Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Sampai beberapa tahun terakhir, cedera petir telah menjadi penyebab kematian nomor dua terkait badai di Amerika Serikat. Menurut data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), pada tahun-tahun from 1959-1994, trauma akibat tersambar petir menyebabkan3.000 orang tewas dan hampir 10.000 korban. Jumlah sebenarnya korban cidera petir mungkin lebih tinggi, karena sampai 50% mungkin tidak dilaporkan. Petir membunuh lebih banyak orang setiap tahun di Amerika Serikat daripada angin topan, gunung berapi, tornado, dan gempa bumi. Beberapa individu mengalami sambaran petir hanya sekitar 3-5% dari cedera secara langsung. Sebagian besar energi tersebut dimediasi oleh faktor lain termasuk tanah, pohon, atau benda lain yang, sekali pukul, mengirimkan energi ke orang. Bahkan, kurang dari sepertiga dari orang yang terkena dampak memiliki tanda-tanda luka bakar. Ketika luka bakar yang terjadi, biasanya luka tidak terlalu dalam. Terjadinya luka bakar internal cukup langka. Myoglobinuria jarang di jumpai pada cedera petir, sedangkan serangan jantung dan pernafasan, vasospasme pembuluh darah, kerusakan neurologis, dan ketidakstabilan otonom dapat berpengaruh lebih besar. Barotrauma dari kekuatan ledakan karena sambaran petir terdekat mungkin terjadi. jika mengakibatkan cedera neurologis dapat mempengaruhi tiga komponen dari sistem saraf: pusat, otonom, dan perifer.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Petir/lightning, adalah muatan listrik statis dalam awan dengan voltase sampai 10 mega volt dan kekuatan arus listrik sampai seratus ribu ampere yang dalam waktu 1/1000-1 detik dilepaskan ke bumi.1 2. Etiologi Petir dapat mengakibatkan ganguan kardioversi kosmik, menghasilkan aritmia atrium dan ventrikel, cedera miokard, dan respon vasomotor. Arus searah petir mendepolarisasi seluruh miokardium sekaligus, menyebabkan kontraksi sistolik tunggal diikuti dengan periode variabel detak jantung (cardiac arrest primer). Aktivitas jantung dapat kembali secara spontan, pertama pada tingkat bradikardia dan kemudian perlahan-lahan meningkat dengan cepat. Rhythme dapat memburuk dari apnea akibat kelumpuhan pusat pernapasan di medula. Hipoksia yang terlalu lama menyebabkan serangan jantung sekunder dengan fibrilasi ventrikel.1 Tipe trauma petir pada manusia : Petir dapat melukai seseorang 6 cara: Sambaran langsung (sekitar 3-5% dari cedera) Side percikan dari obyek lain (sekitar 30% dari cedera) Hubungi tegangan dari menyentuh sebuah benda yang dipukul (sekitar 1-2% dari cedera) Efek tanah saat ini sebagai energi menyebar di seluruh permukaan bumi ketika petir memukul jarak jauh dari orang (sekitar 40-50% dari cedera)

Pemimpin kenaikan yang tidak terhubung dengan pemimpin bawah untuk menyelesaikan saluran petir (sekitar 20-25% dari cedera) Trauma tumpul jika seseorang dilemparkan dan barotrauma dari menjadi cukup dekat untuk mengalami kekuatan ledakan petir.1,2

Serangan langsung dapat terjadi pada korban yang berada di luar. Meskipun tidak selalu fatal, serangan langsung berhubungan dengan morbiditas yang tinggi karena sering menyerang di daerah kepala. Sambaran petir dekat kepala juga dapat mengakibatkan gangguan pada mata, telinga, dan mulut. Pada umumnya , korban tersambar dari objek ataupun benda di sekitarnya, misalnya, ketika seseorang berusaha berlindung di bawah pohon, tempat piknik, atau lainnya objek yang disambar petir. Sebagian dari petir dapat melompat dari objek melanda kepada korban. Cedera Sementara juga terjadi dari orang ke orang ketika beberapa orang berdiri berdekatan.2

Derajat cedera akibat trauma petir : cedera ringan Korban yang memiliki cedera ringan mungkin mengakibatkan dysesthesias pada ekstremitas atau perasaan seperti dipukul pada kepala, dapat juga mengeluhkan kebingungan, amnesia, tidak sadarkan diri sementara, tuli sementara, atau kebutaan. Korban mungkin juga mengeluh parasthesias, nyeri otot, kebingungan, amnesia sementara. Korban mungkin dapat mengalami pecahnya membran timpani. Tanda-tanda vital biasanya stabil, meskipun beberapa korban mengalami hipertensi ringan sementara. Kerusakan neurokognitif permanen dapat terjadi.2

Cedera Menengah korban yang tersamabar petir pada derajat menengah dapat mengakibatkankebingungan, agresif, atau koma. Korban akan mengalami mati rasa pada kulit serta mengakibatkan kelumpuhan ekstremitas.Dapat juga mengakibatkan spasme pembuluh darah akibat terjadinya trauma pembuluh darah. Gangguan irama jantung yang dapat kembali secara spontan, Kejang juga dapat terjadi,membran timpani pecah harus diantisipasi,. Sementara pemulihan klinis sering cepat dalam beberapa jam pertama, korban luka-luka cukup rentan untuk menderita gejala sisa jangka panjang seperti gangguan tidur, ganguan emosi, kesulitan dengan fungsi psikomotorik halus, parasthesias, kelemahan umum, simpatik atau disfungsi sistem saraf, dan stres pasca trauma sindrom. Atrofi kelumpuhan tulang belakang, meskipun jarang terjadi.2

Cederah Berat Korban dapat mengalami serangan jantung, seperti ventrikel fibrilasi dan harus segera d tangani dengan resusitasi jantung mungkin berhasil jika korban telah mengalami iskemia jantung atau SSP berkepanjangan. Pecahnya membran tympani otorrhea, Kerusakan Sistem Saraf Pusat.2

Tabel derajat luka akibat trauma petir.2 Body system Integumentary system Injury Linear, punctuate, and partial- or full-thickness burns; keraunographic markings

Cardiac system

Central nervous system

Eyes and ears

Other injuries

Ventricular fibrillation; asystole; hypertension; tachycardia; nonspecific ST segment and T wave changes; prolonged QT intervals; premature ventricular contractions; myocardial infarction Weakness; amnesia; confusion; intracranial injuries; immediate loss of consciousness; brief aphasia; paraplegia; quadriplegia; spinal cord damage; cold, mottled, pulseless extremities Tympanic membrane perforation; secondary otitis media; transient dizziness; temporary or permanent deafness; dilated or nonreactive pupils; transient blindness; corneal edema; uveitis; vitreous hemorrhage; cataracts Myoglobinuria (rare); myalgias; hypothermia; blunt trauma including skull, vertebral, rib, and extremity fractures

3. Gambaran klinik Seseorang yang disambar petir pada tubuhnya terdapat kelainan yang disebabkan oleh faktor arus listrik, faktor panas dan faktor ledakan: a. Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir : Current mark / electrik mark / electrik burn. Efek ini termasuk salah satu tanda utama luka listrik (electrical burn). Aborescent markings. Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai reaksi dari persentuhan antara kulit dengan petir. Tanda ini akan hilang sendiri setelah beberapa jam.

Gambar aborescent marking Magnetisasi. Logam yang terkena sambaran petir akan berubah menjadi magnet. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn).

b. Ada 2 efek panas akibat sambaran petir : Luka bakar sampai hangus. Rambut, pakaian, sepatu bahkan seluruh tubuh korban dapat terbakar atau hangus. Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti perhiasan dan komponen arloji. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat kita gunakan untuk menentukan saat kematian korban. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn).

Gambar metalisasi c. Efek ledakan: Efek ledakan akibat sambaran petir (lightning / eliksem) terjadi akibat perpindahan volume udara yang cepat & ekstrim. Setelah kilat menyambar, udara setempat menjadi vakum lalu terisi oleh udara kembali sehingga menimbulkan suara menggelegar/ledakan. Akibat pemindahan udara ini, pakaian korban koyak, korban terlontar sehingga terdapat luka akibat persentuhan dengan benda tumpul, misalnya abrasi, kontusi, patah tulang tengkorak, epidural/subdural bleeding.

1. Pemeriksaan Korban a. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena listrik, kadang-kadang ada busa pada mulut.Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mematikan arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering. Lalu kemudian korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia. Bilamana belum ada lebam mayat, maka mungkin korban dalam keadaan mati suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu pernafasan buatan dan pijat jantung dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit. Pernafasan buatan ini jika dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan pengobatan utama untuk korban akibat listrik. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti. b. Pemeriksaan Jenazah a. Pemeriksaan Luar Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan pada kulit. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda listrik atau current mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn. Tanda-tanda listrik tersebut antara lain : 1. Electric mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat dimana listrik masuk ke dalam tubuh. Electric mark berbentuk bundar atau oval dengan bagian yang datar dan rendah di tengah, dikeliilingi oleh kulit yang menimbul. Bagian tersebut biasanya pucat dan kulit diluar elektrik mark akan menunjukkan hiperemis. Bentuk dan ukurannya tergantung dari benda yang berarus lisrtrik yang mengenai tubuh.

Gambar electric mark 2. Joule burn (endogenous burn) dapat terjadi bilamana kontak antara tubuh dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan demikian bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam hangus terbakar.

Gambar Joule burn 3. Exogenous burn, dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang berarus listrik dengan tegangan tinggi, yang memang sudah mengandung panas; misalnya pada tegangan di atas 330 volt. Tubuh korban hangus terbakar dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak jarang disertai patahnya tulang-tulang.

Gambar exogenous burn b. Pemeriksaan Dalam Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada otak didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah ventrikel III dan IV. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik . Pada paru didapatkan edema dan kongesti. Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi, Custer menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar, juga ditemukan pneumothorak, hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran listrik yang melalui paru kanan. Organ viscera menunjukkan kongesti yang merata. Petekie atau perdarahan mukosa gastro intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik. Pada hati ditemukan lesi yang tidak khas., sedangkan pada tulang, karena tulang mempunyai tahanan listrik yang besar, maka jika ada aliran listrik akan terjadi panas sehingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium fosfat yang menyerupai mutiara atau pearl like bodies. Otot korban putus akibat perubahan hialin. Perikard, pleura, dan konjungtiva korban terdapat bintik-bintik pendarahan. Pada ekstremitas, pembuluh darah korban mengalami nekrosis dan ruptur lalu terjadi pendarahan kemudian terbentuklah gangren.1

10

c. Pemeriksaan Tambahan Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada electric mark. Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik tetapi sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban telah mengalami trauma listrik.1 Hasil pemeriksaan akan terlihat adanya bagian sel yang memipih, pada pengecatan dengan metoxyl lineosin akan bewarna lebih gelap dari normal. Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum. Sel dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara palisade. Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel yang rusak dari stratum korneum. Folikel rambut dan kelenjar keringat memanjang dan memutar ke arah bagian yang terkena listrik.1

Gambaran histologis luka petir

11

4. Komplikasi
1. Komplikasi tersambar petir : Chronic pain syndromes, Neuromuscular pain, Neurocognitive deficits including short-term memory loss, difficulty accessing or processing new information, attention deficit, personality change, distractibility, or loss of ability to multitask, Isolation or depression, Sympathetic nervous system dysfunction, Dizziness, Sleep disorders, Symptoms similar to postconcussion syndrome (eg, headaches, nausea, confusion), Atypical seizure disorders.
1,2

2. Komplikasi pada jantung :


Transient hypertension, Electrocardiographic changes, Myocardial injury, Congestive heart failure (CHF), Dysrhythmia, Transient asystole, Atrial fibrillation, Ventricular fibrillation, Frequent premature ventricular contractions, Respiratory complications, Apnea, Hypoxemia. 3. Komplikasi neurologi : Immediate loss of consciousness, Amnesia and confusion, Retrograde amnesia, Hemiplegia, aphasia, Coma, Seizures, Intraventricular hemorrhage, Hematomas, Keraunoparalysis 4. Komplikasi vascular : Vasomotor instability, Arterial spasm, Vasoconstriction, Vasodilatation 5. Komplikasi mata Cataracts, Macular holes, Corneal lesions, Hyphema, Iritis, Vitreous hemorrhage, Retinal detachment, Optic nerve injury.
1

12

5. Prognosa Secara keseluruhan, hasil dan prognosis pasien setelah sebagian sambaran petir baik. Sayangnya, banyak orang disambar petir memiliki cacat permanen. Pada pasien yang telah mengalami serangan yang parah, potensi cedera neurologis dan jantung permanen dan melemahkan yang lebih besar.1 Namun, pada jangka panjang juga tidak bagus, studi terkkontrol yang baik menunjukkan jika cedera petir terkait membaik atau malah ke arah cacat yang lebih serius atau memberikan prognosis bertingkat untuk subkelompok yang berbeda yang selamat. Seperti cedera lainnya, semakin lama seseorang memiliki gejala atau tanda, masing-masing lebih mungkin adalah menjadi permanen.1

13

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan Petir/lightning, adalah muatan listrik statis dalam awan dengan voltase sampai 10 mega volt dan kekuatan arus listrik sampai seratus ribu ampere yang dalam waktu 1/1000-1 detik dilepaskan ke bumi. Trauma petir dapat mengalami berbagai komplikasi ; Chronic pain syndromes, Neuromuscular pain, Neurocognitive ingatan jangka pendek, perubahan kepribadian, susah menerima informasi, distractibility, or loss of ability to multitask, Isolation or depression, Sympathetic nervous system dysfunction, Dizziness, Sleep disorders, Symptoms similar to postconcussion syndrome (eg, headaches, nausea, confusion), Atypical seizure disorders. Serta diantaranya terbagi atas tiga stadium yaitu ringan, menengah serta berat.

3.2. Saran dan Kritik Dengan kerendahan hati penulis, penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu saran dan keritik yang bersifat membangun dari pembaca, penulis harapkan demi kesempurnaan makalah-makalah dimasa-masa yang akan datang.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Lightning injuries, author ; Mary Ann Cooper, MD; chief Editor ; Rick kulkarni MD; Updated: Feb 10, 2012, aviabel form; http://emedicine.medscape.com/article/770642overview#showall. 2. Artikel Journal of Lightning injuries,Medley OKeefe Gatewood, MDa,Richard D. Zane, MDb,c,Harvard University School of Medicine, The Massachusetts General andBrigham and Womens Hospitals, update : 2 mei, 2013

15