Anda di halaman 1dari 17

Bayi Lahir pada Usia Kehamilan 36 minggu (SC.

E), Tidak Menangis, Pucat, Kaki-Tangan Lemah dan Tidak Bergerak, Dilakukan Resusitasi tapi Tidak Ada Respon. Denyut Jantung 50 kali/menit.
Rozma Connica Bertha Ompusunggu* 102009251 *Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA Alamat korespondensi: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510 *Email : saiiacha@gmail.com

Pendahuluan
Diperkirakan bahwa sekitar 23% seluruh angka kematian neonatus di seluruh dunia disebabkan oleh asfiksia neonatorum, dengan proporsi lahir mati yang lebih besar. Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sejak tahun 2000-2003 asfiksia menempati urutan ke-6, yaitu sebanyak 8%, sebagai penyebab kematian anak diseluruh dunia setelah pneumonia, malaria, sepsis neonatorum dan kelahiran prematur. Diperkirakan 1 juta anak yang bertahan setelah mengalami asfiksia saat lahir kini hidup dengan morbiditas jangka panjang seperti cerebral palsy, retardasi mental dan gangguan belajar. Asupan kalori dan mikronutrien juga menyebabkan keluaran yang buruk. Telah diketahui bahwa hampir tiga per empat dari semua kematian neonatus dapat dicegah apabila wanita mendapatkan nutrisi yang cukup dan mendapatkan perawatan yang sesuai pada saat kehamilan, kelahiran dan periode pasca persalinan.Asfiksia neonatorum adalah kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa depresi pernapasan yang berlanjut sehingga menimbulkan berbagai komplikasi. Oleh sebab itu, asfiksia memerlukan intervensi dan resusitasi segera untuk meminimalkan mortalitas dan morbiditas. Survei atas 127 institusi pada 16 negara—baik negara maju ataupun berkembang—menunjukkan bahwa sarana resusitasi dasar seringkali tidak tersedia, dan tenaga kesehatan kurang terampil dalam resusitasi bayi.

1

Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran.Pembahasan Scenario 2 Seorang bayi dilahirkan dari ibu G1P0A0 36 minggu melalui emergency section cesaria kaarena mengalami abraptio plasenta/solution plasenta.Tali pusat pendek/lilitan atali pusat dengan aktifitas janin yang besar dapat menimbulkan hematoma retroplasenter sirkulasi . Apgar Score Skor Apgar atau nilai Apgar (Apgar score) adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr.Pengosongan uterus terlalu cepat (pecahnya ketuban pada hidramnion.Apgar yang berprofesi sebagai ahli anestesiologi mengembangkan metode skor ini untuk mengetahui dengan pasti bagaimana pengaruh anestesi obstetrik terhadap bayi. sehingga menimbulkan berbagai manifestasi klinik yang tergantung dari luas lepasnya plasenta dan besarnya hematom. bayi tidak ada respon.Idiopatik . bayi tidak menangis.Ibu hamil dengan kekurangan asam folat c) Akibat tindakan obstetric .Trauma langsung abdomen . Abraptio/solusio plasenta Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dengan implantasi normal sebelum waktunya. Manifestasi klinis dapat berupa perdarahanyang tampak di luar atau hanya retroplasenter sehingga menimbulkan ketegangan dan rasa sakit.Kesalahan dalam melakukan versi luar yang menyebabkan tali pusat tegang dan menimbulkan perdarahan retroplasenter.Terjadi setelah versi luar pada tali pusat yang kebetulan pendek/lilitan tali pusat . kaki dan tangan lemah tidak bergerak. denyut jantung 50 kali/menit. tampak pucat.Terjadi pada hipertensi maternal (hipertensi pada kehamilan.1 1. 2 . setelah persalinan anak pertama pada kehamilan ganda) . Saat dilakukan pembersihan jalan napas. pada superimposed hipertensi kehamilan) b) Sebab janin . Pada menit pertama. Sebab-sebab terjadinya solusio plasenta adalah: a) Sebab maternal .Pada paritas dan usia maternal yang makin tinggi .

Respiration (warna kulit. dan dua. untuk mempermudah menghafal. Kelima nilai kriteria tersebut kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan angka nol hingga 10. tonus otot/keaktifan. tidak ada sianosis Appearance tidak ada tidak ada respons terhadap stimulasi lemah/tidak ada <100 kali/menit >100 kali/menit Pulse Respons reflex meringis/menangis lemah ketika distimulasi meringis/bersin/batuk saat stimulasi saluran napas Grimace Tonus otot sedikit gerakan bergerak aktif menangis kuat.Skor Apgar dihitung dengan menilai kondisi bayi yang baru lahir menggunakan lima kriteria sederhana dengan skala nilai nol. respons refleks. dan kaki normal merah muda. Grimace. dan dapat diulangi jika skor masih rendah. Tabel1. Nilai 0 Nilai 1 warna kulit tubuh normal merah muda.1 Kriteria penilaian skor apgar. 3 . dan pernapasan). tangan. satu. pernapasan baik dan teratur Activity Pernapasan tidak ada lemah atau tidak teratur Respiration Interpretasi skor Tes ini umumnya dilakukan pada waktu satu dan lima menit setelah kelahiran. denyut jantung. tetapi tangan dan kaki kebiruan (akrosianosis) Nilai 2 Akronim Warna kulit Denyut jantung seluruhnya biru warna kulit tubuh. Activity. Pulse. Kata ―Apgar‖ belakangan dibuatkan jembatan keledai sebagai singkatan dari Appearance.

(bukan 1 menit seperti penilaian skor Apgar). Jika skor Apgar tetap dibawah 3 dalam tes berikutnya (10. Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5.2 4 . khususnya jika terdapat peningkatan skor pada tes menit kelima.Tabel1. maka ada risiko bahwa anak tersebut dapat mengalami kerusakan syaraf jangka panjang. dan tidak didisain untuk memberikan prediksi jangka panjang akan kesehatan bayi tersebut. bukan untuk memulai resusitasikarena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis.Nilai Apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis. atau 30 menit). tujuan tes Apgar adalah untuk menentukan dengan cepat apakah bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan penanganan medis segera. bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Namun demikian. atau pemberian oksigen untuk membantu bernapas. Memerlukan tindakan medis yang lebih intensif 0-3  Nilai 0-3 : Asfiksia berat  Nilai 4-6 : Asfiksia sedang  Nilai 7-10 : Normal Jumlah skor rendah pada tes menit pertama dapat menunjukkan bahwa bayi yang baru lahir ini membutuhkan perhatian medis lebih lanjut tetapi belum tentu mengindikasikan akan terjadi masalah jangka panjang. Juga ada risiko kecil tapi signifikan akan kerusakan otak.2 Interpretasi skor apgar Jumlah skor Interpretasi Bayi normal Catatan 7-10 4-6 Agak rendah Sangat rendah Memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan napas. 15.

4 Peralatan  Alat penghisap lendir DeLee atau bola karet  Peralatan balon dan sungkup  Peralatan intubasi   Laringoskop Selang endotrakeal (endotracheal tube) dan stilet (bila tersedia) yang cocok dengan pipa endotrakeal yang ada  Alat pemancar panas (radiant warmer) atau sumber panas lainnya Protocol resusitasi Protocol resusitasi neonates berikut ini direkomendasikan oleh American of Pediatrics and the American Heart Association (1994). Bila terdapat jawaban ‖tidak‖ dari salah satu pertanyaan di atas maka bayi memerlukan satu atau beberapa tindakan resusitasi berikut ini secara berurutan: 2. diletakkan di dada ibunya dan diselimuti dengan kain linen kering untuk menjaga suhu.2.3. Langkah Resusitasi Indikasi Secara garis besar pelaksanaan resusitasi mengikuti algoritma resusitasi neonatal. Pada pemeriksaan atau penilaian awal dilakukan dengan menjawab 4 pertanyaan yaitu:  apakah bayi cukup bulan?  apakah air ketuban jernih?  apakah bayi bernapas atau menangis?  apakah tonus otot bayi baik atau kuat? Bila semua jawaban ‗ya‘ maka bayi dapat langsung dimasukkan dalam prosedur perawatan rutin dan tidak dipisahkan dari ibunya. 5 . Bayi dikeringkan.

6 .

Penghisapan trakea meliputi langkah-langkah pemasangan laringoskop dan selang endotrakeal ke dalam trakea. 7 . atau dengan menggosok punggung. Bayi yang berada dalam apnu primer akan bereaksi pada hampir semua rangsangan. Bila terdapat mekoneum dalam cairan amnion namun bayi tampak bugar. sementara bayi yang berada dalam apnu sekunder. faring dan trakea sampai glotis. menghisap sekret dan mengeringkan akan memberi rangsang yang cukup pada bayi untuk memulai pernapasan. Karenanya cukup satu atau dua tepukan pada telapak kaki atau gosokan pada punggung. Cara yang tepat untuk membersihkan jalan napas adalah bergantung pada keaktifan bayi dan ada/tidaknya mekonium. merangsang pernapasan dan meletakkan pada posisi yang benar Meletakkan pada posisi yang benar. b) Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam posisi menghidu agar posisi farings.Langkah awal dalam stabilisas a) Memberikan kehangatan Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer) dalam keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan memudahkan eksplorasi seluruh tubuh.5 d) Mengeringkan bayi. Pernapasan yang megap-megap memerlukan intervensi lanjutan.3. Bila setelah dilakukan hal itu namun bayi belum bernapas adekuat. Bila terdapat mekoneum dalam cairan amnion dan bayi tidak bugar (bayi mengalami depresi pernapasan. kemudian dengan kateter penghisap dilakukan pembersihan daerah mulut. Tanda vital yang perlu dinilai adalah sebagai berikut: a) Pernapasan = gerakan dada. tonus otot kurang dan frekuensi jantung kurang dari 100x/menit) segera dilakukan penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan untuk mencegah sindrom aspirasi mekonium. maka dapat dilakukan perangsangan taktil dengan menepuk atau menyentil telapak kaki. Penilaian Penilaian dilakukan setelah 30 detik untuk menentukan perlu tidaknya resusitasi lanjutan. frekuensi dan dalamnya pernapasan bertambah setelah rangsang taktil. tubuh atau ekstremitas bayi. pembersihan sekret dari jalan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekoneum. rangsangan apapun tidak akan menimbulkan reaksi pernapasan. larings dan trakea dalam satu garis lurus yang akan mempermudah masuknya udara. c) Membersihkan jalan napas sesuai keperluan Aspirasi mekoneum saat proses persalinan dapat menyebabkan pneumonia aspirasi. Posisi ini adalah posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan sungkup dan/atau untuk pemasangan pipa endotrakeal.

Penghentian pemberian oksigen dilakukan secara bertahap bila tidak terdapat sianosis sentral lagi yaitu bayi tetap merah atau saturasi oksigen tetap baik walaupun konsentrasi oksigen sama dengan konsentrasi oksigen ruangan. Pada bayi cukup bulan dianjurkan untuk menggunakan oksigen 100%. Pada situasi ini intubasi trakea perlu dipertimbangkan. Ventilasi dan kompresi harus dilakukan secara bergantian. Jika frekuensi denyut jantung 60100 dan meningkat.b) Frekuensi jantung >100x/menit hitung permenit c) Warna kulit = tampak kemerahan pada bibir dan seluruh tubuh. Kontra indikasi penggunaan ventilasi tekanan positif adalah hernia diafragma.6 Prinsip dasar pada kompresi dada adalah: 1. Ventilasi Tekanan Positif Ventilasi tekanan positif (VTP) dilakukan sebagai langkah resusitasi lanjutan bila semua tindakan diatas tidak menyebabkan bayi bernapas atau frekuensi jantungnya tetap kurang dari 100x/menit. lanjutkan ventilasi. Kompresi:  Lokasi ibu jari atau dua jari: Pada bayi baru lahir tekanan diberikan pada 1/3 bawah tulang dada yang terletak antara processus xiphoideus dan garis khayal yang menghubungkan kedua puting susu. ventilasi dilanjutkan dengan kompresi dada dimulai. Posisi bayi: Topangan yang keras pada bagian belakang bayi dengan leher sedikit tengadah. yaitu menekan jantung ke arah tulang belakang. T-piece resuscitator dan selang/pipa oksigen. 8 .2 Kompresi dada Tindakan kompresi dada (cardiac massage) terdiri dari kompresi yang teratur pada tulang dada. Pada sianosis sentral yang memerlukan intervensi Pemberian oksigen Bila bayi masih terlihat sianosis sentral. dan memperbaiki sirkulasi darah ke seluruh organ vital tubuh. Warna kulit bayi yang berubah dari biru menjadi kemerahan adalah petanda yang paling cepat akan adanya pernapasan dan sirkulasi yang adekuat. sungkup dengan balon tidak mengembang sendiri. meningkatkan tekanan intratorakal. 2. evaluasi warna. maka diberikan tambahan oksigen. Jika frekuensi denyut jantung dibawah 60 dan tidak meningkat.9 Frekuensi denyut jantung dievaluasi setelah pemberian ventilasi tekanan positif 15-30detik. Jika frekuensi denyut jantung sekarang diatas 100. Pemberian oksigen aliran bebas dapat dilakukan dengan menggunakan sungkup oksigen.

nengbidan. Laringoskop dimasukkan kedalam sisi kanan mulut.html  Kedalaman : diberikan tekanan yang cukup untuk menekan tulang dada sedalam kurang lebih 1/3 diameter anteroposterior dada. ventilasi tekanan positif dapat dihentikan.  Penghentian kompresi: .6  Frekuensi : Satu siklus yang berlangsung selama 2 detik.Jika frekuensi jantung telah diatas 60 x/menit kompresi dada dihentikan. Sumber http://www. ketika kantung dan masker ventilasi tidak efektif. terdiri dari satu ventilasi dan tiga kompresi.Gambar 2.Jika frekuensi jantung lebih dari 100 x/menit dan bayi dapat bernapas spontan.Setelah 30 detik.1. Elevasi perlahan 9 . namun ventilasi diteruskan dengan kecepatan 40-60 x/menit. ketika dibutuhkan pengisapan trakea dan ketika dicurigai terjadi hernia diafragmatika. 6 Intubasi Endotrakeal Intubasi endotrakeal penting pada empat situasi. maka pemasangan kateter umbilikal untuk memasukkan obat dan pemberian epinefrin harus dilakukan. Penghitungan frekuensi jantung selama ventilasi dihentikan. untuk menilai kembali frekuensi jantung ventilasi dihentikan selama 6 detik. . Lokasi Kompresi. tetapi bayi masih mendapat oksigen alir bebas yang kemudian secara bertahap dihentikan. kemudian diarahkan ke posterior kearah orofaring kemudian laringoskop digerakkan secara perlahan kedalam ruang diantara dasar lidah dan epiglotis. ketika ventilasi tekanan positip memanjang dibutuhkan. Setelah observasi beberapa lama di kamar bersalin bayi dapat dipindahkan ke ruang perawatan. . Jika frekuensi jantung tetap kurang dari 60 x/menit. Teknik intubasi Kepala janin berada dalam posisi menghadap keatas.com/2012/04/keputusan-resusitasibayi-baru-lahir. kemudian tekanan dilepaskan untuk memberi kesempatan jantung terisi.

5 3. Tabel 2. Jika lambung mengembang. Identifikasi Resiko Neonatus Asfiksia Janin Asfiksia neonatorum dapat merupakan kelanjutan dari ketegangan janin (fetal distress) intrauterine yang disebabkan oleh banyak hal seperti yang terlihat pada penjabaran dalam tabel.5-4.7 ACOG dan AAP (American College of Obstetricians and Gynecologists ACOG dan American Academy of Pediatrics)3 Seorang neonatus disebut mengalami asfiksia bila memenuhi kondisi sebagai berikut: Nilai Apgar menit kelima 0-3 Adanya asidosis pada pemeriksaan darah tali pusat (pH<7.0 Berat (gram) <1000 1000-2000 2000-3000 >3000 Usia kehamilan (minggu) <28 28-34 34-38 >38 Langkah yang diambil untuk memastikan pipa berada dalam trakea dan bukan di esofagus adalah dengan mendengar bunyi napas atau suara gurgling jika udara dimasukkan kedalam lambung.2 3. Fetal distress adalah keadaan ketidakseimbangan kebutuhan O2 dan nutrisi janin sehingga menimbulkan perubahan metabolism janin menuju metabolism anaerob yang menyebabkan hasil akhir metabolismenya bukan lagi CO2. hipotonia atau koma) 10  .0) Gangguan neurologis (misalnya: kejang.ujung laringoskop akan mengangkat ujung epiglotis serta memajankan glotis dan pita suara. Beberapa sumber mendefinisikan asfiksia neonatorum sebagai :  WHO (World Health Organization) Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir.1 ukuran pipa endotrakeal Ukuran pipa (diameter) 2.0 3. Pipa endotrakeal dimasukkan melalui sisi kanan mulut dan dimasukkan melalui pita susara sampai pipa mencapai glotis.5 3. kemungkinan pipa masuk esofagus.

7 Faktor ibu Hipoksia Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih 35 tahun Gravida empat atau lebih Social ekonomi rendah Setiap penyakit pembuluh darah yang mengganggu pertukaran gas janin. Pengembangan paru-paru neonatus terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernapasan teratur. perdarahan Malformasi atau kelainan kongenital Prematur. pulmoner atau renal) Asfiksia merupakan penyebab utama kematian pada neonatus. gangguan kontraksi uterus) Malnutrisi Asidosis dan dehidrasi Anemia maternal Faktor plasenta Degenerasi vaskularnya Solution plasenta Perdarahan plasenta Plasenta kecil Plasenta tipis plasenta tidak menempel pada tempatnya Faktor neonatus Kompresi tali pusat. (kolesterol. asfiksia menyebabkan kematian neonatus sebanyak 8 -35%. simpul mati. hipertensi. persalinan atau segera setelah lahir. jantung. hematologi. Di negara maju. hipotensi. gemeli 11 . lilitan tali pusat Hilangnya Jelly Wharton Infeksi.- Adanya gangguan sistem multiorgan (misalnya: gangguan kardiovaskular. Towell (1996) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernapasan pada bayi terdiri dari: 6. anemia janin. Apabila terjadi gangguan pertukaran gas atau gangguan pengangkutan oksigen dari ibu ke janin maka akan terjadi asfiksia neonatorum . paru-paru/tbc. IUGR. gastrointestinal. ginjal. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan.

Janin akan mengadakan pernapasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian. Timbullah kini rangsangan dari N. denyut jantaung janin (DJJ) menjadi lebih cepat akhirnya irreguler dan menghilang.Faktor persalinan Partus lama Patus dengan tindakan Lain-lain Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah.simpatikus. halus dan irreguler.vagus tidak dapat dipengaruhi lagi.     Jika DJJ lebih cepat dari 160x/menit atau kurang dari 100 x/menit. serta adanya pengeluaran mekonium. Bila kekurangan O2 ini terus berlangsung. timbullah rangasangan terhadap N. sehingga mekonium keluar sebagai tanda janin dalam asfiksia. Kekurangan O2 juga merangsang usus. ultrasonografi Setelah bayi lahir Bayi tampak pucat dan kebiru-biruan Denyut lemah Pernapasan tidak ada atau megap-megap Kehilangan tonus otot Refleks hilang atau berakhir 12 . kardiotokografi. bila janin lahir alveoli tidak berkembang. halus dan irregular serta adanya pengeluaran meconium. Secara klinis tandatanda asfiksia adalah denyut jantung janin yang lebih cepat dari 160 kali per menit atau kurang dari 100 kali per menit. Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia Jika DJJ 160x/menit ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia Jika DJJ 100x/menit ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat Diagnosa asfiksia: In utero DJJ irregular dan frekuensinya lebih dari160 atau kurang dari 100 kali per menit Terdapat mekonium dalam air ketuban Amnioskopi. maka N.vagus sehingga bunyi jantung janin jadi lambat. terdapat banayk air ketuban dan mekonium dalam paru. Bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis.

SRT merupakan tindakan pemberian 13 . yaitu: a. tubuh janin akan memproduksi surfaktan untuk persiapan pernafasan spontan pada saat dilahirkan. Surfaktan paru ini mengandung 80% fosfolipin. dan mungkin juga perdarahan paru. janin laki-laki. Tekanan baji kapiler pulnomer (pulmonary capillary wedge pressure)<18 mmHg. serta membantu proses difusi antara udara pada alveolus. penumonia dan sepsis. Dasar definisi dipakai kosensus komite konferensi ARDS Amerika-Eropa tahun 1994. penggunaan kortikosteroid (saat ini mulai ditinggalkan). Secara umum. Risiko RDS meningkat seiring dengan penurunan usia kehamilan. ras kulit putih. Secara alamiah. dan 12% protein termasuk protein dari plasma dan jaringan paru. menjaga secara dinamis permukaan alveolus pada saat proses pernafasan (penarikan dan peregangan permukaan alveolus). riwayat RDS pada persalinan sebelumnya) Bayi kurang bulan (usia kehamilan 35 minggu) Ibu dengan gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan. Faktor-faktor risikonya adalah :       Asfiksia Persalinan seksio sesaria Ibu dengan diabetes. Asfiksia serta sepsis turut meningkatkan risiko RDS. tanpa tanda klinis adanya hiertensi arterial kiri. Surfaktan disintesis oleh sel-sel pneumosit tipe II. selanjutnya akan disekresikan dan membentuk surfaktan monolayer pada permukaan alveolus. Faktor genetik ( Ras kulit putih. gagal napas (respiratory failure) dengan onset akut b. larutan dan protein plasma. SRT (surfactant replacement therapy) merupakan terapi yang mempunyai bukti ilmiah kuat. Sedangkan faktor maternal meliputi: DM. Selain tindakan yang secara umum dilakukan untuk penanganan RDS seperti: oksigenasi dengan pemasangan ventilasi mekanik. Ro thorak: infiltrate alveolar bilateral yang sesuai dengan edema paru d. tetapi pada umumnya diduga karena pematangan paru yang belum sempurna.8 Penyebab pasti sindrom ini masih belum diketahui. Def siensi surfaktan sekunder ini juga dapat menyebabkan terjadinya gagal nafas pada neonatus matur dengan sindrom aspirasi mekonium. disertai kerusakan alveolar difus dan akumulasi cairan yang mengandung protein dalam parenkim paru. 8% lemak netral. perdarahan antepartum Gagal nafas (RDS – respiratory distress syndrome) pada kondisi defisiensi surfaktan sekunder merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian bayi preterm. akan terjadi RDS pada 60% neonates usia kehamilan < 29 minggu. Secara fi siologi surfaktan ini mempunyai fungsi antara lain: menurunkan tekanan permukaan alveolus. rasio tekanan oksigen pembuluh arteri berbanding fraksi oksigen yang diinspirasi (PaO2/FIO20 <200mmHg-hipoksemia berat c.Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS) ARDS merupakan sindrom yang ditandai oleh peningkatan permeabilitas membrane alveolarkapiler terhadap air.

dan pada resusitasi tidak memberikan respon yang adekuat. Lucinactant merupakan surfaktan sintetik yang mengandung fosfolipid dan peptid sinpultide. Ringer Laktat) atau tranfusi golongan darah O negatif jika diduga kehilangan darah banyak. Penatalaksanaan Obat-obatan jarang diberikan pada resusitasi bayi baru lahir. Dosis dapat diulang 3-5 menit secara intravena bila frekuensi jantung tidak meningkat. obat-obatan seperti epinefrin atau volume ekspander dapat diberikan.000 (setara dengan 0.surfaktan eksogen. Epinefrin tidak boleh diberikan sebelum melakukan ventilasi adekuat karena epinefrin akan meningkatkan beban dan konsumsi oksigen otot jantung. Klinis ditandai adanya pucat. Obat yang diberikan pada fase akut resusitasi adalah epinefrin.9%. perfusi buruk. hipovolemia kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok.03 mg/kgBB) intravena atau melalui selang endotrakeal. Lucinactant ini sebelumnya dikembangkan untuk mencegah dan mengobati RDS (respiratory distress syndrome) yang disebabkan oleh defi siensi surfaktan.2  Volume Ekspander Volume ekspander diberikan dengan indikasi sebagai berikut: bayi baru lahir yang dilakukan resusitasi mengalami hipovolemia dan tidak ada respon dengan resusitasi.  Bikarbonat Indikasi penggunaan bikarbonat adalah asidosis metabolik pada bayi baru lahir yang mendapatkan resusitasi. Obat-obat lain digunakan pada pasca resusitasi atau pada keadaan khusus lainnya. dan b) surfaktan sintentik dan rekombinan yang salah satunya adalah Lucinactant. dimana kedua hal tersebut harus dikoreksi dengan pemberian ventilasi yang adekuat. Dosis awal 10 ml/kg BB IV pelan selama 5-10 menit. Jenis cairan yang diberikan dapat berupa larutan kristaloid isotonis (NaCl 0. Dosis yang diberikan 0. nadi kecil atau lemah.010. 6  Epinefrin Indikasi pemakaian epinefrin adalah frekuensi jantung kurang dari 60x/menit setelah dilakukan VTP dan kompresi dada secara terkoordinasi selama 30 detik. saat ini dikenal dua jenis surfaktan utama: a) surfaktan natural merupakan derivat paru-paru hewan yang diperoleh dengan teknik ekstraksi. Bradikardi pada bayi baru lahir biasanya disebabkan oleh ketidaksempurnaan pengembangan dada atau hipoksemia. Dosis yang digunakan adalah 2 mEq/kg BB atau 4 ml/kg BB BicNat yang 14 . Dosis maksimal diberikan jika pemberian dilakukan melalui selang endotrakeal.3 ml/kgBB larutan1:10. Dapat diulang sampai menunjukkan respon klinis. Diberikan bila ventilasi dan sirkulasi sudah baik. Penggunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolik dan hiperkalemia harus disertai dengan pemeriksaan analisa gas darah dan kimiawi. 4. yang didisain mempunyai fungsi mirip dengan protein surfaktan B. Namun bila bradikardi tetap terjadi setelah VTP dan kompresi dada yang adekuat.

Kekuatan yang diberikan berlebihan .2 15 .1 mg/kg BB.Penempatan pipa trakea kedalam esophagus . Kesalahan umum ini meliputi hal-hal berikut: a. perlu diperhatikan bahwa obat ini tersedia dalam 2 konsentrasi yaitu 0.Kantung resusitasi rusak . Cara pemberian intravena atau melalui selang endotrakeal. Ventilasi tidak adekuat .Hiperekstansi leher .Pemasangan masker tidak tepat . Komplikasi Kalau upaya resusitasi tidak segera berhasil.Penggunaan ukuran pipa endotrakeal yang tidak sesuai d.Posisi kepala tidak tepat . Intubasi tidak berhasil . Pemberian secara intra vena dengan kecepatan tidak melebihi dari 1 mEq/kgBB/menit. kegagalan mungkin disebabakan oleh kesalahan teknik yang mudah diperbaiki. sebab akan menyebabkan gejala putus obat pada sebagian bayi. Tidak memeriksa perlengkapan resusitasi lebih dahulu . Bila hanya terdapat BicNat dengan konsetrasi 7.  Nalokson Nalokson hidroklorida adalah antagonis narkotik diberikan dengan indikasi depresi pernafasan pada bayi baru lahir yang ibunya menggunakan narkotik dalam waktu 4 jam sebelum melahirkan. Kegagalan melakukan masase jantung. Kegagalan mendeteksi dan menentukan penyebab buruknya gerakan dada dan bradikardi persisten f.Kegagalan fiksasi pipa trakea e. Kegagagaln mendeteksi dan mengatasi hipovolemi g. Sebelum diberikan nalokson ventilasi harus adekuat dan stabil.Laringoskop dengan cahaya yang redup atau berkedip b.konsentrasinya 4. 5.Penyedotan tidak adekuat . Dosis yang diberikan 0. Bila perfusi baik dapat diberikan melalui intramuskuler atau subkutan.4 % maka diencerkan dengan aquabides atau dekstrosa 5% sama banyak. Penggunaan meja resusitasi yang dingin c. Jangan diberikan pada bayi baru lahir yang ibunya dicurigai sebagai pecandu obat narkotika.4 mg/ml dan 1 mg/ml.2 %.

Ileus .Pemantauan produksi urin .Batasi masukan cairan bila ada oliguria dan volume vaskuler adekuat .Pemberian oksigen alir bebas .Pertimbangkan antibiotika . Komplikasi yang mungkin terjadi dan perawatan pasca resusitasi yang dilakukan Sistem organ Otak Komplikasi yang mungkin .Kejang - Tindakan pasca resusitasi Pemantauan apnu Bantuan ventilasi kalau perlu Pantau gula darah.Pertimbangkan pemberian surfaktan .Tunda minum bila sesak .Pertimbangkan inotropik (misal dopamin) dan/atau cairan penambah volume darah .Pertimbangkn nutrisi parenteral Pemantauan gula darah Pemantauan elektrolit Pemantauan hematokrit Pemantauan trombosit Kardiovaskular .Berikan cairan intravena .Pemantauan kadar elektrolit .enterokolitis .Foto toraks bila sesak napas .Pemantauan tekanan darah dan frekuensi jantung .Tabel 3.nekrotikans Hipoglikemia hipokalsemia hiponatremia anemia trombositopenia Metabolik/ Hematologic 16 .Tunda pemberian minum .nekrosis tubuler akut Gastrointestinal .Pertahankan ventilasi dan oksigenasi .Apnu .Hipotensi Ginjal . elektrolit Pencegahan hipotermia Pertimbang terapi anti kejang Paru-paru - hipertensi pulmoner pneumonia pneumotoraks takipnu transien sindrom aspirasi mekonium defisiensi surfaktan .

Pediatrics 2008.I.I.2007-1966) 5. Diunduh dari: www. 7. American Academy of Pediatrics and American College of Obstetricians and Gynaecologists. 2002: 196-7. Oh W. Basic Newborn Resuscitation: A Practical Guide-Revision.492-6. 10 November 2012. Risk Factors for Neonatal Mortality Due to Birth Asphyxia in Southern Nepal: A Prospective. Jakarta: Perinasia.2007. Vol 1. Perinatal asphyxia. Cunningham Gary.A. Manuaba. Manuaba Fajar .F. editors. American Academy of Pediatrics dan American Heart Association. Guidelines for perinatal care. Edisi ke-5. Setiyohadi Bambang. McGuire W.2006.1542/peds. 17 . Clin Evid 2006. 4. 2. Care of the neonate. et.h.html. Buku panduan resusitasi neonatus.Jakarta: Interna Publish.K. Pengantar kuliah obstetri. Sudoyo.W. Gilstrap LC. 6. Jakarta: EGC. Geneva: World Health Organization. Manuaba Chandranita.A.int/reproductivehealth/publications/newborn_resus_citation/index.B. 8. World Health Organization.423-34. 1999. Jakarta:EGC. 2006. Edisi ke 21.Marcellus. Lee. Buku ilmu penyakit dalam.2009.234-41.h. Obstetri william.15:1–2. Elk Grove Village (IL): American Academy of Pediatrics. Community-Based Cohort Study.h.G.I. Setiati Siti. Alwi Idrus. Simadibrata.who. 121:e1381-e1390 (doi:10.G. Edisi ke-4.al.DAFTAR PUSTAKA 1. 3.B.