Anda di halaman 1dari 6

MODEL DAN NILAI KEMUNGKINAN

Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana email: rudinimenteri@gmail.com

Sebagian besar persoalan keputusan yang dihadapi mengandung unsur ketidakpastian yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Karena itu unsur ketidakpastian ini harus dapat dimasukkan ke dalam model yang dibuat, yaitu dengan jalan meng-kode-kan ketidakpastian tersebut dalam bentuk besaran kemungkinan.

Beberapa Definisi
1. Kejadian tak pasti Kejadian tak pasti adalah kejadian yang kemunculannya tidak pasti sehingga tidak bisa diduga terlebih dahulu. Contoh - Pada permainan dadu, muka dadu mana yang akan muncul tidak dapat diduga dengan pasti. 2. Ruang Hasil Ruang Hasil adalah himpunan dari seluruh hasil yang mungkin muncul dari suatu kejadian tak pasti. Contoh - Pada pelemparan sebuah dadu, ruang hasilnya adalah 1,2,3,4,5,6 atau dalam beberapa contoh, ruang hasil projek penelitian adalah berhasil, gagal. Notasi untuk ruang hasil adalah W.

3. Kejadian Saling Bertentangan (Mutually Exclusive) Dua kejadian atau lebih disebut saling bertentangan kejadian tersebut tidak mungkin muncul secara bersamaan. bila kejadian-

13

Analisa Keputusan Rudini Mulya Daulay

Teknik Industri Universitas Mercu Buana 2010

Contoh - Dalam pelemparan mata uang, kemunculan gambar atau angka adalah kejadian yang saling bertentangan. Atau pada dadu, munculnya muka 6 dan 3, tidak akan bisa terjadi bersamaan. 4. Kumpulan Lengkap (Collectively Exhaustive) Kumpulan kejadian disebut bersifat lengkap bila kumpulan kejadian itu merupakan suatu ruang hasil yang lengkap. Ini berarti bahwa apapun yang terjadi maka salah satu kejadian dalam himpunan muncul sebagai hasil dari Suatu percobaan. Contoh - Dalam pelemparan dadu, kumpulan 1, 2, 3, 4, 5, 6 adalah lengkap. Bila dadu itu dilempar, maka salah satu dari angka tersebut pasti akan muncul.

Pernyataan Dasar Nilai Kemungkinan Terdapat dua pernyataan dasar berkenaan dengan nilai kemungkinan, yaitu : 1. Besarnya nilai kemungkinan bagi munculnya suatu kejadian adalah selalu diantara nol dan satu. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai : 0 P (A) 1 di mana P(A) menyatakan nilai kemungkinan bagi munculnya kejadian A. 2. Jumlah nilai kemungkinan dari seluruh hasil yang mungkin muncul adalah satu. Jadi bila W menyatakan ruang hasil yang bersifat lengkap, maka jumlah kenungkinan seluruh anggota ruang hasil tersebut adalah satu, atau dituliskan sebagai : P (wi) = 1 atau P (W) = 1 i di mana wi menyatakan anggota dari ruang hasil.

13

Analisa Keputusan Rudini Mulya Daulay

Teknik Industri Universitas Mercu Buana 2010

Kejadian Majemuk
Untuk dapat lebih menjelaskan pengertian kejadian majemuk, maka perlu diperhatikan suatu contoh.

Contoh - Sebuah Perusahaan Deterjen telah mengadakan suatu penelitian pasar. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa 40% jumlah rumah tangga yang diteliti selalu menggunakan deterjen RINO; 30% selalu menggunakan DINSO; 10% menggunakan kedua jenis tersebut secara bergantian dan sisanya menggunakan deterjen merk lain. Pimpinan bagian pemasaran kemudian ingin mengetahui berapa besarnya kemungkinan suatu rumah tangga menggunakan deterjen RINO atau DINSO (secara lebih teknis, bila satu rumah tangga dipilih secara acak maka ingin kemungkinan rumah tangga tersebut menggunakan RINO atau DINSO.

Disini dikenal dua jenis kejadian yang berbeda, yaitu : Rumah tangga yang menggunakan kedua jenis deterjen, yaitu RINO dan DINSO. Simbol untuk kejadian ini adalah: R D Arti dan (simbol ) disini adalah bahwa mereka menggunakan R dan juga menggunakan D.

13

Analisa Keputusan Rudini Mulya Daulay

Teknik Industri Universitas Mercu Buana 2010

Rumah tangga yang menggunakan RINO atau DINSO. Ini dinyatakan dengan simbol : R D Pengertian atau (simbol ) disini adalah mereka yang menggunakan R atau D atau keduannya. Kejadian A B disebut A gabungan B, sedangkan kejadian A B disebut A irisan B. Gambar Diagram A gabungan B

Gambar Diagram A irisan B

Aturan Pertambahan
Untuk dua kejadian A dan B, maka : P (A B) = P (A) + P (B) - P (A B) Jadi untuk persoalan tersebut, besarnya kemungkinan suatu rumah tangga menggunakan RINAI atau DAISO adalah : P (R D) = P (R) + P (D) - P (R D) = 0.4 + 0.3 0.1 = 0.6

13

Analisa Keputusan Rudini Mulya Daulay

Teknik Industri Universitas Mercu Buana 2010

Bila kejadian A dan B adalah dua kejadian yang saling bertentangan maka P ( A B ) = 0, karena kejadian di mana keduanya muncul bersamaan adalah tidak mungkin. Dengan demikian maka: Untuk dua kejadian A dan B yang saling bertentangan : P ( A B ) = P (A) + P (B)

Kemungkinan Bersyarat
Untuk dapat lebih menjelaskan pengertian kemungkinan bersyarat, diberikan contoh. Contoh a) Berapakah kemungkinan seorang mahasiswa yang terdaftar sebagai pengikut mendapatkan nilai B ? b) Berapakah kemungkinan seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai C adalah mahasiswa yang tidak terdaftar ? Perhatikan pertanyaan a). Dalam hal ini telah diketahui bahwa mahasiswa yang dimaksud adalah mahasiswa yang terdaftar dan yang ditanyakan adalah berapa kemungkinan seorang mahasiswa yang terdaftar mendapat nilai B. Kemungkinan ini disebut sebagai kemungkinan bersyarat, yaitu berapa kemungkinan seorang mahasiswa mendapatkan nilai B bila telah diketahui bahwa ia terdaftar sebagai pengikut. Bandingkan dengan pertanyaan, berapa kemungkinan seorang mahasiswa mendapatkan nilai B? Untuk menghitung nilai kemungkinan bersyarat, digunakan rumus atau definisi sebagai berikut.

13

Analisa Keputusan Rudini Mulya Daulay

Teknik Industri Universitas Mercu Buana 2010

Definisi

Untuk kejadian A dan B di mana P (B) 0, maka nilai kemungkinan bersyarat kejadian A, jika kejadian B diketahui, ditulis sebagai P (A B), adalah : P ( A B ) = P (A B) P (B)

Perbaikan Nilai Kemungkinan dengan Adanya Informasi Tambahan :


a. Nilai Kemungkinan Prior dan Posterior b. Penghitungan Nilai Kemungkinan Posterior c. Nilai

Kemungkinan

Objektif

dan

Subjektif Nilai Kemungkinan Objektif


d. Keterbatasan Nilai Kemungkinan Objektif e. Nilai Kemungkinan Subjektif f. Perbedaan Pandangan Subjektif dan Objektif g. Pengungkapan Nilai Kemungkinan h. Subjektif Persyaratan Teknis i. Penjajakan Nilai Kemungkinan Subjektif

13

Analisa Keputusan Rudini Mulya Daulay

Teknik Industri Universitas Mercu Buana 2010