Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN VERTIGO

A. Pengertian. Vertigo berasal dari istilah latin, yaitu vertere yang berarti berputar, dan igo yang berarti kondisi. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan penderita sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa berputar atau bergerak naik turun dihadapannya. Keadaan ini sering disusul dengan muntah-muntah, bekeringat, dan kolaps. Tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran. Sering kali disertai gejala-gejala penyakit telinga lainnya. Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Banyak sistem atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai sistem diantaranya sistem vestibular, sistem visual dan sistem somato sensorik ( propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan, maka sedikitnya 2 dari 3 sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik. Pada vertigo, penderita merasa atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar namun kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang

vertikal. Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus. Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata.

B. Etiologi Berikut ini berbagai penyakit atau kelainan yang dapat menyebabkan vertigo 1. Labirin, telinga dalam 2. Vertigo Posisional paraksimal benigna (kupulolitiasis) 3. Pasca trauma 4. Penyakit Meniere 5. Labirintitis (Viral, Bakterial) 6. Toksik (misalnya oleh aminoglikosid, streptomisin, gentamisin) 7. Obstruksi peredaran darah dilabirin 8. Fistula labirin (Saraf Otak ke VIII) 9. Neuritis Iskemik 10. Infeksi, Inflamasi (misalnya oleh sifilis, herpes zoster) 11. Neuronitis Vestibular 12. Neuroma Akustik 13. Tumor lainnya disudut serebels pontin (misalnya meningioma, metasfase)

C. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala pada klien dengan vertigo yaitu : 1. Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala mual, muntah. 2. Rasa kepala berat 3. Nafsu makan turun 4. Lelah 5. Lidah pucat dengan selaput putih lengket 6. Nadi lemah 7. Puyeng (dizziness) 8. Nyeri kepala

9. Penglihatan kabur 10. Tinitus 11. Mulut pahit 12. Mata merah, mudah tersinggung 13. Gelisah Pasien Vertigo akan mengeluh jika posisi kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas.Penderita biasanya dapat mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun. Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Klasifikasi Vertigo dapat berasal dari sentral (batang otak, cerebelum atau otak) atau di perifer (telinga dalam, atau saraf vestibular). 1. Vertigo Sentral Gejala yang khas bagi gangguan di batang otak misalnya diplopia, paratesia, perubahan serisibilitas dan fungsi motorik. Biasanya pasien mengeluh lemah, gangguan koordinasi, kesulitan dalam gerak supinasi dan pronasi secara berturut-turut (dysdiadochokinesia), gangguan berjalan dan gangguan

kaseimbangan. Percobaan tunjuk hidung yaitu pasien disuruh menunjuk jari pemeriksa dan kemudian menunjuk hidungnya maka akan dilakukan dengan buruk dan terlihat adanya ataksia. Namun pada pasien dengan vertigo perifer dapat melakukan percobaan tunjuk hidung sacara normal. Penyebab vaskuler labih sering ditemukan dan mencakup insufisiensi vaskuler berulang, TIA dan stroke. Contoh gangguan disentral (batang otak, serebelum) yang dapat menyebabkan vertigo adalah iskemia batang otak, tumor difossa posterior, migren basiler. 2. Vertigo perifer Lamanya vertigo berlangsung: a) Episode (Serangan ) vertigo yang berlangsung beberapa detik. Vertigo perifer paling sering disebabkan oleh vertigo posisional berigna (VPB). Pencetusnya adalah perubahan posisi kepala misalnya berguling sewaktu tidur atau menengadah mengambil barang dirak yang lebih tinggi. Vertigo berlangsung beberapa detik kemudian mereda. Penyebab vertigo posisional berigna adalah trauma kepala, pembedahan ditelinga atau oleh neuronitis vestibular prognosisnya baik gejala akan menghilang spontan. b) Episode Vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam. Dapat dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati berulang. Penyakit meniere mempunyai trias gejala yaitu ketajaman pendengaran menurun (tuli), vertigo dan tinitus. Usia penderita biasanya 30-60 tahun pada permulaan munculnya penyakit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan penurunaan pendengaran dan kesulitan dalam berjalan Tandem dengan mata tertutup. Berjalan tandem yaitu berjalan dengan telapak kaki lurus ke depan, jika menapak tumit kaki yang satu menyentuh jari kaki lainnya dan membentuk garis lurus kedepan. Sedangkan pemeriksaan elektronistagmografi sering memberi bukti bahwa terdapat penurunan fungsi vertibular perifer. Perjalanan

yang khas dari penyakit Meniere ialah terdapat kelompok serangan vertigo yang diselingi oleh masa remisi. Terdapat kemungkinan bahwa penyakit akhirnya berhenti tidak kambuh lagi pada sebagian terbesar penderitanya dan meninggalkan cacat pendengaran berupa tuli dan timitus dan sewaktu penderita mengalami disekuilibrium (gangguan

keseimbangan) namun bukan vertigo. Penderita sifilis stadium 2 atau 3 awal mungkin mengalami gejala yang serupa dengan penyakit Meniere jadi kita harus memeriksa kemungkinana sifilis pada setiap penderita penyakit Meniere. c) Serangan Vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering dijumpai pada penyakit ini mulanya vertigo, nausea, dan muntah yang menyertainya ialah mendadak. Gejala ini berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Sering penderita merasa lebih lega namun tidak bebas sama sekali dari gejala bila ia berbaring diam. Pada Neuronitis vestibular fungsi pendengaran tidak terganggu kemungkinannya disebabkan oleh virus. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nistagmus yang menjadi lebih basar amplitudonya. Jika pandangan digerakkan menjauhi telinga yang terkena penyakit ini akan mereda secara gradual dalam waktu beberapa hari atau minggu. Pemeriksaan elektronistagmografi (ENG) menunjukkan

penyembuhan total pada beberapa penyakit namun pada sebagian besar penderita didapatkan gangguan vertibular berbagai tingkatan. Kadang terdapat pula vertigo posisional benigna. Pada penderita dengan serangan vertigo mendadak harus ditelusuri kemungkinan stroke serebelar. Nistagmus yang bersifat sentral tidak berkurang jika dilakukan viksasi visual yaitu mata memandang satu benda yang tidak bergerak dan nigtamus dapat berubah arah bila arah pandangan berubah. Pada

nistagmus perifer, nigtagmus akan berkurang bila kita memfiksasi pandangan kita suatu benda contoh penyebab vetigo oleh gangguan system vestibular perifer yaitu mabuk kendaraan, penyakit meniere, vertigo pasca trauma.

D. Patofisiologi. Anatomi Jaringan saraf yang terkait dalam proses timbulnya sindrom vertigo: 1. Reseptor alat keseimbangan tubuh yang berperan dalam proses transduksi yaitu mengubah rangsangan menjadi bioelektrokimia: Reseptor mekanis divestibulum Resptor cahaya diretina Resptor mekanis dikulit, otot dan persendian (propioseptik)

2. Saraf aferen, berperan dalam transmisi menghantarkan impuls ke pusat keseimbangan di otak: Saraf vestibularis Saraf optikus Saraf spinovestibulosrebelaris.

3. Pusat-pusat keseimbangan, berperan dalam proses modulasi, komparasi, integrasi/koordinasi dan persepsi: inti vestibularis, serebelum, kortex serebri, hypotalamusi, inti akulomotorius, formarsio retikularis Dalam kondisi fisiologi/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh yang berasal dari resptor vestibular, visual dan propioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya sinkron dan wajar akan diproses lebih lanjut secara wajar untuk direspon. Respon yang muncul beberapa penyesuaian dari otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan

sekitarnya. Tidak ada tanda dan gejala kegawatan (alarm reaction) dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik. Namun jika kondisi tidak normal/tidak fisiologis dari fungsi alat keseimbangan tubuh dibagian tepi atau sentral maupun rangsangan gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi yang wajar tidak berlangsung dan muncul tanda-tanda kegawatan dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik. Di samping itu respon penyesuaian otot-otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal dari mata disebut nistagnus. Penyebab penyakit ini belum diketahui, kemungkinan karena pemasukan cairan dan garam yang berlebihan, bekerja terlalu berat dan pengaruh emosi. Pada penyakit ini ditemukan pelebaran labirin membran mukosa disertai rusaknya sel saraf sensori pada ampula dan koklea. Biasanya yang terkena saraf telinga lainnya. Penyakit ini lazim terdapat pada penderita setengah tua, tiba-tiba mendapat serangan vertigo berat diikuti mual dan muntah. Serangan timbul beberapa jam, tetapi penderita memerlukan istirahat di tempat tidur selama dua tiga hari. Diperlukan beberapa waktu untuk dapat bekerja kembali sebab penderita masih belum bisa berjalan sempurna serta kurang percaya akan diri sendiri. Penderita dapat sembuh setelah beberapa hari, tetapi dapat juga sampai beberapa bulan. Selama serangan penderita menjadi tuli namun pulih kembali bila penyakit telah sembuh. Keluhan tinitus pada teling yang terkena sering memburuk sebelum atau selam serangan. Sayangnya banyak penderita yang makin lama makin tuli selama penyakit berjalan.

E. Komplikasi. Komplikasi penyakit vertigo ini biasanya adalah penyakit Meniere, trauma telinga dan labirimitis, epidemic atau akibat otitis media kronika. Vertigo juga dapat disebabkan karena penyakit pada saraf akustikus serebelum atau sistem kardiovaskuler.

F. Pemeriksaan Pada Penderita Vertigo 1. Tes Romberg yang dipertajam Sikap kaki seperti tandem, lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. Orang yang normal mampu berdiri dengan sikap yang romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih.

2. Tes melangkah ditempat (Stepping Test) Penderita disuruh berjalan ditempat dengan mata tertutup sebanyak 50 langkah. Kedudukan akhir dianggap abnormal jika penderita beranjak lebih dari satu meter atau badan berputar lebih dari 30 derajat 3. Salah Tunjuk (past-pointing test) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.Manuver Nylen Barang atau manuver Hallpike Penderita duduk ditempat tidur periksa lalu direbahkan sampai kepala bergantung dipinggir tempat tidur dengan sudut 300 kepala ditoleh kekiri lalu posisi kepala lurus kemudian menoleh lagi kekanan pada keadaan abnormal akan terjadi nistagmus. 4. Uji Babinsky-Weil. Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang selama setengah menit. Jika ada gangguan vestibuler unilateral, pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.

5. Tes Kalori = dengan menyemprotkan air bersuhu 300 ke telinga penderita. 6. Elektronistagmografi yaitu alat untuk mencatat lama dan cepatnya nistagmus yang timbul 7. Posturografi yaitu tes yang dilakukan untuk mengevaluasi system visual, vestibular dan somatosensorik. Pemeriksaan penunjang : 1. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin, dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. 2. Foto Rontgen tengkorak, leher, Stenvers (pada neurinoma akustik). 3. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG),Elektromiografi (EMG), Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). 4. Pencitraan: CT Scan, Arteriografi, Magnetic Resonance Imaging (MRI).

G. Penatalaksanaan. Pada fase akut penderita harus dibaringkan dan diberi Avoming 25 mg tiap 6 jam. Kalau muntah dan vertigo hebat penderita perlu dirawat di Rumah Sakit. Promethazine 25 mg dan Chlorpromazine 1,25 mg melalui IM tiap 6 jam selama 24 jam akan mengurangi muntah dan vertigo yang hebat. Pada fase tenang penderita dianjurkan untuk : 1. Mengurangi minum hanya sampai tiga gelas sehari. 2. Pantang garam. Sebagian besar penderita sembuh dengan cara tersebut diatas. Hanya sebagian kecil saja vertigonya kambuh yang memerlukan operasi pada teling yang terkena. Bilamana pendengaran masih baik dianjurkan operasi untuk menghilangkan vertigo sambil mempertahankan pendengarannya seperti : 1. Miringotomi dan pemasangan gromet dapat mengurangi vertigo. 2. Dekomprese sakus endolimfatikus untuk mengurangi tekanan di dalam labirin mukosa dapat menghilangkan vertigo.

3. Perusakan dengan ultra sonik terhadap labirin untuk mempertahankan koklea telah dicoba pula tetapi cara ini sudah banyak ditinggalkan oleh ahli THT. 4. Bilamana satu telinga tuli besar dan menyebabkan kambuhnya vertigo perusakan labirin membranosa perlu dilakukan dengan cara operasi ini penderita dibebaskan sama sekali dari vertigo sedangkan hilangnya pendengaran tidak merisaukan penderita. Vertigo posisional Benigna (VPB) Latihan : latihan posisional dapat membantu mempercepat remisi pada sebagian besar penderita VPB. Latihan ini dilakukan pada pagi hari dan merupakan kagiatan yang pertama pada hari itu. Penderita duduk dipinggir tempat tidur, kemudian ia merebahkan dirinya pada posisinya untuk membangkitkan vertigo posisionalnya. Setelah vertigo mereda ia kembali keposisi duduk \semula. Gerakan ini diulang kembali sampai vertigo melemah atau mereda. Biasanya sampai 2 atau 3 kali sehari, tiap hari sampai tidak didapatkan lagi respon vertigo. Obat-obatan : obat anti vertigo seperti miklisin, betahistin atau fenergen dapat digunakan sebagai terapi simtomatis sewaktu melakukan latihan atau jika muncul eksaserbasi atau serangan akut. Obat ini menekan rasa enek (nausea) dan rasa pusing. Namun ada penderita yang merasa efek samping obat lebih buruk dari vertigonya sendiri. Jika dokter menyakinkan pasien bahwa kelainan ini tidak berbahaya dan dapat mereda sendiri maka dengan membatasi perubahan posisi kepala dapat mengurangi gangguan. Neurotis Vestibular Terapi farmokologi dapat berupa terapi spesifik misalnya pemberian anti biotika dan terapi simtomatik. Nistagmus perifer pada neurinitis vestibuler lebih meningkat bila pandangan diarahkan menjauhi telinga yang terkena dan nigtagmus akan berkurang jika dilakukan fiksasi visual pada suatu tempat atau benda. Penyakit Meniere

Sampai saat ini belum ditemukan obat khusus untuk penyakit meniere. Tujuan dari terapi medik yang diberi adalah: Meringankan serangan vertigo: untuk meringankan vertigo dapat dilakukan upaya : tirah baring, obat untuk sedasi, anti muntah dan anti vertigo. Pemberian penjelasan bahwa serangan tidak membahayakan jiwa dan akan mereda dapat lebih membuat penderita tenang atau toleransi terhadap serangan berikutnya. Mengusahakan agar serangan tidak kambuh atau masa kambuh menjadi lebih jarang. Untuk mencegah kambuh kembali, beberapa ahli ada yang menganjurkan diet rendah garam dan diberi diuretic. Obat anti histamin dan vasodilator mungkin pula menberikan efek tambahan yang baik. Terapi bedah: diindikasikan bila serangan sering terjadi, tidak dapat diredakan oleh obat atau tindaka konservatif dan penderita menjadi infalid tidak dapat bekerja atau kemungkinan kehilangan pekerjaannya. Presbiastaksis (Disekuilibrium pada usia lanjut) Rasa tidak setabil serta gangguan keseimbangan dapat dibantu obat supresan vestibular dengan dosis rendah dengan tujuan meningkatkan mobilisasi. Misalnya Dramamine, prometazin, diazepam, pada enderita ini latihan vertibuler dan latihan gerak dapat membantu. Bila perlu beri tongkat agar rasa percaya diri meningkat dan kemungkinan jatuh dikurangi. Sindrom Vertigo Fisiologis Misalnya mabuk kendaraan dan vertigo pada ketinggian terjadi karena terdapat ketidaksesuaian antara rangsang vestibuler dan visual yang diterima otak. Pada penderita ini dapat diberikan obat anti vertigo. Strok (pada daerah yang didarahi oleh arteria vertebrobasiler) TIA: Transient Ischemic Atack yaitu stroke ringan yang gejala klinisnya pulih sempurna dalam kurun waktu 24 jam

RIND: Reversible Ischemic Neurologi Defisit yaitu penyembuhan sempurna terjadi lebih dari 24 jam. Latihan fisik vestibular pada penderita vertigo bertujuan untuk: 1. Melatih gerakan kepala yang mencetuskan vertigo atau

disekuilibrium lamban laun

untuk meningkatkan kemampuan mengatasinya secara

2. Melatih gerakan bola mata, latihan viksasi pandangan mata 3. Melatih meningkatkan kemampuan keseimbangan Contoh latihan: Berdiri tegak dengan mata dibuka, kemudian dengan mata ditutup Olah raga yang menggerakkan kepala (gerak rotasi, fleksi, eksfensi, gerak miring) Dari sikap duduk disuruh berdiri dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup Jalan dikamar atau ruangan dengan mata terbuka kemudian dengan mata tertutup Berjalan tandem Jalan menaiki dan menuruni lereng Melirikkan mata kearah horizontal dan vertical Melatih gerakan mata dengan mengikuti obyek yang bergerak dan juga menfiksasi pada objek yang diam Semua gerakan tersebut diatas harus dilakukan hati-hati.

H. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian. a) Aktivitas / Istirahat Letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak, ketegangan mata, kesulitan membaca, insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala,

sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca. b) Sirkulasi Riwayat hypertensi, denyutan vaskuler, misal daerah temporal, pucat, wajah tampak kemerahan c) Integritas Ego Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu, perubahan

ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi, kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala, mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik) d) Makanan dan cairan Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain), mual/muntah, anoreksia (selama nyeri), penurunan berat badan e) Neurosensoris Pening, disorientasi (selama sakit kepala), riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke, aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis, parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore, perubahan pada pola bicara/pola pikir, mudah terangsang, peka terhadap stimulus, penurunan refleks tendon dalam, papiledema. f) Nyeri/ kenyamanan Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis, nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus menyempit, fokus pada diri sendiri, respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah, otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.

g) Keamanan Riwayat alergi atau reaksi alergi, demam (sakit kepala), gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis, drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus). h) Interaksi sosial Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit i) Penyuluhan / pembelajaran Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga, penggunaan alkohol/obat lain termasuk kafein, kontrasepsi oral/hormone, menopause.

2. Diagnosa Keperawatan. a) Resiko jatuh, faktor risiko: kesulitan mendengar, kesulitan melihat, defisit proprioseptif, gangguan keseimbangan. b) Nausea b.d stimulasi visual yang tidak mengenakkan c) Kurang perawatan diri: makan, mandi, berpakaian, toileting b.d kerusakan neurovaskuler d) Defisit pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan klien b.d keterbatasan kognitif, kurang paparan informasi

I. Rencana Tindakan 1. Diagnosa keperawatan: Nausea berhubungan dengan stimulasi visual yang tidak mengenakkan. Batasan karakteritik: 1. Melaporkan mual 2. Sensasi tersedak 3. Peningkatan saliva 4. Peningkatan menelan 5. Merasa tak enak dimulut

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 2 jam, nausea berkurang / hilang. NOC: 1. 2. 3. Comfort level Hidration Nutritional status food finid intake

Kriteria hasil: 1. 2. 3. 4. Terdapat tanda-tanda fisik dan psikologik membaik Turgor kulit, mukosa mulut baik Tidak panas dan tidak terdapat edeme perifer Intake makanan dan minuman baik

NIC: Patient / family teaching 1. Anjurkan pasien agar pelan-pelan nafas dalam dan menelan. Untuk menurunkan rasa mual dan muntah. Nutrition Management 1. Monitor tanda - tanda malnutrisi. Tanda malnutrisi seperti kulit kering, kulit dan konjungtiva pucat (Akcley, 2011). 2. Jelaskan pentingnya mematuhi diet dan program latihan yang dianjurkan. Terapi diet dan latihan penting untuk pengobatan. 3. Pada pasien dengan nafsu makan menurun, tawarkan makan yang biasa dimakan. Semua orang menyukai makan yang biasa mereka makan, khususnya ketika mereka sakit (ORegan, 2009). 4. Siapkan pasien untuk makan. Lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan intake nutrisi (Ackley, 2011). 5. Jika klien anoreksi dan muntah karena efek samping obat-obatan, berikan cairan setiap hari dengan sedikit gula misal permen. Tindakan ini dapat membantu menstimulus saliva.

6.

Bandingkan

makanan

sehari-hari

dengan

piramida

makanan,jangan

menghilangkan kelompok makanan yang sesuai standar. Menghilangkan kelompok makanan akan menyebabkan peningkatan risiko defisiensi. 7. Observasi kemampuan makan pasien. Jika pasien ingin makan, setidaknya sediakan waktu 35 menit. Penelitian menunjukkan setidaknya memerlukan 35 menit untuk pasien makan sendiri (Simmons, Osterweil, & Schnelle, 2001). 8. Monitor intake makanan, catat persentase makanan yang dimakan (25%, 50%). Buat catatan makanan harian selama 3 hari untuk mengetahui intake aktual, konsultasi dengan ahli gizi untuk kebutuhan gizi pasien. Catatan makanan harian membantu pasien dan perawat untuk menentukan makanan yang biasa dimakan, pola makan, dan adanya defisiensi dalam diet (Shay, Shobert, & Seibert, 2009).

2. Diagnosa Keperawatan: Resiko jatuh Faktor risiko: 1. gangguan keseimbangan 2. kesulitan mendengar 3. kesulitan melihat 4. defisit proprioseptif Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam pasien diharapakan tidak jatuh NOC: 1. Safeti status: Falls Occurrence 2. Falls prevention: know ledge personal safety 3. Safety beheviour: Falls prevention Kriteria Hasil: 1. pasien mampu berdiri, d uduk, berjalan tanpa pusing 2. Klien mampu menjelaskan jika terjadi serangan dan cara mengantisipasinya

NIC: Manajemen lingkungan: Keamanan 1. Awasi dan gunakan lingkungan fisik yang aman. Untuk meningkatkan keamanan klien adan mencegah cedera. Mencegah Jatuh 1. Kaji penurunan kognitif dan fisik pasien. Penurunan kognitif dan fisik dapat meningkatkan resiko jatuh. 2. Kaji tingkat keseimbangan dan kelelahan dengan ambulasi. Mengeatahui kemampuan klien dalam mobilisasi. 3. Instruksikan pasien agar memanggil asisten ketika melakukan pergerakan. Asisten dapat memantau sejauh mana kemampuan klien.

Daftar Pustaka Ackley BJ, Ladwig GB. 2011. Nursing Diagnosis Handbook. An Evidance-Based Guide to Planning Care. Ninth Edition. United States of Amerika: Elsevier. Corwin, EJ..2009. Buku saku patofisiologi, Jakarta: EGC Doengos ME. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian. EGC; Jakarta. Lumban TSM. 2003. Vertigo Tujuh Keliling. Jakarta : FK UI Mansjoer A, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Aesculapius FKUI, EGC; Jakarta. ORegan P. 2009. Nutrition for patients in hospital. Nurs Stand; 23(23): 35-41 Shay LE, Shobert JL, Seibert D et al. 2009. Adult weight management: translating research and guidelines into practice. J Am Acad Nurse Pract; 21(4): 197206. Simmons SF, Osterweil D, Schnelle JF. 2001. Improving food intake in nursing home resident with feeding assistance: a staffing analysis. J Gerontol A Biol Sci Med Sci; 56(12): 790-794 Sudoyo AW et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Wahyudi KT. 2012. Vertigo.CDK-198; 39(10):738-741. Wilkinson.Judith M. 2007. Buku saku diagnosis keperawatan dengan intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Jakarta: EGC Wreksoatmodjo BR. Vertigo: Aspek Neurologi. CDK 2004; 144:41-46