Anda di halaman 1dari 33

MODUL GERONTOLOGI MEDIK SEORANG ANAK PASIEN YANG IBUNYA TERBARING DI TEMPAT TIDUR KELOMPOK X 030.09.154 030.09.155 030.09.

156 030.09.191 030.09.193 030.09.194 030.09.231 030.09.232 030.09.233 030.09.267 030.09.268 030.09.269 030. 09. 282 Michelle Jansye Mochammad Rifky Maulana Mochammad Fachri Ibrahim Rangga Satrio Prawiro Ratiya Primanita Raufina Yunica Shane Sakinah Shendy Noor Pratiwi Sherley Meiske Pakasi Widya Rahayu Arini Putri Winda Indriati Winda Setyowulan Yuti Purnamasari

Jakarta 05 Juni 2012 BAB I

PENDAHULUAN Sindrom dekondisi adalah suatu kumpulan gejala yang merupakan akibat dari penurunan kemampuan dari fungsi-fungsi tubuh disebabkan oleh imobilisasi. Imobilisasi didefinisikan sebagai keadaan tidak bergerak atau tirah baring selama tiga hari atau lebih, dengan gerak anatomik menghilang akibat perubahan fungsi fisiologis. Imobilisasi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup besar di bidang geriatri yang timbul sebagai akibat penyakit atau masalah psikososial yang diderita. Di ruang rawat inap geriatri RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 2000 didapatkan prevalensi imobilisasi sebesar 33,6% dan pada tahun 2001 sebesar 31,5%. Imobilisasi yang lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang orang lanjut usia, pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama. Dampak yang terutama muncul ialah dekubitus mencapai 11% dan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu, perawatan emboli paru berkisar0,9%,dimana tiap 200.000 orang meninggal per tahunnya. Dampak imobilisasi lama ataupun tirah baring lama bisa berdampak buruk terhadap sistem organ didalam tubuh, seperti sistem kardiorespirasi, sistem muskuloskeletal, sistem integumen, genitourinaria. Faktor risiko utama imobilisasi antara lain adalah kontraktur, demensia berat, osteoporosis, ulkus, gangguan penglihatan, dan fraktur. Imobilisasi kebanyakan tidak dapat dicegah, namun beberapa komplikasi akibat imobilisasi dapat dicegah.1 sistem susunan saraf, sistem gastrointestinal, maupun sistem

BAB II LAPORAN KASUS Sebagai dokter, Anda diminta datang ke rumah pasien oleh seorang anak pasien yang ibunya terbaring di tempat tidur, di rumah. Anak pasien ingin ibunya bisa duduk. Dari anamnesis diketahui bahwa pasien bernama Ny. Sutini, berusia 70 tahun, mengidap tekanan darah tinggi sejak 3 tahun lalu. Tiga tahun yang lalu, setelah shalat subuh pasien tidak kuat berdiri dan berjalan. Mulut pasien mencong. Pasien kemudian segera dibawa ke rumah sakit terdekat oleh anaknya dan dirawat. Menurut dokter yang merawat, pasien menderita stroke dan tekanan darah tinggi. Saat itu pasien dirawat kurang lebih selama 10 hari. Sejak pulang rawat, pasien banyak berbaring di tempat tidur, terutama satu tahun belakangan ini. Bila diposisikan untuk duduk di tempat tidur atau miring ke sebelah kiri, pasien sering mengeluh nyeri pada lengan dan tungkai kirinya. Pasien lebih banyak berbaring miring ke sisi kanan. Pasien makan dan minum di tempat tidur dibantu orang lain (disuapi). Kadang-kadang tersedak saat minum menggunakan sedotan. Pasien suka sekali makan goring-gorengan dan tidak mau minum obat bila tidak diberi makanan yang disukainya. Saat ini mengkonsumsi obat amlodipin, simvastatin, dan neurobion. Pada pemeriksaan fisik didapatkan : pasien sadar, obes, tekanan darah 150/90mmHg, nadi 92x/m, pernapasan 20x/m, suhu afebris. Paru : vesikuler, rongki basah halus pada paru kanan, ekspirasi memanjang. Jantung: bunyi jantung I dan II murni, murmur (-), gallop (-). Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik. Bising usus (+) normal. Kekuatan lengan dam tungkai kiri rata-rata memiliki MMT 2. Terlihat cekungan pada bahu kiri antara akromion dan humerus, saat digerakkan terasa nyeri. Tungkai kiri bisa ekstensi sampai pada posisi anatomis. Saat ekstensi nyeri. Lutut kanan posisi 90o fleksi, tidak bisa diluruskan. Pasien dapat berbicara beberapa patah kata, namun setelah itu tertidur. Saat tidur mudah dibangunkan. Pasien BAB dan BAK menggunakan pampers. BAB tiap 3-4 hari sekali. Akhirakhir ini BAB sulit, mengeluarkan darah segar sedikit. Pasien kadang-kadang dapat memberitahu bila akan BAB dan BAK. Pasien memiliki 4 orang anak. Saat ini pasien tinggal di rumah bersama dua orang anaknya yang perempuan (anak pertama dan kedua). Anak pertama sudah menikah dan memiliki 2 anak. Anak kedua seorang janda. Sehari-hari pasien dirawat oleh kedua anaknya secara bergantian dibantu oleh seorang pembantu rumah tangga. Pasien berbaring di sebuah kamar berukuran 3 x 2,5 m. Ventilasi dan cahaya minim karena dinding kamar berdekatan dengan dinding rumah tetangga.
3

I. Laboratorium Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit LED SGOT SGPT Ureum : 10.6 g/dl : 32 % : 8800/uL : 311.000/uL : 18 mm/jam : 32U/L : 43U/L : 41 mg/dl Kreatinin : 0.90 mg/dl

Kolesterol total : 225mg/dl Kolesterol LDL : 139 mg/dl Kolesterol HDL : 42 mg/dl TG GDS Natrium Kalium : 172 mg/dl : 154 mg/dl : 135 meq/L : 3,6 meq/L

II. Urinalisa Berat Jenis pH Nitrit Albumin Glukosa Keton : 1.031 :5 ::::-

III. Sedimen Urin Eritrosit Leukosit Silinder Epitel Bakteri Kristal Warna : 5/LPB : 65/LPB :: 5-7/LPK :+ :: kuning tua, agak keruh

BAB III PEMBAHASAN KASUS I. Identitas Nama Usia Jenis kelamin Agama Pekerjaan Alamat : Ny. Sutini : 70 tahun : Perempuan :::-

II.

Anamnesis 1. Keluhan Utama Anak pasien meminta dokter untuk datang ke rumahnya karena ia menginginkan ibunya yang sedang terbaring di kamar di rumahnya agar bisa beraktivitas lagi. 2. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien banyak berbaring di tempat tidur, terutama satu bulan belakangan ini Pasien sering mengeluh nyeri pada lengan dan tungkai kirinya terutama bila diposisikan untuk duduk di tempat tidur atau miring ke sebelah kiri Pasien makan dan minum di tempat tidur dibantu orang lain (disuapi) Kadang-kadang tersedak saat minum menggunakan sedotan

3. Riwayat Gangguan Sebelumnya Menderita stroke dan tekanan darah tinggi sejak 3 tahun yang lalu
5

4. Riwayat Keluarga Saat ini pasien tinggal di rumah bersama dua orang anaknya yang perempuan Sehari-hari pasien dirawat oleh kedua anaknya secara bergantian dibantu oleh seorang pembantu rumah tangga

5. Riwayat Lingkungan Pasien berbaring di sebuah kamar berukuran 3 x 2.5 m Ventilasi dan cahaya minim karena dinding kamar berdekatan dengan dinding rumah tetangga

6. Riwayat Pengobatan Saat ini mengkonsumsi obat amlodipin, simvastatin, dan neurobion

Anamnesis Tambahan Riwayat gangguan sekarang o Apakah ada keluhan batuk atau sesak? o Apakah pasien tetap melakukan aktivitas ringan di tempat tidur? o Bagaimana frekuensi dan kuantitas berkemih pasien? o Apakah ada nyeri saat berkemih? o Bagaimana fungsi kognitif pasien? Apakah ada penurunan daya ingat, kemampuan berbahasa? o Bagaimana keadaan emosi dan perasaan pasien? Riwayat penyakit dahulu

o Apakah pasien mempunyai riwayat penyakit lain, seperti diabetes, alergi? o Apakah pasien pernah mengalami trauma? Riwayat pengobatan o Apakah pasien menjalani pengobatan secara teratur? Riwayat sosial o Bagaiman hubungan pasien dengan keluarganya?

III.

Pemeriksaan Fisik Normal Compos mentis Interpretasi Pasca stroke, ditandai dengan saat bicara tertidur, beberapa namun kata, mudah pasien untuk

Hasil Pemeriksaan Status Generalis Kesadaran: Somnolen

Kesan sakit: Tanda Vital Suhu : afebris (Tidak demam)

36,5 C- 37,2 C : normal

dibangunkan Hal ini tidak dapat

menyingkirkan

kemugkinan

infeksi, karena gejala pada pasien geriatric dapat bersifat atipikal karena menurunnya system imun pasien geriatric Tekanan darah pasien termasuk hipertesi derajat I. Hal ini dapat dipengaruhi faktor keturunan, kebiasaan pasien yang gemar
7

TD : 150/90 mmHg

JNC VII

memakan gorengan, maupun Nadi: 92x/menit RR : 20x/menit, regular Organ vital Inspeksi Mata: - Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/60-100x/menit, regular 12-20x/menit, regular faktor usia pasien. Normal Normal

Normal

Tidak terdapat tanda anemis, maupun lainnya. tanda adanya hepatitis atau kelainan hati

Ekstremitas: Lengan kiri: Terdapat cekungan pada bahu bias dikarenakan adanya dislokasi atrofi bahu otot, atau terdapat cekungan pada bahu antara akromion humerus Tungkai lutut tidak diluruskan Palpasi Ekstremitas: Lengan digerakan nyeri, MMT 2 kiri: saat Manual Muscle Testing: terasa 5 = Normal Lutut kanan tidak dapat diluruskan dikarenakan adanya kontraktur akibat imobilisasi yang lama, karena rasa nyeri jika pada pasien pada posisi ke arah kiri. 900 kanan: fleksi, bias dan

terjadi kontraktur pada lengan kirinya.

Tungkai kiri: dapat 4 = masih mampudapat bergerak ekstensi sampai pada melawan gravitasi posisi anatomis, saat 3 = pergerakan yang aktif melawan ekstensi nyeri, MMT gravitasi 2. 2 = dapat digerakan namun tidak

Tungkai kanan: lutut dapat melawan gravitasi 900 fleksi, tidak bias 1 = adanya tanda-tanda kontraksi 0 = tidak ada kontraksi

diluruskan Auskultasi

Paru: Vesikuler Rongki basah halus pada paru kanan Ekspirasi memanjang Kemungkinan ronkhi basah halus merupakan tanda dari pneumonia aspirasi, dilihat dari resiko sering tersedak yang dialami pasien. Ekspirasi yang memanjang dapat dikarenakan elastisitas paru yang berkurang (buiasa terjadi pada lasia), maupun kemungkinana pada parunya. Jantung: Bunyi jantung I dan II murni, murmur (-), gallop (-). BAB 3-4 kali sehari dan akhir-akhir ini mengeluarkan sedikit darah segar Pasien kadang-kadang dapat memberitahu akan BAB dan BAK Pemeriksaan untuk menilai ketergantungan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari: Activity Daily Living Penilaian fungsi sehari-hari penting untuk memahami tingkat kecacatan pasen dan ketergantungan pada pengasuh. Dasar kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL), seperti makan dan pergi ke toilet, dapat dinilai dengan wawancara atau dengan menggunakan alat seperti ADL skala. Berdasarkan pada hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, diketahui bahwa Ny. Sutini BAB dan BAK menggunakan pampers namun kadang-kadang pasien dapat memberitahu bila
9

merupakan

suatu tanda dari penyakit

Normal

Normal

kemungkinan adanya haemoroid, atau karena konstipasi, perlu pemeriksaan lebih lanjut. saraf sensorik masih berfungsi

akan BAB atau BAK sehingga nilai ADL untuk mengontrol BAB dan BAK masing-masing diberi nilai 1. Selain itu untuk makan pasien makan dan minum di tempat tidur dan dibantu orang (disuapi) shingga nilai ADL untuk makan dapat diberi nilai 1. Ny. Wati mengalami stroke yang mengakibatkan dirinya banyak berbaring dan kelumpuhan maka untuk membersihkan diri, toiletting, berpakaian dan mandi membutuhkan bantuan dari orang lain sehingga niali ADLnya masing-masing 0. Kemudian karena lutut Ny. Wati mengalami nyeri disebelah kiri dan yang kanan posisi 900 tidak bisa fleksi maka Ny. Wati tidak mampu berpindah dari kursi ke tempat tidur, tidak mampu berjalan dan tidak mampu naik turun tangga sehingga masing-masing diberi nilai ADL sebesar 0. Maka dari penjumlahan seluruh nilai ADL didapatkan total nilai 3 (mengontrol BAB dan BAK serta makan), hal ini berarti Ny. Wati mengalami ketergantungan total. IV. Pemeriksaan Penunjang2 1. Pemeriksaan Laboratorium a. Pemeriksaan Darah Lengkap Pemeriksaan Hemoglobin Hasil pasien 10,6 g/dl Nilai normal 12-16 g/dl Interpretasi Menurun

Kemungkinan terjadi anemia, yang bisa disebabkan oleh malnutrisi pada pasien Hematokrit 32% 37-43% Menurun

Kemungkinan terjadi karena kehilangan darah akut, anemia Lekosit Trombosit LED 8800/uL 311.000/uL 18 mm/jam 4.000-10.000 /uL 200.000-400.000 /uL 0-15 mm/jam Normal Normal Meningkat sedikit

10

Kemungkinan ada penyakit kronis, tapi pada pasien ini lebih cenderung karena factor usia SGOT SGPT 32 U/L 43 U/L 31 U/L s/d 32 U/L Meningkat sedikit Meningkat

Kemungkinan terjadinya trauma atau kerusakan pada hati Ureum Kreatinin Kolesterol Total 41 mg/dl 0.90 mg/dl 225 mg/dl 10-50 mg/dl 0.6-1.3 mg/dl < 200 mg/dl Normal Normal Meningkat

Bisa menyebabkan resiko aterosklerosis atau penyakit jantung Kolesterol LDL 139 mg/dl < 130 mg/dl Meningkat

Bisa menyebabkan resiko aterosklerosis atau penyakit jantung Kolesterol HDL 42 mg/dl > 65 mg/dl Menurun Bisa menyebabkan resiko aterosklerosis atau penyakit

11

jantung Trigliserida Gula Darah Sewaktu Natrium Kalium 135 meq/L 3.6 meq/L 135-145 meq/L 3.5-5 meq/L Normal Normal 172 mg/dl 154 mg/dl s/d 190 mg/dl < 200 mg/dl Normal Normal

Dari hasil pemeriksaan laboratoriun darah, didapatkan terjadinya anemia yang kemungkinan kelompok kami duga karena asupan makanan yang kurang pada pasien ini , bisa karena kekurangan asam folat atau b12 atau bisa juga karena sudah terjadi penurunan fungsi dari system gastrointestinalnya dalam mengabsorbsi makanan, kemudian juga dilihat dari hasil kolesterol pasien ini yang meningkat menyebabkan resiko terjadinya aterosklerosis pada pasien ini semakin meningkat, dalam kasusadahal diketahui pasien sudah mengkonsumsi obat penurun kolesterol tetapi kolesterol nya masih tinggi mungkin dikarenakan ketidakpatuhan minum obat atau karena dosis yang kurang optimal. Pada pasien tidak terjadi peningkatan dari ureum dan kreatinin kelompok kami menduga belum terjadi kelainan ada faal ginjal.

2. Urinalisis Pemeriksaan Berat Jenis Hasil pasien 1.031 Nilai normal 1.001-1.035 interpretasi Normal tetapi batas atas, yang berarti urin nya pekat pH Nitrit Albumin Glukosa Keton 5 4.6-8 Normal Normal Normal Normal Normal
12

3. Sedimen Urin Pemeriksaan Eritrosit Hasil pasien 5/LPB Nilai normal < 5 /LPB Interpretasi Normal tetapi batas atas, Kemungkinan adanya trauma ada saluran kencing, atau ada infeksi di traktus urinarius Lekosit 65/LBP < 5 /LPB Tidak normal, menandakan adanya suatu infeksi pada traktus urinarius Silinder Epitel 5-7/LPK Normal Tidak normal, menandakan adanya suatu infeksi pada traktus urinarius Bakteri + Tidak normal, menandakan adanya suatu infeksi pada traktus urinarius Kristal Warna Kuning tua, agak keruh Normal Urin pekat, krena imobilisasi sehingga terjadi endaan

Dilihat dari hasil urinalisa dan sedimen urin menunjukan bahwa kelainan bisa terjadi pada traktus urinarius nya, yaitu terjadi infeksi, dikarenan terdapatnya epitel, leukosit yang banyak, eritrosit, dan bakteri positif satu, yang bisa disebabkan karena imobilisasi pada asien ini sehingga urin jadi pekat, aliran yang melambat terjadi pengendapan dan menjadi sarang bakteri untuk berkembang biak sehingga terjadi infeksi.

V.

Pemeriksaan Anjuran 1. Pemeriksaan MMSE Menurut kelompok kami, pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan kognitif, mengevaluasi perjalanan penyakit dan memonitor pengobatan, pada kasus ini pemeriksaan MMSE berguna untuk mendeteksi adanya gangguan kognitif.

13

2. Rontgen Thorax Pemeriksaan ini perlu dilakukan dilakukan untuk menunjang diagnosis kelompok kami yang mencurigai Ny. Sutini terkena pneumonia. Kami menduga bahwa pneumonia ini terjadi akibat aspirasi (pneumonia aspirasi) dari minuman atau makanan, hal ini terjadi karena imobilisasi lama Ny. Sutini. Keluhan pneumonia pada lansia biasanya tidak khas yaitu: onset insidius, sedikit batuk dan demam yang ringan dan sering disertai dengan gangguan status mental atau bingung dan kelainan fisik paru yang ringan. Keluhan yang tidak khas membuat diagnosisnya secara pasti menjadi sulit sehingga dibutuhkan pemeriksaan rontgen thorax.3 3. Nilai Eritrosit Rata-Rata Nilai eritrosit rata-rata terdiri dari pemeriksaan MCV (Mean Corpuscular Volume) yaitu untuk mengukur besar eritrosit, MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) yaitu untuk mengukur jumlah Hb rata-rata dalam eritrosit dan MCHC (Mean Corpuscular Haemoglobin Consentration) yaitu untuk mengukur kadar rata-rata Hb dalam eritrosit. Ketiga pemeriksaan ini penting untuk menilai ukuran dan kadar rata-rata eritrosit, dari pemeriksaan ini dapat mengarahkan kita kepada etiologi dari anemia yang dialami oleh pasien. Misalnya saja apabila didapatkan eritrosit yang hipokrom mikrositer, hal ini dapat mengarahkan kepada anemia defisiensi besi sebagai penyebab, ataupun karena adanya perdarahan yang kronis.4 4. EKG Pemeriksaan EKG perlu dilakukan untuk mengetahui bila sudah terjadi kelainan pada fungsi dan kinerja dari jantung Ny. Sutini. Hal yang perlu diperhatikan pada EKG adalah untuk memastikan adanya kardiomegali atau hipertrofi otot jantung. 5. Kultur Sputum dan Uji Resistensi Kelompok kami menganjurkan untuk dilakukannya kultur sputum dan uji resistensi dikarenakan adanya kemungkinan pasien menderita pneumonia. Dan uji resistensi dilakukan untuk menunjang pemberian terapi antibiotik yang adekuat untuk pasien. 6. Rectal Toucher
14

Berdasarkan hasil anamnesis, kelompok kami mencurigai bahwa hal ini merupakan suatu perdarahan saluran cerna bagian bawah. Salah satu penyakit yang dapat menyebabkan saluran cerna bagian bawah adalah hemoroid, pemeriksaan rectal toucher dilakukan untuk memastikan apakah benar etiologi dari perdarahan saluran cerna bagian bawah tersebut benar hemoroid.5

VI.

Hipotesis

Deconditioning Syndrome Merupakan penurunan kapasitas fungsional dari sistem tubuh multiple yang disebabkan oleh imobilitas atau bed rest yang berkepanjangan. Pada kasus ini, pasien mengalami imobilisasi disebabkan oleh stroke yang dialami oleh pasien. Imobilisasi berkepanjangan ini menyebabkan timbulnya berbagai kelainan pada sistem tubuh pasien yang berlainan. Antara lain, kelainan pada traktus urinarius, pada sistem musculoskeletal, sistem pernapasan dan lain sebagainya. Hal ini bermanifestasi dalam bermacam-macam keluhan, entah itu terlihatnya cekungan di antara acromion dan humerus, adanya sendi yang kaku dan nyeri ketika digerakkan dan lain sebagainya. Stroke yang disebabkan oleh hipertensi pada pasien ini, menyebabkan pasien mengalami pembatasan pergerakan. Hilangnya kemandirian dalam ADL (Activities Daily Living) Hal ini dapat merupakan komplikasi daripada sindrom dekondisi. Kehilangan yang mungkin dialami antara lain fisik dan mental, sosial dan emosi. Gangguan fisik dan mental yang dialami oleh pasien dapat menyebabkan gangguan sosial dengan lingkungan sekitar maupun partisipasi pasien dalam kegiatan sosial. Hal-hal yang berkaitan satu sama lain ini dapat menyebabkan gangguan emosional, yaitu misalnya frustasi, perasaan tidak berguna dan kesedihan. Gangguan fisik yang dialami oleh pasien, seperti hilangnya energy, hilangnya kemampuan untuk bergerak dan fleksibilitas.

VII.

Daftar Masalah Dari data yang ada, kelompok kami memperkirakan beberapa masalah yang ada pada pasien:
15

Daftar Masalah Sindrom dekondisi

Interpretasi Pasien termasuk pada pasien geriatri dikarenakan usianya telah >65 tahun. Pasien juga mengalami imobilisasi dikarenakan stroke yang dideritanya. Imobilisasi yang lama tersebut menyebabkan penurunan kapasitas fungsional dan struktural seluruh tubuh yang dikenal sebagai sindrom dekondisi.

Atrofi

Pada bahu kiri pasien terlihat cekungan antara akromion dan humerus. Kelompok kami memikirkan kemungkinan terjadinya atrofi pada otot deltoid pasien. Atrofi tersebut mengakibatkan massa otot yang menurun, sehingga ditemukan cekungan pada pemeriksaan fisik pasien.

Kontraktur pada lutut kanan

Kontraktur dapat timbul pada pasien yang mengalami tirah baring lama karena sendisendi tidak digerakkan. Akibatnya dapat timbul rasa nyeri. Pada pasien kemungkinan terdapat kontraktur di lutut kanannya karena tidak dapat diluruskan.

Pneumonia

Pasien mengalami imobilisasi yang lama sehingga kemungkinan untuk terjadinya pneumonia sangat besar. Hal ini diperkuat dengan hasil pemeriksaan fisik yang menunjukkan suara nafas vesikuler, ronchi basah halus pada paru kanan, serta ekspirasi memanjang.

Infeksi Traktus Urinarius

Dari pemeriksaan sedimen urin didapatkan leukouria, epitel, serta bakteri +. Hal tersebut mengarahkan kelompok kami pada infeksi traktus urinarius (UTI). Selain itu didapatkan
16

urin yang memekat ditandai dengan warnanya yang kuning tua agak keruh serta BJ urin yang cukup tinggi. Pemekatan urin tersebut kemungkinan terjadi karena imobilisasi pasien yang menyebabkan terjadinya residu urin. Jika residu urin tersebut tidak dibuang, maka akan menjadi media yang baik untuk perkembangan bakteri. Anemia Pada pasien didapatkan anemia. Hal ini diperjelas dengan keterangan bahwa pasien mengalami BAB berdarah dan pada hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 10,6 mg/dL yang menunjukkan anemia ringan. Hemorrhoid Dari data yang ada diketahui bahwa pasien akhir-akhir ini BAB sulit dan mengeluarkan darah segar. Kemungkinan terjadi perdarahan pada saluran pencernaan bagian bawah, dalam hal ini rectum. Tetapi diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah tejadi keganasan pada saluran pencernaan pasien seperti Ca Colon. Resiko sangat tinggi penyakit jantung coroner Pasien diketahui memiliki kebiasaan mengkonsumsi gorengan yang banyak. Selain itu, pemberian obat penurun kolesterol golongan HMG CoA reduktase (Simvastatin) tidak dapat menurunkan kolesterolnya hingga batas normal yakni <200 mg/dL. Sehingga kelompok kami menyimpulkan bahwa pasien berada pada resiko sangat tinggi untuk terjadinya penyakit jantung koroner

17

VIII.

Diagnosis Berdasarkan daftar masalah dan hasil pemeriksaan yang kelompok kami dapatkan, diagnosis kerja pada pasien ini adalah ISK suspect pneumonia et causa sindrom dekondisi dengan anemia, hipertensi dan dislipidemia. Namun, untuk diagnosis pasti pada pasien ini belum dapat dipastikan sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang lanjutan untuk menegakkan diagnosis tersebut.

IX.

Patofisiologi

Tua ( penurunan fungsi organ secara fisiologis), Post stroke, Imobilisasi lama

aktivitas dan menurunny a sintesis hormone tiroid dan esterogen saat usia tua secara fisiologis

aktivitas dan makan goreng gorengan

wanita memiliki urethra yang pendek + miksi yang

kolestrol total , LDL , HDL , trigliserid

Residu urin ISK bagian bawah

motilitas usus dan kurang urinalisa eritrosit, epitel, BAB leukosit, berdarah Hb anemia bakteri +

defekasi tidak konstipasi lancar

18

metabolisme sel degradasi kolestrol dan sintesis kolestrol endogen normal /

suspect hemoroid dan suspect fissure ani

kolestrol total , LDL , HDL , trigliserid

napsu makan atherosclerosis hipertensi asupan kalori tidak over suspect anemia defisiensi besi dan B12

sintesis nitrit oleh bakteri PH urine

sirkulasi darah tidak optimal

PH = 5 (batas -bawah)

rig
oksigenisasi jaringan supply oksigen ke otak

gula darah normal

fungsi otak

kerja formation retikularis imunitas statis di salah satu posisi ( kanan ) 19

mudah mengantuk saat bicara

factor resiko pneumonia somnolen napas memanjang dan ronkhi basah halus pada paru kanan

tidak ada pelatihan otot yang hemiplegic

bahu kiri tampak cekungan ( antara akromion dan humerus )dan MMT =

pergerakan sendi

degenerasi sendi lutut dan cepat

suspect pneumonia

atrofi dan kelemahan otot

kontraktur sendi

tungkai bawah kanan tidak dapat diluruskan

20

X.

Penatalaksanaan6 Penatalaksanaan pada sindroma dekonditioning

Pasien yang menderita sindroma dekonditioning dapat melakukan rawat jalan, dengan indikasi bahwa di lingkungannya pasien bisa untuk bersosialisasi dengan keluarganya, dan juga keluarganya bisa memberikan support bagi pasien. Tentu saja, dengan di berikan edukasi pada keluarganya bahwa pasien harus di rawat di rumah, dan di pastikan agar penatalaksanaan dapat berjalan dengan baik. Pada penderita dekonditioning, terjadi penurunan fungsi dari berbagai sistem yang ada di tubuh, pada pasien ini, yang terjadi penurunan fungsi adalah : 1. Sistem muskuloskeletal : Terjadi penurunan fungsi yang di tandai dengan atrofi dan juga adanya kontraktur pada persendian pasien. Penatalaksanaan yang di lakukan adalah dengan rehabilitasi medik / fisioterapi, di mulai dari aktivitas fisik yang paling ringan kemudian bertahap hingga maksimal yang bisa di capai oleh individu tersebut, misanya : a. Aktivitas di tempat tidur : positioning, alih baring, latihan aktif dan pasif lingkup gerak sendi b. Mobilisasi : latihan bangun sendiri, duduk, transfer dari tempat tidur ke kursi, berdiri, jalan. Dan juga melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara sendiri, seperti makan, minum. Sedangkan untuk mandi, dan berpakaian masih harus di bantu.

21

Sedangkan untuk program ortotik-prostetik, dimana di perlukan alat bantu dalam mendukung aktivitas lansia, maka di butuhkan alat penopang seperti kursi roda agar pasien bisa memobilisasi dirinya sendiri. 2. Sistem paru Pada sistem paru, yang terjadi adalah adanya pneumonia yang terjadi karena adanya immobilisasi yang terjadi akibat pasien stroke. Penatalaksanaan yang di lakukan adalah dengan pemberian antibiotik berupa golongan makrolid atau doksasiklin. 3. Sistem genitourinaria Pada sistem genitourinaria, yang terjadi pada pasien ini adalah terjadi urinary tract infection. Penatalaksanaan yang di lakukan adalah dengan memberikan antibiotik berupa terapi dosis tunggal oral dengan pilihan antara lain adalah : amoksisilin dengan dosis 3 gr, kotrimoksazol 320mg / hari, atau sefaleksin dengan dosis 3 gr/hari. Selain dengan pemberian antibiotika, pasien di edukasi agar banyak minum air agar diuresis meningkat 4. Sistem kardiovaskular Pada sistem kardiovaskular, yang terjadi pada pasien ini adalah resiko yang tinggi untuk terkena penyakit sindrom koroner akut, di karenakan adanya riwayat kolesterol yang tinggi pada pasin yang di buktikan dengan adanya peningkatan kolesterol. Selain itu, ada hipertensi juga pada pasien ini. Penatalaksanaan yang di lakukan untuk pasien ini adalah dengan meneruskan pengobatannya berupa anglodipin, simvastatin dan juga neurobion, di tambah dengan pemberian diet rendah garam dan diuretika untuk mengurangi tekanan darahnya, dan juga memberikan edukasi pada pasien agar mengurangi kebiasaannya berupa makan gorengan karena mengandung banyak kolesterol. 5. Sistem gastrointestinal Pada sistem gastrointestinal, yang terjadi pada pasien ini adalah terjadinya malabsorbsi yang terjadi karena adanya atrofi pada mukosa usus. Setelah itu, manifestasi yang keluar pada pasien karena gangguan ini adalah terjadinya anemia. Penatalaksanaan yang di lakukan untuk anemia pada pasie adalah dengan pemberian suplementasi besi dan vitamin B12 untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam darahnya.

22

XI.

Komplikasi 1. Sindrom Delirium Akut Ini dapat terjadi karena pasien merupakan pasien pasca stroke,dan mengalami immobilisasi yang cukup lama 2.Sepsis

XII.

Prognosis Ad vitam : dubia ad malam

Dikarenakan usia pasien sudah lanjut dan sudah banyak komplikasi pada pasien, selain menderita stroke, pada pasien juga terdapat pneumonia, dan pada pemeriksaan lab juga pasien mengalami hiperkolestrolemia dan juga anemia sedangkan pada urinalisa ditemukan bakteri yang diduga infeksi traktus urinarius, yang semua itu merupakan komplikasi atau dampak dari imobilisasi pasien. Ad Fungsionam : dubia ad malam Dikarenakan fungsi fisiologis akan mengalami penurunan sejalan umur, dan pasien merupakan lanjut usia, dan juga pasien telah imobilisasi selama satu tahun, jika dilakukan rehabilitas untuk fisiologisnyapun tidak akan seperti orang normal. Ad Sanationam : dubia ad malam

Dikarenakan apabila pasien tidak menjalani rehabilitas untuk meningkatkan fungsi fisiologisnya dan tidak menghindari berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi maka keadaan pasien akan lebih buruk.

23

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA Definisi Sindrom dekondisi adalah suatu kumpulan gejala yang merupakan akibat daripenurunan kemampuan dari fungsi-fungsi tubuh disebabkan oleh imobilisasi. Imobilisasiadalah ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atauimpairment (gangguan pada alat/ organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental.Imobilisasi yang lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi padaorang. orang lanjut usia, pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama. Dampak imobilisasi lama ataupun tirah baring lama bisa berdampak buruk terhadap sistem organ didalam tubuh, seperti sistem kardiorespirasi, sistem muskuloskeletal, sistem integumen, sistemsusunan saraf, sistem gastrointestinal, maupun sistem genitourinaria.

Epidemiologi Efek dari sindrom dekondisi pada pasien dengan imobilisasi yang lama bisa terjadipada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang orang lanjut usia, atau pascaoperasi yang membutuhkan tirah baring lama. Dampak yang terutama muncul ialah dekubitusmencapai 11% dan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu, perawatan emboli paru berkisar0,9%,dimana tiap 200.000 orang meninggal per tahunnya.

Etiologi Imobilisasi

24

Biasanya sindrom dekondisi terjadi akibat penyakit yang diderita oleh pasien pasienyang memerlukan tirah baring jangka lama, seperti pasien koma/tidak sadarkan diri, patahtulang belakang atau kaki. Sindrom ini dapat disebabkan oleh karena: 1. Kelainan atau lesi neuromuskular , seperti paralisis 2. Keperluan ortopedik 3. Sakit parah yang memerlukan bed rest 4. Berada di tempat dengan gravitasi kecil dalam waktu yang lama seperti di luarangkasa 5. Berada di tempat dengan gravitasi yang lebih rendah dalam waktu yang lama, seperti duduk atau berbaring dengan lama. Selain itu, berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkanimobilisasi terutama pada usia lanjut. Berikut merupakan penyebab umum imobilisasi pada usia lanjut yang menimbulkan sindrom dekondisi: 1. Dekonditioning sistem muskuloskeletal a. Kontraktur. b. Kelemahan otot dan atrofi. c. Osteoporosis. d. Ancylosis. 2. Dekonditioning sistem kardiovaskular a. Hipotensi ortostatik b. Penurunan venous returnpenurunan cardiac outputpeningkatan denyut jantungkerja otot jantung meningkat. c. Tromboemboli vena 3. Dekonditioning sistem respirasi a. Terjadi retriksi mekanik pernafasan karena penurunan gerakan sendi kostovertebral dan kostokondralpernafasan cepat dan dangkalkapasitas paru menurunasupan O2 menurun. b. Dapat mengakibatkan terjadinya Pneumonia ortostatik. 4. Dekonditioning kulit a. Karena adanya penekanan jangka lama pada kulit, maka terjadi ulcus decubitus, edema, bursitis.
25

5. Dekonditioning sistem gastrointestinal a. Penurunan nafsu makan, penurunan sekresi lambung, atrofi mucosa intestinal dan glandula, penurunan absorbsi. b. Gangguan kontraktilitas sistem pencernaankonstipasi. 6. Dekonditioning sistem genitourinaria a. Meningkatnya ekskresi mineral dari tulang. b. Meningkatnya diuresis. c. Terbentuknya formasi batu traktus urinarius. 7. Dekonsitioning sistem metabolisme dan nutrisi a. Penurunan indeks masa tubuh b. Gangguan balance nitrogen c. Meningkatnyaekskresi mineral dan elektrolit 8. Dekonditioning sistem endokrin a. Penurunan respon hormon dan enzim. 9. Sistem Kardiopulmonal Pada system kardiopulmonal dapat terjadi penurunan FRC, volume residual dan FEV. Hal ini bisa menyebabkan penurunan transport oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringantubuh. Selain itu, imobilisasi yang disertai penurunan aktivitas dapat menyababkan sekresilendir yang berasal dari paru-paru ikut terganggu sehingga dapat mempengaruhi distribusi udara di paru-paru. Di samping itu, dapat pula terjadi hal-hal seperti berikut: 1. Penurunan volume tidal 2. Penurunan kemampuan untuk mengontraksikan otot pernafasan untuk mencapaiinspirasi penuh. 3. Penurunan kekuatan otot pernafasan 4. Meningkatnya respiratory rate untuk mengompensasi penurunan kapasitasrespirasi 5. Penurunan venstilasi dan peningkatan perfusi yang menyebabkan AV shuntingdan menurunkan oksigenas

Prinsip Tatalaksana

26

1. Program Rehabilitasi Medik a. Program Terapi Fisik : Progam ini berguna untuk mengembalikan flexibilitas sendi, mencegah kontraktur,dan persiapan sebelum dilakukan terapi latihan (remedial exercise), dapatdiberikan Terapi panas Kering (dry heat) dengan lampu infra red, lampu biasa,botol air panas dan bantal pemanas listrik. b. Memberikan Terapi Latihan (remedial exercise) pasif, yang meliputi LatihanLingkup Gerak Sendi (ROM exercise), Latihan Penguatan Otot (strengtheningexercise) dan Latihan pernafasan (breathing exercise). c. Kalau keadaan pasien sudah memungkinkan, dapat diberikan terapi latihan aktif,yakni melatih mobilisasi bertahap dengan latihan miring kanan kiri (rolling),dilanjutkan dengan latihan duduk (sitting balance), dan latihan jalan (ambulasi)diberikan jiak sudah memungkinkan. 2. Program Psikologi a. Mengadakan evaluasi dan memperbaiki keadaan psikologis pasien yangberhubungan dengan penyakit atau keadaan yang diderita pasien, disesuaikandengan kapasitas intelektual pasien. b. Evaluasi demensia, depresi, dan gangguan fungsi kognitif jikalau ada.

Komplikasi Imobilisasi 1. Trombosis Trombosis vena dalam merupakan salah satu gangguan vaskular perifer yang penyebabnya bersifat multifaktorial, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Terdapat tiga faktor yang meningkatkan resiko trombosis vena dalam yaitu adanya luka di vena dalam karena trauma atau pembedahan, sirkulasi darah yang tidak baik pada vena dalam, dan berbagai kondisi yang meningkatkan resiko pembekuan darah. Gejala yang timbul bervariasi, tergantung pada ukuran dan okasi trombosis vena dalam, dapat berupa rasa panas, bengkak, kemerahan, dan rasa nyeri pada tungkai; sebagian besar trombosis vena dalam timbul hanya pada satu kaki. 2. Emboli Paru

27

Dapat diakibatkan oleh banyak faktor seperti emboli air ketuban, emboli udara, dan sebagainya. Sebagian besar emboli paru disebabkan oleh emboli karena trombosis vena dalam. Gejala emboli paru dapat berupasesak nafas, nyeri dada, dan peningkatan denyut nadi. 3. Kelemahan Otot Imobilisasi lama akan mengakibatkan atrofi otot dengan penurunan ukuran dan kekuatan otot. Terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan atrofi otot yaitu perubahan biologis proses menua itu sendiri, akumulasi penyakit akut dan kronik, serta malnutrisi. Perubahan otot selama imobilisasi lama menyebabkan degenerasi serat otot, peningkatan jaringan lemak, serta fibrosis. 4. Kontraktur Otot dan Sendi Pasien yang mengalami tirah baring lama beresiko mengalami kontraktur karena sendi sendi tidak digerakkan. Akibatnya timbul rasa nyeri yang menyebabkan seseorang semakin tidak mau menggerakkan sendi yang kontraktur tersebut. Kontraktur dapat terjadi karena perubahan patologis pada bagian tulang sendi, pada otot, atau pada jaringan penunjang di sekitar sendi. Kolagen sendi dan jaringan lunak sekitar akan mengkerut. Kontraktur akan menghalangi pergerakan sendi dan mobilisasi pasif yang akan memperburuk kondisi kontraktur. 5. Osteoporosis Akibat ketidakseimbangan antara resorpsi tulang dan pembentukan tulang. Imobilisasi ternyata meningkatkan resorpsi tulang, meningkatkan kadar kalsium serum, menghambat sekresi PTH, dan produksi vitamin D3 aktif. Faktor utama yang menyebabkan kehilangan massa tulang pada imobilisasi adalah meningkatnya resorpsi tulang. 6. Ulkus Dekubitus Imobilisasi umumnya tidak bergerak pada malam hari karena tidak adanya gerakan pasif maupun aktif. Tekanan akan memberikan pengaruh pada daerah kulit sakral ketika dalam posisi berbaring. Aliran darah akan terhambat pada daerah kulit yang tertekan dan menghasilkan anoksia jaringan dan nekrosis. Kompresi pembuluh darah dalam waktu lama akan mengakibatkan trombosis intra arteri dan gumpalan fibrin
28

yang secara permanen mempertahankan iskemia kulit. Relief bekas tekanan pada keadaan tersebut mengakibatkan pembuluh darah tidak dapat terbuka dan pada akhirnya akan terbentuk luka akibat tekanan. 7. Hipotensi Postural Komplikasi yang sering timbul akibat imobilisasi lama pada pasien usia lanjut adalah penurunan efisiensi jantung, perubahan tanggapan kardiovaskular postural, dan penyakit tromboemboli. Hipotensi postural adalah penurunan tekanan darah sebanyak 20 mmHg dari posisi baring ke duduk dengan salah satu gejala klinik yang sering timbul adalah iskemia cerebral, khususnya sinkop. Curah jantung rendah mengakibatkan terjadinya hipotensi postural. Gejala dan tanda hipotensi postural adalah penurunan tekanan darah sistolik dari tidur ke duduk lebih dari 20 mmHg, berkeringat, pucat, kebingunan, peningkatan denyut jantung, letih, dan pada keadaan berat dapat menyebabkan jatuh yang pada akhirnya akan mengakibatkan fraktur, hematoma jaringan lunak dan perdarahan otak. 8. Pneumonia dan Infeksi Saluran Kemih Pada posisi berbaring otot diafragma dan interkostal tidak berfungsi dengan baik sehingga gerakan dinding dada juga menjadi terbatas yang menyebabkan sputum sulit keluar. Kondisi tersebut akan memudahkan usia lanjut untuk mengalami atelektasis paru dan pneumonia. Aliran urin juga terganggu akibat tirah baring yang kemudian menyebabkan infeksi saluran kemih lebih mudah terjadi. Inkontinensia urin juga sering terjadi pada usia lanjut yang mengalami imobilisasi. 9. Gangguan Nutrisi ( Hipoalbuminemia ) Imobilissi akan mempengaruhi sistem metabolik dan endokrin yang akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabolisme zat gizi. Kadar plasma kortisol lebih tinggi pada usia lanjut dengan imobilisasi dibandingkan dengan usia lanjut tanpa imobilisasi. Kadar plasma kortisol yang lebih tinggi mengubah metabolisme menjadi katabolisme sehingga metabolisme protein akan lebih rendah pada pasien usia lanjut dengan imobilisasi. 10. Konstipasi dan Skibala

29

Imobilisasi lama akan menurunkan waktu tinggal feses di kolon. Semakin lama feses tinggal di usus besar, maka absorbsi cairan akan lebih besar sehingga feses akan menjadi lebih keras. Asupan cairan yang kurang, dehidrasi, dan penggunaan obat obatan juga dapat menyebabkan konstipasi pada pasien imobilisasi.

Upaya Pencegahan Komplikasi

Pencegahan

timbulnya

komplikasi

dapat

dilakukan

dengan

memberikan

penatalaksanaan yang tepat terhadap imobilisasi. Penatalaksanaan yang tepat terhadap imobilisasi. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan meliputi penatalaksanaan farmakologik dan non farmakologik.

Non Farmakologis Berbagai upaya yang dapat dilakukan adalah dengan beberapa terapi fisik dan latihan jasmani secara teratur. Pada pasien yang mengalami tirah baring total, perubahan posisi secara teratur dan latihan di tempat tidur dapat dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya kelemahan dan kontraktur otot serta kontraktur sendi. Untuk mencegah terjadinya kontraktur otot dapat dilakukan latihan gerakan pasif sebanyak satu atau dua kali sehari selama 20 menit. Untuk mencegah terjadinya dekubitus, hal yang harus dilakukan adalah

menghilangkan penyebab terjadinya ulkus yaitu bekas tekanan pada kulit. Untuk itu dapat dilakukan perubahan posisi lateral 30o, penggunaan kasur anti dekubitus, atau menggunakan bantal berongga. Latihan kekuatan otot serta kontraksi abdomen dan otot pada kaki akan menyebabkan aliran darah balik vena lebih efisien. Khusus untuk mencegah terjadinya trombosis dapat dilakukan tindakan kompresi intermiten pada tungkai bawah.

30

Monitor asupan cairan dan makanan yang mengandung serat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya konstipasi. Pemberian nutrisi yang adekuat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya malnutrisi pada pasien imobilisasi.

Farmakologis

Pemberian antikoagulan merupakan terapi farmakologik yang dapat diberikan untuk mencegah terjadinya trombosis pada pasien geriatri dengan imobilisasi. Low dose heparin ( LDH ) dan low molecular weight heparin ( LMWH ) merupakan profilaksis yang aman dan efektif untuk pasien geriatri dengan imobilisasi dan resiko trombosis non pembedahan terutama stroke.

BAB V KESIMPULAN

31

Ny. Sutini merupakan pasien lanjut usia pasca stroke yang berdasarkan pada hasil anamnesis dan pemeriksaan telah mengalami gangguan fungsi motorik sehingga menyebabkan keadaan sulit bergerak, kaku, dan imobilisasi pada separuh tubuh Ny. Sutini. Kurangnya rehabilitasi dan pelatihan pada proses penyembuhan pasca stroke, menyebabkan Ny. Sutini berada dalam keadaan imobilisasi yang lama di tempat tidur yang pada akhirnya menyebabkan sindroma deconditioning yang berdampak pada keluhan berbagai system organ akibat sindroma deconditioning tersebut. Penyembuhan Ny. Sutini dimulai dari penyembuhan kemungkinan infeksi yang mungkin terjadi pada Ny. Sutini seperti yang terlihat pada hasi; pemeriksaan laboratorium, urinalisis dan sedimen urin pasien. Selain itu, perlu segera melakukan terapi fisik untuk dapat kembali mengoptimalkan fungsi system musculoskeletal Ny. Sutini agar tidak menjadi suatu proses degenerasi yang ireversibel. Untuk mempercepat proses penyembuhan, eran serta keluarga, disiplin pasien, lingkungan social, dan praktisi medis juga perlu diperhatikan untuk tercapainya penyembuhan dalam mengembalikan kondisi Ny. Sutini seoptimal mungkin.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

32

1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Kolopaking MS, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing;2010. 2. Hadisaputro S. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta:Amara books;2007.p.84-8. 3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 5th Ed. Jakarta:interna publishing;2009. P.2196
4. Medline

Plus.

RBC

Indices.

Available

at:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003648.htm. Accessed on June 4, 2012. 5. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran. 3th Ed. Jakarta:media aesculapius;2009. P.523 6. Martono H, Pranaka K. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). 4th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2009.

33