Anda di halaman 1dari 3

Trauma Buli-Buli Pada waktu lahir hingga usia anak, buli-buli terletak di rongga abdomen.

Namun semakin bertambahnya usia, tempatnya turun dan terlindung di dalam kavum pelvis, sehingga kemungkinan mendapatkan trauma dari luar jarang terjadi. Angka kejadian trauma pada buli-buli pada beberapa klinik urologi kurang lebih 2% dari seluruh trauma pada sistem urogenetelia. Etiologi 1. 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur pelvis 2. Trauma iatrogenik 2.1 Tindakan endourologi --> reseksi buli-buli transurethral (TUR) atau pada litotripsi. 2.2 Tindakan operasi di daerah pelvis 3. Ruptur buli-buli dapat pula terjadi secara spontan biasanya terjadi jika sebelumnya terdapat kelainan padadinding buli-buli. Tuberkulosis, tumor buli-buli, atau obstruksi infravesikel kronis menyebabkan perubahan struktur otot buli-buli Ruptur buli-buli dibedakan 2 macam, yaitu :

Intra peritoneal : peritoneum yang menutupi bagian atas / belakang dinding buli-buli robek sehingga urin langsung masuk ke dalam rongga peritoneum. Ekstra peritoneal : peritoneum utuh, dan urin yang keluar dari ruptura tetap berada diluar. Akibat luka tusuk misalnya ujung pisau, peluru.

Didapati perforasi buli-buli, urin keluar melalui dinding buli-buli terus kekulit. Akibat manipulasi salah sewaktu melakukan trans ureterol resection, misalnya sewaktu reseksi tumor buli, operasi prostat, dll. Klasifikasi Kontusio buli--> hanya ada memar pada dinding, mungkin ada hematoma perivesikel tetapi tiada ekstrvasasi urine ke luar buli-buli Cedera buli-buli ekstraperitoneal--> 45-60% dari seluruh trauma buli-buli Cedera buli-buli Intraperitoneal--> 25-45% dari seluruh trauma buli-buli Jika tidak mendapat perawatan segera 10-20% cedera buli-buli akan berakibat kematian karena peritonitis atau sepsis.

Diagnosis Gambaran Klinis 1.Mengeluh nyeri di daerah suprasimfisis 2. Miksi bercampur darah 3. Pasien tidak dapat miksi Makanya dilakukan pemeriksaan sistografi, yaitu dengan memasukkan kontras dalam buli sebanyak 300-400ml. Terus difoto (1). saat buli terisi kontras dalam posisi AP, (2) posisi oblik, (3) wash out film yaitu setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli. Jika terlihat ekstravasasi kontras didalam rongga perivesikel --> robekan ekstraperitoneal Jika terdapat kontras yang berada disela-sela usus --> robekan intraperitoneal Terapi 1. Kontusio buli-buli dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk memberikan istirahat pada buli-buli. Dengan cara ini diharapkan buli-buli sembuh setelah 7-10 hari. 2. Cedera buli-buli intraperitoneal eksplorasi laparatomi untuk mencari robekan pada buli-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. Jika tidak dioperasi ekstravasasi urin ke rongga intraperitoneum dapat menyebabkan peritonitis 3. Cedera buli-buli ekstraperitoneal robekan yang sederhana dianjurkan untuk memasang kateter selama 7-10hari, sebagian melakukan penjahitan buli-buli dengan pemasangan kateter sistostomi. Komplikasi Cedera buli-buli ekstraperitoneal--> Ekstravasi urine ke rongga pelvis yang dibiarkan lama menyebabkan infeksi dan abses pelvis. Robekan buli-buli intraperitoneal-> Timbul peritonitis jika tidak segera dioperasi, akibat dari ekstravasi urine pada rongga intraperitoneum. Kedua di atas menyebabkan sepsis yang mengancam jiwa. Kekadang berupa keluhan miksi, yaitu frekuensi dan urgensi yang biasanya sembuh sebelum 2 bulan.

Refensi Basuki.B.P, Dasar-dasar urologi Edisi Ketiga, Halaman. 182-185 David C. S Buku Ajar Bedah. Halaman 247. Lee JY, Cass AS (1993). Lower Urinary and Genital Tract Trauma. Curr Op Urol 3: pg 194