Anda di halaman 1dari 17

TECHNICAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KECAMATAN BINTANG ARA, KAB.

TABALONG SEKSI A KUALITAS & KUALIFIKASI BATUBARA

A.1

PENGERTIAN UMUM

Batu bara atau batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dibentuk dari hasil pengubahan sisa-sisa tumbuh-tumbuhan yang terjadi selama puluhan atau ratusan juta tahun. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hydrogen, oksigen dan beberapa mineral logam dalam bentuk dan jumlah bayangan (traces). Dengan demikian kualitas batubara tergantung dari jenis bahan asalnya dan peningkatan mutu oleh faktor geologi termasuk gradien geotermal dan sebagainya :

Proses Pembentukan Endapan Batubara 1


TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

Tahapan dalam Proses Pembentukan Batubara

Skema Proses Pembentukan Batubara Faktor yang mempengaruhi Pembatubaraan 1) 2) Sejarah geologi (lamanya penimbunan) & tergantung prosesnya : an-aerobik, aerobik dgn. T >, kondisi dan lokasi penimbunan (menentukan MM) Waktu : makin lama timbunan makin baik peringkat

2
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

3) 4) 5)

Tekanan menyebabkan : perubahan fisik, pembentukkan struktur (banded), perubahan kimia (aromatisasi) Temperatur : makin > T, peringkat batubara > Temperatur gradien : karena tektonik, aktivitas vulkanik, konduktivitas panas (batu lempung & pasir berbeda), bertambahnya T dengan kedalamn. 6) Kombinasi dari faktor-faktor tsb.

Peringkat batubara merupakan tahapan dari pada pembatubaraan ; 1) 2) Gambut (Peat), terjadi pada tahapan permulaan pembentukkan batubara, terdapat di berbagai belahan di Dunia terutama di Indonesia, Irlandia, Kanada, Finlandia, Soviet dll. Lignit (Batubara coklat/ Brown coal), dihasilkan dari tahapan proses pertama dalam gambut yang terkubur. Warnanya coklat tua terdiri dari material tumbuhan yang telah mati membusuk. Beberapa lokasi ditemui : terdapat di Australia, Afsel, Jerman, Polandia, US dan Indonesia. 3) Sub-Bituminus, merupakan peralihan perubahan dari lignit ke bituminus. Warnanya mulai hitam tetapi belum begitu keras, porositas lebih baik daripada lignit namun tidak sekompak bituminus. 4) Bituminus, warnanya hitam dengan pita-pita mengkilat seperti keramik dan keras, mudah retak sepanjang bidang cleavagenya, sering disebut hardcoal bisa berupa steaming coal atau coking coal . 5) Antrasit, terjadi terakhir daripada proses pembatubaraan (coalification), sangat keras tidak memperlihatkan pita-pita, dapat pecah menjadi blok-blok kecil yang mengkilat. Terdapat dalam jumlah yang terbatas di beberapa negara

A2.

Kualitas Batubara

Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank).

3
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang. A.3 Kualitas dan Klasifikasi Batubara

Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboraturium, diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air, zat terbang, karbon padat, dan kadar abu, sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang. Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah penelitian. Untuk menentukan jenis batubara, digunakan klasifikasi American Society for Testing and Material (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983). Klasifikasi ini dibuat berdasarkan jumlah karbon padat dan nilai kalori dalam basis dry, mineral matter free (dmmf). Untuk mengubah basis air dried (adb) menjadi dry, mineral matter free (dmmf) maka digunakan Parr Formulas (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)

4
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

A.4

Analisis ultimat batubara (coal ultimate analysis)

Analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kadar karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen, (N), dan sulfur (S) dalam batubara. Seiring dengan perkembangan teknologi, analisis ultimat batubara sekarang sudah dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Analisa ultimat ini sepenuhnya dilakukan oleh alat yang sudah terhubung dengan komputer. Prosedur analisis ultimat ini cukup ringkas; cukup dengan memasukkan sampel batubara ke dalam alat dan hasil analisis akan muncul kemudian pada layar komputer.

A.5

Analisis proksimat batubara (coal proximate analysis)

Analisis proksimat batubara bertujuan untuk menentukan kadar fixed carbon, volatile matters, moisture, dan abu (ash).

5
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

Fixed carbon ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam batubara setelah volatile matters dipisahkan dari batubara. Kadar fixed carbon ini berbeda dengan kadar karbon (C) hasil analisis ultimat karena sebagian karbon berikatan membentuk senyawa hidrokarbon volatile. Volatile matters adalah kandungan batubara yang terbebaskan pada temperatur tinggi tanpa keberadaan oksigen (misalnya CxHy, H2, SOx, dan sebagainya). Moisture ialah kandungan air yang terdapat dalam batubara. Abu (ash) merupakan kandungan residu non-combustible yang umumnya terdiri dari senyawasenyawa silika oksida (SiO2), kalsium oksida (CaO), karbonat, dan mineral-mineral lainnya. Sama halnya dengan alat analisis ultimat, alat analisis proksimat ini juga sudah terkomputerisasi. Selain ke dua analisis di atas, biasanya dilakukan juga analisa sulfur dan analisa nilai kalori. Untuk analisa sulfur, hal ini untuk mengetahui sampai seberapa banyak kadar sulfur yang terdapat dalam kandungan batubara tersebut. Semakin kecil nilai sulfur, maka akan semakin bagus. Sedangkan untuk analisa nilai kalori dilakukan untuk mengetahui jumlah kalori yang terkandung dalam batubara tersebut. Untuk nilai kalori, semakin tinggi nilai kalori maka dapat dikatakan bahwa batubara tersebut semakin bagus.

6
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

SEKSI B EKSPLORASI
B.1 Pendahuluan

B.1.1 Usaha pertambangan Potensi endapan bahan galian: perkiraan kekayaan berdasarkan data dan informasi geologi. Potensi endapan bahan galian dapat dimanfaatkan secara nyata bila setelah diselidiki, dan menunjukkan adanya sejumlah cadangan, kemudian dapat ditambang dan laku dijual. Usaha pertambangan mengubah potensi menjadi komoditas dengan melakukan:

Penyelidikan Umum, Eksplorasi, Studi Kelayakan, Pengembangan Perencanaan Tambang, Penambangan, Pengolahan

B.1.2 Eksplorasi

Kegiatan untuk mencari, menemukan, dan mengestimasikan jumlah bahan galian. Mengubah potensi endapan bahan galian menjadi cadangan Maksud dan Tujuan eksplorasi Kegiatan untuk mengetahui keberadaan endapan bahan galian dengan menggunakan metode tertentu. Mengetahui jenis bahan galian dan sebaran di permukaan. Mengetahui sebaran bahan galian ke arah dalam dan bentuknya. Mengetahui besaran dan nilai ekonominya (sumber daya mineral dan cadangan)

B.2

7
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

B.3 Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Cara Eksplorasi Penggunaan atau pemilihan cara eksplorasi tergantung pada:

Tahap eksplorasi, Jenis bahan galian, Bentuk endapan dan sebaran bahan berharganya

B.3.1 Tahap Eksplorasi: Penyelidikan Umum dan Eksplorasi. Di Indonesia tahap eksplorasi mengacu pada SNI 13-4726-1998 (Lampiran 1): 1) 2) 3) 4) Survai Tinjau (Reconnaissance), Prospeksi (Prospecting), Eksplorasi Umum (General Exploration), Eksplorasi Terinci (Detailed Exploration).

Pencarian jenis bahan galian dan sebaran secara lateral (di permukaan). Menjejaki sebaran ke arah dalam untuk mengetahui bentuk dan matra (dimensi) bahan galian. Mengestimasikan besaran atau banyaknya bahan galian.

Eksplorasi dilakukan secara bertahap untuk mengurangi (meminimalkan) resiko. Tahap eskplorasi bertalian dengan:

Kerapatan titik pengamatan, Kelas sumber daya mineral.

B.4 EKSPLORASI DAN ESTIMASI ENDAPAN BATUBARA B.4.1 Pendahuluan Geologi batubara Terbentuk karena proses pengendapan. Terdapat dalam batuan endapan. 8
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

Bentuknya berupa lapisan atau lensa-lensa. Kemiringannya beragam (dari mendatar sampai tegak), tergantung perkembangan struktur. Kadang-kadang terpotong-potong oleh sesar. Kelompok sederhana, Kelompok moderat, Kelompok kompleks.

Pengelompokan batubara berdasarkan kondisi geologinya:

Parameter yang digunakan untuk mengelompokkan endapan batubara adalah aspek-aspek: sedimentasi, tektonik, dan variasi kualitas (lihat Tabel 1 SNI 13-5014-1998). B.4.2 Eksplorasi Batubara Pemetaan permukaan. Pembuatan parit dan sumur uji. Pemboran.

Jarak titik pengamatan dan klasifikasi sumber daya batubara Untuk memperoleh tingkat atau kategori sumber daya tertentu, kerapatan titik pengamatan atau titik informasi sangat tergantung pada kelompok endapan batubara berdasarkan kondisi geologinya ( Tabel 3 SNI 13-5014-1998). B.4.2.1 Estimasi Sumber Daya dan Cadangan Batubara Klasifikasi endapan batubara didasarkan pada aspek geologi dan ekonomi. Aspek geologi: Tingkat keyakinan geologi: secara kuantitatif dicerminkan oleh jarak titik informasi, makin rapat makin memberikan keyakinan yang lebih tinggi ( Tabel 3 SNI 13-50141998). Aspek ekonomi: Ketebalan minimal lapisan batu bara, Ketebalan maksimal lapisan pengotor (dirt parting).

9
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

Berdasarkan kriteria itu, batubara dikelompokkan menjadi batubara berenergi rendah dan batubara berenergi tinggi seperti tertera pada tabel di bawah ini. KETEBALAN Lapisan batubara minimal (m) Lapisan pengotor (m) TINGKAT BATUBARA Batubara energi rendah Batubara energi tinggi > 1,00 > 0,40 < 0,30 < 0,30

B.4.2.2 Klasifikasi Cadangan Batubara Sumber daya: Belum layak tambang: sumber daya hipotetik (hypothetical resouerces), sumber daya tereka(inferred resouerces), sumber daya tertunjuk (indicated resouerces), sumber daya terukur (measured resouerces). Cadangan: Layak tambang: cadangan terkira (probable reserve) dan cadangan terbukti (proved reserve) (Lihat Lampiran 8, Tabel 2 SNI 13-5014-1998). Cara estimasi Blok Daerah pengaruh

10
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

SEKSI C PEMBORAN
Dalam sejarah eksplorasi telah banyak jenis bor yang dipakai. Diantara jenis bor eksplorasi adalah : Bor Tangan, Bor spiral, Bor Bangka, Bor Mesin Putar, Bor mesin ringan, Bor inti (core drill), Bor putar biasa (rotary drill), Bor-alir balik (counterflush drill), Bor Mesin tumbuk (cable tool) Sebetulnya sulit untuk melakukan penggolongan metoda pengeboran. Alat bor tangan banyak yang dikembangkan dengan dilengkapi motor kecil, sedangkan banyak alat bor mesin yang dipasang pada truk dirancang untuk pemboran dangkal. Alat bor mesin putar berkisar dari yang portable sampai alat bor raksasa untuk eksplorasi minyak dan gas bumi. C.1 Pemboran Mesin putar Ada berbagai macam jenis mesin bor putar, dari yang portable sampai pemboran raksasa seperti pada pemboran minyak yang dapat mencapai kedalaman beberapa kilometer. Ada berbagai jenis, dari mulai packsack (dapat diangkat di atas punggung) sampai bor besar harus dipreteli atau diangkat di truck. Alat pemboran (yang disebut drilling-rig) dinilai dari kemampuannya untuk mencapai kedalaman, kemampuan pengambilan conto batuan dan kemampuan menentukan arah. Selain itu juga kemampuan bergerak di medan

11
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

merupakan salah satu hal diperhatikan. Mesin-mesin pemboran putar ini mempunyai prinsip yang sama, namun berdasarkan kemampuannya dapat dibagi sebagai berikut : Bor mesin ringan (portable drilling rig) Bor mesin inti (diamond drilling rig) Bor mesin rotari (rotary drilling rigs) Bor mesin alir-balik (counterflush drilling rig) C.2 Prinsip operasi mesin pemboran putar 1) Pada prinsipnya pemboran mesin putar mempunyai prinsip yang sama, yaitu : Lubang dalam formasi dibuat oleh gerakan putar dari pahat untuk mengeruk batuan dan menembus dengan suatu rangkaian batang bor yang berlobang (pipa). 2) Rangkaian pipa bor disambungkan pada mesin sumber penggerak dengan berbagai macam alat transmisi, seperti kelly dan rotary table, chuck ataupun langsung. 3) Sumber penggerak (mesin bensin, diesel dan sebagainya) atau dengan perantaraan kompresor/motor listrik. 4) Pelumas/pendingin (air, lumpur, udara). Cairan pelumas dipompakan lewat pipa, keluar lewat pahar bor kembali lewat lobang bor di luar pipa (casing) atau sebaliknya. 5) 6) Pompa sebagai penggerak/penekan cairan pelumas. Pipa/batang di atas tanah ditahan/diatur dengan menggantungkannya pada suatu menara/derrick dengan sistem katrol atau dipandu lewat suatu rak (rack) untuk keperluan menyambungnya atau mencabut serta melepaskannya dari rangkaian. 7) Untuk memperdalam lubang bor rangkaian pipa bor ditekan melalui putaran rotary gearbox secara hidrolik atau mekanik maupun karena bebannya sendiri. 8) Conto batuan hasil kerukan mata bor didapatkan sebagai :

12
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

a) Serbuk atau tahi bor (drill-cuttings) yang dibawa ke permukaan oleh lumpur bor (mud pump) atau air pembilas. Serbuk penggerusan batuan dibawa oleh air pembilas ke permukaan sambil mendinginkan mata bor. b) Inti bor (drill core) yang diambil melalui bumbung pengambil inti (corebarrel). 9) Untuk pengambilan inti mata bor yang digunakan bersifat bolong di tengah sehingga batuan berbentuk cilinder masuk ke dalamnya dan ditangkap oleh corebarrel. Mata bor ini biasanya menggunakan diamond bit ataupun tungsten widia baja. 10) Bumbung inti (corebarrel) diangkat ke permukaan a) Dicabut dengan mengangkat seluruh rangkaian batang bor ke permukaan setiap kali seluruh bumbung terisi. (conventional system drilling) b) Dicabut lewat tali kawat (wireline system drilling) melalui lubang pipa dengan kabel seling. 11) Pipa selubung penahan runtuhnya dinding lubang bor (casing) dipasang setiap kedalaman tertentu tercapai, untuk kemudian dilanjutkan dengan matabor yang berukuran kecil (telescoping). Pipa selubung dipasang untuk mengatasi adanya masalah seperti masuknya air formasi secara berlebihan (water influks), kehilangan sirkulasi lumpur pemboran karena adanya kekosongan, dalam formasi, atau lemahnya lapisan yang ditembus. Dalam mendesain program pemboran dan memilih jenis alat bor harus diperhatikan : 1) Kapasitas kedalaman (tergantung dari) : a) Besanya kekuatan mesin sumber pengerak yang dinyatakan dengan Tenaga Kuda (HP). b) Kekuatan alat penyangga atau menara serta derek untuk menarik beban rangkaian sampai kedalaman yang dituju. c) d) Besarnya garis tengah pipa bor sesuai dengan besarnya inti yang diminta. Kekuatan pompa untuk dapat menyalurkan lumpur sampai kedalaman yang dituju.

13
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

2)

Mobilitas, dapat bergerak sendiri (skids, truck) atau kemungkinan untuk dipreteli atau/dan diangkat dengan tenaga manusia ataupun dengan helicopter.

3) 4) 5)

Kemampuan pemboran miring. Keperluan dan besarnya inti yang diminta. Perolehan inti (core recovery) (tergantung dari jenis corebarrel)

Penggolongan Mesin Bor Putar C.3 Mesin Bor Ringan (Power Rig) Khas dari pemboran ini selain mudah diangkut secara manual adalah pada umumnya menggunakan topdrive dengan motor bakar kecil (2 tak) yang ikut turun naik dengan turun/naiknya batang bor yang dipandu oleh rel atau rack. Tekanan pada matabor dapat ditingkatkan dengan menyuruh orang mendudukinya (awak mesin bor 20-26).

Alat bor ini dapat dipreteli dalam bahagian-bahagian kecil dan dapat diangkut oleh orang secara manual. Kapasitas alat bor ini hanya maksimum 50-60 meter, banyak digunakan untuk pemboran seismik (shot holes) dan sering merupakan rakitan sendiri dengan menggunakan mesin pompa. C.4 Portable Drill Rig Top Drive (Jacro) /Rakitan lokal Termasuk alat bor dari mulai kapasitas kecil sampai dengan Kapasitas Besar (Max Drilling Depth.) Mesin bor ini sangat familiar sekali akhir-akhir tahun ini atau yang disebut dengan mesin bor Jacro, yang dipakai untuk pemboran eksplorasi khususnya batubara dan menara bor langsung berdiri/menyatu dengan mesin. Mesin bor Jacro ini bergerak atau berputar melalui sistem hidrolik berbeda dengan mesin teknik/spindel yang menggunakan gigi untuk penetrasi kekuatan pemboran, Engine Power Penggerak di mulai dari kekuatan 10 HP 60 HP disesuaikan dengan kebutuhan kedalaman pemboran. Banyak Unit bor ini digunakan dikarenakan simple dan cocok untuk moving bisa

14
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

di preteli/knock down/ataupun bisa tarik winch dan penetrasi pemborannya cepat pada formasi normal. Adapun tipe-tipe unit bor Jacro yang disesuaikan dengan kapasitas pemborannya ( Depth Capacity) sbb : Jacro 100 menggunakan Engine power kisaran 8 Hp 10 Hp Jacro 150 menggunakan Engine power kisaran 12 Hp 15 Hp Jacro 175 menggunakan Engine power kisaran 16 Hp 24 Hp Jacro 200 menggunakan Engine power kisaran 24 Hp 28 Hp Jacro 250 menggunakan Engine power kisaran 30 Hp 40 Hp Jacro 500 menggunakan Engine power kisaran 40 Hp 60 Hp

C.5 Teknis Pelaksanaan Pemboran : Unit Rig yang dipakai yaitu Jacro dengan rencana kedalaman pemboran per titik yaitu 100 meter/hole dengan NQ Size. Lubang bor yang di dapat yaitu berdiameter 75 mm dan core/sample yang di dapat 45-46 mm. Pemboran dilakukan secara open hole maupun touch coring/part core. Pemboran open hole dilakukan hanya untuk melubangi titik bor tertentu saja, dan lithologi dilihat dari hasil cutting pemboran yang naik ke atas permukaan lubang bor oleh pompa bor/pompa pembilas/ mud pump. Pemboran touch coring di lakukan dengan cara open hole dan coring, yaitu akan adanya pengambilan sample/core apabila ada terindikasi batubara dilihat dari cutting yang naik, perbedaan putaran bor, maupun perintah pengawas/wellsite geologis. Pemboran dilakukan dengan menggunakan matabor/wingbit/Drag bit/PDC berukuran NQ untuk menghasilkan lubang bor berdiameter 75mm yang disambungkan ke pipa bor/ pipe rod (untuk tipe pipa bor yang digunakan tidak terlalu di permasalahkan, yang penting hasil lubang dan sample nya NQ Size) dan pengambilan sample/core apabila terindikasi

15
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

keterdapatan batubara maka akan di pasang corebarrel NQ panjang 1,5 meter / 5 feet dan core yang didapat 45-46mm(NQ Size). Teknis pelaksanaan nya yaitu matabor yang digunakan untuk open hole diangkat dulu dan selanjutnya dipasang corebarrel untuk pengambilan sample/conto. Sistem jam kerja : 10 jam kerja/sift ( 7 pagi 5 sore/day sift) 9 jam kerja/sift ( 6 sore 3 pagi /night sift) 7 days/week

Drilling supervisor/korlap : 1 orang Kru/team pemboran Rig (6 orang): 3 orang master drill/juru bor 6 orang asisten master drill 9 orang helper

Mekanik/maintenance Rig : 2 orang Logistik : 3 orang Driver : 1 orang Security/waker untuk di Rig : 2 orang/Rig X 2 Rig = 4 orang
PUSTAKA 1) Badan Standardisasi Nasional, 1998, Standar Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan Cadangan, SNI No. 13-4726-1998. 2) Badan Standardisasi Nasional, 1998, Standar Klasifikasi Sumber Daya dan Cadangan Batubara, SNI No. 13-5014-1998. 3) Evans, A.M., Editor, 1995, Introduction to Mineral Exploration, Blackwell Science, Ltd. 16
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG

4) Kreiter, V.M., 1961, Prospeksi dan Eksplorasi Endapan Bahan Galian, 2 jilid, Edisi kedua, Gosgeoltekhizdat, Moskva (dalam bahasa Rusia). 5) Machali Muchsin, A., 1999, Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan Cadangan. Naskah/ bahan kuliah disampaikan dalam Kursus Pembinaan dan Pengawasan Eksplorasi, diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan (PPTP) Tanggal 26 Agustus sampai dengan 24 September 1999. 6) McKinstry, H.E., 1962, Mining Geology, Prentice Hall Inc., Modern Asia Edition. 7) Peters, W.C., 1978, Exploration and Mining Geology, John Wiley & Sons, New York. 8) The Resources and Reserves Committee, 1999, Guide for Reporting Exploration Information, Resources and Reserves, (Submitted to The Board of Directors of The Society of Mining, Metallurgy and Exploration Inc.), 17 pp. 9) United Nations, Economic Commission for Europe, 1997(?), United Nations International Framework Classification for Reserves/Resources Solid Fuels and Mineral Commodities, 23 pp.

17
TEKNIKAL PROPOSAL EKPLORASI BATUBARA DI KEC. BINTANG ARA, KAB. TABALONG