Anda di halaman 1dari 2

Waldens Rajagukguk ANAMNESIS DAN MANIFESTASI KLINIS

Boy Panjaitan

Anamnesis Secara umum, jangan menanyakan riwayat lengkap hingga trauma yang mengancam nyawa teridentifikasi dan mendapat penatalaksanaan yang sesuai Anamnesis yang diteliti terhadap pasien harus mencakup : Kapan terjadinya trauma Penyebab trauma (jatuh, kecelakaan, perkelahian, jatuhnya benda berat dikepala) Posisi saat terjadi trauma Keadaan dan kesadaran pasien Keadaan yang dialami/dirasakan pasca trauma

Manifestasi klinis Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik adalah sebagai berikut: Nyeri Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya. Bengkak/edama Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya. Memar/ekimosis Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya. Spasme otot Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur. Penurunan sensasi Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema. Gangguan fungsi Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot. paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf. Mobilitas abnormal Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang. Krepitasi Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.

Waldens Rajagukguk Deformitas

Boy Panjaitan

Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya. Kadang-kadang tidak dapat mempertahankan kepala dalam posisi tegak (sense of instability) kepala ditopang dengan kedua tangan Deficit neurologis sangat jarang terjadi oleh karena terdapat disporporsi yang besar antara spinal cord dan spinal canal pada cervical bagian atas. Nyeri pada setiap pergerakan leher Pergerakan leher terbatas oleh karena spasme otot-otot paravertebral Nyeri pada leher bagian belakang : occipital neuralgia Nyeri leher pasca trauma, kaku leher dan gangguan pergerakan oleh karena spasme otot-otot pada vertebral. Nyeri leher yang menjalar kebahu dan kedua lengan Kelumpuhan keempat anggota gerak oleh karena penekanan atau penyempitan spinal canal atau herniasi discus Cedera pada C1 dan C2 menyebabkan ventilasi spontan tidak efektif. Pada C3-C5 dapat terjadi kerusakan nervus frenikus sehingga dapat terjadi hilangnya inervasi otot pernafasan aksesori dan otot interkostal yang dapat menyebabkan komplience paru menurun. Pada C4-C7 dapat terjadi kerusakan tulang sehingga terjadi penjepitan medula spinalis oleh ligamentum flavum di posterior dan kompresi osteosif/material diskus dari anterior yang bisa menyebabkan nekrosis dan menstimulasi pelepasan mediator kimia yang menyebabkan kerusakan myelin dan akson, sehingga terjadi gangguan sensorik motorik. Lesi pada C5-C7 dapat mempengaruhi intercostal, parasternal, scalenus, otot2 abdominal. Intak pada diafragma, otot trapezius, dan sebagian pectoralis mayor.

1. Hughes,Irvene. Advanced Trauma Life Support for Doctors (ATLS) edisi 8. Trauma tulang belakang dan medulla spinalis. Americam College of surgeons. Chicago : 2008. Hal 185 202 2. Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM.Sinopsis Ilmu Bedah Saraf : Trauma Spinal. Sagung Seto.Jakarta : 2011. Hal 31-42 3. Adhim.2010. Diagnosis dan Penanganan Fraktur Servikal.http/www.fik-unipdu.web.id.