Anda di halaman 1dari 5

ABSES BARTOLINI Nur Adilah binti Shaharuddin, Fitria Amalia I.

DEFINISI Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartolin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini biasanya tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista.2 Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.1,2 II. ETIOPATOGENESIS Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore (Neisseria Gonorrhea) serta bakteri yang biasanya ditemukan disaluran pencernaan, seperti Escherichia coli. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. 2-5 Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut. Infeksi pada kelenjar ini disebabkan oleh kuman gram negatif ,yaitu golongan staphylococcus dan golongan gonococcus.2 Karena kelenjar terus menerus menghasilkan cairan, maka lama kelamaan sejalan dengan membesarnya kista, tekanan di dalam kista semakin besar. Dinding kelenjar/kista mengalami peregangan dan meradang.3 Demikian juga akibat peregangan pada dinding kista, pembuluh darah pada dinding kista terjepit mengakibatkan bagian yang lebih dalam tidak mendapatkan pasokan darah sehingga jaringan menjadi mati (nekrotik). Dibumbui dengan kuman, maka terjadilah proses pembusukan, bernanah dan menimbulkan rasa sakit. Karena letaknya di vagina bagian luar, kista akan terjepit terutama saat duduk dan berdiri menimbulkan rasa nyeri yang terkadang disertai dengan demam.1 Pasien berjalan mengegang ibarat menjepit bisul diselangkangan.3 III. MANIFESTASI KLINIS Jika kista duktus Bartholini masih kecil dan belum terjadi inflamasi, penyakit ini bisa menjadi asimptomatik.2 Kista biasanya nampak sebagai massa yang menonjol secara medial dalam introitus posterior pada regio yang duktusnya berakhir di dalam vestibula. Jika kista

menjadi terinfeksi maka bisa terjadi abses pada kelenjar. Indurasi biasa terjadi pada sekitar kelenjar, dan aktivitas seperti berjalan, duduk atau melakukan hubungan seksual bisa menyebabkan rasa nyeri pada vulva.2 Kista duktus Bartholini dan abses glandular harus dibedakan dari massa vulva lainnya. Karena kelenjar Bartholini biasanya mengecil saat menopause, pertumbuhan vulva pada wanita postmenopause harus dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya keganasan, khususnya jika massa irregular, nodular dan indurasi persisten.5 Gejala Klinik Kista Bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang dirasakan sebagai benda padat dan menimbulkan kesulitan pada waktu koitus. Jika kista bartholini masih kecil dan tidak terinfeksi, umumnya asimtomatik. Tetapi bila berukuran besar dapat menyebabkan rasa kurang nyaman saat berjalan atau duduk. Tanda kista Bartholini yang tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva. Keluhan pasien pada umumnya adalah benjolan, nyeri, dan dispareunia. Penyakit ini cukup sering rekurens. Bartholinitis sering kali timbul pada gonorrea, akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain, misalnya streptokokus. Pada Bartholinitis akuta kelenjar membesar, merah, nyeri,dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar melalui duktusnya, atau jika duktusnya tersumbat, mengumpul di dalamnya dan menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika belum menjadi abses, keadaan bisa diatasi dengan antibiotika, jika sudah bernanah harus dikeluarkan dengan sayatan. Adapun jika kista terinfeksi maka dapat berkembang menjadi abses Bartholini dengan gejala klinik berupa1,5 : Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik, atau berhubungan seksual. Umumnya tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi dengan mikroorganisme yang ditularkan melalui hubungan seksual atau ditandai dengan adanya perabaan kelenjar limfe pada inguinal. Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari. Biasanya ada sekret di vagina, kira-kira 4 sampai 5 hari pasca pembengkakan, terutama jika infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui hubungan seksual. Dapat terjadi ruptur spontan. Teraba massa unilateral pada labia mayor sebesar telur ayam, lembut, dan berfluktuasi, atau terkadang tegang dan keras. Radang pada glandula Bartolini dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapatmenjadi menahun dalam bentuk kista Bartholini. Kista tidak selalu menyebabkan keluhan, tapi dapat terasa berat dan mengganggu koitus. Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa; dalam hal lain perlu dilakukan pembedahan.2,3

Dikutip dari kepustakaan 2

Dikutip dari kepustakaan 1

IV. DIAGNOSIS Anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik sangat mendukung suatu diagnosis. Pada anamnesis ditanyakan tentang gejala seperti panas, gatal, sudah berapa lama gejala berlangsung, kapan mulai muncul, faktor yang memperberat gejala, apakah pernah berganti pasangan seks, keluhan saat berhubungan, riwayat penyakit menular seks sebelumnya, riwayat penyakit kulit dalam keluarga, riwayat keluarga mengidap penyakit kanker kelamin, dan riwayat penyakit yang lainnya misalnya diabetes dan hipertensi.2 Riwayat pengobatan sebelumnya Kista atau abses Bartholini didiagnosis melalui pemeriksaan fisik, khususnya dengan pemeriksaan ginekologis pelvis. Pada pemeriksaan fisis dengan posisi litotomi, kista terdapat di bagian unilateral, nyeri, fluktuasi dan terjadi pembengkakan yang eritem pada posisi jam 4 atau 8 pada labium minus posterior. Jika kista terinfeksi, pemeriksaan kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidentifikasikan jenis bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi akibat penyakit menular seksual seperti Gonorrhea dan Chlamydia. Untuk kultur diambil swab dari abses atau dari daerah lain seperti serviks. Hasil tes ini baru dilihat setelah 48 jam kemudian, tetapi hal ini tidak dapat menunda pengobatan. Dari hasil ini dapat diketahui antibiotik yang tepat yang perlu diberikan. Biopsi dapat dilakukan pada kasus yang dicurigai keganasan. V. PENATALAKSANAAN Tujuan penanganan kista bartholini adalah memelihara dan mengembalikan fungsi dari kelenjar bartholini. Metode penanganan kista bartholini yaitu insersi word catheter untuk kista dan abses kelenjar bartholini dan marsupialization untuk kista kelenjar bartholini.1-4 a) Insisi dan drainage abses : Tindakan ini dilakukan bila terjadi simptomatik Bartholin's gland abscesses dan jika sering terjadi rekurensi4 b) Definitf drainase menggunakan word kateter: Word catheter biasanya digunakan ada penyembuhan kista duktus bartholin dan abses bartholin.4 c) Marsupialisasi: Digunakan juga untuk abses kelenjar bartholin karena memberi hasil yang sama efektifnya. Marsupialisasi adalah suatu tehnik membuat muara saluran kelenjar bartholin yang baru sebagai alternatif lain dari pemasangan word kateter. Komplikasi berupa dispareuni, hematoma, infeksi.3,4

Proses epithelisasi pada tindakan bedah terjadi setelah 4-6 minggu, wordcatheter akan dilepas setelah 4-6 minggu, meskipun epithelisasi biasa terbentuk pada 3-4 minggu. Bedrest selama 2-3 hari mempercepat penyembuhan. Meskipun dapat menimbulkan terjadinya selulitis, antibiotik tidak diperlukan. Antibiotik diberikan bila terjadi selulitis (jarang). Terapi antibiotik spektrum luas diberikan apabila kista atau abses kelenjar bartholini disertai dengan adanya selulitis.1,4 Biopsi eksisional dilakukan untuk pengangkatan adenokarsinoma pada wanita menopause atau perimenopause yang irregular dan massa kelenjar Bartholini yang nodular. Penatalaksanaan dari kista duktus bartholin tergantung dari gejala pada pasien. Kista yang asimptomatik mungkin tidak memerlukan pengobatan, tetapi simptomatik kista duktus bartholin dan abses bartholin memerlukan drainage. Kecuali kalau terjadi rupture spontan, abses jarang sembuh dengan sendirinya. 3 Penggunaan antibiotic 3,4: Antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab yang diketahui secara pasti dari hasil pengecatan gram maupun kultur pus dari abses kelenjar bartholin Infeksi Neisseria gonorrhoe: Ciprofloxacin 500 mg dosis tunggal atau Ofloxacin 400 mg dosis tunggal atau Cefixime 400 mg oral ( aman untuk anak dan bumil) atau Cefritriaxon 200 mg i.m ( aman untuk anak dan bumil) Infeksi Chlamidia trachomatis: Tetrasiklin 4 X500 mg/ hari selama 7 hari, po atau Doxycyclin 2 X100 mg/ hari selama 7 hari, po Infeksi Escherichia coli: Ciprofoxacin 500 mg oral dosis tunggal, atau Ofloxacin 400 mg oral dosis tunggal atau Cefixime 400 mg dosis tunggal. Infeksi Staphylococcus dan Streptococcus : Penisilin G Prokain injeksi 1,6-1,2 juta IU im, 1-2 x hari, Ampisilin 250-500 mg/ dosis 4x/hari, atau Amoksisillin 250-500 mg/dosis 3x/hari po

DAFTAR PUSTAKA: 1. Vorvick LJ, Storck S, Zieve D : Bartholins abscess, Medline plus: [Online]. 2010 [cited 6 May 2010]. Available from: URL:www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001489.htm 2. Schorge JO, Schaffer JI, Malvorson LM, et al: Cystic Vulvar Tumors. Williams Gynecology. 2008. p. 1723-1727. 3. Patil S, Sultah AH, Thakar R, et al: Bartholins Cyst and Abscess, Patient.co.uk: [Online]. 2010 [cited 18 January 2010]. Available from: URL:http://www.patient.co.uk/health/Bartholin%27s-Cyst-and-Abscess.htm 4. Farage MA, Maibach HI:, benign Vulvar Nodules and Tumors, The Vulva. 2006. P. 123-125. 5. Burns T, Breathnach S, Cox N, et al: The Genital, Perianal, and Umbilical Regions, Rooks Textbook of Dermatology. 8th ed. Vol 1. 2010. P.71.68