Anda di halaman 1dari 47

INTISARI

HUKUM BENDA
BURGERLIJK WETBOEK
(KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA)
SURINI AHLAN SJARIF, S.H.
Pengajar Hukum Perdata Sarat
Fakultas Hukum - Universitas Indonesia
~ O B A L I A I.DO.UU
- percetakan - taka
INDONESIA
JI. Pramuka Raya 4. tel. 884814 - 883842. Jakarta Timur
Toko Buku GHAUA INDONESIA
Pusat Perdagangan Senen Blok I Lantai IV No. 27, 28, 29 tel. 357382
Cabang-cabang:
JAKARTA
SURABAYA
BANDUNG
YOGYAKARTA
SEMARANG
PALEMBANG
: JI. Pramuka Raya 4, tel 884814 - 883842
: JI. Biliton 73, tei. 40458
: JI. Sumbersari Indah No. 12-7, tel. 611494,
: JI. Soekarno - Hana
: JI. Tegalrejo Tr II125A Rt. 14
: JI. Kauman Butulan 138, tel. 26230
: JI. Dr. Cipto 35
Penyalur tunggal buku terbita[l
Peoerbit HALAI AKSARA - Peoerbit YUDHISTIRA
dan
Pu.taka SAADlY AH
CETAKAN PERTAMA MUHARRAM 1405 - OKTOBER 1984
PERANCANG KULIT BONET YULIUS
DICETAK DAN DITERBITKAN OLEH GHALIA INDONESIA
COPYRIGHT PADA GHALIA INDONESIA
HAK PENGARANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
KATA PENGANTAR
Dengan diterbitkannya buku lntisari Hukum Benda ini, bertam-
bahlah serial Intisari Hukum dalam bidang Ilmu Hukum Perdata di
samping bidang Hukum lainnya. Sebagai bahan bacaan bagi para
mahasiswa yang baru akan mempelajari Ilmu Hukum.
Pada kesempatan ini kami sampaikan ucapan terima kasih pada
Prof. R. Sardjono, S.H. selaku Pengajar Utama Hukum Perdata pada
Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang telah turut mengoreksi
naskah ini, dan khususnya kami tujukan pada Bapak Purnadi Purbaca-
raka, S.H. yang telah memberikan pengarahan serta bimbingan dalam
penyusunan buku ini.
Akhirnya ucapan terima kasih kami pada Penerbit GHALIA
INDONESIA yang telah berkenan menerbitkan buku ini.
Wassalam,
SURINI AHLAN SJARIF
KATA SAMBUTAN
Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, sebagai bahan
tingkat pertama Pendidikan Tinggi Hukum, meliputi segenap bidang
hukum. Menjadi landasan yang serba pokok (asasnya), serba dasar
(kerangkanya) dan serba umum (pengertiannya) bagi Ilmu Hukum yang
diajarkan di tingkat 1ebih tinggimaka pengajaran Pengantar Ilmu
Hukum dan Tata Hukum Indonesia seyogianya menjamin kesinam-
bungan pengetahuan mahasiswa sejak awal sampai akhir pendidikan-
nya. Ha1 ini perlu untuk mencegah kesan bahwa pengajaran Pengantar
Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia seakan-akan tidak ada
hubungannya dengan Ilmu Hukum yang diajarkan kemudian. Jaminan
kesinambungan maupun pencegahan kesan sebagaimana dikemukakan
itu kami ikhtiarkan dalam kerja sarna dengan staf pengajar yang
berperan dalam bidang Ilmu Hukum masing-masing.
Intisari hukum benda menurut Hukum Perdata Barat yang
disajikan Saudari Ny. Surini Ahlan Sjarif, S.H. dalam buku ini
merupakan terbitan ketujuh seri inti sari bidang Ilmu. Hukum masing-
masing yang digarap o1eh staf pengajar bersangkutan.
Kepada Prof. R. Sardjono, S.H. dan Prof. R. Subekti, S.H. selaku
Pengajar Utama beserta anggota staf bidang Ilmu Hukum Perdata
Fakultas Hukum Universitas Indonesia saya ucapkan terima kasih atas
kesediaan membantu kami dalam mengembangkan bidang Pengantar
Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia.
Jakarta, Maret 1984.
Purnadi Purbacaraka,S.H.
DAFTAR lSI
KATA PENGANTAR ................................................................................. 3
KATASAMBUTAN ................................................................................... 5
DAFT AR lSI .............................................................................................. 6
Bab I PENDAHULUAN ........................................................................ 7
1. Pengertian Hukum Benda dan Hukum Agrasia ...................... 7
2. Sistem Hukum Benda dan Asasnya .. .......... ...... ...... ........ ........ 7
A. Sistem Hukum Benda .... .................................................. 7
B. Asas dalam Hukum Benda .............................................. 8
3. Arti Benda dan Pembedaannya .. ................................ ........... 8
4. Sumber Hukum Benda ........................................ ............ ...... 9
Bab II IHWAL HAK KEBENDAAN ......................................................... 11
1. Pengertian Hak Kebendaan .................................................... 11
2. Ciri dan Sifat Hak Kebendaan .......... ................ .............. ........ 11'
Bab III ANEKA HAK KEBENDAAN ........................................................ 13
1. Menurut KUHP Perdata ........................................................... 13
2. Menurut Hukum Agraria (UUPA) ........................................... 18
Bab IV PERALIHAN HAK KEBENDAAN SERTA PEMBUKTIANNYA.... 21
1. Peralihan Hak Kebendaan .............................. ................ ....... 21
2. Pembuktian Hak Kebendaan ...... ...... .......... ...... ...... ........ ........ 23
LAMPIRAN:
1. Burgerlijk Wetboek, pasal 499-528 dengan terjemahan Prof. R.
Soebekti, S.H. & Tjitro Sudibio ............................................................. 25
2. Daftar Contoh Pertanyaan ..................................................................... 39
3. Silabus PIH dan PTHI. ........................................................................... 41
I. Pendahuluan
1. Pengertian Hukum Benda dan Hukum Agraria
Hukum Benda/Zaken Recht mengatur hubungan antara
subyek hukum dengan obyek hukum yang berwujud atau dengan
lain_ perkataan hukum benda mengatur hubungan hukum antara
subyek dengan benda. Dalam sistematika I1mu Hukum Perdata,
hukum benda termasuk dalam hukum harta kekayaan tentang
hak kebendaanlzakelijkrecht yaitu hak yang diikuti benda.
Adapun hukum agraria adalah bagian hukum benda yang
khusus mengenai bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya.
2. Sistem Hukum Benda dan Asasnya
A. Sistem Hukum Benda
Hukum Benda menganut sistem tertutup, artinya setiap
orang tidak dapat memperjanjikan hak lain di luar yang sudah
ditentukan, dengan lain perkataan orang tidak dapat mengada-
kan hak kebendaan baru selain yang diatur dalam Buku II
tentang benda, hal ini adalah merupakan kebalikan dari sistem
yang dianut dalam Buku Ill. KUH Perdatatentang Perikatan
yang memungkinkan para pihak untuk memperjanjikan hal-hal
di luar yang sudah diatur dalam Buku III tersebut, sepanjang
tidak bertentangan dengan undang-undang, sopan santun dan
keteitiban umum.
INTISARI HUKUM BENDA 7
B. Asas dalam Hukum Benda
lsi hak kebendaan tidak dapat dipengaruhi oleh kehendak
yang empunyaJpemilik hak tersebut, dalam hal bahwa setiap hak
kebendaan dapat dipindahtangankan, karenanya adalah tidak
mungkin memperjanjikan suatu hak kebendaan untuk tidak
dipindahtangankan, lain halnya dengan hak pribadi (persoonlijk
recht) yang memungkinkan si berpiutang/kreditur menyatakan
kehendaknya atas tagihan yang merupakan haknya, misalnya
apakah tagihan akan dialihkan atau dihapuskan terserah ke-
padanya.
3. Arti Benda dan Pembedaannya
Pengertian paling luas daripada bend a adalah segal a sesuatu
yang dapat menjadi obyek haklkewajiban. Di sini benda berarti
obyek (dalam) hukum sebagai lawan daripada subyek hukum
atau pribadi dalam hukum, yaitu pengemban hak dan kewajiban
dalam lalu-lintas hukum. Hubungan hukum antara para subyek
hukum umumnya menyangkut obyek hukum yang dapat berupa
benda berwujud. Obyek hukum sebagai harta kekayaan seseo-
rang meliputi juga kepentingan-kepentingan yang berupa pre stasi
atau tagihanllunasan atas piutang/utang maupun hasil kreasi
sebagai obyek hak cipta. Undang-undang mengatur pelbagai
perbedaan arti benda:
1. a. Benda yang dapat diganti misalnya uang.
b. Benda yang tidak dapat diganti misalnya seekor kuda
pacuan.
2. Benda yang dapat diperdagangkan misalnya mobil.
3. a. Benda yang dapat dibagi misalnya beras.
b. Benda yang tidak dapat dibagi misalnya seekor kuda.
4. Pembedaan yang terpenting ialah pembedaan dalam benda
bergerakllepas dan benda tak bergerakltetap yang dibedakan
atas:
a. benda bergerak karena sifatnya, menu rut pasal 509 KUH
Perdata ialah bend a yang dapat dipindahkan misalnya meja,
kursi;
8 INTISARI HUKUM BENDA
b. benda bergerak karena ketentuan Undang-undang pasal
511 KUH Perdata misalnya "hak" memungut hasil (hasil
yang dipungut) dari benda bergerak;
c. benda tak bergerak karena sifatnya misalnya tanah dan
segala sesuatu yang melekat di atasnya;
d. bend a tak bergerak karena ketentuan Undang-undang,
pasal 508 KUH Perdata misalnya vruchtgebruik atas benda
tak bergerak;
e. benda tak bergerak karena tujuan pemakaiannya ialah
segala apa yang meskipun tidak sungguh-sungguh digabung-
kan dengan tanah/bangunan dimaksudkan untuk mengikuti
tanah atau bangunan itu untuk w a ~ t u yang lama misalnya
mesin-mesin dalam suatu pabrik.
Pembedaan sub 4 adalah pembedaan yang terpenting yaitu
dalam 4 (empat) hal:
1. Bezit terhadap benda bergerak sebagaimana diatur dalam
pasal 1977 KUH Perdata yaitu bezitter suatu benda bergerak
berlaku sebagai eigenaar benda tersebut, tidak demikian
halnya dengan bezitter atas benda tak bergerak.
2. Mengenai levering benda bergerak dapat dilakukan dengan
penyerahan langsung (fisik) sedangkan bagi benda tak berge-
rak dilakukan dengan prosedur balik nama.
3. Verjaring/daluwarsa bagi benda bergerak tidak dikenal, sebab
bezit at as benda bergerak dianggap sarna dengan eigendom
atas benda bergerak, sedangkan bagi benda tak bergerak
dikenal adanya daluwarsa yang mungkin menghapuskan hak
atau menimbulkan hak.
4. Mengenai pembebanan terhadap benda bergerak sebagai
jaminan utang harus dilakukan dengan pand sedangkan
terhadap benda tidak bergerak harus. dilakukan dengan
"hipotek" .
4. Sumber Hukum Benda
Sumber tertulis Hukum Benda sebelum tahun 1960 hanyalah
yang tertuang di dalam KUH Perdata Buku II tentang benda
INTlSARI HUKUM BENDA 9
dimulai pasal 499 KUH Perdata sampai dengan pasal 829 KUH
Perdata. Sejak tahun 1960 dengan berlakunya Undang-undang
Pokok Agraria maka segala aturan yang mengenai bumi, air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang termuat di
dalam KUH Perdata dihapuskan kecuali aturan-aturan yang
mengenai hipotek. Dengan demikian maka pada saat ini hukum
benda terdapat dalam 2 (dua) ketentuan tertulis, di samping
hukum benda ad at yang belum terliputltercakup dalam Undang-
unda'ng No.5 Tahun 1960. Maka di luar hal yang menyangkut
bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya,
Hukum Benda Barat dimuat dalam KUH Perdata, khususnya
tentang benda bergerak, selain yang terdapat dalam Hukum
Adat.
10 INTISARI HUKUM BENDA
II. Ihwal Hak Kebendaan
1. Pengertian Hak Kebendaan
Yang dimaksud dengan hak kebendaan adalah hak atas
suatu benda yang merupakan kekuasaan langsung dan dapat
dipertahankan terhadap siapa pun, karena itu dapat juga disebut
hak jamak arah. Hak kebendaan bersifat mutlak/absolut sebagai
lawan dari hak perseorangan/pribadi yang nisbi/relatif yang
hanya dapat dipertahankan terhadap pribadi tertentu atau
dengan lain perkataan yang hanya menimbulkan kewajiban pad a
pihak tertentu, karena itu dapat juga disebut sebagai hak searah.
2. Ciri dan Sifat Hak Kebendaan
a. Hak kebendaan merupakan hak yang mutlak/jamak arah
dalam arti dapat dipertahankan terhadap siapapun.
b. Hak kebendaan mempunyai zaaksgevolg atau droit de suit
artinya hak terse but diikuti benda pada siapa hak terse but
berada: hak diikuti benda.
Misal:
A mempunyai hak vruchtgebruik atas rumah B, kemudian
B menjual rumah terse but kapada C maka A di sini tetap
dapat melakukan hak vruchtgebruiknya terhadap C sebagai
eigenaar yang baru atas rumah tersebut.
c. Ciri lain mengenai hak kebendaanadalah hal prioritas (yang
lebih dahulu) terjadinya, tingkat hak yang lebih dahulu lebih
INTISARI HUKUM BENDA 11
tinggi dari hak yang terjadi kemudian.
Misal:
Seorang eigenaar menghipotekkan tanahnya, kemudian
tanah tersebut diberikan pada orang lain dengan hak
memungut hasil, maka di sini hak hipotek masih tetap ada
pad a tanah yang dibebani hak memungut hasil, karena hak
hipotek tersebut lebih tinggi. tingkatannya.
d. Bak kebendaan berupa droit de preference atau hak dida-
hulukan.
Misal:
A mempunyai hak memungut hasil atas barang milik B,
kemudian B jatuh pail it maka A masih tetap bisa memper-
tahankan haknya tersebut,
Hak memungut hasil dapat diperiakukan terhadap siapa
pun tanpa dipengaruhi oleh faillissement.
e. Pada hak kebendaan orang mempunyai macam-macam aksi
sebagai cara untuk mengatasi gangguan terhadap haknya.
Misalnya:
1. Penuntutan kembali oleh pemilik benda semula.
2. Penuntutan ganti rugi terhadap siapa yang mengganggu
haknya.
Gugatan yang menyangkut hak kebendaan disebut gugat
kebendaan.
f. Ciri lain adalah bahwa pemindahan hak kebendaan itu harus
dilakukan secara penuh.
Sedang dalam hak perseoranganlpribadi kemungkinan pemin-
dahan hak tidak dapat secara penuh karena pada hak
perseorangan/pribadi, kekuasaan at as suatu bend a milik orang
lain tidak boleh dipindahkan pad a pihak ketiga.
Misalnya:
Seorang pen yew a tidak boleh memindahkanhak sewanya
pada pihak lain.
12 INTISARI HUKUM BENDA
III. Aneka Hak Kebendaan
1. Menurut KUH Perdata
A. Bezit
Pengertian bezit ialah suatu keadaan senyatanya sese orang
menguasai bend a seolah-olah kepunyaan sendiri, yang dilindungi
oleh hukum dengan tidak memasalahkan asal benda terse but.
Dari pengertian bezit dapat diambil kesimpulan bahwa bezit
mempunyai 2 (dua) anasir:
1. Penguasaan langsung.
2. Kemauan memiliki.
Dalam hal itu pengertian bezit harus dibedakan dengan detentia,
seorang "detentor" (penyewa misalnya) tidak mempunyai anasir
kemauan untuk memihki benda yang disewanya.
Macam-macam bezit.
Dilihat dari sudut bezitter ada 2 (dua) macam bezit:
1. Bezitter tegoede trouwlberitikad baik yaitu seorang yang
menguasai suatu benda karena membehnya dalam suatu
pelelangan umum yang mungkin hasil curian.
2. Bezitter tekwader trouwlberitikad buruk yaitu seorang me-
nguasai suatu benda, sedang ia tahu bahwa benda tersebut
hasil curian/kejahatan.
Cara memperoleh bezit.
a. Benda bergerak yang diperoleh secara langsung dengan
INTISARI HUKUM BENDA 13
pengambilan benda tersebut dari tempat semula sehingga
terang dan tegas kemauan untuk memiliki.
b. Benda bergerak yang diperoleh secara pengoperan yaitu
dengan cara penyerahan langsung dari bezitter lama ke
bezitter baru barang-barang dalam gudang cukup dengan
penyerahan kunci.
c. Benda tak bergerak perolehannya dapat secara langsung
misalnya untuk sebidang tanah seorang harus mendudukil
menguasai tanah tersebut secara terus-menerus selama satu
tahun dengan tidak mendapat gangguan dari orang lain/pihak
lain (annaal bezit).
Benda tak bergerak yang diperoleh secara pengoperan cukup
dengan suatu pernyataan beJaka.
B. Eigendom
Pengertian eigendom adalah suatu hak yang paling sempurna
atas suatu benda.
Seorang yang mempunyai hak eigendom dapat memperlaku-
kan apa saja terhadap bend a yang dimilikinya, menggadaikan
menjual bahkan merusaknya asal saja tidak bertentangan dengan
undang-undang atau hak orang lain.
Semula memang hak eigendom dipandang sebagai sungguh-
sungguh mutlak dalam arti yang tidak terbatas, tetapi daJam
perkembangannya timbuJ pengertian tentang asas kemasyarakat-
an, maka hak eigendom yang bersifat mutlak itu pun dibatasi.
Hal ini pun tercantum dalam Undang-undang tentang Pokok-
pokok Agraria, UU No.5 Tahun 1960, yang menyatakan semua
hak atas tanah mempunyai fungsi sosiaJ.
Cara memperoleh hak eigendom:
1. Pengambilan (membuka tanah).
2. Natrekking (suatu bend a bertambah karena perubahan alam).
3. Lewatnya waktulverjaring.
4. Penyerahan overdrachtllevering.
14 INTISARI HUKUM BENDA
c. Naburige Erven
Pengertian naburige erven adalah hak dan kewajiban antara
pemilik pekarangan yang satu dengan pemilik pekarangan yang
lainnya yang bertetangga.
Pada pekarangan yang berbatasan seringkali sedemikian
sifatnya sehingga seorang eigenaar harus membiarkan tetangga-
nya untuk berbuat sesuatu demi untuk kepentingan pekarangan-
nya misalnya sebatang pohon milik A menjulur ke arah peka-
ranga!1 milik B, dalam hal ini B berhak memotong dahan yang
melintas ke pekarangannya.
D. Erfdienstbaarheid
Pengertian erfdienstbaarheid adalah suatu kewajiban yang
dibebankan atas pemilik suatu pekarangan untuk keperluan
suatu pekarangan lainnya yang berbatasan. Misalnya A harus
mengizinkan B (tetangganya) untuk membuat saluran air yang
melintasi pekarangannya (A).
E. Vrucht Gebruik
Pengertian vrucht gebruik ialah suatu hak kebendaan untuk
menarik hasil dari benda milik orang lain dengan kewajiban
untuk menjaga supaya benda itu tetap dalam keadaan semula.
Vrucht gebruik hanya dapat diberikan at as benda yang tidak
akan hilang/berkurang karena pemakaiannya yaitu benda yang
tidak dapat diganti.
Hak vrucht gebruik selalu diberikan secara pribadi karen a
hak itu dengan sendirinya beralih kembali, jika pemegang vrucht
gebruik meninggal (hak vrucht gebruik tidak dapat diwariskan).
F. Gebruik & Bewoning
Gebruik & Bewoning berarti pemakaian/penggunaan dan
menempati/mendiami.
Mengenai gebruik & bewoning diatur dalam pasal 818 KUH
Perdata tetapi pasal tersebut tidak memberikan petunjuk apakah
isi haknya. Pengertian hak pemakaian ialah hak kebendaan yang
INTISARI HUKUM BENDA 15
hampir mendekati hak vruchtgebruik/hak pungut hasil tetapi
lebih sempit lingkupnya dalam arti bahwa hak tersebut bertujuan
untuk dipergunakan demi kepentingan orang yang berhak sendiri
atau keluarganya. Jadi hanya orang yang diberi hak saja yang
boleh mempergunakan benda yang dibebani hak pemakaian dan
menarik hasil sebagai tempat tinggal maka hak itu disebut Recht
van Bewoning pasal 826 KUH Perdata.
Hak ini berakhir dengan sendirinya jika pemegang haknya
meninggal dunia atau ditetapkan jangka waktu berakhirnya
dalam akte, dalam praktek hak ini jarang dijumpai.
G. Bevoorechte (in-)Schulden
Bevoorechte (in-)schulden adalah piutang yang diistimewakan
(privilege) .
Arti privilege menurut pasal 1134 KUH Perdata adalah suatu
kedudukan istimewa dari seorang penagih/kreditur yang dibe-
undang-undang melihat sifat piutangnya. Walaupun privile-
ge mempunyai sifat yang menyerupai pand atau hipotek tetapi
privilege tidak tepat disebut hak kebendaan, karena privilege
baru timbul jika kekayaan yang dijadikan jaminan sudah disita
dan ternyata tidak untuk melunasi semua hutang, di laIn
pihak privilege tidak memberikan kekuasaan langsung atas suatu
benda. Seorang penagih tidak dapat menyita suatu bend a tanpa
memegang titel executoriaal suatu putusan hakim.
Privilege berbeda dengan hipotek dan pand karena privilege
itu bij wet atau dengan undang-undang sehingga sifat
s.ebagai sesuatu akibat hukum yang untuk kepentingan umum
dilekatkan undang-undang kepada perbuatan hukum para pihak
terhadap hal-hal yang diperkenankan terhadap pihak ketiga
(privilege tidak memberikan hak kebendaan tetapi lebih kuat
dari hak menagih pad a umumnya).
H. Pand dan Hipotek
Pand dan Hipotek adalah hak kebendaan yang memberikan
kekuasaan langsung atas suatu benda tidak untuk dipakai tetapi
sebagai jaminan atas piutang seseorang.
16 INTISARI HUKUM BENDA
Pand adalah suatu hak kebendaan atas suatu benda bergerak
kepunyaan orang lain, yang semata-mata diciptakan dengan
menyerahkan benda tersebut, bertujuan untuk menjamin pelu-
nasan suatu hutang (pasal 1150 KUH Perdata).
Pand dinamakan hak accesoirelikutan artinya hak itu tergan-
tung dari adanya suatu perjanjian pokok, yaitu hutang-piutang
yang dijamin dengan hak tersebut.
Obyek dari Pand adalah bend a bergerak kepunyaan orang
yang berhutang dan atau pihak ketiga. Menurut undang-undang,
Pand baru lahir dengan penyerahan bend a yang dijadikan
jaminan/tanggungan oleh pandgeverldebitur kepada pandnemerl
kreditur. Penyerahan benda, oleh undang-undang dianggap
sebagai syarat mutlak untuk terbitnya suatu Pando
Syarat bahwa yang dijadikan jaminan harus diserahkan
secara langsung sebagai syarat mutlak terbitnya suatu pand dalam
praktek sering dirasakan suatu keberatan, dengan demikian
timbullah suatu perkembangan baru berdasarkan pand ini yang
kemudian dikenal dengan fiduciaire eigendoms overdracht yaitu
suatu penyerahan hak milik (bukan bendanya) berdasarkan suatu
kepercayaan/pengakuan.
Fiduciaire eigendoms overdracht ini timbul karena kebutuh-
an dalam praktek, sebagai dasar hukum dari fiduciare eigendoms
overdracht ini adalah keputusan Hoge Raad yang dikenal dengan
nama Bier-brouwerij arrest.
Hipotek menurut pasal 1162 KUH Perdata adalah suatu hak
kebendaan atas suatu benda tak bergerak yang bertujuan untuk
menjamin pelunasan suatu hutang (dengan penjualan benda yang
dijadikan jaminan).
Hubungan hipotek harus dibuat dengan akte autentik yaitu
akte notaris dan saat ini dengan suatu akte PPAT (Pejabat
Pembuat Akte Tanah) sesuai Peraturan Pemerintah No. 10
Tahun 1961. Untuk dapat mempunyai kekuatan pembuktian dan
berlaku terhadap pihak ketiga akte hipotek harus didaftarkan
kepada Kantor Pendaftaran Tanah di wilayah letak tanah/persil
yang dijadikan jaminan itu.
INTISARI HUKUM BENDA 17
Orang yang memberi jaminan disebut pemberi hipotek
sedang pihak yang menerimanya dinamakan pemegang hipotek.
Pemegang hipotek mempunyai hak untuk mendapat pelu-
nasan yang lebih didahulukan daripada kreditur lainnya (Prefe-
rent). Seperti halnya dengan pand, hipotek pun bersifat accesoire
digantungkan pada perjanjian pokok yaitu perjanjian u t a n g ~
piutang.
Arti dari hak accesoire adalah bahwa hipotek melekat pad a
obyeknya selama hutang belum lunas dan turutberpindah
apabila benda yang dijamin dengan hipotek dipindahkan pada
orang lain.
2. Aneka Hak Menurut UUPA (Agraria)
Sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu setelah
berlakunya UUPA No. 5 Tahun 1960, maka seluruh ketentuan
Buku II tentang Benda sepanjang yang mengatur mengenai
bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dihapuskan kecuali mengenai hipotek.
Dengan demikian berarti bahwa pada saat ini hukum tanah
kita sudah terunifikasi dalam UUPA tersebut yang berlaku
secara nasional.
Berbagai hak atas tanah yang bersifat tetap diatur dalam
pasal 16 UUPA:
1) Hak milik yaitu hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh
yang dapat dipunyai orang atas tanah.
Hak milik dapat beralih dan dialihkan pad a pihak Jain. Yang
dapat (menjadi subyek) hak milik hanya warga negara
Indonesia. Hak milik menurut UUP A jika dibandingkan
dengan hak kebendaan daJam KUH Perdata adalah haknya
mirip dengan hak eigendom.
2) Hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang
dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu tertentu
paling lama 25 tahun (35 tahun -25 tahun dapat diperbaharui
kemudian kembali pada subyeknya). Peruntukan tanah de-
ngan hak guna-usaha adalah untuk perusahaan pertanian,
18 INTISARI HUKUM BENDA
peternakan dan perikanan.
Hak guna-usaha ini jika dibandingkan dengan-hak kebendaan
menurut KUH Perdata mirip hak erfpacht.
3) Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan
mempunyai bangunan di at as tanah yang bukan miliknya
sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun (30
tahuh - 20 tahun diperbaharui) kemudian kembali pada
subyeknya. Hak guna bangunan ini mirip hak opstai dalam
KUH Perdata.
4) Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau hasil dari
tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik
orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang
ditentukan dan keputusan pemberiannya oleh pejabat yang
berwenang atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya,
yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian peng-
olahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan
jiwa dan ketentuan-ketentuan UU ini.
Subyek hak pakai adalah:
a. warga negara Indonesia,
b. orang asing yang berkedudukan di Indonesia,
c. badan-badan hukum yang didirikan dan berkedudukan di
Indonesia,
d. badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indo-
neSIa.
5) Hak sewa atas bangunan; seseorang atau suatu badan hukum
mempunyai hak sewa atas tanah, jika ia berhak menggunakan
tanah milik orang lain untuk keperluan bangunan dengan
membayar sejumlah uang, sebagai uang sewa.
Subyek hak sew a adalah:
a. warga negara Indonesia,
b. orang asing yang berkedudukan di Indonesia,
c. badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan
berkedudukan di Indonesia,
d. badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indo-
neSIa.
INTISARI HUKUM BENDA 19
Catatan: Agak meragukan apakah lembaga ini termasuk hak
kebendaan.
6) Hak membuka hutan dan memungut hasil hutan hanya dapat
dipunyai oleh warga negara Indonesia dan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
Hak lainnya yang bersifat sementara diatur dalam pasal 51
UUPA, pengaturan hak yang bersifat sementara itu sedemikian
rupa agar terbatasi sifat-sifat yang bertentangan dengan UUPA
dan hak terse but dalam waktu singkat diusahakan akan dihapus.
Hak sementara tersebut berupa:
1. Hak gadai yang merupakan hubungan hukum antara seseo-
rang dengan tanah milik orang lain yang telah menerima uang
gadai dari padanya.
2. Hak usaha bagi hasil adalah hak seseorang atau badan hukum
(yang disebut penggarap) untuk menyelenggarakan usaha
p ~ r t a n i a n di atas tanah kepunyaan pihak lain (yang disebut
pemilik) dengan perjanjian bahwa hasilnya akan dibagi antara
kedua belah pihak menurut imbangan yang telah disetujui
sebelumnya.
3. Hak menumpang, adalah hak yang memberi wewenang
kepada sese orang (numpang, magersari) untuk memberikan
dan menempati rumah di atas pekarangan orang lain (du-
nung).
4. Hak sewa atas tanah pertanian.
Catatan:
Hak gadai menurut Hukum Adat adalah hak atas tanah dalam
waktu Penerima gadai belum tnenerima uang tebusan dari
Pemberi Gadai (Hak Gadai tersebut tidak bersifat accesoire).
Hak Gadai, Hak Usaha Bagi Hasil, Hak Menumpang dan Hak
Sewa Atas Tanah dalam Hukum Adat bukan hak kebendaan
tetapi sebagai Hak Pribadi yang menyangkut tanah karena
dasarnya adalah "transsactie waarbij grond betrokken is
(perjanjian "obligatoir" yang menyangkut tanah) bukan
"grond transsachtie" (penyerahan tanah).
20 INTISARI HUKUM BENDA
IV. Peralihan Hak Kebendaan Serta
Pembuktiannya
1. Peralihan Hak Kebendaan
Peralihan hak kebendaan berkaitan erat dengan penyerahan
bend a yang dapat dibedakan:
A.Penyerahan benda bergerak.
B.Penyerahan benda tak bergerak.
A. Penyerahan Benda Bergerak
Dalam penyerahan benda bergerak harus dibedakan pe-
,nyerahan benda bergerak yang berwujud dan "benda bergerak"
(obyek hukum) tak berwujud. Penyerahan benda bergerak
berwujud diatur dalam pasal 612 ayat (1) KUH Perdata yang
dilakukan dengan penyerahan nyatalfeitelijke levering atau pe-
nyerahan dari tangan ke tangan, akan tetapi adakalanya pe-
nyerahan secara nyata terse but dilakukan dengan hanya me-
nyerahkan kunci-kunci dari gedung tempat benda bergerak
disimpan.
Penyerahan itu dapat juga dilakukan secara:
1. Traditio brevu manu (penyerahan dengaD; "tangan pendek",
misalnya: A meminjam buku pada B kemudian ternyata B
membutuhkan uang, untuk itu B menjual buku tersebut pada
A, penerimaan hak tanpa pemindahan bend a karena pemilik
baru telah memegang benda itu sebelumnya.
INTISARI HUKUM BENDA 21
2. Constitutum possesorium (penyerahan dengan melanjutkan
penguasaan bendanya), misalnya penyerahan hak tanpa pe-
mindahan benda karena seteJah menjual bendanya pemilik
lama kemudian meminjam/menyewa benda itu.
Peralihan "benda bergerak" tak berwujud dapat dibedakan:
1. Penyerahan dari surat piutang "aan toonder" (pembawa)
diatur dalam pasal 613 ayat (3) KUH Perdata, dilakukan
dengan penyerahan nyata.
2. Penyerahan dari surat piutang "op naam" (atas nama) diatur
dalam pasal 613 ayat (1) KUH Perdata, dilakukan dengan
cessie (bukti penyerahan) yaitu dengan surat autentik atau
surat di bawah tangan yang menyatakan bahwa piutang telah
dipindahkan pada seseorang, peralihan hak berdasarkan cessie
ini biasanya karen a ada jual beli.
3. Penyerahan piutang "aan order" diatur dalam pasal 613 ayat
(3) KUH Perdata dilakukan dengan penyerahan surat tersebut
dan dengan endossemen (catatan "punggung"), yaitu menulis-
kan di balik surat piutang tersebut yang menyatakan terhadap
siapa piutang terse but beralih.
B. Penyerahan Benda Tak Bergerak
Dalam hal peralihan hak atas benda tak bergerak, KUH
Perdata mengaturnya pada pasal 616-620; tetapi ketentuan
tersebut tidak berlaku di Indonesia, karena berdasarkan ke-
tentuan pasal 24 O. V. yang menyatakan bahwa penyerahan
benda-benda tak bergerak tidak mengikuti cara-cara yang di-
tentukan dalam pasal 616-620 KUH Perdata.
Yang berlaku adalah ketentuan yang sudah ada sebelum
KUH Perdata dinyatakan berlaku tahun 1848; yaitu ketentuan
Overschijving Ordonantie Stbl. 1834 No. 27 yang mengatur
penyerahan benda-benda tak bergerak harus dilakukan dengan
balik nama yaitu dengan pendaftaran yang harus dilakukan di
hadapan Hakim Raad van Justitie (pengadilan sehari-hari untuk
orang-orang Eropa).
Kemudian pada masa setelah kemerdekaan RI membuat
Iperaturan UU No. 24 Tahun 1954 (LN No. 1954-78) yang
22 INTISARI HUKUM BENDA
menyatakan bahwa penyerahan benda-benda tak bergerak harus
mendapat izin dari Menteri Kehakiman jika tanpa izin, maka
peralihan tersebut batal demi hukum.
Setelah berlakunya UUPA No. 5 Tahun 1960, di dalam
peraturan pelaksanaannya yaitu dalam PP 10 Tahun 1961 dalam
pasal 19 diatur: Tiap-tiap perjanjian yang bermaksud memindah-
kan hak atas tanah memberikan sesuatu hak baru atas tanah,
menggadaikan atau meminjam uang dengan hak atas tapah
sebagai tanggungan harus dibuktikan dengan suatu akte yang
dibuat oleh atau di hadapan pejabat yangditunjuk oleh Menteri
Agraria (Mendagri). .
2. Pembuktian hak Kebendaan
Seperti halnya dalam peralihan hak kebendaan dalam
pembuktiannya pun kita harus membedakan bukti hak atas
benda bergerak dan hak atas benda tak bergerak.
A. Pembuktian Hak Atas Benda Bergerak
Dalam membahas bag aim ana membuktikan adanya suatu
hak atas benda bergerak, kita dapat meneliti ketentuap pasal
1977 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan bezit berlaku
sebagai titel sempurna atau tepatnya eigendom atas bend a
bergerak cukuplah dibuktikan bahwa benda tersebut adalah
dalam bezit seseorang kecuali dapat dibuktikan sebaliknya.
Sehubungan dengan hal terse gut di atas dikenal ada suatu
teori legitimasi (legitimatie teorie) Paul Scholten yang menyata-
kan: Pada umumnya hak eigendom atas suatu benda hanya dapat
berpindah secara sah jika seseorang memperolehnya dari orang
yang berhak memindahkan eigendom atas benda terse but yaitu
pemiliknya, dengan demikian akan dapat dimengerti bahwa
kelancaran lalu-lintas hukum akan sangat terganggu, jika dalam
setiap jual beli barang bergerak si pembeli harus menyelidiki
dahulu apakah sungguh-sungguh mempunyai hak milik atas
benda yang dijualnya, maka untuk kepentingan lalu lintas hukum
tersebut pasal 1977 menetapkan mengenai barang bergerak
INTISARI HUKUM BENDA 23
si penjual dianggap sudah cukup membuktikan eigendomnya
dengan menunjukkan bahwaia menguasai barang tersebut
seperti seorang eigenaar dengan lain perkataan si penjual
menguasai benda terse but dalam kedudukan bezitten menurut
pengertian hukum, dengan demikian tidak perlu memperhati-
kan bagaimana cara ia mendapatkannya (titel), dan tidak usah
memperlihatkan tanda bukti tentang 'hak eigendomnya.
Dalam hal kemudian ternyata si penjual bukan pemilik yang
sebenarnya maka pasal 1977 KUH Perdata memberikan perlin-
dungan pada si pembeli barang dengan "mengorbankan" kepen-
tingan eigenaar yang sebenarnya. Walaupun demikian eigenaar
yang sebenarnya selalu berhak menggugat pihak yang tanpa titel
menyebabkan benda itu menjadi eigendom pembeli ini (E.M.
Meyers).
B. Pembuklian Hak Alas Benda-benda Tak Bergerak
Sebelum berlakunya UUP A bukti hak atas tanah bagi orang
yang berhak berupa; surat bukti hak yang diberikan oleh pejabat
overschijvings ambtenaar yang dikenal dengan akte balik nama,
untuk tanah-tanah yang tunduk pad a hukum perdata barat yang
berupa tanah-tanah dengan hak barat.
Untuk tanah yang tunduk pada Hukum Adat tidak dikenal
suatu alat bukti dalam bentuk yang tertulis, tetapi masyarakat
awam beranggapan bahwa surat (tanda bukti) pembayaran pajak
(verponding) itu sebagai tanda bukti hak at as tanah.
Setelah berlakunya UUPA No.5 Tahun 1960 dengan PP.
10/1961 tentang Pendaftaran Tanah semua tanah di wilayah RI
diperintahkan untuk didaftarkan. Sehingga mereka yang berhak
atas tanah akan memperoleh tanda bukti pemilikan yang mempu-
nyai kekuatan pembuktian yang kuat yang terkenal dengan nama
sertifikat yaitu salinan buku tanah dan surat ukur setelah dijahit
menjadi satu bersama-sama dengan suatu kertas sampul.
24 INTISARI HUKUM BENDA
Kitab Un dang-Un dang
Hukum Perdata
Buku II
Bab Kesatu
Tentang Kebendaan dan
Cara Membeda-bedakannya
BAGIAN KE SATU
Tentang kebendaan umumnya.
499. Menurut paham undang-
undang yang dinamakan ke-
bendaan ialah, tiap-tiap barang
dan tiap-tiap hak, yang dapat
dikmisai oleh hak milik.
500. Segala apa yang karen a hu-
kum periekatan termasuk dalam
sesuatu kebendaan, seperti pun
segala hasil daripada kebendaan
itu, baik hasil karena alam, mau-
pun hasil karena pekerjaan o-
rang, selama yang akhir-akhir ini
melekat pad a kebendaan itu lak-
sana dahan dan akar terpaut
pada tanahnya, kesemuanya itu
adalah bagian dari pada ke-
bendaan tadi.
501. Dengan tak mengurangi ke-
tentuan-ketentuan istimewa me-
nurut Undang-undang atau kare-
na perjanjian tiap-tiap hasil per-
data adalah bagian daripada se-
Lampiran I
Het Burgerlijk Wetboek
Boek II
Eerste Titel
Van de zaken en
derzelver onderscheiding
EERSTE AFDEELING
Van zaken in het algemeen
De wet verstaat door zaken aile
goederen en reg ten welke het
voorwerp van eigendom kunnen
zijn. (Bw. 503, 519, 833, 955,
1131).
Al hetgeen door regt van natrek-
king tot eene zaak behoort,
daaronder begrepende vruchten,
zoowel natuurlijke als die door
nijverheid worden v e r k r e ~ e n ,
zoo lang dezelve tak-of wortel-
vast, of aan den grond gehecht
zijn, maakt een gedeelte der
zaak uit. (Bw. 502, 588v.; Credo
verb. 4; Civ. 547). ..
De burgerlijke vruchten worden
aileen geacht een gedeelte der
zaak uit te maken, zoo lang
dezelve niet opeischbaar zijn;
behoudens de bijzondere
INTISARI HUKUM BENDA 25
suatu kebendaan, jika dan sela-
rna hasil itu belurn dapat ditagih.
502. Yang dinarnakan hasil ka-
rena alarn ialah:
1. segala apa yang turnbuh-tirn-
bul dari tanah sendiri;
2. segala apa yang rnerupakan
hasil dari atau dilahirkan oleh
binatang-binatang.
Hasil karena pekerjaan o-
rang yang ditarik dari tanah ialah
segala apa yang diperoleh karena
penanarnan di atasnya; yang di-
narnakan hasil perdata ialah:
uang sewa, uang upeti, uang
angsuran dan uang bunga.
BAGIAN KEDUA
Tentang cara membeda-bedakan
kebendaan.
503. Tiap-tiap kebendaan ada-
lah bergerak at au tak bertubuh.
504. Tiap-tiap kebendaan ada-
lah bergerak atau tak bergerak,
satu sarna lain rnenurut ketentu-
an-ketentuan dalarn kedua bagi-
an berikut.
505. Tiap-tiap kebendaan berge-
rak adalah dapat dihabiskan atau
tak dapat dihabiskan; kebendaan
dikatakan dapat dihabiskan, bi-
larnana karena dipakai, rnenjadi
habis.
26 INTISARI HUKUM BENDA
wetsbepalingen en overeenkorn-
sten. (Bw. 761v.; 251v.; 1397;
Credo verb. 4; Civ. 547).
Natuurlijke vruchten zijn:
1. degene welke de aarde uit
haar zelve voortbrengt;
2. al hetgeen de beesten opleve-
ren of uit de beesten geboren
wordt.
Vruchten van nijverheid,
die uit den grond getrokken wor-
den, zijn al hetgeen door bebou-
wing verkregen wordt.
Burgerlijke vruchten zijn
huur-en pachtpenningen, interes-
sen van geldsornrnen en verschul-
digde renten (Bw. 762; Civ.
583v.).
TWEEDE AFDEELING
Van de onderscheiding der
zaken.
Zaken zijn licharnelijk of onli-
charnelijk. (Bw. 547, 559, 612;
Civ. 1607, 2075).
Zaken zijn roerend of onroe-
rend, volgens de bepalingen der
twee volgende afdeelingen. (AB.
17; Bw. 519, 545v., 550, 555,
1150, 1162, 1963, 1977; Rv. 443,
493, 714, 720, 763a, enz.; Civ.
516).
Roerende zaken zijn verbruik-
baar of onverbruikbaar; ver-
bruikbaar zijn de zoodanige die
door gebruik verloren gaan.
(Bw. 757, 822,1384, 1427, 1742,
1754; Civ. 587, 589).
BAGIAN KETIGA
Tentang kebendaan tak bergerak.
506. Kebendaan tak bergerak
ialah:
1. pekarangan-pekarangan dan
apa yang didirikan di atasnya;
2. penggilingan-penggilingan,
kecuali apa yang nanti akan
dibicarakan dalam pasal 510;
3. pohon-pohon dan tanaman la-
dang, yang dengan akarnya
menancap dalam tanah; buah-
buah pohon yang belum dipe-
tik, demikian pun barang-ba-
rang tambang seperti: batu
bara, sampah bara dan seba-
gainya, selama benda-bend a
itu belum terpisah dan dig ali
dari tanah;
4. kayu tebangan dari kehutan-
hutanan dan kayu dari pohon-
pohon yang berbatang tinggi,
selama kayu-kayuan itu belum
dipotong;
5. pipa-pipa dan got-got yang
diperuntukkan guna me-
nyalilrkan air dari rumah at au
pekarangan; dan pada umum-
nya segala apa yang tertancap
dalam pekarangan atau terpa-
ku dalam bangunan rumah.
507. Karena peruntukannya,
termasuklah dalam paham ke-
bendaan "tak bergerak.
1. dalam perusahaan pabrik: ba-
rang-barang hasil pabrik itu
DERDE AFDEELING
Van onroerende zaken
Onroerende zaken zijn:
1. gronderven en hetgeen daar-
op gebouwd is; (Bb. 1330);
2. molens, met uitzondering van
zoodanige waarvan in art. 510
wordt gehandeld;
3. boomen en veldgewassen, die
met hunne wortels in den
grond vast zijn, onafgeplukte
boomvruchten, mitsgaders
delfstoffen, als: steenkolen,
veen en dergelijke, zoo lang
deze voorwerpen nog niet van
den grond gescheiden en uit-
gedolven zijn; (Bw. 500, 1140;
Rv. 509);
4. schaarhout van kapbosschen
en hout van hoogstammige
boomen, zoolang het zelve
niet gekapt is;
5. buizen of goten, die tot water-
leiding in een huis of op een
erf dienen; en, in het alge-
meen, alles wat aan een erf of
aan een gebouw aard of nagel-
vast is. (Cred. verb. 4; Civ.
517-521, 523).
Door bestemming worden onder
onroerende zaken begrepen:
1. bij fabrijken, trafijken, mo-
lens, smederijen en dergelijke
onroerende zaken, de persen,
INTISARI HUKUM BENDA 27
sendiri, penggilingan-penggi-
lingan, penggemblengan besi
dan barang-barang tak berge-
rak yang sejenis itu, apitan
besi, kwali-kwali pengukusan,
tempat api, jambang-jambang
tong-tong dan perkakas-per-
kakas sebagainya yang terma-
suk dalam asas pabrik pun
sekiranya barang-barang itu
tak tertancap atau terpaku;
2. dalam perumahan: cermin-
cermin, lukisan-Iukisan dan
perhiasan lain-Iainnya, seke-
dar barang-barang itu dilekat-
kan pada papan at au pasang-
an b ~ t u yang merupakan bagi-
an dinding, pagar atau plester-
an ruangan pun sekiranya ba-
rang-barang itu tak terpaku;
3. dalam kemilikan tanah: lung-
kan atau timbunan gemuk'di-
peruntukkan guna merabuk
tanah; burung merpati terma-
suk dalam kawan, sarang bu-
rung yang dapat dimakan, se-
lama belum dipetik, ikan yang
ada dalam kolam;
4. bahan pembangunan gedung
berasal dari perombakan ge-
dung; jika diperuntukkan gu-
na mendirikan kembali ge-
dung itu; dan pada umumnya,
benda-benda yang oleh si pe-
milik telah dihubungkan de-
28 INTISARI HUKUM BENDA
disteleerketels, ovens, kui-
pen, vaten en verdere gereed-
schappen, bepaaldelijk tot
derzelver wezen behoorende,
al waren die voorwerpen niet
aard-of nagelvast;
2. bij woonhuizen, de speigels,
schiderijen en andere siera-
den, wanneer qet hout of
muurwerk waarop dezelve
zijn vastgemaakt, een gedeel-
te is van het beschot, den
muur of het pleisterwerk, van
het vertrek; al waren die
voorwerpen overigens niet
nagelvast;
3. bij landelijke eigendommen,
de mesthoop of mestvaalt tot
bemesting der landen bes-
temd;
de duiven tot eene duiven-
vlugt behoorende;
de eetbare vogelnestjes, zoo-
lang dezelve niet ingezameld
zijn;
de visschen die zich in de
vijvers bevinden;
4. de bouwstoffen, welke van de
afbraak van een gebouw
voortkomen, indien zij bes-
temd zijn om het gebouw we-
der op te trekken; en, in het
algemeen, aIle zoodanige
voorwerpen, welke de eige-
ngan kebendaan tak bergerak
guna dipakai selamanya.
Si pemilik dianggap telah
menghubungkan benda-benda
yang demikian kepada ke-
bendaan tak bergeraknya, bi-
lamana benda-benda itu dile-
katkan padanya dengan pe-
kerjaan menggali, pekerjaan
kayu atau pemasangan batu,
atau bilamana benda-benda
itu tidak dapat dilepaskan de-
ngan tidak memutus atau me-
rusak bagian daripada ke-
bend a an tak bergerak tadi, di
mana benda-bend a itu dile-
katkannya.
508. Yang juga merupakan ke-
bendaan tak bergerak ialah hak-
hak sebagai berikut:
1. hak pakai hasil dan hak pakai
atas kebendaan tak bergerak;
2. hak pengabdian tanah;
3. hak numpang-karang;
4. hak usaha;
5. bunga tanah, baik berupa
uang, maupun berupa barang;
6. bunga sepersepuluh;
7. pajak pekan atau pasar, yang
diakui oleh Pemerintah dan
naar tot een blijvend gebruik
aan zijne onroerende zaak
verbonden heeft.
De eigenaar wordt geacht
zoodanige woorwerpen tot
een blijvend gebruik aan zijne
onroerende zaak verbonden
te hebben, waneer dezelve
daaraan zijn vastgehecht door
aard, timmer of metselwerk,
of wanneer zij daarvan niet
kunnen worden losgemaakt,
zonder dezelve te breken of te
baschadigen, of zonder het
gedeelte van het onroerend
voorwerp, waaraan zij zijn
vastgehecht, te breken of te
beschadigen. (Bw. 506, 517,
586, 780, 1164, 1567, 1921;
Rv. 451-1; Credo verb. 4; Civ.
524, 525, 532).
Zijn alsmede onroerende zaken
de navolgende regten: (Bb.
2936).
1. het vruchtgebruik en gebruik
van onroerende zaken; (Bw.
756v, 811v);
2. de erfdienstbaarheden; (Bw.
674v);
3. het regt van opstal; (Bw. 711;
S. 1834-41 jo. 1838--46);
4. het erfpachtsregt; (Bw. 727v;
S. 15--422, art. 6);
5. grondrenten, het zij in geld of
in natura verschuldigd; (Bw.
737v.);
6. het tiendregt; (Bw. 740v.);
7. de bezaars of markten, door
de regering erkend, en de
INTISARI HUKUM BENDA 29
hak-hak istimewa yang mele-
kat padanya;
8. gugatan guna menuntut pe-
ngembalian atau penyerahan
kebendaan tak bergerak.
BAGIAN KEEMPA T
Tentang kebendaan bergerak.
509. Kebendaan bergerak kare-
na sifatnya ialah kebendaan yang
dapat berpindah atau dipin-
dahkan.
510. Kapal-kapal, perahu-pera-
hu, perahu-perahu tambang, gi-
lingan-gilingan dan tempat-tem-
pat pemandian yang dipasang di
perahu atau yang berdiri, terle-
pas dan benda-benda sejenis itu,
adalah kebendaan bergerak.
511. Sebagai kebendaan berge-
rak karena ketentuan undang-
undang harus dianggap:
1. hak pakai hasil dan hak pakai
atas kebendaan bergerak;
2. hak atas bunga-bunga yang
diperjanjikan, baik bunga
yang diabadikan, maupun bu-
nga cagak hidup;
3. perikatan-perikatan dan tun-
tutan-tuntutan mengenai jum-
lah-jumlah uang yang dapat
ditagih at au yang mengenai
benda-benda
30 INTISARI HUKUM BENDA
daaraan verknochte privile-
gien; (S. 1829-111; 1854-1;
1854-63; 1855-72; 69-66; 78-
320; RPL. 46);
8. de regtsvorderingen, dienen-
de om onroerende zaken te-
rug te eischen of te doen
leveren. (Bw. 1162v.; Civ.
526; Mijnw. 18).
VIERDE AFDEELING
Van roerende zaken.
Roerende zaken uit haren aard
zijn de zoodanige die zich zelve
kunnenverplaatsen, of die ver-
plaatst kunnen worden. (Bw.
513; Civ.528).
Sehepen, schuiten, ponten, op
vaartuigen geplaatste of andere
losse molens en baden, en derge-
lijke voorwerpen, zijn roerende
zaken. (Bw. 506-2; K. 309; Civ.
531).
Als roerende zaken door
wetsbepaling worden bes-
chouwd:
1. het vruchtgebruik en gebruik
van roerende zaken; (Bw.
756, 818v.);
2. gevestigde renten, het zij al-
tijddurende of lijfrenten;
(Bw. 1770v.);
3. verbindtenissen en vorderi-
ngen, die opeischbare geld-
sommen of roerende goede-
ren tot onderwerp hebben.
4. sera-sero, atau andil-andil da-
lam persekutuan perdagangan
uang, persekutuan dagang a-
tau persekutuan perusahaan,
sekalipun benda-benda perse-
kutuan yang bersangkutan
dan perusahaan itu adalah ke-
bendaan tak bergerak. Sero-
sera atau andil-andil itu diang-
gap merupakan kebendaan
bergerak, akan tetapi hanya
terhadap para pesertanya se-
lama persekutuan berjalan.
5. andil dalam perutangan alas
beban negara Indonesia, baik
maupun karena pendaftaran
dalam buku besar, maupun
sertifikat-sertifikat, surat-su-
rat pengakuan utang, obligasi
at au surat-surat lain yang ber-
harga, beserta kupon-kupon
at au surat tanda bunga, yang
termasuk di dalamnya.
6. Sera-sera atau kupon obligasi
dalam perutangan lain, terma-
suk juga perutangan yang di-
lakukan negara-negara asing.
512. Apabila dalam undang-un-
dang, atau dalam sesuatu per-
buatan perdata dipakai istilah:
barang-barang bergerak, perka-
kas rumah, mebel-mebel atau
perabot rumah tangga, perhiasan
rumah tangga, at au rumah de-
rigan segala apa yang ada di
dalamnya, dan kesemuanya itu
tanpa kata-kata tambahan, per-
luasan atau pembatasan, maka
4. actien of aandeelen in maat-
schappijen van geldhandel,
koophandel of nijverheid;
zelfs wanneer onroerende
goederen, tot die onder-
nemingen betrekkelijk, aan
die maatschappijen toe be-
hooren. Deze actien of aan-
dee len worden geacht raeren-
de zaken te zijn, doch ten
opzigte van ieder der deelge-
nooten alleenlijk zoo lang de
gemeenschap duurt; (K. 40);
5. aandeelen in's rijks schuld, en
in die ten laste van Indonesie,
het zij dezelve bestaan in
inschrijvingen op het graot-
boek, het zij in certificaten,
schuldbekentenissen, obliga-
tien of andere effecten, met
die daartoe behoorende cou-
pons of rente-bewijzen.
6. actien in of coupons van obli-
gatien van aile andere geld-
leeningen, daarander begre-
pen die, welke door vreemde
mogendheden zijn aangegaan.
(Bw. 508, 513v.; Cov. 529).
Indien bij de wet, of in eenige
burgerlijke handeling, de uit-
drukking wordt gebezigd van
raerende goederen, inboedel of
huisraad, stoffering, of een huis
met al hetgeen zich daarin be-
vindt, zonder eenige bijvoeging,
uitbreiding of beperking, worden
de voorzeide uitdrukkingen
geacht de voorwerpen te bevat-
ten, welke bij de volgende arti-
INTISARI HUKUM BENDA 31
istilah-istilah itu harus dianggap
meliputi benda-benda yang di-
tunjuk dalam pasal-pasal ber-
ikut.
513. Istilah barang-barang ber-
gerak meliputi tanpa kekecuali-
an, segala apa yang menurut
ketentuan tertera di at as diang-
gap bersifat bergerak.
514. Istilah perkakas rumah me-
liputi segala apa yang menurut
ketentuan-ketentuan di atas di-
anggap bersifat bergerak, terke-
cuali uang tunai, sero-sero, piu-
tang-piutang dan hak-hak lain-
nya tersebut dalam pasal 511,
barang-barang perdagangan dan
bahan-bahan, perkakas-perka-
kas bersangkutan dengan per-
usahaan pabrik, barang-barang
hasil pabrik itu atau perusahaan
pertanian, bahan-bahan rumah
beserta kapal-kapal dan andil-
andil kapal.
515. Istilah mebel-mebel atau
prabot rumah meliputi segal a
apa yang menurut pasal yang lalu
termasuk dalam istilah perkakas
rumah, terkecuali kuda-kuda
dan binatang-binatang, kereta-
kereta dengan perlengkapannya,
batu-batu permata, buku-buku
dan tulisan-tulisan, lukisan-Iukis-
an gambar-gambar, pigura-pigu-
ra, patung-patung, penning-pen-
ning peringatan, perkakas ilmu
32 INTISARI HUKUM BENDA
kelen zijn aangeduid.
De uitdrukking roerende goede-
ren bevat, zander uitzandering,
alles wat, volgens de hierboven
vastgestelde regelen, voor roe-
rend wordt gehouden. (Bw. 509;
Civ. 533v.).
(Gew. S. 33-47 jo. 38-2). De
uitdrukking inboedel bevat alles
wat in voege voorschreven voor
roerend wordt gehouden, met
uitzandering van het gereed
geld, van actien, schuldvorderin-
gen en andere regten, bij art.
511 vermeld, van koopman-
schappen en grondstoffen, van
werktuigen tot fabrijken, trafij-
ken, of den landbouw behooren-
de, van bouwstoffen tot het op-
bouwen bestemd of van afbraak
afkomstig, mitsgaders van sche-
pen en scheepsaandeelen. (Civ.
533).
De uitdrukking meubelem of
huisraad bevat al hetgeen wat,
volgens het vorige art, tot den
inboedel behoort, met uitzonde-
ring van paarden en levende ha-
ve, van rijtuigen met hun toe be-
hooren, van edelgesteenten,
boeken en handschriften, teeke-
ningen, prenten, schilderijen,
beelden, gedenkpenningen, na-
tuurkundige en wetenschappelij-
ke werktuigen, en andere kost-
alam, dan ilmu pengetahuan dan
barang-barang berharga dan ba-
rang-barang pelik lainnya, pakai-
an pribadi, senjata-senjata, gan-
dum, anggur-anggur dan bahan
keperluan hidup lainnya.
516. Dengan kata-kata rumah
dan segal a apa yang ada di da-
lamnya, yang dimaksud ialah se-
mua yang menurut pasal 513
bersifat bergerak dan diketemu-
kan dalam rumah itu, kecuali
uang tunai, piutang-piutang dan
hak-hak lain yang surat-surat
buktinya kiranya ada dalam ru-
mah itu.
517. Istilah perhiasan rumah
meliputi segal a mebel yang di-
peruntukkan gun a dipakai dan
menghiasi ruangan seperti: ker-
tas dinding permadani, temp at
tidur, kursi, cermin. lonceng,
meja, benda-benda dari porselin,
dan benda-benda lain yang se-
sifat.
Lukisan-Iukisan dan patung-
patung yang merupakan sebagi-
an dari me bel dalam suatu ruang-
an, termasuk juga di dalamnya,
akan tetapi sarna sekali tidak
termasuk di dalamnya, himpun-
an-himpunan lukisan gam bar-
gam bar dan patung-patung yang
dipasang dalam serambi-serambi
atau ruangan-ruangan istimewa.
Demikianlah pula mengenai
benda-benda dari porselin; sega-
baarheden en zeldzaamheden,
van lijflinnen, wapens, granen,
wijnen en andere levensmidde-
len. (Bw. 511; Civ. 533).
De uitdrukking een huis met al
hetgeen zich daarin bevindt be-
vat alles wat, volgens art. 513,
voor roerende goederen wordt
gehouden, en in het huis gevon-
den, met uitzondering van het
gereed geld en van de inschulden
en andere regten, waarvan de
bescheiden zich in het huis mog-
ten bevinden. (Bw. 511; Civ.
536.).
De uitdrukking stoffering bevat
aileen die meubelen, welke tot
gebruik en versiering der ver-
trekken dienen, als: behangsels
en tapijten, bedden, stoelen,
spiegels, pendules, tafels, porse-
leinen, en andere voorwerpen
van dien aard.
Schilderijen en beelden,
welke een gedeelte van de meu-
belen eens vertreks uitmaken,
zijn daaronder insgelijks begre-
pen, doeh geenszins de verzame-
lingen van schilderijen, prenten
en beelden, die op galerijen en
bijzondere vertrekken geplaatst
zlJn.
Hetzelfde geldt omtrent
porseleinen aile de zoodanige die
een gedeelte uitmaken van de
sieraden eens vertreks, zijn on-
INTISAAI HUKUM BENDA 33
la benda yang merupakan sebagi-
an dari penghias ruangan, terma-
suk dalam istilah: perhiasan
rumah.
518. Istilah rumah yang berme-
bel atau rumah beserta mebelnya
hanya meliputi perhiasan rumah.
BAGIAN KELIMA
Tentang kebendaan dalam hu-
bungan mereka yang mengua-
sainya.
519. Ada kebendaan yang bu-
kan milik siapa pun juga; ke-
bendaan lainnya adalah milik ne-
gara, milik badan kesatuan atau
milik seseorang.
520. Pekarangan dan kebendaan
tak bergerak lainnya yang tak
terpelihara dan tiada pemiliknya,
seperti pun kebendaan mereka
yang meninggal dunia tanpa ahli-
waris, atau yang warisannya te-
lah ditinggalkan, adalah milik
negara.
521. Demikianlah milik negara
juga, lorong-Iorong dan jalan-
jalan yang ada dalam bebannya,
pantai-pantai laut, bengawan-
bengawan dan sungai-sungai
yang dapat dilalui dengan perahu
atau ditambangi dengan perahu
tambang, beserta tepi-tepinya,
34 INTISARI HUKUM BENDA
der de uitdrukking van stoffering
begrepen. (Bw. 515; Civ. 534).
De uitdrukking een gemeubi-
leerd huis of een huis met zijne
meubelen, bevat aIleen de stoffe-
ring. (Bw. 517; Civ. 535).
VIJFDE AFDEELING
Van zaken, met betrekking tot
delzerver bezitters.
Er zijn zaken die aan niemand
toebehooren; de overige zijn het
eigendom of van, den ande, of
van gemeenschappen, of van bij-
zondere personen. (Bw. 520v.,
523v., 570, 585; Civ. 537, 542,
713).
Gronderven en andere onroeren-
de zaken, die onbeheerd zijn en
geenen eigenaar hebben, gelijk
me de de zaken van dengene die
zander erfgenaam overleden is,
of wiens erfenis is verlaten, be-
hOOfen aan den lande. (Bw. 585,
621, 832, 873, 1129; Rv. 800v.;
Civ. 539; S. 1850-3, ef noot Bw.
1129; 70-118 art. 1; 75-119a).
Insgelijks behooren aan den lan-
de de wegen en straten, welke te
zijnen laste zijn, de stranden der
zee, de bevaarbare stroomen en
rivieren met hunne oevers, de
groote, en kleine eilanden en de
platen welke in die wateren op-
komen, gelijk ook de havens en
pulau-pulau besar kecil, beting-
beting yang muncul di atas air
bengawan dan sungai tadi, seper-
ti pun pelabuhan-pelabuhan dan
tempat-tempat pendaratan; de-
ngan tak mengurangi hak-hak
seseorang atau badan kesatuan
yang dipero\eh karena sesuatu
tindak-perdata atau karena telah
diambil dalam kekuasaannya.
522. Dengan perkataan tepi da-
lam pasal yang lalu, yang dimak-
sud ialah sisih bengawan, telaga
dan sungai yang pada waktu bia-
sa, bila air sedang setinggi-tinggi-
nya terendam di bawah air, dan
bukan bagian-bagian yang de-
ngan meluapnya air terkena
banjir.
523. Sebagai milik negara harus
dianggap pula: segal a tanah dan
segal a pekerjaan kayu yang ter-
masuk dalam bangunan-bangun-
an benteng negara, demikianlah
segala tanah di atas mana didiri-
kan beberapa bangunan untuk
pertahanan seperti: kubu-kubu,
tembok-tembok ted eng dada,
parit-parit, jalan-jalan terlin-
dung, glacien atau tanggul-tang-
gul, dan akhirnya pun segala
lapangan di mana didirikan ge-
dung-gedung kelaskaran, garis-
garis lini, pos-pos, tempat-tem-
pat perlindungan, benteng-ben-
teng kecil, tanggul-tanggul, pintu
air, kanal-kanal beserta tepi
bingkainya; kesemuanya itu de-
ngan tak mengurangi hak-hak
reeden; onverminderd de door
titel of bezit verkregen regten
van bijzondere personen of ge-
meenschappen. (Bw. 519, 522,
524, 537, 554, 591, 597, 629,
1953; Civ. 538, 560; S. 1854-95
jo. Inv. Sw. 6-14; 70-119 jo. Inv.
Sw. 6-33).
Door oervers worden, in het
vorige art, verstaan de boorden
van rivieren, meeren of stroo-
men, welke bij gewone tijden,
als het water op het hoogste is,
door dat water overdekt wor-
den, en niet hetgeen door water-
vloeden overstroomd is. (BW.
672).
Als eigendom van den lande
worden insgelijks aangemerkt aI-
le gronden en getimmerten wel-
ke tot's lands vestingwerken
behooren, en gevolgelijk al1e
gronden waarop eenige wetken
van verdediging zijn aangelegd
geworden, als: wal1en, borstwe-
ringen, grachten, bedekte we-
gen, glacien of vooruitspring-
gende werken, p\einen waarop
krijgsgebouwen gesticht zijn, li-
nien, posten, verschansingen,
redouten, dijken, sluizen, kana-
\en en hunne boorden; insgeJijks
onverminderd de door titel of
bezit verkregen regten van bij-
zondere person en of gemeen-
schappen.
(BW. 521, 524; Civ. 540).
INTISARI HUKUM BENDA 35
seseorang dan badan-badan ke-
satuan karena sesuatu alas hak
atau karena pendudukan.
524. Dalam benteng negara di-
anggaplah sebagai tanah militer,
seluruh tanah yang letaknya se-
perti di bawah ini, ialah:
1. dalam benteng yang diper-
lengkapi dengan jalan-jalan
terlindung, dan glaci atau
tanggul, antara kaki dari lan-
tai kubu utama dan jari kaki
daripada jalan yang terlin-
dung, dan sekiranya yang ini
diperlengkapi dengan parit
muka, sampai dengan tepi
bingkainya bagian yang luar.
lalan kubu daripada benteng
itu pun termasuk juga di da-
lamnya menurut garis lurus
yang ditarik dari lekum tirai
yang satu ke tirai yang lain;
2. dalam benteng tanpa jalan-
jalan terlindung atau glaci,
mulai dari jari kaki dalam
daripada kubu utama sampai
dengan tepi bingkai parit-parit
daripada bangunan-bangunan
samping atau bangJ.lOan luar;
3. dalam benteng tanpa bangun-
an luar, mulai dari kaki dalam
daripada korok kubu sampai
dengilO tepi bingkai luar dari-
pada parit yang me ling-
karinya;
4. dan akhirnya, jika di belakang
kaki-kaki dalam daripada j ~ -
36 INTISARI HUKUM BENDA
In aIle vestingen van den lande,
wordt als militaire landsgrond
aangemerkt de geheele opper-
vlakte, begrepen: .
1. In vestingen van bedekte we-
gen en glacis voorzien, tus-
schen den voet van de glooi-
jing van den hoofdwal en den
teen van den bedekten weg,
en zoo deze eene voorgracht
is voorzien, tot en met den
buitenboord van deze gracht.
De walgang der bolwerken is
hieronder begrepen, volgens
eene getrokene lijn door de
keelen van de eene gordi jn tot
de andere;
2. in vestingen zonder bedekte
wegen of glacis, van den bin-
nenteen des hoofdwals tot en
met den overboord der
grachten van 4e enveloppen
of buitenwerken;
3. in vestingen zonder eenige
buitenwerken, van den bin-
nenvoet des walgangs tot aan
en met den overboord der
daarom gelegene grachten;
4. eindelijk, indien er zich achter
den binnenvoet der walgan-
Ian kubu masih ada parit-parit
pemisah, tanggul-tanggul dan
sebagainya, jalur-jalur - tanah
itu pun, beserta pohon-pohon
dan bangunan-bangunan di
atasnya, termasuk juga tanah
militer.
525. Segal a benteng yang tak
didiami, seperti pun kubu-kubu
kecil, pos yang menonjol ke mu-
ka, tanggul-tanggul, garis-garis
dan pertahanan meriam adalah
semuanya tanah militer negara
dengan segala tanah di sekitar-
nya yang tatkala benteng itu
dibuatnya, telah dibeli oleh ne-
gara.
Terhadap segala benteng
yang didiami, berlakulah segala
ketentuan dalam pasal yang lalu.
526. Dengan kebendaan milik
badan-badan kesatuan yang di-
maksud ialah kebendaan milik
bersama daripada perkumpulan-
perkumpulan.
527. Dengan kebendaan milik
seseorang yang dimaksud ialah,
kebendaan milik satu orang atau
lebih dalam perseorangan.
S2R. Atas sesuatu kebendaan,
seorang dapat mempunyai, baik
suatu kedudukan berkuasa, baik
hak milik, baik hak waris, baik
hak pakai hasil, baik hak peng-
abdian tanah, baik hak gadai
atau hipotik.
gen scheislooten, bermen,
enz, mogten bevinden, zullen
ook deze strooken gronds,
met hunne boomgewassen en
andere opstailen, gerekend
worden tot de militaire
landsgronden te behooren.
Aile onbewoonde forten, mitsga-
ders redouten, vooruitspringen-
de posten, verschansingen, Iinien
en batterijen, zijn geheel militai-
re landsgronden, met aile de zoo
achterwaarts als voorwaarts en
ter zijde gelegene gronden, bij
derzelver aanleg door het gou-
vernement aangekocht.
Op aile de bewoonde forten
zijn de bepalingen toepasselijk,
in het voorgaande art. vermeld.
(Bw. 523v).
Zaken aan eene gemeenschap
toebehoorende zijn de zoodanige
die het gezamenlijk eigendom
zijn van een zede1ijk lichaam.
(Bw. 517, 1653v.; Civ. 542).
Zaken aan bijzondere personen
toebehoorende zijn zoodanige
die het afzonderlijk eigendom
zijn van een of meer enkele
personen. (Bw. 519. 570; Civ.
537).
~ e n kan op zaken hebben, het
zij een regt van bezit, het zij een
regt van eigendom, het zij een
regt van erfgenaamschap, het zij
een vruchtgenot, het zij cen regt
van erfdienstbaarheid, het zi j
een regt van pand of hipotheek.
INTISARI HUKUM BENDA 37
38 INTISARI HUKUM BENDA
(Bw. 529v., 570v., 674v., 711v.,
nov., 737v., 756v., 818v., 874v.,
1150v., 1162; Civ. 543; Oogstv.
1.; Mijnw. 18; Mijnord.; Credo
verb. 1; RPL. 6; zie noot Bw.
508).
Lampiran II
Daftar Contoh Pertanyaan
1. Bagaimana pengertian Hukum Benda dan Hukum Agraria?
2. lelaskan sistem yang dianut dalam Buku II KUH Perdata
serta bandingkan dengan sistem yang dianut dalam Buku
III KUH Perdata!
3. lelaskan asas dalam Hukum Benda yang saudara ketahui?
4. Apa yang saudara ketahui tentang arti benda dan bagaimana
pembedaannya?
5. Apa saja kriteria yang dapat diberikan untuk dapat mem-
bedakan benda bergerak dan benda tak bergerak?
6. Dikatakan di an tara pembedaan benda tersebut, pembedaan
Y(lf}g terpenting adalah pembedaan antara benda bergerak
dan benda tak bergerak, jelaslah apa yang merupakan
landasan pemikiran dari hal tersebut?
7.1elaskan yang saudara ketahui mengenai sumber Hukum
Benda sebelum dan sesudah berlakunya UUP A 5/60!
8.1elaskan apa yang dimaksud dengan hak kebendaan!
9. Uraikan apa yang merupakan ciri dan sifat hak kebendaan!
10. lelaskan dengan lengkap apa yang dimaksud dengan:
a. Bezit,
b. Eigendom,
c. Naburige Erven,
d. Erfdienstbaarheid,
e. Vruchtgebruik,
INTISARI HUKUM BENDA 39
f. Gebruik & bewoning,
g. Bevoorrechte (in) schulden,
h. Pand & hypotek,
i. Fiduciare egendomsoverdracht.
1Llelaskan pula pengertian saudaratentang isi dari hal-hal atas
tanah yang bersifat tetap yang diatur dalam pasal16 UUPA!
12. Uraikan pengertian saudara ten tang peralihan hak, jelaskan
dengan membedakan bend a bergerak dan benda tetap!
13. Apa yang dapat saudara buktikan dalam hal atas barang
bergerak milik saudara, jelaskan dengan menunjuk ke-
tentuan UU yang mengaturnya.
14. Bagaimana cara yang dapat ditempuh dalam membuktikan
benda-bend a tak bergerak?
40 INTISARI HUKUM BENDA
Lampiran III
Silabus
Pengantar IImu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia
I. Makna Pengantar dalam hubungannya dengan Unsur
Hukum
Unsur
/ManUSia
Riel --Tradisil
/ \ Kebudayaan
Hukum Alam
\ Logika ~ Pengertian
I d e a l ~
. \ Sistematika
Ethika & Esthetika ~ Nilai
\ Asas
Kaidah
Pengantar meliputi: 1. Pengertian Umum.
2. Asas Pokok.
3. Kerangka Dasar.
INTlSARI HUKUM BENDA 41
(Bahan: Asser - Sholten, Handleiding tot de beoefening
van het Nederlandsch Burgerlijk Recht, Hoof-
dstik I)
II. Aneka Arti Hukum
1. Hukum dalam art. Ketentuan Penguasa (Undang-un-
dang, Keputusan Hakim dan sebagainya).
2. Hukum dalam arti Petugas (tidak ada agen polisi tidak
ada hukum).
3. Hukum dalam arti Sikap tindak (Hukum Kebiasaan).
4. Hukum dalam atti Sistem Kaidah.
5. Hukum dalam arti Jalinan Nilai (Tujuan Hukum).
6. Hukum dalam arti Tata Hukum.
7. Hukum dalam arti Ilmu Hukum (Ujian Hukum Pidana
akan diselenggarakan tanggal ................................ )
8. Hukum dalam arti Disiplin Hukum.
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka dan Soerjono Soekanto,
Sendi-sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum).
III. Hukum dalam Arti Disiplin Hukum
Ilmu Hukum:
/
Ilmu Kaidah }
Ilmu Pengertian
Disiplin Hukum --Filsafat Hukum
""POlitik Hukum
Dogmatik Hukum
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka dan Soerjono Soekanto, Perihal
Kaidah Hukum).
42 INTISARI HUKUM,BENDA
IV. Ilmu Hukum sebagai Ilmu Kenyataan meliputi:
Sosiologi Hukum (Bahan: Soerjono Soekanto,
Mengenal Sosiologi Hukum).
Antropologi Hukum (Bahan: Soerjono Soekanto,
Mengengal Antropologi Hukum) .
.... Psikologi Hukum (Bahan: Soerjono Soekanto, Ca-
tatan ten tang Psikologi Hukum).
Sejarah Hukum (Bahan: Soerjono Soekanto,
Pengantar Sejarah Hukum).
Perbandingan Hukum (Bahan: Soerjono Soekanto,
Perbandingan Hukum).
V. Ilmu Hukum sebagai Ilmu Kaidah:
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka dan Soerjono Soekanto,
Perihal Kaidah Hukum).
VI. Ilmu Hukum sebagai Ilmu Pengertian meliputi pengertian:
a. Masyarakat Hukum.
(Bahan: Ter Haar, Beginsel en Stelsel van het Ada-
trecht).
b. Subyek Hukum.
(Bahan: Logemann, Over de Theorie van een Stellig
Staatsrecht, 10 + Vinogradoff, Common Sense
in Law, Chapter III).
c. Peranan (dalam) Hukum: Hak dan Kewajiban.
(Bahan: Asser - Scholten, Hoofdstuk I + Vinogradoff,
ch. III).
d. Peristiwa Hukum.
(Bahan: Logemann, pasal 11 + Vinogradoff, ch. IV).
e. Obyek Hukum;
(Bahan: Bos, A.M., Methode van Onderzoek enBegrip-
svorming in het Recht).
INTISARI HUKUM BENDA 43
VII. Tujuan HukumlNilai dalam HukumlFilsafat Hukum
Pasangan nilai dalam Hukum antara lain:
1. a. Kebebasan: Ketertiban
b. Kepentingan Pribadi/Bagian: Kepentingan Antar-
PribadilKeseluruhan.
c. Kesebandingan Hukum!"billijkheid": Kepastian
Hukum.
2. Kebendaan/Materialisem: Keahlakan/Spiritualisem.
3. Kelestarian/Konservatisem; Kebaruan/Inovatisem.
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka dan Soerjono Soekanto,
Renungan tentang Filsafat Hukum).
VIII. Fungsi HukumlSeni HukumlPolitik Hukum
A. "Rechtsvorming"/Pembentukan Hukum,
B. "Rechtsvinding" lPenemuan Hukum:
1. Penafsiran.
2. Konstruksi:
a) Analogi.
b) Penghalusan Hukum.
3. Ungkapan a contratio.
(Bahan: Asser - Scholten, Hoofdstuk I + Van Apeldoom;
Inleiding Hoofdstuk XV - 1).
IX. Aliran (Praktek) Hukum
"Legisme" .
"Freierechtsbewegang" .
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka dan Soerjono Soekanto,
Perundang-undangan dan Jurisprudensi).
X. Aneka Cara Pembedaan Hukum
I. "Ins Constitutum: Ins Constituendum".
II. Hukum Alam/Kodrat: Hukum Positif.
III. Hukum Substantif/Materiel: Hukum AjektiflFormel.
IV. Hukum Inperatif/Memaksa: Hukum Fakultatif/Pe-
lengkap.
44 INTISARI HUKUM BENDA
V. Hukum Tidak Tertulis/Kebiasaan: Hukum Tercatat:
Hukum Tertulis.
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka dan Soerjono Soekanto,
Aneka Cara Pembedaan Hukum).
XI. Sumber/Bahan Hukum
(Bahan: Dedi Soemardi, Sumber Hukum Posilif).
XII. Hukum Dalam Arli Tala Hukum
A. Pengertian Tata Hukum.
B. Sejarah Tata Hukum Indonesia.
(Bahan: Kusumadi Pudjosewojo, Pedoman Pelajaran Tala
Hukum Indonesia + Sudiman Kartohadiprodjo,
Penganlar Tala Hukum Indonesia).
XVIII. Pembidangan Tala Hukum Indonesia
A. Hukum Tata Negara.
B. Hukum Administrasi Negara, mencakup pula:
1. Hukum Kepegawaian.
2. Hukum Pajak.
3. Hukum Administrasi Perburuhan.
4. Hukum Administrasi Agraria.
(Bahan: Benny M. Junus, Inlisari Hukum Adminislrasi
Negara).
C. Hukum Pribadi.
D. Hukum Harta Kekayaan, meliputi:
1. Hukum Benda, termasuk Hukum (Perdata) Agraria.
(Bahan: Surini A. Sjarif, Inlisari Hukum Benda
menurul BW, Ghalia Indonesia, 1984).
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka Ridwan Halim, Sen-
di-sendi Hukum Agraria).
2. Hukum Perikatan, meliputi:
a. Hukum Perjanjian (Hukum Dagang).
INTISARI HUKUM BENDA 45
b. Hukum Penyelewengan Perdata.
3. Hukum Hak Imateriel.
E. Hukum Keluarga (Adat, Barat, Islam dan Antar-
Hukum Keluarga).
(Bahan: Soerjono Soekanto, Intisari Hukum Ke-
luarga).
F. Hukum Waris (Adat, Barat Islam dan Antar-Hukum
Waris).
(Bahan: Surini A. Sjarif, Intisari Hukum Waris menu-
rut BW, Ghalia Indonesia, 1983).
G. Hukum Pidana.
(Bahan: Mustafa Abdullah & Ruben Achmad,Intv-
sari Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, 1983.
H. Hukum Acara.
(Bahan: Izaac S. Leihitu & Fatimah Achmacl, Intisari
Hukum Acara Perdata, Ghalia Indonesia,
1983).
I. Hukum Internasiona1.
(Bahan: Sri Setianingsih Suwardi, Intisari Hukum In-
ternasional) .
XIV. Peragaan Bahan Hukum.
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka & Agus Brotosusilo, Sendi-
sendi Hukum Perdata Internasional Suatu Orien-
tasi).
(Bahan: Purnadi Purbatjaraka dan Soerjono Soekanto,
Perundang-undangan dan Yurisprudensi).
46 INTISARI HUKUM BENDA
BUKU-BUKU HUKUM
HUKUM PERDATA
1. Hak Anda Atas Tanah, K. Wantjik Saleh, S.H.
2. Hukum Acara Perdata, K. Wantjik Saleh, S.H.
3. Hukum Perkawinan di Indonesia, K. Wantjik Saleh, S.H.
4. Aneka Hukum Perceraian di Indonesia, H.M. Djamil Latif, S.H.
5. Prof. Dr. J. Prins Tentang Hukum Perkawinan di Indonesia, Prof. Dr. J. Prins
6. Tinjauan Pencabutan Hak-hak Atas Tanah, Roosadijo
7. Peraturan Agraria 1979-1980, K. Wantjik Saleh, S.H.
8. Intisari Hukum Acara Perdata, Izzae S. Leihitu, S.H., Fatimah Aehmad, S.H.
9. Kumpulan Peraturan-peraturan Perwakafan Tanah Milik, H.M. Djamil Latif, S.H.
10. Hukum Perdata Dalam Tanya Jawab, A. Ridwan Halim, S.H.
11. Intisari Hukum Waris Menurut Burgerlijk Wetboek, Surini Ahlan Sjarif, S.H.
12. Hukum Agraria Dalam Tanya Jawab, A. RidwanHalim, S.H.
13. Pencegahan dan Penyelesaian Sengketa Pekarangan Dalam Hukum Tetangga dan
Peraturan Bangunan Jakarta, A. Ridwan Halim, S.H.
14. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Perumahan, Sofyan Effendi
15. Upaya Penyelesaian Sengketa Sewa Menyewa Perumahan Menurut Ketentuan-
ketentuan Perundang-undangan, Harun AI'Rasyid, S.H.
16. Fiducia Sebagai Jaminan Unsur-unsur Perikatan, Dey Hoey Tiong, S.H.
17. Intisari Hukum Benda Menurut BW (KUH Per), Surini Ahlan, Sjarif, S.H.
INTISARI HUKUM BENDA 47
HUKUM PIDANA
1. Pikiran-pikiran Tentang Pertanggungan Jawab Pidana, Prof. Mr. Roeslan Saleh
2. Asas-asas Hukum Pidana, Bambang Poemomo, S.H.
3. KUHP (Telah Disesuaikan UU Baru), M. Budiarto
4. Tindak Pidana Korupsi dan Suap, K. Wantjik Saleh, S.H.
5. Pelengkap KUHP, K. Wantjik Saleh, S.H.
6. KUHAP 1981., M. Budiarto, S.H., K. Wantjik Saleh, S.H.
7. Tanya Jawab KUHAP, Martiman Prodjohamidjojo, S.H.
8. Analisa Kriminologi Tentang Kejahatan-kejahatan Kekerasan, Drs. Mulyana W.
Kusumah
9. Kriminologi Suatu Pengantar, Dr. Soerjono Soekanto, S.H., M.A.
10. Pengantar Tentang Kriminologi, Prof. Mr. W.A. Songer
11. Hukum Pidana Dalam Tanya Jawab, Ridwan Halim, S.H.
12. Intisari Hukum Pidana, Mustafa Abdullah, S.H. dan Ruben A.chmad, S.H.
13. Kejahatan di Dalam Masyarakat, Drs. Mulyana W. Kusumah
14. Hukum Pidana Sebagai Konfrontasi Manusia dan Manusia, Prof. Mr. Roeslan Saleh
15. Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Dr. Andi Hamzah, S.H.
16. Studi Tentang Pendapat-pendapat Mengenai Efektivitas Pidana Mati di Indonesia
Dewasa Ini, Djoko Prakoso, S.H., Nurwachid, S.H.
17. Pidana Mati di Indonesia di Masa Lalu dan di Masa Depan, Dr. A. Hamzah, S.H., A.
Sumangilepu, S.H. _
18. Tindak Pidana Penerbangan di Indonesia, Djoko Prakoso, S.H.
19. Tugas dan Peranan Jaksa Dalam Pembangunan, Djoko Prakoso, S.H.
20. Peradilan in Absensia di Indonesia, Djoko Prakoso, S.H.
48 INTISARI HUKUM BENDA