Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN Akne Vulgaris merupakan penyakit yang sering dijumpai pada usia remaja.

Kligman menyatakan bahwa tidak seorang pun dalam kehidupannya yang sama sekali tidak pernah menderita penyakit ini. Akne memiliki tempat predileksi di muka, leher, lengan atas, dada dan punggung, akne bisa dijumpai saat masih bayi (akne neonatal), anak, remaja, dan orangtua. Penyakit ini dapat sembuh sendiri tanpa bantuan obat atau kosmetik, sebaliknya ada juga yang sulit diatasi. Penyakit ini tidak fatal, akne yang ringan sering dianggap sebagai proses fiiologis, namun sering merisaukan karena dapat mengurangi kepercayaan diri. Masalah psikologis pasien menunjukkan adanya disability (ketidakmampuan), yang sering muncul berupa anxietas, depresi, kehilangan lingkungan sosial dan tidak bisa bergabung dalam kelompoknya. Akne pada adolesen bisa menimbulkan masalah yang berhubungan dengan presexual relationship. Umumnya insiden terjadi pada umur 14 17 tahun pada wanita, dan 16 19 tahun pada pria dan pada masa itu, lesi yang predominan adalah komedo dan papul dan jarang lesi beradang. Pada seorang gadis, akne vulgaris dapat terjadi pada premenarke. Setelah masa remaja kelainan ini berangsur berkurang. Namun kadang kadang terutama pada wanita, akne vulgaris menetap sampai decade umur 30-an atau bahkan lebih. Meskipun pada pria umumnya akne vulgaris lebih cepat berkurang, namun pada penelitian diketahui bahwa justru gejala akne vulgaris yang berat terjadi pada pria. Diketahui pula bahwa ras oriental ( Jepang, Cina, Korea) lebih jarang mengalami

akne vulgaris dibandingkan dengan ras Kakasia ( Eropa, Amerika ), dan lebih sering terjadi lesi nodulokistik pada kulit putih daripada negro. Akne vulgaris mungkin familial, namun karena tingginya prevalensi penyakit ini, hal ini sulit dibuktikan. Dari sebuah penelitian diketahui bahwa orang yang bergenotip XYY mendapat akne vulgaris yang lebih berat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA AKNE VULGARIS 2.1. Definisi Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Gejala klinis akne vulgaris sering polimorfi; terdiri atas berbagai kelainan kulit berupa komedo, papul, pustule, nodus, dan jaringan parut yang terjadi akibat kelainan aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotrofik, maupun hipertrofik. 2.2. Sinonim Jerawat. 2.3. Etiologi dan Patogenesis meskipun etiologi yang pasti penyakit ini belum diketahui, namun ada beberapa faktor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit. 1. Perubahan pola keratinisasi dalam folikel. Keratinisasi dalam folikel yang biasanya berlangsung longgar berubah menjadi padat sehingga sukar lepas dari saluran folikel tersebut. 2. Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan peningkatan unsur komedogenik dan inflamatogenik penyebab terjadinya lesi akne. 3. Terbentuknya fraksi asam lemak bebas penyebab terjadinya proses inflamasi folikel dalam sebum dan kekentalan sebum yang penting dalam patogenesis penyakit.

4. Peningkatan jumlah flora folikel ( propionibacterium acnes, dulu: Corynebacterium acnes, Pityrosporum ovale, dan Staphylococcus epidermidis ) yang berperan dalam proses kemotaktik inflamasi serta pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum. 5. Terjadinya respon hospes berupa pembentukan circulating antibodies yang memperberat akne. 6. Peningkatan kadar hormon androgen, anabolic, kortikosteroid, gonadotropin serta ACTH yang mungkin menjadi faktor penting pada aktivitas kelenjar sebacea. 7. Terjadinya stress yang dapat memicu aktivitas kelenjar sebacea, baik secara langsung ataupun melalui rangsangan kelenjar hipofisis. 8. Faktor lain : usia, ras, familial, makanan, cuaca / musim yang secara tidak langsung dapat memacu peningkatan proses patogenesis tersebut. 2.4. Gejala Klinis Penderita datang datang dengan keluhan estetis, kadang kadang disertai dengan rasa gatal. Predileksi pada wajah, bahu, dada bagian atas, punggung bagian atas. Lokasi kulit lain: leher, lengan atas dan glutea kadang kadang terkena. 2.5. Gambaran Klinis. Kelainan yang terjadi pada Akne vulgaris berupa erupsi kulit polimorfi, dengan gejala predominan salah satunya : komedo, papul yang tidak beradang dan pustule, nodus dan kista yang beradang. Komedo adalah gambaran patognomonik bagi akne, berupa papul milier, yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum. Bila berwarna hitam mengandung melanin disebut komedo hitam atau komedo terbuka (black comedo, open comedo). Sedangkan bila berwarna putih karena letaknya lebih dalam sehingga tidak mengandung melanin, disebut komedo putih atau komedo tertutup (white comedo, close comedo).

2.6. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis akne vulgaris, diperlukan anamnesis, pemerksaan klinis, dan pemeriksaan khusus. Keluhan gatal gatal atau sakit hanya kadang kadang saja terjadi pada lesi kulit di daerah predileksinya. Keluhan remaja biasanya karena alasan kosmetis. Hal penting pertama yang harus dilakukan oleh dokter adalah memeriksa kulit pasien dengan penerangan yang cukup agar bisa menilai secara optimal keparahan akne dan tipe tipe lesinya. Black comedo, papul, pustule, dan nodul mudah dikenali, tapi white comedo sulit dilihat. Untuk itu, dokter perlu meregangkan kulit pasien dengan lege artis, memberi penyinaran dari sudut yang berbeda sehingga white comedo dapat dilihat. Ini penting, terutama pada individu yang berkulit gelap white comedonya sulit diamati. Secara klinis, tampak kulit yang berminyak, komedo ( khas untuk akne), papul, pustule, nodul, hiperpigmentasi dan berbagai betuk jaringan parut sebagai gejala sisa. Erupsi dari akne vulgaris umumnya merupakan kombinasi yang didominasi oleh salah satu jenis lesi (komedo, papul, papulopustul, atau nodul). Pada keadaan demikian maka diagnosis tergantung pada lesi yang dominan, misalnya: akne vulgaris komedonal Pemeriksaan penunjang khusus berupa ekskoklesi komedo, dapat dengan mudah dilakukan untuk membuktikan apakah papul kecil yang terjadi benar sebuah komedo. Karena komedo merupakan gejala patognomonis dari akne vulgaris. Pemeriksaan dilakukan dengan cara lege artis, mengeluarkan sebum yang menyumbat denga bantuan alat komedo ekstraktor (sendok Unna). Sebum tersumbat pada akne vulgaris tampak sebagai masa padat seperti lilin, atau nasi lunak yang ujungnya berwarna hitam. Pemeriksaan mikrobiologis terhadap jasad renik yang mempunyai peran pada etiologi dan patogenesis penyakit dapat dilakukan di laboratorium mikrobiologi yang lengkap untuk tujuan penelitian namun hasilnya sering tidak memuaskan.

Pemeriksaan susunan kadar lipid permukaan kulit dapat dilakukan untuk tujuan serupa. Pada akne vulgaris, kadar asam lemak bebas meningkat, dan karena itu pada pencegahan dan pengobatan digunakan cara untuk menurunkannya. 2.7. Diagnosis banding 1. Erupsi akneformis INH, yang disebabkan oleh induksi yodida, obat, difenil misalnya hidantoin, kortikosteroid, Barbiturat, bromida,

trimetadion, ACTH, dan lainnya. Klinis berupa erupsi papul, pustul mendadak, tanpa adanya komedo, di hampir seluruh bagian tubuh. Dapat disertai demam dan dapat terjadi di segala usia. 2. Akne venenata dan akne akibat rangsangan fisis. Umumnya lesi monomorfi, tidak gtal, bisa berupa komedo atau papul, dengan tempat predileksi di tempat kontak zat kimia atau rangsang fisisnya. 3. Rosasea (dulu: akne rosasea), merupakan penyakit peradanyan kronik di daerah muka, denagn gejala eritama, pustule, telangiektasis, dan kadang kadang disertai hipertrofi kelenjar sebasea. Tidak terdapat komedo, kecuali kombinasi denga. akne. 4. Dermatitis perioral yang terjadi terutama pada wanita dengan gejala klinis polimorfi eritema, papul, pustul, di sekitar mulut terasa gatal. 2.8. Penatalaksanaan. Penatalaksanaan akne vulgaris meliputi usaha pencegahan terjadinya erupsi (preventif), dan usaha menghilangkan jerawat yang terjadi (kuratif). Kedua usaha tersebut dilakukan bersamaan mengingat bahwa kelainan ini terjadi akibat berbagai faktor, baik faktor internal tubuh maupun faktor eksternal tubuh.

2.8.1. Pencegahan 1. menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi sebum dengan cara : a. diet rendah lemak dan karbohidrat b. melakukan perawatan kulit dengan dibersihkan secara teratur dari kotoran 2. menghindari faktor pemicu akne a. hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olah raga sesuai kondisi tubuh, hindari stress b. penggunaan kosmetika secukupnya c. menjauhi pemacu kelenjar keringat, seperti: minuman keras, pedas, rokok, lingkungan yang tidak sehat, dsb. 3. memberikan konseling tentang penyakit kepada penderita agar penderita tidak underestimate atau overestimate terhadap penyakit yang diderita. 2.8.2. Pengobatan pengobatan akne dapat dilakukan dengan cara pemberian obat obatan topical, obat sistemik, bedah kulit atau kombinasi cara- cara tersebut. I. Pengobatan topikal. Pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan, dan mempercepat penyembuhan lesi. Onat topikal terdiri atas: 1. bahan iritan yang dapat mengelupas kulit (peeling), contoh: sulfur (48%), resorsinol (1-5%), asam salisilat (2-5%), peroksida benzoil (2,510%), asam vitamin A (0,0025-0,1%) dan asam Azeleat (15-20%). Akhir akhir ini digunakan juga asam alfa hidroksi (AHA), misalnya asam glikolat (3-8%). Efek samping obat iritan dapat dikurangi dengan pemakaian berhati hati dimulai konsentrasi yang paling rendah.

2. Antibiotika topical yang dapat mengurangi jumlah mikroba dalam folikel yang berperan dalam etiopatogenesis akne vulgaris. Contoh : oksi tetrasiklin (1%), eritromisin (1%), klindamisin fosfat (1%). 3. Antiperadangan topical, salep atau krim kotikosteroid kekuatan ringan atau sedang (Hidrokortison 1-2,5%) atau suntikan intralesi ortikosteroid kuat (triamsinolon asetonid 10 mg/cc) pada lesi nodulokistik. 4. Lainnya, contoh: etil laktat 10% untuk menghambat pertumbuhan jasad renik. II Pengobatan sistemik Pengobatan sistemik bertujuan untuk menekan pertumbuhan jasad renik disamping juga dapat mengurangi reaksi peradangan, menekan produksi sebum, dan mempengaruhi kesetimbangan hormonal. Golongan obat sostemik terdiri atas: 1. anti bakteri sistemik; tetrasiklin (250-1,0 g/hari), eritromisin (4x250 mg/hari), doksisiklin (50 mg/hari), trimetoprim (3x100 mg/hari) 2. obat hormonal untuk menekan produksi androgen dan secara kompetitif menduduki reseptor organ target di kelenjar sebasea. Estrogen (50 mg/hari selama 21 hari dalam sebulan) atau antiandrogen siproteron asetat (2 mg/hari). Pengobatan ini ditujukan untuk penderita dewasa akne vulgaris beradang dan gagal dengan terapi yang lain. Kortikosteroid sistemik diberikan untuk menekan peradangan dan menekan sekresi kelenjar adrenal, prednison (7,5 mg/hari) atau deksametason (0,25-0,5 mg/hari).

3. Vitamin A dan retinoid oral. Vitamin A digunakan sebagai antikeatinisasi(50.000 ui- 150.000 ui/hari) sudah jarang digunakan sebagai obat akne karena efek sampingnya. Isotretinoin (0,5-1mg/kg BB/ hari) merupakan derivat retinoid yang menghambat produksi sebum sebagai pilihan pada akne nodulokistik atau konglobata yang tidak sembuh dengan pengobatan lain. 4. Obat lainnya, antiinflamasi non steroid ibuprofen (600mg/hari) dapson (2 x 100mg/hari), seng sulfat (2 x 200mg/hari) III Bedah Kulit Tindakan bedah kulit kadang-kadang diperlukan terutama untuk perbaikan jaringan parut akibat akne vulgaris meradang yang berat yang sering menimbulkan jaringan parut, baik yang hipertrofik maupun hipotrofik. Jenis bedah kulit yang dipilih disesuaikan dengan macam dan kondisi jaringan parut yang terjadi. Tindakan dilakukan setelah akne vulgaris sembuh. 1. bedah skalpel dilakukan untuk meratakan sisi jaringan parut yang menonjol atau melakukan eksisi elips pada jaringan parut hipotrofik yang dalam. 2. bedah listrik digunakan untuk komedo tertutup untuk mempermudah pengeluaran sebum atau pada nodulokistik untuk drainase cairan isi yang dapat mempercepat penyembuhan. 3. bedah kimia dengan asam triklor asetat atau fenol untuk meratakan jaringan parut yang berbenjol. 4. bedah beku dengan bubur CO2 beku atau N2 cair untuk mempercepat penyembuhan radang. 5. demabrasi untuk meratakan jaringan parut hipo dan hipertrofi pasca akne yang luas.

2.9. Prognosis Umumnya prognosis baik. Penyakit akne vulgaris umumnya sembuh mencapai usia 30 40an. Jarang terjadi akne vulgaris yang menetap sampai tua atau mencapai gradasi sangat berat sehngga perlu rawat inap di rumah sakit.

10

BAB III LAPORAN KASUS 3.1 Identitas Penderita Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Suku Bangsa Agama : Kadek Inaya Priyanti : 17 Tahun : wanita : BTN Banyuning : Bali : Indonesia : Hindu

Tanggal Pemeriksaan : 6 September 2006 3.2 Anamnesis Keluhan Utama :

Jerawat pada wajah. Perjalananan Penyakit :

Penderita mengeluh munculnya jerawat sejak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), awalnya jumlah jerawat sedikit, lalu tiba tiba bertambah banyak. Penderita sudah berganti berbagai macam pembersih wajah dan kosmetik tapi jerawat tidak juga hilang. Riwayat Pengobatan : Penderita sudah memperoleh pengobatan sebelumnya ke poliklinik RSUD Kabupaten Buleleng, diberikan obat topikal dan sistemik dan hasilnya memuaskan. Sebelum pengobatan dilakukan, penderita tidak pernah minum obat apa apa.

11

Riwayat Penyakit Terdahulu

Penderita belum pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. Riwayat Penyakit dalam keluarga : Ibu juga pernah mengalami masalah serupa ketika masih remaja. Riwayat atopi: Tidak ada keluarga yang menderita asma maupun dermatitis 3.3 Pemeriksaan Fisik Status Present Keadaan Umum Nadi Respirasi Temperatur aksila BB Status General Kepala Mata THT Thorax : Cor Pulmo Abdomen Ekstremitas : Normocephali : anemia -/-, ikt-/: dalam batas normal : S1S2 normal, murmur (-) : vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/: distensi (-),bising usus normal, hepar dan lien tidak teraba : dalam batas normal. : Baik : 88 kali permenit : 20 kali permenit : 37,0C : 52 Kg

12

Status Dermatologi Lokasi Effloresensi : wajah : komedo terbuka dan tertutup, papul-papul milier

tersebar pada seluruh permukaan kulit wajah, terdapat pustul, ekskoriasi akibat garukan, dan patch eritomatous pada pipi sebelah kanan 1. Mukosa 2. Rambut 3. Kuku 4. Fungsi Kelenjar Keringat 5. Kelenjar Limfe 6. Saraf 3.4 Diagnosis Banding 1. Erupsi akneformis 2. Akne venenata dan akne akibat rangsangan fisis 3. Rosasea 4. Dermatitis perioral 3.5 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Ekskohleasi sebum tidak dilakukan, karena komedo sebagai patognomonis akne vulgaris sudah tampak jelas. : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

13

3.6 Resume Penderita wanita, 17 tahun, Bali, Hindu, mengeluh muncul jerawat yang banyak pada seluruh wajah, terjadi sejak memasuki Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Pada awalnya jerawat yang muncul sedikit, lalu menyebar denan cepat ke seluruh permukaan wajah. Penderita sudah dapat berobat sebelumnya dengan menggunakan penderita sudah berobat sebelumnya ke poliklinik RSUD Kabupaten Buleleng dan mengalami perbaikan Status Dermatologi : Lokasi Effloresensi : wajah : komedo, papul-papul milier tersebar pada seluruh permukaan

kulit wajah, terdapat pustul, ekskoriasi akibat garukan, dan patch eritomatous pada pipi sebelah kanan 3.7 Diagnosis Kerja Akne vulgaris 3.8 Penatalaksanaan Topikal Sistemik KIE : Lotio Kummerfeldi : Tetrasiklin 2 x 250 mg / hari :

- menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi sebum dengan cara : a. diet rendah lemak dan karbohidrat b. melakukan perawatan kulit dengan dibersihkan secara teratur dari kotoran

14

- menghindari faktor pemicu akne a. hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olah raga sesuai kondisi tubuh, hindari stress b. penggunaan kosmetika secukupnya c. menjauhi pemacu kelenjar keringat, seperti: minuman keras, pedas, rokok, lingkungan yang tidak sehat, dsb 3.9 Prognosis Prognosis dari kelainan ini adalah baik

15

BAB IV PEMBAHASAN Dari anamnesis, diketahui bahwa penderita datang dengan keluhan munculnya jerawat yang banyak pada seluruh permukaan wajah. Jerawat muncul pertama kali pada saat menginjak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), awalnya jerawat yang muncul sedikit, namun dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh. Hal ini sesuai dengan kajian teori bahwa pada wanita, jerawat sering muncul pada fase premenarke, akan tetapi pada penderita, jerawat tidak berangsur membaik, malah bertambah parah ketika belum diobati, maka kelainan ini dapat digolongkan kelainan patologis. Dari pemeriksaan klinis didapatkan adanya bentukan komedo hitam pada wajah, yang merupakan patognomonis yang khas pada Akne vulgaris, artinya, jika terdapat komedo baik hitam maupun putih, melalui pemeriksaan klinis, makan diagnosa dapat ditegakkan sebagai Akne vulgaris. Selain itu, juga didapatkan papul paul milier tersebar pada seluruh permukaan wajah, disetai pustul dan ekskoriasi karena garukan. Selain itu, ada juga beberapa penyakit yang menjadi diagnosis banding pada Akne Vulgaris: 1. Erupsi akneformis: dari hasil anamnesis, diketahui bahwa penderita tidak memiliki riwayat meminum obat-obatan yang dapat menyebabkan induksi obat. Obat obatan tersebut meliputi: kortikosteroid, INH, Barbiturat, Bromida, Yodida, difenil hidantoin, trimetadion, ACTH, dan lainya. Erupsi papulopustul tidak terjadi secara mendadak. Dari hasil pemeriksaan klinis ditemukan adanya komedo, sedangkan pada erupsi akneformis tidak ditemukan adanya komedo.

16

2. Akne venenata dan akne akibat rangsangan fisis: Dari hasil anamnesis, diketahui bahwa penderita tidak mengalami kontak dengan zat kimia atau rangsang fisis lainnya. Dari hasil pemeriksaan klinis pada penderita ditemukan lesi yang polimorfi, sedang pada akne venenata dan akne akibat rangsangan fisis ditemukan lesi yang monomorfis. 3. Rosasea Dari hasil pemeriksaan klinis, tidak ditemukan adanya peradangan kronik, telangiektasis, dan pembesaran kelenjar sebasea. Pada rosasea tidak ditemukan adanya komedo. 4. Dermatitis perioral Predileksi pada penderita adalah seluruh wajah, sedangkan pada dermatitis perioral, predileksinya terjadi pada daerah sekitar mulut. Pada penderita ini, penatalaksanaan yang diberikan adalah pengobatan topikal: lotio Kummerfeldi, pengobatan sistemik : Tertrasiklin 2x 250 mg/hari, dan juga konseling berupa : - menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi sebum dengan cara : a. diet rendah lemak dan karbohidrat b. melakukan perawatan kulit dengan dibersihkan secara teratur dari kotoran - menghindari faktor pemicu akne a. hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olah raga sesuai kondisi tubuh, hindari stress b. penggunaan kosmetika secukupnya c. menjauhi pemacu kelenjar keringat, seperti: minuman keras, pedas, rokok, lingkungan yang tidak sehat, dsb

17

Prognosis dari Akne Vulgaris pada umumnya adalah baik, biasanya dapat sembuh sendiri pada usia dekade 30-40 tahun. Jarang terjadi Akne vulgaris yang menetap sampai tua atau mencapai gradasi sangat berat sehingga perlu rawar inap di rumah sakit.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Arnold, H.L.; Odom, R.B. and James, W.D.: Andrews Disease of the Skin. Clinical Dermatology, 8 th ed. pp. 252 257 (W.B. Saunders Company, Philadephia, 1990) 2. Cunliffe, W.J.: Acne, pp 11-75 (Martin Dunitz, London 1989) 3. Kligman, A.M. and Plewig, G.: Acne morphogenesis and treatment; pp 162-163, 233-234, (Springer Verlag, Berlin 1975)

19