Anda di halaman 1dari 15

UJIAN HUKUM LINGKUNGAN

ANALISIS LINGKUNGAN

STUDI KASUS

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN MANGAN (PT. RAKHSA INTERNATIONAL MINING) DI DESA LANTE, NUSA TENGGARA TIMUR DITUNTUT WARGA

OLEH HALVINA GRASELA SAIYA 11/326433/PMU/07312

DOSEN PENGAMPU: Dr. Harry Supriyono, S.H., M.Si

SEKOLAH PASCASARJANA MAGISTER PENGELOLAAN LINGKUNGAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

ANALISIS LINGKUNGAN
STUDI KASUS

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN MANGAN (PT. RAKHSA INTERNATIONAL MINING) DI DESA LANTE, NUSA TENGGARA TIMUR DITUNTUT WARGA

LATAR BELAKANG KASUS Warga Lante menuntut perusahaan pertambangan yang beroperasi di desa mereka segera berhenti beroperasi. Adapun beberapa hal yang melatarbelakangi tuntutan warga ini adalah: 1. Ternak sapi warga yang minum air pada sumber air yang teraliri limbah tambang menjadi mati dan sumber air banyak yang hancur. Sehingga warga harus mencari sumber air yang tentunya jaraknya lebih jauh yakni berkilo-kilo meter dari jarak sumber air yang telah tercemar tersebut. 2. Menurut salah seorang warga: PT Raksha International Mining (RIM) beroperasi sejak September 2012, dan sejak saat itu dua sumber mata air yang penting untuk pertanian hancur. 3. Warga menyampaikan keberatan secara lisan ke perusahaan, tetapi tidak diperhatikan. Warga juga menyampaikan keberatan secara tertulis, tetapi tidak ada tanggapan. 4. Menurut salah satu anggota DPRD: persoalan tambang memecah belah warga karena prokontra soal tambang. 5. Saat ini tambang di NTT dianggap sebagai sumber pemiskinan masyarakat. Hal ini dikarenakan sebagian besar tambang dilakukan di dataran tinggi tempat sumber air dan di kawasan pesisir tempat sumber penghidupan banyak orang terutama nelayan. 6. Permintaan ganti rugi dari warga desa belum ditanggapi oleh pihak PT. RIM. Padahal sebenarnya permintaan ganti rugi dari warga ini tidak sebanding dengan keuntungan yang

diperoleh PT RIM karena mereka telah mengangkut batu mangan dari tempat itu sebanyak 40 truk atau sekitar 7.000 ton bat mangan ke Pelabuhan di Kedindi, Reo.

Keuntungan dari 7.000 ton sekitar Rp 100 miliar.

7. Rencana moratorium yang dikemukakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyatakan bahwa pertambangan di NTT akan dihentikan sementara, hanya sebatas janji dan belum dilakukan. 8. Salah satu tokoh pemuda dan masyarakat mengemukakan bahwa: pertambangan di NTT berlawanan/bertentangan dengan kebijakan nasional dalam Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3E), yang menetapkan Koridor BaliNusa Tenggara (Bali, NTB, NTT) sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional, dengan kegiatan utamanya adalah pariwisata, peternakan, dan perikanan. Di banyak tempat, lahan untuk pertanian dan peternakan telah dikonversi secara besar-besaran menjadi lahan tambang. Di tempat lain, lokasi pertambangan di garis pantai bakal

menghancurkan/mencemari laut dan kawasan pariwisata bahari. Bahkan industri pertambangan ini telah membawa korban jiwa (46 orang tertimbun tambang mangan), meresahkan masyarakat dan menyulut gelombang aksi protes yang bermuara pada konflik, baik horizontal maupun vertikal sampai pada kriminalisasi masyarakat lingkar tambang.

Tabel. Kronologis konflik warga Lante dengan PT Raksha International Mining Tanggal Peristiwa warga menghentikan aktivitas dan mengusir perusahaan 3 Desember 2012 serta meminta ganti rugi. Sebagai jaminannya warga menahan alat berat perusahaan di lokasi. ada pertemuan warga dengan perusahaan. Hasilnya, 5 Desember 2012 warga berikan jumlah kerugian kepada perusahaan, dan perusahaan mengurusnya. 6 Desember 2012 dibuat kesepakatan untuk verifikasi di lapangan. Namun perusahaan tidak datang. perusahaan minta bantuan anggota polsek Reo untuk 17 Desember 2012 kawal keluarnya alat-alat, tetapi warga tidak mengizikan. Kapolres Manggarai datang ke lokasi, tapi tidak berdialog dengan warga. 20 Desember 2012 Alat-alat berat telah dikeluarkan secara paksa oleh polisi. Beberapa warga yang melakukan aksi tidur dijalan menyatakan kesanggupan untuk

dipindahkan secara paksa oleh polisi. Sekitar 10 orang warga Lante telah dibawa paksa oleh polisi dengan mobil dalmas menuju Ruteng. Pihak kepolisian tidak

menggubris permintaan masyarakat untuk berdialog dengan pihak perusahaan.

ANALISIS HUKUM Berdasarkan latar belakang kasus yang dialami warga desa Lante terhadap kondisi pertambangan yang merugikan warga, maka dapat dilakukan analisis hukum sebagai berikut: (1) Strategi Penaatan Menurut G.A. Biezeveld (1995): penerapan kekuasaan pemerintah hukum untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan lingkungan dengan cara: a) pengawasan administrasi, b) langkah-langkah administratif atau sanksi, c) pendugaan penyidikan dalam kasus pelanggaran, d) tindakan pidana atau sanksi, e) tindakan sipil. Menurut H.C. Kelman, ketaatan hukum menjadi 3 jenis, yaitu yang bersifat: 1) compliance, yaitu jika seseorang taat terhadap suatu aturan hanya karena ia takut terkena sanksi; 2) identification, yaitu jika seseorang taat terhadap suatu aturan hanya karena takut hubungan baiknya dengan seseorang menjadi rusak; dan 3) Internalization, yaitu jika seseorang taat terhadap suatu aturan benar-benar karena ia merasa aturan-aturan itu sesuai dengan nilainilai intrinsik yang dianutnya. Sistem Amerika (anglo saxon): sebelum dilakukan penegakan hukum didahului dengan diadakannya persuasi, supervisi, negosiasi agar peraturan hukum atau syarat-syarat izin ditaati (compliance). Sistem Belanda (continental): penegakan hukum adalah meliputi kegiatan pengawasan dan penerapan instrumen administrasi, perdata dan pidana untuk memaksakan pemenuhan atau ketaatan (compliance) atas persyaratan dan kewajiban izin serta peraturan yang berlaku umum.

Terdapat dua teori perilaku penaatan hukum, yaitu teori rasional dan teori normatif:

Teori rasional: mengusulkan agar masyarakat yang diatur mengikuti logika konsekuensi. Teori ini menuntut penegakan hukum berdasakan pencegahan yang efektif melalui pengawasan, respon yang cepat dan tepat serta sanksi yang memadai.

Teori normatif: mengusulkan agar masyarakat yang diatur itu mengikuti logika kepatutan dan lebih bertindak dengan kejujuran. Teori ini menuntut untuk peningkatan penaatan yang lebih dalam, wujud bantuan, insentif dan aktivitas lain.

Strategi penaatan terbagi menjadi: - Behaviour Approach (pendekatan melalui tingkah laku) - Economic Approach (pendekatan melalui ekonomi) - Deterrent Approach (pendekatan melalui cara-cara pencegahan) - Public Pressure Approach (pendekatan melalui tekanan publik)

(2) Penyelesaian Ganti Kerugian, mediasi atau pengadilan Hal-hal tentang penyelesaian ganti rugi, mediasi atau pengadilan dapat dilihat pada beberpa UU (Undang-undang) dan PP (Peraturan pemerintah) yang mengatur tentang hal-hal tersebut, diantaranya: UU no 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan, khususnya pada BAB VIII yang membahas tentang Hubungan Kuasa Pertambangan Dengan Hak-Hak Tanah. Pasal 25: (1) Pemegang kuasa pertambangan diwajibkan mengganti kerugian akibat dari usahanya pada segala sesuatu yang berada di atas tanah kepada yang berhak atas tanah di dalam lingkungan daerah kuasa pertambangan maupun di luarnya, dengan tidak memandang apakah perbuatan itu dilakukan dengan atau tidak dengan sengaja, maupun yang dapat atau tidak dapat diketahui terlebih dahulu. (2) Kerugian yang disebabkan oleh usaha-usaha dari dua pemegang kuasa pertambangan atau lebih, dibebankan kepada mereka bersama. Pasal 26: Apabila telah didapat izin pertambangan atas sesuatu daerah, atau wilayah menurut hukum yang berlaku, maka kepada mereka yang berhak atas tanah diwajibkan memperbolehkan pekerjaan pemegang kuasa pertambangan atas tanah yang bersangkutan atas dasar mufakat kepadanya: a. sebelum pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa pertambangan atau salinannya yang sah, diberitahukan tentang maksud dan tempat pekerjaan-pekerjaan itu akan dilakukan; b. diberi ganti kerugian atau jaminan ganti kerugian itu terlebih dahulu.

Pasal 27: (1) Apakah telah ada hak tanah atas sebidang tanah yang bersangkutan dengan wilayah kuasa pertambangan, maka kepada yang berhak diberikan ganti rugi yang jumlahnya ditentukan bersama antara pemegang kuasa pertambangan dan yang mempunyai hak atas tanah tersebut atas dasar musyawarah dan mufakat, untuk pengantian sekali atau selama hak itu tidak dapat dipergunakan. (2) Jika yang bersangkutan tidak dapat mencapai kata mufakat tentang ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada Menteri. (3) Jika yang bersangkutan tidak dapat menerima penentuan Menteri tentang ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi daerah/wilayah yang bersangkutan. (4) Ganti rugi yang dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3) pasal ini beserta segala biaya yang berhubungan dengan itu dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan. (5) Apabila telah diberikan kuasa pertambangan pada sebidang tanah yang diatasnya tidak terdapat hak tanah, maka atas sebidang tanah tersebut atau bagian-bagiannya tidak dapat diberi hak tanah kecuali dengan persetujuan Menteri. UU no 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara pada Pasal 145: (1) Masyarakat yang terkena dampak negatif langsung dari kegiatan usaha pertambangan berhak: a. memperoleh ganti rugi yang layak akibat kesalahan dalam pengusahaan kegiatan pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b. mengajukan gugatan kepada pengadjlan terhadap kerugian akibat pengusahaan pertambangan yang menyalahi ketentuan. (2) Ketentuan mengenai perlindungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangn. PP no 24 tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara pada Pasal 112B: Persyaratan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi: a. pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; Untuk bidang pertambangan, saat ini peraturan yang berlaku adalah PP no 24 tahun 2012. Maka dengan mengacu pada pernyataannya pada pasal 112B ayat (3) bahwa: mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, maka inipun mensyaratkan setiap aktifitas bidang pertambangan untuk kembali mengacu pada UUPPLH no 32/2009 yang mengandung sejumlah peraturan dan sanksi yang jelas

terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup termasuk penyelesaian ganti rugi, mediasi atau pengadilan yang dapat dilihat pada UUPPLH Pasal 70 92 (lampiran).

(3) Strict Liability atau Liability Based on Fault Strict Liability, menurut pasal 8 UUPPLH menyatakan bahwa: Tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.

(4) Class action dan legal standing LSM Class action atau gugatan perwakilan, menurut pasal 91 UUPPLH: 1) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan: (a) Dilakukan oleh kelompok kecil masyarakat, (b) Ada kesamaan permasalahan, fakta hukum dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran atau perusakan lingkungan hidup; 2) Masyarakat berhak melaporkan ke penegak hukum; dan 3) Instansi pemerintah yang bertanggung jawab adadi bidang lingkungan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat, bila dampak pencemaran mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. Class Action (Gugatan Perwakilan Kelompok) adalah suatu tata cara pengajuan gugatan, dalam nama satu orang atau lebih yang mewakili kelompok mengajukan gugatan untuk diri atau dirisendiri dan sekaligus mewakili sekelompok orang yang jumlahnya banyak, yang memiliki kesamaan fakta atau dasar hukum antara wakil kelompok dan anggota kelompok dimaksud.

Perwakilan kelompok dapat dibagi dalam : 1. Wakil kelompok yaitu satu orang atau lebih yang menderita kerugian yang mengajukan gugatan dan sekaligus mewakili kelompok orang yang lebih banyak jumlahnya. 2. Anggota kelompok yaitu sekelompok orang dalam jumlah banyak yang menderita kerugian yang kepentingannya diwakili oleh wakil kelompok di pengadilan

3.

Sub kelompok yaitu pengelompokan anggota kelompok ke dalam kelompok yang lebih kecil dalam satu gugatan berdasarkan perbedaan tingkat penderitaan dan / atau jenis kerugian.

Manfaat Class action : (1) lebih ekonomis yakni mencegah pengulangan gugatan serupa secara individual; (2) akses pada keadilan yakni apabila gugatan diajukan secara individual akan

menyebabkan beban bagi calon penggugat; (3) perubahan sikap perilaku pelanggaran yakni ada efek penjara bagi pencemar atau perusak lingkungan; (4) putusan konsisten yakni putusan yang bertentangan satu sama lain atau tidak konsisten mengenai tuntutan sejenis dapat dihindarkan. Sedangkan, Legal standing LSM atau organisasi lingkungan, menurut pasal 92 UUPPLH menyatakan bahwa: 1) Berhak mengajukan gugatan demi perlindungan dan pelestarian fungsi lingkungan; 2) gugatan yang diajukan ditujukan untuk melakukan tindakan tertentu dan tidak berupa tuntutan membayar ganti kerugian; 3) kecuali tuntutan membayar untuk biaya/pengeluaran ril yang telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan yang bersangkutan; dan 4) LSM harus memenuhi syarat sebagai penggugat: (a) berbentuk badan hukum, (b) menegaskan di dalam anggaran dasarnya bahwa organisasi tersebut didirikan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan, (c) telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai anggaran dasar paling singkat selama dua tahun. Standing dapat diartikan secara luas yaitu akses orang perorangan, kelompok/organisasi di pengadilan sebagai Pihak Penggugat. Adapun pengertian Standing kelompok masyarakat yang bertindak untuk mewakili kepentingan umum (publik) dan kepentingan lingkungan. Hak gugat organisasi lingkungan merupakan salah satu bagian dari hukum standing (standing law) yang berkembang banyak dibelahan dunia dan pada dasanya dapat dipilah menjadi : a. Hak Gugat Warga Negara (Citizen Suit); Bahwa warga negara tidak perlu membuktikan dirinya atau mereka memiliki kepentingan hukum atau pihak yang mengalami kerugian riil. Citizen suit ini banyak diatur dalam peraturan perundangan lingkungan di : (1) Amerika Serikat ; Clean Air Act (pasal 304), Clean Water Act (pasal 505), Comprehensive Environmental Response, Resource Conservation and Recovery Act (RCRA pasal 310) yang menjamin secara hukum bahwa setiap orang dapat meminta pemerintah di pengadilan untuk menjalankan kewajiban yang diwajibkan oleh undangundang. Bahkan setiap orang juga dapat bertindak sebagai penuntut umum untuk mengajukan tuntutan pidana lingkungan dalam bentuk pidana denda dalam hal penuntut umum negara (public prosecutor) tidak menjalankan tugasnya, (2) India ; Pengertian standing dikategorikan dalam 3 bentuk yaitu : (1) Private/citizen prosecution (pasal 19 Environmental Protection Act); (2) Citizen standing (Hak gugat warga negara mengatasnamakan dirinya sebagai pembayar pajak atau warga negara yang haknya dijamin dalam konstitusi untuk mempersoalkan pelanggaran konstitusi atau peraturan perundangan); (3) Representative standing (Hak

gugat warga negara atau kelompok warga negara mengatasnamakan the powerless untuk memperjuangkan hak konstitusi dan hakhak hukum lainnya dari orangorang yang diatasnamakannya) b. Hak Gugat LSM/Organisasi Lingkungan ; Kecakapan LSM tampil dimuka pengadilan didasarkan pada suatu asumsi bahwa LSM sebagai wali (gurdian) dari lingkungan. Pendapat ini berangkat dari teori yang dikemukan oleh Profesor Cristoper Stone, dimana dalam artikelnya yang dikenal luas di Amerika Utara yang berjudul Sholud Tress Have Standing. Dalam teori ini memberikan hak hukum (legal right) kepada objekobjek alam (natural objects) dan menurut Stone hutan, laut, atau sungai sebagai objek alam layak memiliki hak hukum dan adalah tidak bijaksana jika dianggap sebaliknya hanya karena sifatnya yang inanimatif(tidak dapat berbicara). Dalam dunia hukum sendiri sudah sejak lama mengakui hak hukum obyek inanimatif, seperti pada perseorangan, negara dan anak dibawah umur. Untuk penasehat hukum, kuasa atau walinya bertindak mewakili kepentingan hukum mereka. Urgensi Standing bahwa diterimanya pengembangan teori dan penerapan standing ini setidaktidaknya didasarkan pada dua : 1. Faktor Kepentingan Masyarakat Luas; Beberapa kasus seperti kasus perlindungan konsumen dan pelestarian daya dukung lingkungan adalah kasuskasus publik yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, dengan kasus ini akhirnya mendorong lahirnya dan tumbuhnya organisasi organisasi advokasi seperti Sierra Club Defense Fund (USA), Pollution Probe (Kananda), Environmental defenders Office (Australia), YLBHI, YLKI, Walhi (Indonesia). Bahwa selain untuk kepentingan masyarakat organisasi ini efektif dalam mendorong pembaruan kebijak dan merubah sikap serta perilaku birokrasi dan kalangan penguasa melalui tekanantekanan (pressures) yang dilakukan .Salah satu tekanan yang dapat dilakukan dalam kerangka negara hukum (rule of law) adalah melalui gugatan di Pengadilan. 2. Faktor Penguasaan Sumber Daya Alam oleh Negara ; Berkenaan dengan kasuskasus sumber daya alam, objek sumber daya alam (sungai, hutan dan mineral atau tambang) biasanya secara konstitusional dikuasai oleh negara. Penguasaan oleh negara mengandung koensekuensi bahwa sifat keberlanjutan sumber daya alam lebih banyak ditentukan dan bergantung pada konsekuensi, aktifisme, dan keberanian pemerintah sebagai aparatur negara, tetapi dalam prakteknya sering kali mengabaikan kewajibannya untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam dengan tidak menerapkan perijinan atau menjalankan atau menjalankan fungsi pengawasan.

Di Indonesia pada saat itu ada beberapa kasus legal standing LSM dalam gugatan perdata di pengadilan, gugatan ini menarik pada saat dilakukan karena hukum positif yang berlaku (tertulis) belum mengatur mengenai gugatan standing. Adapun kasuskasus tersebut seperti : 1. Walhi vs Inti Indorayon Utama; Dasar yang diberikan dalam pertimbangan hukum bersifat pokok yang menjadi dasar pemberian standing adalah : (1) Hak atas setiap orang lingkungan yang baik dan sehat, yaitu terpeliharanya lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem yang baik dan sehat, merupakan tanggungjawab yang menuntut peran serta setiap anggota masyarakat; (2) Hak dan kewajiban setiap orang berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup, yaitu bahwa setiap orang mempunyai kewajiban untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan; (3) Hakhak subjektif melahirkan hak untuk menuntut secara hukum agar hakhak tersebut dihormati, yaitu bahwa hak subjektif memberikan hak kepada pemiliknya untuk menuntut melalui prosudur hukum termasuk melalui pengadilan. 2. Walhi vs Kejaksaan Negari Mojokerto; Jika kita melihat dari kasus ini dimana pertimbangannya yaitu : (1) Adanya keterkaitan pihak ketiga yang berwenang ; (2) LSM sebagai penunjang pengelolaan lingkungan hidup dan hal ini merujuk pada putusan majelis hakim dalam kasus Walhi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ; 3. Walhi vs Presiden RI; Dalam menetapkan hak standing LSM dalam kasus ini, Majelis hakim menetapkan kriteria sebagai berikut: (1) bahwa tujuan organisasi tersebut adalah benarbenar melindungi lingkungan hidup atau menjaga kelestarian alam, dimana tujuan tersebut harus tercantum dan dapat dilihat dalam anggaran dasar organisasi yang bersangkutan; (2) bahwa organisasi yang bersangkutan haruslah berbentuk badan hukum ataupun yayasan; (3) bahwa organisasi tersebut haruslah secara berkesinambungan menunjukan adanya kepedulian terhadap lingkungan hidup yang nyata di masyarakat; (4) bahwa orang tersebut harus cukup representatif;

(5) ORES (One Roof and Enforcement System) dalam penegakan hukum pidana lingkungan One Roof and Enforcement System (ORES) merupakan sebuah sistem penegakan hukum satu atap yang mulai terdengar saat Undang-undang R.I tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 mulai diundangkan. Sebelumnya dikenal Integrated Criminal Justice System atau Penegakan Hukum Pidana Terpadu. Kata Terpadu merupakan penegasan dilakukannya kinerja yang berjalan secara berkesinambungan, saling mempengaruhi,

adanya sinkronisasi gerak aparatur penegak hukum dalam mewujudkan sebuah proses peradilan dan terutama juga saling mengawasi. Sistem ini juga merupakan jawaban kritik atas terkotakkotaknya fungsi tugas penegak hukum kita sebagai akibat implementasi prinsip differensiensi fungsional di lapangan yang kaku, dan menimbulkan celah tidak berfungsinya sistem check and balanced. ORES merupakan konsep mempersatukan unsur penegak hukum ke dalam jalinan kerjasama yang baik. Penyidik mengawasi Jaksa, Jaksa mengawasi Penyidik, dan keduanya bersama-sama mempunyai satu tujuan, yakni menggolkan kasus lingkungan ke dalam gawang pengadilan. Kerjasama semacam ini walaupun tidak secara jelas disebut dalam UULH yang lalu No. 23 Tahun 1999. Dikenal juga istilah Triangle Integrated Environmental Criminal Justice System yang merupakan model spesifik sistem segitiga terpadu antara Polisi, Jaksa dan Saksi Ahli untuk saling berkoordinasi dari tahap penyidikan hingga penuntutan. Namun sayang dalam pelaksanaannya, penerapan prinsip differensiensi fungsional tanpa diimbangi prinsip koordinasi dan saling mengawasi, tampaknya sering disalahgunakan, sehingga para penegak hukum yang disebut sebagai segitiga terpadu itu tampak bekerja sendiri-sendiri yang pada akhirnya di persidangan dapat dengan mudah dipatahkan pembuktiannya oleh saksi ahli lawan atau pihak penasehat hukum terdakwa. Kurangnya keahlian, pemahaman dan multi disiplin ilmu yang terlalu banyak dalam kasus-kasus lingkungan hidup juga membuat para penegak hukum yang tidak memiliki keteguhan, kesabaran dan pemahaman yang cukup dalam penanganan perkara Lingkungan Hidup masih harus meraba untuk menangani perkara yang memang memiliki banyak sifat khusus dan rumit ini. Kasus Lingkungan tidak pernah menjadi primadona di kalangan penegakan hukum. Kasus ini jarang sekali dimenangkan masyarakat atau elemen organisasi lingkungan dan juga susah untuk menuntutnya. Ada beberapa hal yang menjadi biang kurangnya perhatian terhadap kasus Lingkungan Hidup, yakni: 1. Kasus Lingkungan memerlukan pemahaman multi disiplin ilmu, bukan hanya ilmu hukum namun berkembang ke ilmu-ilmu lain khususnya ilmu pasti dan teknologi, sehingga para penegak hukum yang malas belajar, malas bekerja terlalu rumit sementara segudang kasus lain juga menunggu untuk diselesaikan bekerja dengan setengah hati 2. Kasus Lingkungan termasuk dalam penyelesaian perkara berbiaya tinggi sehubungan dengan keterlibatan saksi ahli dan laboratorium yang sangat tidak murah, sedangkan anggaran

operasional penanganan perkara cukup terbatas, sedangkan jika diajukan oleh masyarakat, jelas masyarakat akan sulit memperoleh saksi ahli atau berhubungan dengan pengumpulan bukti-bukti ilmiah kecuali diwakili oleh elemen organisasi Lingkungan yang cukup bonafit. 3. Kasus Lingkungan pada intinya adalah masyarakat korban kerusakan/pencemaran versus Kekuasaan yang besar sehingga apabila penegakan hukum lingkungan tidak dijalankan oleh para penegak hukum yang mempunyai dedikasi dan komitmen terhadap penegakan hukum lingkungan akan sulit bersikap adil dan arif. 4. Ketentuan perundang-undangan lingkungan terlalu tersebar serta bersifat sektoral, sehingga menangani kasus lingkungan berarti harus mencari rujukan peraturan-peraturan pelaksana lain dari tingkat PP sampai Keputusan. Hal ini tidak bisa dihindari karena lingkungan terdiri dari 4 elemen alam yang kesemuanya harus diatur sedemikian rupa agar tercipta pengelolaan yang baik, apalagi ketika Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk melakukan pengendalian lingkungan hidup di dalam UU Pemerintahan Daerah melalui Peraturan daerah (Perda) untuk mengendalikan keadaan lingkungan di provinsinya. Sementara kasus-kasus lingkungan tidak menjadi primadona, kerusakan dan pencemaran lingkungan terus terjadi dengan lemahnya sistem pengawasan dan penegakan hukum yang nyata. Kasus Lapindo dan Teluk Buyat merupakan contoh kegagalan penegakan hukum lingkungan. Sebaliknya Kasus Mandalawangi merupakan contoh keberhasilan penegakan hukum lingkungan dan sayangnya jauh lebih sedikit dibanding kegagalannya. Kedua contoh kasus di atas, harus dipahami sebagai suatu perbedaan nyata, dimana penegakan hukum lingkungan tentunya harus mengambil pelajaran dari keduanya. Ke depan diharapkan penegakan hukum lingkungan akan lebih melibatkan: (1) Hakim, Jaksa, Polisi/PPNS yang telah dilatih khusus dan berkecimpung aktif dalam hukum lingkungan. Sertifikasi keahlian masing-masing penegak hukum ini sangat diperlukan; (2) Peningkatan kemampuan sumber daya teknis penegakan hukum lingkungan harus konstan dan frekuentif; (3) ORES dapat lebih efektif; (4) Triangle Justice System terus dibina; (5) Mahkamah Agung, Kejaksaan R.I, dan Kepolisian R.I harus memiliki hubungan yang kuat dengan laboratorium pemerintah berlisensi untuk penangangan kasuskasus lingkungan serta menjalin hubungan dengan para ahli lingkungan yang disertifikasi untuk menjadi saksi ahli Kejaksaan.

SARAN TINDAK LANJUT Berdasarkan analisis hukum yang telah dilakukan maka saran yang dapat diberikan untuk kasus penuntututan warga Lante terhadap perusahaan tambang PT. RIM adalah: 1. Warga, LSM dan pemerintah desa bahkan daerah harus Lebih mengefektifkan lagi usaha Strict Liability atau Liability based on fault. Hal ini dikerenakan limbah PT. RIM terindikasi menghasilkan limbah B3, dan tentunya tindakan ini harus disertai dengan pembuktian laboratorium. Dimana uji laboratorium harus dilakukan pad di laboratorium yang ditetapkan dan sedapat mungkin yang terakreditasi, kemudian pengujian harus mengikuti metode uji standar yang ditetapkan serta laporannya yang bersifat kuantitatif harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dimengerti untuk kepentingan peradilan. 2. Warga memerlukan pendampingan khusus dari organisasi-organisasi lingkungan hidup lainnya bahkan lembaga bantuan hukum agar terus melangkah sesuai dengan peraturan UUPPLH no 32/2009 yakni dimulai dengan penyelesaiann ganti rugi, mediasi bahkan jika harus mengajukan perkara ke pengadilan, hal tersebut pun harus dilakukan. 3. Usaha masyarakat perlu tetap dibantu dengan Class action dan legal standing dari LSM, karena hal ini akan semakin menjadi tekanan bagi pemerintah bahkan PT. RIM sendiri agar tidak menganggap remeh masalah ini dan segera menyelesaikannya dengan warga. 4. Penyelesaian kasus ini dan kasus-kasus lingkungan lainnya perlu diberdayakan dengan sistim One Roof and Enforcement System (ORES), agar dalam penanganannya tidak terkotak-kotak sehingga arah hukumnya jelas dan tidak membingungkan masyarakat.

REFERENSI

Supriyono, H, 2012, Ringkasan Bahan Ajar Hukum Lingkungan, Fakultas Hukum UGM.

Warga Desa Lante Minta Ganti Rugi kepada PT RIM . http://www.suarapembaruan.com/ nasional/warga-desa-lante-minta-ganti-rugi-kepada-pt-rim/28283. Diakses 11 Januari 2013.

Tambang NTT: Warga Lante Tuntut Perusahaan Hengkang. http://omahkendeng.org/201301/931/tambang-ntt-warga-lante-tuntut-perusahaan-hengkang/. Diakses 11 Januari 2013.

JPIC

OFM:

Polres

Manggarai

Jangan

Berpihak

pada

Perusahaan

Tambang.

http://www.theindonesianway.com/jpic-ofm-polres-manggarai-jangan-berpihak-pada-perusahaantambang/. Diakses 11 Januari 2013.

Mustikasari,

E.

Jangan

Kesampingkan

Masalah

Lingkungan

Hidup.

http://www.kejaksaan.go.id/kabar_insan_adhyaksa.php. Diakses 11 Januari 2013.

Roeboek, et al, Arbitration, Volume 74 No 1, Sweet and Maxwell Ltd.

Sulistyono, 2007, Legal Standing, Kursus HAM.

UU no 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.

UU no 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

UU no 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

PP no 24 tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara.

LAMPIRAN
UUPPLH NO 32 TAHUN 2009 PASAL 70 123