Anda di halaman 1dari 19

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN BAB II LAPORAN KASUS BAB III PEMBAHASAN BAB IV TINJAUAN PUSTAKA BAB V KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

2 3 4 11 18 19

BAB I PENDAHULUAN

Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia. Lansia merupakan periode akhir dari kehidupan seseorang dan setiap individu akan mengalami proses penuaan dengan terjadinya perubahan pada berbagai aspek fisik/fisiologis, psikologis dan sosial. Penuaan merupakan suatu proses alami yang dihadapi oleh seluruh manusia dan tak dapat dihindarkan. Seiring dengan bertambahnya usia, fungsi organ dalam tubuh akan mengalami penurunan dimana salah satunya adalah sistem genitourinaria. Adanya penurunan fungsi dari sistem genitourinaria ini dapat menyebabkan terjadinya inkontinensia. Inkontinensia adalah pengeluaran urin atau feses tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup untuk mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau sosial. Inkontinensia dapat berupa inkontinensia urin dan inkontinensia alvi. Inkontinensia urin adalah keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya. Sedangkan inkontinensia alvi adalah keluarnya feses pada waktu yang tidak dikehendaki. Kejadian inkontinensia dapat diperparah dengan adanya imobilisasi akibat suatu penyakit, depresi, dan konsumsi obat-obatan sedatif, diuretik maupun alpha blockers. Inkontinensia dapat menimbulkan masalah fisik dan psikososial, seperti depresi, jatuh, ulkus dekubitus, dan isolasi sosial.

BAB II LAPORAN KASUS

Pak Karto usia 70 tahun dibawa ke klinik dokter keluarga oleh anak perempuannya dengan keluhan buang air kecil tidak terkendali sejak satu bulan dan buang air besar ditempat sejak satu minggu terakhir. Penderita sering marah-marah dan tidak bisa tidur sehingga sering minum obat tidur. Istrinya telah meninggal dan ia tinggal bersama anak perempuannya. Dalam melakukan aktifitas sehari-hari ia perlu dibantu orang lain. Pemeriksaan neurologi ekstremitas superior dan inferior sinistra kekuatannya menurun (3+/3+). Hasil rectal toucher dan USG didapatkan prostat tidak membesar. Pada pemeriksaan indeks barthel didapat nilai 5. Penderita juga dilakukan pemeriksaan psikiatri.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 MASALAH Identitas Pasien Nama Usia Jenis kelamin Status Pekerjaan Alamat Keluhan Utama : Pak Karto : 70 tahun : Laki-laki : Menikah ::: Buang air kecil tidak terkendali dan buang air besar ditempat

Berikut masalah yang timbul pada pasien di atas dan kemungkinan penyebabnya: Buang air kecil tidak terkendali Hal ini disebut inkotinensia urin dimana dapat disebabkan oleh: o Kelainan urologi; misalnya radang, batu, tumor, divertikel, hipertrofi prostat. o Kelainan neurologik; misalnya stroke, trauma pada medulla spinalis, demensia dan lain-lain. o Lain-lain; misalnya hambatan motilitas, situasi tempat berkemih yang tidak memadai/jauh, dan sebagainya. Buang air besar ditempat Masalah buang air besar yang tidak dapat dikontrol ini disebut inkontinensia alvi, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti konstipasi kronik, demensia, karsinoma kolon-rektum, penyakit serebrovaskuler, gastroenteritis, diverticulitis, kolitis. Sering marah-marah Gejala agitasi pada pasien dapat terjadi karena penurunan serotonin. Adapun faktor psikologis yang mempengaruhi seperti kehilangan pasangan hidup yang sesuai dengan konsisi pasien dimana istrinya telah meninggal. Obat-obatan juga dapat
4

mencetuskan agitasi, seperti obat tidur yang dikonsumsi oleh pasien (contoh: benzodiazepine). Tidak bisa tidur Dapat disebabkan karena terjadi penurunan serotonin, sehingga menyebabkan pasien cemas dan sulit tidur. Aktivitas sehari-hari perlu dibantu oleh orang lain Istri pasien sudah meninggal, dan saat ini pasien tinggal dengan anak perempuannya.

Anamnesis Tambahan : Riwayat Penyakit Sekarang Bagaimana frekuensi/intensitas buang air besar dan buang air kecil pasien? Apakah ada faktor pencetus pada gejala agitasi pasien? Sejak kapan pasien mengeluh tidak bisa tidur? Apakah ada keluhan lain yang menyertai?

Riwayat Penyakit Dahulu Kapan stroke terjadi pada pasien? Apakah pasien menderita penyakit lain seperti diabetes mellitus atau hipertensi?

Riwayat Pengobatan Obat tidur apa yang digunakan oleh pasien?

Riwayat Keluarga Apakah ada keluarga pasien yang memiliki gejala serupa?

3.2 PEMERIKSAAN FISIK Nilai Pemeriksaan neurologis ekstremitas superior dan inferior sinistra Rectal Toucher Prostat tidak membesar Normal 3+/3+ Menurun Interpretasi

Penjelasan: Pemeriksaan neurologis, terdapat penurunan pada ekstremitas superior dan inferior sinistra. Nilai pemeriksaan neurologis extremitas pada pasien yaitu 3+/3+ dimana pasien mampu melawan gravitasi, tapi tidak mampu terhadap tahanan ringan dari pemeriksa. Hal ini sesuai dengan keterangan bahwa pasien pernh mengalami riwayat stroke. Berikut adalah interpretasi nilai dari pemeriksaan neurologis ekstremitas: 1 : Kontraksi halus yang teraba saat paien berusaha kontraksi 2 : Pasien mampu gerak aktif ketika tidak melawan gravitasi 3 : Pasien mampu melawan gravitasi, tapi tidak mampu terhadap tahanan ringan dari pemeriksa 4 : Pasien mampu melawan tahanan ringan dari pemeriksa 5 : Pasien mampu melawan tahanan yang lebih berat dari pemeriksa Rectal Toucher : tidak terdapat pembesaran prostat dimana merupakan penyakit yang biasa terjadi pada pasien laki-laki usia lanjut. Sehingga menyingkirkan hipotesis inkotinensia urin yang disebabkan oleh hipertrofi prostat. 3.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG USG didapatkan prostat tidak membesar : Normal Dapat menyingkirkan etiologi inkontinensia urin yang disebabkan oleh hipertrofi prostat. Index Barthel nilai 50 : Dependent Severity Index barthel digunakan untuk menilai Activity Daily Living (ADL) pada usia lanjut. Barthel index terdiri dari 10 pengkajian, yaitu makan, bergerak dari kursi roda ke tempat tidur dan kembali lagi ke kursi roda, berdandan, mandiri ke toilet, mandi, berjalan, duduk dan berdiri, berpakaian, buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Pada pasien didapatkan nilai indeks barthel yaitu 50 yang berarti pasien mengalami ketergantungan berat terhadap orang lain dalam kegiatan sehari-harinya. Pemeriksaan psikiatri Dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat gangguan psikologis khususnya depresi pada pasien.

3.4 PATOFISIOLOGI KASUS Pada lansia inkontinensia urin berkaitan erat dengan anatomi dan fisiologi juga dipengaruhi oleh faktor fungsional, psikologis dan lingkungan. Pada tingkat yang paling
6

dasar, proses berkemih diatur oleh reflek yang berpusat berkemih di sacrum. Jalur aferen membawa informasi mengenai volume kandung kemih di medula spinalis.1 Pengisian kandung kemih dilakukan dengan cara relaksasi kandung kemih melalui penghambatan kerja saraf parasimpatis dan kontraksi leher kandung kemih yang dipersarafi oleh saraf simpatis serta saraf somatik yang mempersarafi otot dasar panggul. Pengosongan kandung kemih melalui persyarafan kolinergik parasimpatis yang menyebabkan kontraksi kandung kemih sedangkan efek simpatis kandung kemih berkurang. Jika korteks serebri menekan pusat penghambatan, akan merangsang timbulnya berkemih. Hilangnya penghambatan pusat kortikal ini dapat disebabkan karena usia ataupun pasien sudah pernah mengalami stroke sehingga mengalami inkontinensia urin. Karena dengan kerusakan dapat mengganggu koordinasi antara kontraksi kandung kemih dan relaksasi uretra yang mana gangguan kontraksi kandung kemih akan menimbulkan inkontinensia urin.2 Refleks defekasi timbul saat tinja memasuki rektum, maka peregangan rektum selanjutnya menimbulkan rangsangan sensoris pada dinding usus dan pelvis, sehingga menimbulkan gelombang peristaltik pada usus besar desenden, sigmoid dan rektum, mendorong tinja ke arah anus. Pengantaran impuls saraf ke arah distal melalui pleksus mienterikus pada bagian kaudal dinding rektum akan menyebabkan refleks inihibisi otot polos muskulus sfingter ani internus. Relaksasi sfinter ani internus ini terjadi secara proporsional terhadap volume dan kecepatan distensi rektum. Keadaan ini diikuti oleh penghambatan sfingter ani eksternus yang melibatkan jalur refleks dan fasilitasi kortikal.3 Hilangnya penghambatan pusat kortikal ini dapat disebabkan karena usia ataupun pasien sudah pernah mengalami stroke sehingga mengalami inkontinensia alvi. Tidur adalah bagian dari ritme biologis yang bekerja selama 24 jam dengan tujuan untuk mengembalikan stamina. Pengaturan tidur dan terbangun diatur oleh batang otak (Reticular Activating System dan Bulbar Synchronizing Region), thalamus dan berbagai hormon yang diproduksi oleh hipotalamus. Beberapa neurohormon dan neurotransmitter juga dihubungkan dengan tidur dan terbangun. Produksi yang dihasilkan oleh dua mekanisme serebral dalam batang otak menghasilkan serotonin. Serotonin merupakan neurotransmitter yang bertanggung jawab terhadap transfer impuls-impuls saraf ke otak. Serotonin berperan sangat spesifik dalam menginduksi rasa kantuk, juga sebagai modulator kapasitas kerja otak. Dalam tubuh serotonin diubah menhadi melatonin. Melatonin merupakan hormon katekolamin yang diproduksi secara alami dalam tubuh tanpa bantuan cahaya. Pada lansia hormon melatonin ini akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Adanya lesi pada
7

pusat pengatur tidur dan terbangun dibagian hipotalamus anterior juga dapat menyebabkan siaga dari tidur. Selain itu, katekolamin yang dilepaskan dari neuron-neuron Reticular Activating System akan menghasilkan hormon norepinerfin. Pada orang dalam keadaan stress atau cemas, kadar hormon ini akan meningkat dalam darah yang akan merangsang sistem saraf simpatik sehingga seseorang akan terus terjaga.4 Penurunan serotonin selain menyebabkan gangguan tidur, juga dapat menyebabkan seseorang menjadi agitasi. Pada pasien mengalami gejala sering marah-marah. Hal ini dapat disebabkan karena penurunan kadar serotonin. Penurunan ini diikuti dengan peningkatan dopamin akibat peningkatan produk asam amino fenilalanin. Dengan mekanisme ini, seseorang akan menjadi agitasi atau mudah marah-marah.

3.5 DIAGNOSIS KERJA Oleh karena sifat penyakit pada lansia cenderung multi patologis, juga berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis kerja pada pasien ini adalah: Inkontinensia urin dan inkontinensia alvi yang disebabkan: 1. Post stroke 2. Penuaan 3. Penggunaan obat-obatan hipnotik-sedatif 4. Depresi Dengan diagnosis banding penyebab inkontinensia urin dan inkontinensia alvi: 1. Dementia 2. Infeksi saluran kemih dan saluran cerna 3. Tumor

3.6 RENCANA PEMERIKSAAN Untuk memastikan diagnosis dan menentukan terapi, perlu dilakukan beberapa pemeriksaan yang kami anjurkan, di antaranya: 1. Pemeriksaan darah lengkap 2. Pemeriksaan rektosigmoidoskopi 3. Pemeriksaan status psikogeriatrik 4. Pemeriksaan MMSE

3.7 PENATALAKSANAAN Prinsip penatalaksanaan pada pasien geriatri adalah dengan memperhatikan aspek biopsikososial. Aspek biopsikososial merupakan parameter untuk penilaian kualitas hidup pasien geriatri. Dengan memperhatikan aspek fisik, diharapkan pasien tetap dapat aktif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki (Physical Quality). Aspem psikis memperhatikan masalah mental yang terjadi pada pasien geriatri. Pada kasus, pasien sudah kehilangan istrinya. Sehingga memungkinkan dapat terjadi gangguan psikis seperti depresi. Kondisi depresi yang berkepanjangan dapat menyebabkan dementia. Dari aspek sosial, melihat kehidupan sosial ekonomi pasien. Dalam kasus, saat ini pasien tinggal dan dirawat oleh anak perempuannya. Dengan mengetahui aspek sosial ekonomi, dapat berpengaruh terhadap perencanaan terapi pada pasien. NON MEDIKAMENTOSA 1. Inkontinensia Urin Penatalaksanaan pada inkontinensia urin secara non farmakologis bisa dilakukan dengan latihan otot dasar panggul atau latihan Kegel, agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan uretra dapat tertutup dengan baik. 2. Inkontinensia Alvi Penatalaksanaan pada inkontinensia alvi secara non farmakologis bisa dilakukan dengan latihan refleks gastrokolik. Yaitu refleks defekasi dilatih setelah ada asupan makanan. Dengan refleks gastrokolik diharapkan dapat meningkatkan refleks fisiologis untuk mengontrol motilitas dan peristaltik usus. 3. Gangguan Tidur Untuk mengatasi gangguan tidur dapat dilakukan hal-hal berikut ini: Meningkatkan melatonin dengan sinar matahari pagi hari agar ritem cicardian (siklus tidur-bangun) menjadi lebih kuat dan seimbang. Membiasakan tidur dan bangun pada jam yang sama, diusahakan tidur pada malam hari menjelang pagi. Tidak melakukan aktivitas di atas kasur seperti membaca, berpikir, dan lain-lain sebelum tidur. Memperhatikan kebersihan kamar tidur, seperti kamar tidur yang tertata rapi. Apabila penyebab tidur karena masalah fisik atau psikis, maka perlu diobati masalah yang mendasari. MEDIKAMENTOSA 1. Inkontinensia Urin
9

Secara farmakologis yaitu menggunakan obat-obatan untuk merelaksasikan kandung kemih. Ini biasanya dilakukan bila terapi non farmakologis tidak dapat menyelesaikan masalah inkontinensia urin. 2. Inkontinensia Alvi Secara farmakologis dapat digunakan loperamid dalam dosis kecil. 3. Gangguan tidur Secara farmakologis dapat digunakan obat antidepresan, contohnya doxepin dapal dosis rendah atau melatonin agonis. Kelebihan melatonin agonis antara lain dapat digunakan dalam jangka waktu panjang serta tidak ada gejala putus obat apabila dihentikan pemakaiannya.

3.8 KOMPLIKASI Apabila pasien tidak dilatih secara fisik sesuai kemampuannya, ada kemungkinan pasien mengalami imobilitas. Dengan terjadinya imobilitas dapat menyebabkan komplikasi antara lain: 1. Ulkus dekubitalis 2. Pneumonia 3. Infeksi saluran kemih 4. Trombosis vena dalam

3.9 PROGNOSIS Ad vitam : ad bonam

Kesehatan fisik pasien secara umum masih baik, tanpa disertai dengan gejala-gejala yang berat. Apabila ditatalaksana dengan baik, hasilnya akan baik pula Ad fungsionam : dubia ad malam

Pada pasien sudah pernah mengalami stroke sehingga ada kemungkinan sudah mengalami kerusakan struktur otak. Kerusakan ini bersifat irreversible sehingga prognosisnya ke arah yang kurang baik Ad sanationam : dubia ad malam

Pasien kemungkinan dapat kembali mengalami serangan stroke serta keluhan inkontinensia urin, inkontinensia alvi dan gangguan tidur dapat terulang kembali. Karena faktor penuaan, maka secara fisiologis sudah mengalami penurunan fungsional.

10

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

4.1 FISIOLOGI MIKSI Proses berkemih berlangsung dibawah control dan koordinasi sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi di daerah sakrum. Sensasi pertama ingin berkemih timbul saat volume kandung kemih atau vesica urinaria (VU) mencapai antara 150-350 ml. Kapasitas VU normal bervariasi sekitar 300-600 ml.2 Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada di bawah control volunter dan disuplai oleh saraf pudendal, sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter uretra internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom, yang mungkin dimodulasi oleh korteks otak.1 Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh berbagai refleks pada pusat berkemih. Pada fase pengisian, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis yang mengakibatkan penutupan leher VU, relaksasi dinding VU, serta penghambatan aktivitas parasimpatis dan mempertahankan inervasi somatik pada otot dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik menurun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher VU. Proses refleks ini dipengaruhi oleh sistem saraf yang lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum. Peranan korteks serebri adalah menghambat, sedangkan batak otak dan supra spinal memfalisitasi.5 Usia lanjut bukan sebagai penyebab inkontinensia urin, namun prevalensi inkontinensia urin meningkat seiring dengan peningkatan usia karena semakin banyak munculnya faktor risiko1. Faktor-faktor risiko yang mendukung terjadinya inkontinensia terkait dengan pertambahan usia adalah 6 : Mobilitas sistem yang lebih terbatas karena menurunnya pancaindera, kemunduran sistem lokomosi. Kondisi-kondisi medik yang patologik dan berhubungan dengan pengaturan urin misalnya diabetes mellitus, gagal jantung kongestif.

11

4.2 FISIOLOGI DEFEKASI Defekasi seperti pada berkemih merupakan proses fisiologis yang menyertakan kerja otot, persarafan sentral dan perifer, serta koordinasi sistem refleks. Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik colon yang membawa feses yang sudah terbentuk ke rectum untuk dikeluarkan. Feses yang masuk dan meregangkan ampulla recti akan merangsang sistem saraf otonom sehingga terjadi kontraksi rectum dan relaksasi musculus sphingter ani interna. Untuk menghindari pengeluaran feses secara spontan, terjadi kontraksi musculus sphingter ani externa dan otot dasar pelvis secara volunteer yang diinnervasi nervus pudendus. Korteks cerebri menerima rangsang keinginan untuk defekasi dan musculus sphingter ani externa diperintahkan untuk relaksasi sehingga rectum dapat mengeluarkan feses melalui anus dengan dibantu kontraksi otot dinding abdomen 7. Inkontinensia alvi adalah ketidakmampuan untuk mengontrol BAB sehingga feses secara tidak sengaja keluar dari rectum. Inkontinensia alvi menjadi peristiwa yang tidak menyenangkan berkaitan dengan usia lanjut dan lebih jarang ditemukan dibandingkan inkontinensia urin. Bentuk klinis dari inkontinensia alvi tampak dalam 2 keadaan yaitu feses cair atau belum terbentuk dan feses yang sudah terbentuk keluar. Menurut Sudoyo et al. (2009), penyebab inkontinensia alvi yaitu: a. Konstipasi Konstipasi sering dijumpai pada usia lanjut dan menjadi penyebab utama inkontinensia alvi. Konstipasi yang lama menyebabkan sumbatan dari feses yang mengeras (skibala) pada lumen anus. Hal ini menyebabkan perubahan sudut

anorektal. Kemampuan sensor menurun dan tidak bias membedakan antara flatus, cairan, atau feses sehingga feses cair merembes keluar. Selain itu, skibala mengakibatkan iritasi pada mukosa rectum sehingga mukus diproduksi yang selanjutnya dapat keluar dari anus. Penyebab konstipasi dapat diketahui dengan meraba skibala melalui pemeriksaan rectal toucher (colok dubur). b. Simtomatik

12

Inkontinensia alvi simtomatik merupakan manifestasi klinis kelainan patologis yang menyebabkan diare. Penyebab diare yang mengakibatkan inkontinensia alvi antara lain gastroenteritis, diverticulitis, kolitis, dan karsinoma kolon-rektum. c. Neurogenik Inkontinensia alvi neurogenik terjadi akibat gangguan pada fungsi menghambat dari korteks cerebri saat distensi pada rectum. Penyakit serebrovaskuler, infark cerebri, dan demensia dapat menjadi kausa.

4.3 FISIOLOGI TIDUR Berdasarkan prosesnya, terdapat dua jenis tidur. Pertama, jenis tidur yang disebabkan menurunnya kegiatan di dalam sistem pengaktivasi retikularis atau disebut dengan tidur gelombang lambat karena gelombang otaknya sangat lambat atau disebut tidur non rapid eye movement (NREM). Kedua, jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran isyarat-isyarat abnormal dari dalam otak meskipun kegiatan otak mungkin tidak tertekan secara disebut dengan jenis tidur paradoks atau tidur rapid eye movement (REM). a. Tidur gelombang lambat /non rapid eye movement (NREM) Jenis tidur ini dikenal dengan tidur yang dalam. Istirahat penuh, dengan gelombang otak yang lebih lambat, tidur nyenyak. Ciri-ciri tidur nyenyak adalah menyegarkan, tanpa mimpi atau tidur dengan gelombang delta. Ciri lainnya berada dalam keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekuensi napas menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi berkurang, metabolisme turun. Tahapan tidur jenis NREM 1) Stadium 0 adalah periode dalam keadaan masih bangun tetapi mata menutup. Fase ini ditandai dengan gelombang voltase rendah, cepat, 8-12 siklus per detik. Tonus otot meningkat. Aktivitas alfa menurun dengan meningkatnya rasa kantuk. Pada fase mengantuk terdapat gelombang alfa campuran. 2) Stadium 1 Disebut onset tidur. Ia menduduki sekitar 5% dari total waktu tidur. Pada fase ini aktivitas bola mata melambat, tonus otot menurun, berlangsung sekitar 3-5 menit.
13

Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun merasa seperti setengah tidur. 3) Stadium 2 Ditandai dengan tonus otot rendah, nadi dan tekanan darah cenderung menurun. Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Stadium ini menduduki sekitar 50% total tidur. 4) Stadium 3 Ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta, frekuensi 1-2 siklus per detik, amplitudo tinggi, dan disebut juga tidur delta. Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan bola mata. 5) Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 3 dan 4 sulit dibedakan. Stadium 4 lebih lambat dari stadium 3. Rekaman EEG berupa delta. Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur gelombang lambat atau tidur dalam. Stadium ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total. Tidur ini terjadi antara sepertiga awal malam dengan setengah malam. Durasi tidur ini meningkat bila seseorang mengalami deprivasi tidur. Tidur REM ditandai dengan rekaman EEG yang hampir sama dengan tidur stadium 1. Pada stadium ini terdapat letupan periodik gerakan bola mata cepat. Refleks tendon melemah.

b. Tidur paradoks / rapid eye movement (REM) Tidur jenis ini dapat bcrlangsung pada tidur malam yang terjadi selama 5 - 20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi 80-100 menit, akan tetapi apabila kondisi orang sangat lelah maka awal tidur sangat cepat bahkan jemis tidur ini tidak ada. Ciri tidur REM adalah sebagai berikut: 1. Biasanya disertai dengan mimpi aktif. 2. Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak. 3. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistcm pengaktivasi retikularis. 4. Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur. 5. Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur. 6. Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan tidak teratur, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat.
14

4.4 Inkontinensia Urin Gangguan ini seringkali terjadi pada usia lanjut. Pengertian inkontinensia urin adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau sosial. Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses). Selain dari pengertian serta definisi inkontinensia urin di atas ada juga yang mengartikan pelepasan urine secara tidak terkontrol dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga hal tersebut dapat juga dianggap merupakan sesuatu masalah bagi seseorang. Inkontinensia urin ini di kalangan masyarakat umum sering diartikan sebagai beser atau mengompol. Etiologi Inkontinensia Urin Etiologi atau penyebab dari inkontinensia urine ini adalah karena adanya kelemahan dari otot dasar panggul. Ini yang berkaiatan dengan anatomi dan juga fungsi organ kemih. Kelemahan dari otot dasar panggul ini bisa karena beberapa penyebab yaitu diantaranya kehamilan yang berulang-ulang, kesalahan dalam mengedan. Hal tersebut bisa mengakibatkan seseorang tersebut tidak dapat menahan air seni(beser). Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein. Penyebab inkontinensia urine antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan / keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Patofisiologi Inkontinensia Urin Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal
15

cord trauma atau bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia. Jenis Klasifikasi Inkontinensia Urin Jenis dari inkontinensia urine yaitu : 1. Inkontinensia Urgensi. Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol sebentar setelah ada peringatan ingin melakukan urinasi. Disebabkan oleh aktivitas otot destrusor yang berlebihan atau kontraksi kandung kemih yang tidak terkontrol. 2. Inkontinensia Tekanan. Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol selama aktivitas yang meningkatkan tekanan dalam lubang intra abdominal. Batuk, bersin, tertawa dan mengangkat beban berat adalah aktivitas yang dapat menyebabkan inkontinensia urine. 3. Inkontinensia Aliran Yang Berlebihan ( Over Flow Inkontinensia ). Terjadi jika retensi menyebabkan kandung kemih terlalu penuh dan sebagian terlepas secara tidak terkontrol, hal ini pada umumnya disebabkan oleh neurogenik bladder atau obstruksi bagian luar kandung kemih. 4.5 Inkontinensia Alvi Inkontinensia alvi yaitu keadaan ketika individu mengalami perubahan kebiasaan defekasi yang normal yang dikarakteristikkan dengan pasase (pengeluaran) feses yang tidak disadari. Penyebab Inkontinensia Alvi

Kerusakan otot sfingter anus Inkontinensia Alvi paling sering terjadi karena cedera pada salah satu satu atau kedua sfingter anus internal maupun eksternal yang terletak di dasar saluran anus. Cedera sfingter anus pada wanita paling sering terjadi saat pelahiran. Resiko tertinggi cedera pada anus tersebut terjadi pada pelahiran yang menggunakan alat atau jika dilakukan episiotomi garis medial. Pembedahan untuk hemoroid juga merusak sfingter tersebut.

Kerusakan saraf otot sfingter anus atau rektum Jika terjadi kerusakan saraf sensorik, pasien tidak akan merasakan adanya feses di dalam rektum dan terjadi kebocoran feses. Kerusakan saraf dapat disebabkan oleh pelahiran, akibat tekanan jangka panjang saat feses lewat,
16

stroke dan kondisi kronik yang menyerang saraf, seperti diabetes melitus dan sklerosis multipel.

Kehilangan kemampuan penyimpanan di dalam rektum Hal ini biasanya terjadi disebabkan oleh pembedahan rektum, pengobatan menggunakan radiasi dan penyakit yang menyebabkan inflamasi usus yang dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut pada dinding rektum, yang membuat rektum kaku serta tidak elastis.

Diare Feses yang cair lebih sulit diatasi daripada yang keras. Orang yang tidak inkontinensia alvi juga dapat mengalami inkontinensia alvi sementara jika sedang diare.

Disfungsi dasar panggul Hal ini meliputi penurunan sensasi rektum dan anus, prolaps rektum dan kelemahan umum dasar panggul. Jika hal tesebut terjadi karena faktor pelahiran, maka inkontinensia alvi dapat terjadi diatas 50 tahun.

Konstipasi Konstipasi diyakini sebagai penyebab utama inkontinensia fekal.

17

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami, pasien mengalami inkontinensia urin dan inkontinensia alvi. Keluarga pasien juga mengeluhkan pasien akhir-akhir ini sering marahmarah dan mengalami gangguan tidur. Pasien termasuk ke dalam golongan pasien geriatri, sehingga dalam pendekatannya dengan prinsip biopsikososial. Agar dapat menegakkan diagnosis, masih memerlukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti laboratorium darah lengkap, rektosigmoidoskopi, psikogeratrik dan MMSE. Dengan masalah yang ada pada pasien, penatalaksanaan dilakukan secara holistik dengan memperhatikan aspek biopsikososial. Kondisi pasien yang sudah mengalami stroke dan lanjut usia, prognosis fungsi dan kekambuhan pada pasien ke arah yang kurang baik. Namun demikian, dengan penatalaksanaan yang tepat, diharapkan pasien dapat aktif secara optimal sesuai dengan kemampuannya.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Shamliyan T, Wyman J, Bliss DZ, Kane RL, Wilt TJ. Prevention of Urinary and Fecal Incontinence in Adult. Evidance Report/Technology Assessment. 2007; 161: 1-379. 2. Lynn SL, Thorn D, Calhoun E. Chapter 6: Urinary Incontinence in Men, Urologic Disease in America Report. 2007. National Institute of Health. 3. Rao SS. Pathophysiology of Adult Fecal Incontinence. Gastroenterology. 2004; 126 (1 Suppl 1): S14-22. 4. Silbernagl S, Lang F. Resmisari T, Liena, Editors. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2003. 5. Setiati S. dan Pramantara I.D.P.. Inkontinensia Urin dan Kandung Kemih Hiperaktif, dalam Sudoyo A.W., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibrata K M., Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed.IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007. p. 1392-9 6. Pranaka K. Buku Ajar Boedhi Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) edisi ke 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2010. 7. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing, 2009.

19