Anda di halaman 1dari 16

BIDAH DALAM IBADAH

SUSAH PAYAH TAPI TAK BERKAH






BIDAH DALAM IBADAH
SUSAH PAYAH TAPI TAK BERKAH
Ditulis oleh: Abu Jafar Al
www.ashhabulhadits.wordpress.com



BIDAH DALAM IBADAH
SUSAH PAYAH TAPI TAK BERKAH
Ditulis oleh: Abu Jafar Al-Harits Al-Minangkabawy

ww.ashhabulhadits.wordpress.com
2

SUSAH PAYAH TAPI TAK BERKAH
Minangkabawy
www.ashhabulhadits.wordpress.com
3



~- = -=- -=-
-=- = -=- ---~- --~- )~ V - V = = V -~ - )~ -=- --
-~ _-~ = --- _-- - -~ '---~- --- '- - :
Pembahasan yang akan dilalui dalam tulisan ini merupakan perkara
yang mesti diketahui seorang muslim, karena jalan yang mesti
ditempuh dalam menjalankan tuntutan kalimat:Asyhadu Anna
Muhammadan Rosululloh, adalah dengan mengamalkan sunnahnya
dan menghindari pengibadatan di luar petunjuknya.
Rosululloh Sholallohu Alaihi wa Sallambersabda:

V ' )

-'

- = -

- -

> ~
Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bidah
adalah kesesatan. (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah Rodhiyallohu
Anhu)
Dalam riwayat An-Nasai dan Al-Baihaqy Rahimahumalloh, terdapat
tambahan:
- ->~ - '--
Dan setiap kesesatan di neraka (Dishohihkan Syaikh Al-
Albany Rahimahulloh)
Juga hadits tentang Haji Wada dimana Rosululloh Sholallohu Alaihi
wa Sallam bersabda:
-'- '-=- -V '- - -=- -- - -- ->~
Waspadailah sesuatu yang diada-adakan pada perkara-perkara.
Setiap yang diada-adakan adalah bidah, sementara setiap bidah
adalah kesesatan. (HR Ath-Thobrony dari Irbadh bin
Sariyah Rodhiyallohu Anhu. Hadits ini dishohihkan para ulama.
Imam Al-AlbanyRahimahulloh di As-Silsilatush Shohihah berkata:
Para huffadz (ulama-ulama yang mengumpulkan riwayat-riwayat
www.ashhabulhadits.wordpress.com
4

hadits, mempelajari dan menghapalnya) dari dulu sampai sekarang
sepakat akan keshohihannya)
Dari kata seluruh pada hadits-hadits tersebut dapat dipahami
bahwa setiap perkara yang baru dalam agama ini maka hukumnya
bidah tanpa terkecuali.Abdulloh bin
Umar Rodhiyallohu mengatakan: Setiap bidah adalah kesesatan
walau orang-orang melihatnya sebagai sebuah kebaikan. (Atsar ini
shohih, diriwayatkan Al-Baihaqy di Al-Madkhol ilas Sunan, dan Al-
Lalikaiy)
Bidah ada termasuk dosa besar bahkan ada yang sampai ke derajat
kekafiran.
PENGERTIAN BIDAH
Secara bahasa, kata ini diartikan sebagai sesuatu yang baru tanpa
contoh sebelumnya, sebagaimana dalam firman Alloh Taala:

- ' -

- ' -

- - ~ -
Katakanlah (wahai Muhammad): Aku bukanlah yang pertama dari
para rosul. (QS Al-Ahqof 9)
Adapun pengertiannya dari segi istilah syari, berbeda pendapat para
ulama dalam mengibaratkannya, namun sepertinya pengertian yang
terlengkap adalah yang dijelaskan Imam Asy-Syathiby Rahimahulloh.
Para ulama setelahnya banyak memakai ibarat dan
menyandarkannya pada penjelasan beliau.
Imam Asy-Syathiby Rahimahulloh dalam kitabnya Al-
Itishom mengatakan: Bidah adalah ibarat sebuah thoriqoh dalam
agama yang dibuat-buat menyerupai syariat. Dimaksudkan dengan
berjalan diatasnya untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada
Alloh Subhanah. Selesai
Kemudian beliau Rahimahulloh menerangkan: Maka thoriqoh adalah
jalan, sabil dan sunansemuanya bermakna sama yaitu sesuatu yang
diperintahkan untuk berjalan diatasnya. Hanya saja (dalam definisi
ini) saya mengaitkannya dengan agama, karena
www.ashhabulhadits.wordpress.com
5

padanyalahthoriqoh tersebut dibuat-buat, dan kepadanyalah
pembuat thoriqoh menyandarkan thoriqohtersebut. Demikian juga
apabila thoriqoh tersebut dibuat-buat dalam masalah dunia secara
khusus, tidak dinamakan bidah
menyerupai syariat maksudnya, bahwasanya thoriqoh tersebut
menyerupai thoriqoh syariyyah namun pada hakikatnya tidak
demikian, malahan dia melawan thoriqoh syariyyahdari berbagai sisi

seandainya thoriqoh tersebut tidak menyerupai perkara-perkara
yang disyariatkan, maka dia bukanlah bidah, dikarenakan dia
tergolong amal-amal kebiasaan. Hanya saja pelaku bidah membuat-
buatnya untuk menyerupai sunnah sehingga menimbulkan
kesamaran bagi yang lain, atau thoriqoh tersebut menjadi samar
dengan sunnah. Karena seseorang tidak akan mengikuti Rosululloh
dengan sesuatu yang tidak menyerupai perkara yang disyariatkan,
karena pada saat itu (ketika bidah tidak menyerupai sunnah pent)
perkara bidah tersebut tidak akan mendatangkan manfaat dan tidak
akan menolak bahaya, serta orang lain tidak akan menyambutnya
dimaksudkan dengan berjalan diatasnya untuk berlebih-lebihan
dalam beribadah kepada Alloh Taala, merupakan makna bidah
secara sempurna karena itulah tujuan dari pensyariatannya. Hal itu
terjadi karena prinsip masuknya (orang tersebut) ke dalam bidah,
mendorongnya dan menganjurkan untuk berakhir kepada ibadah,
karena Alloh Taalaberfirman:
'- --= =- -( V ---
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
kepadaku
Maka seakan-akan mubtadi (orang yang membuat atau melakukan
bidah) tersebut berpandangan bahwa yang diinginkan (dari ayat
tersebut) adalah makna ini (berlebih-lebihan dalam beribadah
kepada Alloh), tidak jelas baginya bahwa apa-apa yang ditetapkan
pemilik syariat berupa aturan-aturan dan batasan-batasan telah
cukup. Dia menyangka -dari diri sendiri- bahwa ketika perkara
www.ashhabulhadits.wordpress.com
6

(ibadah) disebutkan secara mutlak (tidak ada aturan dan ketentuan
yang mengikat), mengharuskan (dia membuat) aturan-aturan yang
baku, dan kondisi-kondisi yang mengikat, bersamaan adanya apa-apa
yang merasuk kejiwanya berupa cinta ketenaran, atau tidak
memperhitungkan kemungkinan, maka masuklah ke dalam aturan
baku (buatannya) ini unsur kebidahan. Selesai
PEMBAGIAN BIDAH BERDASARKAN BENTUK
ASALNYA
Dalil pokok yang menjelaskan masalah dan pembagian bidah ini
adalah sabda NabiSholallohu Alaihi wa Sallam sebagaimana di
Bukhory-Muslim, dari hadits AisyahRodhiyallohu Anha, bahwasanya
beliau Sholallohu Alaihi wa Sallam berkata:
- = - '-- '- -- -- )-
Barangsiapa yang mengada-adakan (suatu amalan atau keyakinan)
dalam perkara kami ini, yang bukan bagian darinya maka perkara itu
tertolak.
Dalam riwayat Muslim:
- --

>-- -- --- '-- )-


Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada
padanya perintah kami, maka perkara itu tertolak.
Dari perkataan beliau Sholallohu Alaihi wa Sallam: dalam perkara
kami diambil faidah bahwa masalah perkara-perkara yang dibuat-
buat adalah apa-apa yang dikaitkan dengan agama yang dahulu Nabi
dan para shohabatnya Ridhwanullohu Alaihim berada di atasnya.
Maka perkara-perkara yang secara murni tidak terkait dengan agama
tidak dinamakan bidah.
Perkataannya beliau Sholallohu Alaihi wa Sallam: tidak ada padanya
perintah kami, masuk kedalamnya seluruh amalan yang tidak datang
perintah padanya seperti perkara-perkara yang dilarang dan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
7

perkara-perkara mubah (boleh), yang coba-coba dimasukkan ke
ibadah.
Dari kedua hadits ini diambil faidah, bahwasanya bidah bisa terjadi
dalam bentuk maksiat-maksiat atau perkara-perkara yang mubah,
dengan syarat pelakunya bertujuan dengannya untuk mendekatkan
diri kepada Alloh. Karena pada keadaan ini berarti pelakunya dalam
keyakinannya- telah memasukkannya ke dalam perkara kami.
Karena itulah anda akan mendapatkan ulama menghukumi sebagian
amalan atau pelaku maksiat dan kabair (dosa-dosa besar) dengan
kebidahan, dan para ulama tidak menghukumi sebagian yang lain
dengan perbuatan yang sama.
Kesimpulannya, bahwa bentuk masuknya bidah ada dua bentuk:
Perkara yang pada asalnya memang bukan ibadah, bisa jadi
munculnya dari perkara-perkara yang dilarang ataupun perkara-
perkara yang mubah. Misal yang pertama seperti mendekatkan diri
kepada Alloh dengan musik atau tarian[1]. Adapun yang kedua
seperti orang yang mencukur kepala selain haji dan umroh- dengan
keyakinan bahwa orang yang mencukur lebih utama dari yang tidak
mencukur, meyakininya sebagai kesempurnaan zuhud, atau
menyuruh orang yang taubat untuk mencukur rambutnya[2]. Jenis
bidah yang semacam ini dinamakan ulama sebagai Al-Bidatul
Haqiqiyyah. Imam Asy-Syathiby Rahimahulloh mengatakan:
Sesungguhnya Al-Bidatul Haqiqiyyah adalah perkara yang tidak ada
dalil syarinya, baik dari kitab, sunnah, ijma, atau sisi pendalilan yang
diakui oleh para ulama, baik secara umum maupun secara terperinci.
Oleh karena itu dia dinamakan bidah -sebagaimana telah lewat
penyebutannya- karena dia adalah suatu perkara yang diada-adakan
tanpa adanya contoh yang terdahulu. Meskipun seorang mubtadi
tidak mau dikatakan bahwa amalan tersebut telah keluar dari
syariat, karena dia menganggap bahwa perbuatannya tersebut
masuk ke dalam konsekwensi yang terkandung di dalam dalil. Tapi
pengakuan tersebut tidaklah benar, baik dilihat dari rincian
perbuatan itu sendiri maupun dari yang tampak secara zhohir.
Adapun dari sisi rincian perbuatan tersebut, maka dinilai dari tujuan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
8

perbuatan tersebut. Adapun secara zhohir, sebenarnya dalil-dalil
yang digunakan hanyalah sekedar syubhat, bukan dalil. Itu kalau
memang benar si mubtadi menggunakan dalil, kalau tidak maka
perkara ini jelaslah sudah. Selesai.
Perkara yang pada asalnya adalah ibadah, namun dari salah satu atau
beberapa sifatnya terjadi sesuatu yang diada-adakan. Misalnya:
Dzikir jamaah. Dari sisi dzikir saja, maka ini adalah ibadah yang
disyariatkan. Tapi dari sisi jamaahnya maka ini adalah sesuatu yang
dibuat-buat. Jenis bidah yang semacam ini dinamakan ulama
sebagai Al-Bidatul Idhofiyyah. Imam Asy-
Syathiby Rahimahulloh mengatakan: Adapun Al-Bidatul
Idhofiyyah adalah sebuah perkara yang memiliki dua sisi. Salah satu
sisinya berkaitan dengan dalil, maka dari sisi ini dia tidak dinamakan
bidah. Adapun sisi yang lainnya yang tidak berkaitan dengan dalil
maka dia tidak berbeda dengan bidah yang hakiki. Maka ketika
amalan tersebut memiliki dua sisi yang tidak bisa saling terlepas satu
sama lainnya, maka kita menamakannya sebagai Al-Bidatul
Idhofiyyah. Maknanya, jika ditinjau dari salah satu sisi maka dia
adalah sunnah karena bersandar kepada dalil, namun bila ditinjau
dari sisi yang lain maka dia adalah bidah karena bersandar kepada
syubhat bukan kepada dalil, atau tidak bersandar kepada apapun.
Perbedaan antara kedua sisi tersebut secara makna: Dari sisi asal
perkara, terdapat dalil yang mendukungnya, akan tetapi dari sisi
pelaksanaan, kondisi, atau perinciannya tidak ada dalilnya. Padahal
hal-hal seperti ini membutuhkan dalil karena kebanyakan hal ini
terjadi di dalam masalah ibadah, bukan di dalam masalah adat
kebiasaan murni. Selesai

SEMUA PERKARA YANG TIDAK ADA DI ZAMAN
SALAF KEMUDIAN MUNCUL DI ZAMAN-ZAMAN
BELAKANGAN APAKAH LANGSUNG DICAP BIDAH
?
www.ashhabulhadits.wordpress.com
9

Permasalahan ini terkait dengan pembahasan Sunnah Tarkiyah, yaitu
perkara-perkara yang sengaja ditinggalkan oleh
Rosululloh Sholallohu Alaihi wa Sallam tanpa udzur. Hal ini diketahui
dengan dua cara sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim
Al-JauziyyahRahimahullohu Taala:
Pernyataan mereka secara gamblang bahwasanya beliau
meninggalkan ini dan itu atau tidak melakukan ini dan itu,
sebagaimana perkataan mereka tentang Sholat Ied: Tidak ada azan,
tidak ada iqomah dan tidak ada seruan.
Tidak adanya penukilan dari mereka, kalau seandainya beliau
kerjakan tentulah akan muncul keinginan dan pendorong mereka,
sebagian atau salah satu dari mereka untuk menukilkannya. Maka
ketika tidak satupun dari mereka yang menukilkannya, serta tidak
diketahui bahwa perbuatan tersebut terjadi di tengah-tengah mereka,
diketahui bahwa hal tersebut tidak pernah ada. Seperti
ditinggalkannya membaca niat ketika ingin sholat, atau meninggalkan
doa bersama setelah sholat. Selesai[3]
Dalil-dalil yang sah tentang perkara-perkara agama ini tak terlepas
dari dua bentuk. Ada dalil yang bersifat khusus menunjukkan tata-
cara secara langsung dan perinciannya, yang seperti ini semua orang
bisa memahami, baik salaf maupun orang-orang setelahnya, yang
seperti ini biasanya diamalkan oleh kaum muslimin secara langsung.
Ada lagi dalil yang bersifat umum atau samar bagi sebagian orang
dalam memahaminya, yang seperti ini mesti dikembalikan ke
pemahaman salaf, dengan melihat amalan mereka.
Imam Asy-Syathiby Rahimahulloh berkata di dalam kitabnya Al-
Muwafaqot (3/252-280): Semua dalil syari tidak terlepas dari salah
satu kemungkinan berikut ini: Dalil yang selalu atau sering diamalkan
oleh para salaf yang terdahulu, atau dalil yang tidak diamalkan
kecuali jarang atau pada waktu tertentu saja, atau dalil yang tidak
diamalkan sama sekali. Jadi, dalil itu ada tiga jenis:
Pertama: Dalil yang selalu diamalkan atau sering. Tidaklah ada
permasalahan untuk berdalil dengannya atau beramal dengan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
10

kandungannya, dan ini adalah sunnah yang diikuti dan jalan yang
lurus. Dalil jenis ini ada yang mengandung hukum wajib, sunnah, atau
hukum-hukum yang lainnya.
Kedua: Dalil yang tidak diamalkan kecuali jarang atau pada kondisi
tertentu saja, bersamaan dengan adanya dalil lain yang lebih
diutamakan dan selalu atau lebih sering diamalkan. Dalil yang lain
inilah yang merupakan sunnah yang diikuti dan jalan yang ditempuh.
Adapun dalil yang tidak diamalkan kecuali sedikit, maka wajib untuk
melakukan pemastian (tatsabbut) dalam dalil tersebut dan dalam
beramal dengan kandungannya. Adapun amalan, maka kita
mengamalkan dalil yang lebih umum dan banyak digunakan. Karena
kesinambungan para ulama terdahulu dalam menyelisihi dalil yang
jarang diamalkan ini bisa jadi karena sebab yang syari atau bukan
karena sebab yang syari. Adapun kalau bukan karena sebab yang
syari maka hal ini tidaklah mungkin. Maka mestilah karena suatu
sebab yang syari yang mereka berusaha untuk mendahulukannya.
Apabila halnya seperti ini, maka beramal dengan kandungan dalil
yang jarang diamalkan menjadi seperti bentuk penolakan terhadap
makna dalil yang mereka berusaha untuk mengamalkannya,
meskipun hal tersebut bukanlah penolakan dalil secara hakiki. Maka
haruslah kita berusaha untuk mengamalkan apa yang mereka
berusaha untuk mengamalkannya, dan mencocoki apa yang
senantiasa mereka amalkan.
Ketiga: Dalil yang tidak didapatkan di kalangan para ulama terdahulu
yang mengamalkan dalil tersebut sama sekali. Maka jenis ini lebih
tegas (untuk ditolak) daripada jenis yang sebelumnya, dan dalil-dalil
yang terdahulu lebih utama untuk diterapkan pada kondisi ini. Pada
hakikatnya apa yang diperkirakan oleh orang-orang generasi akhir
bahwasanya ia adalah dalil -menurut persangkaan mereka- bukanlah
merupakan dalil sama sekali. Sebab, jika seandainya perkara itu
adalah dalil atas suatu masalah, kenapa para sahabat dan tabiin tidak
bisa memahaminya lalu generasi akhir ini bisa
memahaminya? Bagaimana mungkin amalnya generasi terdahulu
bisa berbenturan dengan pemahaman konsekuensi dalil tersebut dan
bertentangan dengannya? Apabila generasi terdahulu meninggalkan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
11

suatu amalan, maka apa yang dilakukan oleh generasi akhir dari jenis
yang ketiga ini adalah merupakan penyelisihan terhadap ijma
generasi yang terdahulu, dan siapa saja yang menyelisihi ijma maka
dia bersalah. Sebab umat Muhammad sholallohu Alaihi wa
sallam tidak akan pernah bersatu di atas kesesatan. Maka apa saja
yang mereka berada di atasnya baik berupa melakukan amalan atau
meninggalkan amalan, maka ia adalah sunnah dan perkara yang
dianggap, dan itulah petunjuk. Jadi, tidaklah ada kemungkinan
kecuali benar atau salah. Siapa saja yang menyelisihi para salaf yang
terdahulu berarti dia berada di atas kesalahan, dan ini cukup.
Demikian pula hadits dhoif (lemah) yang tidak diamalkan oleh para
ulama, pembahasannya seperti pembahasan permasalahan ini.
Selesai
Sebab apa yang disepakati salaf untuk ditinggalkan tidak boleh bagi
orang setelahnya mengamalnya karena tidaklah mereka
meninggalkannya kecuali mereka tahu kalau itu tidak boleh
diamalkan.[4]
Imam Asy-Syathiby Rahimahulloh berkata di dalam fatwa beliau (hal.
250): Perkara apa saja yang para salafush sholih tidak berada di
atasnya maka ia bukanlah bagian dari agama. Mereka itu (salaf) lebih
bersemangat terhadap kebaikan daripada mereka (generasi akhir).
Jika seandainya pada suatu amal terdapat kebaikan pasti mereka
telah melakukannya. Allah Taala berfirman:

- -

--
Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian. (QS
Al-Maidah 3)
Malik bin Anas Rahimahulloh berkata: Perkara apa saja yang pada
masa itu (masa salaf) bukan merupakan agama, maka pada masa ini
bukanlah merupakan agama. Selesai
Kaidah Penting:
Jika dicermati dari beberapa amalan salaf, terdapat perkara yang
berkaitan dengan agama namun tidak pernah dilakukan sebelumnya.
www.ashhabulhadits.wordpress.com
12

Apakah perbuatan itu termasuk penyelisihan terhadap orang-orang
sebelum mereka (yaitu sebelum perbuatan ini terjadi) ?
Syaikhul Islam Rahimahulloh berkata di dalam kitab Iqtidho Shirotil
Mustaqim (1/295): Sesungguhnya hal ini tidak dilakukan oleh para
salaf, padahal telah ada tuntutan untuk melakukannya dan tidak
adanya penghalang darinya. Jika seandainya hal ini murni kebaikan
atau lebih besar kebaikannya mestilah para salaf Rodhiyallohu
Anhum lebih berhak untuk melakukannya daripada kita karena
sesungguhnya kecintaan dan pengagungan mereka terhadap
Rosululloh Sholallohu Alaihi wa Sallam lebih besar daripada kita.
Mereka itu lebih bersemangat terhadap kebaikan. Kesempurnaan
kecintaan dan pengagungan terhadap beliau hanyalah tercapai
dengan mengikuti beliau, mentaatinya, mengikuti perintahnya,
menghidupkan sunnahnya secara batin dan zhohir, menyebarkan apa
yang dibawa, dan bersungguh-sungguh di atasnya dengan hati,
tangan, dan lisan. Maka inilah jalannya orang-orang awal yang
terdahulu dari kalangan Muhajirin, Anshor, dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik. Selesai
Ada dua rukun yang beliau sebutkan sebagai tolak ukur bahwa salaf
meninggalkan suatu perkara benar-benar karena perkara tersebut
memang sesuatu yang terlarang dalam agama ini. Kedua perkara itu
adalah:
Ada tuntutan di zaman mereka untuk melakukannya, namun mereka
tidak melakukannya.
Mereka mampu untuk melakukannya, alias meninggalkannya bukan
karena udzur.
Jika dua perkara ini tidak didapatkan maka tidak bisa dikatakan
kalau salaf meninggalkan karena hal tersebut terlarang dalam agama
ini, secara mutlak. Kita bawa dua contoh untuk pendekatan.
Rukun pertama ada tapi rukun kedua tidak ada. Seperti
memakai microphone untuk adzan. Tuntutannya ada ketika itu,
karena Rosululloh Sholallohu Alaihi wa Sallam menyuruh Abdulloh
bin Zaid Rodhiyallohu Anhu yang bermimpi melihat cara adzan untuk
www.ashhabulhadits.wordpress.com
13

mendatangi dan menyampaikannya kepada Bilal Rodhiyallohu
Anhu agar dia yang adzan. RosulullohSholallohu Alaihi wa
Sallam menyebutkan alasannya: Sesungguhnya dia, lebih tinggi
suaranya darimu. Kisah shohih ini di Sunan Abu Daud dari Abdulloh
bin Zaid Rodhiyallohu Anhu. Memang tekhnologinya belum ada di
zaman mereka, bagaimana mereka bisa mengerjakannya ?. Jawaban
seperti inilah yang diberikan bagi orang-orang yang menuduh Salafy
sebagai orang-orang yang kaku dan bodoh, dengan ejekan: Kenapa
tidak haji pakai onta saja, kenapa tidak buat masjid dengan pelepah
korma saja, kenapa kenapa
Rukun kedua ada tapi rukun pertama tidak ada. Seperti kisah Abu
Bakr Rodhiyallohu Anhuyang mengumpulkan Al-Quran dalam
sebuah mushaf. Awalnya beliau enggan karena hal tersebut tidak
dilakukan ketika Rosululloh masih hidup sementara mereka mampu
melakukannya. Namun setelah dibujuk-bujuk oleh
Umar Rodhiyallohu Anhu dengan menyebutkan bahwa tuntutannya
ada di zaman mereka yaitu banyak para penghapal Al-Quran yang
terbunuh di kancah perang Yamamah (tahun 12 H) menghadapi
pasukan Musailimah Al-Kadzdzab, maka akhirnya Abu Bakr
menyetujuinya, dan kemudian perkara ini disepakati oleh seluruh
shohabat Rodhiyallohu Anhum Ajmain. Kisah ini di Shohih Al-
Bukhory dari Zaid bin Tsabit Rodhiyallohu Anhu.
Inilah jawaban bagi orang-orang yang melakukan bidah perayaan
Isro Miroj, Maulid Nabi dsb. Mereka melakukannya untuk
meningkatkan keimanan dan kecintaan kepada Rosululloh, maka
bukankah perkara-perkara ini juga dibutuhkan oleh para salaf?
Lantas kenapa mereka tidak mengerjakannya sementara mereka
mampu untuk itu?
Peringatan Penting:
Perlu dicermati juga, bahwasanya terdapat ulama Sunnah yang
terjatuh dalam ijtihadnya Semoga Alloh mengampuni mereka- yang
kemudian diikuti oleh sebagian orang dengan fanatik buta ketika
mereka membolehkan perkara yang pada hakikatnya adalah bidah.
Kalau bukan karena penggambaran masalah yang disampaikan
www.ashhabulhadits.wordpress.com
14

kepada mereka tidak sesuai kenyataan, maka rata-rata kesalahan
mereka kembalinya pada kekeliruan dalam memahami dan
mempraktekkan dua rukun yang disebutkan Syaikhul Islam tersebut.
PENYEBAB-PENYEBAB MUNCULNYA BIDAH
Bidah menyebar di kalangan kaum muslimin, disebabkan beberapa
faktor, diantaranya:
Tidak memahami dan mempelajari Al-Quran dan hadits dengan
pemahaman yang benar, sesuai dengan pemahaman Salafus sholih.
Tidak mengetahui ilmu hadits, sehingga bisa mengetahui mana hadits
yang sah dan diamalkan, serta mana hadits yang tidak bisa diamalkan
atau bahkan dibuat-buat.
Menjadikan orang-orang yang sesat dan jauh ilmunya dari
pemahaman salaf sebagai ulama panutan.
Fanatik dan terlalu berlebihan dalam memegang perkataan seorang
ulama, kiyai, ustadz, sehingga tidak mengembalikannya ke dalil-dalil.
Mengikuti dalil-dalil yang maknanya samar pada sebagian orang,
dengan tidak mengembalikannya ke pemahaman salaf.
Menjunjung akal dalam masalah pensyariatan, padahal tidak semua
perkara agama yang bisa dicerna oleh akal, banyak yang hikmahnya
hanya diketahui oleh Alloh Subhanahu wa Taala
Mengikuti hawa nafsunya dalam menentukan hukum, hal ini sering
muncul pada orang-orang yang punya semangat besar tapi ilmu
kurang.
Lalai dalam mempelajari pemahaman-pemahaman yang menyimpang
serta mengetahui tokoh-tokohnya, sehinggah bidah yang mereka
masa masuk perlahan-lahan
Banyak interaksi dengan orang kafir dan kebiasaan mereka sehingga
apa yang didapatkan pada mereka dipraktekkan ke dalam Islam
Khurafat dan adat-istiadat yang dibawa ke perkara agama
www.ashhabulhadits.wordpress.com
15

APA YANG DIDAPATKAN PELAKU BIDAH ?
Ibadah tidak bisa hanya mengandalkan semangat dan kuatnya
seseorang dalam melakukannya, karena yang dinilai adalah
keihklasan dan kecocokannya dengan petunjuk Rosulullah Sholallohu
Alaihi wa Sallam bukan sekedar banyaknya ibadah. Karena itulah
susah payah yang dikerjakan pelaku bidah justru menuai banyaknya
kerugian, diantaranya:
Amalannya tertolak
Telah lewat penyebutan hadits Aisyah Rodhiyallohu Anha. Demikian
juga firman AllohSubhanahu wa Taala:

- -

- -

V'

V' - -

) - ~ - ' - =

- ' -

- -

- ~ = -

- ~ = - '

- ~
Katakanlah (Wahai Muhammad): Maukah kalian Kami kabarkan
dengan orang yang paling rugi amalannya ?. Yaitu orang-orang yang
sia-sia perbuatannya di kehidupan dunia sementara mereka
menyengkan telah berbuat sebaik-baiknya (Al-Kahf 103-104)
Taubatnya terhalang selama dia masih dalam kebidahannya
Rosululloh Sholallohu Alaihi wa Sallam bersabda:
= =-= --- - ='~ - --
Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat pemilik setiap bidah (HR
Thobrony dari AnasRodhiyallohu Anhu, dishohihkan Imam Al-
Albany Rahimahulloh)
Tidak bisa mendatangi telaga Rosululloh kelak di padang mahsyar
Rosululloh Sholallohu Alaihi wa Sallam bersabda:
'- -- _-- =- --- '= --- - =--=-- - -'- '- -'=~ '--- - V -
'- -= -
Aku akan mendahului kalian di telaga, dan sungguh Alloh akan
menampakkan (kepadaku) sekelompok lelaki dari kalian, kemudian
Dia memalingkan mereka sebelum sampai kepadaku. Maka Aku

katakan: Wahai Robb, shohabatku
Sesungguhnya engkau tidak mengetahui
sepeninggalmu.(Bukhory
Masud
Menanggung dosa orang
Rosululloh Sholallohu Alaihi wa Sallam
- - -

- - -
Barangsiapa yang membuat suatu jalan (metode) yang jelek di dalam
Islam, maka dia akan menanggung dosa atas jalan dibuatnya itu serta
dosa orang-orang yang beramal dengannya setelahnya, tanpa
mengurangi dosa orang
sedikitpun. (HR Muslim dari Jarir bin Abdillah

www.ashhabulhadits.wordpress.com
katakan: Wahai Robb, shohabatku[5] ?. Lantas dikatakan:
Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka buat
sepeninggalmu.(Bukhory-Muslim dari Abdulloh bin
Masud rodhiyallohu Anhu)
Menanggung dosa orang-orang yang mengikuti perbuatannya
Sholallohu Alaihi wa Sallam bersabda:

> ~(

- ~

- - ~ '

- -

- - '

- - ' )

- -

~
Barangsiapa yang membuat suatu jalan (metode) yang jelek di dalam
Islam, maka dia akan menanggung dosa atas jalan dibuatnya itu serta
orang yang beramal dengannya setelahnya, tanpa
mengurangi dosa orang-orang (yang mengikuti) tersebut
(HR Muslim dari Jarir bin Abdillah Rodhiyallohu Anhu)

-' = - ~

-- - =

- ~



ww.ashhabulhadits.wordpress.com
16
?. Lantas dikatakan:
apa yang mereka buat-buat
Muslim dari Abdulloh bin
orang yang mengikuti perbuatannya
bersabda:
- ~ _ -

> ~(
Barangsiapa yang membuat suatu jalan (metode) yang jelek di dalam
Islam, maka dia akan menanggung dosa atas jalan dibuatnya itu serta
orang yang beramal dengannya setelahnya, tanpa
orang (yang mengikuti) tersebut
Rodhiyallohu Anhu)