Anda di halaman 1dari 34

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Sistem Pembangkit
Menurut hukum thermodinamika energi tidak bisa diciptakan maupun
dihilangkan. Akan tetapi energi bisa dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Karena tidak semua bentuk energi bisa bermanfaat langsung, ataupun
dapat didistribusikan kedalam kehidupan sehari hari, maka pengkonversian
bentuk energi sangat krusial. Karena kebutuhan akan energi khususnya energi
listrik selalu meningkat secara eksponensial bersama dengan peningkatan tingkat
peradaban suatu manusia.
Sebagaimana kita ketahui untuk menghasilkan energi listrik telah banyak
dibangun berbagai jenis pembangkit energi listrik, baik itu merupakan
Pembangkit energi listrik dengan sumber energi terbarukan ataupun tidak.

II.1. 1. Definisi
Secara definisi ada dua definisi yang diketahui tentang pembangkit listrik
yaitu :
Sebuah Unit Situs yang berfungsi untuk merubah jenis energi tertentu
menjadi energi listrik (Power Plant)
[1]
Sebuah Situs stasioner yang memiliki beberapa perangkat atau komponen
untuk mengkonversi bentuk energi skala besar dari salah satu jenis energi seperti
hidrolik, uap, atau lainya menjadi energy listrik (Generating Station)
[1]

7







Gambar 2.1 Gambar Situs Pembangkit
[p1]

Sistem Pembangkitan daya atau pembangkit listrik merupakan penerapan
dari prinsip prinsip siklus dasar thermodinamika. Contohnya untuk pembangkit
uap maka idealisasinya menggunakan siklus ideal rankine.

II.1. 2. Klasifikasi Pembangkit Listrik
Bila dilihat dari jenis energi yang digunakan untuk membangkitkan energy
listrik maka pembangkit Listrik dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

II.1.2.1. Energi Thermal
Dalam pembangkit listrik tenaga thermal daya dihasilkan dari mesin
penghasil panas heat engine yang mengubah energi thermal menjadi energi
putar atau mekanik
[2]

II.1.2.1.1. Klasifikasi Pembangkit Listrik Tenaga Thermal
pembangkit listrik tenaga thermal sendiri dapat diklasifiksikan atas dua
kriteria yaitu :

8

a. Sumber bahan bakar:
klasfikasi dari pembangkit energi thermal antara lain :
- Bahan Bakar Fossil
- Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
- Energi Geothermal
- Pembangki listrik Bertenaga Biomasa
- Sisa Panas dari Proses Industri
- Energi Panas Matahari
b. Penggerak Utama :
Bila dilihat dari penggerak utamanya maka pembangkit Listrik dibedakan
menjadi :
- Turbin Uap
- Turbin Gas
- Siklus Gabungan
- Mesin Pembakaran internal dengan Prinsip torak
- Microturbine, stirling engine

II.1.2.1.2. Siklus Thermodinamika
Sistem Pembangkitan daya atau pembangkit listrik merupakan penerapan
dari prinsip prinsip siklus dasar thermodinamika. Contohnya untuk pembangkit
uap maka idealisasinya menggunakan siklus ideal rankine.



9

a. Siklus Carnot
Pertama diusulkan tahun 1824 oleh insyinyur berkebangsaan perancis Sadi
Carnot. Siklus ini terdari dari empat proses reversible dua isothermal dan dua
adiabatic yang dapat dilaksanakan baik dalam sistem tertup maupun tunak .
[2


Gambar 2.2. Skema Siklus Carnot
[p2]

b. Siklus Brayton
Pertama diuslkan oleh George Brayton sekitar taun 1870. Siklus ini
digunakan untuk pada gas turbin, dibuat dalam siklus terbuka, dimana proses
kompresi dan ekspansi berlangsung dalam rotating Machienaery.
[2]

Siklus turbin gas dapat dimodelkan sebagai siklus tertup dengan
menambahkan asumsi standar udara. Proses pembakaran digantikan dengan
penambahan energi termal adiabatik. Proses pembuangan diganti dengan proses
penghilangan energi termal adiabatik kedalam udara lingkungan.
[2]
Siklus Ideal Brayton terbagi atas empat proses yaitu :
- 1-2 Kompresi Isentropik (Kompresor),
- 2-3 Penambahan Energi Thermal Isobarik,
- 3-4 Ekpansi Isentropik (Turbin),
- 4-1 Penghilangan Energi Thermal Isobarik.
10







Gambar 2.3 Skema Siklus Brayton
[p2]

c. Siklus Rankine
Merupakan siklus ideal untuk pembangkit uap. Siklus ini tidak
mengikutsertakan sedikitpun proses yang irreversible dan terdiri dari empat
proses.
[2]
yaitu :
- 3-4 Kompresi Isentropic di Pompa
- 4-1 Penambahan Energi Termal isobaric di Boiler
- 1-2 Ekspansi Uap Isentropic di Turbin
- 1-3 Penghilangan Energi Termal Isobarik di Kondensor







Gambar 2.4. Skema Siklus Rankine
[p2]




11

d. Siklus Kombinasi Gas dan Uap
Pencarian terhadap efisiensi termal telah menghasilkan modifikasi inovatif
terhadappembangkit listrik konvensioanal. Yaitu the binary vapor cycle atau
biasa disebut siklus kombinasi gas vapor atau bisaisebut juga siklus kombinasi,
yang mengkombinasikan siklus rankine dan siklus brayton yang memiliki efisensi
lebih tinggi bila dibandingkan dengan salah satu siklus bila dilaksanakan secara
terpisah.
[2]








Gambar 2.5 Skema Siklus Kombinasi Gas dan Uap
[p2]

e. Siklus Diesel dan Siklus Otto
Adalah siklus yang digunakn sebagai siklus ideal dari motor bakar torak.
Siklus otto sebagai siklus yang digunakan untuk motor bakar torak berbahan
bakar bensin dan siklus diesel untuk motor bakar torak berbahan bakar minya
diesel. Perbedaan dari kedua siklus tersebut adalah pada proses prose yang
dilakukan pada siklus tersebut.


12









Gambar 2.6. Skema Siklus Diesel dan Otto
[p3]

II.1.2.2. Jenis Energi Lain
Terdapat beberapa jenis pembangkit energi lain yang juga sangat
bermanfaat bagi masyarakat dalam menghasilkan energi listrk seperti Pembangkit
listrik tenaga Air, tenaga Angin maupun tenaga Surya.
a. Pembangkit listrik Tenaga Air
Pembangkit Listrik tenaga air menghasilkan listrik yang berasal
dari energy potensial dan kinetic hidrolis air. Yang memiliki prinsip
sebagai berikut :
Air ditampung di dalam dam yang kemudian dialirkan ke
turbin yang dikopelkan ke generator sehingga mengkonversi energi
hidrolis air tersebut menjadi energi listrik,
[3]
13


Gambar 2.7. Pembangkit Listrik Tenaga Air
[p5]

b. Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Pembangkit listrik menghasilkan listrik yang berasal dari energi
kinetik dari angin. Prinsipnya adalah angin yang bergerak memutarkan
poros yang dihubungkan ke generator sehingga dapat menghasilkan listrik.

[en.wikipedie.org]


Gambar 2.8. Pembangkit Listrik Tenaga Angin
[p5]
c. Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Tenaga surya adalah konversi sinar matahari menjadi listrik , baik
secara langsung menggunakan photovoltaic (PV), atau tidak langsung
menggunakan tenaga surya terkonsentrasi (CSP). Sistem tenaga surya
terkonsentrasi menggunakan lensa atau cermin dan sistem pelacakan untuk
14

fokus area besar sinar matahari menjadi sinar kecil. Fotovoltaik mengubah
cahaya menjadi arus listrik dengan menggunakan efek
fotolistrik
[en.wikipedie.org]


Gambar 2.9. Pembangkit Listrik Tenaga Air
[p5]

II.2 Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Siklus pembangkit Uap adalah pembangkit dimana penggerak utamanya
adalah Uap. Air pertama dipanaskan hingga berubah menjadi uap dan memutar
turbin uap. Sehingga memutarkan generator listrik. Setelah uap keluar dari turbin .
turbin dikondensasikan didalam kondensor dan didaur ulang menjadi air. Dimana
prinsip kerja ini dikenal dengan siklus Rankine
[3]

II.2.1. Sumber Energi
Pembangkit listrik tenaga uap sendiri bias digunakan pada beberapa jenis
sumber enegi yaitu :
1. Geothermal
2. Biomassa
3. Sampah
4. Batubara

15

II.2.2. Analisis Energi pada Siklus
Analisis energi dapat dilihat dari setiap komponen (alat-alat) yang terdapat
pada siklus Rankine dengan menggunakan asumsi bahwa komponen-komponen
tersebut bekerja pada aliran tunak (steady). Persamaan energi untuk sistem dengan
aliran tunak yaitu:

(2.1)
Persamaan energi untuk masing-masing komponen dapat ditulis:
- Pompa

(2.2)
- Boiler

(2.3)
- Turbin

(2.4)
- Condenser

(2.5)
Dari persamaan diatas diperoleh

yaitu:

(2.6)
Efisiensi termal siklus Rankine dapat ditulis:

Q
Q
Q
W
in
out
in
net
= = 1 q
(2.7)
16

Pada kenyataannya terdapat kerugian dalam siklus Rankine yang terjadi
karena:
1. Terjadi gesekan fluida yang menyebabkan turunnya tekanan di
boiler dan kondensor sehingga tekanan uap pada saat keluar boiler sangat rendah
maka kerja yang dihasilkan turbin (Wout) dan efisiensinya menurun. Hal ini dapat
diatasi dengan meningkatkan tekanan fluida yang masuk.
2. Kalor yang hilang ke lingkungan menyebabkan kebutuhan kalor
(Qin) dalam proses bertambah sehingga efisiensi termalnya berkurang.
Penyimpangan pada siklus Rankine ditunjukkan oleh Gambar 2.10
dibawah ini.


Gambar 2.10 Siklus Rankine sebenarnya
[p3]
Penyimpangan ini terjadi karena adanya irreversibilitas yang terjadi pada
pompa dan turbin, sehingga pompa membutuhkan kerja (Win) yang lebih besar
dan turbin menghasilkan kerja (Wout) yang lebih rendah seperti pada Gambar
2.11 dibawah ini.
17


Gambar 2.11 Siklus Rankine sebenarnya (a), Siklus Rankine
isentropik (s)
[p2]
Efisiensi pompa dan turbin yang mengalami irreversibilitas dapat dihitung
dengan
1 2
1 2
h h
h h
W
W
a
s
a
s
P

= = q
(2.8)
a
a
s
a
T
h h
h h
W
W
4 3
4 3

= = q
(2.9)
dimana:
- 2a & 4a, menyatakan keadaan yang sebenarnya pada turbin dan
pompa.
- 2s & 4s, menyatakan keadaan isentropic.


II.2.3. Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap

18


Gambar 2.12. Skema Siklus pembangkit Listrik Tenaga Uap
[p2]
Pada dasarnya prinsip kerja turbin uap adalah siklus rankine, dimana uap
berasal dari air yang dipompa kedalam boiler dan dirubah fasanya menjadi Uap
super panas di boiler tersebut. Proses tersebut dilakukan secara kontinu dan
simultan. Setelah itu uap masuk kedalam turbin dan didalam turbin tersebut energi
thermal dari uap dikonversikan menjadi energi putar atau mekanik didalam turbin.
Energi mekanik tersebut digunakan untuk mnggerakkan generator
sehingga dapat menghasilkan arus listrik.
Uap yang telah digunakan kemudian dikondensatkan sehingga dapat
digunakan kembali didalam siklus.

II.2.4. Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Komponen komponen utama dari pembangkit listik tenaga uap adalah :
1. Boiler
2. Tubin Uap
3. Kondensor
4. Pompa
5. Katup
19

II.2.4.1. Boiler
Boiler adalah sebuah bejana tertutup dimana air atau cairan dipanaskan.
Cairan atau Uap yang telah dipanaskan keluar dari boiler dalam bentuk uap untuk
digunakan dalam beberapa proses atau aplikasi pemanasan
[4][5][6]






Gambar 2.13. Boiler
[p4]

II.2.4.1.1. Material Boiler
Bejana tekan dalam boiler biasanya dibuat dari baja (baja paduan), atau
dalam sejarnya dibuat menggunakan besi mentah. Stainless steel dilarang (oleh
Kode boiler ASME) untuk digunakan di bagian yang terbasahi dari boiler, tapi
stainless steel biasa digunakan dalam bagian superheater yang tidak tersentuh
secara langsung terhadap air dalma boiler. Dalam live steam boiler tembaga dan
kuningan kadang juga digunakan karena mudah dibentuk dan mudah dibuat untuk
boiler dengan kapasitas lebih kecil.
II.2.4.1.2. Bahan Bakar (Fuel)
Asal dari panas yang digunakan pada boiler adalah hasil pembakaran dari
berbagai jenis bahan bakar, contohnya : kayu, batubara, minyak, atau Gas Alam.
20

Sedangkan Boiler sistem elektrik menggunakan resistansi atau imersi dari
pemanas listrik, Ada juga penggunaan Nuklir yang biasa disebut Nuklir Fisi
sebagai sumber dari panas yang digunaka pada boiler. Tapi ada yang
menggunakan panas hasil sisa dari proses lainya yang biasa dinamakan Heat
recovery Steam Generator (HRGRs, contohnya seperti gas turbin.
II.2.4.1.3. Konfigurasi / Jenis Jenis Boiler
Ada beberapa jenis konfigurasi dari boiler. Yang bergantung dari
mekanisme penghasilan uap, seperti:
- "Pot boiler" atau"Haycock boiler": adalah ketel uap primitif
dimana api memanaskan ketel tersebut dari bawah. Tipe dari oiler ini
menghasilkan uap dengan tekanan sangat rendah
- fire Tube boiler. : Jenis ini mengisi tong boiler dengan sedikit
jumlah air yang hanya cukup mengakomodasi uap. Tipe jenis ini memiliki tungku
(firebox) yang kemudian dialirkan kedalam pipa pipa. Yang nantinya akan
memanaskan air sehingga menjadi uap.






Gambar 2.14. Fire Tube Boiler
[p5]

21

o Water Tube Boiler. : Pada jenis Ini tabung air disusun dalam
ruang pembakaran (Oven) dengan beberapa jenis konfigurasi. biasanya jenis ini
ada tabung yang mengubungkan antara tabung besar yang berisi air dengan
tabung yang berisi uap .







Gambar 2.15. Water Tube Boiler
[p5]


- Fire-tube boiler dengan Water-tube firebox.
Jenis ini merupakan penggabungan antara firetbe dan water tbe tapi
aplikasi dari boiler tipe jenis ini tidak terlalalu banyak diaplikasikan

II.2.4.2. Turbin Uap
Turbin uap adalah suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial
uap menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini yang selanjutnya diubah menjadi
energi mekanis dalam bentuk putaran poros tubin. Poros turbin tersebut langsung
atau dengan bantuan roda gigi reduksi, dihubungkan dengan mekanisme yang
digerakkan. Tergantung pada jenis mekanisme yang digerakkan turbin uap dapat
digunakan pada berbagai bidang industri, seperti untuk pembangkit listrik.
22


Gambar 2.16 Turbine generator system
[1]
II.2.4.2.1 Komponen Utama Turbin Uap
Secara umum komponen-komponen utama dari sebuah turbin uap tersusun atas
:
Gambar 2.17 Potongan Secara Melintang Sebuah Turbin Uap

- Nosel (Nozzle)
Nosel berfungsi sebagai alat pengekspansi uap dan mengubah energi
potensial uap menjadi energi kinetik. Suatu nosel memiliki suatu batasan
23

kemampuan dalam menurunkan tekanan batasan tersebut dinamakan tekanan
kritis.

Gambar 2.18 Skema Nosle Konvergen

Tekanan kritis (Pkr) pada nosel dari penyelidikan penyelidikan teoritis dan
percobaan, diketahui bahwa uap yang mengalir melalui nosel dengan penampang
jenis konvergen dimana uap berekspansi didalamnya dan mencapai nilai
minimum tertentu pkr. Yang sama dengan 0,577 dari tekanan awal untuk uap
kering jenuh, dan 0,546 dari tekanan awal untuk untuk uap panas lanjut
Pada turbin uap nosel dibagi menjadi dua kategori berdasarkan tekanan
awal dan akhir uap sebelum dan sesudah nosel,yaitu
o Nosel konvergen
Nosel yang mempunyai laluan dengan luas penampang yang mengecil secara
seragam.





24



Gambar 2.19 Skema Nosle Konvergen

dimana ujung sisi keluar memiliki luas penampang yang minimum dalam hal ini
nosel dapat mengekspansi tekanan uap sampai pada tekanan kritisnya
o Nosel konvergen-difergen
Nosel yang memiliki laluan penampang yang mengecil yang sering disebut
leher(throat) dan kemudian membesar.


Gambar 2.20 Skema Nosel Konvergen-Divergen

Kelebihan nosel konvergen yaitu dapat mengekspansi tekanan lebih dari tekanan
kritisnya

- Sudu (blade)
25

Sudu merupakan sebuah sebuah alat yang mengkonversi energ kinetik yang
didapat dari nosel dan mengubahnya menjadi putaran pada poros.

Gambar 2.21 Sudu Turbin Jenis Impulse

- Cakram
Cakram merupakan dudukan dari sudu yang menghubungkan dan menghantarkan
energi yang didapat sudu menuju poros turbin uap

Gambar 2.22 Cakram


- Poros (shaft)
Merupakan komponen utama pada turbin uap yang berfungsi menghatarkan daya
torsi yang diperoleh sudu serta sebagai tempat dudukan cakram
26


Gambar 4.23 Poros Turbin Yang Sedang Dimesin


- Bantalan (bearing)
Bantalan berfungsi sebagai tumpuan poros dan meminimalkan gesekan pada
poros. Bantalan yang dipakai pada turbin uap umumnya berupa bantalan aksial
dan bantalan radial.

Gambar 2.24 Bantalan Radial Dan Aksial





27

- Kopling
Fungsi kopling adalah sebagai penghubung mekanisme poros dan generator dan
juga berfungsi mentransmisikan daya poros rotor menuju poros generator







Gambar 2.25 Kopling Tetap Pada Turbin Uap
- Paking labirin
Paking labirin berfungsi mencegah kebocoran uap pada turbin uap

Gambar 2.26 Foto Dan Skema Paking Labirin


- Rumah Turbin (casing)
Rumah turbin berfungsi sebagai tumpuan utama berbagai mekanisme turbin uap
dan berbagai komponen lainnya
28


Gambar 2.27 Casing Turbin Uap Buatan AEG

II.2.4.2.2 Klasifikasi Turbin Uap
Turbin uap dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut :
- Menurut jumlah tingkat tekanan:
o Turbin dengan tingkat tunggal (singel stage turbine)
Diamana turbin jenis ini banyak dipakai untuk menggerakan mesin kompresor
ataupun yang sejenisnya.
o Turbin dengan tingkat banyak (multi stage turbine)
Dimana turbin jenis ini dibuat untuk jangka kapasitas yang luas mulai dari yang
kecil hingga yang besar.
- Menurut arah alir uap
o Turbin aksial
Turbin dimana arah aliran uap sejajar dengan sumbu turbin
o Turbin radial
Turbin dimana arah airan uapa tegak lurus dengan sumbu poros turbin.

29

berdasarkan konstruksi, penurunan kalor, kondisi-kondisi awal dan akhir, serta
pemakaiannya dalam bidang industri.

Berdasarkan tekanan uap yang digunakan untuk menggerakkan menggerakan roda
jalan melalui sudu, maka turbin uap dibagi menjadi:
1) Turbin Impuls atau sering disebut turbin aksi ataupun turbin tekanan tetap.
Pada turbin jenis ini uap mengalami ekspansi hanya pada nozzle saja sehingga
tekanan uap sebelum sudu dan sesudah sudu tetap.
2) Turbin Reaksi atau turbin tekanan berubah. Pada turbin jenis ini uap
mengalami ekspansi di dalam nozzle maupun sudu-sudu turbin, sehingga tekanan
uap setelah keluar dari tiap tingkat sudu mengalami penurunan dari tingkat
sebelumnya.

Gambar 2.28 Turbin impuls (kiri), Turbin reaksi (kanan)

30

1. Berdasarkan arah aliran uap di dalam turbin, maka turbin dapat dibedakan
menjadi:
1) Turbin aksial, pada turbin ini fluida kerja mengalir dalam arah yang sejajar
terhadap sumbu turbin.
Contohnya turbin Parsons dan turbin Curtis.
2) Turbin radial, pada turbin ini fluida kerja mengalir dalam arah tegak lurus
terhadap sumbu turbin.
Contohnya turbin Ljungstrom
2. Berdasarkan tekanan uap keluar turbin, turbin uap dapat dibedakan
menjadi:
1) Turbin Kondensasi (Condensing Turbine)
Pada turbin ini saluran keluar dihubungkan langsung dengan kondensor, sehingga
tekanan uap pada saluran keluar mendekati vakum.

Gambar 2.29 Skema turbin kondensasi

2) Turbin Tekanan Lawan (Back Pressure Turbine)
Adalah turbin yang tekanan uap pada saluran keluarnya masih diatas 1 atmosfer,
sehingga uap bekas masih dapat dimanfaatkan.


31


Gambar 2.30 Skema turbin tekanan lawan

3.1.1 Segitiga kecepatan pada turbin impuls
Karena sudu grak berputar, maka ada kecepatan realtif antara uap dan sudu gerak.
Hubungan antara kecepatan sudu gerak dan kecepatan absolute uap adalah salah
satu faktor yang menentukan efisiensi turbin sudu. Dalam pembahasan segitiga
kecepatan , umumnya dipakai notasi-notasi sebagai berikut
- U = kecepatan keliling sudu gerak
- W = kecepatan relatif uap terhadap sudu
- C = Kecepatan absolut uap

Gambar 2.31 Koefisien kecepatan sebagai fungsi tinggi sudu (l
d
)
[1]
32

Hubungan antara kecepatan-kecepatan tersebut adalah sebagai berikut:
w u c + = 1
1 1
w u c + =


2
2 2
w u c + =

Dalam arah tangensial :
w
1u
= w
1
.cos
1
c
1u
= c
1
.cos
1

w
2u
= w
2
.cos
2
c
2u
= c
2
.cos
2

Dalam arah aksial :
w
1a
= w
1
.sin
1
c
1a
= c
1
.sin
1

w
2a
= w
2
.sin
2
c
2a
= c
2
.sin
2

Dari segitiga kecepatan di atas diperoleh hubungan sebagai berikut :
c
1u
= c
2u
+ u
c
2u
= w
2u
- u +
c
1u
+ c
2u
= c
2u
+ w
2u

Gambar 2.32 Koefisien kecepatan sebagai fungsi tinggi sudu (l
d
)
[1]

Uap keluar dari nosel dengan kecepatan absolut c
1
, kemudian memasuki
barisan sudu gerak dengan sudut
1
(sudut serang nossel). Karena cakram berputar
33

dengan kecepatan putar n dan kecepatan tangensial u, maka kecepatan uap masuk
akan berubah besar dan arahnya. Kecepatan uap tersebut disebut sebagai
kecepatan uap masuk relatif, w
1
(gambar 4.9). Uap keluar dari sudu gerak baris
pertama dengan kecepatan absolut c
2
akan membentuk sudut
2
terhadap arah
putaran cakram, sedangkan kecepatan relatifnya adalah w
2
dengan sudut
2
.
Uap yang keluar dari sudu gerak baris pertama akan masuk ke sudu tetap
(sudu pengarah) yang selanjutnya masuk ke sudu gerak baris kedua dan
seterusnya.
Sudut serang nosel (
1
) dibuat sekecil mungkin untuk memperoleh gaya
tangensial yang besar, namun karena dibatasi oleh konstruksi turbin uap, maka
disarankan bahwa sudut
1
haruslah berada diantara 11
o
-14
o
(untuk tingkat-
tingkat tekanan tinggi), yang secara berangsur-angsur
1
diperbesar (biasanya
hanya dapat pada tingkat-tingkat tekanan rendah untuk turbin-turbin kondensasi)
hingga ke 20
o
dan dalam hal khusus bahkan dapat dibuat lebih besar lagi yaitu 30
o

sampai 35
o
. Untuk turbin Curtis dengan dua tingkat kecepatan,
1
= 16
o
22
o

sedangkan untuk turbin Curtis dengan tiga kecepatan,
1
= 20
o
24
o
.
Harga kecepatan tangensial sudu (u) dapat ditentukan untuk variasi harga
u/c
1
yang tertentu. Kecepatan tangensial merupakan kecepatan keliling turbin
pada diameter cakram rata-rata. Kecepatan tangensial dapat diperoleh dari
persamaan berikut:
u =
(

1
c
u
.c
1
[m/s] (4.1)
Kecepatan tangensial terbesar pada tingkat tekanan terakhir turbin diatasi
sampai 350 m/s. Perbandingan antara kecepatan keliling (tangensial) dan
34

kecepatan uap absolut, x = u/c
1
, merupakan variabel yang sangat penting dalam
perancangan turbin uap, khususnya dalam menentukan efisiensi internal relatif
turbin (
u
). Dalam perhitungan, harga u/c
1
diasumsikan terlebih dahulu dan
sebagai perhitungan awal untuk berbagai tingkat kecepatan turbin, harga u/c
1

dapat menggunakan batasan berikut.
Pada turbin bertingkat, diameter turbin pada setiap tingkatannya dibuat
sedemikian rupa sehingga kenaikan diameter terjadi secara gradual dari tingkat
pertama sampai tingkat terakhir.
Untuk mempermudah dalam menentukan besar kecepatan dan sudut pada
sudu turbin, maka perlu digambarkan segitiga kecepatan baik pada sisi masuk
maupun pada sisi keluar sudu.
Kecepatan relatif, w
1
dapat ditentukan dari diagram segitiga kecepatan
atau dengan persamaan matematika untuk aturan cosinus, yaitu :
1 1
2 2
1 1
cos . . . 2 o c u u c w + = [m/s] (4.3)
Besar sudut
1
adalah :
(

+ =

1
1 1
1 1
. sin .
sin
w
u o
o |
(4.4)
Biasanya sudut
2
ditentukan sebagai berikut:

2
=
1
- (2
o
10
o
) (4.5)
Pada sudu akan terjadi rugi-rugi energi yang menyebabkan kecepatan relatif w
2

akan lebih kecil dari kecepatan relatif w
1
. Rugi-rugi energi tersebut dinyatakan
sebagai koefisien kecepatan sudu() sehingga:
w
2
= .

w
1
[m/s] (4.6)
35

Harga koefisien kecepatan untuk sudu gerak maupun sudu tetap (pengarah) dapat
diperoleh dari gambar.

Gambar 2.33 Koefisien Kecepatan Sebagai Fungsi Tinggi Sudu (L
d
)
[1]
Kecepatan absolut uap yang keluar dari sudu gerak (c
2
), dapat ditentukan secara
grafis dari diagram kecepatan atau dengan menggunakan persamaan berikut:
2
2 2
2 2
cos . . 2 | u u w c + = [m/s] (4.7)
Uap keluar dari sudu gerak dengan sudut
2
dan ditentukan dari persamaan :
(

+ =

2
2 1
2 2
. sin .
sin
c
u |
| o
(4.8)
II.2.4.2.3 Ekspansi Uap Pada Nosel
Pada nosel terjadi perubahan energi entalpi uap menjadi energi kinetik uap,
proses tersebut dinamakan proses ekspansi atau proses pengembangan,
karena volume spesifik uap keluar nosel membesar. Pada proses
pengembangan uap ini terjadi :
- Tekanan uap turun - Kecepatan uap naik
- Temperatur turun - Volume spesifik naik
- Entalpi turun
36

Jika tidak terjadi perpindahan panas dengan lingkungan, maka berdasarkan
hukum kekekalan energi, energi total uap pada sisi masuk sama dengan pada
sisi keluar nosel, yaitu :
2 2
2
1
1
2
0
0
v
h
v
h + = +
(4.9)
Dimana:
2
0
2
0
c v =
;
2
1
2
1
c v =

00
2
0
0
2
h
v
h = +

01
2
1
1
2
h
v
h = +

Pada nosel terjadi rugi-rugi energi yang akan menyebabkan berkurangnya
kecepatan uap yang keluar dari nosel. Kerugian tersebut dinyatakan
sebagai koefisien kecepatan , sehingga kecepatan absolut uap sewaktu
meninggalkan nosel dapat ditentukan:
Harga dapat diperoleh dari gambar 4.12. Harga tergantung dari dimensi
dan bentuk nosel yang besarnya hanya dapat ditentukan melalui eksperimen,
biasanya antara 0,91 sampai 0,98.

Gambar 2.34 Koefisien Kecepatan () Sebagai Fungsi Tinggi Nosel (L
n
)
[1]
37

II.2.4.2.4 Kerugian Energi Pada Turbin Uap
Pada suatu tingkat turbin, jumlah penurunan kalor yang benar benar
dikonversi menjadi enrgi mekannis pada poros turbin adalah kecil hal ini
dikarenakan terdapat beberapa kerugian yang timbul pada turbin pada
kenyataannya. Semua kerugian yang timbul pada turbin aktual dapat dibagi
menjadi beberapa kelompok:
1 Kerugian dalam yaitu kerugian yang berkaitan dengan kondisi kondisi uap
sewaktu uap tersebut mengair melalui turbin
2 Kerugian luar yaitu kerugian yang tidak mempengaruhi kondisi kondisi
uap.
Jenis jenis kerugian luar dapat diklasifikasikan sebagai berikut
- kerugian pada katup pengatur
kerugian pada katup pengatur umumnya disebabkan oleh pencekikan (thottling)
pada katup tersebut. Kita dapat mengandaikan bahwa selama proses pencekikan
kandungan kalor total uap per kilogram akan tetap sama, dengan kata lain h0 =
konstan
Besarnya kerugian tekanan akibat pencekikan dengan katup pengatur terbuka
lebar dapat diandaikan sebesar 5% dari tekanan uap segar

,oleh


- Kerugian pada nosel(sudu pengarah)
Kerugian kerugian energi kinetik uap sewaktu mengalir melalui laluan lauan nosel
atau sudu pengarah akibat kerugian energi uap sebelum memasuki nosel, tahanan
gesek dinding dinding nosel, gesekan akibat visikositas partikel, penyimpangan
38

aliran, penebalan lapisan batas, turbulensi pada olakan( kerugian olakan) dan
kerugian pada dinding dinding di bawah sudu nosel, dll
Kerugian pada kecepatan uap yang keluar dari nosel telah dicakup oleh koefisien
kecepatan nosel . Besarnya koefisien kecepatan sangat tergantung dari
tinggi nosel dimana semakin kecil ukuran nosel maka koefisien kecepatan
sudu juga akan semakin berkurang. Koefisien kecepatan sudu dapat dambil
dari data berikut
Untuk coran kasar nilai = 0,93 - 0,94
Untuk nosel yang dicor dan di mesin freis = 0,95 0,96
Untuk nosel yang difrais halus = 0,97 0,98
- Kerugian pada sudu gerak
Kerugian pada sudu gerak disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kerugian akibat
olaka pada ujung belakang sudu kerugian akibat turbrukan, kerugian akibat
kebocoran ua melingkar, kerugian akibat gesekan, kerugian akibat pembelokan
semburan uap pada sudu dan kerugian akibat penyelubungan.
Kerugian total pada sudu telah dicakup oleh koefisien kecepatan sudu . Koefisien
kecepatan sudu dapat diperoleh dari gambar 2. Untuk berbagai ukuran tinggi sudu
- Kerugian akibat gesekan cakram
Kergian terajdi diantara cakram turbin yang berputar dan uap yang
menyelubunginya. Cakram yang berputar itu menarik partikel partikel yang ada di
dekat permukaannya dan memberi gaya gaya yang searah dengan putarannya.
Kerja yang digunakan untuk melawan gesekan dan partikel partikel uap ini akan
dikonversi menjadi kalor. Hal ini menyebabkan bertambahnya kandungan kalor
uap
39