Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

Chikungunya adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus, yaitu virus chikungunya. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti, yang juga merupakan nyamuk penyebar penyakit demam berdarah. Penyakit ini banyak dijumpai di daerah tropis. Umumnya di daerah padat penduduk, mobilitas penduduk yang tinggi, curah hujan yang tinggi dan banyaknya tempat yang memungkinkan berkembangbiaknya nyamuk penular. Gejala klinis penyakit chikungunya juga mirip dengan demam berdarah, namun pada penyakit chikungunya tidak terjadi shock dan kematian. Salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulangtulang, sehingga ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang. Wabah chikungunya pertama kali dilaporkan di Tanzania pada tahun 1952, kemudian menyebar sampai Indonesia pada tahun 1973. Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda, dan kemudian berkembang ke wilayah-wilayah lain. Masih banyak anggapan di kalangan masyarakat, bahwa demam Chikungunya atau flu tulang atau demam tulang sebagai penyakit yang berbahaya, sehingga membuat panik. Tidak jarang pula orang meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Sebenarnya penyakit ini tidak begitu berbahaya dan tidak menimbulkan kematian seperti demam berdarah. Bahkan penyakit chikungunya ini dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Oleh karena itu, penyakit ini tidak perlu terlalu dicemaskan. 1

BAB II CHIKUNGUNYA

A. Pengertian Nama chikungunya berasal dari bahasa Swahili (Afrika) berdasarkan gejala pada penderita yang berarti posisi tubuh yang meliuk atau melengkung. Hal ini mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri hebat pada persendian (arthralgia). Menurut lembar data keselamatan (MSDS) kantor keamanan laboratorium Kanada, nyeri sendi ini terjadi terutama pada sendi lutut, pergelangan kaki sreta persendian tangan dan kaki. Demam Chikungunya adalah penyakit di daerah tropis seperti Asia dan Afrika. Penyakit itu pertama kali dikenal tahun 1952 di Afrika Timur. Meskipun ada juga yang mengatakan bahwa sekitar tahun 1779 telah ditemukan gejala seperti itu di Batavia.

B. Penyebab Penyakit chikungunya disebabkan oleh virus yang disebut virus chikungunya (CHIKV). Virus chikungunya ini termasuk keluarga togaviridae, genus alphavirus. Virus ini ditularkan dari satu penderita ke penderita lain oleh nyamuk. Jenis nyamuk penyebar penyakit ini adalah nyamuk aedes aegypti yang juga merupakan nyamuk penyebar demam berdarah. Virus yang ditularkan oleh nyamuk ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus ini menyerang semua usia, baik anak anak maupun orang dewasa. Jika seseorang pernah terinfeksi oleh virus ini, maka tubuhnya akan membentuk

antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap penyakit ini di kemudian hari.oleh karena itu, kecil kemungkinan bagi orang yang pernah terkena penyakit chikungunya ini untuk terinfeksi lagi.

C. Patofisiologi Demam Chikungunya mempunyai masa inkubasi (periode sejak digigit nyamuk pembawa virus hingga menimbulkan gejala) sekitar 2 hingga 4 hari. Setelah masa inkubasi tersebut, gejala yang ditimbulkan -mirip dengan gejala penyakit Demam Berdarah- adalah demam tinggi (39 - 40 derajat Celsius), menggigil, dan sakit kepala.

D. Gejala Gejala utama penyakit chikungunya adalah tiba tiba tubuh menjadi demam dan diikuti dengan terasa linu di setiap persendian (poliarthralgia) terutama pada sendi lutut, pergelangan kaki dan tangan, serta sendi-sendi tulang punggung. Radang sendi yang terjadi menyebabkan sendi susah untuk digerakkan, bengkak dan berwarna kemerahan. Itulah sebabnya postur tubuh penderita menjadi seperti membungkuk dengan jari-jari tangan dan kaki menjadi tertekuk (chikungunya). Bahkan karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang. Dalam beberapa kasus didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala sama sekali atau silent virus chikungunya. Gejala lainnya yang dapat dijumpai adalah nyeri otot, sakit kepala, menggigil, kemerahan pada konjunktiva, pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher, mual,

muntah. dan kadangkadang disertai dengan gatal pada ruam. Terjadi penyembuhan sempurna dan diikuti dengan adanya imunitas didalam tubuh. Pada penyakit chikungunya ini terjadi demam tinggi yang timbul secara tiba tiba disertai menggigil dan muka kemerahan. Penderita akan menderita demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak dengan kulit kemerahan. Ruam-ruam merah tersebut muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tandatanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok. Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan dapat bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita merasa lumpuh sebelum berobat. Sendi yang sering dikeluhkan antara lain sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang. Nyeri otot dapat terjadi pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan di sekitar bahu. Kadang dpat terjadi pembengkakan pada otot sekitar mata kaki. Pada anak anak dapat terjadi kejang dan penurunan kesadaran. Kejang yang terjadi ini disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi, bukan karena disebabkan oleh

penyakitnya secara langsung. Selain itu kadang dijumpai pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher Penyakit ini tidak sampai menyebabkan kematian. Nyeri pada persendian tidak akan menyebabkan kelumpuhan. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh seperti semula. Penderita dalam beberapa waktu kemudian bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia kala. Meskipun dalam beberapa kasus kadang rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Biasanya kondisi demikian terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai riwayat sering nyeri tulang dan otot.

E. Diagnosa Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis ini hanya bermanfaat digunakan untuk kepentingan epidemiologis dan penelitian, tidak bermanfaat untuk kepentingan praktis klinis sehari hari.

F. Pengobatan Demam Chikungunya termasuk self limiting disease atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya, begitu pula dengan penyakit demam Chikungunya. Dalam waktu 10 hingga dua minggu penderita sudah akan sembuh. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simptomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau demam seperti

golongan parasetamol. Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat. Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar. Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

G. Komplikasi Perbedaan utama dengan penyakit demam berdarah adalah soal kefatalannya yang menyebabkan kematian. Penyakit demam Chikungunya adalah penyakit yang jarang menyebabkan kematian. Perbedaan lain adalah demam Chikungunya bisa menginfeksi seluruh anggota keluarga. Juga serangan demam Chikungunya mendadak dengan masa demam lebih pendek, suhu lebih tinggi, dan hampir selalu disertai bintik-bintik kemerahan, mata merah, dan lebih sering dijumpai nyeri sendi (bukan kelumpuhan). Pada demam Chikungunya hampir tidak pernah terjadi perdarahan organ dalam seperti pada saluran cerna atau pun syok karena perdarahan.Persamaannya adalah uji tourniquet bisa positif, dan timbul bintik-bintik perdarahan, serta mimisan.

H. Pencegahan Satu-satunya cara menghindari gigitan nyamuk karena vaksin demam Chikungunya belum ada, adalah dengan mencegah kita digigit nyamuk Aedes. Selain itu bisa dilakukan pemberantasan vektor nyamuk dewasa maupun membunuh jentik nyamuk. Pemberantasan vektor nyamuk dewasa bisa dilakukan dengan racun serangga atau pengasapan/fogging dengan malathion sedangkan abatisasi digunakan untuk

memberantas jentik pada TPA (tempat penampungan air). Sarang nyamuk diberantas dengan cara PSN. 1. Abatisasi Tujuan abatisasi agar kalau sampai telur nyamuk menetas, jentik nyamuk tidak akan menjadi nyamuk dewasa. Semua TPA yang ditemukan jentik Aedes aegypti ditaburi bubuk abate sesuai dengan dosis satu sendok makanan peres (10 gram) abate untuk 100 liter air. Bubuk abate juga dituang di bak mandi. Konsekuensinya, kita jangan menyikat bak/TPA tersebut selama kurang lebih tiga bulan karena lapisan abate yang sudah terbentuk di dinding, yang berpotensi membunuh jentik nyamuk mampu bertahan sampai tiga bulan. Jika dinding TPA/bak mandi disikat sebelum tiga bulan, lapisan abate akan terkelupas dan hilang. Meskipun abatisasi bisa dilakukan di semua tempat penampungan air, secara bijaksana kita bisa melakukan abatisasi di tempat-tempat yang berpotensi nyamuk bersarang dan bertelur besar. Yaitu di tempat-tempat yang jarang digunakan atau diganti airnya. Untuk tempat-tempat lain bisa dilakukan pengurasan setiap tiga hingga tujuh hari. 2. Pemberantasan Sarang Nyamuk

PSN adalah kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam membasmi jentik nyamuk Aedes dengan cara 3M, yaitu sebagai berikut : Menguras secara teratur, terus-menerus seminggu sekali, mengganti air secara teratur tiap kurang dari seminggu pada vas bunga, tempat minum burung, atau menaburkan abate ke TPA Menutup rapat-rapat TPA Mengubur atau menyingkirkan kaleng-kaleng bekas, plastik dan barangbarang lainnya yang dapat menampung air hujan sehingga tidak menjadi sarang nyamuk. Khusus di tempat pasca-kebakaran (seperti Pasar Tanah Abang) harus segera dibersihkan dari wadah-wadah yang bisa menampung air. 3. Proteksi diri dengan salep atau gunakan kawat nyamuk Tidak seperti nyamuk-nyamuk yang lain, nyamuk itu menggigit pada siang hari. Untuk mencegahnya kita bisa menggunakan salep atau minyak yang dioles di bagian tubuh yang terbuka. Selain menggunakan salep untuk mencegah gigitan nyamuk, kita bisa menggunakan minyak sereh. Cara lain adalah dengan menggunakan kawat nyamuk di pintu-pintu dan jendela rumah. 4. Bersihkan halaman dan kebun di sekitar rumah Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih, terutama pada musim hujan seperti sekarang. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta

lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut. Dengan melakukan hal-hal di atas, sebenarnya kita sudah melakukan perlindungan tidak hanya pada demam Chikungunya tetapi juga demam berdarah yang lebih fatal dan mematikan. Tidak mustahil penyakit Demam Chikungunya datang bersama-sama dengan penyakit demam berdarah.

DAFTAR PUSTAKA

Safar,

Rosdiana.

2003.

Parasitologi

kedokteran:

Entomologi.

Padang:Fakultas

Kedokteran Universitas Baiturrahmah. http://id.wikipedia.org/wiki/chikungunya http://m.depkes.go.id/index.php? option=articles&task=viewarticle&artid=1711&itemid=3 http://m.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2521&itemid=2 http://medicastore.com/penyakit/3011/demam_chikungunya.html

10

Asiklofir
Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia : 9-[(2-hidroksietoksi)metal]guanine. C8H11N5O3 Mengandung tidak kurang dari 98.0% dan tidak lebih dari 101.0% C8H11N5O3 dihitung terhadap zat anhidrat. Asiklovir berupa serbuk kristal putih dan mempunyai tingkat kelarutan 2.5 mg/mL dalam air pada suhu 25C. pKa 2.27 dan 9.25. Secara komersial, obat tersedia juga dalam bentuk injeksi : dengan bentuk asiklovir natrium dengan bentuk serbuk kristal putih, larut dalam air. Maksimum kelarutan obat adalah >100 mg/mL pada air dengan suhu 25C, tetapi pada pH psiologis dan suhu normal tubuh 37C obat hampir tidak mengalami ionisasi sehingga maksimum kelarutan obat adalah 2.5 mg/mL. Asiklovir natrium mengandung 4.2 mEq natrium per gram asiklovir. :-

- Keterangan Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi Nama Dagang - Azovir - Danovir - Matrovir - Tyrus - Vireth - Vyrono - Acifar Indikasi

- Clinovir - Dumophar - Poviral - Vircella - Virpes - Zoter

- Clopes - Herpiclof - Quavir - Vircovir - Virpes Cream - Zovirax

- Clovika - Inavir - Scanovir - Virdam - Virtaz - Zumasid

Untuk pengobatan genital herpes simplek virus (HSV), herpes labialis (cold sores), herpes zoster (shingles), HSV encephalitis, neonatal HSV, HSV pada pasien immunokompromise, varicella zoster (chickenpox). Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian A. Dosis Berdasarkan Indikasi Obat. Note: Pada pasien Obesitas, dosis disesuaikan dengan menghitung bobot ideal pasien. 1. GENITAL HSV: I.V: anak: > 12 tahun dan dewasa (immunocompetent); dosis permulaan, gawat:5mg/kg setiap 8 jam untuk 5-7 hari. Oral:Anak: dosis awal: 40-80 mg/kg/hari terbagi dalam 3-4 dosis terbagi untuk 5-10 hari (maksimum 1 g/hari; kronis:80mg/kg/hari dalam 3 dosis terbagi (maksimum 1g/hari) dievaluasi setelah 12 bulan pengobatan Dewasa: dosis awal dan recurrence : 200 mg set. Infeksi kronik: 400 mg dua kali/hari atau 200 mg 3-5 kali/hari selama 12 bulan dan diikuti dengan mengevaluasi perkembangan pasien; 400 1200 mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi juga dapat direkomendasikan.Topikal; dewasa:dosis awal; oleskan pada permukaan. 2. HERPES LABIALIS: Topikal: anak >=12 tahun dan dewasa : Cream: digunakan 5 kali/hari selama 4 hari. 3. HERPES ZOSTER: Oral: Dewasa: 800 mg setiap 4 jam (5kali/hari) selama 7-10 hari. I.V : anak < 12 tahun;20mg/kg/dosis setiap 8 jam selama 7 hari.Anak>=12 tahun dan dewasa 10 mg/kg/dosis atau 500 mg/m/dosis setiap 8 jam selama 7 hari. 4.VARICELLA-ZOSTER (chickenpox): Oral: Anak >=2 tahun dan robot <=40 kg: 20 mg/kg/dosis (ditingkatkan sampai 800mg/dosis), 4 kali/hari selama 5 hari.Anak >40 kg dan Dewasa: 800 mg/dosis 4 kali/hari selama 5 hari. I.V.Anak <1 tahun: 10 mg/kg/dosis setiap 8 jam untuk 7-10 hari.Anak >=1 tahun dan

11

dewasa 1500mg/m/hari terbagi setiap 8 jam atau 10mg/kg/dosis setiap 8 jam selama 7-10 hari. B. Dosis Berdasarkan Penyesuaian Fungsi Ginjal Oral:ClCr 10-25 mL/menit/1.73 m2: dosis normal 800 mg setiap 4 jam;dapat diberikan 800 mg setiap 8 jam.ClCr <10 mL/menit/1.73 m: Pemberian dosis normal: 200 mg setiap 4 jam, 200 mg setiap 8 jam atau 400 mg setiap 12 jam; dapat juga diberikan 200 mg setiap 12 jam. Pemberian dosis normal 800 mg setiap 4 jam;dapat juga diberikan 800 mg setiap 12 jam. I.V: ClCr 25-50 mL/menit/1.73 m : diberikan dosis yang direkomendasikan setiap 12 jam. ClCr 10-25 mL/menit/1.73 m : diberikan dosis yang direkomendasikan setiap 24 jam. ClCr <10 mL/menit/1.73 m : diberikan 50% dari dosis yang direkomendasikan setiap 24 jam. Farmakologi Absorbsi: oral: 15-30% Distribusi: Vd: 0,8 L/kg (63.6 L) tersebar luas (otak, ginjal, paru-paru, hati, uterus, vagina, CSF) Ikatan protein: 9-33%. Metabolisme: diubah oleh enzim virus menjadi asiklovir monofosfat dan kemudian diubah menjadi difosfat kemudian trifosfat (bentuk aktif) oleh enzim sel. Bioavailabilitas: oral: 10-20% pada keadaan fungsi ginjal masih normal (bioavailabilitas menurun seiring peningkatan dosis obat). T (waktu paruh): terminal: bayi; 4 jam, anak-anak 1-12 tahun : 2-3 jam, dewasa : 3 jam. T max; dalam serum: antara 1.5-2 jam. Ekskresi: Urin (62-90% sebagian dalam bentuk utuh dan metabolitnya). Stabilitas Penyimpanan Kapsul, tablet: simpan pada suhu kamar, yaitu suhu antara 15-25C (59-77F) hindarkan dari udara lembab dan sinar matahari langsung. Cream, suspensi: simpan pada suhu kamar, yaitu suhu antara 1525C (59-77F) hindarkan dari udara lembab dan sinar matahari langsung. Ointment: simpan pada suhu kamar, yaitu suhu antara 15-25C (59-77F) simpan pada tempat kering. Injeksi: simpan serbuk obat pada suhu kamar, yaitu suhu antara 15-25C (59-77F) hindarkan dari udara lembab dan sinar matahari langsung. Pencampuran: asiklovir 500 mg dengan SWFI 10mL; jangan menggunakan air yang bebas bakteri yang terkontaminasi dengan benzil alkohol dan paraben. Untuk infus intravena: dilarutkan dalam cairan dengan konsentrasi <=7mg/ml. Konsentrai > 10mg/ml dapat meningkatkan potensi terjadinya plebitis. Hasil rekonstitusi obat akan dapat bertahan selama 12 jam pada suhu kamar. Jangan menggunakan hasil pengenceran obat jika terdapat endapan. Satu pencampuran dalam infus dapat digunakan kurang dari 24 jam. Kontraindikasi Kontraindikasi buat pasien yang mengalami reaksi hipersensitifitas pada asiklovir dan turunannya. Efek Samping Sistemik Oral : > 10% : CNS : Malaise (12%) GI : Mual (2-5%), muntah (3%), diare (2-3%). 1% - 10% : Sistemik Parentral : Dermatologi : Gatal-gatal dengan bintik-bintik merah (hives) (2%); gatal-gatal (itch) (2%); ruam (rash) (2%). GI : mual dan muntah (7%). Hepatic : Dapat meningkatkan hasil pada parameter pemeriksaan laboratorium (1-2%) Local : Inflamasi pada tempat injeksi (plebitis) (9%). Renal : Peningkatan BUN (5-10%), peningkatan kreatinin (5-10%), gagal ginjal akut. Topikal : > 10% : Dermatologi : Nyeri sedang, rasa terbakar, seperti tersengat. 1-10% : Dermatologi : Pruritus, itching Bentuk sedaan lain : < 1%. Nyeri perut, agitasi, alopecia, anafilaksis, anemia, angiodema, anoreksia, ataksia, koma, bingung, penurunan konsentrasi, delirium, desquamation, diare, intravascular coagulopathy,

12

rasa malas, bibir kering, dysarthria, encephalopaty, erythema multiform, fatigue, fever, gangguan GI, halusinasi, hematuria, hemolisis,hepatitis, hyperbilirubinemia, hypotensi, insomnia, jaundice, leukocytoclastic vaskulitis, leukositosis, leukopenia, necrosis jaringan lokal, myalgia, neutropilia, parestesia, peripheral edema, fotosensitisasi, pruritos, psikosis, gagal ginjal, seizure, somnolence, sakit tenggorokan, sindrom Stevens Johnson, trombositopenia, toksik epidermal nekrolisis, tremor, urticaria, lymfadenopati, depresi mental, gangguan penglihatan visual. Interaksi - Dengan Obat Lain : Anti jamur: ampoterisin B melawan efek asiklovir (pseudorabies) jika diberikan secara bersamaan, ketokonazol dan aciclovir mempunyai efek sinergis untuk melawan virus herpes tipe 1 dan 2. Probenezid: jika diberikan bersamaan dengan asiklovir t obat dan meningkatkan konsentrasi dari asiklovir, karena terjadi penurunan pengeluaran asiklovir lewat ginjal. Interveron: berefek sinergisme terutama untuk mengobati virus herpes tipe 1, tetapi efeknya secara klinis belum diketahui. Metotreksat: penggunaan asiklovir IV bersamaan dengan metotreksat harus mendapatkan perhatian. Zidavudin: jika diberikan secara bersamaan, dapat meningkatkan efek toksis dari asiklovir. - Dengan Makanan : Makanan tidak mengganggu absorbsi asiklovir. Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : B. Obat ini mampu menembus plasenta, tetapi pada hewan uji tidak menunjukkan adanya efek teratogenik. - Terhadap Ibu Menyusui : Dari hasil penelitian antara tahun 1984-1999, tidak menunjukkan efek yang signifikan berpengaruh pada kehamilan. Dapat diberikan saat ibu menyusui, tetapi dengan pengawasan dan jika benar benar dibutuhkan. - Terhadap Anak-anak : Keamanan, dan efikasi asiklovir untuk anak dibawah 2 tahun belum diketahui secara pasti. - Terhadap Hasil Laboratorium : Renal : meningkatkan nilai BUN dan konsentrasi serum kreatinin. Hematologi : trombositopenia, anemia, leukositosis vaskulitis, leukopenia. Hasil tes lain : meningkatnya hasil uji fungsi liver, hiperbilirubinemia. Parameter Monitoring Urinalisis; BUN; Serum Kreatinin; Enzim hati; CBC Bentuk Sediaan Kapsul, Tablet, Suspensi, Krem, Ointment, Injeksi Peringatan Hati hati jika diberikan pada pasien dengan keadaan immunocompromi; trombocytopenia purpura / hemolitic uremia sndrome (TTP/HUS) karena belum banyak informasi yang tersedia. Hati hati untuk pasien lanjut usia, gangguan ginjal, atau pasien yang mendapatkan obat nefropati lainnya. Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus -

13

Informasi Pasien Menganjurkan pasien untuk menggunakan obat sesuai yang tertera dalam etiket obat atau sesuai yang telah dianjurkan oleh dokter dan apoteker. Mengenali munculnya ESO, seperti rasa mual (untuk IV dan oral), serta munculnya gejala gejala kelainan pada kulit jika obat digunakan untuk penggunaan topikal. Menggunakan obat sesuai jadwal yang telah diberikan jika obat digunakan dengan obat lain yang berpotensi memicu munculnya interaksi obat yang merugikan. Mekanisme Aksi Asiklovir diubah menjadi asiklovir monofosfat oleh virus spesifik timidinekinase, yang kemudian lebih lanjut mengubahnya menjadi asiklovir triphosfat oleh enzim selular lainya. Asiklovir trifosfat kemudian bekerja menghambat sintesis DNA dan replikasi virus dengan cara berkompetisi dengan dioksiguanosis trifosfat pada DNA polimerase virus dan kemudian menyatu kedalam DNA virus. Monitoring Penggunaan Obat Jadwal dan kepatuhan pasien menggunakan obat. Lamanya pasien menggunakan obat. Munculnya ESO dan keluhan lain selama pasien menggunakan obat. Daftar Pustaka Drug information hand book. (DIH). 2006. AHFS DRUG. 2005. Farmakope Indonesia IV. 1995. ISO. INDONESIA. Volume 41 2006.

14