Anda di halaman 1dari 38

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori 1. Kelas Ibu Hamil a. Definisi Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibuibu mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos, penyakit menular, dan akte kelahiran. Kegiatan Kelas Ibu Hamil merupakan sarana untuk belajar kelompok tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, melalui praktek dengan menggunakan buku KIA (Depkes, 2009:vii) Kelas Ibu Hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 4 minggu s/d 36 minggu (menjelang persalinan) dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu-ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan Ibu dan anak (KIA) secara menyeluruh dan sistimatis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan

10

berkesinambungan. Kelas ibu hamil difasilitasi oleh bidan/tenaga kesehatan dengan menggunakan paket Kelas Ibu Hamil yaitu Buku KIA, Flip chart (lembar balik), Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil, Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil dan Buku senam Ibu Hamil. b. Tujuan Kelas Ibu Hamil 1) Tujuan Umum Meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos/kepercayaan/adatistiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran. 2) Tujuan Khusus a) Terjadinya interaksi dan berbagai pengalaman antar peserta dan antar ibu hamil dengan petugas kesehatan. b) Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.

11

c. Sasaran Ibu Hamil Bidan atau petugas kesehatan yang terkait dengan kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak dalam melakukan fasilitas Kelas Ibu Hamil yang sudah mendapatkan pelatihan.

d. Manfaat Kelas Ibu Hamil 1) Supaya ibu mengerti tentang kelas ibu hamil 2) Supaya ibu bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari hari 3) Menambahkan wawasan keluarga tentang kelas ibu hamil 4) Kelas Ibu Hamil dilakukan selama 3 pertemuan a) Pertemuan kelas ibu hamil pertama (1) Informasi kelas ibu hamil (2) Perubahan tubuh selama kehamilan (3) Perawatan kehamilan b) Pertemuan Kelas Ibu hamil ke dua (1) Persalinan (2) Perawatan nifas c) Pertemuan Kelas Ibu Hamil ke tiga (1) Perawatan Bayi (2) Mitos (3) Penyakit Menular (4) Akte Kelahiran

12

2. Perilaku a. Definisi Perilaku (Practice) merupakan suatu kegiatan atau aktifitas manusia, baik dapat diamati secara langsung maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. Dimana perilaku terdiri dari Persepsi (percepsion), Respon terpimpin (Guided Respons), Mekanisme (Mekanisme), Adaptasi (Adaptation) (Notoatmodjo,2003). Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena perilaku merupakan hasil dari perubahan berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (lingkungan). Pada garis besarnya perilaku manusia dapat terlihat dari 3 aspek yaitu aspek fisik, psikis, dan sosial. Akan tetapi dari aspek tersebut sulit untuk ditarik garis yang tegas dalam mempengaruhi perilaku manusia (Notoatmodjo, 2007).

b. Perilaku kesehatan Perilaku seseorang atau subyek dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar subyek. Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007), perilaku kesehatan terbagi menjadi tiga teori penyebab masalah kesehatan yang meliputi : 1) Faktor predisposisi (Predisposing factors) Merupakan faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi. Pada seseorang dengan

13

pengetahuan rendah dan berdampak pada perilaku perawatan pada ibu hamil,bersalin dan nifas. Seseorang dengan pengetahuan yang cukup tentang perilaku perawatan ibu hamil, bersalin dan nifas maka secara langsung akan bersikap positif dan menuruti aturan pengobatan, disertai munculnya keyakinan untuk sembuh, tetapi terkadang masih dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang sudah membudaya. 2) Faktor pemungkin (Enabling factors) Merupakan faktor yang memungkinkan atau menfasilitasi perilaku atau tindakan artinya bahwa faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan. dimana lingkungan yang jauh atau jarak dari pelayanan kesehatan yang memberikan kontribusi rendahnya perilaku perawatan pada ibu hamil. 3) Faktor penguat (Reinforcing factors) Adalah faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat

terjadinya perilaku antara lain : a) Dukungan Petugas Kesehatan Dukungan Petugas sangat membantu, dimana dengan adanya dukungan petugas dari petugas sangatlah besar artinya bagi seseorang dalam melakukan perawatan hipertensi, sebab petugas adalah yang merawat dan sering berinteraksi, sehingga pemahaman terhadap kondisi fisik maupun psikis lebih baik, dengan sering berinteraksi akan sangat mempengaruhi rasa percaya dan menerima

14

kehadiran petugas bagi dirinya, serta motivasi atau dukungan yang diberikan petugas sangat besar artinya terhadap ketaatan pesien untuk selalu mengontrol tekanan darahmya secara rutin (Purwanto, 1999). b) Dukungan keluarga Dukungan keluarga sangatlah penting karena keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat dan sebagai penerima asuhan keperawatan. Oleh karena itu keluarga sangat berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan oleh anggota keluarga yang sakit, apabila dalam keluarga tersebut salah satu anggota keluarganya ada yang sedang mengalami masalah kesehatan maka sistem dalam keluarga akan terpengaruhi. (Friedman, 1998).

c. Unsur-Unsur Perilaku Perilaku muncul sebagai hasil interaksi antara tanggapan dari individu terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya, agar bisa beradaptasi dan tetap survive. Yang mendasari timbulnya perilaku adalah dorongan yang ada dalam diri manusia, jadi perilaku muncul karena adanya dorongan untuk survive. Menurut Notoatmodjo, 2007 ada tiga unsur utama dalam perilaku yaitu : 1) Adanya afektif (perasaan atau penilaian pada berbagai hal) 2) Kognitif (pengetahuan kepercayaan atau pendapat tentang suatu obyek)

15

3) Psikomotor (niat serta tindakan yang berkaitan dengan suatu obyek) Perilaku memiliki hubungan yang cukup besar dalam menentukan tingkat pemanfaatan sarana kesehatan. Teori Adopsi perilaku dari Rogers yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007), mengemukakan bahwa untuk mengubah perilaku seseorang akan melewati 5 tahapan yaitu awarenes (kesadaran), interest (perhatian atau ketertarikan dengan ide baru), evalution (perilaku terhadap ide), trial (usaha untuk mencoba) dan terakhir adoption (bila menerima ide baru).

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Perawatan Menurut Notoatmodjo (2007) yang mengutip dari Lewin perilaku ketaatan pada individu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan merupakan hal yang sangat mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang. 2) Sikap adalah reaksi tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek. 3) Ciri-ciri individual meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi. 4)Partisipasi keluarga merupakan keikutsertaan keluarga dalam membantu pasien melaksanakan perawatan dan pengobatan.

16

2. Partisipasi a. Definisi Partisipasi berasal dari bahasa Inggris yaitu " participation" adalah pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Menurut Keith Davis, partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab didalamnya. Partisipasi adalah suatu gejala demokrasi diman orang diikutsertakan dalam suatu perencanaan serta dalam pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggungjawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajiban. partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang mental serta penentuan kebijakkan. Partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi serta fisik peserta dalam memberikan respon terhadap kegiatan yang melaksanakan dalam proses belajar mengajar serta mendukung pencapaian tujuan dan pertanggungjawaban atas keterlibatannya. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan hingga pengambilan keputusan dalam pelaksanaan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan suatu wilayah, ikut serta dalam menikmati hasil kegiatan pembangunan tersebut, serta ikut juga dalam tahap evaluasi kegiatan pembangunan. Partisipasi juga memiliki makna proses di mana para pelaku (stakeholders) dapat mempengaruhi atau memiliki wewenang dalam pembangunan, pengalokasian sumber daya serta

17

dalam proses pengambilan keputusan yang memiliki pengaruh terhadap para pelaku tersebut (World Bank, 1994; shvoong.com).

b. Bentuk Partisipasi Yang Nyata 1) Partisipasi Uang adalah bentuk partisipasi untuk memperlancar usahausaha bagi pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan. 2) Partisipasi Harta Benda adalah partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, biasanya berupa alat-alat kerja atau perkakas. 3) Partisipasi Tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang

keberhasilan suatu program. 4) Partisipasi keterampilan, yaitu memberikan dorongan melalui

keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya 5) Partisipasi buah pikiran lebih merupakan partisipasi berupa sumbangan Ide, pendapat atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun untuk memperlancar pelaksanaan program dan juga untuk mewujudkannya guna dengan memberikan kegiatan pengalaman yang dan

pengetahuan (shvoong.com)

mengembangkan

diikutinya.

18

c. Bentuk - Bentuk Partisipasi Menurut Effendi, partisipasi ada dua bentuk, yaitu partisipasi vertikal dan partisipasi horizontal. 1). Partisipasi vertikal adalah suatu bentuk kondisi tertentu dalam masyarakat yang terlibat di dalamnya atau mengambil bagian dalam suatu program pihak lain, dalam hubungan mana masyarakat berada sebagai posisi bawahan. 2). Partisipasi horizontal adalah dimana masyarakatnya tidak mustahil untuk mempunyai prakarsa dimana setiap anggota / kelompok masyarakat berpartisipasi secara horizontal antara satu dengan yang lainnya, baik dalam melakukan usaha bersama, maupun dalam rangka melakukan kegiatan dengan pihak lain. menurut Effendi sendiri, tentu saja partisipasi seperti ini merupakan tanda permulaan tumbuhnya masyarakat yang mampu berkembang secara mandiri. d. Prinsip-prinsip partisipasi Sebagaimana tertuang dalam Panduan Pelaksanaan Pendekatan Partisipati yang disusun oleh Department for International Development (DFID) (dalam Monique Sumampouw, 2004: 106-107) adalah: 1) Cakupan : Semua orang atau wakil-wakil dari semua kelompok yang terkena dampak dari hasil-hasil suatu keputusan atau proses pembangunan pembangunan. 2) Kesetaraan dan kemitraan (Equal Partnership) : Pada dasarnya setiap orang mempunyai keterampilan, kemampuan dan prakasa serta

19

mempunyai hak untuk menggunakan prakarsa tersebut terlibat dalam setiap proses guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang dan struktur masing-masing pihak. 3) Transparansi : Semua pihak harus dapat menumbuhkembangkan komunikasi dan iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga menimbulkan dialog. 4) Kesetaraan kewenangan (Sharing Power/Equal Powership) : Berbagai pihak yang terlibat harus dapat menyeimbangkan distribusi

kewenangan dan kekuasaan untuk menghindari terjadinya dominasi. 5) Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility : Berbagai pihak mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam setiap proses karena adanya kesetaraan kewenangan (sharing power) dan keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan dan langkah-langkah

selanjutnya. 6) Pemberdayaan (Empowerment) : Keterlibatan berbagai pihak tidak lepas dari segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap pihak, sehingga melalui keterlibatan aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu proses saling belajar dan saling memberdayakan satu sama lain. 7) Kerjasama : Diperlukan adanya kerja sama berbagai pihak yang terlibat untuk saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia.

20

e. Tipe Partisipasi
Tipologi Partisipasi pasif/ manipulatif Karakteristik 1) Masyarakat berpartisipasi dengan cara diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi; 2) Pengumuman sepihak oleh manajemen atau pelaksana proyek tanpa memperhatikan tanggapan masyarakat; 3) Informasi yang dipertukarkan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran. 1) Masyarakat berpartisipasi dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian seperti dalam kuesioner atau sejenisnya; 2) Masyarakat tidak punya kesempatan untuk terlibat dan memengaruhi proses penyelesaian; 3) Akurasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat. 1) Masyarakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi; 2) Orang luar mendengarkan dan membangun pandanganpandangannya sendiri untuk kemudian mendefinisikan permasalahan dan pemecahannya, dengan memodifikasi tanggapan-tanggapan masyarakat; 3) Tidak ada peluang bagi pembuat keputusan bersama; 4) Para profesional tidak berkewajiban mengajukan pandangan-pandangan masyarakat (sebagai masukan) untuk ditindaklanjuti. 1) Masyarakat berpartisipasi dengan cara menyediakan sumber daya seperti Tenaga kerja, demi mendapatkan makanan, upah, ganti rugi, dan sebagainya; 2) Masyarakat tidak dilibatkan dalam eksperimen atau proses pembelajarannya; 3) Masyarakat tidak mempunyai andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada saat [[insentif yang disediakan/diterima habis. 1) Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk mencapai tujuanyang berhubungan dengan proyek; 2) Pembentukan kelompok (biasanya) setelah ada keputusankeputusan utama yang disepakati; 3) Pada awalnya, kelompok masyarakat ini bergantung pada pihak luar (fasilitator, dll) tetapi pada saatnya mampu mandiri. 1) Masyarakat berpartisipasi dalam analisis bersama yang mengarah pada perencanaan kegiatan dan pembentukan lembaga sosial baru atau penguatan kelembagaan yang telah ada; 2) Partisipasi ini cenderung melibatkan metode inter-disiplin yang mencari keragaman perspektif dalam proses belajar yang terstruktur dan sistematik; 3) Kelompok-kelompok masyarakat mempunyai peran kontrol atas keputusan-keputusan mereka, sehingga mereka mempunyai andil dalam seluruh penyelenggaraan kegiatan.

Partisipasi dengan cara memberikan informasi

Partisipasi melalui konsultasi

Partisipasi untuk insentif materil

Partisipasi fungsional

Partisipasi interaktif

21

Self mobilization

1) Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara bebas (tidak dipengaruhi/ditekan pihak luar) untuk mengubah sistem-sistem atau nilai-nilai yang mereka miliki; 2) Masyarakat mengembangkan kontak dengan lembagalembaga lain untuk mendapatkan bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang dibutuhkan; 3) Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada.

f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu program, sifat faktor-faktor tersebut dapat mendukung suatu keberhasilan program namun ada juga yang sifatnya dapat

menghambatkeberhasilan program. Misalnya saja faktor usia, terbatasnya harta benda, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Angell (dalam Ross, 1967 : 130) mengatakan partisipasi yang tumbuh dalam masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi, yaitu: 1) Usia Faktor usia merupakan faktor yang memengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap, cenderung lebih banyak yang berpartisipasi daripada mereka yang dari kelompok usia lainnya. 2) Jenis kelamin Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah di dapur

22

yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik. 3) Pendidikan Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi. Pendidikan dianggap dapat memengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat. 4) Pekerjaan dan penghasilan Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan menentukan berapa penghasilan yang akan diperolehnya. Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan seharihari dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatankegiatan masyarakat. Pengertiannya bahwa untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan, harus didukung oleh suasana yang mapan perekonomian. 5) Lamanya tinggal Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan

berpengaruh pada partisipasi seseorang. Semakin lama ia tinggal dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut.

23

3. Dukungan Keluarga a. Definisi Keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. (Friedman, 1998). Dukungan keluarga didefinisikan oleh Gottlieb (1983) dalam Zainudin (2002) yaitu informasi verbal, sasaran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek didalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau pengaruh pada tingkah laku penerimaannya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial, secara emosional merasa lega diperhatikan, mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. Menurut Sarason (1983) dalam Zainudin (2002). Dukungan keluarga adalah keberatan, kesedihan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita, pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Cobb (2002)

mendefinisikan dukungan keluarga sebagai adanya kenyamanan, perhatian, penghargaan atau menolong orang dengan sikap menerima kondinya, dukungan keluarga tersebut diperoleh dari individu maupun kelompok.

24

b. Fungsi Pokok Keluarga Fungsi keluarga biasanya didefinisikan sebagai hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga. Adapun fungsi keluarga tersebut adalah (Fridman,1999 : 24) : 1) Fungsi afektif (fungsi pemeliharaan kepribadian) : untuk dan

pemenuhan

kebutuhan psikososial,

saling mengasuh

memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan mendukung. 2) Fungsi sosialisasi dan fungsi penempatan sosial : proses perkembangan dan perubahan individu keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi sosial dan belajar berperan di lingkungan. 3) Fungsi reproduktif : untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. 4) Fungsi ekonomis : untuk memenuhi kebutuhan keluarga,seperti sandang, pangan, dan papan. 5) Fungsi perawatan kesehatan : untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan. c. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga

mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan. Friedman (1981:12) membagi 5 tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan, yaitu:

25

1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya. 2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka segera melakukan tindakan yang tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai

keterbatasan seyoganya meminta bantuan orang lain dilingkungan sekitar keluarga. 3) Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda. Perawatan ini dapat dilakukan dirumah apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama atau kepelayanan kesehatan untuk memperoleh tindakan lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.

26

4) Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga. 5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada). d. Bentuk Dukungan Keluarga 1) Dukungan Emosional (Emosional Support) Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Meliputi ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap anggota keluarga yang menderita kusta (misalnya: umpan balik, penegasan) (Marlyn, 1998). 2) Dukungan Penghargaan (Apprasial Assistance) Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas anggota. Terjadi lewat ungkapan hormat (penghargan) positif untuk penderita kusta, persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif penderita kusta dengan penderita lainnya seperti orang-orang yang kurang mampu atau lebih buruk keadaannya (menambah harga diri) (Marlyn, 1998). 3) Dukungan Materi (Tangibile Assistance) Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit, mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang,

27

peralatan, waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong dengan pekerjaan waktu mengalami stress (Marlyn, 1998) 4) Dukungan Informasi (informasi support) Keluarga berfungsi sebagai sebuah koletor dan disse minator (penyebar) informasi tentang dunia, mencakup memberri nasehat, petunjuk-petunjuk, saran atau umpan balik. Bentuk dukungan keluarga yang diberikan oleh keluarga adalah dorongan semangat, pemberian nasehat atau mengawasi tentang pola makan sehari-hari dan pengobatan. Dukungan keluarga juga merupakan perasaan individu yang mendapat perhatian, disenangi, dihargai dan termasuk bagian dari masyarakat (Utami, 2003). e. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Harga Diri Dukungan keluarga mempengaruhi kesehatan dengan melindungi diri penderita kusta terhadap efek negatif dari stres yang berat. Dukungan keluarga yang baik seseorang dapat mengurangi stres misalnya dengan menyibukkan diri. Dukungan keluarga yang positif sebanding dibawah intensitas stres yang tinggi dan rendah, misalnya seseorang dengan dukungan keluarga tinggi dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi sehingga tidak mudah terserang stres. Peran keluarga mempunyai pengaruh yang sangat tinggi dalam harga diri, sebuah keluarga yang memiliki harga diri yang rendah akan tidak mempunyai kemampuan dalam membangun harga diri anggota keluarganya dengan baik, keluarga akan memberikan umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak

28

harga

diri

bagi

penderita,

harga

dirinya

akan

terganggu

jika

kemampuannya menyelesaikan masalahnya tidak adekuat. Akhirnya penderita mempunyai pandangan negatif terhadap penyakitnya dan kemampuan bersosialisasi dengan lingkungannya (Anonimus, 2011).

B. Kerangka Teori
Faktor Predisposisi :Perilaku
Pengetahuan Sikap Kebiasaan Keyakinan Kepercayaan Nilai Karakteristik : Umur, Pendidikan,

Pekerjaan

Faktor Penguat : - Dukungan Tenaga Kesehatan Dukungan Keluarga Faktor Pemungkin : - Fasilitas Fisik : kesehatan : Puskesmas , Rumah sakit - Fasilitas Umum : Media massa (koran, TV, Radio)

Partisipasi

Bagan 2.1 Kerangka Teori dukungan keluarga dan pekerjaan ibu terhadap partisipasi kelas ibu hamil. (Marlyn,1998; Depkes RI,2009)

29

C. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah kerangka yang menghubungkan antara konsepkonsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo,2005) Dukungan Keluarga Pekerjaan Ibu
Bagan 2.2 Kerangka Konsep

Partisipasi Kelas Ibu Hamil

D. Variabel Penelitian Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. (Notoatmodjo,2010). Variabel dalam penelitian ini adalah 1. Variabel Independent Variabel Independent (variabel bebas) adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya Variabel Dependent (variabel terikat). Jadi Variabel Independent adalah variabel yang mepengaruhi

(Sugiono,2005). Variabel Independent dalam penelitian ini adalah dukungan keluarga dan pekerjaan ibu. 2. Variabel Dependent Variabel Dependent (variabel terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiono,2005). Variabel Dependent dalam penelitian ini adalah Partisipasi kelas ibu hamil.

30

E. Hipotesa Hipotesa penelitian adalah jawaban sementara peneliti, patokan duga atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam pemeliharaannya tersebut (Notoatmodjo, 2005) Hipotesa pada penelitian ini adalah : Ha 1 : Ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap partisipasi kelas ibu hamil. Ha 2 : Ada hubungan antara pekerjaan ibu terhadap partisipasi kelas ibu hamil.

31

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Kuantitatif, dengan pendekatan Analisis-Korelasi yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara faktor resiko dengan efek(Notoatmodjo,2010) Dalam penelitian sekarang pendekatan analitik korelasinya adalah

menganalisis hubungan dukungan keluarga terhadap partisipasi ke kelas ibu hamil dan hubungan pekerjaan ibu terhadap partisipasi ke kelas ibu hamil. Pendekatan yang digunakan ini adalah dengan menggunakan studi Cross Sectional yaitu suatu penelitian yang menjelaskan suatu hubungan antara keadaan suatu daerah pada periode waktu tertentu, yaitu dengan menilai variabel bebas dan variabel terikat pada waktu yang sama (Arikunto,2006). Penelitian ini pendekatan Cross Sectional-nya adalah penelitian yang menjelaskan hubungan antara dukungan keluarga terhadap partisipasi ke kelas ibu hamil dan juga hubungan pekerjaan ibu terhadap partisipasi ke kelas ibu hamil, yang akan peneliti lakukan pada waktu itu juga.

31

32

B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian dilakukan dari bulan Desember sampai bulan Juli 2013 2. Tempat Penelitian Tempat yang dipergunakan untuk penelitian adalah Puskesmas Gribig Kudus. Pemilihan tempat penelitian berdasarkan data kunjungan pada program Kelas Ibu Hamil di Puskesmas ini, dengan persentase kurang dari taget yaitu belum 100% ibu hamil yang berada di Puskesmas Gribig. Dimana jumlah ibu hamil pada tahun 2012 sebanyak 1.896 jiwa dengan jumlah target peserta pada kelas ibu hamil 810 ibu hamil namun yang mengikuti hanya sejumlah 270 ibu hamil.

C. Definisi Operasional Definisi Operasional adalah batasan yang digunakan untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati/diteliti, perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi batasan atau Definisi Operasional. Definisi Operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan.

33

Tabel 3.1 Definisi Operasional


No 1 Variabel Dukungan Keluarga pada ibu hamil Definisi Opersional Dukungan keluarga sebagai adanya kenyamanan, perhatian, penghargaan atau menolong orang dengan sikap menerima kondisinya, dukungan keluarga tersebut diperoleh dari individu maupun kelompok. Pekerjaan adalah aktifitas utama yang dilakukan oleh manusia. Partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggungjawab didalamnya (pada program kelas hamil selama 6 bulan). Alat Ukur Dengan kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan. Hasil Ukur 1. Baik jika > 50% 2. Tidak baik jika < 50% Skala Pengukuran Skala Ordinal

Pekerjaan ibu Partisipasi ibu hamil pada kelas ibu hamil

Kuesioner

Ceklist

1.Bekerja : 2. Skala 2. Tidak Nominal bekerja : 1 1. Aktif > 3x Skala dalam 6 bulan Ordinal 2. Tidak aktif < 3x dalm 6 buln

D. Populasi, Sampel, dan Tehnik Sampling 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya

(Saryono,2011:88). Adapun populasi ini adalah ibu hamil yang menghadiri kelas ibu hamil di Puskesmas Gribig Kudus pada bulan Maret 2013 yaitu 270 ibu hamil.

34

2. Sampel dan Tehnik Sampling Sampel yaitu sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo,2010: hal.115). Besarnya sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus Solvin sebagai berikut (Nursalam,2003).

Keterangan : n = Jumlah sampel N= Jumlah populasi e = Standar error (10%) maka,

Dari perhitungan rumus di atas didapatkan hasil akhir 73 orang responden, kemudian untuk menjaga seandainya ada drop out, maka ditambahkan 10% menjadi 80 responden. Pengambilan sampel penelitian ini menggunakan NonRandom Sampling (NonProbability Sampling) atau lebih tepatnya Aksidental Sampling dimana cara pengambilan sampel dengan berdasarkan kebetulan bertemu (Alimul,2010).

35

Menurut Nursalam (2003:96) terdapat 2 kriteria dalam menentukan sampel yaitu : a. Kriteria Inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang di jangkau yang akan diteliti. Kriteria inklusi dalam penelitian ini : 1). Ibu hamil yang datang pada kelas ibu hamil. 2). Ibu hamil yang bersedia menjadi responden. 3). Ibu hamil yang memiliki pekerjaan ataupun Ibu Rumah Tangga. b. Kriteria Eksklusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah 1). Ibu hamil yang pada saat penelitian ibu hamil tersebut sudah menjadi ibu nifas. 2). Ibu hamil yang sedang sakit. 3). Ibu hamil tidak hadir pada saat penelitian.

E. Instrumen Penelitian Intrumen penelitian adalah alat yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data agar pekerjaannya mudah dan hasilnya lebih baik sehingga mudah diolah (Saryono, 2009). Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari : dukungan, pekerjaan dan partisipasi. Kuesioner tersebut terdiri dari 2 jenis:

36

1. Kuesioner a. Berisi tentang bagian A yaitu identitas responden yang terdiri dari nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat, usia kehamilan. b. Bagian B berisi pernyataan angket tertutup mengenai dukungan keluarga sebanyak 15 item pertanyaan. Dengan penilaian jika responden menjawab ya nilai 1 dan jika menjawab tidak nilai 0. Yang terdiri dari pertanyaan favourable sebanyak 8 pertanyaan dengan penilaian jika jawaban "Ya" nilai 1 dan "Tidak" nilai 0, Unfavourable sebanyak 7 pernyataan dengan penilaian jika jawaban "Ya" nilai 0 dan "Tidak" nilai 1. Dengan cara pengisian yaitu memberikan ceklist pada salah satu jawaban. c. Bagian C Ceklist dimana berisi pernyataan mengenai partisipasi ibu hamil di kelas ibu hamil dimana peneliti melihat dari buku kehadiran, jika ibu dalam 6 bulan terakhir menghadiri minimal 3x pertemuan maka peneliti memberikan poin 2 dengan kategori aktif dan jika kurang dari 3 maka diberi poin 1 dengan kategori tidak aktif. Dalam pengisian pernyataan ini responden cukup memberikan tanda cheeklist (v) pada pernyataan yang diberikan peneliti. Kuesioner tersebut kemudian di uji validitas dan realiabilitas di Puskesmas Gebog di salah 1 kelompok kelas hamil yang di komando oleh bidan desa S sejumlah 10 ibu hamil.

37

1. Uji Validitas Uji Validitas adalah alat ukur atau sebuah instrumen yang akan dilakukan penelitian untuk menjadikan alat ukur yang bisa diterima atau standar maka alat ukur tersebut harus melalui uji validitas dan realibilitas (Alimul,2011). Uji Validitas dalam penelitian ini menggunakan Product Moment yang dikemukakan oleh pearson yang dapat menunjukan indeks korelasi antara 2 variabel yang dikorelasikan. Uji Pearson Product Moment dengan rumus :
{N X 2 ( X ) 2 }{ N Y 2 ( Y ) 2 } N XY ( X )( Y )

Keterangan : R = korelasi variable X dengan Y X = variabel X Y = variabel Y X = jumlah variabel X Y = jumlah variabel Y N = jumlah sampel Dari hasil perhitungan apabila didapatkan nilai r hitung lebih besar dari r tabel maka instrumen dikatakan valid dengan taraf signifikan 5%. (Arikunto,2006). 2. Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat diandalkan untuk perhitungan uji reabilitas ini harus dilakukan

38

pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki validitas. (Notoatmodjo, 2005) Uji realibilitas menggunakan Formula Alfa Cronbach (Arikunto, 2006), yaitu: R11 =

K S1 } {1 S 2 ( K 1) S1
2

Keterangan : R K : Reabilitas instrumen : banyaknya butir pertanyaan


2 1

S
S S1
2

: Jumlah varian butir : Varian total

Untuk mengetahui reliabel dan tidaknya bisa dilihat dengan batas batas sebagai berikut : <0,2 : Reliabel yang sangat jelek

0,2 0,399 : Reliabel rendah 0,4 0,599 : Reliabel cukup 0,6 0,799 : Reliabel tinggi Bahwa instumen dikatakan reliabel bila nilai r hitung > dari nilai r tabel. Hasil perhitungan rumus ini kemudian dianalisa.

39

F. Tehnik Pengumpulan Data 1. Jenis Data Metode pengumpulan data adalah cara - cara penelitian yang digunakan kepada subyek melalui proses pendekatan dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam,2008). Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : a. Pengumpulan Data Primer Data primer merupakan sumber data yang di peroleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media pelantara). Metode yang dipergunakan dalam pengumpulan data primer dengan kuesioner. Peneliti membagikan kuesioner yang berisi dukungan keluarga dan identitas responden. b. Pengumpulan Data Sekunder Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara atau dicatat oleh pihak lain. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Pencarian data sekunder dilakukan oleh peneliti sendiri secara manual. Peneliti mengumpulkan data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen tersebut berupa data kehadiran ibu mengikuti kelas ibu hamil di Puskesmas Gribig.

40

2. Langkah Langkah Pengumpulan Data Dalam melakukan penelitian ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan peneliti yaitu mempersiapkan prosedur-prosedur

pengumpulan data. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut : a. Peneliti mengajukan surat permohonan melakukan penelitian kepada STIKES Karya Husada Semarang. b. Peneliti memberikan Surat Pengantar Penelitian kepada Kepala Puskesmas Gribig Kabupaten Kudus. c. Peneliti meminta ijin untuk mengambil data ibu hamil yang datang di kelas ibu hamil. d. Peneliti menentukan responden yang akan dijadikan sampel penelitian, kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan penelitian kepada responden dengan memberikan Surat Pengantar Penelitian. e. Setelah responden setuju untuk dijadikan responden dalam penelitian, maka responden disarankan untuk mengisi lembar informed consent. f. Peneliti memberikan pertanyaan kepada responden sesuai dengan angket peneliti. g. Lembar angket yang telah diisi di kumpulkan kembali kepada peneliti dilanjutkan dengan pengolahan data yang dilakukan oleh peneliti.

41

G. Cara Pengolahan Data Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mengedit (Editing) Editing adalah hasil wawancara yang diperoleh atau dikumpulkan melalui kuesioner terlebih dahulu. Kalau ternyata masih ada data atau informasi yang tidak lengkap, dan tidak mungkin dilakukan wawancara ulang, maka angket tersebut dikeluarkan (droup out). Memeriksa kembali data yang diperoleh dan meneliti kembali kelengkapan data berdasarkan pengisiannya kurang lengkap dan kesalahan pengisian dari setiap jawaban dimana dilakukan setiap hari selama penelitian. Editting dilakukan segera di tempat responden mengisi kuesioner sehingga ada kekurangan dapat langsung di lengkapi. 2. Scoring Untuk pertanyaan kuesioner dukungan keluarga dimana penilaian dukungan keluarga yaitu jika jawaban Dimana pada kuesioner dukungan keluarga terdiri dari 2 bentuk yaitu favourable yang terdiri dari 8 soal dimana skoring nilai jika jawaban "Ya" nilai 1 dan jika jawaban "Tidak" nilai 0. pertanyaan Unfavourable terdiri dari 7 soal dimana skoring nilai jika jawaban "Ya" nilai 0 dan jika jawaban "Tidak" nilai 1.

42

3. Pengkodean (coding) Coding adalah instrumen berupa kolom-kolom untuk merekam data secara manual. Lembaran atau kartu kode berisi nomor responden, dan nomor-nomor pertanyaan. a. Dukungan keluarga Mendukung = 2 Tidak mendukung = 1 b. Pekerjaan Bekerja = 2 Tidak bekerja = 1 c. Partisipasi Aktif (datang min 3x dalam 6 bulan) = 2 Tidak Aktif ( datang kurang dari 3x dalam 6 bulan) = 1 Di lihat pada daftar hadir 4. Data Entry Adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau database computer, kemudian menbuat distribusi frekuensi sederhana atau dengan membuat tabel kontigensi. 5. Melakukan Teknik Analisis Dalam melakukan teknik analisa, khususnya terhadap data penelitian akan menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuikan dengan tujuan yang hendak dianalisis (Notoatmodjo:2010:hal.147)

43

H. Analisa Data Pengolahan data kuantitatif dapat dilakukan melalui proses

komputerisasi. Dalam pengolahan ini mencakup tabulasi data dan perhitunganperhitungan statistik, bila diperlukan uji statistik. Analisis data dibedakan menjadi dua macam, yakni : 1. Analisis Univariat Analisa Univariat adalah analisis data yang menggambarkan tiap variabel dengan menggunakan tabel frekuensi. Analisa data univariat terdiri dari dukungan keluarga, pekerjaan ibu, dan partisipasi ibu hamil ke kelas ibu hamil. Data akan disajikan dengan tabel distribusi frekuensi sehingga tergambar fenomena yang berhubungan dengan variabel yang akan di teliti. Untuk perhitungan presentase dari setiap jawaban menggunakan rumus : P= Keterangan : P = Presentase f = Frekuensi tiap kategori n = Jumlah sampel x 100%

2. Analisa Bivariat Analisa bivariat merupakan analisa untuk mengetahui interaksi antara dua variabel (Saryono, 2009). Analisa bivariat ini berfungsi mencari

44

hubungan antara variabel dukungan keluarga dengan partisipasi kelas ibu hamil dan hubungan variabel pekerjaan dengan partisipasi kelas ibu hamil. Selain itu dapat digunakan rumus Chi Square untuk mengetahui hasil penelitian yang diharapkan. Analisa yang digunakan adalah uji statistic Chi Square untuk menentukan hubungan dua gejala yang semuanya ordinal atau tata jenjang. ( Sugiyono, 2009 ) X2 = Dimana : X2 : Nilai Chi Square (hitung) fo (Frekuensi observasi) : nilai observasi pada subyek penelitian ke-1 fh : Frekuensi harapan (expected) : nilai yang diperoleh jika hipotesis benar nol ke-1 (Sugiyono, 2007). Apabila hasil X hitung lebih besar dari X tabel maka ada hubungan antara faktor faktor yang menjadi penyebab. ( sugiyono, 2003 ) Chi-Square hitung pada hubungan dukungan keluarga terhadap partisipasi ke kelas ibu hamil, dan hubungan pekerjaan ibu terhadap partisipasi ke kelas ibu hamil. karena Chi-Square hitung > Chi-Square tabel pada = 5% atau tingkat kepercayaan 95% , maka Ho ditolak, berarti ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap partisipasi kelas ibu hamil, dan ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan partisipasi kelas ibu hamil.
( fo fh ) 2 fh

45

I.

Etika Penelitian Dalam penelitian, peneliti perlu mendapatkan rekomendasi dari institusi peneliti dan mengajukan permohonan ijin kepada institusi lembaga tempat peneliti yaitu Puskesmas Gribig Kudus. Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan penelitian dengan membagikan kuesioner kepada ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil menekankan masalah etika yang meliputi: 1. Informed Consent (Lembar Persetujuan) Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Jika responden bersedia untuk diteliti maka responden harus mencantumkan tanda tangan pada lembar persetujuan menjadi responden dengan terlebih dahulu diberi kesempatan membaca isi tersebut. Jika responden menolak untuk diteliti maka penulis tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden. 2. Anonymity (Tanpa Nama) Masalah ini merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subyek penelitian dengan cara tidak memnberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

46

3. Confidentiality (kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Notoatmodjo;2010)