Anda di halaman 1dari 17

PENGERTIAN EPISTAKSIS Epistaksis adalah satu keadaan pendarahan dari hidung yang keluar melalui lubang hidung akibat

sebab kelainan lokal pada rongga hidung ataupun karena kelainan yang terjadi di tempat lain dari tubuh. Mimisan terjadi pada hidung karena hidung punya banyak pembuluh darah, terutama di balik lapisan tipis cupingnya. Mimisan sendiri bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari suatu penyakit, itu artinya mimisan bisa terjadi karena bermacam sebab dari yang ringan sampai yang berat. Pada umumnya ini terjadi pada anak-anak karena pembuluh darahnya masih tipis dan sensitif, selain karena pilek. Gangguan mimisan umumnya berkurang sesuai dengan pertambahan usia. Semakin tambah usia, pembuluh darah dan selaput lendir di hidungnya sudah semakin kuat, hingga tak mudah berdarah. Epistaksis bukan suatu penyakit melainkan gejala suatu kelainan. Klasifikasi Sumber perdarahan berasal dari bagian anterior atau posterior rongga hidung. ü Epistaksis Anterior (Mimisan Depan) Jika yang luka adalah pembuluh darah pada rongga hidung bagian depan, maka disebut 'mimisan depan' (=epistaksis anterior). Lebih dari 90% mimisan merupakan mimisan jenis ini. Mimisan depan lebih sering mengenai anak-anak, karena pada usia ini selapun lendir dan pembuluh darah hidung belum terlalu kuat. Mimisan depan biasanya ditandai dengan keluarnya darah lewat lubang hidung, baik melalui satu maupun kedua lubang hidung. Jarang sekali perdarahan keluar lewat belakang menuju ke tenggorokan, kecuali jika korban dalam posisi telentang atau tengadah. Pada pemeriksaan hidung, dapat dijumpai lokasi sumber pedarahan. Biasanya di sekat hidung, tetapi kadang-kadang juga di dinding samping rongga hidung. Mimisan depan akibat : 1. 2. berAC 3. 4. 5. Terlalu lama terpapar sinar matahari Pilek atau sinusitis Membuang ingus terlalu kuat Mengorek-ngorek hidung Terlalu lama menghirup udara kering, misalnya pada ketinggian atau ruangan

tapi relatif lebih berbahaya. yang jika masuk ke lambung menimbulkan mual dan muntah. Penderita diminta untuk bernapas lewat mulut. 2. Pada posisi duduk atau berdiri. Karena terletak di belakang. Beri kompres dingin di daerah sekitar hidung. ü Epistaksis Posterior (Mimisan Belakang) Mimisan belakang (=epistaksis posterior) terjadi akibat perlukaan pada pembuluh darah rongga hidung bagian belakang. Setelah mimisan berhenti. tidak jatuh ke tenggorokan. sehingga menimbulkan mual dan muntah berisi darah. tidak boleh mengorek-ngorek hidung dan menghembuskan napas lewat hidung terlalu kuat sediktinya dalam 3 jam. darah sama sekali tidak ada yang keluar melalui lubang hidung. Jika penanganan pertama di atas tidak berhasil.Biasanya relatif tidak berbahaya. korban sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Perdarahan yang timbul ringan dan dapat berhenti sendiri dalam 3 . Beberapa langkah untuk mengatasi mimisan depan: 1. Kompres dingin membantu mengerutkan pembuluh darah. darah cenderung jatuh ke tenggorokan kemudian tertelan masuk ke lambung. dan jika masuk ke paru-paru dapat menimbulkan gagal napas dan kematian. penderita sebaiknya tetap duduk dengan posisi tunduk sedikit kedepan. hidung yang berdarah lebih tinggi dari jantung. karena mungkin dibutuhkan pemasangan tampon (kasa yang digulung) ke dalam rongga hidung atau tindakan kauterisasi. Penderita duduk di kursi atau berdiri. Mimisan belakang jarang terjadi. kepala ditundukkan sedikit ke depan. walaupun kadang-kadang perlu tindakan seperti memencet dan mengompres hidung dengan air dingin. Kepala ditundukkan ke depan agar darah mengalir lewat lubang hidung. Tindakan ini bermanfaat untuk mengurangi laju perdarahan. Tekan seluruh cuping hidung. Perdarahan pada mimisan belakang biasanya lebih hebat sebab yang mengalami perlukaan adalah pembuluh darah yang cukup besar. Hipertensi Demam berdarah . 4. sehingga perdarahan berkurang. 2. Beberapa penyebab mimisan belakang : 1. walaupun tidak menutup kemungkinan juga mengenai anak-anak.5 menit. Pertahankan tindakan ini selama 10 menit. Pada beberapa kasus. Usahakan jangan berhenti menekan sampai masa 10 menit terlewati. 3. tepat di atas lubang hidung dan dibawah tulang hidung. Selama dalam perjalanan. Mimisan belakang kebanyakan mengenai orang dewasa.

Langkah lain yang mungkin dipertimbangkan adalah operasi untuk mencari pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan.3. penderita harus segera dibawa ke puskesmas atau RS. Ujung kateter satunya yang ada di lubang hidung ditarik. 5. Caranya. 2. 6. thalasemia dll. Dan lain-lain Perdarahan pada mimisan belakang lebih sulit diatasi. 3. Dengan demikian diharapkan perdarahan berhenti. Jika tindakan ini gagal. Tindakan ini dinamakan ligasi. 5. Biasanya petugas medis melakukan pemasangan tampon belakang. Tumor ganas hidung atau nasofaring Penyakit darah seperti leukemia. Piramid hidung terdiri dari :       pangkal hidung (bridge) dorsum nasi (dorsum=punggung) puncak hidung ala nasi (alae=sayap) kolumela lubang hidung (nares anterior) · 1. Kekurangan vitamin C dan K. kemudian mengikatnya. kemudian ditarik keluar melalui mulut. Pada ujung yang keluar melalui mulut ini dipasang kasa dan balon. Oleh karena itu. Fisiologi hidung Fungsi hidung adalah untuk : jalan napas alat pengatur kondisi udara (mengatur suhu dan kelembaban udara) penyaring udara sebagai indra penghidu (penciuman) untuk resonansi udara membantu proses bicara . maka kasa dan balon ikut tertarik dan menyumbat rongga hidung bagian belakang. petugas medis mungkin akan melakukan kauterisasi. · ANATOMI FISIOLOGI HIDUNG Anatomi hidung Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung. 4. hemofilia. 6. kateter dimasukkan lewat lubang hidung tembus rongga belakang mulut (faring). 2. 4.

Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari arteri fasialis (fasial=muka).sfenopalatina. 3. penggunaan steroid inhalasi melalui hidung Penyebab epistaksis lainnya adalah adanya benda asing di dalam rongga hidung. Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa perdarahan dari lubang hidung. Tumor. Ketiga diatas ini merupakan penyebab lokal tersering. muntah darah. Idiopatik yang merupakan 85% kasus epistaksis. kelainan pembuluh darah dan tumor pada daerah nasofaring. bersin. Epistaksis posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang a. biasanya ringan dan berulang pada anak dan remaja. Perdarahan hidung Rongga hidung mendapat aliran darah dari cabang arteri maksilaris (maksila=rahang atas) interna yaitu arteri palatina (palatina=langit-langit) mayor dan arteri sfenopalatina. Tersering adalah tumor pembuluh darah seperti angiofibroma dengan ciri perdarahan yang hebat dan karsinoma nasofaring dengan ciri perdarahan berulang ringan bercampur lendir atau ingus. fraktur hidung atau trauma maksilofasia lainnya. 2. baik tumor hidung maupun sinus yang jinak dan yang ganas. anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar sehingga perdarahan lebih hebat. menggaruk. Kasus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. ETIOLOGI EPISTAKSIS Beberapa penyebab epistaksis dapat digolongkan menjadi etiologi lokal dan sistemik. Trauma lokal misalnya setelah membuang ingus dengan keras. Bagian depan septum terdapat anastomosis (gabungan) dari cabang-cabang arteri sfenopalatina. batuk darah. kelainan darah. . arteri etmoid anterior. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual. arteri labialis superior dan arteri palatina mayor yang disebut sebagai pleksus kiesselbach (little’s area) 3. mengorek hidung. refleks nasal Epistaksis dibagi menjadi 2 yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). batuk atau mengedan Mukosa hidung yang rapuh : terdapat infeksi saluran napas atas.7. Epistaksis (mimisan) pada anak-anak umumnya berasal dari little’s area/pleksus kiesselbach (gambar 3) yang berada pada dinding depan dari septum hidung. Dua faktor yang paling penting dari epistaksis pada anak-anak adalah :   Trauma minor : mengorek hidung. pengeringan mukosa. Etiologi lokal 1. polip hidung.

kelainan kongenital misalnya hereditary hemorrhagic Telangieclasis atau penyakit Rendj-Osler-Weber. Keadaan lingkungan yang sangat dingin Tinggal di daerah yang tinggi atau perubahan tekanan atmosfir yang tiba tiba Iatrogenik akibat operasi Pemakaian semprot hidung steroid jangka lama Benda asing atau rinolit dengan keluhan epistaksi ringan unilateral clsertai Ingus berbau busuk.infraorbitalis. Kelainan perdarahan misalnya leukemia. a. PATOFISIOLOGI Hidung kaya akan vaskularisasi yang berasal dari arteri karotis interna dan arteri karotis eksterna. 3. kemudian kembali ke dalam hidung melalui percabangan di foramen incisivus untuk menyuplai darah ke septum anterior. . Arteri karotis eksterna menyuplai darah ke hidung melalui percabangannya arteri fasialis dan arteri maksilaris. demam tifoid dll. c. Arteri labialis superior merupakan salah satu cabang terminal dari arteri fasialis. morbili.sfenopalatina. pertusis.Etiologi lainnya       iritasi gas atau zat kimia yang merangsang ataupun udara panas pada mukosa hidung. misalnya demam berdarah disertai trornbositopenia. Arteri palatina desenden turun melalui kanalis palatinus mayor dan menyuplai dinding nasal lateral.alveolaris posterior superior. Arteri maksilaris interna masuk ke dalam fossa pterigomaksilaris dan memberikan enam percabangan : a. tumor leher dan penyakit jantung d. a. pterygoid canal dan a. trombositopenia dll. pada pasien dengan pengobatan antikoagjlansia. Infeksi. hemofilia. 4. 2. Arteri ini memberikan vaskularisasi ke nasal arterior dan septum anterior sampai ke percabangan septum. Etiologi sistemik 1. pharyngeal. Termasuk etiologi sistemik lain a. menarke dan menopause b. Lebin jarang terjadi adalah gangguan keseimbangan hormon misalnya pada kehamilan. a. pneumonia. perdarahan biasanya hebat berulang dan mempunyai prognosis yang kurang baik. Peninggian tekanan vena seperti pada ernfisema. Hipertensi yan disertai atau anpa arteriosklerosis rnerupakan penyebab epistaksis tersering pada usia 60-70 lahun. Hipertensi dan penyakit kardiovaskuler lainnya seperti arteriosklerosis.palatina desenden . bronkitis.

TANDA dan GEJALA Perdarahan dari hidung. lalu turun ke cavum nasi melalui lamina cribriformis. 5. Epitaksis posterior (belakang) dapat berasal dari a. Hal ini terutama terjadi pada membran mukosa yang sudah terlebih dahulu mengalami inflamasi akibat dari infeksi saluran pernafasan atas. Walaupun hanya sebuah aktifitas normal dilakukan seperti menggosok-gosok hidung dengan keras.Arteri karotis interna memberikan vaskularisasi ke hidung. Pleksus kiesselbach yang dikenal dengan “little area” berada diseptum kartilagenous anterior dan merupakan lokasi yang paling sering terjadi epistaksis anterior. Sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi. etmoid anterior. sfenopalatina dan a etmoid posterior. TEST DIAGNOSTIK Pemeriksaan Laboratorium Jika perdarahan sedikit dan tidak berulang. 6. . masuk ke foramen etmoidalis posterior. fisura dan retak karena trauma pada pembuluh darah tersebut. Pleksus kieselbach ini sering menjadi sumber epitaksis terutama pada anak-anak dan biasanya dapat sembuh sendiri. alergi atau sinusitis. Bagian septum nasi anterior inferior merupakan area yang berhubungan langsung dengan udara. Sumber perdarahan dapat berasal dari depan hidung maupun belakang hidung. Arteri etmoidalis posterior keluar dari rongga orbita. Sebagian besar epistaksis (95%) terjadi di “little area”. walaupun jarang merupakan kegawatdaruratan yang dapat mengancam keselamatan jiwa pasien. gejala yang lain sesuai dengan etiologi yang bersangkutan. masuk ke percabangan lateral dan untuk menyuplai darah ke dinding nasal lateral dan septum. Arteri ini masuk ke dalam tulang orbita melalui fisura orbitalis superior dan memberikan beberapa percabangan. pada lokasi 2-9 mm anterior dari kanalis optikus. Epitaksis berat. bahkan dapat berakibat fatal jika tidak cepat ditolong. tetapi hal ini dapat menyebabkan terjadinya trauma ringan pada pembuluh darah sehingga terjadi ruptur dan perdarahan. Kedua arteri ini menyilang os ethmoid dan memasuki fossa kranial anterior. Arteri etmoidalis anterior meninggalkan orbita melalui foramen etmoidalis anterior. hal ini menyebabkan mudah terbentuknya krusta. Sebagian besar arteri yang memperdarahi septum beranastomosis di area ini. arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit jantung. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti sendiri. tidak perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Jika perdarahan berulang atau hebat lakukan pemeriksaan lainnya untuk memperkuat diagnosis epistaksis. Epitaksis anterior (depan) dapat berasal dari pleksus kiesselbach atau dari a.

Mencegah komplikasi. anemia. turunnya tekanan darah yang mendadak dapat menimbulkan infark serebri. infark miokard.  Komplikasi ligasi arteri : kebas pada wajah.Pemeriksaan darah tepi lengkap. dapat terjadi syok atau anemia.Fungsi hemostatis .         KOMPLIKASI Sinusitis Septal hematom (bekuan darah pada sekat hidung) Deformitas (kelainan bentuk) hidung Aspirasi (masuknya cairan ke saluran napas bawah) Kerusakan jaringan hidung infeksi Komplikasi epistaksis :Hipotensi. . Kematian akibat pendarahan hidung adalah sesuatu yang jarang.EKG . otitis media akibat pemasangan tampon. paralisis fasialis. tuba eustachius tersumbat. aritmia (overdosis kokain atau lidokain )  Komplikasi embolisasi : Perdarahan hematom. sinus paranasal. hipoksia. Tindakan pemberian tekanan. infark miokard.CT scan dan MRI dapat diindikasikan untuk menentukan adanya rinosinusitis. perforasi septum Komplikasi pemasangan tampon : Sinekia. sinusitis. vasokonstriktor kurang efektif. jika disebabkan kerusakan pada arteri maksillaris dapat mengakibatkan pendarahan hebat melalui hidung dan sulit untuk disembuhkan. rinosinusitis. hipersensitivitas.Pemeriksaan foto hidung. benda asing dan neoplasma. . aspirasi pneumonia Komplikasi kauterisasi : Sinekia. sinekia. Perforasi septum. nyeri wajah. Dalam hal ini harus segera diberi pemasangan infus untuk membantu cairan masuk lebih cepat. Dimungkinkan penyembuhan struktur arteri maksillaris (yang dapat merusak saraf wajah) adalah solusi satu-satunya. Pemberian antibiotika juga dapat membantu mencegah timbulnya sinusitis. . atau infark miokard. sehingga dapat menyebabkan kematian. 7. sindrom syok toksik..Tes fungsi hati dan ginjal . Namun. dan nasofaring. sebagai akibat dari perdarahan yang berlebihan. insufisiensi koroner.

sehingga penderita akan menghirup udara melalui mulut yang akan berpengaruh terhadap mekanisme fisiologis pernapasan paru. 3. Perlu diperhatikan bahwa saat melakukan pemasangan tampon. Hindari asap rokok atau bahan kimia lain. dehidrasi. karena selain mempertahankan mukosa hidung tetap lembab. Kebanyakan epistaksis berhasil ditangani dengan pemasangan tampon di dalam hidung. dan di saat yang sama juga dibutuhkan tindakan emergensi untuk mengontrol epistaksis dan melindungi jalan napas. pasien biasanya akan langsung mengontak atau pergi ke rumah sakit atau unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan. Oleskan vaselin atau pelembab ke bagian dalam hidung sebelum tidur.Jika upaya tersebut gagal. 3. Untuk tujuan ini biasanya dilakukan pemasangan folley catheter yang diinflasikan di daerah nasofaring (area di belakang hidung) dan ditarik dari lubang hidung depan untuk menekan area perdarahan . 7. Penyakit yang mendasari juga harus dicari dan diobati secara tepat. penempatannya harus tepat. Tampon hidung sendiri bisa berupa tampon posterior ataupun anterior tergantung letak sumber perdarahannya.Pendekatan pertama yang biasa dilakukan adalah kauterisasi ataupun pemasangan tampon hidung (nasal packing). infeksi. 2.8. Jangan membuang ingus keras-keras. Hindari benturan pada hidung 9.Pasien dengan perdarahan hidung biasa mengontrol hal tersebut dengan melakukan penekanan langsung ataupun mengaplikasikan suatu obyek dingin pada hidung. 5. dan tetap waspada terhadap potensi komplikasi. untuk mencegah kering. Kauterisasi bermanfaat hanya jika sumber perdarahan pada mukosa hidung jelas terlihat.Langkah lainnya dalam penanganan epistaksis adalah termasuk menilai derajat kehilangan darah dan perlu tidaknya transfusi. Penanganan umum 1. 4. penanganan tepat dan segera terhadap setiap kondisi yang membahayakan jiwa diprioritaskan terlebih dahulu. 4. Gunakan tetes hidung NaCl atau air garam steril untuk membasahi hidung. antara lain: trauma. 5. Gunakan pelembab ruangan bila cuaca terlalu kering. Jangan mengkorek-korek hidung. juga bertindak sebagai tamponade untuk perdarahannya. PENANGANAN A. dan tentu saja berubahnya ventilasi akibat obstruksi aliran udara lewat hidung. Manajemen terhadap jalan napas (airway) dan penggantian cairan tubuh sangat penting. PENCEGAHAN 1. 6. 2.Pada kasus trauma.

3. di samping komplikasi serius yang mungkin timbul.Pendekatan lainnya adalah dengan melakukan ligasi pembuluh darah yang mensuplai darah ke hidung. serta identifikasi letak perdarahan secara akurat. dapat digunakan tampon hidung. harus benar-benar dipertimbangkan berdasarkan kondisi yang ada. karotis eksterna. PENATALAKSANAN Kolaborasi Aliran darah akan berhenti setelah darah berhasil dibekukan dalam proses pembekuan darah.Dari sekian banyak pendekatan dalam penanganan epistaksis.Pendekatan terkini dari intervensi vaskuler secara langsung adalah visualisasi angiografi dan embolisasi cabang terminal A. Lakukan hal yang sama jika terjadi perdarahan berulang. Dan pilihan yang diambil… apapun itu. dapat digunakan kompres es untuk mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriksi). mengingat ligasi pada A.Pertimbangan lainnya dari intervensi vaskuler secara dini ini adalah kenyamanan pasien. Untuk pendarahan hidung yang kronis yang disebabkan keringnya mukosa hidung. sebenarnya yang paling penting adalah kehati-hatian dalam mengevaluasi kondisi penderita. Jika masih tidak berhasil. Tampon hidung dapat menghentikan pendarahan dan media ini dipasang 1-3 hari. seperti stroke dan trauma vaskuler. dan kefektivan secara keseluruhan. Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epitaksis adalah: . Secara umum ligasi A. jika tidak berhenti sebaiknya kunjungi dokter untuk bantuan. maksilaris lebih efektif dibandingkan A. 10. lebih baik jika posisi kepala dimiringkan ke depan (posisi duduk) untuk mengalirkan darah dan mencegahnya masuk ke kerongkongan dan lambung. B. Penanganan khusus 1. maksilaris. biasanya dicegah dengan menyemprotkan salin pada hidung hingga tiga kali sehari. Pertolongan pertama jika terjadi mimisan adalah dengan memencet hidung bagian depan selama tiga menit. 2.potensial di bagian belakang hidung sekaligus melindungi jalan napas. resiko maupun keuntungan dari setiap tindakan. karotis eksterna masih memungkinkan suplai darah ke lokasi perdarahan melalui sistem vaskularisasi kolateral. Selama pemencetan sebaiknya bernafas melalui mulut. masa perawatan di rumah sakit. Perdarahan ringan biasanya akan berhenti dengan cara ini. Pilihan untuk ligasi dilakukan jika penanganan melalui kauterisasi maupun tampon hidung gagal. Jika disebabkan tekanan. Sebuah opini medis mengatakan bahwa ketika pendarahan terjadi.

dilakukan penyumbatan sumber perdarahan dengan menyemprotkan larutan perak nitrat 20-30% (atau asam trikloroasetat 10%). § Bila dengan cara tersebut perdarahan masih terus berlangsung. Hentikan pemakaian antikoagulan. maka terbaik mengkauterisasi bagian pinggirnya dan tidak benarbenar di pembuluh darah itu sendiri karena kauterisasi langsung pada pembuluh darah tersebut biasanya akan menyebabkan perdarahan kembali. Pemberian cairan elektrolit pada perdarahan hebat. atau dengan elektrokauter. dan keadaan pasien lemah. Turunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Pengontrolan perdarahan anterior dengan cara ini dapat menghindari masalah perforasi septum. Harus hati-hati agar tidak membuat luka bakar yang luas dan nekrosis jaringan termasuk kartilago dibawahnya sehingga terjadi perforasi septum nasi.Ø Mencegah komplikasi yang timbul akibat perdarahan seperti syok atau infeksi Ø Mencegah berulangnya epitaksis Ø Jika pasien dalam keadaan gawat seperti syok atau anemia lebih baik diperbaiki dulu keadaan umum pasien baru menanggulangi perdarahan dari hidung itu sendiri. § Pasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan adrenalin dan lidokain atau pantokain untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa nyeri. karena elektrokauterisasi diberikan ke tulang dasar hidung dan bukan pada septum. Bila terdapat pertemuan pembuluh darah septum anterior dan lokasi perdarahan ditemukan. Penderita sebaiknya duduk tegak agar tekanan vaskular berkurang dan mudah membatukkan darah dari tenggorokan. Terapi Lokal § Buang gumpalan darah dari hidung dan tentukan lokasi perdarahan. sumbat hidung dengan kapas dan cuping hidung dijepit sekitar 10 menit. § Cara yang paling baik untuk mengontrol epistaksis anterior (setelah dekongesti dan kokainisasi) dengan suntikan 2 ml lidokain 1% di regio foramen incisivum pada dasar hidung. jika penderita khawatir perdarahan akan bertambah hebat. § Setelah perdarahan berhenti. menggunakan apron plastik serta memegang suatu wadah berbentuk ginjal untuk melindungi pemakainya. maka diperlukan pemasangan tampon anterior yang telah diberi vaselin atau salep antibiotika agar tidak melekat sehingga . Terapi simptomatis Umum · · Tenangkan penderita. · · · · Kompres dingin pada daerah tengkuk leher dan juga pangkal hidung.

12. penyakit jantung iskemik.5 g pada setiap lubang hidung selama 5 hari. Vasokontriktor topikal : Oxymetazoline 0. § Dapat juga digunakan balon intranasal yang dirancang untuk menekan regio septum anterior (pleksus kiesselbach) atau daerah etmoidalis. dimasukkan melalui lubang hidung depan. o Menstimulasi reseptor alfa-adrenergik sehingga terjadi vasokonstriksi. dipasang secara berlapis mulai dari dasar sampai puncak rongga hidung dan harus menekan sumber perdarahan.tidak terjadi perdarahan ulang saat tampon dilepaskan. kulit yang terluka.1. Hal ini dilakukan jika epistaksis tidak dapat dihentikan dengan tampon. o Dosis : 0. angiografi dengan embolisasi percabangan arteri karotis intema. sebagian dokter juga melapisi tampon dengan salep antibiotik untuk mengurangi bakteri dan pembentukan bau.2. Tampon dibuat dari lembaran kasa steril bervaselin. diabetes melitus. o Dosis : 2-3 spray pada lubang hidung setiap 12 jam. o Kontraindikasi : hipersensitivitas o Hati-hati pada hipertiroid.8. · Anestesi lokal : lidokain 4% o Digunakan bersamaan dengan oxymetazoline o Menginhibisi depolarisasi.11 Intervensi radiologi. · Salep antibiotik : mopirocin 2% (Bactroban Nasal) o menghambat pertumbuhan bakteri. o Kontraindikasi : hipersensitivitas.10.05%. Cara ini lebih mudah diterima pasien karena lebih nyaman.14 Medika Mentosa · · Pada pasien yang dipasang tampon anterior. berukuran 72 x ½ inci. o Kontraindikasi : hipersensitivitas. memblok transmisi impuls saraf o Kontraindikasi : hipersensitivitas. meningkatkan tekanan intraokular. · Perak Nitrat o Mengkoagulasi protein seluler dan menghancurkan jaringan granulasi. berikan antibiotik profilaksis.7. Tampon dipasang selama 1-2 hari. Pembedahan o Ligasi Arteri .

defesiensi vitamin k melalui konsultasi dengan ahli spesialis lainnya Edukasi pasien ü Hindari cuaca yang panas dan kering ü Hindari makanan yang pedas dan panas ü Bernafas dengan mulut terbuka. Pembuluh ini dijepit dengan suatu klip hemostatik. dapat dibiarkan selama 3-5 menit.6. Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat penghisap untuk membersihkan hidung dari bekuan darah.Ligasi arteri etmoid anterior dilakukan bila dengan tampon anterior perdarahan masih terus berlangsung. salep Bactroban nasal ü Berikan antibiotika oral dan topikal untuk mencegah rinosinusitis ü Hindari aspirin dan NSAID lainnya ü Kontrol masalah medis lainnya seperti hipertensi. lalu bola mata ditarik ke lateral. . Insisi langsung diteruskan ke tulang. Menghentikan perdarahan Menghentikan perdarahan secara aktif dengan menggunakan kaustik atau tampon jauh lebih efektif daripada dengan pemberian obat-obat hemostatik dan menunggu darah berhenti dengan sendirinya.9 Follow up ü Cegah perdarahan ulang dengan menggunakan nasal spray.7. arteri etmoid anterior merupakan cabang arteri optalmika terletak pada sutura frontomaksilolaksimal. atau suatu ligasi tunggal. Ligasi dilakukan dengan membuat sayatan mulai dari bagian medial alis mata. jika terlalu lemah pasien dibaringkan dengan meletakan bantal di belakang punggung pasien. Jika pasien datang dengan perdarahan maka pasien sebaiknya diperiksa dalam keadaan duduk.lalu melengkung ke bawah melalui pertengahan antara pangkal hidung dan daerah kantus media. o Septal dermatoplasty pada pasien osler-weber-rendu-syndrome mukosa septum diambil dan kartilago diganti dengan skin graft. kemudian dengan menggunakan tampon kapas yang dibasahi dengan adrenalin 1/10000 atau lidokain 2 % dimasukan ke dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan atau mengurangi nyeri. dimana periosteum diangkat dengan harihari dan periorbita dilepaskan.

Sebuah opini medis mengatakan bahwa ketika pendarahan terjadi. Untuk mengurangi perdarahan dapat digunakan tampon Beelloqk. Perdarahan Posterior Perdarahan biasanya lebih hebat dan lebih sukar dicari. lebih baik jika posisi kepala dimiringkan ke depan (posisi duduk) untuk mengalirkan darah dan mencegahnya masuk ke kerongkongan dan lambung. yang harus diperhatikan adalah penanganan pada:    Risiko kekurangan volume cairan. pengisian kapiler dan membrane mukosa mulut Kaji keluhan nyeri Awasi tanda-tanda vital Berikan posisi yang nyaman Dorong penggunaan manajemen nyeri Kurangi prosedur tindakan invasive Awasi tanda-tanda vital Kurangi pengunjung Perawatan Aliran darah akan berhenti setelah darah berhasil dibekukan dalam proses pembekuan darah. Tindakan mandiri perawat          Awasi tanda-tanda vital Awasi masukan/haluaran. Oleh sebab itu pada tindakan penanganan mandiri perawat. . Risiko infeksi. gejala yang lain sesuai dengan etiologi yang bersangkutan. dapat dilihat dengan menggunakan pemeriksaan rhinoskopi posterior.Perdarahan Anterior Dapat menggunakan alat kaustik nitras argenti 20-30% atau asam triklorasetat 10% atau dengan elektrokauter. gejala yang utama adalah perdarahan dari hidung. Nyeri. hitung kehilangan cairan akibat perdarahan Evaluasi turgor kulit. Mandiri Pada epitaksis. Bila perdarahan masih berlangsung maka dapat digunakan tampon anterior (kapas dibentuk dan dibasahi dengan adrenalin + vaseline) tampon ini dapat digunakan sampai 1-2 hari.

Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0 b. suku. PENGKAJIAN Biodata : Nama . 6.Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma . 3. Lakukan hal yang sama jika terjadi perdarahan berulang. jika tidak berhenti sebaiknya kunjungi dokter untuk bantuan. Pola fungsi kesehatan a. pendidikan.Pertolongan pertama jika terjadi mimisan adalah dengan memencet hidung bagian depan selama tiga menit. sex. 7. Pola nutrisi dan metabolisme : . alamat. Pola istirahat dan tidur . Jika disebabkan tekanan. dapat digunakantampon hidung. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA EPISTAKSIS A. pekerjaan Riwayat Penyakit sekarang Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh sulit bernafas. Riwayat penyakit dahulu : . dapat digunakan kompres es untuk mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriksi).umur. 1. Selama pemencetan sebaiknya bernafas melalui mulut. Perdarahan ringan biasanya akan berhenti dengan cara ini. Kematian akibat pendarahan hidung adalah sesuatu yang jarang. 4.Pernah menedrita sakit gigi geraham 5. biasanya dicegah dengan menyemprotkan salin pada hidung hingga tiga kali sehari. Untuk pendarahan hidung yang kronis yang disebabkan keringnya mukosa hidung.biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung c.selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek d. tenggorokan. Riwayat spikososial a. Pola Persepsi dan konsep diri .Pernah mempunyai riwayat penyakit THT . Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat . Tampon hidung dapat menghentikan pendarahan dan media ini dipasang 1-3 hari. Interpersonal : hubungan dengan orang lain. Jika masih tidak berhasil. bangsa.Untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping b. 2. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsep diri menurun .

Awasi jika terjadi anemia . Cemas 4. PK : Perdarahan 2. kesadaran.Perdarahan pada hidung/mengucur banyak . Pola sensorik . tanda vital normal. Data subyektif : .Kolaborasi dengan dokter mengenai masalah yang terjadi dengan perdarahan : pemberian transfusi. Pemeriksaan fisik data focus hidung : rinuskopi (mukosa merah dan bengkak). tidak ada suara nafas tambahan.Anemia B. Intervensi Rasional . tidak anemis INTERVENSI . Nyeri Akut 1.Penurunan tekanan darah . tanda vital. serous.Monitor tanda vital .Mengeluh badan lemas Data Obyektif . Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 1. tidak menggunakan otot pernafasan tambahan.daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen .Gelisah . b. tidak terjadi dispnoe dan sianosis No.Monitor keadaan umum pasien . status kesehatan umum : keadaan umum . Bersihan Jalan Nafas tidak efektif Tujuan : Bersihan jalan nafas menjadi efektif Kriteria : Frekuensi nafas normal. Pemeriksaan fisik a.e.Monitor jumlah perdarahan psien . mukopurulen). medikasi 2.Peningkatan denyut nadi . 8. PK : Perdarahan Tujuan : meminimalkan perdarahan Kriteria : Tidak terjadi perdarahan. Bersihan Jalan Nafas tidak efektif 3.

Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya . singkat mudah ketenangan klien. No. ronchi dan wheezing menunjukkan akumulasi sekret · Sputum berdarah kental atau cerah dapat diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronchial · Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan · Mencegah obstruksi/aspirasi · Membantu pengenceran sekret · Mukolitik untuk menurunkan batuk. · Catat kemampuan mengeluarkan mukosa/batuk efektif · Berikan posisi fowler atau semi fowler tinggi · Bersihkan sekret dari mulut dan trakea · Pertahankan masuknya cairan sedikitnya sebanyak 250 ml/hari kecuali kontraindikasi 2 · Penurunan bunyi nafas dapat menyebabkan atelektasis.Perlihatkan rasa empati( datang tentang penyakit dan terapi untuk dengan menyentuh klien ) penyakit tersebut sehingga klien lebih · Berikan penjelasan pada klien kooperatif tentang penyakit yang dideritanya· Dengan menghilangkan stimulus yang perlahan.1 Mandiri · Kaji bunyi atau kedalaman pernapasan dan gerakan dada. . memobilisasi sekret. Cemas Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang Kriteria : . 1 1 Intervensi 2 Rasional 3 · Kaji tingkat kecemasan klien · Menentukan tindakan selanjutnya · Berikan kenyamanan dan · Memudahkan penerimaan klien ketentraman pada klien : terhadap informasi yang diberikan . tenang seta gunakan mencemaskan akan meningkatkan kalimat yang jelas. dimengerti · Mengetahui perkembangan klien secara · Singkirkan stimulasi yang dini.Temani klien · Meningkatkan pemahaman klien .Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya. Kolaborasi · Berikan obat sesuai dengan indikasi ekspektoran untuk membantu mukolitik. bronkodilator bronkodilator menurunkan spasme bronkus dan analgetik diberikan untuk menurunkan ketidaknyamanan 3. ekspektoran.

berlebihan misalnya : · Obat dapat menurunkan tingkat . Aspirin. · Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien . Nyeri Akut Tujuan : nyeri berkurang atau hilang Kriteria hasil : . obat Acetaminopen.Klien tidak menyeringai kesakitan No. kolaborasi dengan tim medis 4.Terapi konservatif : a. · Bila perlu . dekongestan hidung Rasional 3 · Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya · Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri · Klien mengetahui tehnik distraksi dan relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri · Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien. 1 1 Intervensi 2 · Kaji tingkat nyeri klien · Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya · Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi · Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien · Kolaborasi dngan tim medis .Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang .Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan · Observasi tanda-tanda vital.Tempatkan klien diruangan yang kecemasan klien lebih tenang .