Anda di halaman 1dari 5

REVIEW JURNAL PHYSICIAN-ASSISTED DEATHS UNDER THE EUTHANASIA LAW IN BELGIUM: A POPULATION-BASED SURVEY BLOK NEUROLOGY AND SPECIFIC

SENSE SYSTEMS

Oleh:

Nama: ANNISA FILDZA H NIM: G1A008090

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2010

REVIEW JURNAL PHYSICIAN-ASSISTED DEATHS UNDER THE EUTHANASIA LAW IN BELGIUM: A POPULATION-BASED SURVEY A. Judul Judul pada jurnal ini cukup menarik, singkat dan spesifik serta memberi gambaran tentang penelitian yang dilakukan dalam jurnal. Berdasarkan ketentuan penulisan judul baik, yakni memuat maksimal 20 kata, judul pada jurnal ini tidak menyalahi ketentuan tersebut. Judul tersebut juga telah memuat variabel yang akan diukur pada penelitian. B. Latar Belakang Eutanasia dan bunuh diri dengan bantuan dokter menjadi isu yang sangat diperdebatkan dalam praktik kedokteran. Pada beberapa tahun ini, tiga negara Eropa (Belgia, Belanda (2002) dan Luxemburg (2009) serta dua negara bagian Amerika Serikat (Oregon (1997) dan Washington State (2009)) menyatakan bahwa eutanasia dan bunuh diri dengan bantuan dokter sebagai kondisi yang formal. Canada asalah salah satu di antara negara-negara dimana perdebatan legalisasi telah berkobar, dengan RUU yang telah mencapai parlemen dan usulan pro eutanasia oleh dokterdokter Quebec College. Isu eutanasia memicu banyak emosi dan dapat disanggah dengan argument-argumen spekulasi. Kelompok kontra euthanasia sring berargumen bahwa melegalkan prosedur tersebut dapat meningkatkan penggunaan obat untuk mengakhiri hidup tanpa permintaan eksplisit dari pasien, khususnya kelompok pasien yang rentan. Walaupun indikasi terjadinya hal tersebut tidak ditemukan pada studi-studi kematian dengan bantuan dokter sebelum dan sesudah legalisasi di Belgia dan Belanda. Di Belgia, persentase kematian dengan menggunakan obat untuk mengakhiri kehidupan berjalan stabil dan proporsi tanpa permintaan eksplisit dari pasien menurun. Studi lain menunjukkan bahwa eutanasia, bunuh diri dengan bantuan dokter, dan penggunaan obat untuk mengakhiri kehidupan tanpa permintaan eksplisit dari pasien tidak terbatas pada negara-negara dimana kematian dengan bantuan dokter dilegalkan. Sebagai tambahan untuk mengetahui kejadian kematian dengan bantuan dokter secara keseluruhan, diperlukan informasi yang adekuat, yang secara empiris dapat dijadikan dasar perdebatan untuk mengetahui performa kejadian tersebut pada kelompok pasien

yang rentan serta pengambilan keputusan dari perawatan yang akan diberikan kepada mereka. Legalisasi dan efek dari penggunaan obat untuk mengakhiri hidup tanapa permintaan pasien penting untuk dicari persamaan dan perbedaannya dengan euthanasia dan penggunaan obat untuk mengakhiri hidup tanpa permintaan eksplisit dari pasien. Pada studi ini, peneliti melaporkan investigasi demografi dan karakteristik klinis dihubungkan dengan kematian lewat bantuan dokter di Flanders, Belgia; keterlibatan pasien, keluarga dan kerabat lainnya dalam proses pengambilan keputusan; alasan keputusan tersebut; aspek dari target perawatan; dan rincian kinerja dalam hal penggunaan obat dan orang-orang yang mengelola obat untuk mengakhiri kehidupan. C. Kerangka Konsep Kematian

Sex

Cause of deaths

Age

Province of deaths

Place of deaths

D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah a population-based survey. 2. Setting a. Tempat penelitian: Flanders, Belgia b. Waktu penelitian: Juni- November 2007 3. Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 6927 pasien dengan sertifikat kematian yang meninggal di Flanders antara bulan Juni- November 2007. Teknik sampling pada penelitian tidak disebutkan secara eksplisit. Namun secara implisit, penelitian ini kemungkinan menggunakan non probability sampling, yaitu total sampling 4. Jenis data Jenis data yang digunakan adalah data primer, yaitu menggunakan kuesioner. Peneliti mengirimkan sebuah kuesioner mengenai penggunaan oabat untuk mengakhiri hidup dengan atau tanpa permintaan eksplisit pasien kepada dokterdokter yang memberikan sertifikat kematian pada sampel yang representative (n=

6927) pada pasien yang meninggal di Flanders antara Bulan Juni dan November 2007. Kuesioner yang terdiri dari 5 halaman termasuk penjelasan emngenai penelitia dikirim kepada dokter. Respon dari dokter tersebut dianggap sebagai persetujuan implisit untuk berpartisipasi. Jika dokter tersebut tidak merespon setelah peringatan tiga kali, kuesioner yang terdiri dari 1 halaman akan dikirimkan untuk menanyakan alasan mengapa dokter tersebut tidak merespon. 5. Analisis data Analisis data menggunakan perangkat lunak SPSS 17.0, menggunakan prosedur sampel kompleks untuk menghitung desain sampel bertingkat dan standard error yang terkait. Peneliti menggunakan Fisher exact test untuk membandingkan perbedaan distribusi antara kematian dengan bantuan dokter melalui permintaan eksplisit pasien dan penggunaan obat untuk mengakhiri kehidupan tanpa permintaan pasien; signifikansi statistic dengan p< 0.05 E. Hasil Tingkat respon adalah 58,4%. Secara keseluruhan, 208 kematian tercatat melibatkan penggunaan obat untuk mengakhiri kehidupan: 142 (prevalensi 2,0%) dengan permintaan eksplisit pasien (eutanasia atau bunuh diri dengan bantuan ) dan 66 (prevalensi 1,8%) tanpa permintaan eksplisit pasien. Eutanasia dan bunuh diri dengan bantuan paling banyak melibatkan pasien yang berusia kurang dari 80 tahun yang mengidap penyakit kanker dan meninggal di rumah. Penggunaan obat untuk mengakhiri kehidupan tanpa permintaan eksplisit melibatkan pasien yang berusia lebih dari 80 tahun yang mengidap penyakit selain kanker dan meninggal di rumah sakit. Pada kematian tanpa permintaan eksplisit, 77,9% kasus tidak didiskusikan dengan pasien. Dibandingkan dengan kematian dengan bantuan yang disertai permintaan eksplisit pasien, mereka yang tanpa permintaan eksplisit mendapatkan perawatan penyakit terminal dengan jangka waktu yang lebih pendek, F. Pembahasan Kematian dengan bantuan dokter melalui permintaan eksplisit pasien (eutanasia dan bunuh diri dengan bantuan) dan tanpa permintaan eksplisit terjadi pada kelompok pasien yang berbeda dan pada keadaan yang berbeda. Kasus tanpa permintaan eksplisit sering melibatkan pasien dengan penyakit yang tidak dapat diprediksi akan mengalami pengakhiran kehidupan. G. Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa kematian dengan bantuan dokter melalui permintaan eksplisit dari pasien (eutanasia dan bunuh diri dengan bantuan) dan penggunaan obat untuk mengakhiri kehidupan tanpa permintaan eksplisit adalah hal yang berbeda pada keputusan pengakhiran kehidupan yang terjadi pada kelompok pasien yang berbeda dan keadaan yang berbeda. Tidak seperti eutanasia dan bunuh diri dengan bantuan, penggunaan obat untuk mengakhiri kehidupan tanpa permintaan eksplisit dari pasien sering melibatkan pasien dengan penyakit selain kanker, yang targetnya tidak dapat diprediksi.