Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

Orang yang sehat jiwanya adalah orang yang: merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya (yaitu dapat berempati dan tidak secara apriori bersikap negative terhadap orang atau kelompok lain yang berbeda), dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.1 Saat ini gangguan psikotik masih menjadi masalah di Indonesia. Menurut penelitian WHO prevalensi gangguan jiwa dalam masyarakat berkisar satu sampai tiga permil penduduk. Misalnya Jawa Tengah dengan penduduk lebih kurang 30 juta, maka akan ada sebanyak 30.000-90.000 penderita psikotik. Bila 10% dari penderita perlu pelayanan perawatan psikiatrik ada 3.000-9.000 yang harus dirawat. Tetapi tidak semua bisa dirawat karena kapasitas pelayanan perawatan psikiatrik di Jateng masih di bawah 1.000 tempat tidur. Sisa yang tidak terawat berada dalam masyarakat dan pasien ini seharusnya perlu pengawasan yang seksama. Pasien psikotik yang mungkin tenang terkadang tak terduga akan menjadi agresif tanpa stressor psikososial yang jelas. Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda semua pasien psikotik (skizofrenia) dirawat di Rumah Sakit Jiwa seumur hidup (dibuat koloni). Hal ini sekarang menjadi stigma masyarakat, bahwa RSJ identik dengan gila. Tetapi sekarang situasi sudah berbeda, tidak semua pasien dapat dirawat di RSJ. Mereka yang fase aktif gangguan psikotiknya dirawat, sedang yang tenang dipulangkan namun masih dalam pengawasan dalam bentuk perawatan jalan. Fase aktif adalah pasien-pasien yang menunjukkan perilaku yang membahayakan diri atau membahayakan lingkungannya, dan mudah dikenali gejalanya. Pada fase tenang pasien dapat beradaptasi dengan lingkungannya, meskipun terbatas. Perjalanan psikiatrik tidak terbatas pada Rumah Sakit Jiwa yang ada, tetapi di Rumah Sakit Umum pun ada pelayanan psikiatrik yang dilakukan oleh psikiater. Yakni pelayanan integrasi dan konsultasi psikiatri di RSU, mengingat jumlah psikiater yang ada belum memadai sesuai kebutuhan. Dengan melihat hal tersebut, diharapkan dokter dapat berperan dalam pencegahan, deteksi dini, terapi maupun rehabilitasi dari gangguan psikotik ini. Penulis berusaha untuk menuliskan aspek-aspek yang dirasakan perlu untuk dipahami melalui tinjauan pustaka dalam referat ini dan diharapkan dapat bermanfaat.
1

BAB II PEMBAHASAN

II. 1

Definisi Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau atau aneh.2 Gangguan psikotik adalah semua kondisi yg menunjukkan adanya hendaya berat dalam kemampuan daya nilai realitas, baik dalam perilaku individu dlm suatu saat maupun perilaku individu dalam perjalanannya mengalami hendaya berat kemampuan daya nilai realitas ( perlu dipertimbangkan faktor budaya ).3 Bukti langsung hendaya daya nilai realitas terganggu misal adanya ;

waham, halusinasi tanpa tilikan akan sifat patologinya; adanya perilaku yg demikian kacau ( grossly disorganized ) misalnya bicara yg inkoheren, perilaku agitasi tanpa tujuan, disorientasi pd delirium dst; adanya kegagalan fungsi sosial dan personal dgn penarikan diri dari pergaulan sosial dan tidak mampu dlm tugas pekerjaan sehari-hari.

II. 2

Epidemiologi Gangguan Psikotik Menurut penelitian WHO prevalensi gangguan jiwa dalam masyarakat berkisar satu sampai tiga permil penduduk. Misalnya Jawa Tengah dengan penduduk lebih kurang 30 juta, maka akan ada sebanyak 30.000-90.000 penderita psikotik. Bila 10% dari penderita perlu pelayanan perawatan psikiatrik ada 3.000-9.000 yang harus dirawat. Tetapi tidak semua bisa dirawat karena kapasitas pelayanan perawatan psikiatrik di Jateng masih di bawah 1.000 tempat tidur. Sisa yang tidak terawat berada dalam masyarakat dan pasien ini seharusnya perlu pengawasan yang seksama. Pasien psikotik yang mungkin tenang terkadang tak terduga akan menjadi agresif tanpa stressor psikososial yang jelas. Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda semua pasien psikotik (skizofrenia) dirawat di Rumah Sakit Jiwa seumur hidup (dibuat koloni). Hal ini sekarang menjadi stigma masyarakat, bahwa RSJ identik dengan gila. Tetapi sekarang situasi sudah berbeda, tidak semua pasien dapat dirawat di RSJ.
2

Mereka yang fase aktif gangguan psikotiknya dirawat, sedang yang tenang dipulangkan namun masih dalam pengawasan dalam bentuk perawatan jalan. Fase aktif adalah pasien-pasien yang menunjukkan perilaku yang membahayakan diri atau membahayakan lingkungannya, dan mudah dikenali gejalanya. Pada fase tenang pasien dapat beradaptasi dengan lingkungannya, meskipun terbatas. Perjalanan psikiatrik tidak terbatas pada Rumah Sakit Jiwa yang ada, tetapi di Rumah Sakit Umum pun ada pelayanan psikiatrik yang dilakukan oleh psikiater. Yakni pelayanan integrasi dan konsultasi psikiatri di RSU, mengingat jumlah psikiater yang ada belum memadai sesuai kebutuhan.2 II. 3 Etiologi Gangguan Psikotik Faktor psikodinamik yang harus diperhatikan di dalam kelompok gangguan psikotik ini adalah stresor pencetus dan lingkungan interpersonal. Di dalam mengambil riwayat penyakit dan memeriksa pasien, klinisi harus memperhatikan tiap perubahan atau stres pada lingkungan interpersonal pasien. Pasien rentan terhadap kebutuhan psikosis untuk mempertahankan jarak interpersonal tertentu; seringkali, pelanggaran batas pasien oleh orang lain dapat menciptakan stres yang melanda yang menyebabkan dekompensasi. Demikian juga, tiap keberhasilan atau kehilangan mungkin merupakan stresor yang penting dalam kasus tertentu. Pemeriksaan pasien psikotik harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa gejala psikotik adalah disebabkan oleh kondisi medis umum (sebagai contohnya, suatu tumor otak) atau ingesti zat (sebagai contohnya, phencyclidine). Kondisi fisik seperti neoplasma serebral, khususnya di daerah oksipitalis dan temporalis dapat menyebabkan halusinasi. Pemutusan sensorik, seperti yang terjadi pada orang buta dan tuli, juga dapat menyebabkan pengalaman halusinasi dan waham. Lesi yang mengenai lobus temporalis dan daerah otak lainnya, khususnya di hemisfer kanan dan lobus parietalis, adalah disertai dengan waham. Zat psikoaktif adalah penyebab yang umum dari sindroma psikotik. Zat yang paling sering terlibat adalah alkohol, halusinogen indol sebagai contohnya, lysergic acid diethylamid (LSD) amfetamin, kokain. Mescalin, phencyclidine (PCP), dan ketamin. Banyak zat lain, termasuk steroid dan thyroxine, dapat disertai dengan halusinasi akibat zat.2 Beberapa obat-obatan seperti fenilpropanolamin bromocriptine dan juga dapat menyebabkan atau memperburuk gejala-gejala psikotik.5

II. 4

Patofisiologi Gangguan Psikotik Gambar otak pertama dari sebuah individu dengan psikosis selesai sejauh kembali sebagai 1935 dengan menggunakan teknik yang disebut pneumoencephalography (prosedur yang menyakitkan dan sekarang usang di mana cairan serebrospinal dikeringkan dari seluruh otak dan digantikan dengan udara untuk memungkinkan struktur otak untuk menunjukkan lebih jelas pada gambar sinar-X). Tujuan dari otak adalah untuk mengumpulkan informasi dari tubuh (nyeri, kelaparan, dll), dan dari dunia luar, menafsirkannya dengan pandangan dunia yang koheren, dan menghasilkan respon yang bermakna. Informasi dari indera masuk ke otak di daerah sensorik primer. Mereka memproses informasi dan mengirimkannya ke daerah-daerah sekunder dimana informasi itu ditafsirkan. Aktivitas spontan di daerah sensorik primer dapat menghasilkan halusinasi yang disalahartikan oleh daerah sekunder sebagai informasi dari dunia nyata. Sebagai contoh, PET scan atau fMRI dari seseorang yang mengaku sebagai mendengar suara-suara dapat menunjukkan aktivasi di korteks pendengaran primer, atau bagian otak yang terlibat dalam persepsi dan pemahaman berbicara. Tersier korteks otak mengumpulkan penafsiran dari cortexes sekunder dan menciptakan sebuah pandangan dunia yang koheren itu. Sebuah studi yang menyelidiki perubahan-perubahan struktural dalam otak orang dengan psikosis menunjukkan ada pengurangan materi abu-abu yang signifikan dalam gyrus medial temporal yang tepat, frontalis lateral yang temporal, dan inferior, dan di cingulate korteks bilateral orang sebelum dan setelah mereka menjadi psikotik. Temuan seperti ini telah memicu perdebatan tentang apakah psikosis itu sendiri menyebabkan kerusakan otak dan apakah perubahan eksitotoksik berpotensi merusak otak berhubungan dengan panjang dari episode psikotik. Penelitian terbaru telah menyarankan bahwa hal ini tidak terjadi meskipun penyelidikan lebih lanjut masih berlangsung. Studi dengan kekurangan indera telah menunjukkan bahwa otak tergantung pada sinyal dari dunia luar untuk berfungsi dengan baik. Jika aktivitas spontan di otak

tidak diimbangi dengan informasi dari indra, kerugian dari realitas dan psikosis mungkin terjadi sudah setelah beberapa jam. Fenomena serupa paranoid pada orang tua ketika mendengar penglihatan, miskin dan memori menyebabkan orang menjadi abnormal curiga terhadap lingkungan. Di sisi lain, kerugian dari realitas juga dapat terjadi jika aktivitas kortikal spontan meningkat sehingga tidak lagi diimbangi dengan informasi dari indra. Reseptor 5-HT2A tampaknya menjadi penting untuk ini, karena obat yang mengaktifkan mereka menghasilkan halusinasi. Namun, fitur utama dari psikosis bukan halusinasi, tetapi ketidakmampuan untuk membedakan antara rangsangan internal dan eksternal. Kerabat dekat untuk pasien psikotik mungkin mendengar suara-suara, tapi karena mereka sadar bahwa mereka tidak nyata mereka dapat mengabaikan mereka, sehingga halusinasi tidak mempengaruhi persepsi realitas mereka. Oleh karena itu mereka tidak dianggap sebagai psikotik. Psikosis telah secara tradisional dikaitkan dengan dopamin neurotransmitter. Secara khusus, hipotesis dopamin psikosis telah berpengaruh dan menyatakan bahwa hasil psikosis dari overactivity dari fungsi dopamin di otak, khususnya di jalur mesolimbic. Dua sumber utama bukti yang diberikan untuk mendukung teori ini adalah bahwa reseptor dopamin D2 memblokir obat (misalnya, antipsikotik) cenderung mengurangi intensitas gejala psikotik, dan bahwa obat yang meningkatkan aktivitas dopamin (seperti amfetamin dan kokain) dapat memicu psikosis di beberapa orang. Namun, bukti meningkat dalam waktu belakangan ini telah menunjuk kemungkinan disfungsi neurotransmitter glutamat excitory, khususnya, dengan aktivitas reseptor NMDA. Teori ini diperkuat oleh fakta bahwa antagonis reseptor NMDA disosiatif seperti ketamin, PCP dan dekstrometorfan / detrorphan (pada overdosis besar) menginduksi keadaan psikotik yang lebih mudah daripada stimulan dopinergic, bahkan pada "normal" dosis rekreasi.

Gejala-gejala keracunan disosiatif juga dianggap cermin gejala skizofrenia, termasuk gejala psikotik negatif, lebih erat dari psikosis amphetamine. Psikosis yang diinduksi disosiatif terjadi secara lebih handal dan diprediksi daripada psikosis amphetamine, yang biasanya hanya terjadi dalam kasus-kasus overdosis, penggunaan jangka panjang atau dengan kurang tidur, yang secara independen dapat menghasilkan psikosis. Obat antipsikotik baru yang bertindak pada reseptor glutamat dan yang sedang menjalani uji klinis. Hubungan antara dopamin dan psikosis umumnya diyakini menjadi kompleks. Sementara reseptor dopamin D2 menekan aktivitas adenilat siklase, reseptor D1 meningkat itu. Jika D2-blocking obat diberikan dopamin diblokir tumpah ke reseptor D1.

II. 5

Klasifikasi Gangguan Psikotik 1. Gangguan Psikotik akibat Kondisi Medis Umum Diagnosis gangguan psikotik akibat kondisi medis umum menurut DSM-IV-TR didefinisikan dengan menentukan gejala yang menonjol. Jika diagnosis digunakan,kondisi medis, bersama dengan pola gejala yang dominan, haru dimasukkan ke dalam diagnosis, contohnya gangguan psikotik disebabkan tumor otak dengan waham. Tabel 1. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Psikotik Akibat Kondisi Medis Umum A. Halusinasi atau waham menonjol B. Terdapat tanda dari riwayat, pemeriksaan fisik, atau hasil laboratorium bahwa gangguan tersebut merupakan akibat fisiologi langsung kondisi medis umum. C. Gangguan tidak disebabkan gangguan mental lain D. Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama perjalanan delirium

2.

Gangguan Psikotik akibat Zat Kategori diagnosis gangguan psikotik akibat zat dalam DSM-IV-TR diberikan untuk mereka yang mengalami gejala psikotik akibat zat dan uji realita terganggu. Orang dengan gejala psikotik akibat zat (misalnya halusinasi) tetapi dengan uji realita intak harus digolongkan menderita gangguan terkait zat (misalnya intoksikasi PCP dengan gangguan persepsi). Diagnosis penuh

gangguan psikotik akibat zat harus meliputi jenis zat yang terlibat, stadium penggunaan saat gangguan mulai timbul, dan fenomena klinis. Tabel 2. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Psikotik Akibat Zat A. Halusinasi atau waham menonjol Catatan : jangan memasukkan halusinasi jika orang mempunyai tilikan bahwa keadaan tersebut disebabkan zat B. Terdapat tanda dari riwayat pemeriksaan fisik atau hasil laboratorium (1)dan(2) (1) Kriteria A timbul selama, atau dalam satu bulan setelah, intoksikasi atau keadaan putus zat (2) Pemakaian obat secara etiologi terkait dengan gangguan C. Gangguan tidak disebabkan gangguan psikotik yang bukan akibat zat. Tanda bahwa gejala disebabkan gangguan psikotik yang bukan karena akibat zat mungkin mencakup berikut ini :gejala mendahului awitan pemakaian zat; gejala menetap untuk suatu waktu yang substansial (cth sekitar 1 bulan) setelah penghentian keadaan putus zat akut atau intoksikasi berat, atau secara substansial melebihi perkiraan efek yang dihasilkan oleh jenis atau juml;ah zat yang digunakan atau lama penggunaan; atau terdapat tanda lain yang menunjukkan eksistensi suatu gangguan psikotik bukan akibat zat independen (cth., riwayat episode bukan terkait zat rekuren) D. Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama terjadi delirium.

3.

Skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya a. Skizofrenia Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1% penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka.3 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia, dimana adanya gejala-gejala khas tersebut telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal). Tabel 3. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Skizofrenia.4

A. Gejala Karakteristik : Dua (atau lebih) poin berikut, masing masing terjadi dalam porsi waktu yang signifikan selama periode 1 bulan (atau kurang bila berhasil diobati) : (1) Waham (2) Halusinasi (3) Bicara kacau (sering melantur atau inkoherensi) (4) Perilaku yang sangat kacau atau katatonik (5) Gejala negative, yaitu afektif mendatar, alogia, atau kehilangan minat B. Disfungsi social/okupasional : selama satu porsi waktu yang signifikan sejak
7

awitan gangguan, terdapat satu atau lebih area fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan diri, yang berada jauh di bawah tingkatan yang telah dicapai sebelum awitan (atau apabila awitan terjadi pada masa kanak kanak atau remaja, kegagalan mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik, atau okupasional yang diharapkan ). C. Durasi : tanda kontiyu gangguan berlangsung selama setidaknya 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus mencakup setidaknya 1 bulan gejala(atau kurang bila berhasil diobati) yang memenuhi criteria A (gejala fase aktif) dan dapat mencakup periode gejala prodromal atau residual ini, tanda gangguan dapat bermanifestasi sebagai gejala negative saja atau dua atau lebih gejala yang terdaftar dalam Kriteria A yang muncul dalam bentuk yang lebih lemah (cth, keyakinan aneh, pengalaman perceptual yang tidak lazim) D. Ekslusi gangguan mood dan skizoafektif : Gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan cirri psikotik telah disingkirkan baik karena (1) tidak ada episode depresif,manic, atau campuran mayor yang terjadi bersamaan denga gejala fase aktif, maupun (2) jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya relative singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual. E. Eklusi kondisi medis umum/zat : gangguan tersebut tidak disebabkan oleh fisiologis langsung suatu zat(cth obat yang disalahguakan,obat medis) atau kondisi medis umum F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasive : jika terdapat riwayat gangguan autistic atau gangguan perkembangan pervasive lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia hanya dibuat bila waham atau halusinasi yang prominen juga terdapat selama setidaknya satu bulan(atau kurang bila telah berhasil diobati) Tabel 4. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Subtipe Skizofrenia.4 Tipe Paranoid Tipe Skizofrenia yang memenuhi criteria berikut A. Preokupasi terhadap satu atau lebih waham atau halusinasi auditorik yang sering B. Tidak ada hal berikut ini yang prominen: bicara kacau, perilaku kacau atau katatatonik, atau afek datar atau tidak sesuai. Tipe Hebefrenik (Disorganized) Tipe skizofrenia yang memenuhi criteria berikut A. Semua hal di bawah ini prominen (1) Bicara kacau (2) Perilaku kacau (3) Afek datar atau tidak sesuai B. Tidak memenuhi criteria tipe katatonik Tipe Katatonik Tipe skizofrenia yang gambaran klinisnya didominasi setidaknya dua hal berikut : (1) Imobilitas motorik sebagaimana dibuktikan dengan katalepsi (termasuk fleksibilitas serea) atau stupor (2) Aktivitas motorik yang berlebihan (yaitu yang tampaknya tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi stimulus eksternal) (3) Negativism ekstrim (resistensi yang tampaknya tak bermotif terhadap semua
8

instruksi atau dipertahankannya suatu postur rigid dari usaha menggerakkan) atau mutisme (4) Keanehan gerakan volunteer sebagaimana diperlihatkan oleh pembentukkan postur (secara volunteer menempatkan diri dalam postur yang tidak sesuai atau bizar), gerakan stereotipi, menerisme prominen, atau menyeringai secara prominen (5) Ekolalia atau ekopraksia Tipe tak Terdiferensiasi Tipe skizofrenia yang gejalanya memenuhi Kriteria A, namun tidak ,memenuhi criteria tipe paranois,hebefrenik, atau katatatonik. Tipe Residual Tipe Skizofrenia yang memenuhi criteria sebagai berikut A. Tidak ada waham, halusinasi, bicara kacau yang prominen, serta perilaku sangat kacau atau katatonik B. Terdapat bukti kontinu adanya gangguan sebagaimana diindikasikan oleh adanya gejala negative atau dua atau lebih gejala yang tercantum pada Kriteria A untuk skizofrenia, yang tampak dalam bentuk yang lebih lemah (cth keyakinan yang aneh, pengalaman perceptual tak lazim) b. Gangguan Skizofreniform Gangguan skizofreniform sama dengan skizofrenia kecuali gejala gejalanya berlangsung sekurang kurangnya 1 bulan tetapi kurang dari 6 bulan. Pasien dengan gangguan skizofreniform akan kembali ke fungsi normal ketika gangguan hilang. Sebaliknya, agar pasien memenuhi criteria diagnostic skizofrenia, gejala harus ada selama setidaknya 6 bulan. Gabriel Langfeldt pertama kali menggunakan istilah skizofreniform pada tahun 1939, di University Psychiatric Clinic di Oslo, Norwegia, untuk menjelaskan suatu gangguan yang ditandai dengan episode psikotik singkat dan embaik dengan sendirinya. c. Gangguan Waham Menetap Kelompok ini meliputi gangguan dengan waham-waham yang berlangsung lama (paling sedikit selama 3 bulan) sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas atau yang paling mencolok dan tidak dapat digolongkan sebagai gangguan mental organic, skizofrenia atau gangguan efektif. d. Gangguan Psikotik Akut dan Sementara Memiliki onset yang akut (dalam masa 2 minggu), kesembuhan yang sempurna biasanya terjadi dala 2-3 bulan, sering dalam beberapa minggu atau
9

bahkan beberapa hari, dan hanya sebagian kecil dari pasien dengan gangguan ini berkembang menjadi keadaan yang menetap dan berhendaya.6 e. Gangguan Waham Induksi Dua orang atau lebih mengalami waham atau system waham yang sama, dan sling mendukung dalam keyakinan waham itu. Yang menderita waham orisinil (gangguan psikotik) hanya satu orang, waham tersebut terinduksi (mempengaruhi) lainnya, dan biasanya menghilang apabila orang-oarang tersebut dipisahkan. Hampir selalu orang-orang yang terlibat mempunyai hubungan yang sangat dekat. Jika ada alas an untuk percaya bahwa duaorang yang tinggal bersama mempunyai gangguan psikotik yang terpisah, maka tidak astupun diantaranya boleh dimasukkan dalam kode diagnosis ini. f. Gangguan Skizoafektif Merupakan gangguan yang bersifa episodic dengan gejala afektif dan skizofrenik yang sama-sama menonjol dan secara bersamaan ada dalam episode yang sama. g. Gangguan Psikotik Non-Organik Lainnya Gangguan psikotik yang tidak memenuhi criteria untuk skizofrenia atau untuk gangguan afektif yang bertipe psikotik, dan gangguan-gangguan yang psikotik yang tidak memenuhi criteria gejala untuk gangguan waham menetap. 4. Gangguan Afektif dengan Gejala Psikotik Adanya ciri psikotik pada gangguan afektif berat mencerminkan penyakit yang parah dan merupakan indicator prognostic yang buruk. Sebuah tinjauan literature yang membandingkan gangguan depresif mayor berat nonpsikotik dengan psikotik menunjukkan bahwa kedua keadaan tersebut dapat berbeda patogenesisnya. Satu perbedaan adalah gangguan bipolar I lebih lazim terjadi di dalam keluarga dengan depresi psikotik daripada keluarga dengan depresi nonpsikotik. Gejala psikotik sendiri umumnya dikategorikan sebagai kongruen,yaitu mood yang konsisten dengan gangguan mood, contohnya saya pantas dihukum karena
10

saya jahat, atau tidak kongruen, yaitu mood yang tidak konsisten dengan gangguan mood. Pasien gangguan mood dengan psikosis mood yang kongruen merupakan gangguan mood tipe psikotik; sedangkan pasien gangguan mood dengan psikosis mood yang tidak kongruen dapat merupakan gangguan skizoafektif atau skizofrenia 4.

II. 6

Manifestasi Klinis Waham Waham adalah isi pikir (keyakinan atau pendapat) yang salah dari seseorang. Meskipun salah tetapi individu itu percaya betul, sulit dikoreksi oleh orang lain, isi pikir bertentangan dengan kenyataan, dan isi pikir terkait dengan pola perilaku individu. Seorang pasien dengan waham curiga, maka pola perilaku akan menunjukkan kecurigaan terhadap perilaku orang lain, lebih-lebih orang yang belum dikenalnya. Bisa terjadi kecurigaan kepada orang sekitarnya akan meracuni atau membunuh dia. Akibat waham curiga ini pada orang yang sebelumnya bersifat emosional agresif. Ia bisa membunuh orang karena wahamnya kalau tidak dibunuh, ia akan dibunuh. Atau ia akan diracuni dan dibuat celaka oleh orang yang dibunuhnya. Halusinasi Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa ada rangsangan. Pasien merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tak ada sesuatu rangsang pada kelima indera tersebut. Halusinasi dengar adalah gejala terbanyak pada pasien psikotik (99 %). Pasien psikotik yang nalar (ego)-nya sudah runtuh, maka halusinasi tersebut dianggap real dan tak jarang ia bereaksi terhadap halusinasi dengar. Bila halusinasi berisi perintah untuk membunuh ia pun akan melaksanakan pembunuhan. Ini memang banyak terjadi pada pasien psikotik yang membunuh keluarganya sendiri. Sebaliknya halusinasi yang memerintah untuk bunuh diri tak jarang pasien pun akan bunuh diri. Tilikan Yang Buruk Pasien psikotik merasa dirinya tidak sakit, meskipun sudah ada bukti adanya perubahan perilaku yang jelas tidak wajar. Pasien tak mau minum obat atau tak mau
11

diajak berobat, atau bila ada waham dianggap mau diracuni. Keadaan merasa tidak sakit ini yang mempersulit pengobatan, apalagi keluarga juga mengiyakan karena merasa tak sakit ia tak mau mencari pengobatan. Tilikan yang buruk ini merupakan ciri khas pasien psikotik. Di sini peran keluarga penting, kalau memang menemukan gejala tersebut seperti waham, halusinasi dan illusi, segera berkonsultasi kepada tenaga kesehatan jiwa.

II. 7

Penatalaksanaan 1. Terapi Biologis

Pada umumnya terapi pada gangguan psikotik adalah antipsikotik. Obat antipsikotik mencakup dua kelas utama yaitu antagonis reseptor dopamine (DA) dan antagonis serotonin-dopamin (SDA) Antagonis Reseptor Dopamin (DA): Antipsikotik Tipikal Antipsikotik ini mencakup Chlorpromazine, Thioridazine, Fluphenazine, dan Haloperidol, juga banyak yang lainnya. Obat antipsikotik tipikal mengurangi gejala psikotik dengan menghambat pengikatan dopamine pada reseptor dopamine D2. Efek antipsikotik tampak berasal dari inhibisi neurotransmisi dopaminergik pada tonjolan dopamine mesokortikal, sedangkan efek samping Parkinson terjadi akibat blockade jaras nigrostriatal. Antagonis Reseptor Dopamine efektif untuk penatalaksanaan skizofrenia jangka panjang maupun jangka pendek, gangguan skizofreniform, gangguan skizoafektif,gangguan waham, gangguan psikotik singkat, episode manic , dan gangguan depresif berat dengan cirri psikotik. Obat ini mengurangi gejala akut dan mencegah perburukan di masa mendatang. Antagonis reseptor dopamine umumnya juga efektif terhadap gejala psikotik akibat penyebab organic. Agitasi dan psikosis akibat keadaan neurologis seperti demensia tipe Alzheimer juga berespon terhadap terapi antipsikotik. Nama Generik Chlorpromazine Thioridazine Kisaran dosis dewasa yang biasa (mg/hari) 300-800 200-700 Dosis tunggal IM (mg) 25-50 12

Fluphenazine Haloperidol

1-20 6-20

2-5 2-6

Antagonis Serotonin-Dopamin : Antipsikotik Generasi Kedua Antagonis serotonin-dopamin (SDA) juga disebut sebagai generasi kedua, obat antipsikotik atipikal atau baru dan mencakup risperidone, olanzapine, quetiapine, clozapine, dan ziprasideone. Obat ini memperbaiki dua jenis hendaya yang menjadi cirri khas skizofrenia: (1) gejala positif seperti halusinasi, waham, pikiran terganggu, dan agitasi, serta (2) gejala negative seperti menarik diri, afek datar, anhedonia, miskin pembicaraan, katatonia, dan hendaya kognitif. SDA mempunyai risiko gejala ekstrapiramidal yang lebih kecil dibandingkan antagonis reseptor dopamine,yang menghilangkan kebutuhan penggunaan antikolinergik dan efek sampingnya yang mengganggu. SDA juga efektif untuk terapi gangguan mood dengan cirri psikotik atau manic dan untuk gangguan perilaku yang terkait dengan demensia. Olanzapine diindikasikan untuk terapi jangka pendek episode manikakut pada gangguan bipolar I. semua agen ini dianggap obat ini pertama kecuali clozapine, yang menimbulkan efek samping hematologis yang memerlukan pemeriksaan darah mingguan. Risperidone, olanzapine, quetiapine, dan ziprasidone sesuai untuk penatalaksanaan episode psikotik awal, sedangkan clozapine dicadangkan untuk orang refrakter terhadap semua obat antipsikotik lain. Jika seseorang tidak berespon terhadap SDA yang pertama, SDA lain atau aripripazole harus dicoba. Olanzapine dan clozapine memiliki efek menenangkan awal akibat aktivitas antikolinergiknya. SDA adalah sedative yang kurang efektif untuk terapi psikosis akut daripada antagonis reseptor dopamine atau benzodiazepine. Oleh karena itu, kadang kadang pemberian SDA perlu ditambah dengan antagonis reseptor dopamine potensi kuat atau benzodiazepine pada beberapa minggu pertama penggunaan. Lorazepam 1 hingga 2 mg per oral atau intramuscular (IM) dapat digunakan seperlunya untuk agitasi akut. SDA biasanya memerlukan waktu 4 hingga 6 minggu untuk mencapai efektivitas penuhnya. Ketika efektif, dosis dapat diturunkan sesuai dengan toleransi. Perbaikan klinis dapat memerlukan waktu terapi selama 6 bulan sengan SDA pada sejumlah orang yang terutama refrakter terhadap terapi6 . Nama Obat Risperidone Sediaan Tablet : 1,2,3,4 mg Dosis Dosis awal 1-2 mg pada malam
13

Larutan oral :1mg/ml

hari, ditingkatkan bertahap 1mg per dosis setiap 2-3 hari hingga 4-6mg/hari. Dosis awal psikosis 5 atau 10mg Dosis awal mania akut 10 atau 15mg Dosis dimulai 25mg dua kali sehari, dapat ditingkatkan 2550mg per dosis setiap 2-3 hari sampai 300-400mg/hari Dosis awal 25 mg sekali atau dua kali sehari 10-30mg per hari

Olanzapine

Tablet: 2,5;5;7,5;10; dan 15mg

Quetiapine

Tablet :25,100,200 mg

Clozapine Aripiprazole 2. Psikoterapi

Tablet: 25,100mg Tablet: 10,15,20,30mg

Secara umum tujuan psikoterapi adalah untuk memperkuat struktur kepribadian, mematangkan kepribadian, memperkuat ego, meningkatkan citra diri, memulihkan kepercayaan diri yang semuanya itu untuk mencapai kehidupan yang berarti dan bermanfaat. a. Psikoterapi supportif Untuk memberi dukungan, semangat, dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa dan semngat juang dalam menghadapi hidup ini tidak kendur dan menurun b. Psikoterapi re-edukatif Untuk memberi pendidikan ulang yang maksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu dan juga dengan pendidikan ini dimaksudkan mengubah pola pendidikan lama dengan baru sehingga penderita lebihadaptif terhadap dunia luar. c. Psikoterapi re-konstruktif Untuk memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi pribadi yang utuh seperti semula sebelum sakit. d. Psikoterapi kognitif Untuk memulihkan kembali daya kognitif (daya piker dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai-nilai moral etika,

14

mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak, mana yang halal dan haram dan sebagainya. e. Psikoterapi psiko-dinamik Psiko-dinamik adalah suatu pendekatan konseptual yang memandang proses-proses mental sebagai gerakan dan interaksi kuantitas-kuantitas energy psikik yang berlangsung intra-individual (antar bagian-bagian struktur psikik) dan inter-individual (antar orang).8 Untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaaan yang dapat menjelaskan seseorang jatuh sakit dan upaya untuk mencari jalan keluarnya. Diharapkan penderita dapat memahami kelebihan dan kelemahan dirinya dan mampu menggunakan mekanisme pertahanan diri dengan baik. f. Psikoterapi perilaku Untuk memulihkan gangguan prilaku yang terganggu menjadi prilaku yang adaptif (mampu menyesuaikan diri). Kemampuan adaptasi penderita perlu dipulihkan agar penderita mampu berfungsi kembali secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari baik dirumah, disekolah dan lingkungan sosialnya. g. Psikoterapi keluarga Untuk memulihkan hubungan penderita dengan keluarganya diharapkan keluarga dapat memahami mengenai gangguan jiwa skizofrenia dan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan penderita. h. Psikososial Diupayakan untuk tidak menyendiri, tidak melamun, banyak kegiatan dan kesibukan dan banyak bergaul (silaturahmi/sosialisasi). D.B. Larson, dkk (1992) dalam penilitiannya sebagaimana termuat dalam Religious Commitment and Health (APA, 1992), menyatakan antara lain bahwa agama (keimanan) amat penting dalam meningkatkan seseorang dalam mengatasi penderitaan bila ia sedang sakit serta mempercepat penyembuhan selain terapi medis yang diberikan. Synderman (1996) menyatakan bahwa terapi medis tanpa agama (doa), tidak lengkap; sebaliknya agama (doa) saja tanpa terapi medis, tidak efektif9. II. 8 Prognosis10 a. Prognosis kearah baik
15

i. ii. iii. iv. v. vi. vii. viii. ix. b. i. ii. iii. iv. v. vi. vii. viii. ix. II. 9

Onset akut dengan factor pencetus yang jelas Riwayat hubungan social dan pekerjaan yang baik (Premorbid) Adanya gejala afekstif (depresi) Subtipe paranoid Subtipe katatonik Sudah menikah Banyak simptom positif Kebingungan Tension, cemas hostilitas Prognosis kearah buruk Onset perlahan-lahan dengan factor pencetus tidak jelas Riwayat hubungan social dan pekerjaan buruk (premorbid) Menarik diri, tingkah laku yang artristik Tipe hebepenik dan tipe tak tergolongkan Belum manikah Riwayat skizofrenia dalam keluarga Adanya gejala neurologik Banyak simptom negatif Tidak ada gejala afektif atau hostilitas yang jelas

Pencegahan5 Perkembangan kepribadian seseorang manusia itu ditentukan oleh interaksi dari 4 pilar; yaitu organobiologik, psiko-edukatif, psikososial dan psikoreligius. Hal ini sesuai dengan batasan sehat oleh WHO (1984) yaitu sehat fisik, sehat jiwa/mental, sehat social, dan sehat spiritual yang juga diadopsi oleh APA (American Psychiatric Associatiom, 1992) a) Organobiologik Menghindari kemungkina adanya factor genetic (turunan), maka perluditeliti riwayat atau silsilah keluarga. Menghindari adanya kemungkinan factor epigenetic, maka hendaknya selama kehamilan seorang ibu perlu mendapatkan perawatan yang baik agar tidak terjadi gangguan pada perkembangan otak janin. b) Psiko-edukatif

16

Pendidikan anak hendaknya sedemikian rupa sehingga dapat dihindari terbentuknya sifat atau cirri kepribadian yang rawan atau rentan bagi terjadinya gangguan skizofrenia, misalnya yang tergolong kepribadian promorbid (kepribadian paranoid, schizoid, skizotipal dan ambang). c) Psiko-religius Setiap manusia (meskipun ia seorang atheis sekalipun) pada hakekatnya ada kebutuhan dasar kerohanian. Setiap orang membutuhkan rasa aman, tenang, tentram, terlindungi; bebas dari rasa cemas, ketakutan, depresi, stress, dan lain sebagainya. Bagi mereka yang beragama kebutuhan rohani ini dpat diperoleh lewat agama; namun bagi mereka yang sekuler dan mengingkarinya, menempuh lewat penyalahgunaan NAZA ataupun jalur lainnya. d) Psikososial Dalam kehidupan sehari-hari anak tumbuh kembang di tiga tempat, yaitu di rumah (Keluarga), di sekolah (lembaga pendidikan) dan di lingkungan masyarakat sosialnya. Kondisi social di masing-masing tempat tersebut akan berinteraksi satu dengan lainnya dan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Maka untuk mencegahnya kita harus menciptakan keluarga yang harmonis, lembaga pendidikan yang baik dan lingkungan pergaulan social yang sehat.

17

BAB III PENUTUP


Gangguan psikotik adalah semua kondisi yg menunjukkan adanya hendaya berat dalam kemampuan daya nilai realitas, baik dalam perilaku individu dlm suatu saat maupun perilaku individu dalam perjalanannya mengalami hendaya berat kemampuan daya nilai realitas ( perlu dipertimbangkan faktor budaya ). Bukti langsung hendaya daya nilai realitas terganggu misal adanya ;

waham, halusinasi tanpa tilikan akan sifat patologinya; adanya perilaku yg demikian kacau ( grossly disorganized ) misalnya bicara yg inkoheren, perilaku agitasi tanpa tujuan, disorientasi pd delirium dst; adanya kegagalan fungsi sosial dan personal dgn penarikan diri dari pergaulan sosial dan tidak mampu dlm tugas pekerjaan sehari-hari.

Banyak faktor yang menyebabkan gangguan psikotik yaitu: Faktor psikodinamik yang harus diperhatikan di dalam kelompok gangguan psikotik ini adalah stresor pencetus dan lingkungan interpersonal, pemeriksaan pasien psikotik harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa gejala psikotik adalah disebabkan oleh kondisi medis umum (sebagai contohnya, suatu tumor otak) atau ingesti zat (sebagai contohnya, phencyclidine), Zat psikoaktif adalah penyebab yang umum dari sindroma psikotik. Zat yang paling sering terlibat adalah alkohol, halusinogen indol sebagai contohnya, lysergic acid diethylamid (LSD) amfetamin, kokain. Mescalin, phencyclidine (PCP), dan ketamin. Banyak zat lain, termasuk steroid dan thyroxine, dapat disertai dengan halusinasi akibat zat. Prognosis gangguan psikotik yaitu berdasarkan: onset akut dengan factor pencetus yang jelas, riwayat hubungan social dan pekerjaan yang baik (Premorbid), adanya gejala afekstif (depresi), sudah menikah, banyak simptom positif, kebingungan, tension, cemas hostilitas

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Kusumawardhani A, Husain AB, dkk. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010. Hal 13 2. Nurmah, Islamiyah N, dkk. Psikotik dan Skizofrenia. 12 April 2011. Diunduh dari: http://id.scribd.com/doc/74666207/PSIKOTIK-lengkap 3. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi ke-2. Cetakan 2010. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2010. Hal 147-16 4. Brown %20Disorder.pdf 5. News Medical. Apa Penyebab Psikosis. 1 November 2012. Diunduh dari: http://www.news-medical.net/health/What-Causes-Psychosis-(Indonesian).aspx 6. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi ke-2. Cetakan 2010. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2010. Hal 169-187 7. News Medical. Psikosis Patofisiologi. 1 November 2012. Diunduh dari: http://www.news-medical.net/health/Psychosis-Pathophysiology-(Indonesian).aspx 8. Kusumawardhani A, Husain AB, dkk. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010. Hal 38 9. Hawari HD. Pendekatan holistic pada gangguan jiwa skizofrenia. Edisi ke-2. Cetakan 3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006 10. Maramis WF. Ilmu kedokteran jiwa. Cetakan 6. Jakarta: Airlangga University Press, 1994 University. Diunduh November 2012. http://www.brown.edu/Courses/BI_278/Other/Clerkship/Didactics/Readings/Bipolar

19