Anda di halaman 1dari 12

Pengukuran pengaruh kebisingan dan pencahayaan terhadap hasil kerja operator mesin bubut.

Rudini Mulya Daulay Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana email: rudinimenteri@gmail.com 2013

Abstrak
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang ENASE (efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien). Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life) sehingga ada ungkapan without ergonomics, safety management is not enough.Keselamatan dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi naluri dari setiap makhluk hidup. Sejak manusia bermukim di muka bumi ini, secara tidak sadar mereka berusaha melindungi diri dari segala bahaya yang ada di sekitar hidupnya. Manusia mempertahankan kehidupan dengan berbagai macam cara. Zaman dahulu, manusia tinggal di pohon tinggi untuk melindungi diri dari serangan binatang buas. Seiring berjalannya waktu, tantangan dan potensi bahaya semakin banyak dan beranekaragam, bahkan bahaya itu muncul akibat ulah manusia itu sendiri (man made hazards). Kata kunci : Ergonomi, Kebisingan dan Faktor Pencahayaan

1. Pendahuluan
Berbagai macam potensi bahaya tersebut bisa juga dijumpai dalam lingkungan tempat kerja. Penggunaan mesin, alat kerja, material kerja dan kegiatan produksi berpotensi mengancam keselamatan para pekerja. Di zaman modern seperti sekarang ini, keselamatan menjadi tuntutan dan kebutuhan umum (Soehatman, 2010). Kenyataannya, kecelakaan kerja masih terjadi di berbagai perusahaan yang secara administratif telah lulus (comply) audit sistem manajemen K3.

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

1.1 Perumusan Masalah Dalam proses produksi kondisi lingkungan kerja yang baik sangat diperlukan karena hasil kerja seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu diantaranya kebisingan suara mesin dan pencahayaan yang ada dalam lingkungan tersebut. Yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisis Apakah terdapat pengaruh faktor lingkungan pada proses pembuatan anak timbangan ( bandul ) di PT. X terhadap hasil kerja operator mesin bubut 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Mengetahui apakah terdapat pengaruh kebisingan dan pencahayaan terhadap hasil kerja operator mesin bubut. 1.3 Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut ini : Untuk bahan pertimbangan bagi pimpinan perusahaan dalam rangka menentukan lingkungan kerja yang kondusif sehingga meningkatkan hasil kerja. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini terbagi atas batasan dan asumsi. Penentuan asumsi digunakan untuk menyederhanakan dari kondisi nyata yang akan dijadikan dasar dalam penelitian. Sedangkan batasan diberikan untuk membatasi ruang lingkup penelitian. Batasan dan asumsi adalah sebagai berikut :

1.5 Batasan. Batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini: Untuk menentukan faktor yang berpengaruh terhadap kebisingan dalam kerja dan kecelakaan kerja, penelitian hanya melibatkan faktor manusia, lingkungan, mesin dan alat kerja.

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

1.6 Asumsi Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini: Posisi kerja operator (khususnya operator mesin bubut) dianggap sama pada saat melakukan pengamatan Selama penelitian, mesin yang digunakan dalam kondisi baik

1.7 Sistematika Penulisan BAB 1 PENDAHULUAN Bagian ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan permasalahan, tujuan penelitian serta manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian secara keseluruhan. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bab ini menguraikan tentang teori, pendapat pakar, tulisan ilmiah, dan sejenisnya yang dibutuhkan untuk mendukung dan memberikan landasan atau kerangka konsep berpikir yang kuat dan relevan . BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini dijelaskan mengenai langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan penelitian. Metodologi penelitian ini berguna sebagai acuan dalam melakukan penelitian sehingga penelitian dapat berjalan secara sistematis, tujuan tercapai dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya. BAB 4 PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA Pada bab ini menguraikan tentang pelaksanaan penelitian telah dilakukan berupa pengumpulan dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengukuran langsung, dan pengumpulan data historis mengenai biaya-biaya dan aktivitas yang akan dianggarkan. Selanjutnya, dilakukan pengolahan data yang sesuai dengan metodologi penelitian yang dimulai dari pengumpulan data primer melalui wawancara kepada pihak manajemen pengenai perencanaan

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

aktivitas yang akan dianggarkan, sumber daya yang tersedia, kemudian melakukan penganggaran. BAB 5 ANALISA DAN INTERPRETASI HASIL PENGOLAHAN DATA Bab ini akan menganalisa dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Analisa ini akan menguraikan dan menjelaskan arti dari hasil pengolahan yang telah dilakukan. Bab ini akan menilai dampak penelitian terhadap obyek penelitian. BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini menguraikan tentang kesimpulan yang dapat diambil melalui penelitian yang telah dilakukan. Penarikan kesimpulan ini merupakan jawaban dari tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Selanjutnya diberikan saran-saran yang diperlukan untuk penelitian selanjutnya.

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

2. Permasalahan Ergonomi Penyelesaian masalah yang diteliti dalam penelitian ini memerlukan teori-teori atau tinjauan pustaka yang dapat mendukung pengolahan data. Beberapa teori tersebut digunakan sebagai dasar dan penunjang pemecahan masalah. Kebisingan
adalah bunyi yang tidak di inginkan karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia. Bunyi yang menimbulkan kebisingan disebabkan oleh sumber suara yang bergetar. Getaran sumber suara ini mengganggu keseimbangan molekul-molekul udara di sekitarnya sehingga molekul-molekul udara ikut bergetar. Getaran sumber ini menyebabkan terjadinya gelombang rambat energi mekanis dalam medium udara menurut pola rambat longitudinal. Rambatan gelombang di udara ini dikenal sebagai suara atau bunyi. Laju rambat gelombang suara di udara sangat bergantung terhadap suhu sekitarnya. Pada suhu 20C laju rambat suara sekitar 344 m/dt. Setiap kenaikan 10C maka laju rambat suara di udara bertambah sekitar 0,61 m/dt. Dalam pengendalian kebisingan diasumsikan bahwa laju rambat suara di udara tidak bergantung pada frekuensi dan kelembaban udara. Suara yang merambat melalui medium udara berlangsung melalui pola mampatan-regangan molekul udara yang dilalui. Banyaknya mampatan renggangan yang terjadi dalam suatu interval watku tertentu disebut frekuensi suara. Satuannya dinyatakan dalam hertz (Hz) jika interval waktu kejadian dinyatakan dalam detik . Pada umumnya dalam dunia industri, sumber bunyi merupakan gabungan dari beberapa komponen sumber suara, yaitu antara lain: a) Fluid turbulence, bising yang terbentuk oleh getaran yang diakibatkan benturan antar partikel dalam fluida, misalnya terjadi pada pipa, valve, gas exhaust.

b) Moving and vibration part, bising terjadi oleh getaran yang disebabkan oleh gesekan, benturan atau ketidakseimbangan gerakan bagian. mesin / peralatan seperti bearing pada kompresor, turbin, pompa, blower .

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

c) Temperature Difference, bising yang terbentuk oleh pemuaian dan penyusutan fluida, misalnya terjadi pada mesin jet pesawat. d) Eletrical equipment, bising yang disebabkan efek perubahan fluks

elektromagnetik pada bagian inti yang terbuat dari logam, misalnya generator, motor listrik, transformator Kebisingan merupakan suara yang tidak diinginkan yang bersumber dari alat produksi dan atau alat yang pada tingkat tertentu akan menimbulkan gangguan pendengaran. Kebisingan (Noise) dapat juga diartikan sebagai sebuah bentuk getaran yang dapat berpindah melalui medium padat, cair dan gas. Kebisingan adalah produk samping yang tidak diinginkan dari sebuah lingkungan perindustrian yang tidak hanya mempengaruhi operator mesin dan kendaraan, tetapi juga penghuni lain tempat dalam gedung tempat mesin tersebut beroperasi, para penumpang dalam kendaraan dan terutama komunitas tempat mesin, pabrik, dan kendaraaan tersebut dioperasikan. Peningkatan tingkat kebisingan yang terus-menerus dari berbagai aktivitas manusia pada lingkungan industri dapat berujung kepada gangguan kebisingan. Efek yang ditimbulkan kebisingan adalah (Sasongko dkk., 2000) : I. II. III. Efek psikologis pada manusia (kebisingan dapat membuat kaget,

mengganggu, mengacaukan konsentrasi); Menginterferensi komunikasi dalam percakapan dan lebih jauh lagi akan menginterferensi hasil pekerjaan dan keselamatan bekerja. Efek fisis (kebisingan dapat mengakibatkan penurunan kemampuan pendengaran dan rasa sakit pada tingkat yang sangat tinggi).

Kebisingan di lingkungan kerja PT. X disebabkan oleh mesin bubut dan peralatan peralatan pabrik lainnya yang hampir seluruhnya merupakan kebisingan kontinyu dengan intensitas yang berbeda. Intensitas bising tersebut dibagi menjadi 3 kelas yaitu:
13 6 ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

Bising < 85 dBA Bising 85-95 dBA Bising > 95 dBA

Gambar 1. Tingkat kebisingan yang menyebabkan gangguan percakapan di luar Ruangan Ulasan gambar : Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa : I. Batas daerah dimana percakapan normal dilakukan. II. Batas komunikasi masih memungkinkan. III. Batas komunikasi sulit untuk dilakukan. IV. Batas tidak memungkinkan untuk melakukan komunikasi. 1.2 Tekanan dan Daya Suara Respon suara di udara akan menimbulkan gangguan terhadap kondisi keseimbangan tekanan udara (tekanan atmosfer). Besarnya gangguan ini dinyatakan dalam besaran fisis tekanan suara (sound pressure).

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

Respons telinga manusia terhadap tekanan suara memiliki jangkauan yang sangat lebar, yaitu antara 2105 Pa sampai 200 Pa. Pada frekuensi 1.000 Hz, tekanan suara terkecil yang masih dapat didengar oleh telinga manusia adalah sekitar 2105 Pa (kondisi tekanan suara ini disebut ambang pendengaran) dan tekanan suara terbesar yang masih dapat didengar telinga manusia tanpa menimbulkan rasa sakit adalah sekitar 200 Pa (kondisi tekanan suara ini disebut ambang rasa sakit). Selain itu, kondisi lingkungan kerja yang bising juga berpengaruh terhadap denyut jantung operator, dengan kondisi lingkungan yang panas dan bising menyebabkan meningkatnya denyut jantung operator. dapat

Analisa Subyektivitas Operator Untuk tingkat kenyamanan dalam bekerja ternyata diketahui bahwa dari

10 orang terdapat 80% yang tidak nyaman dalam bekerja yaitu sebanyak 8 orang. Dari Nordic Diagram Map diketahui bahwa sakit yang paling banyak diderita oleh operator mesin bubut adalah punggung dengan skala 2,30. Hal ini dapat terjadi karena posisi pada saat melakukan pekerjaan tidak ergonomis, atau disain yang dirancang tidak sesuai dengan postur tubuh operator mesin bubut. Hasil dari Nordic Diagram kusioner ini sesuai dengan yang keluhan operator saat wawancara secara langsung. Analisa Pencahayaan Pada Departemen Mesin Bubut Menurut standar OHSAS, penerangan yang baik untuk pekerjaan menengah di dalam gedung yaitu dengan kekuatan pencahayaan sebesar 200-500 luks. Sedangkan penerangan sebelumnya yang berada di departemen mesin bubut dengan menggunakan 3 buah lampu neon 40 Watt sebesar 54-115 luks. Dengan ditempatkannya lampu-lampu di titik-titik area seperti pada gambar 5.1, maka tiap titik area yang diterangi dengan lampu 40 watt sebanyak 8 buah lampu sudah memenuhi standar penerangan yang dikeluarkan oleh OHSAS sebesar 200-500 luks.

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

Gambar Layout lampu pada departemen mesin bubut

Analisa Kebisingan Pada Departemen Mesin Bubut Setelah diukur dengan sound level meter, diketahui bahwa tingkat kebisingan

yang terjadi pada departemen Mesin Bubut adalah 112.18 dB. Hal ini dapat terjadi karena banyaknya mesin yang beroperasi secara bersamaan dan ruangan yang tidak begitu luas menyebabkan terjadinya pantulan suara. Jenis pengendalian ini dapat dilakukan dengan pemakaian alat pelindung telinga (tutup atau sumbat telinga). Menurut Pulat (1992) pemakaian sumbat telinga dapat mengurangi kebisingan sebesar 30 dB. Sedangkan tutup telinga dapat mengurangi kebisingan sedikit lebih besar yaitu antara 40-50 dB. Akan tetapi dalam menggunakan penutup telinga diperlukan tingkat kedisplinan pekerja dan alat ini mempunyai kelebihan yaitu meningkatkan konsentrasi pekerja dan menurunkan denyut jantung serta tekanan pada lingkungan sekitar, akan tetapi juga mempunyai kekurangan yaitu mengurangi kenyamanan kerja, dan mengganggu pembicaraan.

13

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

3. Gambar diagram alir dari metodologi penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1. Identifikasi masalah dan tujuan penelitian Studi pustaka Survey lapangan

Identifikasi metode analisis Penentuan variabel penelitian

1.konsumsi energi 2.jumlah kecelakaan kerja Pengumpulan data sekunder 1.mesin bubut 2.layout pabrik 3.kecelakaan kerja Pengumpulan data primer 1.check list 2.proses produksi 3.metode kerja

Analisa metode kerja Prosedur analisa: - Initial phase - Task being reviewed

Analisa lingkungan kerja Preminary hazard analisys Penanggulangan hazard

Analisa alat kerja

-analisa denyut jantung -analisa biomekanika -peritungan anthopometri

Perancangan staasiun kerja yang diperbaharui Analisa dan integrasi data Kesimpulan dan saran
13 10 ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

3.1 Pengumpulan dan Pengolahan Data Pada bab ini, akan diuraikan mengenai tahap identifikasi dan pengumpulan data yang diperlukan untuk melaksanakan proses penelitian selanjutnya, meliputi profil perusahaan, struktur organisasi, dan pengolahan data-data yang meliputi lingkungan tempat penelitian, biomekanika, job discomfort survey, anthropometri, serta keselamatan dan kesehatan kerja. 3.2 Metode Kerja Mesin Bubut Berikut ini adalah metode kerja mesin bubut yaitu sebagai berikut : o Material berupa besi as dimasukkan kedalam spindle pada saat mesin dalam keadaan mati. o Untuk mengontrol jalannya mesin, digunakan dua buah tuas pengontrol 3.3 Data Kondisi Lingkungan Kerja Data ini diperlukan untuk mengetahui kondisi dari lingkungan kerja pada area kerja mesin bubut. Adapun faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan pada departemen mesin bubut dibagi menjadi 3, yaitu : Faktor Fisik Temperatur

Untuk suhu pada area kerja mesin bubut cukup tinggi, sehingga keadaan ruang pengap serta udara terasa gerah, dan suhu akan tergantung dengan kondisi cuaca terutama menjelang siang hari suhu akan semakin meningkat. b) Pencahayaan Pencahayaan yang terdapat pada ruangan ini cukup memadai dengan didukung lampu neon di seluruh area kerja, akan tetapi bila lampu ini dinyalakan seluruhnya, dapat menyebabkan bertambahnya suhu ruangan tersebut. Hal ini akan menganggu kerja operator mesin bubut.

13

11

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com

c)

Kebisingan Prinsip kerja mesin bubut adalah membubut, dengan material yang berupa

besi as dan jumlah mesin yang banyak, maka proses pembubutan akan menimbulkan suara yang membisingkan. d) Siklus Udara Untuk siklus udara yang masuk diarea kerja ini sudah cukup, hal ini karena adanya ventilasi yang besar dan memanjang pada dinding atas, tetapi aliran udara yang masuk tidak berjalan dengan baik sehingga ruangan masih terasa pengap.

2. Faktor tata cara kerja a) Konstruksi mesin atau peralatan yang tidak sesuai mekanisme tubuh Untuk peralatan yang terdapat pada departemen mesin bubut dapat dilihat bahwa peralatan yang ada didesain seadanya. Hal ini dapat dilihat dari ukuran kursi kerja yang tidak ergonomis dan material yang diletakkan sulit dijangkau oleh operator. b) Sikap kerja yang menyebabkan kelainan fisik atau keletihan. Dari hasil pengamatan saat bekerja pada operator, dapat dilihat bahwa cara pengambilan dan pengangkatan material tidak benar, hal ini dapat menyebabkan cedera punggung. Sedangkan untuk posisi duduk dianggap tidak ergonomis karena operatordalam posisi membungkuk, hal ini dapat menyebabkan mudah lelah dan cedera pada bagian punggung. 3. Faktor Psikologis Suasana kerja kurang aman Suasana kerja cukup memadai, tetapi pada bagian atap banyak sekali kabel-kabel listrik yang tidak beraturan letaknya dan tidak dilindungi, plafon kayu banyak yang sudah lapuk dan patah. Apabila suatu saat terdapat kabel yang putus dan plafon yang jatuh ke bawah, hal ini dapat membahayakan operator mesin bubut.

13

12

ERGONOMI LINGKUNGAN KERJA Rudini Mulya Daulay

Pengaruh Kebisingan dan Pencahayaan Dilingkungan Kerja Email: rudinimenteri@gmail.com