ini tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk belajar berdiri sendiri dan bertanggung jawab, sehingga tidak ada gairah dan semangat bekerja dikalangan anggota.

b. Kepemimpinan non-pribadi (Non-Personal Leadership). Dalam hal ini pemimpin tidak langsung mengadakan kontak dengan staffnya, melainkan melalui saluran jenjang-jenjang hirarkhi. Dalam tipe kepemimpinan ini tidak mungkin timbul kepemimpinan 'centalistis', karena masing-masing petugas diberi kesempatan untuk ikut membicarakan berbagai persoalan yang menyangkut organisasi. Kelemahannya adalah kemungkinan adanya pekerjaan lambat. Tetapi bagaimana pun lambatnya tidak akan terjadi kekacauan, sebab masing-masing petugas telah mengatahui tugasnya dengan jelas. c. Kepemimpinan Otoriter (Authoritarian Leadership). Suatu tipe dimana pemimpin menganggap, bahwa kepemimpinan merupakan hak pribadinya, tidak boleh ada yang turut campur, sehingga setiap perintah dan instruksi tak perlu ada konsultasi dengan staffnya. Tipe kepemimpinan ini adalah yang paling berbahaya diantara tipe-tipe kepemimpinan yang lainnyua. d. Kepemimpinan Demokratis (Democratic Leadership). 'Sang' pemimpin selalu membuka pintu dan menghargai saran-saran/ pendapat-pendapat/ nasehat-nasehat dari pada staffnya, melalui forum musyawarah guna mencari kata sepakat. e. Kepemimpinan Paternalistis (Paternalistic LEadership). 'Si'pemimpin bertindak sebagai ayah, pengasuh, pelindung dari pada staff dan anggotanya. 7. Komunikasi.

Bentuk masyarakat selalu berlandaskan atas komunikasi. Setiap proses yang melibatkan hubungan-hubungan kemanusiaan pada dasarnya merupakan proses komunikasi. Demikian pula dengan bentuk organisasi. Suatu organisasi hanya dapat berfungsi dengan tepat guna bila tercapai suatu kondisi komunikasi yang baik sebagai salah satu syarat utama. Organisasi itu meliputi kegiatan-kegiatan sekelompok orang, yang bekerja sama dengan tata cara yang diatur baik guna mencapai suatu sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Kerja sama demikian memerlukan koordinasi, dan untuk mewujudkan koordinasi itu harus berlangsung proses komunikasi. Juga penting dalam penggerakkan organisasi adalah adanya 'the art of motivating people'. Berhasil tidaknya suatu organisasi dalam kepemimpinan seseorang salah satu faktornya adalah bergantung pula kepada komunikasi. Tujuan komunikasi dalam kehidupan berorganisasi, yaitu : a. Memberitahukan suatu keterangan, instruksi, tugas atau pertanggung kepada seseorang atau sekelompok orang. b. Memperoleh bahan-bahan keterangan. kelompok jawaban

c. Merundingkan sesuatu antara dua atau lebih orang, atau dalam suatu agar ada tukar pikiran.

Keberhasilan seorang pemimpin banyak bergantung pada keberhasilan-nya dalam kegiatan komunikasi, karena hanya dengan komunikasilah 'si pemimpin' akan mempunyai pengikut. Seseorang tidak mungkin jadi pemimpin jika ia tidak mempunyai pengikut. Makin tinggi kedudukannya, tentunya makin banyak pendukungnya. Tetapi tidak mungkin akan naik ke tangga kepemimpinan tanpa mampu membina hubungan komunikasi dengan pengikutnya yang bakal menjadi 'team genjring'-nya.

Seorang komunikator akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku komunikan melalui gayanya. Komunikan akan merasa bahwa komunikator mempunyai kesamaan dengannya, sehingga komunikan bersedia untuk taat pada isi pesan (instruksi) yang disampaikan oleh komunikator. Komunikasi kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses ekspresi/ pernyataan eseorang (pemimpin) kepada orang lain (yang dipimpin), agar yang bersangkutan dapat mengerti dan mempunyai wawasan (opini) yang sama, sehingga terbina kerjasama, rasa saling menyukai dan percaya-mempercayai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin yang baik haruslah efektif, yang mana akan tercapai bila memenuhi hal-hal yang antara lain : a. Pesan/ perintah/ instruksi yang disampaikan dapat menarik perhatian sasaran yang dituju. Ini berhubungan dengan tempat dan waktu. b. Penggunaan pengertian/ pengalaman sehingga didapatkan pengertian yang sama dengan komunikan (Pemahaman komunikan). c. Pesan/ perintah/ instruksi haruslah dapat membangkitkan kebutuhan pribadi, dan menyarankan cara penyaluran kebutuhan tersebut. d. Pesan/ perintah/ instruksi harus menyarankan suatu jalan untuk kebutuhan yang layak bagi situasi diri dan kelompoknya. memperoleh

Demikianlah faktor-faktor mengenai produk 'keberhasilan', yang merupakan banyak perpaduan unsur-unsur yang sangat ditekankan pada faktor manusia yang akan membuat produknya itu.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

MANAJEMEN PERJALANAN
Keberhasilan suatu kegiatan ditentukan oleh perencanaan perlengkapan dan perbekalan yang tepat. Manajemen Perjalanan sendiri merupakan cara cara mengatur perjalanan agar lancar, sesuai dengan yang diharapkan. Manajemen Perjalanan dibagi menjadi 3 bagian penting, yaitu : 1. Pra Ekspedisi.

Ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan ketika mempersiapkan suatu perjalanan, antara lain : a. Tujuan. Tujuan merupakan bentuk tindakan lanjut dari sebuah ide, setelah menetapkan tujuan maka kita dapat menetapkan lokasi persis yang dituju, bentuk kegiatannya, waktu pelaksanaannya, dan orang orang yang ikut dalam perjalanan tersebut. b. Kepanitiaan. Dalam suatu perjalanan harus ada pembagian tugas, sesuai dengan kebutuhan dari perjalanan itu sendiri. Oleh sebab itu perlu dibentuk suatu struktur kepanitiaan yang masing masing posisi dalam kepanitiaan tersebut mempunyai tugasnya masing masing. Contohnya Ketua, bendahara, penanggung jawab, pembina, pelindung, dll. c. Informasi. Kita harus mengetahui bentuk medan yang akan dilalui sehingga kita dapat mempersiapkan barang barang yang diperlukan, kita juga perlu mengetahui jarak dan lama waktu perjalanan, dll. d. Perencanaan. Struktur kepanitiaan yang telah dibentuk harus menjalankan perannya dengan benar, sehingga perjalanan berjalan dengan baik. Contohnya : Ketua Bendahara Logistik Dana Usaha Diklat e. 2. Packing. : Mengorganisir kepanitiaannya agar bekerja dengan baik : Mengatur jalan masuk dan keluarnya dana : Mempersiapkan barang barang yang diperlukan : Mencari dana guna terlaksananya perjalanan tersebut : Mengatur recruitment peserta dan membuat program simulasi dan latihan

Pelaksanaan.

Pada tahap pelaksanaan, kita harus sedapat mungkin mengikuti rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika ada perubahan rencana di tengah tengah perjalanan hendaknya dirembukan bersama terlebih dahulu. Selain itu hal yang paling penting adalah bahwa para peserta perjalanan harus selalu mengikuti safety prosedur yang telah ditetapkan. 3. Pra Ekspedisi.

Banyak hal yang harus dilakukan ketika kita telah menjalankan suatu bentuk perjalanan, salah satunya membuat laporan perjalanan, selain itu jika diperlukan maka diadakan suatu presentasi kepada organisasi yang mengadakan atau kepada pihak sponsor. Hal hal tersebut penting karena perjalanan yang telah dilakukan dapat menjadi referensi bagi orang lain yang akan melakukan perjalanan serupa.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

10

PERLENGKAPAN
Perlengkapan dapat pula kita kelompokan berdasarkan jenis medan yang dihadapi. Dari tiap kegiatan tersebut, kita dapat pula mengelompokkan perlengkapan yang dibawa sebagai berikut : 1. Perlengkapan Dasar, meliputi : a. b. c. d. Perlengkapan untuk pergerakan. Perlengkapan untuk memasak, makan, minum. Perlengkapan untuk MCK. Perlengkapan pribadi.

2. Perlengkapan Khusus, yang disesuaikan dengan perjalanan, misalnya : Perlengkapan penelitian, seperti kamera, buku, dan alat alat khusus lainnya 3. Perlengkapan Tambahan. Perlengkapan ini dapat dibawa atau tidak, misalnya semir, kelambu, gaiter, dll. Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu kegiatan perjalanan, maka sebelum memulai kegiatan sebaiknya disusun terlebih dahulu sebuah check list (daftar perlengkapan). Dalam check list, perlengkapan dikelompokan kemudian diteliti apa yang perlu dibawa dan apa yang tidak. Apabila perjalanan tersebut adalah perjalanan kelompok, maka dibuat check list untuk perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan besar dan cukup lama, perlu kita tentukan apakah perlengkapan akan kita bawa sendiri ataukah menggunakan pembawa beban (porter), kemudian apakah semua perlengkapan dan perbekalan akan kita bawa sejak awal ataukah dapat diperoleh di perjalanan. 1. Perlengkapan Dasar. Dalam memilih perlengkapan dasar, hal hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : a. Perlengkapan Pergerakan. 1) Sepatu. Yang harus diperhatikan adalah bahwa sepatu tersebut : a) b) c) Mempunyai kegunaan yang sesuai dengan maksud perjalanan kita Sesuai dengan bentuk kaki dan ukuran kaki Harus kuat untuk menyesuaikan dengan medan yang berat.

Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu yang : a) Melindungi telapak kaki sampai mata kaki (melindungi sendi kaki dan ujung jari kaki) b) Terbuat dari kulit sepatu yang tebal sehingga tidak mudah sobek apabila terkena duri duri c) Lunak bagian dalamnya, dan masih memberikan ruang gerak bagi kaki d) Keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur pada batu batu (tidak dianjurkan untuk memakai sepatu pekerja tambang, yang pada bagian depannya sangat keras karena memakai besi. Karena selain berat dapat juga merusak jari kaki jika terjadi perubahan suhu)

11

e) Bentuk sol bawahnya yang menggigit ke segala arah dan cukup kaku. Biasanya bentuk solnya bergerigi dengan dua arah, yang satu ke depan dan yang lainnya ke belakang. Gunanya untuk memberi pijakan yang kuat pada medan yang menurun. f) Ada lubang ventilasi yang bersekat halus sehingga air dan udara dapat lewat untuk pernapasan kulit telapak kaki. Sepatu TNI cukup baik digunakan namun dengan modifikasi pada bagian sampingnya, yaitu dibuat semacam ventilasi dan diberikan tambahan insole (alas tambahan di dalam sepatu berupa jaringan nilon tipis yang membuat lapisan udara antara kulit kaki dengan alas sepatu, sehingga nyaman apabila dipakai tanpa bertambah berat bila basah)

2) Kaos Kaki. Yang harus diperhatikan pada kaos kaki adalah bahwa kaos kaki tersebut dapat menyerap keringat. Kegunaan dari kaos kaki adalah : a) Melindungi kulit kaki dari pergesekan langsung dengan kulit sepatu atau bagian bagian sepatu yang dapat menimbulkan lecet/luka. b) Menjaga agar telapak kaki tetap dapat bernafas. c) Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah daerah yang dingin. Untuk keperluan diatas, bahan kaos kaki yang terbuat dari katun atau dicampur dengan wool atau bahan asisntesis lainnya cukup baik. Sesuaikanlah ketebalan dan panjang kaos kaki dengan keperluan. Mungkin anda perlu memakai lebih dari satu pasang kaos kaki. Yang perlu diingat adalah harus selalu memakai kaos kaki yang kering. Untuk itu sesuaikanlah jumlah kaos kaki yang akan dibawa. Dianjurkan untuk selalu membawa kaos kaki cadangan dalam setiap perjalanan. Untuk perjalanan lama dan menempuh daerah dingin, sebaiknya digunakan dua lapis kaos kaki. Bagian dalam menggunakan kaos kaki dari bahan katun dan bagian luar dari bawan wool. 3) Celana Lapangan. Yang harus diperhatikan pada pemilihan celana lapangan adalah : a) Terbuat dari bahan yang kuat tapi lembut dan ringan serta dapat menyerap keringat b) Tidak mengganggu gerakan kaki, artinya jahitannya cukup longgar c) Mudah kering dan bila basah tidak menambah berat Untuk keperluan diatas, bahan celana yang terbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan terhadap duri, dan mudah kering. Desain celana disesuaikan dengan kebutuhan. Celana tanpa kantong kurang praktis, tetapi terlalu banyak kantong pun akan merepotkan. Kantong kantong celana sebaiknya memakai tutup yang mudah dibuka tetapi aman, dan kantong tersebut harus mudah

12

dijangkau. Ada baiknya juga apabila pada bagian bagian tertentu diperkuat, misalnya pada bagian kantong lutut atau pantat. Jika sering harus mengagkat lutut, sebaiknya dibuat rimpel pada jahitan celana di garis lutut sehingga daerah lutut agak menggembung. Ini berguna agar gerakan lutut lebih leluasa. Selain itu tempat ikat pinggang juga harus cukup kuat. 4) Baju Lapangan. Yang lapangan yang baik adalah : perlu diperhatikan pada pemilihan baju

a) Melindungi tubuh dari kondisi sekitar, kuat, ringan, praktis dan kudah kering b) Tidak mengganggu pergerakan c) Terbuat dari bahan yang menyerap keringat Kantong kantong pada baju lapangan sebaiknya tidak mengganggu jika diisi dan tertekan oleh ransel. Bahannya sebaiknya terbuat dari katun atau wool, bertangan panjang untuk menghindari tertusuk duri, tersengat matahari, dan binatang berbisa. Harus pula diingat, pakaian yang dikenakan haruslah kering, terutama jika dipakai tidur. Untuk itu sangat dianjurkan untuk membawa pakaian cadangan.

5) Topi Lapangan. lapangan adalah :

Yang

harus

diperhatikan

pada

pemilihan

topi

a) Melindungi kepala dari kemungkinan cedera akibat duri b) Melindungi kepala dari curahan hujan terutama kepala bagian belakang. c) Terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah sobek. Topi yang dianjurkan untuk digunakan adalah topi rimba atau semacam topi jepang. Jenis topi tersebut selain melindungi kepala dari kemungkinan cedera akibat duri, juga melindungi kepala dari curahan hujan. Memakai topi yang terlalu lebar sangat tidak dianjurkan, selain akan menghalangi gerak juga kurang praktis. Topi jenis koboi juga cocok jika dipakai di padang rumput atau daerah daerah yang tidak terlalu banyak semaknya.

13

6) Sarung Tangan. Yang harus diperhatikan dalam pemilihan sarung tangan adalah : a) b) c) Sebaiknya terbuat dari kulit. Bentuknya sesuai dengan tangan. Tidak kaku, dalam arti tidak mengganggu gerakan tangan.

Untuk medan gunung hutan, kegunaannya adalah untuk melindungi tangan dari kemungkinan tertusuk duri ketika menyibakkan semak, juga melindungi tangan dari kemungkinan cedera akibat daun daun berbahaya, binatang binatang kecil yang dapat membuat gatal. Sarung tangan wool dipilih untuk perlindungan terhadap cuaca dingin. 7) Ikat Pinggang. Ikat Pinggang yang sebaiknya dipilih adalah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala ikat pinggang yang tidak terlalu besar tetapi kuat. Keguanaan ikat pinggang adalah selain menjaga agar celana tidak melorot, juga untuk meletakkan alat alat yang perlu cepat dijangkau seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat alat P3K, dll. 8) Ransel. Komponen komponen penting pada sebuah ransel yaitu : a) Sabuk Penggendong. Setiap ransel mempunyai dua buah sabuk penggendong yang menyilang di kedua bahu. Semakin lebar sabuk penggendong tersebut maka akan semakin nyaman bagi si pemakainya. Tentu didalam sabuk penggendong terdapat suatu busa yang akan membuat nyaman pada saat kita membawa beban. Semua sabuk penggendong yang baik dapat diatur sesuai dengan sabuk pinggang. b) Sabuk Pinggang. Sabuk ini berguna untuk menyangga berat beban yang ada di pinggang. Tentu segala beban yang ada di bahu akan terbagi dengan adanya sabuk pinggang ini. Dengan menaikkan ransel sedikit diatas dan mengencangkan sabuk ini di pinggang, maka sabuk penggendong akan mengendor dan bahu atau pundak akan terbebas dari beban. c) Rangka Ransel. Rangka ransel harus sesuai dengan tubuh pemakainya. Ujung bawah rangka tersebut harus terletak di sekitar pinggang, sedangkan pangkal atasnya harus bermula dari tulang punggung paling atas. d) Bahan. Ransel harus terbuat dari bahan yang kuat. Jika kita menggunakan nilon maka bahan ini merupakan bahan yang menguntungkan, karena sifatnya yang tahan tembus air, namun nilon ini tipis dan gampang sobek. Ada bahan lain yang lebih kuat dari nilon yaitu kanvas, akan tetapi bahan ini tembus air. Maka dari itu bagi pemakai yang memiliki ransel dari bahan jenis kanvas ini dianjurkan untuk menggunakan cover penutup tas (cover bag) yang terbuat dari nilon yang berguna untuk melindungi tas dari air. Selain itu jahitan pada ransel juga harus diperhatikan agar jangan memilih ransel dengan jahitan yang mudah lepas. Ransel sedapat mungkin tidak merupakan beban tambahan yang berlebihan (bayangkan jika berat ransel kosong anda sudah 8 Kg). Kantong kantong pada ransel juga akan memudahkan kita dalam mengambil barang yang diperlukan.

14

9) Jaket. Setiap pendaki gunung mempunyai dan membutuhkan jaket penahan angin yang baik, berikut ini merupakan bermacam macam jaket dilihat dari bentuk dan kegunaannya, yaitu : a) Parka. Model yang baik adalah Parka, yaitu jaket yang panjangnya sampai menutupi paha. Jaket jenis ini dilengkapi pula dengan penutup kepala. Lengan jaketnya di bagian pergelangan dilengkapi dengan tali pengikat.

b) Anorak. Anorak tidak dapat dibuka dari depan seperti baju biasa. Tidak ubahnya seperti kaos oblong, orang yang memakai anorak harus meloloskannya lewat kepala. Anorak juga mempunyai penutup kepala. Di depan dada atau perut, anorak dilengkapi dengan sebuah kantung besar. Kantung ini berguna untuk meletakkan barang barang, seperti buku catatan atau peta, juga dapat menghangatkan kedua belah telapak tangan dengan memasukannya kedalam.

c) Super Parka. Jaket jenis ini terdiri dari dua bahan lapis yang berisi dacron atau down. Jaket jenis ini berguna sekali untuk udara dingin di gunung gunung es, karena mampu menghangatkan badan kendati suhu berada di bawah nol derajat celsius.

10) Kantung Tidur (Sleeping Bag). Bahan yang terbaik untuk kantung tidur ialah down atau duvet. Down atau duvet adalah bulu bulu angsa halus dari unggas atau akuatik. Ada dua macam bentuk kantung tidur yaitu :

15

a) Persegi Panjang. Kantung tidur jenis ini bisa dibuka dan digelar lebar seperti tikar. Lagi pula dua buah kantung tidur seperti ini bisa digabung dengan manyatukan resletingnya. Gerak seseorang didalam kantung tidur ini bebas.

b.Mumi Kantung tidur ini tidak bisa dibuka dan direntangkan, tetapi lebih hangat dan ringan, Di bagian kepala terdapat penutup yang dapat dikencangkan di sekitar muka. Kantung tidur ini ada yang memakai resleting dan membelah di sepanjang badan, tetapi ada yang memakai tali pengencang di bagian atasnya. Berhati hatilah terhadap kantung tidur yang memakai resleting, sebab seringkali rusak dan tak dapat ditutup dengan baik.

11)

Tenda.

Dilihat dari bentuknya tenda dibagi menjadi :

a) Tenda Piramid. Tenda piramid biasanya berkapasitas lebih banyak, sekitar empat atau enam orang sekalius. Atapnya yang tinggi memungkinkan orang yang ada didalamya untuk berdiri dan memudahkannya untuk berganti pakaian. b) Tenda Prisma. Tenda tipe ini adalah jenis yang cukup banyak dipakai. Untuk di gunung, tenda prisma ini biasanya berkapasitas dua orang, kecil dan ringan untuk dibawa. c) Tenda Kubah (Dome). Tenda jenis ini dibentuk dari susunan tongkat tongkat logam yang lentur dan dapat melengkung. Ruangan di dalamnya luas karena sisinya melengkung keluar. Di daerah yang sukar untuk menancapkan pasak, tenda ini praktis sekali dipakai karena dapat didirikan tanpa perlu memasang pasak.

16

b. Perlengkapan Memasak. adalah : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Kompor masak Kompor Parafin Tabung gas Parafin Nesting

Adapun alat alat perlengkapan masak yang penting

Korek api gas dan kayu Kertas pembersih atau tissue Piring, sendok, dan garpu Pisau Botol air secukupnya atau dirigen.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

PACKING
17

Packing adalah menyusun perlengkapan ke dalam ransel. Kenyamanan dan efisiensi ransel menempel pada tubuh selain ditentukan secara langsung oleh desain ransel juga ditentukan oleh cara penyusunan barangnya. Yang menjadi dasar Packing adalah keseimbangan beban. Ini bergantung kepada cara kita menumpukan berat beban pada tubuh sedemikian rupa, sehingga kaki dapat berjalan secara efisien. Dalam batas batas tertentu, rangka yang dimiliki oleh ransel banyak memberikan kenyamanan. Rangka ini membuat posisi tubuh lebih nyaman saat menggendong beban. Namun bagaimanapun canggihnya desain ransel yang kita miliki, akan sedikit artinya apabila kita tidak mampu menyusun barang dengan baik. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah : 1. Tempatkanlah barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin ke badan. 2. Barang barang yang relatif ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan di bagian bawah. 3. Letakkan barang barang yang sewaktu waktu diperlukan (ponco, alat P3K, kamera,dll) pada bagian atas atau pada kantung kantung luar ransel. 4. Kelompokkan barang barang dan masukkan ke dalam kantung kantung plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur atau pakaian cadangan, kertas kertas, buku, dll. 5. Masukan benda benda yang mudah pecah ke dalam wadah yang kuat dan diisi juga dengan benda benda yang dapat menahan goncangan, seperti kertas, kain, busa, dll. 6. Matras tidur yang dimasukkan kedalam ransel dapat membantu mempertahankan bentuk ransel dan mempermudah penyusunan barang ke dalam ransel, sehingga menjadi padat, rapi dan efisien. 7. Bila perlu bawalah tas tambahan yang lebih memudahkan kita untuk menjangkau barang barang yang diperlukan, seperti tas pinggang, tas sandang, dll Semua persiapan yang telah dibahas diatas adalah usaha untuk mencegah kemungkinan buruk yang terjadi. Usaha lain untuk menghindarkan hal hal yang tidak diinginkan adalah memberitahukan secara rinci kepada orang lain yang tidak ikut serta didalam perjalanan kita, misalnya kepada teman atau perkumpulan pencinta alam. Kalau ada perubahan keadaan alam di tengah jalan, usahakanlah untuk menyampaikannya dengan segala cara, misalnya dengan menuliskan pada secarik kertas yang dimasukkan ke dalam plastik, lalu ditempelkan pada pohon di jalan setapak. Kalau kita bertemu dengan pendaki lain, sampaikanlah perubahan itu kepada mereka. Sebelum anda memulai pendakian, usahakanlah untuk melaporkan perjalanan anda tersebut kepada masyarakat setempat. Ini bukan saja untuk menyangkut sopan santun tetapi juga untuk keselamatan selama pendakian. Dari semua persiapan yang dilakukan, ada satu hal yang paling penting untuk diketahui yaitu pengetahuan mengenai diri kita sendiri. Apakah kita yakin bahwa fisik kita dalam keadaan baik dan mampu untuk melakukan perjalanan ? jawaban dari pertanyaan itu hanya akan bisa dijawab oleh kejujuran hati kita sendiri, karena alam tidak akan pernah kompromi dengan keadaan kita, kitalah yang harus mampu mengantisipasi keganasannya. -------------------Salam Lestari !!!-------------------

NAVIGASI DARAT
18

Para penggiat alam bebas, atau orang-orang yang berkegiatan di alam bebas, tentu saja memerlukan berbagai keterampilan selain mental dan fisik yang prima. Perjalanan ke tempattempat yang jauh dan tidak dikenal akan lebih mudah jika kita memiliki pengetahuan tentang navigasi darat. Navigasi darat adalah pengetahuan untuk mengetahui keadaan medan yang akan dihadapi, posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan di alam bebas. Dengan itu navigasi darat mencakup pengetahuan peta dan kompas, pengetahuan tentang tandatanda alam yang membantu kita dalam menentukan arah dan pengetahuan untuk mengaplikasikannya. Pengetahuan bernavigasi ini juga dapat berguna dalam usaha-usaha pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan bencana alam, keperluan suatu pekerjaan alam terbuka, dan banyak lainnya. Pengetahuan tentang navigasi pada umumnya, meliputi : 1. 2. 3. Pembacaan peta. Penggunaan kompas. Penggunaan tanda-tanda alam yang membantu kita dalam menentukan arah.

Pengetahuan tentang navigasi ini merupakan bekal yang sangat penting bagi kita untuk bergaul dengan alam bebas dari padang ilalang, rimba belantara, sungai, laut dan segala tempat dipermukaan bumi ini. Untuk itu memerlukan alat-alat seperti peta, penggaris, kompas, konektor, busur derajat Alti meter, alat tulis, GPS, dan alat-alat lainnya yang dapat membantu kita untuk melakukan navigasi. 1. Peralatan Navigasi.

Alat navigasi paling penting yang digunakan adalah otak manusia. Alat navigasi lain yang biasa digunakan adalah kompas, peta, altimeter, penggaris, busur, alat tulis, GPS, dan sebagainya. a. Peta.

Peta adalah Gambaran keseluruhan atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan perbandingan/skala tertentu pada bidang datar. Dapat diperhatikan bahwa dari definisi tersebut, aspek yang perlu mendapat penekanan adalah : gambaran, sevagian besar/kecil unsur muka bumi, bidang datar, dan skala. Peta sendiri kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Untuk keperluan navigasi darat, umumnya dipakai peta topografi. Selain itu, masih banyak jenis-jenis peta yang lainnya seperti peta tematik (misalnya peta curah hujan, peta vegetasi, peta lokasi pemukiman, dsb), peta foto udara, dll. Peta topografi adalah peta yang menggambarkan bentuk permukaan bumi melalui garis ketinggian. Gambaran ini disamping tinggi rendahnya permukaan dari pandangan datar, juga meliputi pola saluran, parit, sungai, lembah, danau dan pada beberapa peta adakalanya ditujukkan vegetasi dan objek hasil aktifitas manusia. Peta topografi bisa diartikan gambaran sebagian atau keseluruhan muka bumi yang memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Walaupun peta topografi memetakan tiap interval ketinggian tertentu, namun disertakan pula berbagai keterangan pula yang akan membantu untuk mengetahui secara lebih jauh mengenai daerah permukaan bumi yang dipetakan itu yang disebut legenda peta.

Bagian-bagian Peta :

19

1) Judul Peta. Judul peta ada pada bagian atas bagian tengah peta. Judul peta menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta yang bersangkutan. Peta yang menunjukkan lokasi yang berbeda akan mempunyai judul yang berbeda. 2) Nomor Peta. Nomor peta biasanya dicantumkan di sebelah kanan atas peta. Biasanya di bagian bawah peta, disertakan juga nomor-nomor peta lain yang menunjukkan daerah di sekitar daerah peta tersebut. Selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, nomor peta juga berguna untuk mempermudah bila kita memerlukan peta daerah lain di sekitar suatu daerah yang ditunjukkan oleh peta tertentu yang telah kita ketahui nomornya. 3) Koordinat Peta. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yaitu garis-garis yang saling berpotongan tegak lurus. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua, yaitu: a) Koordinat Geografis (Geographical Coordinate).

Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (Bujur Barat dan Bujur Timur) yang tegak lurus terhadap khatulistiwa, dan garis lintang (Lintang Utara dan Lintang Selatan) yang sejajar dengan khatuistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit, dan detik. Contoh: 321906 N (berarti 321906 Lintang Utara) Grid (Grid Coordinate atau Universal Transverse

b) Koordinat Mercator).

Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan nol ini ada di sebelah Barat Jakarta (60 LU, 98 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari Barat ke Timur. Sistem koordinat ini mengenal penomoran dengan 4, 6, atau 8 angka. Untuk daerah yang luas dipakai penomoran 4 angka, dan untuk daerah yang lebih sempit dengan penomoran 8 angka. Contoh: 4 angka, 9102 (sumbu horizontal 91, sumbu vertikal 02) 8 angka, 49351530 (sumbu horizontal 4935, sumbu vertikal 1530) 4) Kontur. Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik berketinggian sama dari muka laut. Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan laut.Kontur mempunyai aturan-aturan sebagai berikut : a) Satu garis kontur mewakili satu ketinggian yang sama dari permukaan laut. b) Garis kontur yang berlainan mempunyai nilai ketinggian yang berlainan pula. c) Garis kontur tidak pernah berpotongan dan tidak bercabang. d) peta. saling

Interval kontur biasanya 1/2000 kali skala

20

e) Rangkaian garis kontur yang rapat menandakan permukaan bumi yang curam/terjal, sebaliknya yang renggang menandakan permukaan bumi yang landai. f) Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "U" menandakan punggungan gunung. g) Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "V" terbalik menandakan suatu lembah/jurang. 5) Titik Triangulasi. Selain dari garis-garis kontur, kita dapat juga mengetahui tingginya suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian. Titik ketinggian ini biasanya disebut titik triangulasi, yaitu suatu titik atau benda berupa pilar atau tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan atau dinas topografi untuk menentukan suatu ketinggian tempat dalam pengukuran ilmu pasti pada waktu pembuatan peta. Macam titik triangulasi:
P.14 3120 S .75 Sekunder : 1750 T .16 Tersier : 975 Pr imer :
Q.20 350 TP.23 Antara : 670 Kuartier :

6) Skala Peta. Skala peta adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak horizontal di lapangan. Ada dua macam cara penulisan skala, yaitu: a) Skala Angka. Contoh: 1:25.000 berarti 1 cm jarak di peta = 25.000 cm (250 m) jarak horizontal di medan sebenarnya. 1:50.000 berarti 1 cm jarak di peta = 50.000 cm (500 m) jarak horizontal di medan sebenarnya. b) Skala Garis. Contohnya tiap bagian sepanjang blok garis mewakili 1 km jarak horizontal.

7) Legenda Peta. Legenda memuat simbol-simbol yang dipakai pada peta tersebut, yang penting diketahui seperti triangulasi, jalan setapak, jalan raya, sungai, pemukiman, ladang, sawah, hutan dan lainnya. Di Indonesia, peta yang

21

umumnya digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, kemudian peta dari Jawatan Topologi, atau yang sering disebut peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1 : 50.000 dengan interval kontur 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000 dengan interval kontur 12,5m. Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna. 8) Tahun Peta. Peta topografi juga memuat keterangan tentang tahun pembuatan peta tersebut. Semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan akan semakin akurat. 9) Arah Peta. Yang perlu diperhatikan adalah arah Utara Peta . Cara paling mudah adalah dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah atas tulisan adalah Arah Utara Peta . Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat petunjuk arah utara yaitu : a) Utara sebenarnya/True North : yaitu utara yang mengarah pada kutub utara bumi. b) Utara Magnetis/Magnetic North : yaitu utara yang ditunjuk oleh jarum magnetis kompas, dan letaknya tidak tepat di kutub utara bumi. c) Utara Peta/Map North : yaitu arah utara yang terdapat pada peta. Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi. Karena pengaruh rotasi bumi, letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, untuk keperluan yang menuntut ketelitian perlu dipertimbambangkan adanya iktilaf(deklinasi) peta, iktilaf magnetis, iktilaf peta magnetis, dan variasi magnetis. (1) Deklinasi Peta adalah beda sudut antara sebenarnya dengan utara peta. Ini terjadi karena perataan jarak paralel garis bujur peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta. (2) Deklinasi Magnetis: Selisih beda sudut utara sebenarnya dengan utara magnetis (3) Deklinasi Peta magnetis:Selisih besarnya sudut utara peta dengan utara magnetis bumi. (4) Variasi Magnetis adalah perubahan/pergeseran letak kutub magnetis bumi pertahun. Untuk keperluan praktis, saat kita bekerja dengan kompas yang memiliki ketelitian dan ketepatan yang tidak terlalu tinggi, Utara Peta, Utara yang sebenarnya, dan Utara Magnetis dapat dianggap sama. 10) Cara cara membaca Peta.

Yang terpenting dari bernavigasi adalah kemampuan untuk menginterpretasikan peta, yaitu kemampuan membaca peta dan membayangkan keadaan medan sebenarnya. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa sifat garis kontur, sebegai berikut : a) Garis kontur dengan ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi kecuali bila disebutkan khusus untuk hal-hal tertentu, seperti kawah. b) Garis kontur tidak pernah saling berpotongan.

22

c) Beda ketinggian antara dua garis kontur adalah tetap walaupun kerapatan kedua garis berubah-ubah. d) Daerah datar mempunyai kontur renggang, sedangkan daerah terjal/curam mempunyai kontur rapat. e) Pegunungan, gunung, atau bukit terlihat di peta sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak. f) Lembah terlihat di peta sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam, dan ujungnya menjorok ke arah puncak. g) Puncak gunung atau bukit, punggungan gunung, lembah antara dua puncak, dan bentuk-bentuk tonjolan lain yang menyolok. h) Lembah yang curam, sungai, pertemuan anak sungai, kelokan sungai, tebing-tebing di tepi sungai. i) Belokan jalan, jembatan (perpotongan sungai dengan jalan), ujung desa, simpang jalan. j) Bila berada di pantai, muara sungai dapat menjadi tanda medan yang sangat jelas, begitu juga tanjung yang menjorok ke laut, teluk-teluk yang mencolok. k) Di daerah dataran atau rawa-rawa biasanya sukar mendapat tonjolan permukaan bumi atau bukit-bukit yang dapat dipakai sebagai tanda medan. Pergunakan belokan-belokan sungai, cabang-cabang sungai, atau muaramuara sungai kecil. l) Dalam penyusuran di sungai, kelokan tajam, cabang sungai, tebingtebing, delta, dan sebagainya, dapat dijadikan sebagai tanda medan. Pengertian tanda medan ini mutlak perlu dikuasai, karena akan selalu digunakan pada uraian selanjutnya tentang teknik peta kompas. 11) Cara cara mencari ketinggian.

Cara pertama, lihat kontur peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin diketahui. Memang ada rumus umum: interval kontur = 1/2000 skala peta. Tetapi rumus ini tidak selalu benar. Beberapa peta topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1:50.000 (interval kontur 25 meter) tetapi kemudian diperbesar menjadi berskala 1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter. Dalam suatu misi SAR gunung hutan misalnya, sering suatu peta diperbesar dengan cara difotokopi. Untuk itu, interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran Bakosurtanal (1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan 250 meter (kontur tebal untuk ketinggian 750, 1000, 1250 meter, dst), atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS (skala 1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan 100 meter (misal: 100, 200, 300 meter, dst). Peta keluaran direktorat Geologi Bandung tidak seragam ketentuan ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.

23

Bila ketinggian kontur tidak dicantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian dengan cara: a) Cari 2 titik berdekatan yang harga ketinggiannya tercantum b) Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang terdapat antara keduanya (jangan menghitung kontur yang sama harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah). c) Dengan mengetahui selisih ketinggian dua titik tersebut dan mengetahui juga jumlah kontur yang terdapat, dapat dihitung berapa interval konturnya (harus bilangan bulat). d) Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur terdekat itu berada di atas titik, maka harga kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. Bila kontur berada di bagian bawah, harganya lebih kecil). Hitung harga kontur terdekat itu yang harus merupakan kelipatan dari harga interval kontur yang telah diketahui dari (3). Lakukan perhitungan di atas beberapa kali sampai yakin harga yang didapat untuk setiap kontur benar. Cantumkan harga beberapa kontur pada peta Anda (kontur 1000, 1250, 1500, dsb) agar mudah mengingatnya. b. Kompas. Kompas adalah alat penunjuk arah. Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan selalu menunjuk arah Utara-Selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lainnya selain magnet bumi). Tetapi perlu diingat bahwa arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah arah Utara Magnetis bumi, dan bukan utara bumi sebenarnya. Kompas yang baik mempunyai cairan yang terdapat di dalamnya; cairan tersebut mengatur gerakan dari jarum, sehingga anda dapat menggunakan kompas dengan baik walaupun memegangnya kurang dengan sempurna. Jangan membeli kompas yang murah tetapi tanpa cairan yang terdapat di dalamnya. Jarum kompas diwarnai dalam dua warna. Jika kompas digenggam secara benar (mendatar), ujung warna merah mengarah ke utara, dan putih mengarah ke selatan. 1) Bagian-bagian Kompas. a) Badan, yaitu tempat komponen-komponen kompas lain berada. b) Jarum, akan selalu menunjukkan arah Utara-Selatan pada posisi bagaimanapun (dengan syarat, kompas tidak dipengaruhi oleh medan magnet lain dan jarum tidak terhambat putarannya) c) Skala penunjuk, berfungsi untuk menunjukkan pembagian derajat sistem mata angin. 2) Jenis-jenis Kompas.

Dari jenis kegunaannya kompas dapat terbagi menjadi berbagai macam jenis, seperti kompas geologi, kompas bidik, kompas orienteering, dan sebagainya. Pada umumnya untuk melakukan navigasi dipakai dua jenis kompas, yaitu kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orientering (misal kompas silva).

24

Kompas bidik mudah untuk membidik, tetapi dalam pembacaan di peta perlu dilengkapi dengan busur deerajat dan penggaris (segitiga). Sedangkan kompas orientering kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan di peta. Kompas yang baik, pada ujung jarumnya dilapisi fosfor agar dapat terlihat dalam keadaan gelap. 3) Pemakaian Kompas. Kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam memakai kompas, perlu dijauhkan dari pengaruh benda-benda yang mengandung logam, seperti pisau, golok, karabiner, tiang tenda, jam tangan, dan lainnya. Kehadiran benda-benda tersebut akan mempengaruhi jarum kompas sehingga ketepatannya akan berkurang. Teknik yang sederhana untuk membaca peta dengan menggunakan kompas : a) Pegang kompas secara horizontal. b) Letakkan kompas mendatar di atas peta. c) Putar peta sampai "garis utara" dari peta sejajar/satu garis lurus dengan jarum kompas. Arah peta sekarang sudah sama dengan medan yang sebenarnya. Ini membuat lebih mudah dibaca, seperti membaca tulisan akan lebih mudah dari atas ke bawah. Mengambil sudut. Setiap arah dapat dinyatakan sebagai sebuah sudut dengan acuan arah utara. Ini dinamakan sebuah "azimuth", dan sudut-sudutnya dinyatakan oleh angka dengan satuan derajat. Orienteer mempunyai cara yang mudah, hanya mengatur sudut pada kompas mereka dan menjaga jarum tetap dan tidak berubah, yang mana akan membawa mereka ke arah yang di tuju. Cara mudah mengatur arah pada kompas orienteering ; letakkan kompas di atas peta sehingga jarum kompas mengarah ke atas sesuai dengan jalan yang ingin anda tuju Putar rumah kompas sehingga jarum kompas paralel dengan arah utara yang terdapat di peta (pastikan titik panah utara dan bukan selatan) Beberapa cara untuk mengetahui kondisi kompas yang baik. a) Perhatikan arah Utara yang ditunjukkan oleh kompas tersebut, lalu bandingkan dengan arahnya dengan kompas yang lain. Perhatikan, apakah arah keduanya sama atau tidak. b) Perhatikan fluida pengisi kompas. Jika berisi udara, menyebabkan jarum sering bergoyang. Sebaliknya, jika berisi cairan yang terlalu kental dapat menyebabkan jarum tertahan. c) Lensa kompas yang baik adalah lensa yang transparan.

d) Jarum kompas harus dalam kondisi bebas, sehingga tidak ada yang menghambat putarannya.

25

c.

Altimeter. Altimeter adalah alat pengukur ketinggian yang bisa membantu menentukan posisi. Pada medan yang bergunung tinggi, kompas sering tidak banyak digunakan. Di sini altimeter akan lebih bermanfaat. Dengan menyusuri punggungan-punggungan yang mudah dikenali di peta, altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan, Yang harus diperhatikan dalam pemakaian altimeter ; Setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi periksa ketepatan altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti, Altimeter sangat sensitif terhadap guncangan, cuaca, dan perubahan temperatur.

d.

GPS. Teknologi penentuan posisi terus berkembang dengan pesat. Metode-metode ilmu ukur seakan semakin ketinggalan dengan teknologi sekarang yang berbasiskan komputer atau perangkat elektronik lainnya. Salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah Global Positioning System (GPS). GPS merupakan sistem radio komunikasi dan penentuan posisi dengan menggunakan satelit. Sistem ini mulai dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan memiliki cakupan seluruh dunia. Keuntungan yang didapat dari pengguna sistem ini adalah sangatlah banyak mengingat kemajuan teknologi serta penginformasian yang sudah mengglobal di seluruh dunia. Karena tingkat keakuratannya yang tinggi, para pengguna termasuk penggiat alam terbuka sering menggunakan teknologi ini. Namun GPS perlu diketahui lebih jauh agar pengguna dapat menggunakan teknologi ini lebih maksimal terutama keterbatasannya. Teknologi GPS memiliki tiga segmen yang saling terkait, yang menentukan tingkat keakuratan dari GPS itu sendiri, yaitu: a) Segmen angkasa, yaitu satelit-satelit GPS yang mengitari bumi dalam bentuk orbit tertentu. b) Segmen sistem kontrol, yaitu stasiun-stasiun kontrol di bumi. c) Segmen pengguna, yaitu yang memperoleh informasi dari satelit.

Berdasarkan pemakainya, dikenal dua tipe GPS : a) Receiver tipe navigasi, yang biasa digunakan oleh penggiat alam terbuka, keperluan sipil, dan militer. b) Receiver tipe geodetik, ketelitiannya sangat tinggi (hingga m) dan biasanya digunakan oleh instansi-instansi ilmu pengetahuan.

26

Kelebihan GPS antara lain sebagai berikut : a) GPS dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan, informasi waktu secara cepat, kapan saja dan dimana saja dalam segala cuaca dengan ketelitian yang relatif tinggi. b) Posisi yang diberikan dalam bentuk 3 dimensi (x,y,z). c) Informasi dapat diperoleh dalam kondisi statis atau dinamis. d) Tidak memerlukan saling keterlihatan antar titik. GPS sebagai salah satu produk teknologi masih memiliki berbagai keterbatasan. Data yang ditampilkan oleh GPS akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan penangkapan sinyal dari satelit ke receiver GPS. Sinyal tersebut tidak akan diterima jika receiver GPS berada di dalam ruangan misalnya, atau di bawah air, di dalam hutan dengan kanopi lebat. Untuk penerimaan sinyal di dalam hutan, sebagian produk GPS sudah ada yang dapat menembus kanopi. Namun sebagian besar produk yang ada sekarang ini masih terbatas penggunaannya di dalam hutan berkanopi. Satu lagi kelemahan utama GPS adalah harganya yang relatif mahal. Aplikasi GPS untuk berbagai keperluan antara lain : a) b) c) d) e) f) g) h) Keperluan militer Survey dan pemetaan Navigasi dan transportasi Studi troposfir dan ionosfer Remote sensing Geographic Information System (GIS) Studi Kelautan Aplikasi olahraga dan rekreatif

Pemakaian GPS dalam Navigasi. 1) Penentuan posisi di peta. Dengan GPS kita tidak perlu lagi melakukan orentasi medan, atau metode-metode penentuan posisi, GPS akan memberikan kita informasi dalam bentuk koordinat dengan ketelitian tinggi. 2) Penentuan arah perjalanan. Dengan terlebih dahulu memasukkan koordinatkoordinat titik yang akan kita tuju, GPS akan memberikan arah kompas secara kontinu, sehingga penentuan arah perjalanan menjad sangat mudah. 3) Pemetaan jalur. Salah satu kemampuan receiver GPS adalah memetakan jalur yang telah kita lalui dengan ketelitian tinggi, sehingga proses pemetaan dan pendokumentasian jalur menjadi sangat mudah. 4) GPS mempermudah navigasi di tempat-tempat datar, seperti gurun pasir, rawa, dan laut. 2. Teknik Peta Kompas. a. Peralatan yang dibutuhkan dalam melakukan Teknik Peta Kompas. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) b. Peta, sebaiknya peta topografi. Kompas, sebaiknya kompas bidik dan kompas silva. Alat tulis, misalnya pensil, pulpen, atau spidol warna. Penggaris. Busur derajat atau Protractor. Altimeter. GPS.

Orientasi Medan.

27

Orientasi medan adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis, menyamakan Utara Peta dengan Utara sebenarnya). Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada di lokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat namanama gunung, bukit, sungai, ataupun tanda-tanda medan lainnya. Atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan mencocokkan dengan gambaran kontur yang ada di peta. Untuk keperluan praktis, Utara kompas (Utara Magnetis) dapat dianggap sati titik dengan Utara sebenarnya, tanpa perlu memperhitungkan adanya deklinasi. Langkah-langkah orientasi medan. 1) Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang mencolok. 2) Letakkan peta pada bidang datar.

3) Samakan Utara peta dengan Utara Kompas, dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi. 4) Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol di sekeliling dan temukan tanda-tanda tersebut di peta. Lakukan untuk beberapa tanda medan. 5) Ingat tanda-tanda medan itu, bentuknya dan tempatnya di medan sebenarnya maupun di peta. Ingat hal-hal yang khas dari setiap tanda medan. c. Resection. Prinsip resection adalah menentukan posisi kita di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak selalu seluruh tanda medan harus dibidik. Jika kita sedang berada di tepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu mencari satu tanda medan lainnya yang dibidik. Langkah-langkah Resection. 1) Lakukan orientasi peta. 2) Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal dua buah. 3) Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut. 4) Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita. 5) Pindahkan sudut bidikan yang didapat yang didapat ke peta, dan hitung sudut pelurusnya. 6) Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita di peta. d. Intersection.

28

Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat di lapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection, kita harus sudah yakin pada posisi kita di peta. Langkah-langkah melakukan Intersection. 1) Lakukan orientasi, dan pastikan posisi kita. 2) Bidik objek yang kita amati. 3) Pindahkan sudut yang didapay ke peta. 4) Bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 2 dan 3. 5) Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi objek yang dimaksud. e. Azimuth dan Back Azimuth. Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah Utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga Sudut Kompas. Back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth. Cara menghitungnya : bila sudut azimuth lebih dari 180 derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth kurang dari 180 derajat maka sudut azimuth ditambah 180 derajat, bila sudut azimuth = 180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat atau 360 derajat. Bila kita berjalan dari satu titik ke titik lain dengan sudut kompas tetap (istilah populernya potong kompas), maka harus diusahakan agar lintasannya berupa satu garis lurus. Untuk itu digunakan teknik back azimuth. Prinsipnya adalah membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikkan kompas ke muka dan ke belakang pada jarak tertentu. Langkah-langkah Azimuth dan Back Azimuth. 1) Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung juga sudut dari titik akhir ke titik awal, kebalikan arah perjalanan. Sudut yang terakhir ini adalah sudut back azimuth. 2) Perhatikan tanda medan yang mencolok pada titik awal perjalanan (pohon besar, pohon tumbang, longsoran tebing, susunan pohon yang khas, ujung kampung, dsb). 3) Bidikkan kompas sesuai dengan arah perjalanan kita (sudut kompas). Perhatikan tanda medan lain di ujung lintasan yang akan dilalui pada arah itu. 4) Setelah sampai pada tanda medan itu, bidikkan kompas kembali ke belakang (sudut back azimuth) untuk mengecek apakah Anda berada pada lintasan uyang diinginkan. 5) Bergeserlah ke kiri atau ke kanan untuk mendapatkan back azimuth yang benar.

29

6) Seringkali tidak ada tanda medan yang dapat dijadikan sasaran. Dalam hal ini, Anda dan seorang rekan yang menjadi tanda tersebut. 3. Penentuan Arah Tanpa Kompas. Beberapa cara yang dapat dlakukan untuk menentukan arah apabila kompas tidak tersedia atau tidak dapat berfungsi: a. Dengan tanda-tanda alam. 1) Kuburan Islam menghadap ke Utara. 2) Masjid menghadap ke Barat sedikit ke Selatan. 3) Bagian pohon yang berlumut tebal menunjukkan arah Timur, karena sinar matahari yang belum terik pada pagi hari. b. Dengan jarum arloji.

Jika berada di daerah sebelah Utara khatulistiwa, jarum kecil diarahkan ke matahari, garis pembagi sudut antara jarum kecil tersebut dengan angka 12 menunjukkan arah Utara. Jika berada di daerah sebelah Selatan khatulistiwa, caranya sama. Hanya yang didapat adalah arah selatan. c. Dengan Bayangan. Pada lokasi datar dan terbuka, tancapkan sebuah tongkat dengan panjang secukupnya. Usahakan tongkat selurus mungkin. Tandai bayangan ujung tongkat di tanah, kemudian tunggu beberapa saat, dan tandai kembali posisi bayangan ujung tongkat. Hubungan kedua garis ini menunjukkan arah Barat (tutik pertama) dan Timur (titik kedua). Untuk menghasilkan arah yang lebih teliti, sebaiknya dilakukan pada waktu yang lebih lama, dan pada saat pagi atau sore hari. d. Dengan Perbintangan. 1) Perhatikan arah bulan, bintang, dan matahari yang terbit di Timur dan terbenam di Barat. 2) Perhatikan rasi Bintang Salib atau Gubug Penceng. Perpanjangan garis diagonal yang memotong horizon dari tempat kita adalah Selatan. 4. Analisa Perjalanan. Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan yang akan dilalui, dengan caa mempelajari peta yang akan dipakai. Yang perlu dianalisa adalah jarak, waktu, dan tanda-tanda medan. a. Jarak. Jarak diperkirakan dengan mempelajari dan menganalisa peta. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jarak sebenarnya yang kita tempuh bukanlah jarak horizontal. Kita dapat memperkirakan jarak dan kondisi medan lintasan yang akan ditempuh dengan

30

memproyeksikan lintasan, kemudian mengalikannya dengan skala untuk memperoleh jarak sebenarnya. b. Waktu. Bila sudah dapat memperkirakan jarak lintasan, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. c. Tanda Medan. Cari dan ingat tanda-tanda medan di peta yang mungkin bisa menjadi pedoman dalam menempuh perjalanan. Bila tanda medan tidak sesuai dengan dipeta jangan terlalu cepat membuat kesimpulan petanya salah. Memang banyak sungaisungai kecil yang tidak tergambar di peta, karena sungai tersebut kering ketika musim panas. Ada kampung yang sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-perubahan lannya yang mungkin terjadi. Bila Anda menjumpai ketidaksesuaian antara peta dengan kondisi lapangan, baca kembali peta dengan lebih teliti, cari tanda-tanda medan yang bisa dikenali. Jangan terpaku hanya pada satu gejala yang tidak ada di peta sehingga hal-hal lain yang dapat dianalisa akan terlupakan. Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar Anda yang salah (mengikuti punggungan yang salah, menyusuri sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta topografi 1:25.000 atau 1:50.000 umumnya cukup teliti. -------------------Salam Lestari !!!-------------------

NAVIGASI SUNGAI
Dalam perjalanan penyusuran sungai, baik dengan berjalan kaki maupun dengan perahu, kita dituntut untuk dapat menguasai navigasi sungai seperti halnya navigasi darat.

31

Secara praktis, ilmu navigasi sungai telah lama dikenal oleh orang Dayak di pedalaman Kalimantan. Sebab sungai merupakan satu-satunya sarana angkutan bagi mereka. Dan dalam menentukan kedudukannya di sungai, mereka menggunakan tanda-tanda alam yang berupa riam, delta, belokan sungai, penyempitan/pelebaran sungai, muara, dan lainnya. Navigasi sungai adalah teknik untuk menentukan kedudukan secara tepat dalam perjalanan penyusuran sungai. Perbedaan yang mendasar antara navigasi sungai dengan navigasi darat terletak pada acuan dasar untuk menentukan kedudukan. Pada navigasi darat, yang diambil sebagai acuan dasar adalah bentuk permukaan fisik bumi yang digambarkan oleh garis-garis kontur. Sedangkan pada navigasi sungai, acuan dasarnya adalah bentuk dari tepi kiri dan kanan sungai, yaitu belokan-belokan sungai yang tergambar di peta. 1. Peralatan Navigasi Sungai. a. Peta. 1) Peta situasi sungai. Peta ini tidak mempunyai garis kontur, yang tergambar adalah sungai dan desa yang ada di sepanjang daerah aliran sungai. Skala peta yang dipakai sebaiknya 1:50.000 atau 1:25.000, yang cukup jelas menggambarkan kondisi fisik sungai. Peta ini umumnya dibuat oleh perorangan yang pernah tinggal atau melakukan survey dan pemetaan di sepanjang sungai tersebut. 2) Peta topografi. Mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan peta situasi karena dapat membantu membaca kondisi alam dis ekitar sungai seperti mungkin berupa rawa, tebing, bukit, maupun pegunungan. b. Kompas. Digunakan untuk menentukan sudut belokan-belokan sungai. Kompas bidik atau kompas orientasi dengan satuan 2 dapat dipakai untuk keperluan ini. c. Alat tulis. Berupa kertas tulis, busur derajat, penggaris, dan alat tulis. Dipakai untuk menentukan posisi, setelah lebih dahulu membidik sudut kompas dari sungai dan melakukan penaksiran jarak. d. Altimeter. Bukan merupakan peralatan yang paling utama untuk menentukan posisi. Lebih tepat dipakai untuk mengetahui gradien sungai, yaitu beda tinggi antara dua titik di sungai dalam jarak 1 km (contohnya gradien 9 m/km, beda tinggi 9 m pada dua titik yang berjarak 1 km). Karena perbedaan tinggi pada penurunan sungai relatif kecil untuk setiap kilometer panjang sungai, maka sebaiknya digunakan altimeter yang cukup teliti, misalnya dengan kemempuan membaca perbedaan tinggi sampai 10 m. Sebagai gambaran, untuk sungai yang berarus deras dan banyak air terjunnya, perbedaan tinggi rata-rata untuk setiap kilometer hanya sekitar 40 m. 2. Menentukan Kedudukan Pada Peta. Dilakukan dengan cara bergerak menyusuri sungai sambil memperhatikan perubahan arah belokan sungai. Dibantu dengan tanda-tanda alam tertentu yang terdapat di sepanjang sungai. Ada dua cara yang dapat dipakai untuk menentukan kedudukan: a. Dengan bantuan tanda-tanda alam. Misalnya kita sedang melakukan penyusuran sungai dari titik A ke B. Pada suatu tempat dijumpai sebuah muara anak sungai di sebelah kiri. Untuk menentukan kedudukan saat itu adalah: 1) Lakukan orientasi peta, kemudian amati medan di sekitar dengan teliti. 2) Ukur sudut (azimuth) dari lintasan sungai pada belokan di depan dan belakang dengan menggunakan kompas. 3) Ingat tanda alam sebelumnya yang terdapat di belakang (misal di belakang kita terdapat sebuah delta) dan lihat juga tanda alam di depan (misalkan ada belokan ke arah kiri)

32

4) Gambar situasi sungai yang telah didapat, cari padanannya pada peta (perlu diketahui bahwa delta yang terdapat pada peta adalah delta yang cukup besarm tidak tertutup pada saat banjir, dan ditumbuhi pepohonan. Jika tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak akan digambarkan dalam peta). 5) Apabila masih kurang jelas, maka dilakukan penyusuran sampai pada tanda alam berikutnya yang dapat lebih memperjelas kedudukan kita. b. Dengan membuat peta sendiri.

Teknis pelaksanaannya yaitu dengan penaksiran jarak dan pengukuran sudut kompas (azimuth). Sebelum melakukan cara ini, sebaiknya mata kita dilatih dahulu untuk menaksir jarak, misalkan untuk jarak 50 meter aau 100 meter. Cara termudah adalah dengan berlatih di jalan raya denganbantuan sepeda motor atau mobil yang penunjuk jaraknya masih bekerja dengan baik. Dapat juga dengan bantuan tiang listrik (setiap 50 meter), patok kecil di pinggir jalan (setiap 100 meter). Jika mata sudah terlatih, dapat dipraktekkan pada jalan dalam kota yang banyak belokannya. Untuk sungai di daerah hulu yang sempit dan banyak tikungannya, maka dipakai patokan jarak setiap kelipatan 50 meter dengan sisa ukuran terkecil adalah 10 meter. Sedangkan untuk sungai di daerah tengah dan hilir yang relatif lebar dan lebih lurus (kecuali pada daerh meander), atau jari-jari belokannya besar (sudut belokannya relatif kecil untuk jarak 100 meter), maka dipakai patokan jarak setiap kelipatan 100 meter dengan sisa ukuran terkecil 25 meter. Jadi kita membuat sungai menjadi sebuah batang yang terdiri dari banyak ruas panjang dan pendek, yang berbelok-belok sesuai dengan sudutnya. Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan peta sungai. 1) Sediakan peralatan yang diperlukan 2) Buat tabel pada kertas yang terdiri dari dua kolom. Kolom pertama untuk derajat (azimuth) dan kolom kedua untuk jarak (meter). Jika kita ingin lebih teliti dapat ditambahkan dua kolom lagi, yaitu untuk lebar sungai dan keterangan yang diperlukan (misalnya jika ada penyempitan, batu besar di tengah sungai, tebing terjal di kiri dan kanan sungai, dll). 3) Bidik kompas pada awal pergerakan, dan taksir jaraknya dengan mata yang sudah terlatih. Isikan hasil bidikan pada kolom 1 dan 2. Jika menggunakan perahu, sebaiknya dilakukan dari engah sungai ke tengah sungai lagi. Hitung jaraknya sambil bergerak maju setiap 50 atau 100 meter. 4) Setelah sampai pada batas yang telah ditentukan dari ruas sungai, lakukan pembidikan dan taksir jaraknya kembali. Ulangi sampai melampaui paling sedikit 3 belokan sungai. 5) Buat gambar sungai tersebut berdasarkan hasil pencatatan yang ada pada tabel. Skalanya dapat dimisalkan 1 cm untuk 100 meter atau lebih kecil lagi. 6) Cari padanan atau bentuk yang mirip dari gambar sungai yang kita buat dengan peta sungai yang kita bawa. Dengan demikian kedudukan kita di peta dapat ditentukan, yaitu pada titik terakhir peta yang kita buat. Jika belum didapat juga, ulangi sampai beberapa belokan lagi. -------------------Salam Lestari !!!-------------------

NAVIGASI RAWA
Navigasi rawa adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di medan rawa. Navigasi rawa merupakan navigasi pada daerah dataran, sehingga prinsipnya sama dengan

33

navigasi gurun pasir. Tidak ada tanda ekstrem (bukit atau lembah) yang dapat dijadikan patokan. Jika pada rawa daerahnya datar dan kadang dipenuhi aliran sungai yang dapat berubah akibat banjir, maka pada gurun pasir pun daerahnya selalu berubah-ubah akibat tiupan angin. Seperti pada navigasi darat (gunung hutan), maka langkah pertama yang paling penting sebelum memulai perjalanan adalah mengetahui letak titik pemberangkatan di peta. Tanda-tanda medan yang dapat dijadikan sebagai patokan adalah ; sungai, lokasi desa terdekat dan garis pantai (jika dekat dengan pantai). 1. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam navigasi rawa. a. b. c. Tentukan titik pemberangkatan kita di peta. Bidik arah perjalanan yang diambil, catat sudut kompasnya. Ukur dan catat jarak tempuh perjalanan dengan sudut kompas tersebut.

Lakukan terus untuk setiap bagian perjalanan sampai menemukan tanda yang dapat dijadikan patokan, misalnya sungai. Jika belum dijumpai, lakukan terus sampai menemukan tempat istirahat. 2. Cara pengukuran jarak. a. Dengan penaksiran jarak (jika sudah mahir). Seperti navigasi man to man atau pemakaian back azimuth pada navigasi gunung hutan, pemegang kompas berjalan di belakang dan rekan lainnya berjalan sesuai dengan sudut kompas. Batas jarak pengukuran untuk satu segmen bergantung dari mata dan telinga. Artinya sampai batas penglihatan jika medannya tertutup atau sampai batas pendengaran jika medannya terbuka. Jadi panjang sebuah segmen adalah relatif tergantung medan yang dihadapi. b. Dengan pita ukur atau tali. yang lebih teliti. Caranya sama seperti di atas, tetapi didapat hasil

c. Dengan alat bantu ukur yang dipasang di pinggang pemegang kompas. Pemegang kompas berjalan paling belakang, rekannya yang berada di depan membuka jalur sesuai arah sudut kompas. Ikat ujung benang pada titik awal pada saat membelok atau merubah arah, lihat angka yang tertera pada alat pengukur tersebut. Putuskan benang dan ikat kembali ujung yang baru pada titik belok. d. Dengan menggunakan alat pengukur langkah yang dipasang pada pinggang bagian depan. Catat jumlah langkah untuk setiap arah sudut kompas. Ambil patokan 10 langkah sama dengan beberapa meter, atau kelipatan yang habis dibagi sepuluh. 1) Plot hasil pengukuran tersebut pada peta, pergunakan skala yang sesuai dengan skala peta yang dimiliki. Jika pengukuran jarak dan sudut kompas teliti, akan didapat hasil yang akurat. 2) Periksa posisi akhir dengan orientasi medan. Jika tersesat, minimal kita mempunyai catatan perjalanan untuk kembali ke tempat semula. 3) Jika sudut kompas dan jarak tempuh sudah ditentukan, maka plot di peta arah lintasan kita. Lakukan perjalanan dengan sudut kompas tersebut dan pergunakan cara melambung jika medannya tidak memungkinkan untuk dilalui, dengan tidak lupa melakukan poin 2 dan 3. Cara berjalan di rawa. a. Bawalah tongkat dan tali. Tongkat untuk mengukur kedalaman lumpur rawa, dan tali untuk membantu menarik teman yang terbenam.

3.

34

b. Berjalan secara beriringan. Usahakan dekat dengan tanaman yang ada, Injak bekas tumbuhan semak, rumput, atau akar tumbuhan yang ada karena tanahnya relatif lebih keras. c. Tebas ranting pohon, dan letakkan secara melintang di jalur yang akan diinjak. Gunanya untuk menahan laju turunnya badan kita ke dalam rawa. Prinsipnya sama seperti orang berjalan di atas salju yang lunak dengan menggunakan sepatu ski. Semakin luas permukaan salju yang diinjak, maka semakin ringan beban yang ditanggung oleh salju. d. Waspadalah terhadap binatang yang banyak terdapat di sekitar tanaman yang tumbuh di daerah rawa. Umumnya mereka berbisa.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

NAVIGASI PANTAI
Navigasi pantai adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di daerah pantai. Navigasi pantai jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan navigasi rawa. Sebab sebuah

35

garis posisi sudah diketahui, yaitu garis tepi pantai. Jadi hanya dibutuhkan sebuah tanda lagi untuk melakukan resection. Tanda-tanda medan yang dapat dijadikan sebagai patokan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sudut arah garis pantai. Tanjung atau teluk. Muara sungai. Pulau atau karang yang terdapat di sekitar pantai. Bukit yang terdapat di daerah pantai. Kampung nelayan.

Jika sudah terlatih bernavigasi gunung hutan, maka navigasi di daerah pantai tidak terlalu sulit. Pada navigasi pantai lebih ditekankan pembacaan peta. Tanpa bantuan kompas pun sebenarnya kita dapat berjalan di tepi pantai. Kompas hanya dibutuhkan jika harus melakukan perjalanan potong kompas, menghindari rintangan yang berupa tebing terjal yang tidak mungkin untuk dilewati. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam navigasi pantai : 1. 2. Plot posisi kita di peta dengan cara resection. Jalan mengikuti garis pantai selama masih memungkinkan.

3. Catat waktu perjalanan untuk setiap daerah yang berbeda atau tiap menjumpai tanda yang mudah dikenal. Ini dilakukan untuk mempermudah kita jika kehilangan posisi. Periksa posisi kita di peta setiap menjumpai tanda-tanda medan yang mudah dikenal, misalnya tanjung dan muara sungai. 4. Jika sudah menemui rintangan berupa tebing karang yang tidak mungkin dilewati, lakukan resection untuk menentukan posisi terakhir sebelum tebing tersebut. Setelah itu rencanakan perjalanan melambung dengan bantuan kompas sampai melewati rintangan. Pada daerah tebing karang, umumnya perjalanan melambung harus melalui tanjakan dan turunan yang terjal.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

SURVIVAL
Dalam menjalankan kegiatan di alam bebas, sudah seharusnya disadari akan adanya berbagai resiko yang tanpa diduga dapat membahayakan jiwa penggiat alam bebas.

36

Pengetahuan, pemahaman, dan perhitungan akan resiko yang mungkin dihadapi, menjadi faktor yang penting dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan di alam bebas. Namun perlu diingat, bagaimanapun siapnya kita dalam menghadapi berbagai resiko tersebut, suatu waktu mungkin kita akan menghadapi situasi yang tidak diinginkan. Survival berasal dari kata survive, yang secara sederhana dapat diartikan upaya untuk mempertahankan hidup. Suatu keadaan dapat dikatakan dalam kondisi survival adalah ketika kegiatan berlangsung diluar perencanaan dan membahayakan keselamatan penggiat alam bebas, misalnya kehilangan arah, tersesat, kekurangan stok makanan, menyimpang dari waktu yang dijadwalkan, terkena bencana alam,dll a. Mengenal sumber bahaya. 1) Subjective Danger. Merupakan bahaya yang berasal dari diri kita sendiri, mis. Keteledoran, persiapan yang kurang, pengetahuan yang minimal, dll. 2) Objective Danger. Merupakan bahaya yang berasal dari lingkungan, mis. Gempa bumi, banjir, badai, longsor, binatang buas, dll. b. Faktor penyebab terjadinya kondisi survival. 1) Psikologis. Panik, takut, cemas, kesepian/sendiri, bingung, tertekan, bosan, dll. 2) Fisiologis. Sakit, Lapar,luka, haus, dll. 3) Lingkungan. Panas, dingin, kering, hujan, angin, vegetasi, fauna, dll. c. Modal dasar menghadapi kondisi Survival. 1) 2) 3) d. Semangat untuk mempertahankan hidup. Kesiapan Diri. Alat Pendukung.

Sikap dan tindakan dalam menghadapi Survival. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Tidak panik, tetap tenang. Menyadari kondisi Survival. Tetap berpikir jernih dan mendalam. Ingat keberadaan dimana. Menguasai rasa takut. Improvisasi mengisi waktu. Menghargai hidup, tidak putus asa. Belajar dari apa yang terlihat. Latih tehnik dasar dan memori yang dimiliki. Pasrah dan Berdoa.

e.

Lima kebutuhan yang wajib dipenuhi dalam menghadapi Survival. 1) 2) 3) 4) 5) Air. Makanan. Api. Tempat Perlindungan. Komunikasi dengan pihak luar.

1.

Peralatan Survival.

37

a. Korek Api. Korek api yang tahan air berguna namun menghabiskan tempat lebih banyak. Gunakan korek api biasa yang dapat dibuat water proof dengan melapisi kepala korek dengan lilin. Untuk menghemat tempat, buang setengah batang dari tiap korek. Memang paling mudah menggunakan korek api dalam membuat api, tapi jangan menyia-nyiakannya. Gunakan korek ketika cara alternatif gagal. Ambil satu pada satu kesempatan dan ganti penutupnya. Jangan pernah meninggalkan bungkus korek terbuka atau tergeletak di tanah. b. Lilin. Lilin sangat berguna untuk menyalakan api dan sebagai sumber penerangan. Potong kecil-kecil untuk disimpan dalam kotak survival. Lilin yang terbuat dari tallow (lemak hewan) dapat dimakan ketika keadaan darurat atau digunakan untuk menggoreng. Lilin yang terbuat dari parafin dan lilin-lilin lainnya tidak dapat dimakan. Lilin tallow tidak tahan lama, terutama pada cuaca panas. c. Batu api. Pada keadaan basah batu api sangat berguna, tidak akan habis seperti korek api. d. Lup. Lup dibutuhkan untuk membuat api dengan sinar matahari langsung. Selain itu lup digunakan untuk mencari serpihan-serpihan dan duri pada luka. e. Jarum dan benang. Bawalah beberapa jarum dengan mata yang berbeda, termasuk di dalamnya jarum dengan mata besar untuk memasukkan jaringan (yang melekatkan otot dengan tulang) dan benang-benang kasar. Pilihlah benang-benang yang kuat dan lilitkan pada jarum. f) Kail dan benang pancing. Bawalah beberapa jenis kail yang berbeda dalam wadah kecil. Kail kecil dapat menangkap ikan kecil maupun besar, sedangkan kail besar hanya dapat menangkap ikan besar. Sertakan benang pancing sepanjang mungkin, akan berguna juga untuk menangkap burung. g) Kompas. Pilihlah kompas yang memiliki jarum kompas yang bercahaya, pastikan kita mengerti cara menggunakannya. Kompas yang berisi cairan merupakan pilihan terbaik, pastikan kompas tidak bocor, tidak terdapat gelembung, dan bekerja dengan baik. Penunjuk pada kompas rentan terhadap karat, pastikan jarum melekat pada titik tengahnya dan bergerak dengan bebas. h) Beta light. Beta light adalah kristal sebesar koin yang mengeluarkan cahaya, ideal untuk membaca peta pada malam hari dan dapat membantu kita dalam memancing. i) Kawat. Bawalah kira-kira 60-90 cm. Berguna banyak dalam survival, sisakan untuk membuat perangkap. j) Gergaji fleksibel. Lepaskan pegangan karena menghabiskan banyak tempat. Kita dapat menggunakan batang kayu kecil untuk menggantikan pegangan ketika kita berada di hutan. Lapisi mata gergaji dengan minyak untuk mencegah karat dan patah. k) Peralatan medis. Simpan obat-obatan dalam bungkus kedap udara dengan wol katun untuk mengisi ruang kosong.

38

2.

Kebutuhan Air dalam Survival.

Air esensial bagi kehidupan. Kehidupan bergantung pada keberadaannya dan semua makhluk hidup terdiri dari air. Orang rata-rata dapat bertahan hidup selama 3 minggu tanpa makanan tapi hanya bertahan 3 hari tanpa air. Air merupakan prioritas utama dalam survival. Jangan menunggu kehabisan untuk mencarinya. Gunakan seperlunya dan segera cari sumber air secepatnya, sebaiknya air segar yang mengalir walaupun semua air dapat disterilisasi dengan mendidihkannya atau menyaringnya pada saringan khusus. a. Cara cara mempertahankan cairan dalam tubuh. 1) Hindari bergerak berlebihan, lebih baik istirahat. 2) Jangan merokok 3) Tinggal di tempat yang terlindung dari sinar matahari agar tetap dingin. Jika tidak ada perlindungan, buatlah. 4) Jangan berbaring pada tanah atau permukaan yang panas. 5) Jangan makan atau makan sesedikit mungkin. Jika tidak terdapat air, cairan akan diambil dari organ-organ vital untuk mencerna makanan dan menyebabkan dehidrasi. Lemak adalah yang paling sulit dicerna dan dibutuhkan banyak cairan untuk memecahnya. 6) Jangan pernah minum alkohol. Alkohol juga menghabiskan banyak cairan untuk memecahnya. 7) Jangan berbicara. Bernapaslah melalui hidung, jangan dari mulut. b. Klasifikasi Air dalam Survival. 1) Air yang dapat diminum langsung. Tidak berwarna aneh dan berbau aneh. Dapat diperoleh dari mata air, sungai, danau, hujan, dan tumbuhan. 2) Air tercemar sederhana. Dapat diminum setelah diproses secara sederhana, seperti air tergenang, air berlumpur,dan air sungai besar. 3) Air tercemar parah. Memerlukan proses yang rumit untuk dapat diminum misalnya air rawa, air belerang, dll c. Menemukan Air. 1) Aliran air atau kolam. (sungai). Aliran air biasanya terdapat di dasar lembah

2) Area area vegetasi tumbuhan. Kemungkinan terdapat air di bawah permukaan yang akan terkumpul dalam sebuah lubang. Bahkan menggali pada bekas aliran hujan dan dasar aliran air yang kering dapat membuahkan hasil, terutama pada daerah berkerikil. 3) Rekahan bebatuan pada daerah pegunungan.

4) Di dekat bukir pasir di daerah pantai. Galilah pada garis permukaan air yang tinggi, terutama di dekat bukit pasir. Kemungkinan kita dapat menemukan air segar setinggi 5 cm yang tersaring dan mengapung di atas air garam yang lebih berat. Jika air segar tidak dapat ditemukan, air laut dapat didestilasi.

39

d.

Mengumpulkan Air. 1) Mengumpulkan air hujan. Air hujan di mana pun dapat diminum (walaupun saat ini banyak pencemaran). Carilah daerah seluas mungkin untuk mengumpulkan air, alirkan pada wadah apapun yang tersedia. Lubang yang digali pada tanah dan dilapisi lempung akan menahan air dengan efisien, tapi jangan lupa memberi penutup. Jika tidak ada lapisan kedap, gunakan lapisan metal atau kulit kayu untuk mengumpulkan air. Jika tidak merasa yakin dengan air yang kita kumpulkan, didihkan air tersebut. 2) Penguapan dari tanah.

3) Kondensasi. Pada iklim yang pada siangnya panas sekali dan pada malamnya dingin sekali kita dapat mengharapkan embun yang cukup banyak. Air yang terkondensasi dapat kita serap atau hisap.

4) Air yang terdapat pada daun yang basah. Kita dapat menggunakan kain untuk menyerap air dan memerasnya. Salah satu cara adalah dengan mengikat kain di sekeliling kaki dan pergelangan tangan kemudian berjalan pada daerah vegetasi yang basah. Air pada kain ini dapat kita hisap atau peras. e. Mendapatkan Air dari Hewan. 1) Mamalia. Kebanyakan mamalia membutuhkan air secara berkala. Mereka biasanya tidak pernah jauh dari air karena hewan-hewan tersebut butuh minum pada subuh dan magrib, walaupun beberapa jenis bepergian jauh untuk menghindari musim kering. Jejak-jejak hewan yang saling bertemu sering mengarah pada air, ikutilah jejak itu ke bawah bukit. 2) Burung. Burung pemakan biji-bijian tidak pernah jauh dari air. Burungburung tersebut minum pada subuh dan magrib. Ketika mereka terbang lurus dan rendah, mereka sedang mengarah ke air. Ketika kembali dari air, burungburung membawa air dalam tubuhnya dan terbang dari pohon ke pohon, beristirahat secara berkala. Tandai jalur yang mereka lewati dan kita akan menemukan air. 3) Reptil. Bukan merupakan indikator keberadaan air. Reptil mengambil air dari embun dan cairan mangsanya.

40

4) Serangga. Serangga merupakan indikator air yang baik, terutama lebah. Mereka terbang paling jauh 6.5 km dari sarangnya tapi tidak memiliki waktu minum khusus. Semut bergantung hidupnya pada air. Sekumpulan semut yang berbaris ke atas pohon sedang menuju sumber kecil dari air yang terperangkap. Sumber-sumber tersebut dapat kita temukan bahkan di daerah yang sangat kering sekalipun. Kebanyakan lalat berada 90m dari air. Perhatikan : Saat bisa minum dengan keadaan air yang masih terbatas, minum sedikit-sedikit dengan menyeruputnya. Setelah tidak minum untuk waktu yang cukup lama, jangan menggelegak air ketika menemukannya. Tegukan dalam jumlah besar akan membuat seseorang yang dehidrasi muntah, membuang lebih banyak cairan yang berharga dari tubuhnya. f. Mendapatkan Air dari Tumbuhan. Jika kita berada pada keadaan yang haus, betapapun besar rasa haus itu, jangan minum air yang belum dijernihkan dan dimasak. Banyak kasus penyakit terjadi di lapangan disebabkan karena seseorang meminum air kotor. Air yang baik diminum adalah air yang jernih dan dimasak sampai mendidih. Selain diperoleh dari sungai, danau, kubangan, atau mata air, air juga bisa didapat dari tumbuhan. Tumbuhan dan bagian tumbuhan yang mengandung banyak air diantaranya : 1) Batang pisang. Batang pisang ditebang, lalu dilubangi (boleh sampai dasar) dan ditunggu selama 24 jam, setelah itu air dapat diambil sebanyak 2/3 bagian atas. Lebih baik lagi jika sedikit bagian permukaan dibuang juga. 2) Tumbuhan beruas seperti bambu dan beberapa jenis rumput yang beruas. Pada batang bagian ruas (rongga di antara dua buku) sering terdapat air yang mengembun. 3) Liana hutan. Liana merupakan jenis tanaman yang melilit di pohon-pohon besar di hutan. Bentuknya kebanyakan hanya berupa batang yang melingkar tanpa daun dan elemen tumbuhan lain. Cara mengambil air di liana adalah dengan memotong bagian atas (setinggi mungkin), lalu memotong bagian bawah (dekat permukaan tanah), kemudian air akan keluar. Jika air yang keluar habis, potong bagian atasnya, dan seterusnya. Jika tidak terlalu terpaksa, kita disarankan untuk tidak mengkonsumsi liana, karena bagian yang kita potong tidak dapat direproduksi, dan kecepatan tumbuhnyapun sangat lambat (untuk 1 cm pertumbuhan diameter dibutuhkan waktu beberapa tahun). 4) Tangkai tanaman palem-paleman seperti nipah, kelapa, dan gebang. Tangkai bunga dipotong dan dipukul-pukul, lalu air yang keluar ditampung. Air ini dapat memperbaharui luka setiap 12 jam.

41

5) Tumbuhan berkelopak dan berdaun lebar seperti nanas dan pandan. Air terjebak di dalam rumpun daun. 6) kain. Lumut. Air bisa diperoleh dengan memeras lumut lalu disaring dengan

7) Tumbuhan yang menyimpan air pada buah, contoh: kelapa. Kita tidak dianjurkan terlalu banyak minum air kelapa, karena akan menyebabkan badan menjadi lemas. 8) Untuk daerah kering dan tandus, air bisa didapat dari kaktus bundar yang dipotong-potong dan diperas. Air yang berwarna putih dapat diminum. Selain itu akar-akar tumbuhan yang menyembul di permukaan pasir bisa langsung dihisap airnya. 3. Kebutuhan Makanan dalam Survival. Makanan adalah sebagai bentuk perlindungan dari dalam tubuh, fungsi dari makanan sendiri adalah untuk menambah kalori, memberikan tenaga pada otot, dan mengganti sel-sel atau jaringan-jaringan tubuh yang rusak. a. Sumber Sumber Makanan. 1) Tumbuhan sebagai sumber makanan. Hampir semua tumbuhan hutan dan rawa dapat dikonsumsi, tetapi perlu juga diperhatikan jenis-jenis mana yang dapat atau tidak dapat dimakan. Secara umum ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih tumbuhan untuk dikonsumsi, yaitu : a) Jangan makan buah yang berwarna merah keunguan atau warna yang mencolok, kecuali tumbuhan tersebut telah diketahui tidak beracun. Tanaman berwarna merah keunguan yang dapat dimakan di antaranya adalah harendong / korong anjing / kapilano, dan arbeiarbeian. b) Jangan makan jamur yang belum diketahui beracun atau tidak. Jamur dengan warna-warna yang menarik dan mencolok biasanya mengandung racun. Hindari juga jamur-jamur yang memiliki bau kuat. Tidak ada karakteristik umum yang dapat membedakan jenis jamur beracun dengan yang tidak beracun, sehingga disarankan untuk tidak mencoba mengkonsumsi jamur. c) Jangan makan tumbuhan yang belum diketahui beracun atau tidak. Lakukan uji layak makan universal (akan dibahas kemudian). d) Jangan memakan sembarang umbi. Untuk mengujinya, potongpotong bagian umbi lalu dibiarkan minimal 2 jam. Jika warnanya berubah menjadi ungu atau oranye, berarti umbi tersebut beracun. Kemungkinan besar racun itu adalah sianida. e) Makanlah bagian tumbuhan yang masih muda dan lunak, seperti pucuk atau tunas daun. Hal ini bertujuan agar makanan tersebut mudah dicerna oleh tubuh. Selain itu makanlah tumbuhan yang masih segar, karena jika sudah membusuk dikhawatirkan terdapat jamur yang tumbuh yang dapat menyebabkan keracunan.

42

f) Makanlah bagian tumbuhan yang masih utuh, artinya tidak koyak atau sobek atau terdapat tanda bekas dimakan binatang. Dalam keadaan luka, tumbuhan akan menghasilkan metabolit sekundernya sebagai bentuk pertahanan diri. Metabolit sekunder tumbuhan dapat berupa racun. g) Pada umumnya bila satu organ dapat dikonsumsi, organ lainnya pun dapat dikonsumsi. Tetapi ada juga tumbuhan yang hanya organ tertentu saja yang dapat dikonsumsi, contohnya bengkuang. h) Hindari tumbuhan yang bergetah, kecuali getahnya tidak berbahaya bagi tubuh. i) Sedapat mungkin masak tumbuhan yang akan dimakan, agar dapat dihilangkan metabolit sekundernya dan pencemar yang menempel di tanaman tersebut seperti logam berat atau pestisida. Selain itu dengan menggodok tumbuhan, rasa pahit akibat kandungan senyawa tanin akan hilang atau berkurang. j) Hindari tumbuhan yang memiliki rambut kelenjar dan duri pada bagian kulitnya, karena akan menyebabkan gatal-gatal pada tenggorokan. Tumbuhan seperti ini yang diketahui aman dikonsumsi salah satunya harendong / korong anjing / kapilano. Sebelum kita memakan tumbuhan sebaiknya dilakukan pengujian makanan. Sebaiknya pengujian hanya dilakukan pada satu bagian tumbuhan setiap kali uji. Langkah-langkahnya adalah sebagain berikut : a) Pisahkan bagian-bagian tumbuhan berdasarkan bagian-bagian dasarnya, seperti akar/umbi, daun, batang, dll. b) Jangan memakan apapun, kira-kira selama 8 jam sebelum melakukan uji layak makan ini. c) Cium baunya untuk mengindikasikan adanya bau asam yang tajam. d) Selama menunggu 8 jam, sentuhkan bagian tumbuhan yang akan diuji ke dalam lipatan siku atau pergelangan tangan selama 15 menit. e) Bila tidak terjadi reaksi apa-apa, sentuhkan ke bagian luar bibir dan tunggu selama 3 menit. Jika ada rasa terbakar atau gatal, hentikan pengujian. f) Bila tidak terjadi reaksi apa-apa, sentuhkan ke bagian lidah lalu tahan selama 15 menit. g) Bila tidak terjadi reaksi apa-apa, coba kunyah dan tahan di dalam mulut selama 15 menit. Jangan ditelan! h) Jika tidak ada sensasi terbakar, mati rasa, tersengat, atau iritasi, coba telan.

43

i) Tunggu selama 8 jam. Bila efek mulai terasa pada waktu ini, coba muntahkan dan minum banyak air, atau menelan norit. j) Bila tidak terjadi reaksi apa-apa ambil sebagian lagi untuk dimakan. k) Bila tidak terjadi apa-apa juga, artinya bagian tersebut bisa dimakan. b. Hewan sebagai sumber makanan. Pada dasarnya semua hewan dapat dimakan setelah melalui proses pengolahan yang baik dan benar. Makanan yang berasal dari hewan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan protein tubuh kita. Satu hal yang harus diperhatikan ketika kita memilih hewan sebagai sumber makanan adalah efektivitas kerja. Misalnya mengejar-ngejar hewan buruan yang mengakibatkan habisnya energi kita, atau mengkonsumsi daging kelinci di mana kalori yang dibutuhkan untuk proses konsumsinya lebih besar dari pada kalori yang dihasilkan. Beberapa hewan yang dapat dikonsumsi antara lain : 1) Cacing tanah. Dapat ditemukan di tanah gembur, biasanya di dekat tegakan pohon (sekitar akar), atau di pinggiran sungai. Cacing tanah juga sering ditemukan pada substrat tanah yang menempel pada batang pakis haji / paku tiang, atau pada substrat tanah paku sarang burung yang menempel di batang pohon. Cacing tanah lebih mudah ditemukan setelah hujan. Cacing tanah yang diambil dari substrat tanah yang menempel pada batang pohon dapat langsung dimakan, sedangkan cacing yang diambil langsung dari tanah harus dikeluarkan dahulu bagian dalam tubuhnya sebelum dimakan. Kemudian lendirnya dibersihkan dengan cara direndam air garam atau dicuci pada air mengalir. 2) Lintah dan pacet. memiliki gigi dibuang. Dapat dimakan setelah bagian mulutnya yang

3) Kerang-kerangan, cumi-cumi, dan gurita (Filum Mollusca). Cumi-cumi dan gurita bisa dimakan setelah direbus atau dibakar. Kerang direbus dalam air garam beberapa kali, dan air rebusannya jangan diminum karena kemungkinan besar mengandung polutan. 4) Siput dan bekicot. Bisa ditemukan pada daerah lembab seperti dekat perairan, di antara batang tanaman, atau di balik daun. Cara pengolahannya sama dengan kerang-kerangan. 5) Udang dan kepiting. Karena biasanya aktif di malam hari, pada siang hari kita dapat mencarinya di sekitar bebatuan pada daerah berarus, atau di daerah berlumpur. Kepiting atau udang dapat dipancing dengan umpan daging atau jeroan atau benda. Setelah menjepit umpan, mereka dapat ditarik keluar. Pengolahannya adalah dengan merebusnya beberapa kali. 6) Serangga. Hampir semua serangga bisa dimakan. Hindari serangga yang berbulu, berwarna cerah (contoh: ulat), menggigit atau menyengat, berbau tidak sedap, menyebabkan rasa gatal dan iritasi, serta serangga yang berperan sebagai vektor penyakit (contoh: kutu, lalat, nyamuk), dan serangga yang memakan kotoran hewan lain. Cara pengolahannya adalah dengan membuang bagian-bagian yang keras, berduri, berbulu, sengat, dan kelenjar bisanya.

44

7.) Ikan. Cara pengolahannya adalah dengan memasaknya (harus). Dengan memasaknya, parasit yang terkandung di dalam tubuh ikan akan terbunuh dan akumulasi racunnya akan berkurang. 8) Katak, kodok, dan salamander (Kelas Amphibia). Hindari amphibi yang berwarna mencolok. Juga hindari memakan berudu (kecebong) apapun, karena sulit untuk menentukan jenis katak / kodok dari berudu tersebut. Selain itu pada berudu yang akan memulai metamorfosis, sekret dari kelenjar granulernya sangat beracun. 9) Ular, kadal-kadalan, kura-kura, serta penyu (Kelas Reptilia). Hewanhewan ini pada umumnya dapat dikonsumsi asalkan kantung atau kelenjar bisanya dibuang terlebih dahulu (jika memiliki kelenjar bisa). Beberapa kadal memiliki liur yang mematikan, misalnya pada komodo. Ketika mengkonsumsi ular, anggap saja semua ular memiliki bisa, sehingga bagian yang dimakan hanya 2/3 bagian belakang. 10) Burung. Telur burung juga dapat dikonsumsi. Pada umumnya semua jenis burung dapat dikonsumsi. 11) Semua jenis mamalia. Cara pengolahannya adalah dengan mengulitinya dan merebusnya. Kebanyakan mamalia dapat menderita penyakit yang berpotensial menulari manusia. Oleh karena itu daging harus dimasak sampai benar-benar matang. Daging yang setengah matang akan memperbesar resiko penularan penyakit yang dibawa. c. Mengetahui Keberadaan Hewan. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) d. Jejak kaki hewan. Sisa-sisa makanan. Tanda alam dari jalur yang dilewati hewan seperti ranting patah, dll. Adanya kotoran hewan. Akar tanaman yang rusak. Suara dan bau hewan. Liang tempat tinggal hewan.

Mendapatkan Hewan. 1) Berburu. Salah satu cara mendapatkan hewan adalah dengan berburu. Yang harus kita lakukan adalah membuat alat untuk berburu, misalnya dengan panah atau tombak. a) Membuat busur panah.

45

b)

Membuat anak panah.

c)

Senjata penembak burung (katapel).

2)

Memancing Ikan. a) Perangkap ikan.

b)

Umpan ikan buatan

3) Trap/ Perangkap Hewan. Trap paling sederhana dapat terbuat dari tali atau kawat yang dibentuk lingkaran untuk menjerat hewan. Kayu yang kuat juga dapat digunakan sebagai trap. a) Letak Trap : Cari sebuah jalur yang menghubungkan antara sarang hewan dengan tempat ia mencari makan dan minum. Buat sebuah rintangan yang ia harus lalui dengan kesulitan. Itulah tempat ideal untuk memasang trap. Jangan memasang trap dekat dengan sarangnya, karena ia akan dapat mendengar dan membaui saat kita memasangnya. Jangan juga memasang di tempat ia makan atau minum, karena ia sedang bersiaga dan mengetahui jika ada sesuatu yang tidak biasa. Pasanglah trap di sisi jalur yang dilaluinya, dan ketika kita muncul tiba-tiba ia akan segera menuju ke tempat aman terdekat, yaitu di sisi jalur, di saat itulah kemungkinan trap akan berfungsi dengan baik.

46

b) Tipe Trap : Berdasarkan prinsip kerja, trap dapat dikelompokkan menjadi : (1) (2) (3) (4) c) Mangle, menindih. Strangle, menjebak. Dangle, menggantung. Tangle, mempersulit gerak.

Contoh Trap : (1) Trap sederhana dengan tali.

(2)

Trap dengan tali dan loop menggantung

(3)

Trap dengan blok kayu menjatuhi hewan

Buatlah jebakan sebanyak mungkin di sekitar kita. Periksa ketika mulai terang dan sebelum gelap. Segera ambil buruan kita dan susun kembali jebakan. Perbaiki jebakan-jebakan yang rusak, pindahkan jebakan-jebakan yang tidak pernah memberikan hasil. Agar berhasil, sebuah jebakan harus sangat sensitif, dapat bekerja dengan tiba tiba dan segera. Kemungkinan kita hanya mendapat satu mangsa dari sekian banyak jebakan yang kita buat.

47

4. Kebutuhan Api dalam Survival. Api terutama digunakan untuk menghangatkan tubuh dan meningkatkan semangat psikologis seseorang dalam kondisi survival. Adapaun fungsi dari api lainya adalah : * * * * * Sumber penerangan. Memasak makanan dan minuman. Membuat tanda-tanda / kode. Menakuti hewan buas. Asapnya dapat mengusir nyamuk.

Tiga aspek dalam pembuatan Api, dikenal dengan Fire Triangle, yaitu : *. * * Sumber Api/ Panas (Heat). Bahan Bakar ( Fuel). Aliran Udara ( Air ).

Tiga komponen ini saling berhubungan, ketidakserasian dari paduan ketiga komponen ini hanya akan menimbulkan asap a. Membuat Api. 1) Buatlah dudukan dari bahan yang mudah dibakar seperti kayu kering, daun kering, dan lumut kering. Kemudian bakarlah bahan-bahan tersebut, tambahi terus hingga menjadi bara. 2) Hal termudah untuk mendapatkan percikan api adalah dari korek api batang Korek itu sendiri baiknya dilapisi dengan lilin, agar tidak basah. 3) Menggesekkan Kayu Dengan Kayu. Hal ini hanya dapat dilakukan pada daerah yang benar-benar kering. 4) Menggesekkan Batu api dengan Tembaga. Contohnya Pisau tembaga yang digesekkan pada sebatang geretan, atau pisau tembaga dengan batu api. kemudian menggunakan blok magnesium sebagai bahan bakarnya 5) Menggunakan Pembesar. Sinar Matahari dari Kaca

48

b.

Bahan Bakar. Semakin berat sebuah kayu, semakin banyak panas yang dihasilkan, hal ini berlaku pada kayu mati atau kayu berdaun. Mencampur kayu berdaun dan kayu kering akan membuat api bertahan lebih lama, cocok untuk malam hari. Kayu keras akan terbakar dengan baik, memberikan panas dan bertahan untuk waktu yang lama seperti batu bara. Kayu keras akan menjaga api tetap menyala sepanjang malam. Sedangkan dapat menghasilkan asap untuk mengusir lalat, serangga, dan nyamuk. Kayu basah juga terbakar lebih lama sehingga menjaga api menyala lebih lama. Bahan bakar dapat menggunakan serpihan-serpihan kayu kering, daun kering, lumut kering, dll. Starter adalah benda apa saja yang membutuhkan panas minimum untuk terbakar. Starter yang baik hanya membutuhkan percikan api agar terbakar. Kulit kayu, rumput kering, serutan kayu yang halus, bulu halus burung, kertas yang dilapisi lilin, dan benang katun yang terkumpul dari pakaian merupakan starter yang baik. Apapun starter yang kita gunakan, starter tersebut harus kering. Ada baiknya membawa starter pada wadah kedap air. Kumpulkan starter yang kita temukan dalam perjalanan. Kindling adalah kayu yang digunakan untuk membesarkan api dari starter. Kindling lebih sulit terbakar. Kindling terbaik terdiri dari ranting-ranting kecil yang kering dan kayu-kayu halus karena dapat menyala dengan cepat. Jangan mengumpulkan kindling langsung dari tanah, kebanyakan basah. Cari kindling pada kayu mati yang berdiri. Jika bagian luarnya basah serut sampai pada bagian kering. Selain menggunakan kayu, daun, dan lumut kering sebagai bahan bakar, ada beberapa alternatif bahan bakar yang bisa didapatkan, yaitu ; 1) 2) 3) 4) 5) Kotoran Hewan Batu bara Tanah gemuk yang biasa dipakai untuk bahan bakar Oli Lemak Hewan.

c.

Tempat Api. Api yang sudah ada sebaiknya dilindungi dari terpaan angin dengan membuat semacam pembatas yang mengelilingi api tersebut, dapat dibuat dengan menyusun batu atau kayu. Tempat api juga dialasi dengan potongan kayu kayu yang diikat berbaris untuk mengurangi akibat dari penguapan air tanah yang dapat memasahi bahan bakar.

5. Kebutuhan Tempat Perlindungan dalam Survival. Shelter atau Biouvac merupakan tempat yang digunakan sebagai tempat perlindungan, ia memiliki fungsi layaknya rumah di dalam hutan. Seperti untuk beristirahat, tidur, dan aktifitas lain yang memerlukan tempat terlindungi dari daerah sekitar.

49

a.

Perlindungan yang dibutuhkan. 1) Perlindungan terhadap cuaca (Panas, dingin, hujan, angin) dan faktor medan ( gunung, lembah, rawa, tebing, sungai, dsb). 2) Perlindungan terhadap binatang. 3) Perlindungan terhadap makanan/ minuman mambahayakan atau beracun. 4) Perlindungan dari proses respirasi tumbuhan di malam hari.

Salah satu hal yang harus sangat diperhatikan adalah perlindungan terhadap cuaca dingin karena hal ini yang paling sering mengakibatkan kematian bagi para pendaki. Udara dingin, hujan, angin dapat mempengaruhi penurunan suhu kita, bila mencapai 3 derajat celcius dapat mengakibatkan kematian. b. Macam Macam Shelter. 1) Biouvac Buatan (ponco, kain terpal, plysheet,dsb).

2)

Biouvac Alam (kayu, daun, pohon jatuh, goa, bambu, kulit hewan, dsb).

c.

Syarat untuk tempat Mendirikan Shelter. 1) 2) 3) 4) 5) 6) Tempatnya datar. Terlindungi dari angin. Terlindungi dari batuan yang jatuh. Bukan tempat aliran dan tergenangnya air. Dekat dengan sumber air. Tidak berada di jalur hewan.

Membangun shelter dekat sumber air juga harus diperhatikan jaraknya. Jarak yang terlalu dekat dapat menimbulkan gangguan dari serangga, dan suara dari sumber air dapat menghalangi pendengaran terhadap bahaya lain di malam hari, meluapnya air dapat menghanyutkan di saat beristirahat/ tidur.

50

Tempat tempat yang harus dihindari saat mendirikan shelter : 1) 2) 3) 4) d. Puncak gunung terbuka. Lembah yang dalam. Dataran tepi gunung yang menampung embun. Persimpangan jalan hewan.

Prinsip pada Shelter yang akan dibangun. 1) Usahakan bidang tanah tempat akan dibangun shelter lebih tinggi dari sekitar 2) Rangka diikat dengan kuat, dapat menggunakan sulur atau pelepah pisang jika tidak ada tali 3) Atap yang dibuat dari daun atau bambu disusun sedemikian rupa sehingga kuat dan tidak mengalirkan air ke dalam shelter 4) Shelter dialasi dengan daun- daun yang dapat menyerap air dari dalam tanah 5) Kelilingi shelter dengan selokan air untuk menghindari shelter terendam air.

e)

Contoh gambar membuat, menyusun rangka atap, atap dan tembok : Tembok Kerangka Atap

Atap. Bisa dibuat dari daun bercabang-cabang atau dapat juga langsung dilipat tanpa dibelah.

51

Atap dari daun berjari tiga : Atap dari daun lebar

Atap dari bambu :

6.

Kebutuhan Komunikasi dalam Survival.

Ketika sedang mengalami kondisi Survival, salah satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah usaha untuk tetap berkomunikasi dengan pihak luar. Hal ini berguna agar ada pihak luar yang mengetahui letak dimana kita berada dan dapat segera memberikan pertolongan. Salah satu cara untuk berkomunikasi dengan pihak luar adalah dengan meninggalkan Tanda Jejak. Kita membuat Tanda Jejak di jalur yang kita lewati, cara itu merupakan cara yang paling sederhana. Dengan adanya tanda-tanda yang kita buat, kemungkinan besar posisi kita akan diketahui dan hal ini juga merupakan salah satu sarana kita untuk terlepas dari kondisi survival dan kembali ke rumah dengan selamat. Gunakanlah tanda yang menarilk perhatian dan sulit ditiru oleh hewan/ alam. a. Alat -alat Komunikasi. 1. Suara (Peluit, teriakan, dll)Dapat menjadi kode morse. 2. Cahaya atau Api. Untuk malam hari yang serba gelap, api yang terang dan besar akan mudah terlihat. 3. Kain atau bendera. Dapat digunakan sebagai semaphore 4. Asap Untuk siang hari, asap hitam yang tebal dan bergumpal akan segera dapat terlihat. Untuk daerah yang berhutan lebat dan hujan, asap tebal putih akan mudah terlihat. Asap hitam dapat dibuat dengan menggunakan bensin, oli, kain tua yang dicelupkan minyak tanah, potongan karet atau plastik. Asap putih dapat dibuat dengan daun-daun yang masih hijau, lumut, ranting, atau percikan air dalam api.

52

5. Cermin Survival. Merupakan cermin yang terdiri dari dua sisi empat persegi panjang dan memiliki dua lubang. Cermin ini akan memantulkan cahaya matahari sehingga menarik perhatian objek yang kita tuju. 6. Body Signals. Gerakan-gerakan badan yang memiliki arti tertentu.

Beberapa Contoh Kode-Kode.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

53

SEARCH AND RESCUE (SAR) 1. Pendahuluan. Lahirnya organisasi SAR di Indonesia yang saat ini bernama BASARNAS diawali dengan adanya penyebutan Black Area, bagi suatu negara yang tidak memiliki organisasi SAR. Dengan berbekal kemerdekaan, maka tahun 1950 Indonesia masuk menjadi anggota organisasi penerbangan internasional ICAO (International Civil Aviation Organization). Sejak saat itu Indonesia diharapkan mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran yang terjadi di Indonesia. Sebagai konsekuensi logis atas masuknya Indonesia menjadi anggota ICAO tersebut, maka pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1955 tentang Penetapan Dewan Penerbangan untuk membentuk panitia SAR. Panitia teknis mempunyai tugas pokok untuk membentuk Badan Gabungan SAR, menentukan pusat-pusat regional serta anggaran pembiayaan dan materil. Sebagai negara yang merdeka, tahun 1959 Indonesia menjadi anggota International Maritime Organization (IMO). Dengan masuknya Indonesia sebagai anggota ICAO dan IMO tersebut, tugas dan tanggung jawab SAR semakin mendapat perhatian. Sebagai negara yang besar dan dengan semangat gotong royong yang tinggi, bangsa Indonesia ingin mewujudkan harapan dunia international yaitu mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran. Dari pengalaman-pengalaman tersebut diatas, maka timbul pemikiran bahwa perlu diadakan suatu organisasi SAR Nasional yang mengkoordinir segala kegiatankegiatan SAR dibawah satu komando. Untuk mengantisipasi tugas-tugas SAR tersebut, maka pada tahun 1968 ditetapkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor T.20/I/2-4 mengenai ditetapkannya Tim SAR Lokal Jakarta yang pembentukannya diserahkan kepada Direktorat Perhubungan Udara. Tim inilah yang akhirnya menjadi embrio dari organisasi SAR Nasional di Indonesia yang dibentuk kemudian. Pada tahun 1968 juga, terdapat proyek South East Asia Coordinating Committee on Transport and Communications, yang mana Indonesia merupakan proyek payung (Umbrella Project) untuk negara-negara Asia Tenggara. Proyek tersebut ditangani oleh US Coast Guard (Badan SAR Amerika), guna mendapatkan data yang diperlukan untuk rencana pengembangan dan penyempurnaan organisasi SAR di Indonesia. Dalam kegiatan survey tersebut, tim US Coast Guard didampingi pejabat - pejabat sipil dan militer dari Indonesia, tim dari Indonesia membuat kesimpulan bahwa : Instansi pemerintah baik sipil maupun militer sudah mempunyai unsur yang dapat membantu kegiatan SAR, namun diperlukan suatu wadah untuk menghimpun unsur-unsur tersebut dalam suatu sistem SAR yang baik. Instansi- instansi berpotensi tersebut juga sudah mempunyai perangkat dan jaringan komunikasi yang memadai untuk kegiatan SAR, namun diperlukan pengaturan pemanfaatan jaringan tersebut. Personil dari instansi berpotensi SAR pada umumnya belum memiliki kemampuan dan keterampilan SAR yang khusus, sehingga perlu pembinaan dan latihan. Peralatan milik instansi berpotensi SAR tersebut bukan untuk keperluan SAR, walaupun dapat digunakan dalam keadaan darurat, namun diperlukan standardisasi peralatan. Hasil survey akhirnya dituangkan pada Preliminary Recommendation yang berisi saran-saran yang perlu ditempuh oleh pemerintah Indonesia untuk mewujudkan suatu organisasi SAR di Indonesia.

54

Berdasarkan hasil survey tersebut ditetapkan Keputusan Presiden Nomor 11 tahun 1972 tanggal 28 Februari 1972 tentang pembentukan Badan SAR Indonesia (BASARI). Adapun susunan organisasi BASARI terdiri dari : a. b. c. d. Unsur Pimpinan Pusat SAR Nasional (Pusarnas). Pusat-pusat Koordinasi Rescue (PKR). Sub-sub Koordinasi Rescue (SKR). Unsur-unsur SAR.

Pusarnas merupakan unit Basari yang bertanggungjawab sebagai pelaksana operasional kegiatan SAR di Indonesia. Walaupun dengan personil dan peralatan yang terbatas, kegiatan penanganan musibah penerbangan dan pelayaran telah dilaksanakan dengan hasil yang cukup memuaskan, antara lain Boeing 727PANAM tahun 1974 di Bali dan operasi pesawat Twinotter di Sulawesi yang dikenal dengan operasi Tinombala. Secara perlahan Pusarnas terus berkembang dibawah pimpinan (alm) Marsma S. Dono Indarto. Dalam rangka pengembangan ini pada tahun 1975 Pusarnas resmi menjadi anggota NASAR (National Association of SAR) yang bermarkas di Amerika, sehingga Pusarnas secara resmi telah terlibat dalam kegiatan SAR secara internasional. Tahun berikutnya Pusarnas turut serta dalam kelompok kerja yang melakukan penelitian tentang penggunaan satelit untuk kepentingan kemanusiaan (Working Group On Satelitte Aided SAR) dari International Aeronautical Federation. Bersamaan dengan pengembangan Pusarnas tersebut, dirintis kerjasama dengan negara-negara tetangga yaitu Singapura, Malaysia, dan Australia. Untuk lebih mengefektifkan kegiatan SAR, maka pada tahun 1978 Menteri Perhubungan selaku kuasa Ketua Basari mengeluarkan Keputusan Nomor : 5/K.104/Pb-78 tentang penunjukkan Kepala Pusarnas sebagai Ketua Basari pada kegiatan operasi SAR di lapangan. Sedangkan untuk penanganan SAR di daerah dikeluarkan Instruksi Menteri Perhubungan IM 4/KP/Phb-78 untuk membentuk Satuan Tugas SAR di KKR (Kantor Koordinasi Rescue). Untuk efisiensi pelaksanaan tugas SAR di Indonesia, pada tahun 1979 melalui Keputusan Presiden Nomor 47 tahun 1979, Pusarnas yang semula berada dibawah Basari, dimasukkan kedalam struktur organisasi Departemen Perhubungan dan namanya diubah menjadi Badan SAR Nasional (BASARNAS). 2. Maksud dan Tujuan. Hakekat Search And Rescue (SAR) adalah suatu kegiatan kemanusiaan yang dijiwai oleh falsafah pancasila dan merupakan kewajiban bagi setiap warga negara. Kegiatan tersebut meliputi segala upaya pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan jiwa manusia dan harta benda yang bernilai dari berbagai musibah baik dalam perlindungan, pelayanan, bencana alam, maupun bencana yang lainnya. Sebagai salah satu komponen masyarakat yang memiliki rasa kemanusiaan, maka SAR merupakan perwujudan rasa tanggungjawab akan keselamatan sesama. Oleh karena itu, materi SAR diberikan untuk membekali anggota sendiri akan ilmu dan teknik serta keorganisasian SAR yang ada, juga memberikan wawasan dan bekal ketrampilan untuk memberikan pertolongan SAR gunung hutan. Sebagai salah satu konsekuensi kegiatan yang digelutinya, dimana resiko akan selalu ada, maka SAR merupakan sebuah materi yang tidak mungkin terpisahkan. Memberikan bekal seoptimal mungkin merupakan tujuan dan kegunaan dari pendidikan ini.

55

3.

Pendekatan Sistem SAR.

Keseluruhan sistem pendekatan adalah digunakan untuk mengatasi masalah SAR. Kehadiran bentuk gambaran SAR secara menyeluruh yaitu : a. Dengan segera dapat cepat dimengerti oleh seseorang yang masih awam dalam bidang SAR. b. Secara logis dapat dilaksanakan oleh pasukan operasi selama dituntut adanya misi SAR. 4. Sistem SAR.

Sistem SAR terdiri dari lima tahapan dan didukung oleh lima komponen SAR. Sistem SAR diaktifkan bila diterima informasi bahwa : a. Muncul suatu keadaan darurat atau kemungkinan akan timbulnya keadaan darurat. b. Tidak diaktifkannya kembali apabila korban yang berada dalam keadaan darurat dibebaskan ke posisi terawat dan betul-betul aman atau ketika tidak mungkin lagi muncul keadaan darurat dan ketika tidak lagi diharapkan pertolongan. 5. Tahapan SAR. a. Awareness Stage (Tahap Kekhawatiran). Adalah kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul, termasuk didalamnya penerimaan informasi dari seseorang atau organisasi. Dalam tahap ini menyadari bahwa suatu kejadian darurat telah terjadi dan perlunya mengambil suatu tindakan. b. Initial Action Stage (Tahap Kesiagaan). Adalah tahapan tindakan awal, tanggap bahwa suatu musibah telah terjadi serta berusaha mengumpulkan berbagai keterangan mengenai musibah. Aksi persiapan yang diambil antara lain menyiagakan fasilitas SAR dan mendapatkan informasi yang lebih jelas, termasuk di dalamnya menyeleksi informasi yang diterima, untuk segera dianalisa untuk dapat dilakukan tindakan selanjutnya. Dalam penyeleksian informasi tersebut, keadaan darurat dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Incerfa (Uncertainity Phase/ Fase meragukan) . Adalah suatu keadaan emergency yang ditunjukkan dengan adanya keraguan mengenai keselamatan jiwa seseorang karena diketahui kemungkinan mereka dalam menghadapi kesulitan. 2) Alerfa (Alert Phase/ Fase Mengkhawatirkan/ Siaga). Adalah suatu keadaan emergency yang ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran mengenai keselamatan jiwa seseorang karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan yang serius yang mengarah pada kesengsaraan (distress). 3) Ditresfa (Ditress Phase/ Fase Darurat Bahaya) . Adalah suatu keadaan emergency yang ditunjukkan bila bantuan yang cepat sudah dibutuhkan oleh seseorang yang tertimpa musibah karena telah terjadi ancaman serius atau keadaan darurat bahaya. Berarti, dalam suatu operasi SAR informasi musibah yang diterima bisa ditunjukkan tingkat keadaan emergency dan dapat langsung pada tingkat Ditresfa.

56

c. Planning Stage (Tahap Perencanaan). Adalah suatu pengembangan perencanaan yang efektif dari sistem SAR. Di dalamnya dapat berupa : 1) 2) Perencanaan pencarian dimana sepatutnya dilaksanakan. Perencanan pertolongan dan pembebasan akhir.

Dapat ditambahkan pula antara lain meliputi posisi yang paling mungkin dari korban, luas areal SAR, tipe pola pencarian, perencanaan pencarian optimum, perencanaan pencarian yang telah dicapai, memilih metode pertolongan terbaik, memilih titik pembebasan yang paling aman bagi korban, memilih fasilitas kesehatan yang baik bagi korban yang mengalami cedera atau penderitaan. d. Operation Stage (Tahap Operasional). Detection Mode/ Tracking Mode And Evacuation Mode, yaitu dilakukan operasi pencarian dan pertolongan serta penyelamatan korban secara fisik. Tahap operasi meliputi : Fasilitas SAR bergerak ke lokasi kejadian. 1) Melakukan pencarian dan mendeteksi tanda-tanda yang ditemui yang diperkirakan ditinggalkan survivor (Detection Mode). 2) Mengikuti jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan survivor (Tracking Mode). 3) Menolong/menyelamatkan dan mengevakuasi korban (Evacuation Mode), dalam hal ini memberi perawatan gawat darurat pada korban yang membutuhkannya dan membawa korban yang cedera kepada perawatan yang memuaskan (evakuasi). 4) Mengadakan briefing kepada SRU. Mengirim/memberangkatkan fasilitas SAR. Melaksanakan operasi SAR di lokasi kejadian. 5) Melakukan penggantian/penjadwalan SRU di lokasi kejadian. e. Mission Conclusion Stage (Tahap Akhir Misi). Merupakan tahap akhir operasi SAR, meliputi membuat laporan kegiatan SAR secara menyeluruh, penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko, penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu dapat terjadi, evaluasi hasil kegiatan, mengadakan pemberitaan (Press Release) dan menyerahkan korban/survivor kepada yang berhak serta mengembalikan SRU pada instansi induk masing-masing dan pada kelompok masyarakat. 6. Komponen SAR. a. Organisasi. Merupakan struktur organisasi SAR, meliputi aspek pengerahan unsur koordinasi, komando dan pengendalian, kewenangan, lingkup penegasan dan tanggung jawab untuk penanganan suatu musibah. b. Fasilitas. Adalah komponen berupa unsur, peralatan, perlengkapan, serta fasilitas pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam operasi SAR. c. Komunikasi. Adalah komponen penyelenggaraan komunikasi sebagai sarana untuk melakukan fungsi deteksi terjadinya musibah, fungsi komando dan pengendalian operasi, membina kerjasama/koordinasi selama operasi SAR berlangsung.

57

d. Emergency Care (Perawatan Gawat Darurat). Adalah komponen penyediaan fasilitas perawatan gawat darurat yang bersifat sementara, termasuk memberikan dukungan terhadap korban di tempat musibah sampai ke tempat yang lebih memadai. e. Dokumentasi Adalah komponen pendataan laporan dari kegiatan, analisa serta data-data kemampuan yang akan menunjang efisiensi pelaksanaan operasi SAR serta untuk perbaikan atau pengembangan kegiatan-kegiatan misi SAR yang akan datang. 7. Organisasi SAR di Indonesia. a. Basarnas. Mempunyai tugas melaksanakan pengkoordinasian usaha dan kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan sesuai dengan peraturan nasional dan internasional terhadap orang atau barang yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam suatu kejadian. b. Kantor SAR. Kantor SAR adalah UPT Basarnas di wilayah yang mempunyai tugas melaksanakan tindak awal, koordinasi, dan pengerahan potensi SAR dalam rangka operasi SAR terhadap musibah pelayaran, penerbangan, dan bencana lainya, serta pelaksanaan latihan SAR di wilayah tanggungjawabnya (Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 81 tahun 1998 tentang Organisasi Tata Kerja Kantor SAR, yang dahulu kita kenal dengan istilah adalah KKR dan SKR dan sekarang berubah menjadi Kantor SAR (Type A dan B). 1) Kantor type A. Kantor SAR ini mempunyai tugas mengerahkan potensi SAR, koordinasi dalam rangka operasi SAR terhadap musibah pelayaran, penerbangan, dan bencana lainnya, serta pelaksanaan latihan SAR di wilayah tanggungjawabnya 2) Kantor Type B. Kantor SAR ini Mempunyai Tugas Melaksanakan tindakan koordinasi dan pengerahan potensi SAR dalam rangka operasi SAR terhadap musibah di wilayahnya.

58

8.

Organisai Misi SAR.

Elemen organisasi SAR ini menunjukkan suatu bentuk misi organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan suatu operasi SAR. Bentuk dasar struktur organisasi misi SAR adalah sebagai berikut : Minimum Umum

SC SMC SRU SRU


Diperluas

SC SMC
OSC

SRU

SC

SMC
OSC

SMC
OSC

SMC
OSC

SRU

SRU

SRU

SRU

SRU

SRU

a. SC (SAR Coordinator). dalam penyediaan fasilitas.

Pejabat pemerintah yang mempunyai wewenang

b. SMC (SAR Mission Coordinator). Seseorang yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan tinggi dalam menentukan MPP (Most Probable Position), menentukan area pencarian,strategi pencarian (berapa unit, teknik, dan fasilitasnya). c. OSC (On Scene Commander). Seseorang yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasikan dan mengendalikan SRU di lapangan. OSC ini tidak mutlak ada, tapi juga bisa lebih dari satu, tergantung wilayah komunikasi dan kesulitan jangkauannya. e. SRU (SAR Unit). Adalah unsur SAR yang digerakkan di lapangan pada operasi SAR dan mengikuti pentahapan penyelenggaran operasi, SRU ini dapat dari instansi, potensi SAR, masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam operasi SAR.

59

1)

Tugas Utama SRU (Seacrh and Rescue Unit) : a) Melaksanakan tugas yang diberikan oleh SMC atau OSC. SRU wajib patuh terhadap tugas yang diberikan oleh SMC atau OSC. Apabila keadaan menghendaki adanya perubahan, maka hanya dapat dilakukan setelah konsultasi dan disetujui oleh SMC atau OSC. Penyimpangan atau melawan wewenang dari SMC atau OSC sama sekali tidak dibenarkan dan SMC atau OSC wajib menarik kembali SRU yang tidak disiplin. b) Melaksanakan prosedur pencarian secara benar. Berbagai petunjuk pelaksanaan tugas harus dikerjakan secara seksama dengan kewaspadaan dan ketelitian yang baik. c) Melapor segala kegiatan secara berkala kepada SMC atau OSC pada waktu yang ditetapkan sambil konsultasi mengenai berbagai keperluan dan kepentingan guna kelancaran operasi pencarian. d) Memasang rambu-rambu (Marker) pada daerah pencarian guna membantu kelancaran serta ketepatan usaha dalam sistem pencarian. Dapat berupa : Rambu tanda : * * String line (berikut tags/tanda-tanda) Ribbon (ikatan pita atau tali rafia)

Rambu tertulis : * Petunjuk ketinggian suatu tempat

SAR 1000 M
*

SAR 1500 M

Petunjuk arah ke suatu tempat CAMP SAR I 25 M AIR 15 M

Catatan Petunjuk Lapangan atau CPL yang berisi : * * * * * * Tanggal, nomor regu, jumlah anggota. Keterangan tugas. Keterangan tugas yang dilakukan. Petunjuk tempat-tempat yang berbahaya (tanag longsor, jurang dsb) Petunjuk diketemukan jejak, tanda-tanda dsb, yang diperkirakan/dipastikan milik korban Keterangan tambahan pada CPL oleh regu berikutnya yang melewati tempat terdapatnya CPL. Keterangan ini dapat ditambahkan bila dianggap perlu oleh SRU guna melengkapi keterangan yang sudah ada.

e) Memberikan pertolongan pertama pada korban bila diperlukan. Pertolongan harus diberikan dengan pengetahuan serta kesadaran kemanusiaan yang tinggi .

60

f) Melaksanakan evakuasi korban, baik dalam keadaan sehat, sakit ataupun sudah meninggal. g) Dapat melakukan hubungan komunikasi radio dengan baik dan jelas sesuai prosedur standar operasi radio yaitu dengan menggunakan HT. Juga mengerti kode yang telah disepakati bersama untuk keadaan darurat. h) Membuat laporan kerja secara tertulis bila diminta oleh SMC atau OSC. 2) Perlengkapan Wajib SRU.

Selain membawa perlengkapan standar untuk menjelajah rimba dan gunung, anggota SRU wajib memebawa beberapa perlengkapan yang dikategorikan sebagai perlengkapan wajib bila akan bergabung dalam suatu operasi SAR. Peralatan itu berupa : a) Perorangan. b) Ponco atau jas hujan. Golok tebas. Peluit. Tempat air. Senter dan bola lampu serta baterai cadangan secukupnya. Makanan untuk 4 hari (bila rencana mengikuti SAR selama 3 hari).

Regu. Tenda. Peta, kompas, altimeter, penggaris busur. Peralatan masak (kompor + bahan bakar, nesting) Peralatan Rock Climbing (karmentel, harness, jumar, piton, hammer, descender, sling dsb) Alat komunikasi (HT, dsb) Benang (untuk string line)sejumlah 4 kelos @ 500 m Tali rafiah 500 gr Obat-obatan dan peralatan P3K Jerigen air 5 lt Senter besar/ lampu penerangan (neon baterai, lampu badai)

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

61

EXPLORER SEARCH AND RESCUE (ESAR)

1.

Pendahuluan.

Pada awal tahun 1980-an beberapa kelompok pendaki gunung mulai mencoba mengembangkan Explorer Search And Rescue (ESAR). Sistem ini berasal dari Amerika Serikat yang diperuntukan bagi para penjelajah daerah-daerah berhutan, padang kering dan sungai. Pada tahun-tahun sebelumnya system SAR laut dan udara masih menjadi rujukan untuk melakukan pencarian orang hilang di gunung. Yang membedakan ESAR dengan induknya SAR secara keseluruhan terletak pada rinci operasionalnya. Dalam ESAR dikenal lima tahap pencarian atau operasi. 2. Maksud dan Tujuan.

Menolong sesama hidup merupakan salah satu bukti dari pengamalan rasa cinta alam. Sehingga sebagai mahluk hidup yang mengaku dekat dengan alam, Explorer Search And Rescue amatlah dibutuhkan, khususnya untuk menolong sesama hidup. Lebih dipersempit lagi ruang lingkup operasionalnya dalam menolong korban di gunung dan hutan. Materi ini bertujuan memberikan pengetahuan tentang teknik operasional dalam ESAR sasuai dengan apa yang dibutuhkan. Sebab ESAR memerlukan dan menuntut personil yang siap, cepat dan tanggap. Personil ESAR diharapkan mampu menjalankan kewajibannya dengan baik, yang bukan berasal dari kata tugas, melainkan dari panggilan moral, hati nurani dan sebuah arti kesetiakawanan terhadap sesama. 3. Teknik-teknik Pencarian.

Dalam pencarian terdiri dari empat unsur yang dapat dijadikan standar dalam menentukan ketrampilan tertentu yang dibutuhkan bagi suatu operasi SAR : No. Unsur 1. Locate (menentukan lokasi korban) 2. 3. 4. Reach (mencapai korban) Stabilize (menentramkan korban) Evacuate (membawa kembali korban) Pengetahuan Pengetahuan tentang navigasi darat, data peristiwa, keadaan korban, keadaan medan dll. Ketrampilan mendaki gunung, RC, hidup di alam, mencari jejak, penguasan peta dan kompas, dll. Pengetahuan dan ketrampilan PPPK, gawar darurat. Sama dengan reach serta penguasaan P3K.

Teknik pencarian disini merupakan teknik pencarian yang dilakukan di darat. Walaupun tidak secara khusus untuk di darat, teknik ini juga yang membedakan antara SAR dan ESAR. Teknik pencarian ini bertumpu pada lima tahap. a. Tahap Awal (Preliminary Mode). Yaitu mengumpulkan informasi-informasi awal, saat dari mulai tim-tim pencari diminta bantuannya sampai kedatangannya di lokasi. Melakukan perencanaan pencarian awal, perhitunganperhitungan, mengkoordinasikan regu pencari, memebentuk pos pengendali perencanaan, mencari identitas subjek, perencanaan operasi dan evakuasi.

62

b. Tahap Pemagaran (Confinement Mode). Yaitu memantapkan garis batas untuk mengurung orang yang dinyatakan atau dikhawatirkan hilang agar berada di dalam areal pencarian (search area). Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam bagian tersendiri. c. Tahap Pengenalan (Detection Mode). Yaitu pemeriksaan-pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang dicurigai. Apabila dirasa perlu, dilakukan pencarian dengan cara menyapu (sweep searches). Bisa juga dilakukan pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang diketemukan tanda-tanda atau barang-barang yang ditinggalkan oleh survivor. Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalan bagian tersendiri. d. Tahap Pelacakan (Tracking Mode). Yaitu mengikuti dan melacak jejak yang ditinggalkan oleh survivor atau pelacakan terhadap barang-barang yang tercecer dari survivor. Tracking bisa benar-benar dilakukan oleh orang-orang yang terlatih dan berpengalaman serta mempunyai kemampuan melacak yang tinggi antara lain membaca jejak, medan peta kompas, mengerti maksud dan tujuan korban, makna dari benda-benda yang terjatuh dan sengaja ditinggal korban atau dengan menggunakan anjing pelacak. Dari beberapa pengalaman, pelacakan dengan anjing pelacak masih belum bisa dilakukan secara baik untuk kondisi alam Indonesia. Hal ini dikarenakan faktor alam yang sulit dan ekstrim serta cepat berubah. e. Tahap Evakuasi (Evacuation Mode). Yaitu memberikan pertolongan pertama dan membawa survivor ke titik penyerahan untuk perawatan lebih lanjut. Tiga hal pokok yang harus dilakukan pencari apabila berhasil menemukan Survivor dalam keadaan hidup: 1) Memberikan pertolongan pertama bila diperlukan. Dalam hal ini personil harus benar-benar memiliki kemampuan pertolongan pertama, karena kalau salah menangani akan mengakibatkan korban bertambah parah bahkan bisa meninggal. 2) Meyakinkan pada survivor bahwa Ia akan selamat.

3) Mengabarkan ke pangkalan pengendali tentang kondisi dan lokasi ditemukannya survivor. Bila survivor dalam keadaan meninggal : 1) 2) 3) Tidak boleh merubah posisi survivor sebelum ada perintah dari SMC. Menjaga survivor dari segala gangguan yang mungkin terjadi. Melaporkan ke pangkalan untuk dievakuasi.

Teknik yang digunakan dalam evakuasi : 1) 2) 3) 4) Memapah. Memandu. Bantuan helicopter. Modifikasi dari teknik yang ada.

63

4.

Tahap Pemagaran (Confinement Mode). Dasar pemikirannya adalah menjebak survivor dalam area yang jelas dan kita dapat mengetahui batasan-batasannya, sehingga : a. Area tersebut dapat dilakukan pencarian atau disapu.

b. Sebagai petunjuk bagi survivor untuk menuju tempat yang dapat diketahui tim pencari. Kerja awal dari tahap ini adalah memagari kemungkinan gerak dari pencarian yang padat yang mungkin diperlukan bila areal pencarian menjadi terlalu luas. Metode Confinement : a. Trail Blocking (razia pada jalan setapak). Yaitu menempatkan tim kecil pada jalan masuk ke areal pencarian untuk menjaga kemungkinan korban melalui daerah tersebut. Mencatat nama-nama yang keluar masuk areal pencarian tersebut. b. Road Bolcks (razia pada jalan keluar). Pada dasarnya sama dengan trail blocks, hanya saja disini masyarakat, pamong desa dapat diminta bantuan untuk melakukan pengawasan kemungkinan korban keluar melalui desa mereka atau dengan meminta bantuan petugas keamanan atau tenaga yang lainnya. c. Look Outs. Mengadakan pengintaian dengan menempatkan regu-regu kecil di ketinggian untuk dapat mendeteksi dan mengawasi daerah-daerah sekitar yang lebih rendah untuk mendeteksi dan mengawasi bila ada yang bergerak, membuat asap, tanda-tanda dari survivor jika berada di sekitar daerah itu. Juga menggunakan tanda-tanda yang menyolok untuk menarik perhatian survivor, misalnya bunyi-bunyian, lampu, sinar, api, asap dll. d. Camp In.Yaitu mendirikan pos-pos di lokasi yang strategis, misalnya saja persimpangan jalan atau pertemuan aliran sungai. Dari Camp In ini tim pencari dapat bergerak melakukan pencarian di daerah sekitar. e. Track Traps (jalur jebakan). Yaitu jalur setapak atau tempat-tempat tertentu yang kemungkinan besar akan dilalui oleh korban karena tempat tersebut secara alamiah dan naluri, besar kemungkinannya akan dipilih atau dilewati korban, misal jalur air, mata air, gua, tempat datar dsb. Tim pencari dapat membuat jebakan buatan, misal dengan menggemburkan tanah disekitar jalur. Periksalah secara berulang area itu secara berkala untuk melihat jejak korban. f. String Lines. Yaitu pembatas buatan berupa jalur benang atau tali yang ditarik mengikuti jalur tertentu yang diharapkan akan membatasi ruang gerak korban. Bila string line tersebut diketemukan oleh korban, ia akan dituntun menuju tempat tertentu misal jalan setapak, camp in dsb (lihat gambar). Secara khusus akan efektif bila dilakukan pada daerah-daerah terbuka dimana cara pandangnya baik. Bila daerahnya berpohon dan bersemak lebat, dapat lebih sempurna dengan menggunakan Tagged String Lines (bentangan tali yang bertanda). Tags (tanda- tanda) pada string lines akan menarik perhatian survivor untuk bergerak mengikuti tali itu dan keluar menuju tempat yang ditunjukkan oleh tanda-tanda itu. (lihat gambar)

64

Tujuan menggunakan string line adalah menjadikan ruang-ruang atau kotak- kotak search area menjadi sektor yang terkuasai untuk pencarian tim pencari. Setelah Initial Confinement (pemagaran awal), tambahan string line dapat digunakan untuk membagi-bagi area itu. String line dapat digunakan untuk pemagaran dan untuk menandai sektor pencarian. Pemisahan lebih lanjut ini bertujuan untk mempersempit areal pencarian yang dilakukan oleh tim pencari. 5. Tahap Pengenalan (Detection Mode). Detection adalah usaha untuk mencari korban atau benda yang tercecer/terjatuh atau sengaja ditinggalkan survivor. Pada keadaan inilah pasukan atau tenaga dari tim ESAR terutama diperlukan atau digunakan. Metode detection, dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Penamaan dari ketiga kategori di bawah ini telah digunakan dalam ESAR untuk beberapa tahun ini, diambil karena hal ini secara umum bertalian terhadap tahapan dari pengembangan operasi pencarian. Tipe I umumnya mendahului tipe II, tipe II muncul sebelum tipe III. a. Tipe I Search. Yaitu pemeriksaan tidak resmi yang segera dilakukukan terhadap areal yang dianggap paling memungkinkan. Penamaan lain untuk tipe ini adalah Reconnaisance atau Hayt Searching/pencarian terburu-buru. 1) Metode ini digunakan pada. * * 2) Tahap pencarian awal. Memeriksa ulang daerah dimana diduga survivor berada

Sasaran metode ini. * * Pemeriksaan yang segera atas area yang spesifik dimana survivor diduga berada Memperoleh informasi mengenai areal pencarian

3) Teknik yang digunakan. Sebuah tim kecil yang terdiri dari 3-6 orang yang mampu bergerak cepat untuk memeriksa daerah pencarian. Bila menemukan barang yang tercecer dan bila SMC (SAR Mission Coordinator) menghendaki barang tersebut dibawa, maka sebuah marker akan dipasang dan ditempatkan di lokasi penemuan. b. Tipe II Search. Kriterianya adalah efisiensi, pemeriksaan yang cepat dan sistematis atas area yang luas, dengan metode penyapuan yang akan menghasilkan hasil akhir yang tinggi dari setiap pencari per jam kerjanya. Nama lain dari tipe ini adalah open grids (pencarian grid renggang/penyapuan renggang). 1) Metode ini digunakan pada : * * Tahap awal operasi pencarian, terutama bila jangka waktu orang yang bertahan hidup diperkirakan sangat pendek. Bila areal pencarian luas dan tidak ada areal tertentu yang dapat dicurigai dan tidak tersedia cukup tenaga pencari yang dapat mengcover keseluruhan area.

2) Sasaran metode ini adalah pencarian yang tepat dan cepat pada areal yang luas.

65

3) Teknik yang digunakan. Sebuah tim kecil yang terdiri dari 3-6 orang, yang sejajar dengan jarak yang cukup lebar antara 10 sampai 20 meter dengan arah yang telah ditentukan. Ada baiknya ada seorang pemimpin tim yang bergerak mengawasi penyapuan, tugasnya : * * * Memperhatikan apakah penegang kompas dapat menjaga sudut kompas yang sejajar. Mengatasi hal-hal yang muncul mendadak. Memeriksa penemuan-penemuan yang ditemukan oleh tim.

Ada cara umum untuk mencegah regu pencari saling tumpang tindih satu sama lain atau tidak bisa menjaga jarak yang telah ditentukan diantara mereka yaitu dengan memakai pita atau ribbon dan menggunakan kompas. Pada metode I dan II pada selang waktu tertentu regu berhenti untuk memperhatikan sekilas sekitarnya serta memanggil survivor sambil menanti kemungkinan jawaban. Contoh pencarian dan penyapuan pada metode tipe II (lihat gambar). Z

15 m

C X

15 m

Keterangan : 1) Tim terdiri dari 6 orang memeriksa kedua tepi sungai kecil.

2) A & B, personil ujung kiri dan kanan memasang marker (catatan petunjuk lapangan), dan string line/ribbon. 3) C adalah petugas kompas/kompas man yang selalu memeriksa bahwa pencarian sesuai arah kompas. 4) X adalah pimpinan SRU yang mondar-mandir sekitar barisan sambil memeriksa dan memastikan jarak personil terjaga dan juga melihat situasi sekitar medan, apakah perlu ada perubahan arah atau sistem pencarian. 5) Z adalah navigator, yang bertugas membantu kompas man untuk memastikan agar sudut pencarian tidak melenceng. Bila alat komunikasi cukup, maka idealnya X, A, dan B masing-masing membawa HT. c. Tipe III Search. Kriterianya adalah kecermatan, pencarian dengan sistematika yang ketat atas area yang lebih kecil menggunakan metode penyapuan yang cermat. Dinamakan juga close grids (pencarian grid rapat/ penyapuan rapat).

66

1)

Metode ini digunakan pada : * Besarnya kemungkinan objek yang ditemukan dalam areal pencarian pada metode tipe II, lebih rendah dari apa yang diharapkan. Bila areal pencarian terbatas dan tenaga yang tersedia mencukupi.

2) Sasaran metode ini adalah pencarian yang cermat atas areal yang spesifik. 3) Teknik yang digunakan. Penyapuan dengan jarak yang sempit. Jumlah anggota tim 3-9 orang dengan jarak kira-kira antar personil 3 sampai 5 meter. Pita-pita atau sring line banyak digunakan untuk mengontrol dalam memberi tanda yang jelas antara areal yang sudah dicari dan yang belum. Contoh pencarian dan penyapuan pada metode tipe III (lihat gambar). * Tim yang menggunakan kompas man untuk pencarian dan penyapuan. C = Kompas man.

* Tiga tim menggunakan kompas dalam penyapuan. C = Kompas man.

sebagai

unit

kontrol

O O Tim 1

O O Tim 2

O Tim 3

* Tiga tim pada penyapuan sejajar menggunakan ribbon (potongan tali rafiah/pita) sebagai unit kontrol dalam penyapuan.(lihat gambar)

O O O O O Tim 1

O O O O Tim 2

O O

O O Tim 3

67

6.

Sikap Mental selama Pencarian. a. Cepat tanggap. Pentingnya cepat tanggap untuk mencegah : 1) Sangat cepatnya meluasnya areal pencarian yang potensial

2) Meningkatnya kesulitan pencarian berkaitan dengan mobilitas dan reaksi b. Dalam melakukan pencarian jangan terlalu terburu-buru, hendaknya dilakukan dengan kecermatan dan keteletian. Hal ini untuk mengindari kemungkinan survivor tidak terdeteksi saat dilakukan penyapuan. c. Pencarian adalah hal yang menarik. Bila pencarian kita anggap sebagai hal menarik, maka hasilnya akan lebih efektif. Kesungguhan, perhatian penuh dan sikap agresif dalam mengawasi merupakan komponen yang berharga bagi kerja pencarian. d. Pentingnya mencari jejak atau barang yang tercecer. Penemuan jumlah jejak dan barang yang tercecer di dalam area, diperkirakan akan lebih banyak dari survivor. Penemuan juga dapat merupakan pemasukan yang penting bagi penyempitan areal pencarian. 7. Operasi Pertolongan. Kegiatan-kegiatan dalam operasi pertolongan memiliki tahapan-tahapan : a. b. c. d. Briefing. Pengarahan tim penolong (rescue team) dan dropping bagi korban. Pertolongan di lokasi musibah dan penggantian tim bila perlu. Evaluasi.

Pada umumnya musibah terjadi karena kesalahan teknis, gangguan / bencana alam, kesalahan manusia (human error), dll. Faktor alam memang sulit diduga namun kini sebaiknya manusia mulai memikirkan bagaimana memperkecil dampak akibat gangguan alam. Namun masih banyak musibah karena faktor manusia seperti kurangnya persiapan dan pengetahuan seorang yang beraktifitas di alam bebas. Apabila terjadi musibah kita sebaiknya melapor pada pihak yang berwajib seperti PMI, unsur potensi SAR, kepolisian, dll. Pelapor hendaknya melengpai data dirinya meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, lokasi musibah, kalau melalui alat komunikasi laporkan juga lokasi pelapor. Untuk yang terkena musibah, catat obyek yang harus ditolong, identitas dan kondisinya, lokasi musibah serta keadaan cuaca saat musibah, tanggal dan waktu kejadian, lokasi pasti kejadian, sifat musibah, jumlah penumpang dan kru (untuk musibah transportasi), dan keterangan lain yang bisa membantu operasi. Contah data survivor untuk kecelakaan di gunung : Nama Jenis kelamin Umur Rambut Postur tubuh Sekolah / Kantor / Klub : : : : : :

68

Alamat sekolah / kantor Pengalaman subyek Nama orang tua Pekerjaan orang tua Alamat orang tua

: : : : :

Selanjutnya perhatikan dan patuhi semua peraturan keselamatan yang ada dengan penuh kesadaran, untuk menghindari kemungkinan terjadinya musibah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Lengkapi alat transportasi yang dioperasikan dengan perlengkapan darurat yang amat diperlukan pada saat mengalami musibah, terutama bagi alat angkut air rakyat yang sifatnya masih tradisional. 8. Prosedur Optis.

Isyarat optis merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan oleh korban untuk mencari pertolongan ataupun sebagai sarana komunikasi antara petugas SAR yang tidak dilengkapi dengan sarana lain ataupun pada kasus peralatan komunikasi tidak dapat bekerja. Macam-macam syarat optis a. Semaphore, biasa digunakan untuk hubungan antara kapal dengan kapal, kapal dengan darat, dan sebaliknya. Metode ini tergantung dari tempat, cuaca, dan waktu sehingga kurang lazim dalam tugas SAR. b. Sinar lampu, alat ini cukup baik pada siang apalagi malam. Umumnya dipakai dengan isyarat Morse. c. Isyarat kibar bendera, umumnya hanya digunakan kapal-kapal, namun kurang sesuai untuk SAR darat karena membutuhkan tiang dan tempat yang tinggi. Isyarat yang penting dalam lalu lintas berita SAR : JA : saya mengalami tabrakan. DO : saya hanyut, minta bantuan segera. AT : saya kandas, minta bantuan segera. DQ : saya mengalami kebakaran, minta bantuan segera. LV : saya kehabisan bahan bakar. DV : saya mengalami kebocoran, minta bantuan segera. FM : saya tenggelam, kirim bantuan segera. VC : isyarat anda dimengerti & bantuan sdg menuju tempat anda. DM : saya datang untuk memberi bantuan.

d. Isyarat kain di tanah, biasa dipakai untuk komunikasi antara SRU darat dengan pesawat atau bagi survivor digunakan untuk menyatakan keperluannya. Isyarat yang dipakai berukuran tak lebih dari 2,5 m, berwarna kontras / menyolok dari latar belakangnya agar mudah terlihat dari udara, dan disertai isyarat lain untuk menarik perhatian seperti radio, asap, sinar pantul, dll.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

69

MANAJEMEN BENCANA (DISASTER MANAGEMENT)


1. Pengertian. a. Bencana (Disaster). Suatu kejadian (baik alami maupun tidak alami) yang menyebabkan kerusakan fisik dalam skala besar, baik terhadap lingkungan hidup maupun infrastruktur dan mengancam jiwa banyak manusia di dalam suatu komunitas atau lokasi. b. Bagaimana bencana dapat terjadi ? ANCAMAN + KERENTANAN = BENCANA 1) Ancaman (Hazard). Fenomena, bahaya, atau resiko, baik alami maupun tidak alami yang dapat (tetapi belum tentu) menimbulkan bencana. Contoh : gempa bumi, banjir, tanah longsor, kekeringan, wabah penyakit dan sebagainya. 2) Kerentanan(Vulnerability) Keadaan di dalam suatu komunitas yang membuat mereka mudah terkena akibat buruk dari suatu ancaman. Jenis kerentanan dapat digolongkan menjadi kerentanan fisik, sosial dan psikologi. 2. Manajemen Bencana (Disaster Management). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untk mengendalikan bencana dan keadaan darurat, sekaligus memberikan kerangka kerja untuk menolong masyarakat dalam keadaan beresiko tinggi agar dapat menghindari ataupun pulih dari dampak suatu bencana, dengan Tujuan : a. Mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi, maupun jiwa yang dialami oleh orang, masyarakat dan Negara. b. c. Mengurangi penderitaan. Mempercepat pemulihan. atau masyarakat yang

d. Memberi perlindungan kepada pengungsi kehilangan tempat ketika kehidupannya terancam. 3. Tahapan Penanganan Bencana

BENCANA KESIAPSIAGAAN

PENANGANAN

PENCEGAHAN

REHABILITAS

70

REKONTRUKSI
Keterangan : a. Penanganan Darurat/Tanggap Darurat (Emergency Response). Upaya untuk menyelamatkan jiwa dan melindungi harta serta menangani gangguan, kerusakan dan dampak lain dari suatu bencana. Keadaan darurat : Kondisi yang diakibatkan oleh suatu kejadian luar biasa yang berada di luar kemampuan masyarakat untuk menghadapinya dengan sumber daya atau kapasitas yang ada. Dalam kondisi tersebut mengakibatkan masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dan terjadi penurunan drastis terhadap kualitas hidup, kesehatan atau ancaman secara langsung terhadap keamanan banyak orang di dalam suatu komunitas/lokasi. b. Pemulihan (Recovery) Suatu proses yang dilalui agar kebutuhan pokok terpenuhi. Proses recovery terdiri dari : 1) Rehabilitasi. Perbaikan yang dibutuhkan secara langsung yang sifatnya sementara atau jangka pendek. 2) Rekonstruksi. Perbaikan yang sifatnya permanen.

c. Pencegahan (Prevention). Upaya untyuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan timbulnya suatu ancaman, misalnya pembuatan bendungan untuk menghindari terjadinya banjir. Namun perlu disadari bahwa pencegahan tidak bisa sepenuhnya efektif terhadap sebagian besar ancaman. d. Mitigasi (Mitigation). Upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak buruk dari suatu ancaman. Misalnya, penataan kembali lahan desa agar terjadinya banjir tidak menimbulkan kerugian besar. e. Kesiap-siagaan (Preparedness). Persiapan rencana untuk bertindak ketika terjadi (atau kemungkinan akan terjadi) bencana. Perencanaan terdiri dari perkiraan terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam keadaan darurat dan identifikasi atas sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Perencanaan dapat mengurangi dampak buruk dari suatu ancaman. Beberapa bentuk kesiap-siagaan : 1) Pengembangan jaringan informasi dan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) 2) Perencanaan evakuasi dan persiapan stok kebutuhan pokok (suplai pangan,obat-obatan dll) 3) Perbaikan infrastruktur yang dapat digunakan dalam keadaan darurat seperti fasilitas komunikasi, jalan, kendaraan, gedung-gedung sebagai tempat penampungan dll. 4) Persiapan sumber daya manusia, termasuk orang-orang yang siap menjadi komite koordinasi dalam keadaan darurat. -------------------Salam Lestari !!!-------------------

71

KOMUNIKASI
1. Pendahuluan. Istilah komunikasi secara umum mempunyai arti proses menyampaikan pesan kepada orang lain. Sejak manusia dilahirkan kedunia sebagai bayi ia juga telah melakukan komunikasi, menyampaikan pesan secara sderhana, yaitu dengan cara menangis, inilah si ibu tahu bahwa bayi nya haus ataupun lapar. Manusia sejak jaman dahulu berusaha menciptakan media komunikasi untuk dapat berhubungan kepada manusia yang lain. Dari sejarah kita tahu bahwa cara-cara berkomunikasi, khususnya untuk komunikasi jarak jauh, selalu berkembang, dari sekedar berteriak, penggunaan asap, penggunaan semaphore, morse, telepon, radio HT, televisi, handphone bahkan email. Dengan berkembangnya komunikasi ini semakin menandakan bahwa jarak bukan lagi menjadi masalah bagi manusia dalam bertukar informasi. Secara umum teknik komunikasi ada dua macam : a. Full Duplex. Suatu teknik transmisi yang memungkinkan alat dapat berkomunikasi dua arah secara serentak. Contoh: telepone, handphone. Tekniknya menggunakan kabel terpisah, melakukan multipleks sinyal, atau memakai dua frekuensi berbeda. b. Half Duplex. Suatu teknik transmisi yang memungkinkan alat dapat berkomunikasi dua arah **TIDAK** serentak tetapi bergantian. Contoh: radio amatir standar atau HT. 2. Komunikasi pada Kegiatan di alam bebas. Pada kegiatan-kegiatan dialam bebas, khususnya dalam su8atu kegiatan yang membutuhkan banyak personil ataupun lokasi yang terpisah-pisah, kebutuhan komunikasi bisa dikatakan mutlak diperlukan. Alat berkomunikasi yang digunakan seyogyanya memenuhi persyaratan sebagai berikut : Praktis (ringan dan mudah dibawa). Bisa menjangkau jarak yang jauh. Pengoperasian mudah

Untuk itu pegiat-pegiat dialam bebas biasanya menggunakan pesawat komunikasi HT (Handy Talky). Sebenarnya tidak sesederhana itu, dalam suatu kegiatan yang terpadu, membutuhkan banyak personil di lokasi-lokasi yang terpisah, diperlukan suatu sistem komunikasi yang bisa mengatur jalur penyampaian informasi disesuaikan dengan karakteristik frekuensi yang digunakan, karakteristik perangkat komunikasi maupun karakteristik medan.

72

a.

Frekwensi. Frekwensi pada dasarnya yang sering di gunakan adalah : 1) High Frequency (HF), yang mempunyai karakteristik : * * * Jangkauan bisa jauh (sedunia). Dipengaruhi propagansi (dipengaruhi cuaca bisa dipantulkan oleh lapisan ionosfer). Bekerja pada 3,4 Mhz 30 MHz.

Contoh : Pesawat 40 meter (7 MHz), pesawat 80 meter (3,5 MHz), Pesawat 11 meter (27 MHz). 2) Very High Frequency (VHF). * * * * * Jarak tidak terlampau jauh. Arah lurus. Dapat dipantulkan oleh benda yang padat (gunung misalnya) Tidak dipengaruhi oleh lapisan ionosfer Bekerja pada 30 MHz 400 MHz

Contoh : pesawat 2 meter (HT, Rig) dengan range frekwensi 140 149 MHz 3) Ultra High Frequenvy (UHF). * Arus lurus. * Tidak dipengaruhi ionosfer. * Memantul dibenda padat. * Kecepatan sangat tinggi. * Bekerja pada 400 MHz dst. Contoh: pesawat televisi b. Perangkat komunikasi. c. Pesawat Komunikasi Antena Power Supply

Pesawat Komunikasi.

Yang dititikberatkan pada pembahasan kali ini adalah perangkat HT, karena HT sering dipergunakan dalam kegiatan alam bebas. HT maupun pesawat komunikasi yang sejenis, pada dasarnya sebuah transcceiver yang berarti sebuah alat gabungan dari transmitter dan receiver. Pirnsip kerja transmiter yait mengirimkan gelombang suara yang telah diubah menjadi gelombang elektromagnetik. Prinsip kerja receiver yaitu menerima gelombang elektromagnetik untuk kemudian diubah menjadi suara. d. Bagan prinsip kerja HT. Gel.ElectAntenaReceiverAmplifierSpeakerGel. Suara. P.T.T (Push To Talk)

73

Gel.SuaraMicAmplifierTransmitterAntenaGel. Elect. PTT disini yaitu switch/tombol yang berfungsi untuk memisahkan receiver dan transmitter, ketika PTT tidak ditekan maka yang bekerja adalah rangkaian receiver dan ketika PTT ditekan maka yang bekerja adalah rangkaian transmitter. e. Antenna.

Dalam penggunaan pesawat komunikasi, antenna memegang peranan paling penting. Antenna membantu dalam pengiriman maupun penagkapan gelombang elektromagnetik. Biarpun pesawat komunikasi bagus, tapi antennanya buruk, pengiriman atau penerimaan tidak akan maksimal, kadang yang buruk dapat merusak salah satu komponen vital dalam pesawat komunikasi. Dalam perangkat komunikasi antenna dibagi dalam 2 jenis yaitu: Antenna Verikal. Contohnya : telex, ring o,helickel, superstick, diamond sky two, dsb. Antenna Horisontal. Contohnya : Yagi, cushcraft, parabola, slinjim, dsb. Yang menentukan kekuatan pemancaran /penerimaan adalah panjang gelombang, yang pada antenna dipengaruhi oleh gain (meliputi jenis dan sifat bahan, jumlah dan jenis kumparan). f. Power Supply.

Power Supply (Catu Daya), dalam penggunaan pesawat komunikasi jauga berpengaruh dalam kekuatan pemancaran/penerimaan pada khususnya. Ada bermacam macam power supply yang dapat digunakan, disesuailkan dengan jenis pesawat yang dipakai. Yang perlu diperhatikan dari sebuah power supply adalah voltase dan kuat arus yang dipakai, itu yang mempengaruhi daya pancar dari pesawat komunikasi. Voltase suatu pesawat komunikasi biasanya memiliki range tertentu seperti halnya pada HT berkisar 9 14 Volt. Karakteristik Medan dan Sistem Komunikasi. Dengan mengetahui topografi suatu daerah operasi, dalam artian daerah bergunung gunung atau datar, dsb, maka dapat ditentukan perangkat apa saja yang dipakai dengan memperhatikan karakteristik dari pesawat komunikasi, power supply dan antenna. Sehingga dapat disusun sistem komunikasi yang dapat digunakan agar tidak terjadi tumpang tindih penggunaan frekuensi, yang dapat merusak salah satu komponen vital dari pesawat komunikasi tersebut. Untuk itu diperlukan orang yang dapat mengatur masalah pemakaian jalur komunikasi ini, yang biasanya disebut Net. Akibat medan yang bergunung gunung, sering terjadi hilangnya kontak antar person melalui pesawat komunikasi. Untuk itu dibutuhkan seorang repeater atau bankon (bantuan komunikasi), yang bertugas meneruskan informasi dari person satu ke person yang lain yang kesulitan berhubungan langsung. Jadi repeater ditempatkan pada daerah yang lebih tinggi, misalnya di puncak bukit/gunung, atau daerah yang dapat dijangkau oleh pesawat komunikasi dari semua pihak yang membutuhkan. Biasanya dalam suatu operasi tugas net/repeater dapat dirangkap sekaligus.

74

Dalam suatu sistem komunikasi juga memperhatikan : 3. Topografi. Frekuensi yang digunakan. Draft laporan komunikasi. Bahasa/kode/sandi.

Penggunaan Pesawat Komunikasi dan Etika Menggunakan Frekuensi.

Dalam menggunakan alat komunikasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar pesawat tidak cepat rusak dan komunikasi dapat berlangsung secara lancar. Hal hal tersebut antara lain : Jangan transmit bersamaan. Jangan transmit apabila antenna tidak terpasang. Perhatikan arah antenna. Hindari debu/kotoran yang berlebihan, juga hindari air. Pamakaian aktif dengan baterai standart 1-2 hari, pamakaian pasif 3-5 hari, penggunaan aktif dengan high power < hari.

Dalam menggunakan frekuensi ada juga beberapa etika yang harus dipatuhi, karena penggunaan frekuensi bukan sekelompok orang saja, orang lain yang tidak berkepentingan pun bisa memantau pembicaraan kita. Etika-etika tersebut antara lain: 4. Penggunaan bahasa yang benar dan jelas. Jangan menggunakan kata kata yang tidak sopan. Tidak menyerobot penggunaan frekuensi apabila ada pihak lain yang berbicara. Memahami aturan aturan untuk memanggil lawan bicara, ketika berbicara dan berhenti bicara. Dalam suatu kegiatan yang memerlukan pemakaian frekuensi, sebaiknya meminta ijin penggunaan frekuensi pada pihak yang berwenang.

Perijinan penggunaan Frekuensi.

Dalam kegiatan yang membutuhkan pemakaian frekuensi, diperlukan suatu ijin dalam penggunaan frekuensi. Di Indonesia, secara nasional alokasi pemakaian frekuensi diatur oleh Departemen Perhubungan. Dalam kaitannya dengan adanya beberapa jenis pesawat komunikasi ( 2 meter band, 11 meter band, 20 meter band, 40 meter band, dll) maka perijinan penggunaan frekuensi pun untuk di tingkat lokal (daerah tingkat II) diatur oleh kelompok tertentu. Misal untuk pemakaian lokal 2 meter band oleh ORARI ( Organisasi Amatir Radio Indonesia), untuk lintas propinsi (2,20 dan 40 meter Band) diatur oleh ORARI tingkat Daerah, sedangkan untuk 11 meter band diatur oleh RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Diluar frekuensi frekuensi tersebut pengaturan frekuensi langsung ditangani oleh DEPHUB. International Phonetic Alphabet. A B C D E F G = Alpha = Bravo = Charlie = Delta = Echo = Foxtrot = Golf I J K L M N O = India = Juliet = Kilo = Lima = Mike = November = Oscar Q R S T U V W = Quebec = Romeo = Sierra = Tango = Uniform = Victor = Whiskey

75

= Hotel

= Papa

X Z

= X-ray = Zulu

Beberapa istilah yang biasa digunakan dalam pemakaian pesawat 2 meter band : Contack Cherio Copy Stanby Ganti/Over Humming Brooming Qtr = = = = = = = = Memanggil, ijin akan masuk ke frekuensi tersebut Turun dari frekuensi, selesai Mengerti/ paham Berhenti bicara tapi tetap memonitor di frekuensi tersebut Selesai berbicara,memberi kesempatan bagi lawan bicara Gangguan suara mendengung Gangguan suara / rusak Jam .

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

76

KESEHATAN PERJALANAN
Secara umum, kesehatan perjalanan dapat diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan dalam suatu perjalanan dengan tujuan mencapai keadaan sesehat-sehatnya selama dan sesudah melakukan perjalanan. Faktor faktor yang berpengaruh Keberhasilan suatu perjalanan. 1. Fisik.

Kemampuan fisik yang baik akan tercipta jika ditunjang oleh kemampuan sistem jantung dan paru-paru. Untuk meningkatkan kondisi fisik diperlukan latihan yang intensif dengan intensitas latihan yang terukur. Beberapa cara yang mudah untuk mengukur kemampuan fisik adalah : a. Lari 2,4 km selama 12 menit maksimal. b. Untuk menjaga tingkat kebugaran dalam kondisi yang baik, ukuran intensitas latihan adalah 70-85 % dari Denyut Nadi Maksimal (DNM), dan sebaiknya dipertahankan dalam waktu 10-30 menit. o Jumlah DNM sama dengan 220 dikurangi usia. Contoh : umur 20 tahun Maka DNM=220-20 = 200 kali o o Intensitas latihan untuk contoh di atas adalah : 70-85% dari 200, yaitu sama dengan 140-170 kali Denyut Nadi Maksimal yaitu jumlah denyut nadi yang dihitung selama 6 detik setelah latihan selesai, kemudian jumlahnya dikalikan dengan 10, untuk mendapatkan denyut nadi maksimal dalam 1 menit.

Di bawah ini ada dua tabel, yaitu ukuran denyut nadi sewaktu istirahat (tidak melakukan apa-apa) dan setelah latihan : Tabel 1 : Denyut Nadi Per Menit (Istirahat)
Keadaan Fisik Laki-laki Sangat baik Baik cukup Kurang Perempuan Sangat baik Baik cukup Kurang ( 20-29 ) Tahun < 60 60 -69 70 - 75 > 85 < 70 70 - 77 78 - 94 > 94 ( 30 - 39 ) Tahun < 64 65 - 71 72 - 87 > 87 < 72 80 - 87 80 - 96 > 96 ( 40 - 49 ) Tahun < 66 66 - 73 74 - 89 > 89 < 74 74 - 81 82 - 98 > 98 Diatas 50 Tahun < 68 68 - 75 76 - 91 > 91 < 76 76 - 83 76 - 83 > 100

77

Tabel 2 : Denyut Nadi Per Menit (Setelah Latihan) Keadaan Fisik Laki-laki Sangat baik Baik cukup Kurang Perempuan Sangat baik Baik cukup Kurang 2. Mental. ( 20-29 ) Tahun < 76 76 - 85 86 - 101 > 101 < 86 86 - 93 94 -101 > 101 ( 30 - 39 ) Tahun < 80 80 - 87 88 -103 > 103 < 88 88 - 95 96 - 112 > 112 ( 40 - 49 ) Tahun < 82 82 - 89 90 - 105 > 105 < 90 90 - 97 98 - 114 > 114 Diatas 50 Tahun < 84 84 - 91 92 - 107 > 107 < 92 92 - 99 100 - 116 > 116

Faktor mental memang sulit untuk diketahui, tetapi dengan pemberian motivasi yang baik mental dapat ditingkatkan. Di alam bebas, kita harus percaya pada kemampuan kita untuk mengatasi segalanya. 3. Daya Tahan Tubuh. a. Kebutuhan oksigen. Oksigen penting dalam proses penyediaan energi selama perjalanan. Seringkali kita harus melakukan aklimatisasi guna menyesuaikan kemampuan tubuh dengan kadar oksigen setempat. b. Kebutuhan cairan. Gambaran kebutuhan air dalam tubuh adalah 10 sebagai berikut : * * * * suhu 10C diperlukan air satu liter per 24 jam. suhu 20C diperlukan air empat liter per 24 jam. suhu 30C diperlukan air lima liter per 24 jam. suhu 40C diperlukan air enam liter per 24 jam.

c. Kebutuhan garam. Kebutuhan garam (NaCl) tiap orang untuk daerah subtropis adalah 10 gr/24 jam, sedangkan untuk daerah tropis 15-25 gr/24 jam. Untuk menjaga kadar garam tubuh, maka garam dapat dimasukkan ke dalam makanan, air minum dan dalam bentuk tablet garam. Dalam keadaan tertentu dapat digunakan oralit. d. Suhu Lingkungan. Suhu lingkungan sangat mempengaruhi daya tahan tubuh. Tubuh manusia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan suhu panas daripada dengan suhu dingin. Pakaian dan makanan sangat menentukan dalam mengatasi suhu dingin. e. Makanan. Untuk kehidupan sehari-hari tanpa aktivitas yang berat maka jumlah kalori yang diperlukan setiap orang adalah 2000-2500 kalori. Dalam aktivitas yang berat kebutuhan kalori adalah 2500-3500 kalori. Makanan yang baik adalah bila terdiri dari 75% karbohirat dan 25% protein + lemak.

78

f. Seks. Setiap orang layaknya penggiat alam bebas memilki kebutuhan seksualitas, hal ini dapat diwujudkan tentunya dengan menikah untuk menghindari terjadinya pergaulan bebas di kalangan lanjut usia modern. 4. Pencapaian kondisi prima. a. Pengetahuan tentang kesehatan perjalanan.

Sebelum melakukan perjalanan, kita harus mengetahui jenis medan apa yang akan dihadapi, serta penyakit apa saja yang sering terjadi pada medan tersebut. Oleh karena itu sebelum memulai perjalanan, kita harus mempelajari hal-hal mengenai penyakit tersebut dan cara mengatasinya. b. Perlengkapan perjalanan.

Perlengkapan yang dibawa disesuaikan dengan medan yang kita hadapi, usahakan membawa perlengkapan yang bisa membuat kita merasa nyaman di lapangan nantinya. Untuk barang-barang tertentu diharuskan membawa cadangan, misalnya baterai, baju. c. Perlengkapan Pertolongan Pertama.

Perlengkapan pertolongan pertama sangat penting untuk dibawa sehingga kita siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di lapangan minimal tidak terjadi korban jiwa apabila terjadi kecelakaan.

-------------------Salam Lestari !!!-------------------

79