Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum sekolah. Menurut Dreeben (Hamzah, 2001:7) matematika diajarkan di sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka panjang ( long-term functional needs) bagi siswa dan masyarakat. Sedangkan menurut Sujono (Hamzah, 2001:8) matematika perlu diajarkan di sekolah karena matematika menyiapkan siswa menjadi pemikir dan penemu, matematika menyiapkan siswa menjadi warga negara yang hemat, cermat dan efisien dan matematika membantu siswa mengembangkan karakternya. Pendapat yang lain adalah pendapat Stanic (Hamzah, 2001:8) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa, peningkatan sifat kreativitas dan kritis. Berdasar beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika di sekolah merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kecerdasan siswa. Pada hakekatnya belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil yang optimal. Kegiatan ini akan tercapai jika siswa sebagai subyek terlibat secara aktif baik fisik maupun emosinya dalam proses belajar mengajar.

Dalam pembelajaran aktif siswa dipandang sebagai subyek bukan obyek dan belajar lebih dipentingkan daripada mengajar. Disamping itu siswa ikut berpartisipasi ikut mencoba dan melakukan sendiri yang sedang dipelajari. Sedangkan dalam pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran aktif, fungsi guru adalah menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal. Salah satu metode pembelajaran yang biasa diterapkan guru dalam kelas adalah metode ekspositori. Meskipun guru tidak terus menerus bicara, namun proses ini menekankan penyampaian tekstual serta kurang

mengembangkan motivasi dan kemampuan belajar matematika. Pembelajaran matematika dengan metode ekspositori cenderung meminimalkan keterlibatan siswa sehingga guru nampak lebih aktif. Kebiasaan bersikap pasif dalam pembelajaran dapat mengakibatkan sebagian besar siswa takut dan malu bertanya pada guru mengenai materi yang kurang dipahami. Suasana belajar di kelas menjadi sangat monoton dan kurang menarik. Cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau untuk mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Salah satu cooperative learning adalah STAD. Menurut Suherman dkk (2003:260) inti dari STAD adalah guru menyampaikan suatu materi, kemudian para siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas empat atau lima orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka menyerahkan pekerjaannya secara tunggal untuk setiap 2

kelompok kepada guru. Berdasar uraian di atas peneliti mengambil judul Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Segiempat Siswa Kelas VII Semester 2 SMP Abrakadabra Tahun Pelajaran 2009/2010. B. Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih efektif dari pada pembelajaran matematika dengan metode ekspositori pokok bahasan segiempat kelas VII Semester 2 SMP Abrakadabra Tahun Pelajaran 2009/2010? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe STAD lebih efektif dari pada pembelajaran matematika dengan metode ekspositori pokok bahasan segiempat kelas VII Semester 2 SMP Abrakadabra Tahun Pelajaran 2009/2010. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan peneliti khususnya yang terkait dengan penelitian yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Bagi Guru Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi atau masukkan tentang model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Bagi Siswa Dapat menumbuhkan semangat kerjasama antar siswa, meningkatkan motivasi dan daya tarik siswa terhadap matematika.

BAB II TINJAUAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. 1.

Tinjauan Teoretis Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dari segala sesuatu yang diperkirakan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia. Oleh karena itu dengan menguasai prinsip-prinsip dasar tentang belajar, seseorang mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologis. Gagne dan Berliner (dalam Anni, 2005:2) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Morgan (dalam Anni, 2005:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktek atau pengalaman. Slavin (dalam Anni, 2005:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Berdasarkan pendapat-pendapat mengenai batasan-batasan

pengertian belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar pada dasarnya pengalaman yang sama dan berulang-ulang dalam situasi tertentu serta

berkaitan dengan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan dan pemahaman. Sedang yang dimaksud pengalaman adalah proses belajar tidak lain adalah interaksi antara individu dengan lingkungannya. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa.(Suyitno, 2004:2) 2. Pembelajaran Matematika Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (SLTA) (Suherman, 2003:55). Matematika sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) matematika disebutkan tujuan umum diberikannya matematika adalah: a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang melalui latihan, bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.

b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan tujuan khusus pembelajaran matematika di Sekolah Lanjut Pertama adalah: a. Memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika. b. Memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke pendidikan menengah. c. Mempunyai keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan dari matematika sekolah dasar yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. d. Mempunyai pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis dan cermat, kreatif, dan displin serta menghargai kegunaan matematika. Bila dicermati terlihat bahwa tujuan yang dikemukakan di atas memuat nilai-nilai tertentu yang dapat mengarahkan klasifikasi atau penggolongan tujuan pendidikan matematika menjadi (1) tujuan bersifat formal, lebih menekankan kepada penataan penalaran dan membentuk kepribadian siswa, (2) tujuan bersifat material, lebih menekankan kemampuan menerapkan matematika dan keterampilan matematika.

3.

Pembelajaran Kooperatif Cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesakan suatu tugas, atau untuk mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Bukanlah cooperative learning jika siswa duduk bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan mempersilakan salah seorang diantaranya untuk menyelesaikan pekerjaan seluruh kelompok. Menurut Suherman dkk (2003:260) cooperative learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas suatu masalah atau tugas. Menurut Suherman dkk (2003:260) ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam cooperative learning agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif, hal tersebut meliputi: pertama para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai. Kedua para siswa yang tergabung dalam sebuah kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu. Ketiga untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya.

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. c. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelmin berbeda-beda. d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu. Tujuan pembelajaran kooperatif a. Hasil belajar akademik Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit. b. Penerimaan terhadap perbedaan individu Efek penting yang kedua adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuan. c. Pengembangan keterampilan sosial Model pembelajaran kooperatif bertujuan mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi.

4.

Student Team Achievement Division (STAD) STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dan terdiri laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah. Komponen STAD menurut Slavin (1995:71) adalah sebagai berikut: a. Presentasi kelas Presentasi kelas dalam STAD berbeda dari cara pengajaran yang biasa. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka. Siswa harus betul-betul memperhatikan presentasi ini karena dalam presentasi terdapat materi yang dapat membantu untuk mengerjakan kuis yang diadakan setelah pembelajaran. b. Belajar dalam tim Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 45 orang dimana mereka mengerjakan tugas yang diberikan. Jika ada kesulitan siswa yang merasa mampu membantu siswa yang kesulitan. c. Tes individu Setelah pembelajaran selesai ada tes individu (kuis).

10

d.

Skor pengembangan individu Skor yang didapatkan dari hasil tes selanjutnya dicatat oleh guru untuk dibandingkan dengan hasil prestasi sebelumnya. Skor tim diperoleh dengan menambahkan skor peningkatan semua anggota dalam 1 tim. Nilai rata-rata diperoleh dengan membagi jumlah skor penambahan dibagi jumlah anggota tim.

e.

Penghargaan tim Penghargaan didasarkan nilai rata-rata tim dimana dapat memotivasi mereka.

Kelebihan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut: a. Mengembangkan serta menggunakan keterampilan berpikir kritis dan kerjasama kelompok. b. Menyuburkan hubungan antar pribadi yang positif diantara siswa yang berasal dari ras yang berbeda. c. Menerapkan bimbingan oleh teman. d. Menciptakan lingkungan yang menghargai nilai-nilai ilmiah. Kelemahan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut: a. Sejumlah siswa mungkin bingung karena belum terbiasa dengan perlakuan seperti ini.

11

b. Guru pada permulaan akan membuat kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan kelas. Akan tetapi usaha sungguh-sungguh yang terus menerus akan dapat terampil menerapkan model ini. B. Kerangka Pemikiran Model pembelajaran kooperatif memberi kesempatan kepada siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah secara bersama. Selain itu pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa meningkatkan sikap positif siswa dalam matematika. Para siswa secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika, sehingga akan mengurangi dan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika yang dialami banyak siswa. Pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi kesempatan kepada siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan ide, siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematika secara komprehensif dalam kelompoknya. Ketika siswa melakukan kegiatan matematika untuk memecahkan permasalahan yang diberikan pada kelompoknya, dengan sendirinya akan mendorong potensi mereka untuk melakukan kegiatan matematika pada tingkat berpikir yang lebih tinggi sehingga pada akhirnya membentuk intelegensi matematika siswa. Dengan terbentuknya intelegensi matematika siswa akan berpengaruh pada pencapain hasil belajar siswa yang meningkat.

12

C.

Hipotesis Tindakan Hipotesis dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD akan dapat meningkatkan kemampuan pemahaman belajar pokok bahasan segiempat pada siswa kelas VII-C 2010. SMP Abrakadabra tahun pelajaran 2009-

13

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Objek Tindakan Sebagaimana dikemukakan dalam batasan dan rumusan masalah pada bab I di atas bahwa penelitian ini ditekankan kepada penggunaan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga siswa diharapkan akan mampu memahami dan menguasai kompetensi yang diharapkan. Oleh karena itu, objek tindakan dalam penelitian ini adalah penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam menghitung keliling dan luas bangun segi empat di kelas VII semester 2. Rumusan kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah ini dapat disajikan sebagaimana dikutip dari Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Kurikulum Standar Isi (2006: sebagai berikut.
Tabel 3.1 Kompetensi Dasar Geometri di Kelas VII Semester 2 Standar Kompetensi Geometri 5. Memahami hubungan garis dengan garis, garis dengan sudut, sudut dengan sudut, serta menentukan ukurannya Kompetensi Dasar 5.1 Menentukan hubungan antara dua garis, serta besar dan jenis sudut 5.2 Memahami sifat-sifat sudut yang terbentuk jika dua garis berpotongan atau dua garis sejajar berpotongan dengan garis lain 5.3 Melukis sudut 5.4 Membagi sudut 6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga berdasarkan sisi dan sudutnya

14

Standar Kompetensi 6. Memahami konsep segi empat dan segitiga serta menentukan ukurannya

Kompetensi Dasar 6.2 Mengidentifikasi sifat-sifat persegi panjang, persegi, trapesium, jajargenjang, belah ketupat dan layang-layang 6.3 Menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah 6.4 Melukis segitiga, garis tinggi, garis bagi, garis berat dan garis sumbu

Mengingat kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah relatif luas pembahasannya, maka pada penelitian ini dibatasi hanya pada pokok bahasan menghitung keliling dan luas bangun segi empat yang terdiri atas persegi panjang, trapesium, jajaran genjang, dan belah ketupat. B. Setting dan Subjek Penelitian Setting atau latar dan lokasi penelitian adalah kelas VII SMP

Abrakadabra, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Jumlah siswa kelas VII seluruhnya adalah 132 orang yang terbagi dalam 3 rombongan belajar sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 3.2 Subjek Penelitian Kelas VII A VII B VII C Jumlah Jumlah Siswa Laki-laki 22 22 20 64 Perempuan 22 22 24 68 Jumlah Seluruhnya 44 44 44 132

15

Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas VII C dengan pertimbangan bahwa pada umumnya di kelas inilah pembelajaran sering menemukan kendala sehingga hasil rata-rata setiap akhir pembelajaran selalu berada di bawah kelas lainnya. Sebagai bahan perbandingan rata-rata perolehan nilai hasil pembelajaran dan hasil ulangan blok pada siswa kelas VII C dengan kelas lainnya sebelum dilakukan pembelajaran remedial dapat diilustrasikan sebagai berikut. Tabel 3.3 Kondisi Hasil Pembelajaran Kelas VII C
Kelas Hasil Belajar KD 1 Hasil Belajar KD 2 Hasil Belajar KD 3 Ulangan Blok 1 Rata-rata

VIII A VIII B VIII C

4,51 5,21 5,24

4,82 7,2 5,41

5,15 6,79 5,11

5,21 6,64 4,64

4,92 6,46 5,10

Pemilihan subyek penelitian ini didasarkan pada hal-hal sebagai berikut: 1. Karena prestasi belajar mata pelajaran Matematika yang dicapai oleh siswa-siswanya pada setiap ujian blok tergolong rendah. 2. Untuk menjalin komunikasi yang baik dan kerjasama yang saling meng-untungkan antara pihak peneliti dan pihak sekolah khususnya peneliti, siswa dan guru di sekolah tersebut. 3. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh siswa-siswa di sekolah tersebut dapat dimengerti dengan baik oleh peneliti, sehingga

16

diharapkan pengumpulan data yang sifatnya kualitatif yang terkait erat dengan konteks situasi pembelajaran dapat diperoleh lebih akurat. Secara utuh jumlah subyek yang terlibat dalam penelitian ini adalah 44 orang siswa. Dari siswa-siswa tersebut 24 orang perempuan dan 20 orang siswa laki-laki. C. 1. a. Siswa kelas VII-C Kabupaten Cianjur b. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester 2 c. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMP Abrakadabra, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif memusatkan perhatiannya terhadap masalah-masalah aktual melalui proses pengumpulan, penyusunan atau pengklasifikasian, pengolahan, dan penafsiran data dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 3. Prosedur Penelitian Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dirancang sebanyak 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari tahap: (a) perencanaan tindakan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) observasi, (d) refleksi, dan (e) perncanaan tindakan lanjutan. Rencana, Metode, dan Prosedur Penelitian Rencana Penelitian Subjek Penelitian SMP Abrakadabra, Kecamatan Cugenang,

17

a. Tahap Perencanaan Tindakan Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan tindakan ini adalah: 1) Merumuskan Rencana Pelakanaan Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. 2) Membuat instrumen penelitian yaitu lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika pembelajaran diaplikasikan. 3) Membuat media pembelajaran yang diperlukan, termasuk Lembar Kerja Siswa (LKS) dan soal evaluasi. b. Tahap Pelaksanaan Tindakan Tahap pelaksanaan tindakan ini meliputi pelaksanaan 18skenario pembelajaran oleh peneliti di kelas VII C semester 2, bagaimana proses pembelajaran berlangsung, disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti kegiatan refleksi. c. Tahap Observasi Tahap observasi dilaksanakan bersamaan dengan tahap pelaksanaan tindakan. Kegiatan inti dari tahap ini adalah menghimpun data melalui alat pengumpul data (instrumen) untuk dapat menghasilkan temuan dan masukan yang diperoleh selama kegiatan tindakan berlangsung dalam upaya memodifikasi dan merencanakan kembali tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. d. Tahap Analisis dan Refleksi

18

Hasil yang diperoleh dari tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis dalam tahap ini. Dari hasil observasi guru dapat merefleksi dengan melihat data observasi apakah kegiatan yang dilakukan telah dapat meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar siswa. Hasil analisa yang dilaksanakan dalam tahap ini akan diperguanakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus (tindakan) berikutnya. e. Tahap Perencanaan Tindakan Lanjutan Tahap ini merumuskan rencana tindakan lanjutan bila hasil refleksi belum cukup memuaskan atau ingin disempurnakan. Dengan memperbaiki atau memodifikasi tindakan sebelumnya. Berikut alur penelitian dalam PTK (Penelitian Tindakan Kelas), adaptasi dari Hopkins (dalam Aqib, 2007 ).

SIKLUS 1

SIKLUS 2

Keterangan : P : Perencanaan O : Observasi T : Tindakan E/R : Evaluasi / Refleksi ( I Made Padri, 2007 : 4 ) 4. Teknik Penelitian Teknik penelitian yang digunakan yaitu, observasi, pre-test dan post-test. 19

Observasi dilakukan dengan cara mengamati jalannya proses pembelajaran membaca tabel dengan menerapkan model pembelajaran kooeratif tipe STAD. Pre-test dilaksanakan sebelum pembelajaran membaca tabel dengan model kooperatif tipe STAD dilakukan, bertujuan untuk mengetahui kondisi awal siswa. Sedangkan post test dilaksanakan setelah pembelajaran membaca tabel dengan model kooperatif tipe STAD dilakukan, bertujuan untuk mengetahui kondisi akhir siswa. 5. Analisis Data Analisis yang digunakan yaitu analisis data kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan sepanjang penelitian. Data yang terkumpul berupa data kualitatif, diperoleh dari proses belajar siswa selama pembelajaran dan data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar siswa. Data atau informasi yang dikumpulkan digunakan sebagai bahan acuan untuk mengkonfirmasi hipotesis.

20

BAB IV HASIL PENELITIAN

A.

Gambaran Selintas tentang Setting Latar penelitian ini adalah siswa kelas VII C SMP Abrakadabra,

Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur tahun pelajaran 2009 2010 yang berjumlah 44 siswa. Jumlah siswa ini dibagi ke dalam 11 (sebelas) kelompok (komunitas belajar). Pembagian kelompok ini diatur sedemikian rupa sehingga mampu mengakomodasikan keberagaman sikap, kemampuan akademis, dan perilaku siswa secara merata. Faktor keberagaman yang dimaksud di atas, sebagaimana data yang diperoleh dari wali kelas dan konselor (guru pembimbing/konselor), terdiri atas data siswa yang secara faktual diuraikan sebagai berikut. Tabel 4.1 Peta Keadaan Siswa kelas VII C SMP Abrakadabra
No. 1 2 3 4 5 Aspek Keberagaman Siswa yang memiliki kemampuan akademis tinggi Siswa yang memiliki kemampuan akademis rata-rata (sedang) Siswa yang memiliki kemampuan akademis rendah Siswa yang berasal dari lingkung-an sosial tinggi Siswa yang berasal dari lingkung-an sosial rata-rata (menengah ke bawah) Jumlah L 4 15 3 8 14 P 7 14 1 10 12 Jumlah 11 29 4 18 26

21

No. 6

Aspek Keberagaman Siswa yang memiliki perilaku terbuka dengan indikator mudah bergaul dan mobilitas belajarnya tinggi. Siswa yang perilakunya tergolong biasa-biasa saja Siswa yang berperilaku tertutup (introvert) dan sulit bergaul Siswa yang memiliki tingkat kenakalan di atas rata-rata

Jumlah L 6 16 0 0 P 9 13 0 0

Jumlah

15 29 0 0

7 8 9

Pengkategorian kondisi siswa sebagaimana yang terdapat pada siswa di atas didasarkan pada laporan hasil kegiatan pembelajaran selama semester 1 serta data dari wali kelas dan guru pembimbing (konselor). B. Uraian Penelitian Secara Umum Sebelum proses pembelajaran berlangsung dilakukan terlebih dahulu tes awal (pre test). Tes ini dilaksanakan di luar jam pelaksanaan siklus pertama pembelajaran membaca tabel. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kemampuan awal siswa dalam pokok bahasan segi empat. Hasil tes ini juga digunakan sebagai pembanding dengan nilai hasil pembelajaran pada siklus terakhir. Tabel 4.2 Data Penilaian Hasil Tes Awal 45 55 65 50 52,5 50 65 70 60 70 75 52,5 70 40 52,5 55 40 75 60 40 65 50 55 60 80 50 55 60 50 75 65 60 55 60 50 60 40 50 55 40 50 -

22

Berdasarkan hasil tes awal dapat diketahui bahwa skor tertinggi perolehan siswa adalah 80, skor terendah adalah 40, dan rata-rata skor perolehan adalah 55,79. Ketercapaian rata-rata skor ini masih berada di bawah KKM yang ditetapkan, yakni 65. Pembelajaran berikutnya dikembangkan dengan mengikuti langkahlangkah yang telah direncanakan sebagai berikut. 1. Tahap Persiapan dan Pemanasan a. Siswa memperoleh penjelasan umum tentang kompetensi dasar (KD), indikator, dan tujuan pembelajaran. Pada tahap ini siswa dan guru juga melakukan tanya jawab tentang bangun segi empat. Selanjutnya siswa memperoleh penjelasan tentang langkah-langkah kegiatan pembelajar-an dan memperoleh informasi tentang nilai kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang harus dicapai setelah proses pembelajaran berlangsung. b. segi empat. c. Siswa membentuk komunitas belajar dalam bentuk kelompok yang terdiri atas 4 siswa setiap kelompok sehingga dalam kelas terdapat 11 kelompok. d. Setiap kelompok siswa memperoleh lembar pembelajaran yang terdiri atas pedoman pembelajaran, beberapa bentuk bangun segi empat, dan daftar pertanyaan berkaitan dengan setiap bangun segi empat. 23 Siswa memperoleh penjelasan ringkas mengenai bangun

2. Tahap Eksplorasi a. Setiap kelompok, siswa mengamati dan mempelajari lembar kegiatan pembelajaran, kemudian membaca dengan cermat

petunjuk/pedoman pembelajaran. b. Setiap kelompok siswa berdiskusi untuk melaksanakan hal-hal berikut ini. 1) Membaca dan mengamati dengan cermat bentuk bangun segi empat yang tersedia. 2) 3) Mengidentifikasi karakteristik bangun segi empat. Menjawab permasalahan yang berkaitan dengan cara menghtung keliling dan luas bangun segi empat. 4) Berlatih menghitung keliling dan luas bangun segi empat dengan cara menyelesaikan soal-soal yang disediakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 3. Tahap Konsolidasi a. Secara bergiliran, setiap kelompok siswa mempresentasikan hasil analisis dan diskusinya di depan kelas berkenaan dengan menghitung keliling dan luas bangun segi empat. b. Kelompok siswa lain menyimak dan

memberikan tanggapan/sumbang saran pada hasil diskusi dan analisis kelompok yang melaksanakan presentasi. 24

c.

Sebagai akhir dari proses konsolidasi, guru memberikan penguatan (justifikasi) terhadap hasil diskusi dan analisis siswa dalam bentuk kesimpulan.

4. Tahap Pembentukan Sikap a. Setiap siswa secara perseorangan mengikuti tes tertulis dengan cara menjawab soal-soal yang disajikan dalam waktu 10 menit. e. Siswa dipandu guru menghitung skor tes individu kemudian nilai tes digabung menjadi nilai kelompok. f. Tiga kelompok yang memperoleh nilai terbesar diberi penghargaan. 5. Refleksi Pada tahap refleksi, siswa mengungkapkan perasaan-perasaannya selama mengikuti proses pembelajaran. Pada umumnya mereka mampu mengikuti pembelajaran dengan baik dan merasa cukup mampu menyelesaikan soal-soal menghitung keliling dan luas bangun segi empat dengan baik sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan sebagian lagi masih merasa kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dengan tepat waktu. C. Penjelasan Per Siklus 1. Siklus Pertama a. Perencanaan

25

Siklus pertama pembelajaran dilaksanakan pada hari Senin tanggal 8 Februari 2010 pada jam pelajaran ke-3 dan ke-4. Sesuai dengan perencanaan yang ditetapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, siswa dibagi dalam 11 kelompok masing-masing berjumlah 4 orang. Pada pembelajaran siklus I ini siswa menerima penjelasan kompetensi dasar (KD), tujuan pembelajaran, indikator pembelajaran, dan KKM yang harus diperoleh setelah proses belajar mengajar dilakukan. Selanjutnya siswa menerima penjelasan tentang tahapantahapan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan serta melakukan tanya jawab berkaitan dengan bangun segi empat. b. Proses Pembelajaran Proses pembelajaran menghitung keliling dan luas bangun segi empat dengan menerapkan metode STAD diawali dengan pemanasan dan apersepsi yang berisi penjelasan sebagaimana dikemukakan pada perencanaan di atas. Selanjutnya, tahap kedua pembelajaran (eksplorasi) dilakukan dengan mulai membahas permasalahan yang diajukan dalam lembar kegiatan pembelajaran. Pada proses eksplorasi pembelajaran ini setiap kelompok menganalisis karakteristik bentuk bangun segi empat yang tersedia dan menyelesaikan soal-soal sederhana dalam menghitung keliling dan luas bangun segi empat. Kemudian saling menukar hasil

26

pekerjaan antaranggota kelompok. Kegiatan pembelajaran tahap kedua ini berlangsung selama 35 menit. Tahap ketiga pembelajaran adalah konsolidasi yang dilaksanakan dalam bentuk presentasi kelompok tentang hasil diskusi. Mengingat keterbatasan waktu, presentasi hanya dilaksanakan oleh satu kelompok saja, kelompok yang lainnya menanggapinya. Pada tahap presentasi ini tampaknya masih banyak siswa belum aktif terlibat dalam proses dan sebagian besar siswa belum bisa menyusun kalimat dengan baik dan benar. Siswa yang aktif masih didominasi oleh siswa-siswa yang pintar saja. Presentasi kelompok tersebut memerlukan durasi waktu 28 menit. Akhir pembelajaran ditutup dengan tes akhir selama 25 menit kemudian melaksanakan refleksi selama 5 menit. c. Hasil Pembelajaran Penilaian yang dihasilkan dari pembelajaran ini terdiri atas dua macam, yakni penilaian atas proses belajar dan penilaian atas hasil belajar. Pada proses belajar dalam kelompok, pada umumnya siswa mengikuti pembelajaran secara sungguh-sungguh. Akan tetapi, karena sebagian besar siswa belum terbiasa menemukan informasi melalui tabel, maka hasil proses pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.3 Data penilaian proses pembelajaran siklus I
Kelompo k 1 2 Aspek Aspek Aspek Aspek 1 2 3 4 B B B B C K C C Aspek 5 B C Kesimpulan Baik Cukup

27

Kelompo k 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Aspek Aspek Aspek Aspek 1 2 3 4 B B C C C C C C C C C C C C K C C C C K C C C K K C K C C C C K C C C C

Aspek 5

Kesimpulan

C K C C C K C C C

Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Kurang Cukup Cukup Cukup

Keterangan: Aspek 1 Aspek 2 Aspek 3 Aspek 4 Aspek 5 SB B C K = Keterlibatan seluruh anggota kelompok dalam identifikasi permasalahan = Pelaksanaan/kelancaran kegiatan diskusi kelompok yang dilakukan = Kecermatan dalam pencatatan hasil diskusi = Keluasan dan kedalaman penggunaan referensi = Urun saran/ partisipasi = Sangat Baik = Baik = Cukup = Kurang Sementara itu, hasil pembelajaran secara keseluruhan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari 44 siswa yang mengikuti pembelajaran, rata-rata perolehan nilai adalah 58,30 dengan data rekapitulasi selengkapnya sebagai berikut.
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Pembelajaran Siklus I
JENIS DATA Jumlah Skor Soal 1 487 Soal 2 525 Soal 3 429 Soal 4 522 Soal 5 544 Jml 2507 Ratarata 58,30

28

Rata-Rata Skor Tertinggi Skor Terendah Skor Ideal Standar Deviasi KKM

11,33 20 7 20

12,21 20 8 20

9,98 20 9 20

12,14 20 8 20

12,65 20 7 20

58,30 100 27 100 10,60 65

d. Refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada proses pembelajaran dan hasil pembelajaran, diperlukan pembelajaran pada siklus berikutnya. Pada siklus kedua ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dan ditambah. Perbaikan pertama adalah pada penentuan anggota kelompok dengan menempatkan siswa yang memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata kepada setiap kelompok secara merata (pada kelas VII-C terdapat 11 siswa yang memiliki kemampuan akademis di atas KKM, ke-11 siswa ini disebar ke 11 kelompok secara merata). Perbaikan kedua adalah memberikan soal-soal penyelesaian masalah bangun segi empat dalam berbagai konteks yang akrab dengan situasi dan pengalaman siswa pada umumnya. Di samping itu, saran yang disampaikan oleh observer berkaitan dengan perlakuan setiap kelompok, khususnya dalam memberikan penghargaan diupayakan lebih terbuka. 2. Siklus II a. Perencanaan Siklus kedua pembelajaran berlangsung seminggu kemudian, yakni pada hari Kamis tanggal 11 Februari 2009 pada jam pelajaran ke-7 dan ke-8. Sesuai dengan rencana yang didasarkan kepada analisis 29

pembelajaran siklus pertama, dilakukan beberapa perbaikan pada pembelajaran siklus kedua sebagai berikut. Perubahan anggota kelompok dengan cara menyebar 11 siswa yang memiliki kemampuan akademis di atas KKM ke dalam 11 kelompok yang ada, kemudian siswa lain disebar sesuai dengan jumlah kelompok yang ada. Setiap siswa (kelompok maupun perseorangan) disarankan untuk mengamati berbagai bentuk bangun segi empat sebelum melaksanakan tatap muka pada pertemuan ini. Permasalahan yang diajukan kepada siswa lebih diperjelas dengan memberikan bentuk-bentuk bangun segi empat yang lebih dekat dengan situasi dan pemahaman siswa. b. Proses Pembelajaran Proses pembelajaran dimulai tepat pada pukul 11.20 dengan diawali proses pemanasan dan apersepsi selama 8 menit. Proses pemanasan ini berisi penjelasan tentang rencana perubahan kelompok belajar serta perubahan permasalahan. Sementara itu, tujuan pembelajaran serta kriteria ketuntasan minimum pada kompetensi dasar ini kembali diinformasikan kepada siswa. Prosedur pembelajaran yang berlangsung selama siklus II ini dapat diuraikan sebagai berikut.

30

Siswa melaksanakan proses eksplorasi dengan menelaah bentuk bangun segi empat yang disajikan dalam lembar pembelajaram.

Setiap kelompok siswa sudah mulai tearah dan sistematis dalam melakukan pemecahan masalah. Hal ini tampak pada proses pem-belajaran yang dilalui mereka dengan langsung menyusun kerangka pemecahan masalah secara sistematis.

Diskusi pada tahap eksplorasi berjalan dengan lancar dan meng-olah permasalahan secara terarah.

Tahap konsolidasi menampilkan seluruh kelompok dalam me-nyampaikan hasil diskusi kelompok. Sumbang saran dan perbaikan isi materi berkembang selama presentasi sesuai dengan kondisi yang berlangsung.

Siswa memperoleh penguatan hasil diskusi dan justifikasi hasil belajar.

Setiap siswa melaksanakan tes penguasaan kompetensi dasar yang diperoleh selama pembelajaran. Tes penguasaan kompetensi dasar dalam pembelajaran ini dilakukan selama 30 menit sebagai bentuk proses pembentukan sikap.

c.

Hasil Pembelajaran

31

Hasil pembelajaran yang diperoleh ada dua macam, yakni pengamatan atas proses pembelajaran dan hasil tes pemahaman materi pembelajaran. Hasil pembelajaran selengkapnya yang meliputi ketiga jenis penilaian di atas dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini.

Tabel 4.5 Data penilaian proses pembelajaran siklus II


Kelompok Aspek 1 Aspek 2 Aspek 3 Aspek 4 Aspek 5 Kesimpulan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Keterangan:

SB SB SB SB B SB B B SB SB SB

B B B SB B SB SB SB SB SB SB

B B B B B B B SB SB SB SB

B B SB SB B SB B SB SB SB SB

B B B B B B B SB SB SB SB

Great Team Great Team Great Team Super Team Great Team Super Team Great Team Super Team Super Team Super Team Super Team

Aspek 1 = Keterlibatan seluruh anggota identifikasi permasalahan

kelompok

dalam

Aspek 2 = Pelaksanaan/kelancaran kegiatan diskusi kelompok yang dilakukan Aspek 3 = Kecermatan dalam pencatatan hasil diskusi Aspek 4 = Keluasan dan kedalaman penggunaan referensi Aspek 5 = Urun saran/ partisipasi SB = Sangat Baik B = Baik C = Cukup 32

K = Kurang SK = Sangat Kurang Sementara itu, hasil pembelajaran secara keseluruhan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari 44 siswa yang mengikuti pembelajaran, rata-rata perolehan nilai adalah 79,64 dengan data rekapitulasi selengkapnya sebagai berikut. Tabel 8 Rekapitulasi Hasil Pembelajaran Siklus II
JENIS DATA Jumlah Rata-Rata Skor Tertinggi Skor Terendah Skor Ideal Standar Deviasi KKM Soal 1
742 16,86 20 14 20

Soal 2
674 15,32 20 15 20

Soal 3
765 17,39 20 16 20

Soal 4
755 17,16 20 14 20

Soal 5
764 17,36 20 18 20

Jml
3700 100 100

Ratarata
84,09 84,09 100 60 100 12,02

65

d.

Refleksi Refleksi pada pembelajaran siklus II ini diisi dengan kesimpulan-kesimpulan pembelajaran. Pada umumnya proses

pembelajaran berjalan sangat lancar karena seluruh siswa sudah memahami arah pembelajaran dengan baik. Pemahaman arah dan sistematika pembelajaran tersebut berdampak kepada hasil pembelajaran yang rata-rata berada di atas kriteria ketuntasan minimum (> 65,00). Meskipun demikian, masih terdapat kekurangan dalam hal penyesuaian diri siswa terhadap bentuk-bentuk bangun segi empat yang baru ditemukannya. 33

D.

Analisis Data Hasil Penelitian Analisis hasil pembelajaran dilakukan pada kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah, kemudian untuk memperoleh data komparatif dilakukan akumulasi nilai. Data yang dihasilkan pada tes hasil pembelajaran kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah adalah sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 10. Rekapitulasi data hasil tes pembelajaran Siklus I dan II Siklus I:
JENIS DATA Soal 1 Soal 2 Soal 3 Soal 4 Soal 5 Jumlah Ratarata Nilai

JUMLAH RATA-RATA SKOR TERTINGGI SKOR TERENDAH SKOR IDEAL STANDAR DEVIASI KKM

487 11,33 20 7 20

525 12,21 20 8 20

429 9,98 20 9 20

522 12,14 20 8 20

544 12,65 20 7 20

2507 100 27 100

58,30 58,30

58,30 58,30 100 27 100

10,60 65
Soal 1 Soal 2 Soal 4 Soal 5 Ratarata

10,60 65

Siklus II:
JENIS DATA Soal 3 Jumlah Nilai

JUMLAH RATA-RATA SKOR TERTINGGI SKOR TERENDAH SKOR IDEAL STANDAR DEVIASI KKM

742 16,86 20 14 20

674 15,32 20 15 20

765 17,39 20 16 20

755 17,16 20 14 20

764 17,36 20 18 20

3700 100 100

84,09 84,09 100 60 100 12,02

84,09 84,09 100 60 100 12,02 65

Data empiris pengujian pemahaman siswa atas menemukan informasi secara cepat dari tabel/diagram yang dibaca di atas menunjukkan perkembangan yang signifikan melalui pembelajaran yang terarah dengan 34

model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Rata-rata perolehan nilai pada siklus I sebesar 58,30 meningkat tajam menjadi 84,09 pada siklus II menjadi indikator bahwa pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD telah mencapai keberhasilan, apa lagi jika dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang ditetapkan sebesar 65,00.

E.

Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan di atas, dapat dibahas sejumlah kesimpulan sebagai berikut. b. Pada pembelajaran siklus I diperoleh fakta bahwa rata-rata siswa belum memiliki pengetahuan memadai tentang kompetensi dasar dan materi pokok menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah. Hal ini didukung oleh hasil tes pembelajaran yang memperoleh rata-rata nilai 58,30. Hasil tes ini membuktikan pula bahwa pada umumnya siswa belum memiliki kebiasaan yang memadai dalam menyelesaikan permasalahan matematis secara kontekstual. c. Proses pembelajaran pada siklus II berlangsung dalam suasana tenang dan berjalan lancar. Tidak ditemukan hambatan-hambatan yang berarti selain proses penyesuaian diri siswa terhadap bentuk-bentuk bangun segi empat yang baru dilihatnya. Hal yang paling penting bahwa pembelajaran benar-benar dapat menyenangkan siswa di mana siswa terlibat secara penuh dalam proses pemecahan masalah. Hal ini sejalan 35

dengan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif yang mengemukakan halhal sebagai berikut. a. b. Pembelajaran berlangsung dalam situasi yang nyata. Pengajaran yang diberikan merupakan pengajaran yang otentik dan faktual, tidak abstrak. c. Pembelajaran berbasis inkuiri atau menemukan sendiri konsep, bentuk, serta hasil. d. Pembelajaran berbasis masalah. Artinya, masalah yang menjadi pokok pembelajaran ditentukan dan ditemukan oleh siswa sendiri serta dikembangkan dengan memecahkan masalah sendiri. Guru bertindak sebagai fasilitator yang membimbing siswa hingga akhir penemuan. e. Pembelajaran yang dikembangkan harus memiliki makna dan menyenangkan bagi siswa (Depdiknas, 2002:9) d. Hasil pembelajaran yang dilakukan pada siklus II menunjukkan fakta rata-rata nilai yang berada di atas nilai yang ditetapkan sebagai kriteria ketuntasan minimum. Rata-rata nilai perolehan pada siklus I adalah 58,30, rata-rata nilai perolehan pada siklus II adalah 84,09. Nilainilai perolehan ini seluruhnya lebih besar daripada nilai KKM yakni 65,00 sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah dianggap telah tuntas. e. Berdasarkan hasil analisis atas proses pembelajaran dan hasil belajar yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan yang

36

dirumuskan Terdapat pengaruh positif penggunaan pendekatan dan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran

kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segi empat di kelas VII C SMP Abrakadabra, Kecamatan Cugenang, Cianjur, semester 2, tahun pelajaran 2009 2010. dapat diterima.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Sesuai dengan rumusan dan batasan masalah serta proses pembelajaran dan analisis yang dilakukan, dapat disusun kesimpulan-kesimpulan hasil penelitian tindakan kelas sebagai berikut. 1. Pengetahuan awal siswa tentang menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah masih relatif rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes awal yang memperoleh rata-rata sebesar 55,79 dan hasil proses pembelajaran pada siklus I yang hanya memperoleh rata-rata nilai sebesar 58,30 yang berarti -6,70 lebih rendah daripada kriteria ketuntasan minimum yang ditetapkan, yakni 65,00. 2. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung ternyata ter-masuk ke dalam kategori sungguh-sungguh, baik pada proses 37

pembelajar-an siklus I, siklus II, maupun pada penyelesaian proyek tugas pemecahan masalah kelompok. Kesungguhan siswa pada proses pembelajaran ini disebabkan oleh konteks pembelajaran yang nyata dengan melibatkan siswa dalam bentuk-bentuk bangun segi empat yang beraneka macam sesuai konteksnya. Pembelajaran yang terdiri atas kegiatan-kegiatan peng-amatan serta proses diskusi dan percobaan berlangsung penuh antusias. 3. Perkembangan kemampuan apresiasi siswa dalam

menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah setelah pembelajaran terlihat sangat signifikan. Perolehan nilai pada tes pemahaman siklus I adalah 58,30 dan kemudian diperbaiki melalui proses pembelajaran yang lebih terorganisasi sehingga naik menjadi 84,09 pada siklus II. B. Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut Saran-saran yang dapat disampaikan untuk kegiatan penelitian tindakan lebih lanjut adalah sebagai berikut. a. Sebagai garda terdepan dalam pendidikan, selayaknya guru mata pelajaran (khususnya guru mata pelajaran bahasa Indonesia) memahami dan mengaplikasikan dengan benar dan baik pengelolaan pembelajaran yang terdiri atas persiapan pembelajaran (dengan mempersiapkan perencanaan yang matang serta pemilihan model pembelajaran yang bervariasi), pelaksanaan dan pengorganisasian pembelajaran di kelas atau di lokasi pembelajaran, serta penilaian dan tindak lanjut pembelajaran. 38

b.

Materi pada kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segi-tiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah bukanlah satu-satunya kompetensi dasar yang determinan dalam pembel-ajaran keterampilan membaca di SMP, rekan-rekan guru mata pelajaran hendaknya dapat mengembangkan bentuk-bentuk penelitian tindakan kelas yang lebih memusatkan perhatian kepada pengembangan model pembel-ajaran pada kompetensi dasar yang menantang.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar

Holil. 2007. Model Pembelajaran Kooperatif. Artikel pada http://anwarholil.blogspot.com/2007/09/pendidikan-inovatif.html

Arikunto, Suharsimi. 1987. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Jakarta Jaya Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Penilaian Berbasis Kelas, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional. 2006, Kurikulum Standar Isi: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika SMP dan MTs, Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi: Penilaian Pembelajaran. Jakarta: Direktorat PLP Dirjen Dikdasmen. Dina Gasong. 2004. Model Pembelajaran Konstruktivistik sebagai Alternatif Mengatasi Masalah Pembelajaran. Jakarta: PPS Universitas Negeri Jakarta
Ibrahim, Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Hamzah. 2001. Pembelajaran Matematika Menurut Teori Pembelajaran Konstruktivisme, (online), (WWW.DEPDIKNAS.GO.ID, diakses 11 Januari 2007) Kerami dan Sitanggang. 2002. Kamus Matematika. Jakarta: Balai Pustaka.

39

Lestari, Dewi Ayu. 2006. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualisation) terhadap Pemahaman Konsep pada Pokok Bahasan Trigonometri pada Siswa Kelas X Semester II SMU Negeri 14 Semarang Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES. Lukman, Ali. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning Theory, Research, and Practice. USA: The Jhons Hopkins University. Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito. Suherman, Erman. 2003. Strategi Pembelajaran Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Sukino dan Wilson Simangunsong. 2004. Matematika untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga. Suyitno, Amin. 2004. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES. Suwarsih Madya. 2006. Penelitian Tindakan http://ahmadsudrajat.wordpress.com/ Kelas. Tulisan pada

Syamsul Junaidi dan Eko Siswono. 2006. Matematika SMP untuk Kelas VII . Surabaya: Gelora Aksara Pratama.

40