Anda di halaman 1dari 2

Alkohol Alkohol (C2H5OH) merupakan bahan alami yang dihasilkan dari proses fermentasi yang banyak ditemui dalam

produk bir, anggur dan sebagainya. Sebutan alkohol biasanya diartikan sebagai etil alkohol (CH3CH2OH), mempunyai densitas 0,78506 g/ml pada 25 0 C, titik didih 78,4 0 C, tidak berwarna dan mempunyai bau serta rasa yang spesifik (Kartika,B., dkk, 1992). Kartika, B., dkk, 1992. Petunjuk Evaluasi Produk Industri Hasil Pertanian. Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama Antar Universitas PAU Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta. Alkohol digunakan secara luas dalam industri dan laboratorium sebagai pereaksi, pelarut, dan bahan bakar. Ada lagi alkohol yang digunakan secara bebas, yaitu yang dikenal di masyarakat sebagai spiritus. Awalnya alkohol digunakan secara bebas sebagai bahan bakar. Namun untuk mencegah penyalahgunaannya untuk makanan dan minuman, maka alkohol tersebut didenaturasi. Dalam bidang kimia, alkohol (atau alkohol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan atau atom karbon lainnya. Gugus fungsional alkohol adalah hidroksil yang terikat pada karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol primer, skunder, dan tersier. Nama-nama ini merujuk pada jumlah karbon yang terikat pada karbon C-OH. Etanol dan metanol (gambar di bawah) adalah alkohol primer. Alkohol skunder yang paling sederhana adalah propan-2-ol, dan alkohol tersier sederhana adalah 2-metilpropan2-ol. Rumus kimia umu alkohol adalah CnH2n+1OH Alkohol merupakan zat yang memiliki aktivitas antimikroba spektrum luas dalam membunuh bakteri, virus, dan jamur tetapi tidak bersifat sporisidal. Mekanisme kerja alkohol dengan cara mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi dan juga melarutkan lemak. Kadar antiseptik alkohol yang paling baik yaitu 70%-90%, dan yang biasa dipakai sebagai antiseptik kulit yaitu yang mempunyai kandungan 70%, dengan kandungan 70% tersedia cukup molekul air yang akan mempercepat proses penguapan juga mempercepat proses penetrasi ke jaringan. Terdapat tiga macam alkohol yang digunakan sebagai antiseptik kulit: etil (etanol), normal-propil, dan isopropil. Penggunaan alkohol 70% pada tangan dapat mengurangi jumlah bakteri sampai 99,7%. Oleh karena itu alkohol 70% merupakan konsentrasi yang baik sebagai antiseptik kulit (Ascenzi, 1996). Ascenzi, J.M. 1996. Handbook of disinfectants and antiseptics. Available at: http://books. google. com/books .

Sulistiyaningsih. 2010. Uji Kepekaan Beberapa Sediaan Antiseptik Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus aureus Resisten Metisilin (Mrsa). Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Jatinangor. http://repository.unpad.ac.id/