Anda di halaman 1dari 29

PENDAHULUAN Tumor merupakan sekelompok sel-sel abnormal yang terbentuk hasil proses pembelahan sel yang berlebihan dan

tak terkoordinasi. Dalam bahasa medisnya, tumor dikenal sebagai neoplasia. Neo berarti baru, plasia berarti pertumbuhan/pembelahan, jadi neoplasia mengacu pada pertumbuhan sel yang baru, yang berbeda dari pertumbuhan sel-sel di sekitarnya yang normal. Yang perlu diketahui, sel tubuh secara umum memiliki 2 tugas utama yaitu melaksanakan aktivitas fungsional nya serta berkembang biak dengan membelah diri. Namun pada sel tumor yang terjadi adalah hampir semua energi sel digunakan untuk aktivitas berkembang biak semata. Fungsi perkembangbiakan ini diatur oleh inti sel (nucleus), akibatnya pada sel tumor dijumpai inti sel yang membesar karena tuntutan kerja yang meningkat.(4) Dari pengertian tumor diatas, tumor dibagi mejadi 2 golongan besar yaitu tumor jinak (benign) dan tumor ganas ( malignant). Tumor dalam bidang THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan) merupakan tumor yang terbentuk di telinga, hidung dan tenggorokan. Tumor hidung dan paranasal pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Tumor jinak hidung dan paranasal tersering adalah Papiloma Skuamosa, Polip Hidung dan Hemangioma.(5) Tumor jinak tenggorokan juga pada umunya jarang ditemukan. Tumor jinak laring hanya kurang lebih 5% dari semua tumor laring. Tumor laring yang tersering adalah Papiloma Laring manakala tumor jinak pada nasofaring yang tersering adalah Agiofibroma Nasofaring Belia (Angifibroma Juvenil ).(6) Sebagaimana tumor jinak tenggorokan dan hidung yang jarang ditemukan, tumor jinak telinga juga jarang ditemukan. Tumor jinak telinga yang paling sering ditemukan adalah Kista Sebasea Telinga, Osteoma Liang Telinga dan Tumor Glomus Jugularis.(4)

ANATOMI DAN FISIOLOGI

TELINGA

Telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar menangkap gelombang suara yang dirubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah. Telinga tengah merubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak. Telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh.(1,2)

Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan saluran telinga (meatus auditorius eksternus). Telinga luar merupakan tulang rawan (kartilago) yang dilapisi oleh kulit, daun telinga kaku tetapi juga lentur. (2,4)

Suara yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga. Gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga luar.

Telinga Tengah
2

Teling tengah terdiri dari gendang telinga (membran timpani) dan sebuah ruang kecil berisi udara yang memiliki 3 tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dengan telinga dalam.

Ketiga tulang tersebut adalah: Maleus (bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga) Inkus (menghugungkan maleus dan stapes) Stapes (melekat pda jendela oval di pintu masuk ke telinga dalam). Getaran dari gendang telinga diperkuat secara mekanik oleh tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval.(2,4)

Telinga tengah juga memiliki 2 otot yang kecil-kecil: Otot tensor timpani (melekat pada maleus dan menjaga agar gendang telinga tetap menempel) Otot stapedius (melekat pada stapes dan menstabilkan hubungan antara stapedius dengan jendela oval.

Jika telinga menerima suara yang keras, maka otot stapedius akan berkontraksi sehingga rangkaian tulang-tulang semakin kaku dan hanya sedikit suara yang dihantarkan. Respon ini disebut refleks akustik, yang membantu melindungi telinga dalam yang rapuh dari kerusakan karena suara.

Tuba eustakius adalah saluran kecil yang menghubungkan teling tengah dengan hidung
3

bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah. Tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan.(2,3,4)

Telinga Dalam

Telinga dalam (labirin) adalah suatu struktur yang kompleks, yang terjdiri dari 2 bagian utama: Koklea (organ pendengaran) Kanalis semisirkuler (organ keseimbangan).

Koklea merupakan saluran berrongga yang berbentuk seperti rumah siput, terdiri dari cairan kental dan organ Corti, yang mengandung ribuan sel-sel kecil (sel rambut) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut. Getaran suara yang dihantarkan dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. Sel rambut yang berbeda memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf. Gelombang saraf ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak.(2,4)

Walaupun ada perlindungan dari refleks akustik, tetapi suara yang gaduh bisa menyebabkan kerusakan pada sel rambut. Jika sel rambut rusak, dia tidak akan tumbuh kembali. Jika telinga terus menerus menerima suara keras maka bisa terjadi kerusakan sel rambut yang progresif dan berkurangnya pendengaran.

Kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan, yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan. Setiap gerakan kepala menyebabkan ciaran di dalam saluran bergerak. Gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya; hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala.

Saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan. Sel rambut ini mencetus gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan.

Jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler, (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul vertigo (perasaan berputar).(2,3,4)

HIDUNG

Hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar-masuknya udara dari dan ke paru-paru. Hidung juga memberikan tambahan resonansi pada suara dan merupakan tempat bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata.

Hidung bagian atas terdiri dari tulang dan hidung bagian bawah terdiri dari tulang rawan (kartilago). Di dalam hidung terdapat rongga yang dipisahkan menjadi 2 rongga oleh septum, yang membentang dari lubang hidung sampai ke tenggorokan bagian belakang.(1,2,5)

Tulang yang disebut konka nasalis menonjol ke dalam rongga hidung, membentuk sejumlah lipatan. Lipatan ini menyebabkan bertambah luasnya daerah permukaan yang dilalui udara.

Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir dan pembuluh darah. Luasnya permukaan dan banyaknya pembuluh darah memungkinkan hidung menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk dengan segera.(2,4)

Sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki tonjolan-tonjolan kecil seperti rambut (silia). Biasanya kotoran yang masuk ke hidung ditangkap oleh lendir, lalu disapu oleh silia ke arah lobang hidung atau ke tenggorokan. Cara ini membantu membersihkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru. Bersin secara otomatis membersihkan saluran hidung sebagai respon terhadap iritasi, sedangkan batuk membersihkan paru-paru.
5

Sel-sel penghidu terdapat di rongga hidung bagian atas. Sel-sel ini memiliki silia yang mengarah ke bawah (ke rongga hidung) dan serat saraf yang mengarah ke atas (ke bulbus olfaktorius, yang merupakan penonjolan pada setiap saraf olfaktorius/saraf penghidu). Saraf olfaktorius langsung mengarah ke otak.

PARANASALIS

Tulang di sekitar hidung terdiri dari sinus paranasalis, yang merupakan ruang berrongga dengan lubang yang mengarah ke rongga hidung. Terdapat 4 kelompok sinus paranasalis: Sinus maksilaris Sinus etmoidalis Sinus frontalis Sinus sfenoidalis.

Dengan adanya sinus ini maka: - berat dari tulang wajah menjadi berkurang - kekuatan dan bentuk tulang terpelihara - resonansi suara bertambah.

Sinus dilapisi oleh selapus lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. Partikel kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir lalu disapu oleh silia ke rongga hidung. Pengaliran dari sinus bisa tersumbat, sehingga sinus sangat peka terhadap ifneksi dan peradangan (sinusitis). (1,3,5)

TENGGOROKAN

Tenggorokan (faring) terletak di belakang mulut, di bawah rongga hidung dan diatas kerongkongan dan tabung udara (trakea). Tenggorokan terbagi lagi menjadi: - nasofaring (bagian atas) - orofaring (bagian tengah) - hipofaring (bagian bawah.

Tenggorokan merupakan saluran berotot tempat jalannya makanan ke kerongkongan dan tempat jalannya udara ke paru-paru. Tenggorokan dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. Kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir dan disapu oleh silia ke arah kerongkongan lalu ditelan. (2,3)

Tonsil (amandel) terletak di mulut bagian belakang, sedangkan adenoid terletak di rongga hidung bagian belakang. Tonsil dan adenoid terdiri dari jaringan getah bening dan membantu melawan infeksi. Ukuran terbesar ditemukan pada masa kanak-kanak dan secara perlahan akan menciut.

Pada puncak trakea terdapat kotak suara (laring), yang mengandung pita suara dan berfungsi menghasilkan suara. Jika mengendur, maka pita suara membentuk lubang berbentuk huruf V sehingga udara bisa lewat dengan bebas. Jika mengkerut, pita suara akan bergetar, menghasilkan suara yang bisa dirubah oleh lidah, hidung dan mulut sehingga terjadilah percakapan. (2)

Epiglotis merupakan suatu lembaran yang terutama terdiri dari kartilago dan terletak di atas

serta di depan laring. Selama menelan, epiglotis menutup untuk mencegah masuknya makanan dan cairan ke dalam trakea.(2,) HISTOLOGI TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN Telinga Telinga luar, aurikula terdiri atas tulang rawan elastin, yang ditutupi kulit disemua sisinya. Meatus auditorius eksterna terdiri atas epitel berlapis skuamosa, terdapat folikel rambut, kelenjar sebasea, dan kelenjar seruminosa. Satu pertiga dinding luarnya terdiri atas tulang rawan elastin dan dua pertiga dinding dalam terdiri atas tulang temporal. Membran timpani terdiri atas dua bagian yaitu pars flaksida dan pars tensa. Pars flaksida merupakan lapisan epidermis dan terdiri dari epitel selapis kuboid. Pars tensa adalah lapisan epidermis dan terdiri dari epitel selapis kuboid.

Telinga tengah, dilapisi oleh selapis epitel gepeng. Di dekat tuba eustachius berangsur berubah menjadi epitel bertingkat silindris bersilia. Tulang tulang pendengaran ( maleus, incus, dan stapes) memiliki sendi synovial dan dilapisi oleh epitel selapis gepeng. Telinga dalam, sakulus dan utrikulus terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi gepeng. Makula, daerah kecil pada dinding sakulus dan utrikulus dengan sel sel neuroepitel.Makula terdiri atas 2 jenis reseptor dan sel penyokong. Sel reseptor ( sel rambut) terdiri atas satu kinosilium dan streosilia. Sel penyokong berada di antara sel sel rambut berbentuk silindris. Otolit, endapan kristal di permukaan dan terdiri atas kalsium karbonat. Duktus semisirkularis, daerah reseptor di dalam ampula berbentuk tabung panjang dan disebut sebagai krista ampularis.Kupula berbentuk kerucut dan tidak ditutupi otolit. Duktus koklearis terbagi menjadi tiga ruangan yaitu skala vestibularis, media, dan timpani. Sria vaskularis adalah epitel vascular yang terletak pada dinding lateral duktus koklearis dan bertanggungjawab atas komposisi ion di endolimfe. Organ korti mengandung sel rambut sel rambut yang berespons terhadap berbagai frekuensi suara. Sel rambut terdapat pada membrane basiliaris. Barisan streosilia berbentuk w pada bagian luar dan berbentuk v atau linier pada bagian dalam.Tidak terdapat kinosilium. Ujung streosilia terbenam dalam membrane tektorial. (2,4)

Hidung Epitel organ pernafasan yang biasa berupa toraks bersilia, bertingkat palsu, berbeda-beda pada berbagai bagian hidung, bergantung pada tekanan dan kecepatan aliran udara, demikian pula suhu, dan derajat kelembaban udara. Mukosa pada ujung anterior konka dan septum sedikit melampaui internum masih dilapisi oleh epitel berlapis torak tanpa silia, lanjutan dari epitel kulit vestibulum. Sepanjang jalur utama arus inspirasi epitel menjadi toraks bersilia pendek dan agak ireguler. Sel-sel meatus media dan inferior yang terutama menangani arus ekspirasi memiliki silia yang panjang dan tersusun rapi. Lamina propria dan kelenjar mukosa tipis pada daerah dimana aliran udara lambat atau lemah. Jumlah kelenjar penghasil secret dan sel goblet, yaitu sumber dari mucus, sebanding dengan ketebalan lamina propria. Terdapat dua jenis kelenjar mukosa pada hidung, yakni kelenjar mukosa respiratori dan olfaktori. Mukosa respiratori berwarna merah muda sedangkan mukosa olfaktori berwarna kuning kecoklatan. Silia, struktur mirip rambut, panjangnya sekitar 5-7 mikron, terletak pada permukaan epitel dan bergerak serempak secara cepat ke arah aliran lapisan, kemudian membengkok dan kembali tegak secara lambat. (1,3,5)

epitel olfaktori, khas pada konka superior


10

Sinus paranasalis

Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan sinus sphenoid, semuanya berhubungan langsung dengan rongga hidung. Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta lamina propria yang mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang menyatu dengan periosteum. Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.

Rongga Mulut

Seluruh cavum oris dibatasi oleh membrana mukosa dengan epitel gepeng berlapis. Pada waktu embrio epitel tersebut membentuk gigi dan kelejar ludah. Cavum oris disebeleh depa dibatasi oleh suatu celah yang disebut: rima oris dengan labium superior et inferior sebagai dindingnya. Sebelah lateral cavum oris dibatasi oleh pipi dan sebelah bawah terdapat dasar mulut dengan lidahnya dan sebagi atapnya adalah palatum. Sedangkan disebelah dorsal terdapat hubungan dengan pharynx yang merupakan lubang yang disebuat faucia. Labium oris

Rongga mulut dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapis tanduk. Sel-sel permukaannya mempunyai inti dengan sedikit granul keratin di dalamnya. Pada bagian bibir dapat diamati peralihan antara epitel tanpa lapisan tanduk menjadi epitel berlapis tanduk. Lamina propria berpapil serupa pada dermis kulit dan menyatu dengan submukosa yang mengandung kelenjar-kelenjar liur kecil secara difus. Atap rongga mulut terdiri atas palatum durum dan platum mole, yang dilapisi oleh epitel berlapis gepeng sejenis. Pada palatum durum membran mukosa melekat pada jaringan tulang. Bagian pusat palatum mole adalah otot rangka dengan banyak kelenjar mukosa dalam submukosa.

11

Uvula palatina adalah sebuah tonjolan berbentuk kerucut kecil yang menjulur ke bawah dari bagian tengah batas bawah palatum mole. Bagian pusatnya adalah otot dan jaringan ikat areolar yang ditutupi oleh mukosa mulut biasa. Baik labium oris superior maupun labium oris inferior mempunyai daerah permukaan yang berbeda struktur histologisnya. Facies externa

Daerah permukaan bibir ini merupakan lanjutan kulit disekitar mulut. Maka gambaran hstologisnya sebagai kulit pula. Paling luar dilapisi oleh epidermis yang merupakan epitel gepeng berlapis berkeratin.Dibawah epidermis terdapat jaringan pengikat yang disebut corium yang membentuk tonjolan-tonjolan ke arah epidermis yang disebut sebagai papila corii. Sel-sel basal epidermis mengandung butir-butir pigmen. Seperti juga pada struktur kulit lainnya pada permukaan kulit ini dilengkapi oleh alat-alat tambahan kulit seperti glandula sudorifera, glandula sebacea dan folikel rambut. Rubrum labii

Merupakan daerah peralihan antara facies externa dan facies interna. Epitelnya merupakan lanjutan dari epidermis yang mengalami perubahan pada stratum corneumnya yang makin menipis sampai menghilang. Tetapi epitelnya semakin menebal. Lidah

Lidah adalah massa otot rangka yang ditutupi membran mukosa yang strukturnya bervariasi menurut daerah yang diamati. Serat-serat otot saling menyilang dalam 3 bidang, yang bergabung dalam berkas-berkas, biasanya dipisahkan oleh jaringan ikat. Membran mukosa melekat dengan erat pada otot, karena jaringan ikat dari lamina propria menyusup ke dalam celah-celah diantara berkas-berkas otot. Pada permukaan bawah lidah mukosanya licin. Permukaan dorsal lidah tidak teratur, dianterior ditutupi banyak tonjolan kecil yang disebut papila. Sepertiga bagian posterior permukaan dorsal lidah dipisahkan dari dua per tiga bagian anteriornya oleh batas berbentuk
12

V. Di belakang batas ini permukaan lidah berkelompok limfosit kecil: kelompok kecil limfonoduli dan tonsila lingualis, dengan limfonoduli berkumpul mengelilingi invaginasi (kriptus) dari membran mukosa. Papila Papila adalah penonjolan epitel mulut serta lamina propria yang mengambil bentuk-bentuk dan fungsi berlainan. Ada 4 jenisnya: A. Papila filiformis berbentuk kerucut menanjang, jumlahnya banyak dan tersebar diseluruh permukaan lidah. Epitel yang tidak mengandung kuncup kecap, sebagian berlapis tanduk. B. Papila fungiformis mirip jamur karena memiliki tangkai sempit dan bagian atas melebar dengan permukaannya yang licin. Papila yang mengandung kuncup kecap pada permukaan atasnya tersebar secara tidak teratur di antara papila filiformis. C. Papila foliata kurang berkembang pada manusia, terdiri atas dua atau lebih rabung (ridge) dan alur (furrow) paralel pada permukaan dorsolateral lidah. Duktus dari kelenjar serosa bermuara pada dasar alur. D. Papila sirkumvalata adalah papila sirkular yang sangat besar, dengan permukaan datarnya menonjol di atas papila lain. Papila sirkumvalata tersebar sepanjang daerah V pada bagian posterior lidah. Kelenjar serosa mensekresi lipase, untuk mencegah terbentuknya lapisan hidrofobik diatas kuncup kecap yang dapat menghambat fungsinya. Aliran sekret ini penting untuk menghanyutkan parti kel makanan dari kuncup kecap agar dapat menerima dan mengolah rangsangan baru. Selain kelenjar serosa terdapat kelenjar mukosa dan serosa kecil tersebar pada pelapis rongga mulut dengan fungsi sama yaitu menyiapkan kuncup-kuncup kecap di bagian lain dari rongga mulut: epiglotis, faring, palatum untuk berespon terhadap rangsangan pengecap. Faring

Faring merupakan rongga peralihan antara rongga mulut, sistem pernapasan dan sistem

13

pencernaan, membentuk hubungan antara bagian nasal dan faring. Faring dilapisi oleh epitel berlapis gepeng jenis mukosa, kecuali pada daerah bagian respirasi yang tidak mengalami gesekan. Daerah terakhir ini dilapisi oleh epitel bertingkat silindris bersilia bersel goblet. Faring mengandung tonsila, mukosa faring memiliki banyak kelenjar mukosa kacil dalam lapisan jaringan ikat padat. Muskular konstriktor dan longitudinalis faring terletak di luar lapisan ini.(2,3)

Laring

Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea. Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya makanan dan sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa.

Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen laring: pasangan lipatan atas membentuk pita suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.(1,2)

14

PEMBAHASAN TUMOR JINAK TELINGA KISTA SEBASEA Kista sebasea adalah suatu kantung tertutup yang ditemukan tepat dibawah kulit dan mengandung kulit mati, ekskresi kulit dan bgian-bagian kulit lainnya. Kista sebasea sering kali berasal dari selubung akar rambut (folikel) yang membengkak. Cedera pada kulit juga bias merangsang terbentuknya sebuah kista.(1,3,4) Gejala Kista ini berukuran kecil, teraba kenyal dan mudah digerakkan dan biasanya tidak menimbulkan nyeri. Warnanya bias kekuningan atau berwarna daging. Jika pecah akan mengeluarkan bahan berminyak yang menyerupai keju.(1,3) Histopatologi Ditemukan epidermis yang dilapisi epitel berlapis skuamosa dan terisi debris keratin berlapis. Pengobatan Kista sebasea biasanya dipecahkan dengan tusukan jarum atau sayatan pisau bedah dan isinya. Jika terjadi infeksi, sebelum kista dinagkat melalui pembedahan, terlebih dahulu diberikan antibiotik. (1,3) OSTEOMA LIANG TELINGA Osteoma merupakan tumor jinak mesenkim osteoblas yang terdiri dari diferensiasi jaringan tulang matur.(1) Osteoma liang telinga merupakan tumor tulang jinak yang berasal dari pars timpani tulang temporal.(2) Gejala Osteoma liang telinga biasanya asimtomatik, tetapi akan menimbulkan gejala apabila telah terjadi obstruksi liang telinga yang bisa menimbulkan gejala berupa tuli konduktif. Gejala lainnya dapat berupa otorrea, otalgia, otitis eksterna, kolesteatoma.(3,4)

15

Gambar Osteoma Liang Telinga Karakteristik Osteoma tumbuh perlahan-lahan, jinak, dan jarang multiple, bisa sesil (tidak bertangkai) atau pedunkulata (bertangkai). Dengan otoskop terlihat osteoma bersifat soliter, sifat tumor dari osteoma ini juga dapat ditentukan dengan palpasi. Secara mikroskopis, osteoma ini terbagi menjadi: (4) 1. Kompak: jenis terbanyak, padat, dan lempeng tulang dengan sedikit vena dan kanal Havers. Jika disertai dengan tulang yang sklerotik dinamakan osteoma Ivory. Osteoma kompak mempunyai dasar yang lebar dan tumbuh sangat lambat. 2. Spons: jenis yang jarang, tediri dari tulang spons, jaringan sel fibrosa, dengan

kecendrungan meluas ke diploe dan meliputi lamina internal dan eksternal tulang 3. Campuran : campuran tipe kompak dan spons Stadium Osteoma Stadium klinis untuk osteoma oleh Graham pada tahun 1982 terbagi menjadi :10 stadium 1 : tumor terlihat oleh pemeriksa, tetapi pada pasien belum menimbulkan gejala stadium 2 : menimbulkan gejala tetapi dapat dikontrol dengan pengobatan konservatif, stadium 3 : menimbulkan gejala yang memerlukan terapi pembedahan. Penatalaksanaan Penatalaksanaan osteoma liang telinga ini terbagi menjadi terapi konservatif dan terapi pembedahan. Terapi konservatif bertujuan mencegah otitis eksterna dan tuli konduktif, yang
16

disebabkan oleh akumulasi dari deskuamasi epitel skuamosa. Hal ini dapat dilakukan dengan membuang deskuamasi epitel dan dengan menggunakan antibiotik topical. Pembedahan dilakukan pada pasien dengan tuli konduktif disebabkan oleh obstruksi tulang dan pasien dengan otitis eksterna yang sulit dikontrol secara klinis.

TUMOR GLOMUS JUGULARIS Glomus jugularis merupakan kumpulan dari jaringan ganglonik dalam tulang temporalis yang berhubungan dengan jugular bulb. (1,3)

Histopatologi

Pada pemeriksaan histology glomus jugulare menunjukan suatu kemiripan dengan glomus jugulare normal. Secara sitologi tumor tersebut tidak terlalu aktif dengan hanya sidekit badan mitosis, dan tumor ini biasanya memiliki kapsula fibrosa yang tipis. Tumor tersebut juga dapat menjadi invasive dan mengakibatkan kerusakan dari tulang dan nervus fascialis didaerah sekitarnya. tumor ini juga menunjukan kecenderungan untuk melakukan penyebaran secara infiltrative melalui system udara dari sel mastoid.(4) Gejala Gejala awal biasanya mengikuti perkembangan telinga tengah dan lebih sering diabaikan. Tinnitus yang berdenyut dan tuli konduktif merupakan gejala yang paling sering timbul. Adanya suatu masa berwarna kemerahan ( the rising sun behind the drum) pada pemeriksaan rutin biasanya jarang ditemukan. Pada 30% kasus didapatkan adanya kelumpuhan otot-otot wajah. (3,4) Penatalaksanaan Terapi untuk tumor glomus dibagi menjadi (4) 1. Tidak ada terapi secara aktif dan observasi secara berkelanjutan 2. Radioterapi 3. Operasi reseksi 4. Operasi reseksi dengan perencanaan radioterapi adjuvant

17

TUMOR JINAK HIDUNG DAN SINONASAL Papiloma skuamosa

Papiloma skuamosa merupakan tumor jinak hidung yang paling sering ditemukan. Secara makroskopis mirip dengan polip, tetapi lebih vaskuler, padat dan tidak mengkilap. Terdapat 2 Jenis papiloma yaitu : 1. Eksofitik atau fungiform 2. Endofitik disebut papiloma inverted.

Berdasarkan lokasi papiloma skuamosa dapat dibahagikan kepada: a) Nasal vestibule b) Mukosa hidung c) Bawah konka

Gejala papiloma skuamosa Gejala yang paling sering adalah sumbatan hidung unilateral (64-78%), diikuti oleh sakit kepala, epistaksis, nyeri wajah, bengkak periorbita, rinore purulent, sinusitis kronik, alergi, hiposmia, gangguan penglihatan dan meningitis(1,2,5)

Histopatologi Pada pemeriksaan histologis, ditemukan jaringan serabut yang telah dewasa/matang (mature fibrous tissue) yang mengandung bermacam-macam pembuluh darah yang berdinding tipis. Pembuluh-pembuluh darah ini dilapisi dengan endothelium, namun mereka kekurangan elemen-elemen otot yang dapat berkontraksi secara normal. Inilah yang dapat menjelaskan tentang kecenderungan terjadi perdarahan.(1,3,5)

Pemeriksaan : Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan epistaksis

Pengobatan : 1.Operasi 2.Radioterapi


18

Polip hidung

Polip Hidung adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabua-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. (2) Gejala polip hidung: (2) 1. hidung rasa tersumbat. 2. rinore mulai yang jernih sampai purulen 3. hiposmia atau anosmia 4. bersin-bersin 5. rasa nyeri di hidung disertai sakit kepala di daerah frontal

Pemeriksaan fisik 1. Rinoskopi anterior a. Terlihat massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan .(2).

Gambar Polip Hidung Histopatologi

Pada epitel polip nasi terdapat hiperplasia sel goblet dan hipersekresi mukus. Terdapat juga hiperplasia sel globet, hiperplasia membran mukosa rongga hidung, Struktur stroma polip nasi dapat mempunyai vasodilatasi pembuluh darah sedikit atau banyak, variasi kepadatan tipe sel yang berbeda, seperti eosinofil, neutrofil, sel mast, plasma sel dan lain-lain.
19

Eksudasi plasma mikrovaskular berperan dalam perkembangan kronik edem pada polip nasi. Gambaran histopatologi dari polip nasi bervariasi dari jaringan yang edem dengan sedikit kelenjar sampai peningkatan kelenjar. Eosinofil dapat muncul, menandakan komponen alergi. Hal ini menunjukkan adanya proses dinamis yang nyata pada polip nasal yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti aliran udara, faktor lain yang dapat mempengarui epitel polip dan proses regenerasinya, perbedaan epitel dan ketebalannya, ukuran polip, infeksi dan alergi. (5)

Pemeriksaan tambahan 1. Naso-endoskopi 2. Pemeriksaan tomografi computer (TK, CT scan) Stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997) (2)

Sadium 1: polip masih terbatas di meatus medius Stadium 2: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung Stadium 3: polip massif

Penatalaksanaan 1. Tujuan utama pengobatan, menghilangkan keluhan-keluhan, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip. 2. Kortikosteroid 3. Ekstraksi polip (polipektomi)

Hemangioma

Hemangioma adalah suatu tumor jaringan lunak / tumor vaskuler jinak akibat proliferasi (pertumbuhan yang berlebih) dari pembuluh darah yang tidak normal dan dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah. (1,5)

Terdapat 2 jenis Hemangioma yaitu a) Hemangioma Kapilare b) Hemangioma Kavernosum

20

Gejala hemangioma hidung: a) Hidung tersumbat b) Epistaksis unilateral

Pemeriksaan : a) Massa merah - kehitaman b) Konsistensi lunak c) Terikat pada septum nasi d) Bertangkai

Gambar Hemangioma Hidung Pengobatan (3,5) a) Dilakukan Elektrokoagulasi

TUMOR JINAK TENGGOROKAN ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA

Angiofibroma Nasofaring Belia (Angifibroma Juvenil) adalah tumor jinak pada hidung bagian belakang atau tenggorokan bagian atas (nasofaring), yang mengandung pembuluh darah. . (2) Tumor ini paling sering ditemukan pada anak-anak laki yang sedang mengalami masa puber.

Gejala
21

1. Tumor ini tidak ganas, tetapi dapat merusak jaringan pada lapisan hidung dan sering menyebabkan perdarahan hidung (epistaksis, mimisan). 2. Tumor juga bisa menghalangi saluran pernafasan. 3. Jika tumbuh membesar, tumor bisa meluas ke jaringan di sekitarnya, kantung mata atau rongga kranial (rongga yang berisi otak). (2)

Pemeriksaan 1. Tumor dapat terlihat pada pemeriksaan CT scan atau MRI. 2. Biopsi mukosa hidung 3. Dengan angiografi dapat dilihat pembuluh darah yang menuju ke tumor dan kemungkinan penyebarannya ke dalam kantung mata atau rongga kranial. (2,) Histopatologi Pada pemeriksaan histologis, ditemukan jaringan serabut yang telah dewasa/matang (mature fibrous tissue) yang mengandung bermacam-macam pembuluh darah yang berdinding tipis. Pembuluh-pembuluh darah ini dilapisi dengan endothelium, namun mereka kekurangan elemen-elemen otot yang dapat berkontraksi secara normal. Inilah yang dapat menjelaskan tentang kecenderungan terjadi perdarahan. (1,6)

Gambar histopatologi Angifibroma Nasofaring Belia

22

Stadium Sebagai neoplasma dari nasofaring, stadium tumor berdasarkan pada daerah yang terlibat adalah penting untuk evaluasi individu dan pengobatannya. Different Staging System mengeluarkan untuk angiofibroma nasofaring, Chandler dan kawan-kawan merekomendasikan berdasarkan sistem stadium pada usulan sistem untuk kanker nasofaring oleh AJC : (2) Stadium I : Tumor di nasofaring. Stadium II : Tumor meluas ke rongga hidung dan atau sinus sfenoid. Stadium III : Tumor meluas kedalam antrum, sinus ethmoid, fossa pterygomaksillaris, fossa infratemporalis. Orbita dan atau pipi. Stadium IV : Tumor meluas ke rongga intrakranial.

Klasifikasi Menurut Sessions(2) Stadium IA Tumor terbatas di nares posterior dan atau ruang nasofaring. Stadium IB Tumor meliputi nares posterior dan atau ruang nasofaring dengan keterlibatan sedikitnya satu sinus paranasal. Stadium IIA Tumor sedikit meluas ke lateral menuju pterygomaxillary fossa. Stadium IIB Tumor memenuhi pterygomaxillary fossa dengan atau tanpa erosi superior dari tulang-tulang orbita. Stadium IIIA Tumor mengerosi dasar tengkorak (yakni: middle cranial fossa/pterygoid base); perluasan intrakranial minimal. Stadium IIIB Tumor telah meluas ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke sinus kavernosus.

Klasifikasi Menurut Fisch (2) Stadium I Tumor terbatas di rongga hidung dan nasofaring tanpa kerusakan tulang. Stadium II Tumor menginvasi fossa pterigomaksilaris, sinus paranasal dengan kerusakan tulang. Stadium III Tumor menginvasi fossa infratemporal, orbita dan atau regio parasellar; sisanya di lateral sinus kavernosus. Stadium IV Tumors menginvasi sinus kavernosus, regio kiasma optik, dan atau fossa

23

pituitari.

Penatalaksanaan Pengobatan perlu dilakukan jika angiofibroma tumbuh membesar, menghalangi saluran udara atau menyebabkan epistaksis menahun. 1. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat tumor. Pengangkatan tumor seringkali sulit dilakukan karena tumor terbungkus dan menyusup ke dalam, sehingga setelah pengangkatan tumor seringkali terjadi kekambuhan. 2. Embolisasi (penyumbatan arteri dengan suatu bahan) bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada tumor dan menghentikan perdarahan. Embolisasi dilakukan dengan cara menyuntikkan suatu zat ke dalam pembuluh darah untuk menyumbat aliran darah yang melaluinya. Embolisasi efektif untuk mengatasi perdarahan hidung dan tindakan ini bisa diikuti dengan pembedahan untuk mengangkat tumor. 3. Jika tumor telah menyebar ke rongga kranial dan tidak dapat diangkat melalui pembedahan, kadang dilakukan terapi penyinaran.

PAPILOMA LARING Tumor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis(2) 1. Papiloma laring juvenile, ditemukan pada anak, biasanya berbentuk multipel mengalami regresi pada waktu dewasa. 2. Pada orang dewasa biasanya berbentuk tunggal, tidak akan mengalami resolusi dan merupakan prekanker. Bentuk Junenil(2) Tumor ini dapat tumbuh pada pita suara bagian anterior atau daerah subglotik. Dapat pula tumbuh di plika ventrikularis atau aritenoid. Secara mikroskopik bentuknya seperti buah murbei, berwarna putih kelabu dan kadang-kadang kemerahan.

24

Jaringan tumor ini sangat rapuh dan kalau dipotong tidak menyebabkan perdarahan. Sifat yang menonjol dari tumor ini ialah sering tumbuh lagi setelah diangkat, sehingga operasi pengangkatan harus dilakukan berulang-ulang. Gejala 1. Suara parau, 2. Batuk, 3. Sesak nafas dan stridor apabila papiloma menutup rima glottis. Pemeriksaan Laringoskopi direk

Gambar Papiloma Laring Biopsi serta pemeriksaan patologi-anatomik. HISTOPATOLOGI Dikenal ada dua bentuk papilloma yang dikenal secara klinik pada laring, yaitu Juvenile type yang biasanya multipel dan Adult type yang biasanya tunggal. Secara histologi keduanya sulit dibedakan. Papilloma menunjukkan cabang-cabang fibrovaskular yang ditutupi oleh lapisan well differentiated stratified squamous epithelium yang tebal yang sering parakeratotik pada permukaannya. Mitosis dan focal keratosis sering dijumpai. Squamous metaplasia, dysplasia atau squamous cell carcinoma merupakan tanda tanda akan adanya keganasan. (2,6)

25

Penatalaksanaan 1. Ekstirpasi papiloma dengan bedah mikro atau sinar laser. 2. Terapi a. Vaksin dari massa tumor b. Obat anti virus c. Hormone d. Kalsium atai ID methionin (essential aminoacid) 3. Radioterapii tidak dianjurkan karena papiloma dapat berubah menjadi ganas.

TUMOR JINAK ESOFAGUS Tumor jinak esofagus biasanya jarang ditemukan. Umumnya ditemukan pada usia dewasa muda dan gejala-gejala yang timbul terjadi secara perlahan jika disbanding dengan tumor ganas esofagus. (2) Tumor jinak esofagus dapat dibagi kepada 2 golongan yaitu: 1. Tumor yang berasal dari epitel a. Papiloma b. Polip c. Adenoma d. Kista

2. Tumor yang berasal dari bukan epitel (non-epitel) a. Leiomioma (paling sering ditemukan) b. Fibromioma c. Lipomioma d. Fibroma e. Hemangioma f. Limfaangioma g. Lipoma h. Micfibroma i. Neurofibroma
26

Gejala 1. Tidak ada gejala khas 2. Gejala sumbatan timnul jika ukuran tumor membesar 3. Tidak enak di epigastrium dan substernal 4. Rasa penuh dan sakit menjalarke punggung dan bahu 5. Mual, muntah dan regurgitasi. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan radiologic a. Foto rontgen esogafus b. Foto rontgen esofagus dengan kontras barium 2. CT-scan 3. Pemeriksaan esofagoskopi(2) Histopatologi Biasanya lesi tampak sebagai penebalan mukosa seperti plak, keabu-abuan yang rata. Kemudian lesi ini berulserasi dengan kecenderungan jelas melibatkan dinding struktur melingkar dan menyebabkan penyempitan lumen. Penatalaksanaan 1. Operasi a. Teknik operasi tergantung ukuran tumor, lokasi tumor, fiksasi mukosa dan apakah lambung telah terkena

27

KESIMPULAN Tumor di bidang Telinga Hidung Tenggorokan (THT) umumnya jarang ditemukan baik tumor jinak (benign) maupun tumor ganas (malign). Tumor jinak hidung dan paranasal tersering adalah papiloma skuamosa, polip hidung dan hemangioma. Pasien dengan tumor jinak hidung umumnya dating dengan keluhan hiddung tersumbat. Secara umum penatalaksaan untuk tumor hidung yang tersering ini adalah dengan pembedahan. Tumor jinak telinga yang tersering pula adalah kista sebasea, osteoma telinga dan tumor glomus jugularis. Gejala untuk tumor telinga umumnya bias dari tanpa gejala hingga ad gejala seperti tuli konduktif dan tinnitus tergantung letak tumornya. Umumnya penatalaksanaan terbagi menjadi terapi konservatif dan terapi operatif. Tumor jinak tenggorokan paling sering adalah angiofibroma nasofaring belia, papiloma laring dan tumor jinak esofagus. Gejala bias dari tanpa gejala sehingga sumbatan jalan nafas tergantung dari besar dan letak tumor. Penatalaksanaan pula umumnya adalah pembedahan dan teknik pembedahan tergantung dari jenis dan letak tumor tersebut.

28

DAFTAR PUSTAKA 1. Ballenger JJ. Otorhinolaryngology : head ang neck surgery. 15th ed. Philadelphia:William & Wilkins 1996 2. Prof. dr. Soepardi E.A, Prof. dr. Nurbaiti I. DR.dr Jenny B. DR. Dr. Ratna D.S Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan kepala & Leher Edisi ke-6. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2007. 3. Probst R. Grevers G. Iro H. Basic Otorhinology : a step-by-step learning guide.Thime. 2006 4. Tumor Jinak Telinga available from http://medicastore.com/penyakit/976/Kelainan_Telinga_Hidung_Tenggorokan.html. 5. Tumor Jinak Hidung available from http://medicaljournal.multiply.com/journal/item/1?&show_interstitial=1&u=%2Fjour nal%2Fitem. 6. Tumor Jinak tenggorokan available from http://www.spesialis.info/index21a5.html?tumor-kerongkongan-nonkanker,1126.

29