Anda di halaman 1dari 63

AUTOPSI

Menurut peraturan pada umumnya tiap jenazah dimakamkan secara utuh, kecuali yang bersangkutan menghendaki lain, misalnya : 1. Jenazahnya diserahkan pada suatu fakultas kedokteran untuk bedah mayat anatomis. 2. Jenazahnya boleh dilakukan bedah mayat klinis. 3. Jenazahnya diserahkan kepada rumah sakit guna transplantasi untuk menolong sesama manusia sebagai donor.

Untuk menggunakan jasad manusia setelah meninggal, maka oleh pemerintah telah dikeluarkan peraturan tentang bedah mayat klinis, bedah mayat anatomis serta transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia yaitu P. P. 18 tahun 1981/L.N. 1981/23. Peraturan lain mengenai bedah mayat anatomis dan bedah mayat klinis dapat ditemukan juga dalam : 1. Staatsblad 1971 No. 91 2. Bedah mayat klinis dalam lingkungan ABRI yang merupakan Keputusan Menteri Pertahanan-Keamanan/ Panglima Angkatan bersenjata No.Kep/B/20/V/1972.

BEDAH MAYAT atau AUTOPSI


Selain kata autopsy yang biasa dikenal juga istilah : Seksi Nekropsi Obduksi Pemeriksaan post mortem

Ada tiga macam autopsy : Autopsi anatomis

Autopsy klinik Autopsy kehakiman/forensic

AUTOPSI ANATOMIS Syarat untuk dapat melakukan autopsy anatomis menurut P.P 18 tahun 1981 ialah : 1. Adanya surat wasiat dari yang bersangkutan yang menghendaki supaya mayatnya diserahkan kepada suatu Fakultas Kedokteran untuk autopsy anatomis yang sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Burgelijk Wetbork (B.W) atau Kitab UndangUndang Hukum Perdata pasal 935. 2. Surat persetujuan keluarga yang terdekat dari yang meninggal dunia dating ke Rumah Sakit untuk mengurus mayat. Ada kalanya pada mayat waktu dilakukan autopsy anatomis ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dalam hal demikain mayat dikembalikan ke Bagian Ilmu Kedokteran Forensik untuk selanjutnya diperiksa dengan tidak mengurangi formalitas hokum yang harus dipenuhi.

AUTOPSI KLINIK Autopsi klinik adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara pembedahan terhadap mayat untuk mengetahui dengan pasti penyakit atau kelainan yang menjadi sebab kematian dan untuk penilaian hasil usaha pemulihan kesehatan. Autopsy klinik kemudian dilengkapi dengan pemeriksaan : Histopatologi Bakteriologi/ virology Toksikologi Sero-imunologi

P.P 18 tahun 1981 menghendaki : persetujuan oleh yang bersangkutan atau keluarga terdekat untuk autopsy anatomis, autopsy klinik atau transplantasi harus dibuat diatas kertas bermaterai dengan dua orang saksi. Dengan keluarga terdekat diartikan : isteri, suami, ibu, atau saudara seibu sebapak ( sekandung) dari penderita dan saudara ibu, saudara bapak serta anak yang telah dewasa dari penderita. Peraturan autopsy klinik untuk ABRI menurut Keputusan Menteri PertahananKeamanan /Panglima Angkatan Bersenjata Nomor : Kep/B/20/V/1972. Bab II bedah mayat klinis : Pasal 2 Bedah mayat klinis dilakukan dalam keadaan-keadaan sebagai berikut : 1. Apabila Anggota ABRI meninggal dirumah sakit dalam waktu 48 jum setelah saat masuknya di rumah sakit tersebut. 2. Apabila Anggota ABRI meninggal di Rumah Sakit dan diagnosanya tidak diketahui dengan tepat dan atau penyakitnya berdasarkan penetapan dokter-dokter yang merawatnya, mengandung bahaya bagi orang lain 3. Apabila Anggota ABRI meninggal selama mengikuti suatu latihan kemiliteran atau dalam waktu 48 jam setelah saat latihan dihentikan, dan diduga atau patut diduga bahwa kematiannya itu ada hubungannya dengan latihan tersebut. 4. Apabila Anggota ABRI meninggal sebagai akibat suatu kecelakaan yang sebabsebabnya diduga atau patut diduga ditimbulkan oleh keadaan kesehatan anggota ABRI yang meninggal tersebut. 5. Apabila Anggota ABRI meninggal karena sebab-sebab yang diduga atau patut diduga merupakan akibat kedinasan, diluar yang dimaksud oleh ayat (3) dan (4) pasal ini. Pasal 3 1. Untuk dapat dilakukan bedah mayat klinis pada keadaan yang dimaksud dalam pasal 2 ayat (1), (2), dan (5), diperlukan persetujuan tertulis anggota ABRI yang bersangkutan sebelum meninggal atau keluarganya yang terdekat.

2. Untuk dapat dilakukan bedah mayat klinis pada keadaan-keadaan yang dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) dan (4) tidak diperlukan persetujuan tersebut dalam ayat (1) pasal ini. 3. Bagi Anggota ABRI yang meninggal ddan keluarganya tidak dikenal atau tidak mempunyai keluarga sama sekali dan biaya pemakamannya ditanggung sepenuhnya oleh ABRI, tidak diperlukan persertujuan tersebut dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 4 Perlunya dilakukan bedah mayat klinis pada seorang anggota ABRI, dikukuhkan oleh : 1. Suatu panitia /tim dokter yang terdiri dari pada 3 (tiga) orang atau lebih dalam jumlah yang ganjil dan yang bersama-sama menanda tangani surat pernyataan perlunya bedah mayat klinis tersebut. 2. Untuk lingkungan dalam suatu Rumah Sakit , Panitia/tim dokter yang bersifat tetap ini diangkat oleh komandan/Kepala Rumah Sakit tersebut dengan suatu surat Keputusan. 3. Apabila suatu daerah/tempat, ABRI tidak memiliki cukup dokter untuk memenuhi kebutuhan dalam sub 1 pasal ini , dan atau juga tidak memiliki tenaga kesehatan ahli seperti yang dimaksud dalam pasal 5 sub 2, diperbolehkan mempergunakan tenagatenaga kesehatan diluar ABRI sesuai dengan prosedur dan ketentuan-ketentun yang berlaku. Menentukan saat kematian menurut P.P 18 tahun 1981 : Criteria kematian yang kontroversional : seorang telah meninggal dunia apabila keadaan insane yang diyakini oleh ahli Kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernafasan, denyut jantung seseorang telah berhenti. Khusus untuk transplantasi saat kematian ditentukan oleh 2 orang dokter yang tidak ada sangkut paut medic dengan dokter yang melakukan transplantasi : menentukan saat meninggalnya seseorang di Rumah Sakit modern dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut encephalograf, yaitu suatu alat yang mencatat aktivitas otak.

AUTOPSI KEHAKIMAN/ FORENSIK. Autopsi kehakiman (forensic) atau pemeriksaan mayat untuk peradilan ialah autopsy yang dilakukan atas ddasar perintah yang berwajib untuk kepentingan peradilan, karena peristiwa yang diduga merupakan tindak pidana, cara melakukannya tidak berbeda dengan autopsy klinik. Autopsy kehakiman atau forensic selain dilakukan di Rumah Sakit bila perlu dikerjakan di tempat kejadian perkara atau ditempat dimana mayat dikuburkan (missal dipemakaman umum), bila mayat tidak mungkin diangkut ke Rumah Sakit. Yang berwenang minta autopsy Kehakiman /forensic ialah : 1. Penyidik (KUHAP 133,134,135) 2. Hakim pidana (KUHAP 180) Yang dimaksud dengan penyidik (KUHAP pasal 1, KUHAP pasal 6) : untuk kejahatan criminal ialah pejabat polisi Negara Republik Idonesia dengan pangkat paling rendah Pelda (Aipda).Di daerah terpencil penyidik pembantu diberi wewenang sebagai penyidik dan pangkat paling rendah adalah serda (Bripda) (KUHAP pasal 11) Kata pemeriksaan mayat untuk peradilan, autopsy kehakiman Gerechteljke Lijkschoowing, selain di KUHAP 133 juga dijumpai di KUHP 222, Reglemen pencatatan Sipil Eropa 72, Reglemen Pencatatan Sipil Tionghoa 80 dan Stbl. 1871/91. Pasal 222 KUHP : barang siapa dengan mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Yang berwenang melakukan pemeriksaan mayat maupun korban luka menurut KUHAP 133 ialah: 1. Ahli Kedokteran Kehakiman. 2. Dokter /ahli. 3. Ahli lainnya

Dalam KUHAP tidak dijumpai pasal yang mewajibkan ahli kedokteran kehakiman atau dokter untuk memberi bantuan ( melakukan autopsy kehakiman ) pada penyidik, seperti yang ditentukan dalam HR 70. Penjelasan KUHAP 133 ayat (2) : Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli , sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Dalam prakteknya ahli kedokteran kehakiman hanya terdapat di kota-kota besar yang mempunyai Fakultas Kedokteran. Prosedur yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Korban luka ditangani oleh bagian bedah 2. Korban yang keracunan ditangani oleh bagian penyakit dalam 3. Korban kejahatan kesusilaan ditangani oleg bagian ginekologi 4. Korban yang mati ditangani oleh bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman/forensic Biasanya yang melakukan pemeriksaan ialah dokter yang paling muda sedangkn KUHAP menginginkan oleh ahlinya. Sebaiknya yang menangani permintaan Visum et Repertum menurut urutan prioritas ialah : 1. Dokter ahli atau dokter pemerintah sipil 2. Dokter ahli atau dokter swasta 3. Dokter ahli atau dokter ABRI Mengingat dokter swasta berhak minta honorarium dan dokter ABRI terikat dengan hirarki. Untuk mengatasi penjelasan KUHAP 133 ayat 2 maka untuk semetara tidak digunakan kata surat keterangan ahli atau surat keterangan, tetapi tetap digunakan kata Visum et Repertum. Waktu melakukan autopsy forensic, para dokter terutama di daerah supaya menghimbau para penyidik supaya berusaha agar autopsy forensic dapat dilakukan secepat-

cepatnya karena di daerah tropic dengan hawa panasnya , mayat menjadi cepat membusuk (oleh karena ketiadaan lemari pendingin) sehingga dapat mengaburkan pemeriksaan, meskipun KUHAP 134 (3) menyatakan : apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat 3 undang-undang ini. Mayat untuk autopsy forensic yang tidak ada keluarga yang mengurus, kalauuntuk Rumah Sakit besar di kota besar yang mempunyai kamar pendingin untuk menyimpan mayat bukan merupakan suattu soal, tetapi jelas merupakan suatu hambatan yang besar bagi dokter daerah bila menunggu dua hari sebelumnya dapat dilakukan autopsy . lebih parah lagi jika mayat yang dikirim ke Rumah Sakit, puskesmas sudah dalam keadaan membusuk seperti mayat yang ditemukan dalam air. Penyidik harus menyadari kesukaran ini dan sekali lagi seperti sudah dihimbau bahwa supaya berusaha agar autopsy forensic dapat dilakukan secepat-cepatnya. Kesukaran lain adalah bila dokter daerah mengirim korban akibat tindakan pidana ke Rumah Sakit yang lebih besar tetapi kemudian meninggal dunia.adalah kekurangan manusiawi bila keluarga yang sudah mendapat musibah harus melapor kepada polisi ditempat kejadianperkara yang kadang-kadang jaraknya sampai 200km atau lebih, dimana keluarga tersebut harus melaporkan mengenai kematian korban , dan apakah polisi mengajukan permintaan Visum et Repertum atau tidak, kaddang-kadang keluarga tersebut harus mengurus pencabutan permintaan Visum et Repertum dan sebagainya. Hak Undur diri Dokter. Dalam KUHAP pasal 120 ahli/dokter boleh mengundurkan diri dari melakukan pemeriksaan bila peristiwanya ada kaitannya dengan rahasia kedokteran . ketentuan ini berlaku juga bila ahli/dokter harus melakukan pemeriksaan seperti tercantum dalam KUHAP pasal 133,135. Dalam permenkes No. 1993 /kdj/ U/70 : Perawatan Penderita Penyakit Jiwa pasal 17 ditentukan : dokter yang ditunjuk dapat menggunakan hak undur diri, jika ada hubungan keluarga dengan penderita terdakwa atau korban diberi juga kesempatan untuk mengundurkan diri. Bila dokter terpaksa harus membuat Visum et Repertum karena tidak ada dokter lain, sebaiknya dokter mengikuti KUHAP 169 ia hanya membuat keterangan tanpa sumpah. Informasi untuk Dokter sebelum melakukan Autopsi.

Informasi ini harus diperoleh dari polisi/penyidik atau sumber lain yang meliputi : 1. Kecelakaan lalu lintas a. Bagaimana kecelakaan terjadi Mobil slip menabrak pohon Mobil bertabrak dengan mobil Mobil menabrak pejalan kaki, dsb.

b. Siapakah korban Pengemudi Penumpang Pejalan kaki, dsb.

c. Apakah ada dugaan Korban mabuk Korban adalah pengemudi dibawah pengaruh obat anti ngantuk (sejenis Amphetamin) dsb. 2. Kecelakaan lain Dokter harrus diberitahu benda yang menyebabkan kecelakaan : Memegang kawat listrik Jatuh dari atap tertusuk kawat listrik, dsb.

3. Pembunuhan , bunh diri. Alat apa yang dipakai Apakah alat yang dipakai ujungnya patah Racun apa yang diminum, dsb.

4. Kematian mendadak Apa yang dilakukan korban sebelum meninggal Apa ada hal-hal yang dianggap tidak wajar, dsb.

5. Kematian setelah berobat/perawatan Pengobatan apa yang telah diberikan Apakah pada koraban diberikan pernafasan buatan yang dapat menyebabkan patah tulang iga. Apakah pada korban telah dilakukan operasi. Bagaimana keadaan korban post operasi

6. Selain hal tersebut diatas pada setiap peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia diberitahukan pula : Tanggal dan jam korban ditemukan meninggal Tanggal dan jam korna terakhir terlihat masih hidup

Keterangan-keterangan tersebut diatas sangat penting dan harus diberikan kepada dokter yang melakukan autopsy, bila diinginkan hasil pemeriksaan yang baik. Hal ini baru dapat dicapai bila ada kerja sama yang baik antara polisi dan dokter, sehingga keberadaan penyidik saat autopsy sangatlah penting. Setelah autopsy selesai penyidik diharap minta keterangan mengenai sebab kematian. Bila sebab kematian kurang memuaskan, masih ada kesempatan untuk memeriksa mayat kembali sebelum dikubur. Hasil pemeriksaan ulang dari mayat yang telah dikubur, biasanya kurang memuaskan karena jaringan lunak sudah rusak bahkan musnah, karena pembusukan. Selain tidak memuaskan biaya yang dikeluarkan lebih besar karena penggalian, pemeriksaan racun dsb. Sedangkan anggaran untuk itu di Rumah Sakit tidak tersedia. Autopsi forensic yang dilakukan tepat pada waktunya menghemat waktu dan biaya. Cara dokter daerah mengatasi autopsy forensic : Doktek daerah diharapkan dapat mendidik mantri untuk melakukan autopsy, sebab dipuskesmas ia sendirian. Setelah mantri melakukan autopsy, dokter sendirilah yang memeriksa tiap alat tubuh yang dikeluarkan dan mencatat apa yang telah diamati dan ditemukan, sedangkan mantri tidak boleh memeriksa tidak boleh memeriksa alat tubuh dan mencatat apa yang telah diperiksa. Jika dokter daerah yang memeriksa tadi mendapat kesukaran dalam mengambil kesimpulan, ia dapat minta nasehat pada ahli forensic, jika ia setuju dengan nasehatnya, maka kesimpulan ahli diambil alih menjadi kesimpulannya. Wirjono Prodjokidoro, dalam bukunya hukum Acara Pidana di Indonesia, cetakan VII tahun 1970 halaman 89 menyatakan tentang keterangan ahli, pasal 306 H.I.R menetukan bahwa laporan dari ahli yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mengutarakan pendapat dan pikirannya tentang keadaan dan perkara yang bersangkutan hanya dapat dipakai guna memberikan penerangan pada hakim dan hakim sama sekali tidak wajib turut pada pendapatnya.

Visum et Repertum sebagai alat bukti (KUHAP 184, KUHAP 186) Visum et Repertum ( keterangan ahi dan keterangan) menurut KUHAP 184 merupakan alat bukti merupakan alat bukti yang sah di siding pengadilan termasuk c (surat). Bila mereka yang membuat Visum et Repertum di panggil disidang pengadilan, maka pernyataan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman dan dokter ahli termasuk b ( keterangan ahli) sedangkan pernyataan yang diberikan oleh dokter di siding pengadilan termasuk d (petunjuk) berarti ini merosot dari c menjadi d.

TEKNIK AUTOPSI
Sebelum pemeriksaan luar dilakukan harus dimulai dulu dengan identifikasi mayat. Dokter harus tahu dengan dengan pasti bahwa mayat yang akan diperiksa betul-betul mayat yang dimaksud dalam surat permintaan Visum et Repertum. Untuk menghindari penukaran mayat yang mungkin dapat terjadi bila mayat yang diperiksa lebih dari satu, maka penyidik berkewajiban mengikatkan tanda identifikasi, yaitu label yang bermeterei pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat (KUHAP 133 (3)). Dalam hal ini penyidik tidak perlu mengikat sendiri label pada ibu jari kaki mayat, tetapi dapat minta bantuan kepada perugas bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman untuk melakukan itu atas petunjuknya. Lak yang diberi cap jabatan tidak mutlak dperlukan, tetapi label yang memuat identifikasi mayat harus ada. Kadang-kadang penyidik belum mengetahui identitas mayat dan pada label tertera nama Tn. X, bila kemudian Tn. X dikenaloleh seseorang maka kartu identitas dari orang yang mengenal tadi wajib dicatat misalnya KTP, SIM, dsb. Orang yang mengenal mayat tadi kemudian wajib melaporkan nama Tn.X pada penyidik supaya penyidik dapat meralat secara tertulis. Kadang-kadang korban tetap tidak dikenal, dalam hal ini identifikasinya didapat dari hasil pemeriksaan luar yang baik. Pemeriksaan luar

Pemeriksaan luar harus dilakukan dengan baik yang meliputi 1. Identifikasi meliputi pemeriksaan a. Jenis kelamin b. Panjang dan berat badan c. Umur d. Warna kulit, mata, rambut e. Keadaan gigi geligi f. Kelainan pada kulit (tatouage) g. Penyakit (cekot, tumor dalam uterus) h. Sidik jari, sidik telapak kaki i. Pakaian dan benda milik pribadi 2. Kaku mayat, pakaian Sebelum pakkaian dilepaskan terlebih dahulu perlu dicatat kaku mayat. Pemeriksaan harus dilakukan demikian karena kaku mayat yang sudah lengkap, bila kemudian dilenturkan tidak akan kembali lagi. Hal tersebut dapat menghindarkan salah paham dari orang awam, misalnya : untuk melepaskan pakaian kaku mayat pundak dan leher harus dilenturkan, bila pada mayat tidak dilakukan autopsy tetapi diserahkan kembali kepada keluarga dan waktu mayat dimandikan keluarga mendapatkan leher sangat lemas, sehingga timbul penafsiran yang bukan-bukan misalnya dikira ruas tulang leher (vertebra cervical) patah.

Setelah pakaian lepas semua saku dikeluarkan dan diperiksa, kemudian dicatat untuk kepentingan identifikasi. Pakaian diperiksa adanya noda darah, lumpur, robekan lubang anak peluru, dsb. Pakaian dan benda yang ditemukan dibungkus dengan rapi, diberi label dan segel dengan dilak kemudian diserahkan kepada penyidik. 3. Lebam mayat Selanjutnya diperhatikan lebam mayat, ada kalanya ditemukan lebam mayat pada tempat yang berlawanan, ini berarti posisi mayat pernah dirubah. Warna lebam mayat biasanya merah ungu (livide), pada keracunan dengan karbon monoxide pada kebakaran, keracunan gas masak (CO), asam cianida (HCN) warna menjadi lebih terang (cherry red). Lebam mayat juga menjadi lebih terang pada mayat yang disimpan dikamar dingin dengan suhu yang rendah sekali. 4. Pembusukan

5. Panjang dan berat badan Mayat kemudian diukur panjangnya dan ditimbang beratnya. 6. Kepala : a. Luka : ada atau tidak b. Bentuk : bulat, lonjong, bulat lonjong. c. Rambut, kumis, janggut, alis : warna, panjang, lurus/berombak/keriting. d. Mata : Selaput biji mata (conjunctiva bulbi) selaput kelopak mata (conjunctiva palpebra): pucat, merah, kuning, bintik-bintik perdarahan. e. Hidung f. Mulut : 7. Leher 8. Dada : Bentuk simetris Luka : bekas alur jerat Bentuk bibir, warna bibir Cairan yang keluar : darah, buih Formula gigi, isian gigi (filling, flombage) Gigi palsu, jembatan gigi (prosthesis) Gigi dipangur Bentuk : mancung, pesek Cairan yang keluar ; darah, buih. Selaput bening (cornea) : bening, keruh, parut luka, lensa kontak. Selaput pelangi (iris) : warna, iridektomi Manic mata (pupil): sama lebar, diameter. Lensa mata : keruh, aphakia. Mata palsu ( prosthesis)

g. Telinga Bentuk Cairan yang keluar : darah

9. Perut :

Bentuk payudara : besar, kecil Luka

Bentuk cekung, membesar Warna daerah usus buntu (appendix), caecum Keadaan pusat, tali pusat Parut luka dilipat paha (inguinalis) Burut (hernia) Luka

10. Alat kelamin laki-laki : Rambut kemaluan Zakar (penis) : bentuk, khitan Kandung buah pelir (scrotum) Buah pelir (testis) Parut luka

11. Alat kelamin wanita : Rambut kemaluan Bibir besar kemaluan (labium majus) Bibir kecil kemaluan (labium minus) Selaput darah (hymen)

12. Dubur (anus) : Bawasir (haemoroid) Apa yang keluar Parut luka

13. Anggota gerak : a. Anggota gerak atas : (lengan atas, lengan bawah, tangan)

Busung (oedem) Luka bekas tusukan jarum Luka lain

b. Anggota gerak bawah : (tungkai atas, tungkai bawah, kaki) 14. Punggung Bentuk : kekel depan (lordosis), kekel belakang (kyposis), kekel samping (scoliosis) Decibitus Luka Busung (oedem) Luka bekas tusukan jarum Luka lain

15. Bokong Luka bekas tusukan jarum Luka parut

Cara melukis luka


Luka dilukis dengan kata-kata dengan memperhatikan absis dan ordinat. Untuk absis di pakai: Garis mendatar melalui pusat Garis mendatar melalui kedua putting susu pada pria Garis mendatar melalui kedua ujung tulang belikat

Untuk ordinat dipakai : Garis tengah melalui tulang dada Garis tengah melaui tulang punggung

Contoh melukis luka iris:

Letak ujung luar luka dua sentimeter diatas garis mendatar melalui kedua putting susu dan sepuluh sentimeter sebelah kanan dan garis tengah melalui tulang dada. Letak ujung dalam luka : enam sentimeter diatas garis mendatar melalui kedua putting susu dan lima sentimeter sebelah kanan dari garis tengah melalui tulang dada. Panjang luka enam sentimeter, dalam luka setu sentimeter, tepi luka rata dan tajam, ujung luka runcing.Perhatian : waktu mengukur panjang luka, kedua tepi luka harus ditautkan, dirapatkan dahulu, baru diukur.

Alat yang diperlukan untuk otopsi di Puskesmas RS. Sederhana 1. Alat pengukur: a. Timbangan besar sampai 500kg (kalau ada) b. Timbangan kecil sampai 3kg c. Pita pengukur d. Penggaris e. Alat pengukur cairan 2. Alat untuk otopsi a. Pisau, cukup pisau belati yang tajam b. Gunting c. Pinset d. Gergaji dengan gigi yang halus e. Jarum besar jarum goni f. Benang yang kuat 3. Bahan lain yang diperlukan a. Botol/ toples untuk specimen pemeriksaan toksikologi b. Alcohol 96% untuk fiksasi pemeriksaan histopatologi (5liter) c. Botol/ toples untuk specimen pemeriksaan histopatologi d. Formalin 10% sebanyak 1 liter e. Kaca sediaan dan kaca penutup Bahaya penularan Dulu, menurut pengalaman Prof.Soetedjo Mertodidjojo bahaya penularan waktu melakukan otopsi terlalu dibesar-besarkan. Selama tidak ada luka ditangan, dan masih cukup banyak air untuk mencuci tangan, maka bahaya penularan dapat diatasi. Tetapi sekarang,

dengan banyaknya penyakit yang dapat ditularkan melalui otopsi maka pencegahan harus dilakukan. Penyakit-penyakit yang perlu diwaspadai antara lain HIV/ AIDS, Hepatitis, TB paru, dan penyakit menular lainnya. Untuk itu pada setiap otopsi perlu disediakan larutan klorin untuk mencuci alat yang telah dipakai. Pada resiko teinggi seperti AIDS, tidak dilakukan pemeriksaan dalam, tetapi pemeriksaan luar saja. Otopsi utnuk kepentingan peradilan harus merupakan bedah mayat lengkap, tidak dibenarkan untuk melakukan bedah mayat terbatas. Sebelum insisi dimulai, maka dibawah tulang belikat (scapula)dari tubuh mayat diletakkan sebuah balok unkuran 15 x 15 x 30 cm. Insisi pada tubuh: Insisi bentuk I Insisi bentuk ini dilakukan pada peristiwa cekikan, mati tergantung. Pembedah berdiri disebelah kanan mayat bila tidak kidal. Insisi pada kulit dimulai pada region submentalis pada garis tengah tubuh ke bawah sampai ke processus xiphoideus, kemudian 2cm paramedian kiri dari insisi tersebut insisi diteruskan lurus ke bawah sampai sela tulang kemaluan. Dengan insisi tersebut maka tidak perlu melingkari pusat disebelah kirinya dan ligamentum teres hepatis tidak terpotong. Insisi bentuk Y Pada mayat laki-laki, insisi dibuat dari ujung tulang belikat (acromion) kanan dan kiri lurus ke prosessus xiphoideus. Pada mayat wanita diinsisi mulai dari kanan dan kiri lurus ke bawah melingkari kedua payudara dan bertemu di prosessus xiphoideus. Insisi di perut dilakukan seperti telah diuraikan diinsisi I. insisi Y memberikan kesukaran waktu mengeluarkan alat leher, tetapi member kesempatan memeriksa kelenjar di ketiak (aksiller) dan insisi Y kosmetik-estetik lebih baik dari insisi I Insisi dibawah prosessus xiphoideus diperdalam sampai menembus peritoneum, kemudian jari tengah dan telunjuk dimasukkan, pisau diletakkan diantara kedua jari dan irisan diteruskan sampai simfisis dengan pimpinan kedua jari tadi. Untuk memperlebar kedua lapangan operasi, msculus rectus abdominis dipotong melintang kurang lebih 7 cm diatas simfisis. Mengeluarkan tulang dada (sternum)

Melepaskan kulit dari tulang dada dilakukan dengan cara menarik kulit dengan keras ke samping dan memotong otot-otot secara ringan dengan pisau tegak pada tulang dada (costa). Tangan yang harus banyak bekerja ialah tangan yang menari kulit dan otot dada. Selanjutnya otot perut dilepas sedekat-dekatnya dengan arcus costa. Bila hal tersebut dilakukan dengan baik, maka yang terlihat sekarang ialah hanyatulang iga dengan otot antar iga (musculus intercostalis). Inspeksi rongga perut Rongga perut perlu diinspeksi lebih dulu sebelum rongga dada dibuka: 1. Apakah ada cairan a. Berapa cc b. Warna c. Sifat: darah, keruh, fibrinous, purulent, dan sebagainya 2. Peritoneum Peritoneum yang normal: licin, mengkilat, dan transparan 3. Omentum Dalam keadaan normal, jala menutup seluruh usus 4. Diafragma Letak tertinggi sekat rongga badan diproyeksikan pada linea medioklavikularis dan disebut dengan setinggi costa sekian atau setingi ruang intercosta sekian. Udara dalam rongga paru-paru (pneumothoraks) Pembuktian pneumothoraks dilakukan sebagai berikut: dari kulit dada dibuat kantong yang berisi air, kemudian dengan pisau dibuat lubang di muskulus interkostalis dibawah permukaan air, bila ada udara dalam rongga paru-paru maka dari lubang akan keluar gelembung udara. Cara lain untuk membuktikan pneumothoraks adalah: tabung alat suntik setelah dipasang jarum yang paling besar kemudian diisi dengan air, kemudian ditusukkan kedalam rongga paru-paru. Emboli Udara Pembuktian emboli udara dilakukan sebagai berikut: sternum dipisahkan dari tulang iga dan dan pada satu sentimeter medial dari costochondral junction sampai dengan iga kedua, kemudian kandung jantung (pericardium) dipisahkan dari sternum. Dan sternum digergaji setinggi manubrium sterni . potongan cara ini untuk mencegah terbukanya vena subklavia

dan untuk menjaga tidak masuknya udara ke dalam jantung melalui terbukanya vena subklavia. Setelah sternum diangkat, pericardium dibuka dengan irisan Y terbalik kemudian tepi irisan diangkat dengan cunam dan rongga pericardium diisi dengan air. Kemudian berturut-turut atrium kanan, ventrikel kanan, dan arteri pulmonalis ditusuk dengan pisau. Pada emboli udara jenis vena akan keluar gelembung udara dari lubang tusukan. Kemudian berturut-turut lagi ditusuk atrium kiri, ventrikel kiri dan aorta. Bila keluar gelembung udara dari lubang tusukan, kemungkinannya adalah: Open foramen ovale: lubang dalam sekat atrium jantung (septum atriosum kordis) Emboli udara arteri Jumlah udara yang dapat menyebabkan kematian antara 100-150cc. Adapun penyebab emboli udara vena, adalah sebagai berikut: Luka pada pembuluh balik leher Abortus provokatus criminalis dengan cara penyemprotan Tubal patency test: tindakan untuk menentukan saluran telur terbuka atau tidak pada kemandulan Tindakan memasukkan udara dalam rongga perut (artificial pneumoperitoneum)

Emboli udara vena

Emboli udara arteri Penyebab emboli udara arteri: 1. Luka tusuk di paru-paru 2. Tindakan memasukkan udara dalam rongga paru-paru (artificial pneumothorax) 3. Operasi mengambil sebagian dari paru-paru

Cara melepaskan sternum secara rutin. Pangkal mata pisau diletakkan satu sentimeter dari costo chondral junction iga ke II, kemudian tangan yang bebas menekan punggung pisau dan mendorong sedangkan tangan yang memegang pisau menarik pisau kea rah iga ke X. bila dikerjakan dengan baik maka

dengan satu gerakan dapat terpotong iga no. II sampai dengan X. Selanjutnya sternum dilepaskan dari pericardium. Sebelum sela iga I dipotong dari sternum dilakukan inspeksi dari rongga dada, sebab bila inspeksi setelah sternum dilepaskan maka dalam rongga paru-paru akan didapatkan darah yang berasal dari teririsnya vena subclavia. Pada inspeksi yang perlu diperhatikan: 1. Cairan bebas 2. Perlekatan paru-paru 3. Sifat pleura 4. Keadaan paru-paru Melepaskan sendi tulang dada-selangka (articulo sterno claviculare) dengan cara: Tangan yang memegang tangkal pisau masuk ke dalam rongga paru-paru dan tangan yang lainnya menarik sternum ke samping berlawanan dengan letak pisau (contra Lateral) dan rawan tulang iga I dipotong miring, setelah itu menyusul costa sebelahnya. Dengan pisau masih tetap dalam rongga paru-paru sternum digerakkan untuk melokalisir artikulatio sterno clavivulare. Bila sendi sudah ditemukan, mata pisau diarahkan ke sana dan articulatio sternoclaviculare dipotong. Dalam proses tersebut diatas tangan yang banyak melakukan gerakan ialah tangan yang memegang sternum. Bila articulatio sterno-claviculare sudah menulang digunakan gunting khusus memotong tulang iga. (Ribschaar). Mengeluarkan alat-alat tubuh Ada beberapa cara untuk mengeluarkan alat-alat tubuh 1. Pengeluaran alat tubuh satu persatu 2. Pengeluaran alat tubuh menurut system organ 3. Pengeluaran alat dalam tubuh dalam, keadaan utuh seluruhnya removal of the viscera en massa)

Cara yang dipakai di R.S.U Dr. Soetomo ialah kombinasi antara 1 dan 2 A. Kelenjar kacangan (Thymus) B. Jantung C. Saluran pernafasan (Traktus respiratorius) D. Saluran pencernaan (Traktus digestivus) E. Saluran urogenital (Traktus urogentalis) F. Alat leher G. Otak H. Aorta I. Sum-sum tulang belakang J. Payu dara Memeriksa dan mengiris alat tubuh. Dari tiap alat tubuh perlu dicatat 1. Ukuran 2. Bentuk 3. Permukaan, warna 4. Konsistensi 5. Berat 6. Struktur dan warna penampang Pada umumnya mengiris alat tubuh harus sedemikian rupa sehingga: a. Permukaan yang nampak harus terlihat seluas-luasnya b. Sedapat-dapatnya dilakukan satu hal irisan, tidak boleh melakukan gerakan gergaji.

Hal tersebut diatas hanya dapat dicapai bila seluruh mata pisau yaitu dari pangkal sampai ujung digunakan seluruhnya dan pisau yang letaknya pada pangkal pisau. c. Kemudian irisan lain dibuat sejajar dengan irisan pertama d. Untuk memeriksa penampang irisan, alat tubuh tidak boleh dicuci melainkan penampang atau permukaan alat tubuh cukup dihapus dengan mata pisau (to scrape)

A. Thymus Setelah sternum diangkat, maka pada anak-anak dan kadang-kadang para orang dewasa nampak thymus. Thymus mencapai ukuran dan berat maksimum pada usia remaja (pubertas) yaitu dapat mencapai 25-30 gram. Pada orang dewasa thymus biasanya mengalami kelisutan (atrophia), kadang-kadang dijumpai thymus persistens. Melepaskan thymus dilakukan dengan cara tajam dengan pisau dan gunting setelah lepas kemudian ditimbang status thymico lymphaticus. Status thymico lymphaticus ialah suatu keadaan dimana thymusnya membesar dengan pembesaran umum kelenjar getah bening (generalized lymphoid hyperplasia), hypoplasia aorta, atrophia anak ginjal (glandula suprarenalis) dan perkembangan yang terbelakang (underdevelopment) dari kelenjar pelir (testis) atau indung telur (ovarium). Keadaan status thymico lymphaticus sering dihubungkan dengan kematian mendadak. Tanpa pengecualian dapat dikatakan bahwa status thymico lymphaticus tidak dapat menyebabkan kematian korban. B. Jantung Pericardium dibuka dengan insisi Y terbalik, kemudian ujung jantung (apex) diangkat untuk melihat jumlah cairan, jumlah cairan 30-50 cc jumlah sedikit kekuningan adalah normal. Bila diperlukan penbiakan kuman dari darah jantung, permukaan ventrikel kanan dibakar dulu dengan spatula panas, kemudian dengan jarum besar dan alat suntik steril darah diisap sebanyak 10cc.

Pemeriksaan darah beku yang terbawa (embolus) dalam arteri. Nadi paru-paru (arteri pulmonalis) dibuka dengan gunting sampai ke percabangannya yang besar dan dicari adanya embolus. Bila ada, maka sumbernya harus dicari sampai ke pembuluh balik paha (vena femoralis) kemudian dilihat apa adanya Patent Ductus Arteriosus. Setelah semua selesai, jantung boleh dikeluarkan dengan mengangkat apex dan paruparu (vena pulmonalis) kanan dan kiri. Kemudian apex ditari ke bawah dan dipotong aorta, arteri pulmonalis dan vena cava superior.Sekarang jantung sudah bebas.

Membuka jantung Prinsip membuka jantung ialah menurut aliran darah dengan maksud supaya katup jantung (vulvula) tidak rusak: a). Membuka jantung kanan: 1. Pisau dimasukkan dari vena cava inferior ke vena cava superior, jantung kemudian digantungkan pada pisau dan dinding atrium kanan dipotong. 2. Selanjutnya telinga jantung (auricular cordis) kanan dibuka, diperiksa adanya thrombus 3. ujung pisau sekarang dimasukkan ke ventrikel kanan melalui katup kelopak tiga (valvulae tricuspidal) ke apex jantung. Jantung digantungkan lagi,pisau ditusukkan sehingga menembus apex dan dinding ventrikel kanan dipotong. 4. Arteria pulmonalis dipisahkan dari aorta, kemudian ujung pisau dengan mata ke atas dimasukkan dari apex ke arteri pulmonalis, dengan ventrikel kiri disebelah kanan pisau maka ventrikel kanan dipotong sedekat-dekatnya dengan sekat antar bilik (septum intraventriculorum) b). Membuka jantung kiri: 1. Ujung pisau dimasukkan dalam salah satu vena pulmonalis kanan sampai keluar dari vena pulmonalis kiri, jantung digantungkan dan dinding atrium kiri dipotong. 2. Auricula kiri dibuka untuk melihat adanya thrombus.

3. Ujung pisau dimasukkan dari atrium kiri melalui katup kelopak dua (valvae bicuspidalis) atau valvulae mitral ke apex. Jantung digantungkan lagi dengan mata pisau ke atas dan dinding ventrikel kiri dipotong. 4. Ujung pisau dengan mata pisau ke atas dan dimasukkan dari apex ke aorta dengan venteikel kanan disebelah kiri pisau dan ventrikel kiri dipotong sedekat-dekatnya dengan septum interventriculorum 5. Katup jantung kanan dan kiri, katup arteri pulmonalis, katup aorta setelah diperiksa diukur lingkarannya. c). Nadi tajuk jantung. Nadi tajuk jantung kanan dan kiri (arteria coronaria dextra dan sinistra) diperiksa melintangdengan jarak tiga millimeter, tidak boleh disonde. Untuk mengiris arteria coronaria pisau harus tajam dan jari telunjuk kiri dibalut dengan kain kasa, kemudian arteria coronaria diletakkan di jari telunjuk dan irisan dimulai dari muaranya di aorta. Maksudnya untuk mencari adanya arteriosclerosis, thrombus dan embolus. d). Mengukur tebal otot jantung Tebal otot jantung kanan dan kiri diukur sebagai berikut: dibuat irisan tegak lurus pada pertengahan apex dan basis jantung. Yang diukur hanya otot saja, musculli papillaris jantung dan lemak tidak boleh diikut sertakan dan mengukurnya tegak lurus dengan permukaan luar jantung. e). Septum interventriculorum Konsistensi jantung ditentukan lebih dulu, kemudian dilakukan irisan pda otot ventrikel dan septum interventriculorum dengan cara menyayat (seperti mengiris dendeng), untuk melihat adanya baji mati jantung (infarct) fibrosis, radang. f). Terakhir jantung ditimbang Kelainan jantung Kelainan Congenital 1. Pulmonary stenosis

2. Ductus arteriosus terbuka 3. Coaretatio aorta 4. Foramen ovale terbuka 5. Interventricular septum terbuka 6. Tetralogy Fallot Kelainan pericardium: 1. Hydropericardium : Normal cairan 30-50 cc Hydropericardium menahun sampai 2000 cc

2. Hemopericardium Hemopericardium akut 200-300cc sudah dapat menimbulkan cardiac tamponade dan menyebabkan kematian 3. Pericarditis akuta 4. Pericarditis kronika (soldiers spot, milk plaque)

Kelainan myocardium: 1. Baji mati jantung (Myocardial infarction) 2. Aneurysme jantung 3. Rupture jantung 4. Hypertrophia myocardium 5. Delatatio jantung Kelainan endocardium: 1. Endocarditis bacterial

2. Endocarditis rematik 3. Endocarditis kronika Kelainan katup jantung: 1. Stenosis aorta 2. Stenosis mitral 3. Stenosis tricuspidalis 4. Stenosis pulmonalis 5. Insufisiensi aorta 6. Insufisiensi mitralis 7. Insufisiensi tricuspidalis 8. Insufisiensi pulmonalis Kelainan arteri 1. Thrombus/Embolus arteri coronaria 2. Arterio sclerosis 3. Athero sclerosis 4. Aortitis syphilitica 5. Aneurysme C. Tractus Respiratorius Setelah jantung dikeluarkan maka pericardium dapat dibersihkan dan tampak tenggorok (trachea), kedua cabang tenggorok (bronchus-bronchi).Trachea, kedua bronchi dan kedua paru-paru dikeluarkan sebagai satu unit. Perlekatan paru-paru dilepaskan secara tumpul dengan jari-jari setelah membuat insisi terlebih dulu.Trachea dipotong melintang setinggi tulang selangka (olavicula), kemudian

selaput paru bagian luar (pleura parietalis) kanan dan kiri tulang punggung diiris dari atas sampai ke bawah. Trachea ditarik keras-keras ke ventral dan jaringan sekitarnya yang masih melekat dipotong secara tajam dengan pisau atau gunting. Setelah trachea dan brochi lepas, jaringan pleura yang masih melekat pada dinding dada dikumpulkan dan dipotong. Disseksi selanjutnya sebagai berikut: 1. Trachea dan kedua bronchi dibuka dengan gunting pada bagian belakang yakni bagian yang tidak mengandung tulang rawan 2. Cabang bronchi dibuka dengan gunting sejauh-jauhnya ke dalam paru-paru 3. Vena maupun arteri pulmonalis dipisahkan 4. Trachea sekarang dpisahkan dari paru-paru dengan memotong bronchi di hilus 5. Paru-paru kanan dan kiri ditimbang tersendiri 6. Insisi pada paru-paru dibuat sebagai berikut: a. Paru-paru diletakkan sedemikian rupa sehingga hilus menghadap ke atas dan basis menghadap ke dessektor. b. Tangan kiri menkan pada paru-paru dan tangan kanan memegang pisau dengan pangkal pisau diletakkan pada apex paru-paru, kemudian sambil menekan mata pisau pada jaringan paru-paru pisau ditarik ke arah basis paruparu. Insisi dilakukan dengan satu gerakan, bila irisan belum cukup dalam perbuatan tersebut diatas diulang, jangan sekali-kali menggunakan gerakan gergaji. c. Isinya yang lain dibuat sejajar dengan irisan pertama.

Kelainan tractus respiratorius Kelainan Pleura: 1. Hydrothorax

2. Hemothorax 3. Pneumothorax
4. Pleuritis exsudatif dsb. 5. Tumor primair/metastasis Kelainan paru-paru: 1. Atelectasis 2. Emphysema 3. Pneumoconiosis 4. Emboli paru-pru 5. Emboli lemak 6. Bronco (lobulat) pneumonia 7. Lobar pneumonia 8. Bronciectasis 9. Abses paru-paru 10. Tuberculosis paru-paru 11. Tumor primer/metastasis

TEKNIK OTOPSI PARU-PARU KHUSUS a. Percobaan getah paru-paru (longsap proef) Syarat mutlak untuk melaksanakan percobaan ini ialah mayat tidak boleh dalam keadaan membusuk. Percobaan getah paru-paru harus dikerjakan pada setiap mayat yang ditemukan diair.

Percobaan getah paru-paru dikerjakan sebagai berikut : 1. Percobaan paru-paru (pleural viceralis) dibersihkan dengan mata pisau dengan cara menghapus atau mengerik (to scrape). 2. Kotoran yang melekat pada pisau dibersihkan atau dihapus dengan jari-jari dibawah kran yang airnya mengalir. 3. Pisau dibersihkan dari air dengan mengayuhkan pisau secara cepat. 4. Permukaan paru-paru yang sudah dibersihkan diiris sedalan 2-3 mm. 5. Dari bagian subpleura, dengan ujung pisau diambil sedikit cairan getah dan di teteskan pada kaca sediaan (object glass) yang kemudiaan ditutup dengan kaca penutup (cover glass).

6. Di bawah mikroskop dicari benda asing : kristal silikat, butir pasir, telur cacing dan sebagainya.

Interpretasi percobaan getah paru-paru : 1. Kalau percobaan getah paru-paru positif dan mayat tidak dalam keadaan membusuk, maka kesimpulannya ialah : Korban meninggal oleh karena tenggelam dalam air 2. Kalau percobaan getah paru-paru negatif dan mayat tidak dalam keadaan membusuk, maka kesimpulannya ialah ; Tidak ada hal-hal yang menyangkal bahwa korban meninggal karena tenggelam dala air. Sebab kemungkinannya ialah : Korban meninggal dalam air jernih. Korban meninggal karena reflex vagus waktu masuk kedalam air. Korban sudah meninggal kemudian di buang dalam air.

b. Percobaan paru-paru (docimasi pulmonen hydrostatica atau longdrijfproof) Percobaan ini dikerjakan pada bayi yang baru lahir untuk menentukan apakah bayi sudah bernafas apa belum. Percobaan apung paru-paru dikerjakan sebagai berikut : 1. Trachea dan keronghkongan (oesophagus) bersama-sama diikat dibawah pangkal tenggorok (larynx) dan kemudian oesophagus diikat lagi diatas sekat rongga dada (diaphragma). Yang dikeluarkan ialah : trachea, oesophagus, kedua paru-paru, jantung, dan thymus. Kemudian keseluruhan ini diapungkan. 2. Oesophagus, jantung dan thymus di lepaskan, sehingga tinggal trakhea dan kedua paru-paru. Kemudian trakhea dan kedua paru-paru ini diapungkan. 3. Kemudian berturut-turut diapungkan paru kanan dan paru kiri. 4. Kemudian masing-masing bagian lobus diapungkan. 5. Dari tiap-tiap lobus yang berwarna merah mudah diambil jaringan paru-paru sebesar butir beras, kemudian diapungkan. 6. Bila bagian kecil ini masih mengapung, bagian ini diletakkan antara dua lapis kain kasa dan setelah diinjak di apungkan lagi. Bila masih mengapung berarti percobaan apung paru-paru positif. Pada paru-paru yang mengalami pembusukan, dinding gelembung paru-paru (alveolus) rusak, maka percobaan 1 s/d 5 dapat positif sedangkan percobaan 6 menjadi negatif.

Kesimpulan percobaan apung paru-paru positif : Anak telah bernafas dengan syarat :

1. Pada anak tidak dilakukan nafas buatan. 2. Paru-paru dalam keadaan baik.

Kesimpulan percobaan paru-paru negatif : 1. Anak belum bernafas. 2. Anak telah bernafas, akan tetapi pernafasan sangat lemah dan setelah anak meninggal hawa udara yang ada dalam paru-paru diserap oleh jaringan paru-paru.

c. Emboli Lemak Emboli lemak yaitu adanya bahan lemak yang ikut mengalir dalam sirkulasi darah. Keadaan ini di jumpai pada patah tulang panjang, atau pada pukulan-pukulan pada kulit seluruh punggung. Korban yang mengalami pukulan-pukulan pada punggung tersebut tidak perlu gemuk. Pemeriksaan dikerjakan sebagai berikut : Jaringan paru-paru dikeraskan dengan uap zat asam arang cair (frozzen section) dan kemudian dengan mikrotom di potong 20 mikron dan dicat dengan warna sudan III. Bahan lemak dalam pembuluh rambut (capillair) mengalami warna jingga (orange). Pengiriman jaringan paru-paru otak, ginjal untuk pemeriksaan emboli lemak harus diawetkan dalam formalin 10%. d. Pneumothorax

D. Tractus Digestivus Dimulai dengan inspeksi yang sebagian di bicarakan, antara lain: 1. Pada waktu membuka peritoneum, di periksa apakah terdapat cairan. 2. Peritoneum 3. Omentum 4. Diaphragma 5. Omentum kemudian dibalik untuk melihat keadaan usus. (post mortem kadang-kadang dapat dijumpai invaginasi usus halus) 6. Hati ; beberapa jari jaringan hari yang tidak tertutup oleh lengkung tulang iga ( arcus costae). 7. Limpu : beberapa jaringan limpa yang tidak tertutup oleh arcus costae 8. Mesenterium diperiksa melihat keadaan kelenjar lympe, vena dan arteri mesenterica.

9. Usus diperiksa apakah terdapat kelainan letak ( situs inversus); Keadaan umbai usus buntu (appendix)

Kelainan peritoneum : 1. Ascites. Dalam kedaan normal cavum abdominus tidak mengandung cairan 2. Hemoperitoneum 3. Peritonitis acuta 4. Tumor

Memisahkan usu halus dan usus besar Omentum majus dipisahkan pada bagian yang melekat pada lambung. Satu gelung usus diambil dengan tangan kiri dan kemudian mesenterium ditusuk dengan pisau. Tangan kiri menarik usus sedangkan tangan kanan dengan pisau membuat gerak menggergaji pada mesenterium yang melekat pada usus. Dengan demikian usus halus dan usus besar dilepaskan dari mesenterium sampai usus dua belas jari (duodenum) dan usus besar kait berangkai (colon sigmoideum). Pada duodenum usus diikat pada dua tempat dan kemudian digunting diantaranya. Tinja ( feces) yang berada dalam rectum dan colon sigmoideum ditekan keatas ke usus besar turun ( colon descendus) dan kemudian dipotong colon sigmodium dan rectum setelah diikat sebelumnya. Usus halus dibuka dengan gunting atau enterotomo di tempat melekatnya mesenterium, sedangkan usus besar dibuka melalui salh satu taenia yang bebas. Membuka usus harus didalam air yang mengalir. Kemudian usus dibersihkan lagi dengan menjepit usus antara jari telunjuk dan jari tengah mulai dari bagian oral sampai ke rektal sedangkan tangan yang lain menarik usus, sambil, sambil memperhatikan mucosa usus, benda asing, parasit dan sebagainya. Disseksi usu sebaiknya dekerjakan paling akhir otopsi supaya meja otopsi tidak kotor.

Kelainan pada usus halus/usus besar : 1. Typhus abdominalis 2. Disentri basiler 3. Disentri amoeba 4. Cholera 5. Ileitis regional 6. Tuberculosis

7. Appendicitis 8. Mucocel appendix 9. Divertikel meckel 10. Hernia 11. Volvulus 12. Intussusception\ 13. Congenital megacolon 14. Tumor 15. Antresia ani

Memisahkan Lien Sebelum limpa (lien) diangkat diperiksa lebih dulu arteri dan vena linealis, kemudian krdua pembuluh darah ini dipotong dibagian hilus dan akhirnya limpa dikeluarkan dengan melepaskan jaringan sekitar hilus secara tumpul dan tajam. Selanjutnya diperiksa apakah ada limpa tambahan (lien succenturiatus). Limpa ditimbang, diukur panjang, lebar dan tabal. Kemudian dibuat insisi longitudinal, irisan lain dilakukan sejajar dengan irisan pertama. Penampang limpa yang normal : 1. Warna merah agak sedikit muda 2. Folikel Malpighi nampak sebagai bintik putih abu-abu. 3. Trabeculae nampak sebagai garis abu-abu panjang 4-5 mm 4. Pulpa ialah jaringan antara folikel dan trabeculae

Kelainan pada limpa : 1. Atrofi 2. Degenerasi amyloid 3. Splenomegali 4. Haemorrhagie infarction 5. Anemic infarction\ 6. Abses 7. Malaria 8. Tuberculosis 9. Tumor

Kelainan pada kelenjar getah bening : Lymphoid hyperplasia 1. Lymphadenitis suppurativa 2. tuberculosis 3. Lymphogranuloma venerum 4. Lymphatic leukemia 5. Hodgkin disease 6. Lympho sarcoma 7. Metastasis

Memisahkan Oesophagus, ventriculus, duodenus, pancreas, hepar Kerongkongan (oesophagus), lambung (gaster), Usus dua belas jari (duodenum), kelenjar ludah perut (pancreas), hati (hepar), dikeluarkan sebagai satu unit : 1. Melepaskan anak ginjal (glandula suprarenalis) kanan dari hati 2. Memisahkan ligamentum teres hepatis, kemudian membuat insisi pada peritoneum diperbatasan hati lobus kanan dan diapragma setelah itu hati dilepaskan dari diaphragma secara tumpul, lalu menyusul hati lobus kiri. 3. Selanjutnya pancreas secara tumpul dan tajam dilepaskan dari jaringan retroperitoneal. 4. Diaphragma digunting menuju ke oesophagus dan kemudian oesophagus dilepaskan dari diaphragma 5. Vena cava superior dipisahkan dari diphragma 6. Lipatan selaput perut (mesenterium) diangkat dan dilepaskan dari jaringan retroperitoneal, kemudian memotong nadi usus bawah ( arteri mesenterica inferior), kemudian menyusul nadi usu atas (arteri mesenterica superior) dan kemudian nadi dalam (arteri coelica) a. Kandung empedu (vesica vellea) Hati diletakkan dengan permukaan diaphragma kebawah permukaan bawah keatas dan kandung empedu ke dessektor, kemudian duodenum dan lambung di jauhkan kearah vena cava superior sehingga portal ligamen terlihat dengan jelas. Untuk menentukan adanya batu dalam saluran empedu, jari telunjuk dimasukkan dalam foramen winslowi dan dengan ibu jari batu dapat diraba. Duodenum dapat dilepaskan dari portal vilamen sampai pappila vateri. Dengan permukaan bawah hati menghadap keatas dan kandung empedu ke dessektor, maka letak buluh empedu (ductus choledochus) disebelah kanan portal ligament, sedangkan hati nadi

(arteri hepatis) sebelah kiri. Pembuluh balik gerbang ( vena porta) letaknya diantara duktus choledochus dan a. Hepatis. Dengan menekan sedikit pada kandung empedu dan akan menggembung maka ductus choledochus akan terisi dengan empedu dan akan menggembung, kemudian dindingnya digunting sedikit dan dengan ujung gunting maka lumen ductus choledochus dibuka sampai pappila vateri. Ductus tidak boleh ditusuk dengan alat penduga (sonde), melainkan dibuka dengan gunting. Kemudian specimen diputar 180 derajat dengan duodenum dan lambung ke dissector, dan buluh hati (ductus hepatis) kanan dan kiri dibuka. Lumen buluh kandung empedu (ductus cysticus) dengan mudah dapat diktehui bila kandung empedu ditekan. Sebelum ductus cysticus dibuka, kandung empedu dikosongi dengan menggunting dindingnya dengan demikian empedu tidak mengotori jaringan yang diperiksa. Permukaan kandung empedu rupanya seperti beledu. Kelainan pada kandung empedu dan saluran : 1. Cholecystitis cholangitis. 2. Cholelithiasis 3. Fistula vesica felllea duodenum 4. Fistula antara fellea colon transversum b. Hati (hepar) Hati dipisahkan dari duodenum dan lambung, kemudiaan ditimbang beratnya, diukur panjang, lebar dan tebal. Hati diiris menurut ukuran yang terpanjang dari lobus kanan ke lobus kiri. Irisan lain dibuat sejajar dengan irisan pertama. Kelainan pada hati : 1. Foamy liver schuim liver : kelainan post mortem. 2. Fatty liver 3. Nutmerg liver 4. Infarction 5. Acut yellow atropy 6. Cirrhosis of the liver ( Laennec, hobnail liver) 7. Abses : pyogenic amoebic 8. Hydatic cyst (echinococcus) 9. Tumor

c. Oesophagus, ventriculus, duodenum

Oesophagus di buka dengan enterotome melalui dinding belakang sampa lambung dibuka dicurvatura major mengingat kebanyakan ulkus dan tumor lebih sering didapatkan pada curvature minor dan kemudian diteruskan sampai duodenum Kelainan pada oesophagus : 1. Desguamation of epithelium ( kelainan post mortem) 2. Atresia oesophagus 3. Traceo oesophageal fistula. 4. Divertikulum 5. Stenosis 6. Cardio spasma 7. Varices 8. Tumor

Kelainan pada lambung : 1. Hypostatis ( kelainan post mortem) 2. Gastromalacia ( kelainan post mortem : mukosa lambung berwarna coklat, jaringan lambung lembek, kadang kadang ada perforasi). 3. Keracunan : HCL, H2SO4, Lysol, Alkali. 4. Gastritis 5. Peptic ulcer/ duodenal ulcer ( eurling) 6. Congenital stenosis of pylorus 7. Tumor

d. Pankreas Membuka buluh kelenjar ludah perut ( ductus pancreaticus ) dilakukan dengan mudah bila ekor pancreas ( cauda pankreatis) diiris melintang. Kemudian ujung gunting dimasukkan ke lumen ductus pancreaticus dan ductus dibuka sampai papilla vateri dikepala pancreas (caput pancreatic). Pancreas dilepaskan dari duodenum dan ditimbang. Irisan lain ialah irisan melintang sejajar dengan irisan pertama. Kelainan pada pancreas : 1. Pancreatitis 2. Pancreatic cyst 3. Fibrocytic disease

4. Tumor

E. Traktus urogenitalis Pada orang laki-laki dikeluarkan dalam satu unit ialah: kedua ginjal (ren) beserta anak ginjal, saluran kencing dalam (ureter), kelenjar prostate, kandung kencing (vesica urinaria) dan rectum. Kemudian dikeluarkan tersendiri kedua pelir (testis). Pada orang wanita dikeluarkan sebagai satu unit: kedua ginjal beserta anak ginjal, ureter, vesica urinaria, rahim (uterus), pengiring rahm (adnexa) dan rectum. Insisi pertama dilakukan lateral ginjal, setelah insisi tersebut maka ginjal dengan mudah biapat dikeluarkan dari letaknya. Irisan pertama tersebut dilanjutkan ke bawah sampai linea terminalis dengan memperhatikan jangan sampai mengiris ureter. Ginjal diangkat ke ventral, kemudian dicari letak ureter dan insisi dilakukan medial dari ureter mulai dari atas ke linea terminalis, kemudian ginjal di pisahkan dengan memotong hilus. Mengeluarkan isi panggul kecil wanita. Mulai dari cavum retzii jaringan sekitar kandung kencing, liang senggama (vagina) dan rectum dilepaskan secara tumpul (di urek-urek) dengan jari telunjuk ke dorsal sampai tulang selangkang (sacrum) dan dengan demikian jari telunjuk kanan dan kiri dapat bertemu di belakang rectum. Lubang ini di perbesar sehinggah empat jari kanan dan kiri dapat masuk, kemudian kedua belah jari diletakkan di sela kemaluan (symphisis) dan selanjutnya rectum didorong keatas dengan jari kelingking dan jari manis kanan dan kiri. Sekarang isi panggul kecil sudah dilepas, sedangkan jaringan yang masih melekat yaitu jaringan yang terdapat pada linea terminalis dilepaskan secara tumpul, dikumpulkan dan digunting, kemudian menyusul jaringan yang melekat pada promontorium. Sekarang dari traktus urogenitalis yang masih melekat ialah bagian pada diafragma pelvis. Tangan kiri memegang isi panggul kecil sambil menarik dan tangan kanan dengan pisau memotong urethra, vagina, dan rectum pada wanita dan bagian atas penis dan rectum pada laki-laki dari diafrgma pelvis. Glandula suprarenalis Anak ginjal yang letaknya di kutub atas ginjal dilepaskan secara tajam, kemudian dibersihkan dari jaringan lemak dengan pinset dan gunting. Anak ginjal ditimbang kemudian

diiris melintang, irisan lain sejajar dengan irisan pertama. Perbandingan anak ginjal dan ginjal pada neonates dan bayi lebih besar pada orang dewasa. Kelainan pada anak ginjal: 1. Pendarahan 2. Tuberculosis 3. Addisons disease 4. Tumor Ginjal Ginjal diletakkan di antara dua lapis kain kasa dengan hilus ke bawah, kemudian ginal diiris mulai dari konveksitas kea rah hilus, pelvis renalis di cari dan ujung gunting di masukkan ke ureter dibuka sampai kandung kencing. pembungkusnya dan kemudian di timbang. Kelainan pada ginjal 1. Congenital anomaly: a. Agenesia : satu ginjal idak terbentuk b. Congenital fusion (horse shoe kidney) c. Hypoplasia/hyperplasia ginal d. Fetal lobulation e. Duplication pelvis/ureter f. Congenital polycistc kidney 2. Nephrosis 3. Acute/chronics glomerulo nephritis 4. Pyelonephrosis Kemudian arteri renalis dibuka. Sampai ginjal dijepit dengan pinset dan ginjal secara tumpul dikelupas dari lemak

5. Nephrosis 6. Nephrolithiasis 7. Cyst of kidney 8. Pyonephrosis 9. Tumor (wilms tumor) 10. Hydronephrosis Kandung kencing (vesica urinaria) Kandung kencing dibuka dengan gunting mulai dari uretra kea rah cranial. Kelainan pada vesica urinaria: 1. Congenital : ectopia 2. Cystitis 3. Obstruksi : hypertrophy, dilatasi 4. Calculi 5. Divertikulum 6. Tumor Rectum Vesica urinaria diletakkan diatas meja hingga rectum berada disebelah atas. Rectum dibuka dengan gunting dari anal ke oral. Gelembung mani (vesicula seminalis) Letak vesicula seminalis antara rectum dan vesica urinaria diatas kelenjar prostat yang menonjol. Yang perlu mendapat perhatian ialah lobus medialis, karena pembesaran lobus medialis dapat menimbulkan retention urin. Prostat kemudian dipisahkan dari kandung kencing dan ditimbang. Prostat diiris dengan irisan frontal mulai pertengahan lobus medialis. Irisan lain dibuat sejajar dengan irisan pertama. Prostat terdiri dari : 1 Lobus medialis, 2 Lobus lateralis, 1 Lobus anterior, 1 Lobus posterior.

Kelainan pada prostat: 1. Prostatitis 2. Abses 3. Hypertrophy 4. Tumor 5. Tuberculosis

Testis (buah pelir) Buah pelir (testis), anak buah pelir (epididimis) dan tali mani (funiculus spermaticus) dikeluarkan sebagai berikut : Ujung pisau dimasukkan kedalam saluran lipat paha (canalis inguinalis) ke arah

kandung buah pelir (scrotum), kemudian lubang ini secara tumpul dibesarkan dan testis didorong keluar melalui dinding tadi. Funiculus spermaticus ditarik dan dipotong sejauhjauhnya dari testis. Funiculus spermstikus terdiri dari: 1. Ductus atau vas deferens 2. Arteria spermatica 3. Plexus pampiniformis 4. Tunica vaginals communis Tunica vaginalis dibuka dengan gunting, kemudian testis dan rpididymis dikeluarkan dan dipisahkan. Testis diiris melintang melalui jaringan testis dan epididymis. Tubuli seminiferi contorti pada testis normal dapat ditarik sebagai benang, tetapi hal ini tidak nampak pada fibrosis. Kelainan pada testis/epididymis: 1. Cryptorehismus

2.

Orchitis

3. Epididymitis 4. Parotitis epidemica 5. Variocele 6. Hydrocele 7. Hematocele 8. Spermatocele 9. Tumor

Kelainan penis/scrotum: 1. Anomalis : hypospadia 2. Balanitis 3. Ulcus molle 4. Ulcus durum 5. Lymphogranuloma venerum 6. Condyloma acuminate 7. Granuloma inguinale 8. Elephantiasis 9. Tumor Uterus dan vagina Rectum dan vesica urinaria seperti telah diuraikan sebelumnya. Bila vesica urinaria tidak ada kelainan, maka vesica urinaria boleh dipisahkan dari vagina, sedangkan rectum untuk menjaga topografi tidak diganggu. Uterus diukur lebar, panjang dan tebalnya. Liang senggama (vagina) dibuka dengan gunting di pertengahan anterior, lalu ujung gunting

dimasukkan kedalam lubang cervix (canalis cervicalis), kemudian uterus dibuka dipertengahan sampai 1 cm. sebelum fundus uteri. Dari sini uterus dibuka ke kanan dan kiri sampai insertion tuba. Kedua insisi ini penting karena di cavum uteri sering tertinggal placenta. Bila canalis cervicalis tertutup, uterus dibuka dengan pisau dengan cara seperti tersebut diatas. Bila pada vesica urinaria terdapat tumor, maka uterus harus dibuka dari samping dengan gunting sampai insertion tuba dan insisi kedua membuka fundus uteri dari tuba ketuba yang lain. Pada endometritis acuta penggantung rahim (paramenterium) perlu di insisi pararel dengan canalis cervicalis untuk melihat pembuluh darah/lymhe yang terlihat sebagai potongan melintang. Tuba fallopi Saluran telur (tuba fallopi) di insisi melintang berganda dengan pisau atau disonde terlebih dahulu mulai dari bagian fimbrae.

Ovarium Indung telur (ovarium) diletakkan antara kain kasa, kemudian dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk/jari tengah dan dibuka menurut diameter yang terpanjang. Pada kasus kesehatan kesusilaan misalnya perkosaan, inspeksi status lokasi: selaput dara (hymen), vulva, vagina dan cervix harus dilakukan sebaik-baiknya sebelum dilakukan otopsi untuk mencari adanya laceratio. Kemudian diambil specimen dari vagina untuk mencari adanya sel sperma/kuman diperiksa dengan : a. Langsung b. Setelah dicat dengan gram c. Pembiakan kuman Gonococcus Neisseia d. Pemeriksaan acid phosphatase

Specimen diambil lagi setelah vagina di buka dan di periksa seperti tersebut diatas. Tes untuk secret prostat: larutan terdiri dari 1,65 gran jodium, 2,54 gram KJ, dan 30cc air. Bila secret prostat, mania tau brercak mani di beri larutan tersebut maka akan terbentuk Kristal berwarna biru. Pada kasus abortus provokatus kriminalis, isi panggul kecil setelah dikeluarkan tidak langsung dilakukan diseksi tetapi dilakukan setelah di fiksasi dengan formalin 10% dan dijaga specimen tidak mengapung. Setelah formalin meresap betul selama 7 hari, uterus di periksa dan sekali-kali tidak boleh digunakan sonde. Rahim diiris setebal satu jari dan selama 24 jam direndam dalam alcohol untuk mengembalikan warna asal bila terdapat perforasi maka akan terlihat sebagai noda merah, bagian ini harus di periksa secara histopatologi. Kelainan tractus genitalis wanita 1. Kelainan congenital a. Uterus septus duplex cum vagina septa b. Uterus septus duplex c. Uterus subseptus d. Uterus bicornus duplex 2. Hypoplasia: pada anak cervix lebih besar dari uterus, pada dewasa sebaliknya dan pada usia lanjut (seniltas) kembali lagi seperti pada anak karena atrofi uterus. 3. Vulvitis chronic 4. Kraurosis vulvae 5. Elephantiasis vulvae 6. Condyloma acuminate 7. Tumor Kelainan vagina: 1. Colpitis 2. Fistula

3. Tumor Kelainan cervix dan uterus: 1. Prolapsus uteri 2. Hematometra pada : atresia cervix Atresia hymaenalis Hymen imperforata

3. Endometritis 4. Tuberculosis 5. Erosion cervicalis 6. Hyperplasia endometrium 7. Polip endometrium 8. Tumor Kelainan tuba fallopi: 1. Salpingitis 2. Pyosalpinx 3. hydrosalphinx 4. tubal pregnancy kelainan ovarium: 1. oophoritis 2. kista : corpus luteum 3. tumor: a. pseudomucionus cystadenoma

b. serous cytadenoma c. papilliferous cystadenoma d. dysgerminoma F. Leher Alat leher harus selalu dikeluarkan. Pada keadaan biasa alat leher dikeluarkan dengan insisi kulit dada Y dan pada cekikan, mati tergantung dengan insisi kulit dada I. Kulit leher dilepaskan dari otot dengan cara menyelipkan pisau antara kulit dan otot mulai dari bagian medial dan dengan gerakan gergaji pisau digerakkan ke lateral kanan dan lateral kiri. Untuk megerjakan tersebut diatas, sebaiknya sebuah balok kayu diletakkan dibawah scapula, sehingga kepala jatuh kebelakang dan leher menjadi lurus. Bila kulit sudah lepas maka ujung pisau ditusukkan ke dagu (menum) sampai menembus mulut, kemudian dasar mulut diiris lateral sedekat-dekatnya dengan tulang rahang bawah karena angulus mandibulae, setelah itu menyusul yang kontra lateral. Kemudian lidah dan otot dasar mulut yang sudah lepas di tarik kebawah dan ujung pisau diletakkan diperbatasan langit-langit keras (palatum durum) dan langit-langit lunak (palatum mole) di bagian tengah. Palatum mole diris dengan menggerakkan pisau ke lateral, kemudian diiris bagian kontra lateral. Sekarang alat leher yang meleka hanya pada bagian belakang trakea ditarik keatas dan pisau diselipkan antara esophagus dan ruas tulang leher (vertebrae cervicalis) di bagian tengah sejauh-jauhnya, kemudian mengiris ke lateral, lalu menyusul bagian yang kontra lateral. Alat leher sekarang sebagian besar udah lepas, dicari bagian mana yang masih melekat dan diiris. Bila otopsi leher dilakukan dengan baik yang keluar berupa: lidah, palatum molle yang masih berhubungan dengan tonsil (amandel), kedua tonsil, trachea, pangkal tenggorok (larynx) dan kerongkongan (esophagus). Glandula parathyreoidea Anak kelenjar gondok (glandula parathyroidea) seluruhnya terdapat 4 buah dan letaknya 2 bagian atas dan 2 bagian bawah kelenar gondok (glandula thyreoidea) untuk menunjukkan glandula parathyreoidea ini glandula thyreoidea harus dibersihkan dari otot dan

supaya simpai (capsul) glandula thyreoidea tidak terpotong. Kemudian simpai glandula thyreoidea bagian lateral igunting sedikit kemudian lubang dilebarkan dan nampak anak kelenjar gondok atas. Glandula parathyreoidea superior lebih mudah dicari daripada glandula parathyreoidea inferior. Rupa glandula parathyreoidea : sebesar butir beras dengan warna coklat dan ada sekidikit lemaknya. Kelainan pada glandula parathyreoidea adalah tumor. Glandula thyreoidea (kelenjar gondok) Kelenjar gondok dilepaskan dari larynx, di timbang beratnya dan insisi pada diameter yang panjang. Kelainan : 1. thyroiditis 2. struma : a. hypertrophy dan hyperplasia (basedow) b. adenoma c. carcinoma 3. hypoplasia (myxedema) Esophagus Esophagus di buka dengan gunting mulai dari bagian oral, kemudian dilepaskan dari trachea dan larynx. Trachea dan larynx dibuka dibagian belakang. Kelainan pada larynx:
1. Oedema larynx ( glottis oedema) 2. Laryngitis : -catarrhalis -Diphteria -phlegmoneus -tuberculosis 3. Tumor

Kelainan pada trakea 1. Kongenital : trachea oesophageal fistula 2. Tracheitis 3. Obstruksi Tonsil (Amandel) Amandel diiris pada diameter terpanjang Kelainan pada tonsil : 1. Tonsilitis 2. Tumor

Lingua (lidah) : Lidah diiris setebal 1 cm, Tulang lidah (os hyoideum), rawan gondok (cartilago thyreodea) pada pencekikan dan mati tergantung harus dibersihkan dari jaringan lemak, untuk melihat adanya fraktur pada bagian tanduk (cartilage thyreodea) pada pencekikan dan mati tergantung harus dibersihkan dari jaringan lemak untuk melihat adanya fraktur, yang sering adalah pada bagian tanduk (cornu). G. Otak Pemeriksaan dalam kepala dilakukan setelah rongga dada kosong, untuk menghindari artifact bendungan di otak akibat tekanan rongga yang meninggi karena pembusukan. Setelah kulit kepala diperiksa, maka dibuat insisi pada kulit kepala mulai dari putting tulang karang (mastoid) kanan ke mastoid kiri melalui puncak (vertex) Insisi di mastoid dilakukan seperti biasa, kemudian mata pisau dibalik dan insisi diteruskan ke mastoid sebelahnya dengan gerakan seperti membuka kaleng, maksudnya ialah supaya tidak terlalu banyak memotong rambut. Insisi diperdalam sampai tulang,kemudian kulit kepala bersama selaput urat pembungkus tengkorak (galea) yang sudah diinsisi dikelupas sejauh-jauhnya kemuka dan kebelakang. Bila dikerjakan baik, maka tengkorak bagian atas bersih dari galea. Kemudian dibuat garis lingkaran dengan benang untuk tanda yang akan digergaji. Lingkaran ini lebih kurang 1 cm di atas lekuk mata ( orbita) dan di belakang kurang lebih sebesar benjolan kepala belakang (protuberanta occipitalis). Musculus temporalis dipotong menurut lingkaran benang yang ada di atasnya, maksudnya bila atap tengkorak (calvarium) kemudian di tautkan dan dikembalikan , maka kedua potong muskulus temporalis dapat dijahit lagi supaya fiksasi calvarium menjadi lebih baik.

Menggergaji tengkorak tidak boleh terlalu dalam sehingga merusak selaput otak (duramater) dan jaringan otak. Bila memakai gergaji mesin maka membuka calvarium tidak seperti tersebut diatas yang merupakan lingkaran penuh, tetapi merupakan dua setengah lingkaran yang membuat sudut tampil di atas mastoid. Maksudnya untuk memberi fiksasi yang lebih baik pada calvarium bila dikembalikan. Setelah calvarium digergaji memutar, untuk melepaskannya dipakai pahat kemudian diketuk digaris gergaji orbita. Mengetoknya harus hati-hati supaya tidak membuat artefak fraktur tulang post mortem. Pada waktu mengangkat calvarium dapat terjadi artefak yaitu emboli udara post mortem dalam vena permukaan otak. Ini disebabkan kerana di waktu menggergaji calvarium dura ikut tersobek dan waktu mengangkat calvarium terjafi tekanan negative maka udara dihisap melalui robekan duramater tersebut. Bila granulations pacchioni sangat melekat dan secara tumpul tidak dapat dilepaskan , maka dura mater digunting di angkat setelah memotong falx cerebri dari muka dan belakang. Pada anak yang baru diahirkan (neonatus) ada teknik tersendiri dengan maksud tidak merusak tentorium dan falx cerebri dan akan dibicarakan sendiri. Setelah calvarium lepas sama sekali maka durameter diperiksa. Pada kasus thrombosis atau thrombophlebitis, sinus longitudinalis dibuka dengan pisau tajam, kemudian durameter digunting sirkuler menurut garis gergaji, kemudian falx cerebri di guntinng di bagisn muka dan durameter dibiarkan menggantung di bagian belakang.

Mengeluarkan otak
Mengeluarkan otak dilakukan sebagai berikut : empat jari diletakkan antara lobus frontalis dan tengkorak, otak ditarisk sedikit ke dorsal. Sekarang terlihat saraf pencium ( nervus olfactorius) dan saraf penglihatan (nervus opticus). Keduanya dipotong sedekat-dekatnya dengan durameter basis cranii.Dengan menarik otak lebih ke dorsal sedikit, maka terlihat lah infundibulum dan nadi kepala dalam (arteria carotis intermus), kemudian kedua arteria tersebut datang kemudian temporalis diangkat dan saraf otot mata (nervus okulomotor) dan beberapa pembuluh balik kecil dipotong sedekat-dekatnya dengan tengkorak. Sekarang tamgan kiri diletakkan dibelakang otak, saraf kembar tida (nervus trigeminus) nampak kemudian rupa sehingga sumsum lanjutan (medulla oblongata) letaknya antara jari kedua dan ketiga kemudian kedua tangan bersama-sama menarik otak keluar dari tengkorak.

Hypophysis (embelan otak)


Hypophysis dikeluarkan dengan cara sebagai berikut : Pertama dilakukan insisi sirkuler pada diafragma pelana turki (sella turcica) kemudian dengan pahat processus clinoideus dipatahkan, lalu dengan oinset mengangkat durameter yang melekat pada hypophysis dan dengan scalpel hypophysis dilepaskan dari sella turcica. Hypophysis dipotong menurut diameter yang terbesar sdemikian rupa yang sehingga dengan satu irisan lobus anterior dan lobus posterior dapat terlihat. Sebelum durameter dapat dilepaskan dari dari dasar tengkorak dengan cara mengelupas, menarik, menggulung dan secara tajam, maka sinus durae matris, sinus cavernosum dan arteria carotis interna dibuka dengan gunting bengkok diperiksa.Setelah dasar tengkorak bersih durameter dicari adanya fraktur. Os Petrosus Bila ada kelainan pada alat pendengaran , maka os petrosa kalau perlu dikeluarkan. Cara mengeluarkan os petrosus , dimana diperlukan lima pahatan: satu di muka os petrosus, dua di belakang dan satu masing-masing di samping. Mata Bila ditemuka tumor atau kelainan lain di mata maka perlu lah sebagian darimata dikeluarkan. Untuk mengeluarkan mata maka perlu lah disuntik dengan 2-3 10% formalin, maka lensa menjadi putih karenanya , Atap bola dibuka dengan pahat selebar-lebarnya dan dengan scalpel tajam bagian dari mata yang diperlukan diiris dan dikeluarkan.Ruang yang ditinggalkan dapat diisi dengan kapas. Glandula pinealis Untuk mendapatkan glandula pinealis otak dikeluarkan dengan basis ke atas ke lobes frontalis ke dessektor, kemudian serebelum di angkat perlahan-lahan sampai terlihat corpora quadric gemina, glandula pinealis terletak di meka corpora quadrigemina. Teknik Otopsi tengkorak bayi/janin Otopsi tengkorak bayi atau janin memerlukan teknik tersendiri, kerana durametermelekat pada tulang untuk tidak merusak falx cerebri dan tentorium cerebelli 1. Metode jendela Tengkorak bila masih lunak dapat digunting atau bila sudah keras dapat digergaji sirkuler sampai 1 cm. Dari titik tengah frontal dan occipital ,kemdiancalvarium digunting sejajar

dengan sutura sagitalis.Belahan otak kanan dan kiri dapat diambil dengan memotong pons, mesensefalon dan tentorium serebelli tertinggal. 2. Metode lain membuka tengkorak dengan cara menggunting sutura dan durameter Dan kemudian lempengan tulang dipatahkan. Insitu diperiksa falx cerebri, tentorium cerebelli dan corpus callosum,kemudian otak diangkat seperti otak orang dewasa. 3. Tengkorak di gunting atau digergaji sirkuler,kemudian dura diiris secara sirkuler Melalui garis sirkuler tadi cerebrum diiris sirkulerjuga dan melalui garis sirkuler tadi cerebrum diiris dengan pisau panjang. Dengan demikian calvaria bersama sebagian cerebrum diangkat. Otak yang masih tertinggal di keluarkan seperti dewasa

Disseksi otak Setelah dilakukan inspeksi, palpasi dan diperiksa circulus willisi,maka cerebellum dipisahkan dari cerebrum dengan memotong kedua pedunculi cerebri (tangkai otak) Kemudian cerebellum, pons varoli (jambatan varolio), medulla oblongata dan medulla spinalis dipotong dengan irisan sejajar setebal satu jari tegak lurus pada sumbu medulla spinalis.. Cerebrum dipotong dengan irisan setebal satu jari tegak lusrus dengan fissure longitudinal cerebri (vertical cross section atau coronal section) Untuk mendapatkan potongan tertentu cerebrum diletakkan dengan bagian inferior ke atas dan dan diiris pada tempat : 1. Lebih kurang 1 cm dibelakang ujung lobus frontalis 2. Lebih kurang ujung lobus temporalis 3. chiasma opticum 4. Infundibulum 5. Corpora mamillaria 6. Pedunculi cerebri 7. Splenum corpori callosi 8. 2 cm muka ujung lobus occipitalis

Kelainan pada durameter : 1. Thrombosis of the sinuses 2. Epidural hematoma

3. subdural hematoma 4. Pachymeningitis haemorrhagia interna choronika 5. Cholesteatoma 6. Tumor Kelainan Leptomeninx: 1. Subarachnoid haemorrhage 2. Leptomeningitis 3. Crysticercus Kelainan pada telinga 1. Suppurative otitis media 2. cholesteatoma Kelainan pada otak 1. Anencephalus 2. Cephalocele 3. Microcephalia 4. Aneurysma of circulus willisi 5. cerebral haemorrhage 6. Encephalomalacia 7. Encephalitis 8. Brain abscess 9. Hydrocephalus 10. Tumor

H. Aorta Insitu batang nadi (aorta) dibuka menurut aliran darah dari lengkung batang nadi (arcus aorta) ke bifurcation aorta abdominalis sampai dengan arteria iliaca communis. Kelainan pada aorta : 1. Arteriosclerosis 2. Atherosclerosis 3. Syphilitis aorta 4. Aneurysma

I. Medulla spinalis

Untuk mengeluarkan medulla spinalis perlu digergaji processus spinosus vertebrae (taju duri tulang belakang) di bagian laminanya. Ini dikerjakan dengan gergaji khusus yang disebut rhachiotom. Mayat diletakkan pada dada suatu balok dibaawanya. Suatu insisi dibuat dari protuberantia occipitalis sampai ke sacrum melalui garis yang dibuat oleh processum spinous. Jaringan di bawah kulit dan otot dibersihkan sehingga terlihat lamina processus spinosus .Lamina inilah yang digergaji dengan cara memahatnya . Kemudian processus spinous diangkat, dengan gunting dipisahkan bagian nervi spinalis yang letaknya extra dural, kemudian dipisahkan pula bagian cauda equine. Medulla spinalis dipotong sedekat-dekatnyadengan foramen magnum. Kemudian durameter dibuka dengan gunting di sebelah anterior dan posterior di garis tengah dan medulla spinalis dimasukkan dalam formalin 10%. Kelainan medulla spinalis: 1. Spina bifida yang mengakibatkan ; -meningocele -mylomeningocele 2. Hydromylea 3. Syringomylia 4. Acute Myelitis (acute anterior poliomyelitis) 5. Tabes dorsalis 6. Multipel Sclerosis 7. Traumatic lesions of the cord 8. Tuberculosis 9. Tumor

J. Mammae (payudara) Payudara dilepaskan dengan tajam dari jaringan kulit, harus hati-hati supaya tidak memotong kulit dan putting susu. Kelainan pada mammae :

1. Abscess 2. Acute mastitis 3. Choronik mastitis with cyst 4. Cryst 5. Hematoma 6. Fat necrosis 7. Tuberculosis 8. Fibroadenoma 9. Lipoma 10. Papilloma 11. Carcinoma 12. Pagets disease of nipple 13. Sarcoma

Differential diagnosis antara : Thrombus Darah beku post mortem (post mortem clot) Permukaan : tidak rata , kasar , kering Konsistensi : lebih rapuh Bentuk : tidak selalu sesuai dengan ruang ditempatinya Warna : Pucat ke abu-abuan a. warna merah biru akibat koagulasi Yang cepat b. Chicken fat clot;akibat pembekuan yang sangat lambat, eritrosit mengendap, serum dan fibrin di bagian atas warna kuning. Garis Zahn : terdapat garis Zahn yang tersusun berlapis (lapisan tidak ada garis Zahn licin, basah elastis-kenyal sesuai dengan ruang ditempatinya

trombosit dan fibrin keabuabuan, lapisan eritrosit merah muda Perlekatan : melekat pada endotel lepas dari endotel,melekat pada m.papilaris karena terjepit

Berat dan ukuran rata-rata organ normal menurut Otto Saphir M.D 1. Jantung Berat untuk pria Berat untuk wanita Tebal otot serambi kanan dan kiri Tebal otot bilik kanan Tebal otot bilik kiri Lingkaran katup mitral Lingkaran katup aorta Lingkaran katub pulmonalis Lingkaran katub tricuspidalis Lingkaran katub pulmonalis di atas jtg : 8 cm Lingkaran ascending aorta di atas jantung Lingkaran descending aorta abd. di thorax Lingkaran aorta abdominalis Cairan pericardium 2. Paru-paru : 7,4cm : 5 cm : 4 cm :10 cm : 7,5 cm : 8,5 cm : 12 cm : 300 gram : 250 gram : 1-2 mm : 2-3 mm : 8-10 mm

: 30-50 cc kuning,jernih ,sereus

Berat paru-paru kanan Berat paru-paru kiri 3. Hepar Berat Ukuran

: 360-570 gram : 325-460 gram

:1500-1800 gram : Panjang = 25-30 cm Lebar = 19-21 cm Tebal = 6-9 cm

Limpa Berat: 150-200gram Ukuran: 12-14cm x 8-9cmx 3-4cm 5. Pancreas Berat: 90-120gram Ukuran 18cmx4,5cmx3,8cm 6. Ginjal Berat: 150gram(satu) Berat untuk ukuran orang Indonesia: 90-120gram Ukuran :11-12cmx5-6cmx3-4cm 7.Testis Berat: 20-27gram Ukuran akil balik: 3cmx2cmx1,6cm Ukuran dewasa: 4-5cmx2,5-3,5cmx1,4-2,3cm

8. Prostata Berat antara 20-30thn Berat antara 51-60thn Berat antara 71-80thn :15gram :20gram :40gram

Ukuran: 3,2-4,7cm x 2,3-3,4cmx 1,4-2,3cm 9. Uterus Berat perawan Ukuran perawan Berat setelah hamil Ukuran setelah hamil :33-41gram : 7,8-8,1cmx 3,4-4,5cmx 1,8-2,7cm : 102-117gram :8,7-9,4cm x 5,4-6.1cm x 3,2-3,6cm

Ukuran serviks perawan: 2,9-3,4cm x 2,5x 1,6-2cm 10. Ovarium Berat : 7 gram

Ukuran pada perawan: 4,1-5,2 x 2-2,7x 1,5x 0,8cm Ukuran pada wanita yang lebih tua: 2,7-4,1x 1,5x 0,8cm 11. Anak ginjal Berat: 5-6cm Ukuran: 4,5x2,5-3,5x0,5cm 12. Oesophagus Panjang dari karilago cricoidea: 25 cm 13. Duodenum Panjang: 30cm 14. Usus halus

Panjang: 500-650cm 15.Usus Besar Panjang: 150-170cm 16. Glandula thyroedea Berat: 30-70 gram Ukuran: 5-7x3-4x1,5-2,5cm 17. Thymus Bayi berat 1-5 tahun, berat 6-10 tahun, berat 11-15 tahun, berat 16-20 tahun, berat 21-25 tahun, berat 26-35 tahun, berat 36-45 tahun, berat 46-55 tahun, berat 18. Otak Berat otak laki-laki Berat otak wanita Umur 1-3 hari Umur 6 bulan Umur 1 tahun Umur 3 tahun : 1.400gram : 1.275 gram : 335 gram : 516 gram : 925 gram : 1.141 gram : 13,26gram : 22,98gram : 26,1gram : 37,52gram : 25,58gram : 24,73gram : 19,87gram : 16,27gram : 12,85gram

Umur 6 tahun

: 1.243 gram

19. Hypophysis Berat : 0,5 gram, waktu hamil berat : 0,95gram

Ukuran 2,1x 1,4x0,5cm

Periksaan tambahan Pemeriksaan tambahan dapat berupa: A. Pemeriksaan histopatologi B. Pemeriksaan mikrobiologi C. Pemeriksaan virology D. Pemeriksaan immunologi E. Pemeriksaan toksikologi F. Pemeriksaan trace evidence Spesimen untuk pemeriksaan histopatologi: 1. Jaringan yang diambil berukuran 2x3x1/2cm, jangan lebih tebal karena penetrasi cairan fiksasi membutuhkan waktu lebih lama,s ehingga kemungkinan besar jaringan menjadi busuk. 2. Potongan jaringan yang diambil rutin, bila anggaran untuk pemeriksaan histopatologi cukup adalah sebagai berikut: a. Jantung: Ventrikel kanan dan kiri

Atrium kanan dan kiri Valvula Arteria coronaria : tiap lobus : bagian entral dan perifer : kanan, kiri meliputi pyramida (cortex, medulla, pelvis) : usus halus, usus besar, appendix : curvatura minor : cauda, corpus, caput

b. Paru-paru c. Hepar d. Ginjal e. Usus f. Lambung g. Pancrease h. Anak ginjal i. Glandula thyroidea j. Otak k. Hypophysis

: cortex cerebri, basal ganglia, pons, hippocampus

3. Semua jaringan tidak boleh tertekuk (twisted), misalnya usus diletakkan diatas ketas saring. Jaringan yang diambil untuk specimen sebelumnya tidak bisa dicuci 4. Bahan fiksasi Sebagai bahan, fiksasi digunakan larutan formalin 10% yang membuatnya adalah dengan mencampur 1 vol (handles) formalin dengan 3 vol. Air yang dimaksudkan dengan handles formaline adalah larutan formaline yang mengandung 40% formaldehyde. 5. Kalau dapat jaringan yang sudah difikir sebelum dikirim ke pusat diiris yang lebih rapi lagi, sehingga volume bahan yng dikirim menjadi lebih kecil untuk menghemat biaya pengiriman

6. Karena anggaran untuk pemeriksaan histopatologi sangat terbatas, maka untuk sementara hanya dikirim jaringan yang makroskopik menunjukkan adanya kelainan patologi. Spesimen untuk pemeriksaan mikrobiologi Pengambilan specimen harus dilakukan secara steril: 1. Darah 10cc diambil dengan alat injeksi dari jantung setelah permukaan jantung dibakar dengan spatel yang dipanasi. 2. Spesimen untuk pembiakan Permukaan limpa/paru-paru dibakar dengan spatel yang dipanasi, lalu jaringan diambil sedikit dengan pinset/gunting steril atau dengan cara lain: setelah permukaan tadi dibakar kemudian di insisi dengan spatel steril, kemuadian swap dimasukkan ke tempat insisi tadi dan dikembalikan tabungnya, langsung dikirim ke laboratorium. 3. Pengiriman specimen ke Laboratorium dilakukan secepat-cepatnya, bila tidak mungkin maka bahan tersebut disimpan dalam dry ice. Selain specimen untuk pembiakan tersebut juga diambil bahan untuk sediaan hapus (smear) yang dibuat dari pus, eksudat dan sebagainya yang kemudian dicat dengan Gram, Giemsa, Ziehl Nelson dan sebagainya.

Spesimen untuk pemeriksaan virology Jaringan otak yang diambil tidak mungkin lagi diambil secara steril, tetapi alat-alat yang dipakai harus steril, contoh yang dikemukakan ialah mengambil specimen pada penyakit Rabies: 1. Botol yang dipakai untuk tempat jaringan dapat berupa botol plastic dengan penutup ulir. 2. Jaingan yang diambil sebesar 1 cm3 dari hippocampus, thalamus, pons, medulla, cerebellum, frontal dan parietal cortex. Selain itu kelenjar yang dapat mengadung banyak virus ialah: glandula submaxillaris

3. Spesimen dapat disimpan pada suhu 4oC atau bila dikirim didinginkan dengan dry ice. Spesimen untuk pemeriksaan Negri Bodies a. Gelas sedimen ditempelkan dan ditekan ringan pada jaringan hippocampus. b. Sediaan smear: Ambil 1mm3 jaringan hippocampus, selanjutnya dibuat smear sperti smear darah. Pengecatan dilakukan dengan cat seller.Bila pengecatan tidak dapat dilakukan dengan segera, sediaan yang masih basah di fiksir dala methyl alcohol. Kutipan dari Berita Kementerian Kesehatan RI, Agutus 1955. Pengiriman otak guna diperiksa di Lembaga Pasteur Bila Anjing atau hewan lain menggigit orang, makan otaknya harus dikirim ke lembaga Pasteur: Sebaiknya otak (3gram) dimasukkan kedalam tempat (botol) bermulut lebar, yang berisi glyserine. Bagian ini diperlukn untuk percobaan hewan. Sebagian lain (3gram) sebaiknya diambil dari bagian otak sepertiganya dari belakang, yakni yang mengandung Ammonshoorn(hippocampus). Sebagian otak ini dimasukkan kedalam botol berisi alcohol. Sedian-sediaan ini dikirim bersama-sama dengan otak. Botol yang berisi bahan otak itu harus ditutup demikian rapat, sehingga glyserine atau alcoholnya tidak dapat merembes dengan (dengan lak). Lalu botol-botol itu dipak baik-baik sehingga botol tidak dapat pecah selama perjalanan. Di etiket pengiriman selain dari pada alamat harus ditulis Express dan Bahan menular, agar jawatan Pos mengirimkannya dengan secepat mungkin dan bertindak berhati-hati, agar bahan tersebut tidak mengotori barang-barang post lainnya.

Lebih baik jika pemeriksaan otak mikroskopis yang tidak begitu sukar itu dapat diselenggarakan di pusat pengobatan, kemana orang yang digigit itu dikirimkan, hingga penetapan indikasi pengobatan menjdi mudah dan cepat.

Spesimen untuk pemeriksaan immunologi Darah yang diambil secara steril lebih kurang 20cc dipusingkan dan lebih kurang 10cc serum dipindahkan dengan pipet steril ke tabung yang steril pula,kemudian disimpan atau dikirim dalam dry ice. Bila test netralisasi tidak diperlukan, maka serum dapat diawetkan dengan cresol 3%. Spesimen untuk pemeriksaan toksikologi 1. Bahan yng perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi pada kasus keracunan: a. stasiun I: Lambung dan isinya: +250 gram Usus halus dan isinya +250 gram

b. Stasiun II: Hati : +/- 250 gram Ginjal: kanan dan kiri Otak: +/- 250 gam Paru-paru , hanya pad racun yang ekskresinya mealui paru-paru (volatile poisons), +/- 250 gram. c. Stasiun III: Pada keracunan kronis: Rambut Lemak

Tulang Kuku

Bahan lain: Daerah untuk pemeriksaan alcohol diambil dari vena femoralis Kencing

2. Tempat. Tempat yang dipakai untuk diisi jaringan harus: a. Bersih b. Sedapat-dapatnya baru c. Bermulut lebar d. Dapat ditutup yang rapat, kemudian dilapisi dengan paraffin e. Diberi label dan segel (materai), sehingga tidak mungkin membukanya tanpa merusak materai. f. Disimpan dalam lemari yag terkunci. 3. Sebagai bahan pengawet dipakai: a. Dry ice: untuk pemeriksaan alcohol b. Es batu c. Ethyl alcohol 95%: Banyaknya alcohol yang dipakai sama dengan volume jaringan. Jaringan sebelum dimasukkan kedalam tempatnya, lebih dulu dipotong tipis supaya alcohol dapat merembes cepat dalam jaringan utnuk mencegah bahan pengawet dua kali jaringan.

d. Dalam hal terpaksa sebagai bahan pengawet dapat juga dipakai minuman keras dengan kadar alcohol minimum 40% dan jumlah bahan pengawet dua kali volume jaringan. 4. Yang perlu diikut sertakan dalam pengiriman bahan pemeriksaan toksikologi: a. Contoh alcohol yang dipakai sebagai bahan pengawet, juga diberi label dan materai. b. Surat permohonan pemeriksaan racun kepada laboratorium, laporan bahan yang dikirim dan contoh materai. c. Berita acara mengenai peristiwa keracunan.

d. Laporan otopsi e. Berita acara tentang cara membungkus dan memeteraikan bahan (process verbal van verpaking en verzegeling) Bahan yang perlu diambil pada penggalian mayat utuk pemeriksaan tokskologi selain tersebut diatas juga contoh tanah. Contoh tanah diambil diatas, disamping, dan di bawah mayat/peti mayat, kemudian diambil pula contoh tanah sedalam mayat/peti mayat yang letaknya 5 meter daari lubang galian. Spesimen untuk pemeriksaan trace evidence Yang dimasudkan dengan trace evidence dalam bahasa Belanda scahde sporran ialah bekas, sisa-sisa, jejak dari suatu peristiwa. Pada peristiwa pembunuhan apakah bercak yang melekat pada senjata adalah darah manusia, golongan sama dengan korban. Pada kecelakaan lalu lintas tabrak lari (Hit and run) apakah darah, rambut, kulit yang melekat pada mobil berasal dari korban. Pemeriksaan seperti tersebut diatas perlujuga dilakukan pada kotoran yang didapatan di bawah kuku jari terdakwa. Cara pengiriman trace evidence tidak boleh menyimpang dari prosedur seperti pengiriman bahan pemeriksaan toksikologi.