Anda di halaman 1dari 16

TANTANGAN AHLI GEOLOGI DALAM KEBERLANJUTAN ENERGI NASIONAL

Tema: Tantangan Ahli Geologi dalam Pembangunan Nasional

Makalah Disusun sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun oleh: Tedy Ardiansyah Ali Fahmi (270110120007) (270110120034)

Muhammad Ichsan Rizky (270110120133) Reza Fikri Nurfadillah Gilang Caesario (270110120132) (270110120157)

Nanda Najih Habibil Afif (270110120183)

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

TANTANGAN AHLI GEOLOGI DALAM KEBERLANJUTAN ENERGI NASIONAL


Tema: Tantangan Ahli Geologi dalam Pembangunan Nasional

Makalah Disusun sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun oleh: Tedy Ardiansyah Ali Fahmi Muhammad Rizky Reza Fikri Nurfadillah (270110120007) (270110120034) (270110120133) (270110120132)

Nanda Najih Habibil Afif (270110120183)

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Tantangan Ahli Geologi Dalam Keberlanjutan Energi Nasional sebagai bahan penyelesaian tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan 2013. Kami menyadari penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak kami butuhkan guna penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Sumedang, 19 Mei 2013

DAFTAR ISI

Halaman judul 1 ..................................................................................................1 Halaman judul 2 ..................................................................................................2 Kata Pengantar ....................................................................................................3 Daftar Isi..............................................................................................................4 Bab 1. Pendahuluan ............................................................................................5 1.1 Latar Belakang .................................................................................5 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................7 1.3 Tujuan Penulisan ...............................................................................7 1.4 Manfaat Penulisan .............................................................................7 Bab 2. Pembahasan ............................................................................................8 2.1 Ahli Geologi .....................................................................................8 2.2 Energi Nasional dan Diversifikasinya ..............................................8 2.3 Sumber Energi Alternatif ..................................................................10 2.4 Tantangan Ahli Geologi dalam Keberlanjutan Energi Nasional .......14 Bab 3. Penutup ...................................................................................................15 3.1 Kesimpulan........................................................................................15 3.2 Saran ..................................................................................................15 Daftar Pustaka .....................................................................................................16

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Energi nasional saat ini tengah mengalami defisit ditinjau dari segi sumber dan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya ketergantungan negara terhadap sumber daya yang berasal dari bahanbakar fosil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (2008), lebih dari 90% sumber energi nasional masih terfokus pada bahan bakar minyak. Ironisnya, fenomena ini terjadi ditengah limpahan kekayaan sumber daya alam yang sangat potensial untuk dijadikan sumber energi lain guna memenuhi kebutuhan energi nasional. Dalam industri pertambangan, seseorang yang berprofesi sebagai ahli geologi adalah yang bertugas untuk mencari, menghitung nilai ekonomis cadangan bahanbahan galian atas dasar datadata geologi yang dikumpulkannya baik data permukaan bumi maupun bawah permukaan bumi. Data data geologi ini adalah data dasar yang sangat penting selain untuk mencari dan menghitung cadangan, juga sangat penting dalam perencanaan tambang itu sendiri. Setelah bahan galian ditemukan dan bernilai ekonomis, barulah bahan galian itu dibongkar, dimuat dan diangkut. Inilah profesi tambang ilmu tambang yang sebenarnya. Jadi jelaslah bahwa profesi geologi adalah tenaga eksplorasi sedangkan profesi tambangilmu tambang sebagai tenaga eksploitasi. Suatu data geologi berisi datadata penting dan dapat diterjemahkan ke dalam informasi yang dapat digunakan langsung untuk memecahkan persoalan eksplorasi bahan galian, persoalan lingkungan maupun persoalan keteknisan lainnya. Keadaan geologilah yang menentukan tingkat kesuburan tanah untuk pertanian, banyaknya air yang bisa tersedia bagi kehidupan seharihari, banyaknya minyak bumi, batubara dan energi lainnya, banyaknya bahan galian / mineral untuk industri, bahan bangunan untuk konstruksi dan juga ada tidaknya

letusan gunung api, gerakan tanah, longsor dan bencana alam lainnya yang mengancam keselamatan manusia. Saat ini optimalisasi ahli geologi belum dilakukan untuk menyumbang kemampuannya secara baik dalam pembangunan energi nasional. Hal ini dipicu oleh pemerintah yang belum memberi perhatian terhadap kekayaan aset nasional yang perlu dikelola secara baik dan benar. Berdasarkan demikia, Penulis tertarik utnuk menyususn karya tulis ilmiah ini.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana peran ahli geologi dalam keberlanjutan energi nasional?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan penulisan ini adalah untuk mengetahui peran ahli geologi dalam keberlanjutan energi nasional.

1.4 Manfaat penulisan Manfaat penulisan ini adalah: 1. Memberikan inspirasi terhadap potensi sumber daya manusia terutama dibidang geologi di Indonesia. 2. Mengoptimalkan potensi sumber daya alam di Indonesia di bidang energi dan sumber daya mineral. 3. Mewujudkan energi ansional yang berkelanjutan.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Ahli Geologi Dalam industri pertambangan, seseorang yang berprofesi sebagai ahli geologi adalah yang bertugas untuk mencari, menghitung nilai ekonomis cadangan bahan bahan galian atas dasar data data geologi yang dikumpulkannya baik data permukaan bumi maupun bawah permukaan bumi. Data data geologi ini adalah data dasar yang sangat penting selain untuk mencari dan menghitung cadangan, juga sangat penting dalam perencanaan tambang itu sendiri. Setelah bahan galian ditemukan dan bernilai ekonomis, barulah bahan galian itu dibongkar, dimuat dan diangkut. Inilah profesi tambang ilmu tambang yang sebenarnya. Jadi jelaslah bahwa profesi geologi adalah tenaga eksplorasi sedangkan profesi tambang ilmu tambang sebagai tenaga eksploitasi. Suatu data geologi berisi data data penting dan dapat diterjemahkan ke dalam informasi yang dapat digunakan langsung untuk memecahkan persoalan eksplorasi bahan galian, persoalan lingkungan maupun persoalan keteknisan lainnya. Keadaan geologilah yang menentukan tingkat kesuburan tanah untuk pertanian, banyaknya air yang bisa tersedia bagi kehidupan sehari hari, banyaknya minyak bumi, batubara dan energi lainnya, banyaknya bahan galian / mineral untuk industri, bahan bangunan untuk konstruksi dan juga ada tidaknya letusan gunung api, gerakan tanah, longsor dan bencana alam lainnya yang mengancam keselamatan manusia.

2.2 Energi Nasional dan Diversifikasinya Secara umum kebijakan energi nasional lebih bertumpu pada energi yang berasal dari fosil, terutama bahan bakar minyak (BBM). Khusus tentang penyediaan energi listrik dari kapasitas PLN yang terpasang, sebesar 72,85% energi dihasilkan dari bahan bakar fosil yang terdiri: 28,58% berasal dari

pembangkit berbahan bakar gas, 25,28% dari minyak bumi, dan 18,99% berasal dari batu bara. Sedangkan tenaga listrik yang dihasilkan oleh tenaga air sebesar 11,96%, dan yang dihasilkan oleh panas bumi sebesar 1,51%. Harga BBM yang mencapai antara 60 70 US dollar per barel berdampak terhadap semakin mahalnya biaya penyediaan tenaga listrik nasional. Hal ini diperumit lagi dengan kemampuan negara untuk menanggung subsidi semakin menurun, sehingga TDL selalu mengalami kenaikan secara signifikan. Keadaan ini diperparah lagi dengan perilaku penguasaha yang mematikan generator listriknya pada saat beban puncak. Masalah ini ditambah dengan semakin tuanya pembangkit milik PLN yang berdampak terhadap terjadinya krisis tenaga listrik pada saat beban puncak. Pemadaman listrik secara bergilir akan berdampak terhadap menurunnya produktivitas perekonomian. Ketiadaan tenaga listrik secara kontinu akan mematikan industri kecil dan menengah yang rata-rata tidak memiliki sumber daya cadangan untuk menghadapi black out. Kebijakan hemat listrik nasional di satu sisi akan mengurangi konsumsi listrik, tetapi di sisi yang lain akan mengurangi kualitas kehidupan manusia. Tertundanya operasi medis, macetnya jalan raya, pembatasan jam tayang TV dan siaran radio merupakan bukti kongkret yang dialami masyarakat. Ahli energi membagi energi menjadi 3 bagian, yaitu: energi fosil (minyak bumi, batubara, dan gas alam), energi nuklir, dan energi terbarukan. Sifat dasar energi yang berasal dari fosil adalah tidak terbarukan, sehingga ada kemungkinan sumber energi ini akan habis jika digunakan secara terus menerus. Padahal proses pembentukan energi jenis ini diperlukan waktu yang sangat panjang. Di samping itu energi yang berasal dari fosil akan menyebabkan pencemaran air, udara, dan tanah yang luar biasa. Energi nuklir berasal dari proses fisi inti radioaktif, yang dapat menimbulkan energi panas. Sedangkan energi terbarukan biasanya berasal dari bahan nabati. Tujuan diversifikasi energi untuk pembangkitan listrik diharapkan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, menjamin kecukupan untuk pembangkit, bersifat sustainable, dan mengurangi pencemaran lingkungan. Langkah yang diambil oleh PLN untuk beralih dari penggunaan minyak bumi ke batubara dan gas merupakan kebijakan yang "bijaksana" pada saat ini.

PLN dalam jangka pendek akan mengganti 12 pembangkitnya dengan menggunakan bahan bakar LPG ( liquid petroleum gas). Secara kimiawi LPG lebih baik jika dibandingkan dengan LNG, karena LPG termasuk kategori hidrokarbon C3-C4 (Propana dan Butana), sedangkan LNG C1-C2 (Methana). Di samping itu potensi LPG di Indonesia sangat besar yaitu sebesar 68,87 triliun kaki kubik yang terdiri atas cadangan non-associated gas sebesar 60 triliun dan cadangan associated gas sebesar 8,87 triliun kaki kubik. Cadangan tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan cadangan terbesar berada di Pulau Natuna, Kalimantan Timur, dan NAD. Dengan menggunakan LPG maka PLN akan menikmati penghematan sebesar Rp. 1.950, 00 per liter jika dibandingkan dengan HSD (high solar diesel ). Penghematan ini berdasarkan perhitungan selisih harga antara LPG dan HSD. Harga LPG impor sekitar US$ 380 per-ton, sedangkan harga HSD sebesar Rp. 4.800 per liter. Sedangkan harga dalam negeri LPG sekitar US$ 320 per ton dan HSD sebesar Rp 4.300. Beban biaya tambahan yang harus ditanggung PLN antara lain penyediaan tempat penampungan LPG beserta segala infrastrukturnya atau menanggung biaya sandar kapal jika menggunakan kapal sebagai tempat penampungannya. Menggunakan kapal pengangkut sebagai penampungan LPG membawa kemudahan untuk pendistribusiannya sehingga keterlambatan stok energi bagi pembangkit dapat dikurangi, tetapi di sisi yang lain PLN akan menanggung biaya sandar kapal sekitar US$ 10.000/hari. Selain gas, bahan bakar fosil yang tersedia berlimpah di Indonesia yaitu batubara. Potensi cadangan batubara di Indonesia sekitar 36,34 X 109 ton, yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Dengan menggunakan R/P ratio (rasio antara reserve dan production), maka batubara akan habis sekitar 500 tahun lagi, sedangkan BBM dan gas alam akan habis 16 dan 34 tahun lagi. Fakta ini menunjukkan bahwa batubara merupakan sumber energi fosil yang paling berlimpah di Indonesia. Pangsa batubara sebagai sumber energi primer saat ini hanya sekitar 9%, dari jumlah tersebut yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik baru menghasilkan 18,99% dari kapasitas terpasang milik PLN. Saat ini pemanfaatan batubara masih sebatas untuk kebutuhan rumah tangga dan sebagai komoditi ekspor. Di sisi yang lain penggunaan batu bara sebagai sumber

10

energi akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Pemanfaatan gas methana yang berada pada lapisan batubara merupakan salah satu kebijakan yang patut dipertimbangkan. Hal ini karena Indonesia mempunyai cadangan gas methana sebesar 1,4 kali jumlah yang ada sekarang. Batubara yang ada tidak perlu diangkat ke permukaan, tetapi dirubah dengan menggunakan teknik pencairan di bawah tanah kemudian gasnya diambil. Manfaatnya akan mengurangi biaya

penambangan dan bersih lingkungan. Dengan melakukan diversifikasi energi dan tidak bertumpu pada BBM maka keberlanjutan penyediaan tenaga listrik mempunyai harapan yang cerah. Harus tetap pula disadari bahwa batubara dan gas juga bersifat non renewable resources, sehingga dalam jangka panjang perlu dilakukan pengunaan energi alternatif dan sebaiknya dimasukan dalam kebijakan energi nasional. Subsidi dana penelitian dan pengembangan serta kebijakan alih energi alternatif merupakan faktor penting untuk sukesnya kebijakan energi nasional.

2.3 Sumber Energi Alternatif Di Indonesia sumber energi alternatif sangat banyak dan berlimpah yang terdapat di air, udara, dan terkandung dalam perut bumi. Menurut UU RI No. 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan mengharuskan untuk menggunakan energi primer setempat yang ramah lingkungan dengan prioritas utama untuk menggunakan sumber energi yang terbarukan. Diversifikasi energi untuk pembangkitan listrik diharapkan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, menjamin pasokan listrik, dan mengurangi pencemaran lingkungan. Energi alternatif yang digunakan untuk pembangkitan listrik harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut: 1) Layak secara ekonomi, 2) Kemampuan penguasaan teknologi, 3) Bersifat renewable (terbarukan), dan 4) Mempunyai dampak pencemaran lingkungan yang paling minimal. Beberapa dekade yang lalu telah dikembangkan pembangkit listrik tenaga angin, dengan memanfaatkan tenaga angin untuk menggerakkan generator listrik. Teknik ini diilhami oleh penggunaan tenaga angin di Belanda dengan menggunakan kincir angin untuk memecahkan biji-bijian. Penggunaan tenaga surya yang ditampung dalam panel surya untuk pembangkit listrik juga pernah

11

diujicobakan. Dalam skala kecil dan terutama untuk daerah yang terpencil penggunaan energi angin dan tenaga surya untuk pembangkit listrik bisa menjadi alternatif solusi yang baik. Walaupun secara teknis memungkinkan, tetapi penggunaan sumber daya dari angin dan tenaga surya tidak disarankan untuk pembangkit listrik dalam skala besar. Hal ini disebabkan penggunaan tenaga angin dan surya dalam skala besar dirasa kurang efisien untuk menggerakkan generator listrik. Sumber energi untuk pembangkit listrik yang berasal dari tenaga air sudah diadopsi PLN dalam bentuk pembangunan PLTA. Kapasitas penyediaan tenaga listrik dari instalasi PLTA hanya berkisar 11,96%. PLTA biasanya memanfaatkan gaya grafitasi bumi dari air terjun untuk menggerakkan generator listrik. Kecukupan pasokan air merupakan salah satu faktor yang harus tetap dijaga untuk menjamin pembangkit berjalan dengan optimal. Bahan bakar PLTA secara tidak langsung disediakan oleh tenaga surya melalui proses daur hidrologi. Mungkin PLTA merupakan salah satu pemanfaatan energi surya yang paling layak digunakan dan ekonomis. Potensi laut Indonesia dapat dijadikan sumber energi yang terbarukan. antara lain: Memanfaatkan energi gelombang, energi yang timbul dari perbedaan suhu antara permukaan air laut dan dasar air laut ( ocean thermal energy/OTEC), energi yang disebabkan oleh perbedaan tinggi air laut akibat pasang-surut, dan energi arus laut. Energi gelombang paling tidak dapat diprediksi, karena sangat tergantung pada cuaca. Sedangkan OTEC, pasang-surut, dan energi arus laut potensinya dapat diprediksi. Di samping itu laut juga mempunyai potensi sumber daya energi yang tak terbarukan yaitu methane hydrate. Methane hydrate adalah senyawa padat campuran antara gas methan dan air yang terbentuk di laut dalam akibat adanya tekanan hidrostatik yang besar dan suhu yang relatif rendah dan konstan di kedalaman lebih dari 1.000 meter. Di Indonesia energi arus laut memberikan harapan yang besar untuk dapat digunakan sebagai sumber energi bagi penyediaan listrik. Letak Indonesia yang berada di antara dua samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia menyebabkan Indonesia sebagai pertemuan antara kedua arus yang terjadi. Banyaknya pulau dan selat di Indonesia mengakibatkan terjadinya percepatan arus

12

laut akibat interaksi antara bumi-bulan-matahari ketika melewati selat-selat tersebut. Kendala penerapan arus laut untuk pembangkit listrik antara lain: Satu; Sumber arus laut di Indonesia sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, sehingga memerlukan riset yang lebih mendalam. Dua; Output-nya mengikuti grafik sinusoidal sesuai dengan respons pasang surut akibat gerakan interaksi Bumi-Bulan-Matahari. Pada saat pasang purnama, kecepatan arus akan deras sekali, saat pasang perbani, kecepatan arus akan berkurang kira-kira setengah dari pasang purnama. Tiga; Biaya instalasi dan pemeliharaannya sangat mahal. Dua permasalahan terakhir dapat diatasi dengan menyetel peralatan pada saat arus laut paling kecil, dan perbaikan pada desain sistem turbin, roda gigi, dan sistem generator yang dapat bertahan dalam waktu yang lama (sekitar 5 tahun) tanpa perawatan khusus. Sumber energi terbarukan lainnya yaitu pengoptimalan pemanfaatan energi panas bumi (geothermal). Menurut data dari Indonesia Power potensi energi panas bumi di Indonesia hanya dimanfaatkan sebesar lima persen saja, dari 16.035 megawatt potensi yang ada baru dimanfaatkan sebesar 780 megawatt. Kapasitas terpasang PLN yang dihasilkan dari panas bumi hanya sebesar 1,51% dari keseluruhan tenaga listrik yang dihasilkan. Potensi tenaga panas bumi tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di sepanjang jalur pegunungan bagian selatan, yaitu di Sumatera sebesar 4.885 megawatt, di JawaBali sebesar 8.101 megawatt, di Sulawesi sebesar 1.500 megawatt, dan di pulaupulau lainnya sebesar 1.550 megawatt. Hambatan yang dihadapi dalam pemanfaatan energi dari panas bumi antara lain: Satu; Biasanya energi panas bumi terdapat di daerah terpencil. Sumber panas bumi biasanya terdapat pada daerah pegunungan yang memiliki ketinggian di atas 1.000 Mdpl.Dua; Mahalnya biaya investasi dan kecilnya tenaga listrik yang dihasilkan ke sistem

interkoneksi. Ketiga; Tidak adanya perangkat hukum tentang pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia, sehingga harga panas bumi Pertamina masih mengikuti harga BBM atau sekitar Rp 582.4/Kwh. Ahli-ahli biologi dan kimia menawarkan alternatif sumber energi dengan menggunakan energi biogas, yaitu pembangkit berbahan bakar sampah, sisa-sisa produksi, gambut, dan semacamnya. Sampah hutan yang berupa limbah kayu

13

gergajian, potongan kayu tak terpakai bisa dimanfaatkan sebagai sumber alternatif penghasil energi. Dari proses biogas akan dihasilkan gas methan yang jika di bakar akan menghasilkan energi panas. Gas methan terbentuk karena proses fermentasi secara mendadak (tanpa udara) oleh bakteri methan atau disebut juga bakteri anaerobik dan bakteri biogas yang mengurangi sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik (biomassa). Pemanfaatan biogas di Indonesia masih sebatas untuk konsumsi rumah tangga, dan belum dimanfaatkan untuk penyediaan energi bagi kalangan industri Teknologi pengolahan sampah menjadi biogas memerlukan alat yang disebut alat pembangkit biogas atau digester. Teknologi pengolahan biogas ini banyak dimanfaatkan oleh India yang memiliki 400.000 alat pembangkit biogas. Potensi sektor pertanian yang menghasilkan tanaman sawit, jarak, tebu, ubi, dan sagu. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Kalimantan, Sumatera, dan di Papua untuk sagu. Potensi sektor pertanian ini dapat diubah menjadi energi bio diesel, terutama tanaman jarak. Pada masa perang dunia II rakyat Indonesia "dipaksa" oleh penjajah Jepang untuk menanam jarak. Oleh Jepang tanaman jarak dirubah menjadi minyak jarak untuk bahan baku pelumas bagi pesawat terbang. Dalam perkembangannya minyak jarak dapat dirubah menjadi energi biodiesel. Teknologi untuk mengubah minyak jarak menjadi biodiesel sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Tinggal menunggu pemerintah mengeluarkan kebijakan tata niaga, kebijakan harga, dan insentif sehingga energi ini dapat diperdagangkan. Pengembangan teknologi biodiesel di samping akan menyediakan pasokan energi biodiesel, juga dapat memberikan jenis tanaman alternatif bagi petani. Hal ini ditunjang oleh hasil riset BPPT yang mampu mempersingkat umur tanaman jarak dan memberikan hasil panen yang berlimpah.

2.4 Tantangan Ahli Geologi Dalam Keberlanjutan Energi Nasional Tantangan ahli geologi memang sangat penting dalam hal pembangunan nasional, terutama dalam membina keberlanjutan energi nasional. Minyak dan gas bumi (migas) adalah sumber daya hidrokarbon yang tidak dapat diperbaharui. Untuk menemukan dan menambah cadangan migas, cara yang harus ditempuh adalah melalui kegiatan eksplorasi. Sebab, pada hakikatnya, setiap migas yang

14

diproduksi wajib diganti dengan cadangan baru sebesar migas yang diproduksi. Ini yang dinamakan reserve replacement ratio. Namun, tentu saja kegiatan eksplorasi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Eksplorasi disebut juga penjelajahan atau pencarian, merupakan tindakan mencari atau melakukan perjalanan dengan tujuan menemukan sesuatu. Dalam dunia migas, eksplorasi atau pencarian migas merupakan suatu kajian panjang yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk kajian dasar, riset dilakukan oleh para geologis, yaitu orang-orang yang menguasai ilmu kebumian. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas pencarian hidrokarbon tersebut. Kajian geologi merupakan kajian regional. Jika secara regional tidak memungkinkan untuk mendapat hidrokarbon, maka tidak ada gunanya untuk diteruskan. Setelah kajian secara regional dengan menggunakan metoda geologi dilakukan, dan hasilnya mengindikasikan potensi hidrokarbon, tahap selanjutnya adalah tahapan kajian geofisika. Pada tahapan ini, metoda-metoda khusus digunakan untuk mendapatkan data yang lebih akurat guna memastikan keberadaan hidrokarbon dan kemungkinannya untuk dapat diekploitasi. Berdasarkan paparan tersebut, dapat diketahui bahwa ahli geologi memiliki peran sangat penting dalam hal pencarian sumber energi terbarukan. Hal ini sangat penting guna untuk memaksimalkan laju pembangunan nasional. Energi yang perlu dimaksimalkan penggunaannya dan pencariannya seperti migas, geotermal, batu bara, dan lain-lain.

15

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa ahli geologi memiliki peran sangat penting dalam hal pencarian sumber energi terbarukan. Hal ini sangat penting guna untuk memaksimalkan laju pembangunan nasional. Energi yang perlu dimaksimalkan penggunaannya dan pencariannya seperti migas, geotermal, batu bara, dan lain-lain.

3.2 Saran 1. Hasil dari penulisan ini perlu diperhatikan sebagai acuan optimalsiasi peran ahli geologi dalam pembangunan nasional, terutama dibidang energi nasional. 2. Pemerintah sebagai subyek inflamator ilmu pengetahuan perlu memaksimalkan peran geologi dalam memaksimalkan penelitian lebih lanjut guna menyumbang sumber energi nasional yang lebih banyak

16

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Peran Ahli Geologi dalam Penemuan Cadangan Migas melalui Eksplorasi.http://migasreview.com/peran-ahli-geologi-dalam-penemuancadangan-migas-melalui-eksplorasi.html (diakses tanggal 19 Mei 2013). Kuswanto, Agus. 2009. Perlunya Profesi Geologi Pada Perencanaan Pengembangan Wilayah. http://aguskuswanto.wordpress.com/mariberdiskusi/opini/ (diakses tanggal 19 Mei 2013). Jppn. 2013. Pertamina Hanya Kuasai 15 Persen Energi Nasional. http://www.jpnn.com/read/2013/04/06/166149/Pertamina-Hanya-Kuasai15-Persen-Energi-Nasional (diakses tanggal 19 Mei 2013). Pertamina. 2013. Pertamina Tandatangani PSC MNK Pertama di Indonesia. http://www.pertamina.com/NewsPageDetail.aspx?act=NewsRelease.aspx &id=958 (diakses tanggal 19 Mei 2013).