Anda di halaman 1dari 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1.

EMBRIOLOGI1 Usus primitif dibentuk sebagai pelipatan rongga kantung kuning telur yang dilapisi endoderm mudigah ke arah sefalokaudal dan lateral. Pada bagian kepala dan ekor mudigah, terbentuk tabung berujung buntu yang masing-masing akan membentuk usus depan dan usus belakang. Bagian tengah (usus tengah) tetap berhubungan dengan kantung kuning telur melalui duktus vitellinus atau tangkai kuning telur. Usus depan akan membentuk faring, sistem pernapasan bagian bawah, esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta pankreas. Usus tengah membentuk usus halus, sebagian duodenum, sekum, appendik, kolon ascenden sampai pertengahan kolon transversum. Usus belakang meluas dari usus tengah hingga ke membran kloaka, membran ini tersusun dari endoderm kloaka, dan ektoderm dari protoderm / analpit. Usus terbentuk mulai minggu keempat disebut sebagai primitif gut. Usus belakang membentuk sepertiga distal kolon transversum, kolon desenden, sigmoid, rektum dan bagian atas kanalis ani. Bagian akhir usus belakang bermuara ke dalam kloaka, suatu rongga yang dilapisi oleh endoderm dan berhubungan langsung dengan ektoderm permukaan. Daerah pertemuan antara kedua daerah ini membentuk membran kloaka.

Gambar 1. Perkembangan Kloaka pada Embriologi

Pada perkembangan selanjutnya, timbul suatu rigi melintang, yaitu septum urorektal, pada sudut antara allantois dan usus belakang. Sekat ini tumbuh ke arah kaudal, karena itu membagi kloaka menjadi bagian depan, yaitu sinus urogenitalis primitif, dan bagian posterior, yaitu kanalis anorektalis. Ketika mudigah berumur 7 minggu, septum urorektal mencapai membran kloaka, dan di daerah ini terbentuklah korpus perinealis. Membran kloakalis kemudian terbagi menjadi membrana analis di belakang, dan membran urogenitalis di depan. Sementara itu, membrana analis dikelilingi oleh tonjolan-tonjolan mesenkim, dan pada minggu ke-8 selaput ini terletak di dasar cekungan ektoderm, yang dikenal sebagai celah anus atau proktoderm. Pada minggu ke9 membran analis koyak, dan terbukalah jalan antara rektum dengan dunia luar. Bagian atas kanalis analis berasal dari endoderm dan diperdarahi oleh pembuluh nadi hindgut, yaitu arteri mesenterika inferior. Akan, tetapi sepertiga bagian bawah kanalis analis berasal dari ektoderm dan diperdarahi oleh aa. Rektales, yang merupakan cabang dari arteri pudenda interna. Tempat persambungan antara bagian endoderm dan ektoderm dibentuk oleh linea pektinata, yang terdapat tepat di bawah kolumna analis. Pada garis ini, epitel berubah dari epitel torak menjadi epitel berlapis gepeng. Kegagalan perkembangan yang lengkap dari septum urorektalis menghasilkan anomali letak tinggi atau supra levator. Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek perkembangan proktoderm dan lipatan genital. Pada anomali letak tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal. Sedangkan otot sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau rudimenter. ANATOMI2 Trigonum analis dibatasi di belakang oleh ujung ostium coccygis, sisisisinya oleh tuber ischiadicum dan ligamentum sacrotuberale, tumpang tindih dengan batas musculus gluteus maximus. Anus terletak di garis tengah, dan di samping kanan dan kiri anus terdapat fossa ischioanalis. Kulit di sekitar anus

II.2.

dipersarafi oleh nervus rectalis (haemorrhoidalis) inferior. Pembuluh limf mengalirkan cairan limf ke kelompok medial modi inguinales superficiales. Panjang canalis analis kurang lebih 4 cm, berjalan ke bawah dan ke belakang dari ampulla recti sampai anus. Dinding lateral canalis analis dipertahankan saling berdekatan oleh musculus levator ani dan musculus sphincter ani. Di bagian posterior, canalis analis berhubungan dengan corpus anococcygeum, untuk bagian lateral berhubungan dengan fossa ischioanalis. Untuk hubungannya dengan bagian anterior, terdapat perbedaan antara lakilaki dan perempuan. Pada laki-laki, bagian anterior berbatasan dengan corpus perianale, diaphragma urogenitale, urethra pars membranacea, dan bulbus penis. Sedangkan untuk perempuan, bagian anterior berhubungan dengan corpus perianale, diaphragma urogenitale, dan bagian bawah vagina. Batas atas kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata, atau linea dentata. Di daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rektum. Infeksi yang terjadi di sini dapat menimbulkan abses, anorektum yang dapat membentuk fistel. Lekukan antarsfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis analis sewaktu melakukan colok dubur.

Gambar 2. Rektum dan Anus Tunika mukosa setengah bagian atas canalis analis dibatasi oleh epitel selapis kolumnar. Mempunyai lipatan (columnae anales) dan dihubungkan satu sama lain pada ujung bawahnya oleh plicae semilunares yang dinamakan valvulae anales. Persarafan sama seperti persarafan mukosa rektum dan berasal dari saraf otonom plexus hypogastricus. Mukosanya hanya peka terhadap regangan. Perdarahan canalis analis berasal dari arteria rectalis

superior, cabang dari arteri mesenterica inferior. Aliran darah vena terutama oleh vena rectalis superior, cabang dari vena mesenterica superior dan vena porta. Aliran limfatik terutama ke atas di sepanjang arteria rectalis superior menuju ke nodi rectales superiores dan akhirnya ke nodi mesenterici inferiores. Tunika mukosa setengah bagian bawah kanalis analis dibatasi oleh epitel berlapis gepeng yang secara bertahap bergabung dengan epidermis perianal di anus. Tidak memiliki columnae anales. Persarafan berasal dari saraf somatik nervus rectalis inferior, sehingga peka terhadap rangsang nyeri, suhu, raba, dan tekan. Perdarahan berasal dari arteria rectalis inferior, cabang dari arteri pudenda interna, sedangkan aliran vena berasal dari vena rectalis inferior, cabang vena pudenda interna yang mengalirkan darahnya ke vena iliaca interna. Aliran limf berjalan ke arah bawah melalui nodi superomediales dari nodi inguinales superficiales. Musculi sphincter ani pada canalis analis terbagi menjadi dua, musculus sphincter ani internus yang bekerja secara involuntar dan musculus sphincter ani externus yang bekerja secara voluntar. Musculus sphincter ani internus dibentuk oleh penebalan otot polos stratum circulare pada ujung atas canalis analis. Musculus sphincter ani internus diliputi oleh lapisan otot lurik yang membentuk musculus sphincter ani externus voluntar. Musculus sphincter ani externus dibagi menjadi tiga bagian, pars subcutanea, pars superfisialis, dan pars profunda.

II.3.

ATRESIA ANI DEFINISI Suatu kelainan congenital dimana menetapnya membrane anus sehingga anus tertutup. Defek ini tidak selalu total; kadangkala sebuah lubang sempit masih memungkinkan keluarnya isi usus. Bila penutupannya total anus tampak sebagai lekukan kulit perineum; keadaan ini seringkali disertai atresia rectum bagian bawah.3 Malformasi anorektal adalah salah satu kelainan kongenital berupa anus imperforata dan kloaka persisten. Anus imperforata

II.3.1.

adalah kelainan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak sempurna, sedangkan kloaka persisten diakibatkan karena pemisahan antara traktus urinarius, traktus genitalia, dan traktus digestivus tidak terjadi.4 II.3.2. EPIDEMIOLOGI Atresia ani terjadi dalam 1 dari 5000 kelahiran hidup. Hal ini terjadi apabila terjadi pembentukan yang tidak sempurna dari usus belakang, sehingga terbentuk anus imperforata dengan atau tanpa fistula yang menghubungkan rektum dengan perineum atau bagianbagian dari sistem urogenital. Cacat dapat digolongkan sebagai cacat tinggi (dengan fistula yang menghubungkan rektum dengan traktus urinarius dan alat kelamin), cacat tengah (tanpa fistula pada laki-laki, dnegan fistula ke vagina bawah atau vestibulum pada wanita), dan cacat rendah . Lesi rendah dua kali lebih sering daripada lesi tinggi, dan jenis lesi tengah paling jarang ditemuui. Kira-kira 50% anak dengan atresia ani akan menderita cacat kongenital lainnya.1,5,6

II.3.3.

ETIOLOGI Malformasi anorektal meliputi suatu spektrum kelainan kongenital, mulai dari anomali pada anus yang bersifat ringa, hingga suatu malformasi kloaka yang kompleks.7 Namun, pada kebanyakan kasus, malformasi anorektal muncul sebagai kelainan di mana tidak adanya anus.8 Penyebab atresia ani sampai saat ini masih belum jelas dan kemungkinan melibatkan multifaktorial, diduga genetik juga berperan dalam munculnya kelainan ini. Sebagian besar kasus atresia ani tersebar tanpa adanya riwayat keluarga dengan kelainan serupa, tetapi beberapa keluarga mempunyai anak dengan kelainan atresia ani. Penelitian genetis mengenai hal ini masih dalam penyelidikan.7

II.3.4.

KLASIFIKASI Konsensus international yang diadakan di Wingspread (1984) menghasilkan klasifikasi Wingspread yang membedakan malformasi anorektal pada laki-laki dan perempuan menjadi 3 golongan yaitu letak tinggi, letak intermediet dan letak rendah. Pengklasifikasian diperlukan sebagai dasar terapeutik dan prognosis.

Tabel 1. Klasifikasi menurut Wingspread Kelainan bentuk anorektum dapat ditemukan dalam berbagai macam tipe yang sampai sekarang masih belum dapat diketahui secara lengkap. Ladd dan Gross pada tahun 1934 mengajukan klasifikasi terdiri atas 4 tipe yang masih banyak digunakan oleh para ahli hingga saat ini(1,2) Tipe I: Saluran anus atau rektum bagian bawah mengalami stenosis dalam berbagai derajat. Tipe II: Terdapat suatu membran tipis yang menutupi anus karena menetapnya membran anus. Tipe III: Anus tidak terbentuk dan rektum berakhir sebagai suatu kantung yang buntu terletak pada jarak tertentu dari kulit di daerah anus

seharusnya terbentuk (lekukan anus). Merupakan Jenis yang paling sering ditemukan Tipe IV: Saluran anus dan rektum bagian bawah membentuk suatu kantung buntu yang terpisah, pada jarak tertentu dari ujung rektum yang berakhir sebagai suatu kantung buntu. Merupakan bentuk yang paling jarang dijumpai.

gambar 3. Atresia ani tanpa fistula

gambar 4. Atresia ani dengan fistula

Kelainan bentuk anorektum juga dapat dikelompokkan berdasarkan hubungan antara bagian terbawah rektum yang normal dengan otot puborektalis yang memiliki fungsi sangat penting dalam proses defekasi berdasarkan letak ujung atresia terhadap otot dasar panggul, yakni supralevator dan translevator, dikenal sebagai klasifikasi Melboume(3) Kelainan bentuk anorektum dikelompokkan menjadi: 1. kelainan letak rendah(infralevator) Pada kelainan letak rendah, rektum telah menembus levator sling sehingga jarak antara kulit dan ujung rektum paling jauh 1 cm. Muskulus sfingter ani interna dalam keadaan utuh, kelainan letak rendah lebih sering dijumpai pada bayi perempuan. Bentuk yang dapat ditemukan berupa stenosis anus, tertutupnya anus oleh suatu membran tipis yang seringkali disertai fistula anokutaneus, dan anus ektopik yang selalu terletak di anterior lokasi anus yang normal.

Gambar 5.Fistul anokutaneus(bucket handle)

anus ektopik

2. Kelainan letak tengah(intermedia) Pada kelainan letak tengah telah menembus otot puborektalis sampai sekitar satu sentimeter atau kurang dari kulit perineum. Ujung rektum mencapai tingkat m. Levator anus tetapi tidak menembusnya

.Otot sfingter ani eksterna telah terbentuk sempurna dan berada dalam keadaan berkesinambungan dengan kompleks levator. Di daerah anus seharusnya terbentuk lazim terdapat lekukan anus (anal dimple) yang cukup dalam. Pada kelainan yang jarang ditemukan ini sering terdapat fistula rektouretra, yang menghubungkan rektum yang buntu dengan uretra pars bulbaris 3. Kelainan letak tinggi(supralevator) Pada kelainan letak tinggi, rektum yang buntu terletak di atas levator sling dan juga dikenal dengan istilah agenesis rektum. Kelainan letak tinggi lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki. Pada kelainan letak tinggi terkadang terdapat fistula, yang menghubungkan antara rektum dengan perineum, saluran kemih atau vagina.

Gambar 6. Atresia ani letak rendah dan letak tinggi Jenis fistula yang dapat ditemukan pada perempuan adalah fistula anokutaneus, fistula rektoperineum dan fistula rektovagina. Fistula anokutaneus mencakup bentuk kelainan yang sebelumnya dikenal sebagai anus ektopik anterior atau fistula anoperineum. Pada fistula rektoperineum, fistula bermuara di sepanjang perineum mulai dari lekukan anus sampai pada baths vestibulum vagina. Sementara pada fistula rektovagina, lubang fistula bermuara pada fosa

navikularis, vestibulum vagina, atau bahkan pada dinding posterior vagina. Pada laki-laki dapat dijumpai dua bentuk fistula, yaitu fistula rektourinaria dan fistula rektoperineum; jenis yang pertama lebih banyak ditemukan. Sebagian besar fistula rektourinaria berupa fistula rektouretra, muara fistula terdapat di uretra pars prostatika tepat di bawah verumontagum berdekatan dengan duktus ejakulatorius. Fistula rektourinaria juga dapat dijumpai dalam bentuk fistula rektovesika, fistula ini menghubungkan rektum dengan kandung kemih pada daerah trigonum vesika. Jenis fistula ini sangat jarang ditemukan. Pada fistula rektoperineum, muara fistula terdapat di perineum di sepanjang daerah antara lekukan anus sampai batas perineoskrotum. Fistula dapat berukuran sedemikian kecil sehingga sukar ditemukan dan tidak dapat dilalui mekoneum atau berukuran cukup besar sehingga memungkinkan pengeluaran melkoneum dari rektum yang buntu. Pada kasus kelainan bentuk anorektum disertai fistula dengan ukuran cukup besar, manifestasi obstruksi usus akibat buntunya rektum tidak terjadi, karena mekoneum dapat keluar melalui fistula. Fistula dapat ditemukan pada sekitar tiga perempat kasus dan sebagian besar di antaranya terdapat pada kasus tipe III berdasarkan klasikfikasi ladd and gross.

Gambar 7. fistule yang muncul pada atresia ani

II.3.5.

PATOFISIOLOGI Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan embrional. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan adanya fistula. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperkloremia, sebaliknya feses mengalir ke arah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. Gangguan pada perkembangan struktur anorectal bermacammacam tingkatannya dengan berbagai macam kelainan, antara lain anal stenosis, rupture selaput yang anal yang tidak komplit , atau

complete failure atau anal agenesis dari bagian atas dari kloaka sampai kebawah dan kegagalan proktoderm mengalami invaginasi. Hubungan langsung antara saluran urogenital dan bagian rectal dari kloaka menyebabkan rectourethral fistule atau rectovestibular fistule.

Spincter eksternal, berasal dari mesoderm exterior, biasanya selalu ada tetapi dengan berbagai macam derajat variasi, berkisar antara otot yang kuat ( perineal atau vestibular fistule) sampai ke otot yang hampir tidak ada ( complex longcommon-channel cloaca, prostatic atau bladder-neck fistule).

II.3.6.

GEJALA KLINIS Sebagian besar bayi diketahui mengalami kelainan atresia ani saat pemeriksaan pertama setelah bayi lahir, yakni tidak ditemukan adanya lubang pada anus yang ditunjukkan kegagalan untuk mengeluarkan mekonium. Bayi akan cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir,atau ditemukannya mekoneum di perineum karena adanya fistula pada perineum. Kelainan yang sering terjadi pada pria adalah anus imperforata dengan fistula rektouretra, diikuti fistula rektoperineum, kemudian fistula rektovesika atau bladder neck. Fistula rectobladderneck terjadi 10 % dari pasien pria. Pada wanita kerusakan yang sering terjadi adalah defek rektovestibuler, fistula kutaneusperinea dan persisten kloaka. Lesi ini merupakan malformasi berspektrum luas dimana rektum, vagina, dan traktus urinarius bertemu dan bersatu membentuk satu saluran. Pada sekitar 60% kasus kelainan atresia ani dapat dijumpai kelainan bawaan pada sistem tubuh yang lain. Kelainan bawaan yang banyak dijumpai adalah penyakit jantung bawaan (75 %), atresia esofagus, hidronefrosis, kelainan vertebra, sindrom down serta kelainan jari jani tangan dan kaki. Kelainan-kelainan tersebut lebih dikenal dengan VATER atau VACTERL sindrome (vertebra, anal, cardiac, tracheooesophagaeal, Renal anomalies). Tethered cord dan kelainan vertebra lain ditemukan pada setengah pasien dengan atresia ani. Pada satu penderita dapat ditemukan lebih dari satu kelainan bawaan penyerta. Sebagian bayi dengan kelainan bentuk anorektum lahir dalam keadaan prematur.

II.3.7.

DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang teliti. Bayi dengan malformasi anorektal umumnya akan mengalami keluhan obstruksi usus dalam 24-48 jam setelah lahir. Keluhan ini terjadi akibat tidak keluarnya mekonium. Keluhan berupa perut kembung, muntah, dan tidak dapat buang air besar. Namun tidak semua bayi memiliki gejala obstruksi usus. Maka pentingnya dilakukan pemeriksaan perianal segera setelah lahir adalah untuk menghindari terjadinya gejala obstruksi usus. Cara penegakan diagnosis pada kasus atresia ani atau anus imperforata adalah semua bayi yang lahir harus dilakukan pemasukan termometer melalui anusnya, tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tapi juga untuk mengetahui apakah terdapat anus imperforata atau tidak. Inspeksi perianal sangat penting. Flat "bottom" atau flat perineum, ditandai dengan tidak adanya garis anus dan anal dimple mengindikasikan bahwa pasien memiliki otot-otot perineum yang sangat sedikit. Tanda ini berhubungan dengan malformasi anorektal letak tinggi. Hal ini sering terjadi pada bayi laki-laki. Leape (1987) menyatakan bila mekonium didadapatkan pada perineum, vestibulum atau fistel perianal maka kelainan adalah letak rendah . Bila Pada pemeriksaan fistel (-) maka kelainan adalah letak tinggi atau rendah. Test preoperative bertujuan untuk mengetahui letak fistula dan lokasi tempat kebuntuan rectum dan apakah ada lesi yang berhubungan. Untuk mengetahui keberadaan dan lokasi dari fistul cutaneus, bayi diawasi selama 24-48 jam. Mekoneum yang keluar dari perineum menunjukkan fistul cutaneus dan atresia yang terjadi adalah atresia letak rendah.

II.3.8.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan foto rontgen menurut metode Wangensteen dan Rice bermanfaat dalam usaha menentukan letak ujung rektum yang buntu. Foto diambil setelah 24 jam setelah lahir, jika kurang dari 24 jam usus bayi belum cukup berisi udara sehingga akan menghasilkan diagnosis yang tidak jelas. Bayi diletakkan dalam posisi terbalik

selama sekitar 3 menit, sendi panggul dalam keadaan sedikit ekstensi, dan kemudian dibuat foto anteroposterior dan lateral, setelah suatu petanda diletakkan pada daerah lekukan anus. Penilaian foto dilakukan terhadap letak udara di dalam rektum dalam hubungannya dengan garis pubokoksigeus dan jaraknya terhadap lekukan anus. Udara di dalam rektum yang terlihat di sebelah proksimal garis pubokoksigeus menunjukkan adanya kelainan letak tinggi.

Sebaliknya, udara di dalam rektum yang tampak di bawah bayangan tulang iskium dan amat dekat dengan petanda pada lekukan anus memberi kesan ke arah kelainan letak rendah. Pada kelainan letak tengah, ujung rektum yang buntu berada pada garis yang melalui bagian paling bawah tulang iskium sejajar dengan garis

pubokoksigeus. Dengan pemeriksaan voiding cystogram, dapat menentukan letak fistula rektouretra. Gambaran udara di dalam kandung kemih menunjukkan adanya fistula. Tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan primer anak-anak kelainan anorectal karena

kepekaannya lebih lemah dibandingkan dengan distal colostography Distal colostography, Ini menjadi satu-satunya test diagnostik paling utama yang digunakan untuk memperjelas anatomi pada semua anak-anak dengan kelainan yang memerlukan colostomy. Kateter dimasukkan kedalam tubuh ditempatkan ke distal stoma, dan balon dipompa. Kateter ditekan, dan kontras yang larut dalam air disuntik dengan tangan. Tekanan ini diperlukan untuk memperlemah tekanan dari levator otot dan untuk memasukkan kontras sehingga mengalir ke bagian paling rendah kolon dan mengetahui letak fistule.

Semua bayi yang mengalami kelainan bentuk anorektum perlu menjalani pemeriksaan foto rontgen seluruh bagian kolumna vertebralis dan urogram intravena untuk menemukan kelainan bawaan lainnya di daerah tersebut. Apabila belum sempat dilakukan pada masa prabedah, maka kedua pemeriksaan tersebut sebaiknya dikerjakan setelah dilakukan kolostomi Sacral Radiograpi. Dilakukan Untuk melihat sakrum,

posteroanterior dan lateral. Dilakukan untuk memastikan rasio sakral dan untuk melihat ada tidaknya defek pada sakral, hemivertebra dan massa presacral. Ini dilakukan sebelum operasi USG abdomen, Spesifik Untuk memeriksa saluran kemih dan untuk melihat ada tidaknya massa lain. Dilakukan sebelum operasi dan harus diulang setelah 72 jam karena USG yang lebih awal

menemukan sebab awal ultrasonography mungkin tidak cukup untuk mengesampingkan hydronephrosis akibat vesicoureteral reflux USG spinal atau MRI, CT scan Banyak anak dengan atresia ani juga memiliki kelainan tethered spinal cord.

II.3.9.

PENATALAKSANAAN Penanganan awal pada bayi dengan atresia ani adalah menghentikan asupan makanan unuk mencegah mual muntah dan dehidrasi lebih lanjut. Dekompresi dilakukan dengan Pemasangan NGT. Bentuk operasi yang diperlukan pada kelainan atresia ani letak rendah, baik tanpa atau dengan fistula, adalah anoplasti perineum, kemudian dilanjutkan dengan dilatasi pada anus yang baru selama 2-3 bulan. Tindakan ini paling baik dilakukan dengan dilator Hegar selama bayi di rumah sakit dan kemudian orang tua penderita dapat memakai jari tangan di rumah, sampai tepi anus lunak serta mudah dilebarkan. sampai daerah stenosis melunak dan fungsi defekasi mencapai keadaan normal. Konstipasi dapat dihindari dengan

pengaturan diet yang baik dan pemberian laktulose Sebelum operasi ini dikerjakan dilakukan terlebih dahulu test provokasi dengan stimulator otot untuk dapat mengidentifikasi batas spinkter ani eksternus. Pada kasus atresia letak rendah yang lain, operasi diperlukan. Tujuan dari operasi adalah untuk mengembalikan anus ke posisi yang normal dan membuat jarak antara lubang anus dengan vagina. Operasinya disebut cut back incision dan anal transposisi. Pada kelainan anorektal letak tinggi atau intermediet, setelah diagnosis ditegakkan, segera dilakukan kolostomi selanjutnya dibuatkan lopogram untuk mengetahui macam fistula. Menurut De Lorimer (1981) dan Spitz (1990) kolostomi dilakukan pada kolon sigmoid, sedangkan Spitz (1990) mengatakan kolostomi dilakukan pada kolon tranversum dekstra dengan keuntungan kolon kiri bebas, sehingga tidak terkontaminasi bila dilakukan Pull Ttrogh. Goligher cit Amri & Soedarno (1988 ) menyatakan tindakan definitif dilakukan setelah penderita berumur 6 bulan sampai 2 tahun atau berat badan minimal 10 kg. Tindakan definitif dilakukan dengan prosedur Pull Through sakroperineal dan abdomino perineal, serta posterior sagital anorektoplasti (PSARP) (De Lorimer, 1981 ; Spitz, 1990). Setelah dilakukan kolostomi, tindakan definitif berupa pembedahan

rekonstruktif akan dilakukan 3-4 bulan kemudian. Dengan alasan pasien diharapkan telah memiliki keadaan umum yang baik, fungsi peristaltis dari pasien sudah membaik. Dan komplikasi-komplikasi untuk tindakan bedah sudah teratasi seperti gangguan sirkulasi, gangguan jalan napas, dan keseimbangan cairan elektrolit telah terjaga. Metode pembedahan rekonstruktif yang dapat dilakukan adalah operasi anorektoplasti sagital posterior pada umur 8-12 bulan prosedur dilakukannya operasi yakni pemotongan muskulus levator ani dan musculus sphincter eksternus pada garis tengah sehingga memudahkan mobilisasi kantong rectum proksimal dan pemotongan

fistul apapun. Dilatasi anus baru dapat dimulai 10 hari setelah operasi dan selanjutnya dilakukan oleh orang tua di rumah, mula-mula dengan jari kelingking kemudian dengan jari telunjuk selama 2-3 bulan berikutnya disertai pengaturan diet untuk mencegah konstipasi. cukup dan pemberian obat analgesic. Penutupan kolostomi dapat dilakukan 2- 3 bulan setelah pembedahan definitif.

II.3.10.

PROGNOSIS Prognosis tergantung pada fungsi klinis, Pada atresia letak tinggi, banyak anak-anak memiliki masalah dalam mengontrol fungsi saluran cerna atau pengendalian defekasi. Sebagian besar mengalami konstipasi. Pada anak-anak dengan atresia letak rendah secara garis besar mempunyai kontrol pencernaan yang baik, tetapi dapat pula mengalami konstipasi. Prognosis dengan khusus dapat dilakukan dengan menilai kontrol defekasi, sensibilitas rektum, dan kekuatan kontraksi sfingter pada colok dubur.