Anda di halaman 1dari 6

Karbamazepin

Karbamazepin (Tegretol, Crabatrol, dan lain-lain), pertama kali diizinkan di Amerika Serikat untuk penggunaan sebagai obat antiseizure pada tahun 1974. Obat ini digunakan sejak tahun 1960-an untuk penanganan neuralgia trigeminal. Sekarang obat ini dianggap sebagai obat utama untuk penanganan seizure parsial dan seizure tonik-klonik. Karbamazepin secara kimia merupakan golongan anti depresan trisiklik. Senyawa ini merupakan turunan Iminostilben dengan gugus karbonil pada posisi 5, bagian struktur ini sangat penting bagi aktivitas antiseizure yang kuat.

Rumus Bangun Karbamazepin :

Efek Farmakologis : Meskipun efek karbamazepin pada hewan dan manusia dalam banyak mirip dengan efek fenitoin, kedua obat ini berbeda dalam sejumlah hal yang kemungkinan penting. Karbamazepin diketahui menghasilkan respons terapeutik pada pasien mania-depresif, termasuk pada beberapa pasien yang tidak sembuh dengan litium karbonat, selain itu, karbamazepin mempunyai efek antidiuretik yang kadang-kadang dikaitkan dengan berkurangnya konsentrasi hormon antidiuretik (ADH) dalam plasma. Mekanisme yang menyebabkan efek karbamazepin ini tidak dipahami dengan jelas. Mekanisme Kerja : Seperti fenitoin, karbamazepin membatasi perangsangan berulang potensial aksi yang dipicu oleh depolarisasi terus menerus pada neuron-neuron spinalis kordata atau

korteks mencit yang dipertahankan secara in vitro (McLean and Macdonald, 1986). Ini tampaknya diperantarai oleh melambatnya laju pemulihan saluran Na+ yang diaktivasi tegangan dari keadaan terinaktivasi. Efek karbamazepin ini tampak jelas pada konsentrasi dalam rentang terapeutik di dalam CSS manusia. Efek karbamazepin bersifat selektif pada konsentrasi ini, karena tidak ada efek pada aktivitas spontan atau pada respons terhadap GABA atau glutamat yang diberikan secara iontoforetik. Metabolit karbamazepin, yaitu 10,11-epoksikarbamazepin, juga membatasi perangsangan berulang secara terus menerus pada konsentrasi yang sesuai secara terapeutik, yang menunjukkan bahwa metabolit ini dapat berkontribusi terhadap efikasi karbamazepin sebagai antiseizure. Mekanisme karbomazepin pada membran permeabilitas menunjukan bahwa

carbomazepin menutup saluran natrium pada konsentrasi terapi dan dapat menstabilkan membran neuron yang hiperaktif, menghalangi kerusakan neuron yang berulang dan mengurangi perambatan sinaptik impuls yang berasal dari luar. Interaksi obat carbomazepin pada peningkatan kapasitas metabolik enzim hati dapat menyebabkan penurunan keadaan tetap konsentrasi carbomazepin dan meningkatkan laju metabolisme primidon,fenitoin. Eksuksimid,asam valporat, dan klonazepam. Sifat Farmakokinetik : Sifat farmakokinetik karbamazepin memiliki karakteristik yang kompleks. Sifat-sifat tersebut dipengaruhi oleh kelarutannya dalam air yang terbatas dan oleh kemampuan banyak obat antiseizure, termasuk karbamazepin sendiri, untuk meningkatkan pengubahan karbamazepine menjadi metabolit aktif oleh enzim-enzim oksidatif hati. Karbamazepin diabsorbsi dengan lambat dan tidak teratur setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak dalam plasma biasanya teramati 4 sampai 8 jam setelah pemberian oral, tetapi dapat tertunda sampai 24 jam, terutama setelah pemberian dosis besar. Obat ini terdistribusi dengan cepat kedalam semua jaringan. Pengikatan pada protein plasma terjadi sampai sekitar 75%, dan konsentrasi dalam CSS tampaknya berhubungan dengan konsentrasi obat bebas dalam plasma. Jalur metabolisme utama pada manusia melibatkan pengubahan menjadi 10,11-epoksida. Metabolit ini seaktif senyawa induknya pada berbagai hewan, dan konsentrasi metabolit ini dalam plasma dan otak dapat mencapai 50% konsentrasi karbamazepin, terutama selama pemberian bersamaan dengan fenitoin atau fenobarbital. 10,11-Epoksida dimetabolisme lebih

lanjut menjadi senyawa inaktif, yang diekskresi dalam urin terutama sebagai glukoronid. Karbamazepin juga diinaktivasi melalui konjugasi dan hidroksilasi. Isoform sitokrom P450 hepatik utama yang bertanggung jawab atas biotransformasi karbamazepin adalah CYP3A. Karbamazepin menginduksi CYP2C dan CYP3A dan juga UDP-glukoronosiltransferase, dengan demikian meningkatkan metabolisme obat-obat yang di uraikan oleh enzim-enzim ini. Yang sangat penting dalam hal ini adalah kontrasepsi oral yang dimetabolisme oleh CYP3A4. Dosis : Dosis pada anak dengan usia kurang dari 6 tahun 100 mg sehari, anak usia 6-12 tahun, 2 kali 100 mg sehari. Dosis awal 200 mg 2 kali sehari. Dosis dewasa : dosis awal 2 kali 200 mg sehari pertama. Dosis pemeliharaan berkisar antara 8001200 mg sehari untuk dewasa atau 20-30 mg/kgBB untuk anak. Efek samping Pusing, vertigo, ataksia, diplopia dan penglihatan kabur. Efek samping lainnya berupa mual, muntah, anemia aplastik, agranulositosis, dan reaksi alergi berupa dermatitis, eosinofilia, limfadenopati, dan splenomegali. Gejala intoksikasi akut dapat berupa stupor/koma, iritabel, kejang dan depresi napas. Toksisitas : Intoksitasi akut akibat karbamazepin menyebabkan stupor atau koma, hiperiritabilitas, konvulsi dan depresi pernapasan. Selama terapi jangka panjang, efek obat yang tidak diinginkan yang lebih sering terjadi meliputi rasa kantuk, vertigo, ataksia, diplopia, dan pandangan kabur. Frekuensi seizure dapat meningkat, terutama jika overdosis. Efek merugikan lainnya meliputi mual, muntah, toksisitas hematologis parah (anemia aplastik, agranulositosis), dan reaksi hipersensivitas (dermatitis, eosinofilia, limfadenopati, splenomegali). Komplikasi terapi karbamazepin yang muncul lambat adalah retensi air, disertai dengan penurunan osmolalitas dan konsentrasi Na+ dalam plasma, terutama pada pasien lanjut usia yang menderita penyakit jantung. Toleransi berkembang terhadap efek-efek neurotoksik karbamazepin, dan dapat diminimalkan dengan meningkatkan dosis secara bertahap atau dengan pengaturan dosis pemeliharaan.

Berbagai abnormalitas hati atau pankreas telah dilaporkan selama terapi dengan karbamazepin, yang paling sering terjadi adalah peningkatan sementara enzim-enzim hati dalam plasma pada 5% sampai 10% pasien. Leukopenia ringan dan sementara terjadi pada sekitar 10% pasien selama awal-awal terapi dan biasanya menghilang dalam 4 bulan pertama pada penanganan, berkelanjutan, trombositopenia sementara juga telah teramati. Pada sekitar 2% pasien, leukopenia yang menetap dapat berkembang yang mengharuskan dihentikannya pemberian obat ini. Kekhawatiran awal bahwa anemia aplastis dapat merupakan komplikasi yang sering terjadi pada terapi jangka panjang dengan karbamazepin tidak terbukti. Pada kebanyakan kasus, pemberian beberapa obat atau adanya penyakit lain yang mendasari mennyulitkan penetapan suatu hubungan sebab-akibat. Pada umumnya, prevalensi anemia aplastik muncul sekitar 1 dari 200.000 pasien yang ditangani dengan obat ini. Tidak jelas apakah pemantauan fungsi hematologis manusia. Konsentrasi Obat dalam Plasma : Tidak ada hubungan yang sederhana antara dosis karbamazepin dan konsentrasi obat ini dalam plasma. Konsentrasi terapeutik dilaporkan sebesar 6 sampai 12 g/ml, walaupun terjadi keragaman yang cukup besar. Efek samping terhadap SSP sering terjadi pada konsentrasi di atas 9 g/ml. Interaksi Obat : Fenobarbital, fenitoin dan valproat dapat meningkatkan metabolisme karbamazepin dengan menginduksi CYP3A4, karbamazepin dapat meningkatkan biotransformasi fenitoin juga pengubahan pirimidon menjadi fenobarbital. Pemberian karbamazepin dapat menurunkan konsentrasi valproat, lamotrigin, tiagabin, dan topiramat yang diberikan bersamaan. Karbamazepin menurunkan konsentrasi dalam plasma dan efek terapeutik haloperidol. Metabolisme karbamazepin kemungkinan dihambat oleh propoksifen, eritromisin, simetidin, fluoksetin dan isoniazid. Karbamazepin dapat berinteraksi dengan cara mempengaruhi metabolisme beberapa obat. - Analgetik : dekstropropoksifen menaikkan kadar karbamazepin, khasiat tramadol diturunkan oleh karbamazepin dapat mencegah berkembangnya anemia aplastis ireversibel. Meskipun karbamazepin bersifat karsinogenik pada tikus, tidak diketahui apakah bersifat karsinogenik pada

- Antibakteri : metabolisme doksisiklin dipercepat (mengurangi efek), kadar plasma karbamazepin ditingkatkan oleh klaritromisin, eritromisin dan isoniazid - Antikoagulan : metabolisme nikumalon dan warfarin dipercepat (mengurangi efek antikoagulan) - Antipsikosis : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang menurun), metabolisme haloperidol, olansapin, dan sertidol dipercepat (menurunkan kadar plasma). - Antagonis kalsium : diltiazem dan verapamil menaikkan efek karbamazepin Kortikosteroid : metabolisme dipercepat

Penggunaan Terapeutik : Karbamazepin berguna bagi penderita seizure tonik-klonik menyeluruh dan seizure parsial sederhana maupun yang kompleks. Ketika obat ini digunakan, fungsi ginjal dan hati serta parameter hematologi harus dipantau. Konseling pasien Jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter, sebaiknya dokter

menurunkan dosisnya secara bertahap sebelum dihentikan sama sekali Jika ada dosis yang terlewat diminum segera minum obat terlupa itu. Namun jika sudah

mendekati waktu minum dosis berikutnya, cukup meminum 1 dosis obat tersebut sesuai jadwal minum obat yang seharusnya. Jangan digandakan (minum dua dosis sekaligus). Jangan meminum obat ini lebih dari dosis yang telah ditentukan, jangan meminum lebih

sering dari frekuensi minum obat yang telah ditentukan, dan jangan diminum untuk jangka waktu yang lebih lama dari yang disarankan oleh dokter. Makanan dapat meningkatkan bioavailabilitas (ketersediaan hayati) obat Karbamazepin sebaiknya diminum bersamaan dengan makanan untuk menghindari mual

atau muntah

Daftar Pustaka : 1. http://sumarheni.blogs.unhas.ac.id/ 2. Taufik Adrian. Carbamazepin (Anti konvulsi) dalam terapi epilepsi sebagai penyebab eritmia multiformis mayor (laporan Kasus)