Anda di halaman 1dari 23

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pengertian Operasi adalah suatu upaya penanganan suatu gangguan (penyakit) dengan cara pembedahan. Tindakan operasi dilakukan pada berbagai daerah salah satunya adalah laparotomi. Laparotomi merupakan tindakan pembedahan atau penyayatan pada dinding abdominal atau lapisan peritoneal, sehingga dapat mencapai organ-organ visceral secara langsung. Laparotomi sendiri berasala dari kata Laparo yang berarti abdominal dan dari kata tomy yang berarti penyayatan. Anestesi merupakan tahapan yang sangat penting pada tindakan pembedahan. Anestesi umum adalah tahapan yang sangat penting dan mempunyai resiko jauh lebih besar dari prosedur pembedahan, karena anestesi yang dalam akan mengancam nyawa pasien. Pemberian agen anestetikum yang kurang atau tidak mencukupi menyebabkan pasien akan tetap merasakan sakit, tetapi apabila dosis anestetikum yang diberikan dalam keadaan berlebihan dapat terjadi kematian. Kriteria idealanestetikum, yaitu anestetikum yang menghasilkan sedasi, analgesi, relaksasi, ketidaksadaran, dan aman untuk sitem vital, serta mudah diaplikasikan (Fossum, 1997). Anestetika yang paling banyak digunakan adalah injeksi kombinasi ketamine-xylazine. Kombinasi ini menghasilkan anestesi tidak stabil, memerlukan pengulangan pemberian, pemulihan lama, mempunyai efek samping kejang dan muntah. Ketamine adalah senyawa sintetik sejenis dengan PCP (Phencyclidine) yang dipakai sebagai obat anesthetic pada veterinary juga pada manusia(Frecknell PA, 1987). Ketamine dosis rendah menghasilkan analgesik yang baik, tetapi ketamine menyebabkan kekejangan otot dan peningkatan denyut jantung, tetapi ketamine menyebabkan kekejangan otot dan peningkatan denyut jantung (Pathak et al.1982; Kul et al. 2001). Xylazine HCl adalah golongan alpha2-adrenoceptor stimulant atau alpha-2 adrenergic receptor agonist. Xylazine bekerja melalui mekanisme yang menghambat tonus simpatik karena xylazine mengaktivasi reseptor postsinap 2-adrenoseptor sehingga menyebabkan medriasis, relaksasi otot, penurunan denyut jantung,penurunan peristaltik, relaksasi saluran cerna, dan sedasi. Xylazine menyebabkan relaksasi otot melalui penghambatan transmisi impuls intraneural pada susunan syaraf pusat dan dapat menyebabkan muntah. Xylazine juga dapat menekan termoregulator (Adams, 2001). Pemberian atropine sulfat secara bersamaan

sebagai preanestesi, dapat menurunkan pengaruh hipersalivasi dan bradikardi dari xylazine (Bishop, 1996). Atropine adalah agen menghambat muskarinik atau antimuskarinik dengan mekanisme kerja secara kompetisi dengan reseptor acetilkolin. Penggunaan kombinasi atropine sulfat, xylazine HCl atau midazolam sebagai preanestesi akan memberikan pengaruh lebih baik terhadap anestesi serta meningkatkan potensi anestetikum. Preanestesi juga sangat penting pada hewan untuk tujuan merestrain sebelum dilakukan anestesi. Tolfenamic Acid (TA) adalah salah satu dari kelas non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAIDs).Tolfenamic Acid digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pada serangan migrain (Booth et al., 1977). Ampicillin adalah salah satu antibiotik semi sintetik golongan penicillin. Ampicillin termasuk dalam agen bakterisidal yang mempunyai spektrum aktivitas luas pada bakteri Gram negatif dan positif. Bakteri-bakteri yang rentan terhadap Ampicillin antara lain : Streptococcus, Staphylococcus, Clostridium, E. coli, Klebsiella, Shigella, Salmonella, Proteus, Brucella dan Pasteurella (Jones et al., 1978). Pemberian ampicillin ada beberapa macam bisa PO (per oral), IV, IM, dan SC, tergantung pada sediaan obat dan kegunaannya. Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak. vitamin K diperlukan oleh tubuh dalam proses pembekuan darah secara normal. Vitamin K sangat berperan dalam proses pembekuan darah, kekurangan vitamin K dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah sehingga menyebabkan perdarahan yang sulit membeku (Sulistia G, 1987). Pemberian primperan (Metoclopramide) bertujuan untuk mengatasi gejala muntah pada kucing Ucyl. Metoclopramide merupakan derivate para-aminobenzoic acid, gugus kimianya mirip prokainamid, tapi efek anastetika lokalnya sangat lemah,dan hampir tidak berpengaruh terhadap miokard. Efek farmakologi dari Metoclopramide adalah berkerja dalam saluran gastrointestinal dan CNS. Dalam saluran Gastrointestinal metaclopramide meningkatkan motilitas gastrointestinal tanpa menstimulasi gastrium, pankreas dan sekresi empedu. Di dalam CNS, metoclopramide nyata sebagai antagonis dopamine, anti-emetic pusat, menghalangi dopamine didalam chemo-reseptor trigger zone, extrapyrimidal, dan efek stimulasi prolaktin (Forsyth S, 1995). Efek nyata yang diberikan oleh Metoclopramide adalah anti emesis lokal, dalam dunia kedokteran hewan dapat dipakai pada kasus muntah-muntah karena Parvo-virus dan uremic gastritis. Namun perlu diperhatikan; kontraindikasi dari Metoclopramide adalah pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal, obstruksi atau perforasi dan hypersensitif terhadap Metoclopramide(Forsyth S, 1995).

Novaverine merupakan obat diare golongan Anti motilitas/Anti spasmodik. Mekanisme kerjanya yaitu mengurangi kecepatan pergerakan pada usus (relaksasi otot polos) (Gorda et al., 2010). Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh (Sulistia G, 1987).

BAB II METODOLOGI 2.1 Alat dan Bahan 2.1.1 Bahan Bahan sebelum Operasi dan sesdudah operasi: Yang utama adalah kucing yang dilengkapi dengan pemeriksaan anamnesis yang lengkap yang meliputi: Nama kucing Jenis kelamin, usia Berat badan Warna, ras : Manis : betina, 6 bulan : 2,2 kg : trikalor, domestik house cat (DHC)

Dalam praktikum kali ini ada beberapa bahan yang digunakan untuk selama operasi laparotomi berlangsung antar lain adalah : a. Atropin sulfat (0,05 mg) dengan dosis mg/kg BB digunakan sebagai obat premedikasi. Jumlah pemberian = berat badan x dosis aplikasi = 2,2 kg x 0,04 mg/kgBB= 0,17 ml Kandungan sediaan 0,5 mg/ ml

b. Xylasin 2% dengan dosis mg/kgBB digunakan sebagai anastesi umum Jumlah pemberian = berat badan x dosis aplikasi = 2,2 kg x 2,2 mg/kgBB = 0,22 ml Kandungan sediaan 20 mg/ ml

c. Ketamin 10% dengan dosis mg/kgBB digunakan sebagai anastesi umum Jumlah Pemberian = berat badan x dosis aplikasi = 2,2 kg x 10 mg/kgBB = 0,22 ml Kandungan sediaan 100 mg/ml

d. Penicilin G dengan dosis secukupnya digunakan sebagai antibiotik yang diberikan pada permukaan luar kulit setalah operasi sebelum ditutup dengan bandage. e. Ampicillin sodium (Visilin) dengan dosis mg/kgBB digunakan sebagai antibiotik yang diberikan pada setiap lapisan jahitan yang dibedah. Jumlah Pemberian 1 ml per lapisan jahitan. Sedangkan obat-obatan setelah operasi meliputi : a. Ampicillin sirup dengan dosis mg/kgBB yang diberikan secara peroral sebagai antibiotik dari dalam. Diberikan dua kali sehari selama lima hari, tiap pemberian sebanyak 1,76 ml. Jumlah pemberian = berat badan x dosis aplikasi = 2,2 kg x 20 mg/kgBB = 1,76 ml Kandungan sediaan 25 mg/ml

b. Ampicillin inject 1 ml yang diberikan secara intramuscular sebagai antibiotik dari luar Jumlah pemberian = berat badan x dosis aplikasi = 2,2 kg x 10 mg/kgBB = 0,22 ml Kandungan sediaan 100 mg/ ml

c. Tolfenamic Acid dengan dosis mg/kgBB digunakan sebagai analgesik pasca operasi Jumlah Pemberian = berat badan x dosis aplikasi = 2,2 kg x 4 mg/kgBB = 0,11 ml Kandungan sediaan 80 mg / ml

d. Iodine oles dengan dosis secukupnya sebagai antiseptik untuk membersihkan luka jahitan e. Perban dan plaster digunakan untuk menutup luka jahitan. 2.1.2 Alat-alat yang digunakan untuk operasi Dalam praktikum ini alat-alat yangdigunakan untuk operasi adalah sebagai berikut: Allis tissue forcep dengan jumlah Towel clam dengan jumlah Scapel dan blade dengan jumlah Pinset anatomis dan pinset cirrurgis dengan jumlah Arteri clam bengkok dengan jumlah Groofe derector dengan jumlah Retrakctor dengan jumlah Spay hock dengan jumlah Needle holder dengan jumlah Gunting tumpul-tumpul, gunting tajam tumpul dengan jumlah Mosquitoforcep dengan jumlah atericlam pan panjang dengan jumlah Jarum penampang segitiga dengan jumlah dan jarum penampang bulat dengan jumlah Benang catgut cromic dengan jumlah , cargut plain dengan jumlah, silk atau katon dengan jumlah Tali restraint, meja operasi, thermometer, stetoskop, timbangan, spuit 1ml dan 3 ml, pencukur rambut, sarung tangan, masker, baju bedah, drape, tampon, kapas. 2.2 Langkah Kerja 2.2.1 Preparasi Alat

Sterilisasi alat-alat Bedah Sterilisasi pada alat-alat bedah bertujuan untuk menghilangkan bakteri ataupun agen penyebab kontaminasi yang terdapat pada alat-alat bedah, agar jaringan jaringan, organ ataupun pembuluh darah yang steril saat dibedah tidak terkontaminasi mikroba patogen tersebut. Peralatan bedah minor yang disterilisasi meliputi: allis tissue forcep, towel clam, groofe derector, scapel handel, pinset anatomis dan cirrurgis, artericlam pan panjang dan bengkok, retraktor, spay hock, mosquito forcep, drape, tampon dimana alat-alat ini disterilisasi panas sedangkan alat laian seperti needle holder, gunting tumpul-tumpul dan gunting tajam tumpul disetril dengan menggunakan alkohol 70%. Dimana pembungkusan alat-alat bedah dilakukan dengan cara alat-alat yang disterilkan panas dimasukkan kedalam wadah peral, selanjutnya wadah peral dibungkus dengan menggunakan koran secara rapat sehingga semua bagian wadah tertup rapat, selanjtnya dimasukkan kedalam oven steril engan su u selama menit eserta

drape dan tampon. Setelah alat selesai disterilisasi alat dikelurgan dan ditata diatas meja operasi.

2.2.2 Preparasi dan Persiapan Hewan Operasi Persiapan-persiapan operasi yang dilakukan pada hewan meliputi

pemeriksaan secara signalemen, anamnese satatus present serta pemeriksaan lain yang perlu. Data fisiologi penting harus diambil sebelum operasi yaitu suhu tubuh, frekuensi nafas, pulsus dan selaput mata. Tahapan selanjutnya adalah restrain hewan kemudian dilakukan penyuntikan premedikasi atropin untuk menenangkan pasien, setelah itu dilakukan pencukuran bulu didaerah operasi minimal 10 cm disekitar sayatan. Daerah sayatan dibersihkan dengan alkohol. Kemudian dikeringakn dengan tampon dan dilanjutkan dengan diolesi menggunakan iodine 3%. Setelah itu hewan siap untuk diletakkan pada meja operasiyang telah disipkan kain alas tubuh pasien. Sebelum diletakkan peletakkan pada meja operasi, hewan harus dianastesi umum terlebih dahulu sampai pasien tidak sadar, kemudian baru diletakkan pada meja operasi Ketika berada diatas meja operasi denan posisi dorso venteral atau telentang dengan keempat kakinya diikat diujung-ujung meja dengan menggunakan sumbu kompor dengan simpul yang kuat. Selanjutnya tubuh pasien ditutup dengan menggunakan drape yang disesuikan dengan daerah luas penampang yang akan dilakukan operasi. Drape

kemudian difiksir dengan menggunakan towel clamp. Setelah itu pasien siap untuk dilakukan operasi.bukan hanya itu saja hewan sebelum dilakukan oeprasi harus diberikan perlakukan yang berupa pemuasaan dari makan selama 12 jam menjelang operasi, dan pemuasaan air selama 2- 4 jam menjelang operasi hal ini dilakukan untuk mengosongkan lambung dan kantung kemih, sehingga setelah selesai diberi nastesi umum hewan tidak akan muntah.

2.2.3 Persiapan Operator dan Asisten Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh operator dan asisten adalah pertama membersihkan tangan dengan cara mencuci tangan dengan mengunakan air mengalir dan sabun sampai dengan kuku-kuku pada tangan harus benar-benar bersih. Selanjutnya pencucian harus dilakukan sampai dengan ujung lengan dan dilakukan berulangkali sampi benar-benra bersih. Selanjutnya dicuci ulang dengan menggunakan alkohol sebagai antiseptik. Kemudian tangan dieringakan dan dilanjutkkan dengan menggunakan glove dan masker serta baju operasi. Setelah itu tidak operator dan asisten tidak boleh memegang apapun agar terhindar dari kontaminasi. Operasipun siap untuk dilakukan.

2.2.4 Prosedur Pembedahan Langkah-langkah opersi dapat dilakukan setelah semuanya siap. Adapunhal yang dilakukan pertama kali adalah : 1. Dilakukan penyayatan kulit dengan menggunakan scapel dimulai dari 2 cm dibawah umbilikal. 2. Setelah lapisan kulit terbuka, maka selanjutnya dilakukan penyayatan pada bagian subkutan tetap dengan menggunakan scapel dan dibantu menggunakan pinset anatomis dan arteri clam yang dicepitkan pada kulityang telah disayat untuk memperluas lapangan pandang atau menguankanna kulit. Selain itu untuk menghindari terlukanya lapisan dibawah suukan maka penyayatan dapat dibantu dengan groofe derector sehingga aman. 3. Setalah lapisan subkutan tersayat makan dilakukan penguakan dengan penggunakan gunting tumpul-tunpul, dan lapisan subkutan tersebut ditahan menggunakan arteri clam, agar terkuak dan dapt terlihat linea albanya. Linea alba ini digunakan sebagai patokan untuk menyayat lapisan dalam dari muskulus obliqua internal abdominis.

4. Selanjutnya linea alba disayat dengan menggunakan scapel dan dibantu menggunakan pinset anatomi dan groof derector hingga terkuak lapisannya dengan dibantu oleh gunting tumpul-tumpul sehingga terlihat organ dalam dari abdominal. 5. Setalah terlihat organ abdominalnya dapat dilakukan pencarian orgaan berdasarkan pembagian daerah abdominal seperti : epigastrium, mesogastrium dan hypogastrium. Setelah pencarian organ selesai maka dapt dilakukan penjahitan atau penutupan organ dari abdomen tersebut. 6. Jahitan pada lapisan paling dalam yang berupa lapisan peritonium dan musculus obliqus internal abdominis dengan menggunakan jarum dengan permukaan bulat dan benang yang dipakai adalah benang catgut cromik. Penjahitan lapisan ini harus dijahit dengan menggunakan jahitan terputus sederhana (simple interupted suture) diamana jahitan ini memberikan keuntungan lebih aman karena jika terlepas satu benang yang lain akan masih tetap terjahit. Sebelum penjahitan harus diberikan antibiotik ampicillin sodium untuk mencegah terjadinya infeksi setelah lapisan pertama dijahait juha harus diberikan antibiotik agar mencegah infeksi bakteri patogen. 7. Selanjutnya dilakukan penjahitan pada lapisan kedua yakni pada lapisan subkutan. Pada lapisan ini dilakukan penjahitan dengan menggunakan jahitan menerus sederhana (). Lapisan ini dijahit dengan menggunakan benang catgut plain dengan jarum dengan permukaan bulat. Setelah jahitan selesai maka harus diberikan antibiotik ampicillin sodium. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi setelah melakukan penjahitan. 8. Kemudian dilanjutkan pada lapisan yang terakhir yakni lapisan kulit. Pada lapisan ini dilakukan penjahitan dengan menggunakan jahitan terputus sederhana (simple interupted suture). Lapisan ini dijahit dengan menggunakan benang silk atau katon dan dengan jarum permukaan segitiga. Setelah penjahitan lapisan terakhir ini selesai maka permukaan jahitan haris diberi iodine dan diberikan antibiotik Penicillin G serbuk diseluruh daerah yang dijahit. Selanjutnya luka jahitan dituup dengan menggunakan perban segi empat yang disesuikan dengan ukuran luka dan dipasang plaster selanjutnya dipakaikan gurita untuk mencegah gigitan dari pasien.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Hasil Pengamatan Pemeriksaan fisik Pre Operasi dan pasca operasi : Pemeriksaan Termoregulasi 38 C Pulsus Respirasi 20 / menit pupil meiosis

Waktu Operasi Sebelum Operasi Sesudah Operasi

40C

25 / menit

midriasis

Hasil pemeriksaan ini dilakukan sebelum melakukan operasi yang terdiri atas pemeriksaan suhu, pemeriksaan pulsus, respirasi dan pupil .

3.2 Pre Laparotomy Laparotomy atau pembedahan pada abdomen perlu beberapa persiapan, antara lain pasien , alat , operator dan ruangan. Pada praktikum ilmu bedah umum ini dilakukan persiapan hanya pada pasien, alat dan operator. Berikut persiapan persiapan pre laparotomy yang dilakukan pada praktikum ilmu bedah umum: 1. Pasien Pasien dipuasakan selama kurang lebih 8 jam sebelum operasi. Kemudian bulunya dicukur disekitar daerah abdomen yang akan di incise yaitu daerah umbilicus dan bawahnya serta dibersihkan dengan alcohol. Pencukuran ini dilakukan pada ruang periksa pasien di klinik PKH UB atau tempat yang berbeda dengan ruang pelaksanaan praktikum ilmu bedah umum atau laparatomy. Lalu pasien dipindahkan ke ruang laparatomy dan diberi premidikasi berupa atropine sulfat yang diberikan secara sub kutan, dosis yang digunakan sebesar 0,17 ml. perhitungan dosis atopine sulfat adalah sebagai berikut :

Setelah diberi premedikasi dan pasien tenang sehingga mudah untuk dihandling, maka pasien di beri anastesi umum yaitu campuran ketamin dan xylazine yang diberikan secara IM dengan dosis 0,22 ml, berikut perhitungan dosisnya :

Namun pasien yang kami lakukan laparatomy memiliki kelainan ginjal, yaitu terdapat perbesaran pada ginjal. Sehingga dengan dosis anastesi diatas pasien tidak dalam keadaan teranastesi, setelah 30 menit menunggu pasien teranastesi maka diputuskan untuk menambah dosis anastesi sebesar 0,5 dosis awal. Namun setelah beberapa lama menunggu dan pasien tidak dalam keadaan teranastesi, pasien kembali diberi 0,5 dosis anastesi awal. Dan setelah pasien teranastesi, bagian extremitasnya diikat dengan tali pada tiang tiang kursi, agar tubuh pasien tidak berubah atau berpindah tempat.

2. Alat Untuk alat alat yang dipakai untuk laparatomy sebelumnya dilakukan sterilisasi. Sterilisasi dilakukan dengan dua cara,yaitu : a. Autoclave Digunakan untuk alat alat bedah yang tidak tajam, alat alat tersebut dimasukkan dalam wadah dan dibungkus dengan kertas kemudian dimasukkan ke dalam autoclave dengan suhu 121C dan tekanan sebesar 15 atm . b. Alcohol 70 % Digunakan untuk alat alat bedah yang tajam, seperti gunting, dimasukkan dalam wadah yang berisi alcohol 70%, kemudian biarkan terendam. Alat yang tajam tidak disterilkan dengan autoclave karena penggunaan autoclave akan mengakibatkan alat tersebut menjadi tumpul. Bahan bahan lain seperti tampon pun dilakukan sterilisasi dengan autoclave, namun dibungkus kertas terlebih dahulu agar air dari autoclave tidak terserap tampon.

3. Operator Sterilisasi operator pada praktikum ini tidak sesuai dengan standar untuk operasi, karena baju yang dipakai operator tidak khusus atau hanya memakai jas laboratorium. Namun operator wajib menggunakan glove dan masker untuk menurangi kontaminasi sekunder yang terjadi saat laparatomy. Selain itu ruangan yang dipakai tidak sesuai standar operasi.

3.3 LAPARATOMI Proses operasi laparatomy pada praktikum ini yaitu : 1. Alat alat disiapkan dimeja operasi 2. Tim operator sudah memakai masker dan glove yang steril 3. Pasien yang sudah dalam keadaan teranastesi diikat dengan tali pada extremitasnya. 4. Bagian yang akan diincisi dibersihkan dengan alcohol 70% 5. Dilakukan incise didaerah 2cm bawah umbilicus, incise dilakukan sepanjang 4 cm 6. Lapisan yang diincisi dari luar ke dalam yaitu : kutan, sub kutan, dan linea alba. Terjadi sedikit pendarahan saat dilakukan incise, namun dapat ditangani dengan menekan daerah yang terjadi perdarahan dengan tampon. 7. Karena pasien dalam kondisi yang tidak stabil, maka laparatomy yang bertujuan untuk melihat organ dalam bagian abdomen ini dilakukan hanya sebentar 8. Dilakukan penjahitan pada lapisan linea alba dengan menggunakan benang jenis cat gut chromic dan teknik jahitan sederhana terputus, sebelumnya dimasukkan

amphicilin ke dalam rongga abdomen. 9. Namun saat dilakukan penjahitan pada ujung ujung daerah incise lapisan linea alba, pasien sadar kembali sehingga diberi anastesi lagi sebesar 0.5 dosis awal. 10. Kemudian jahitan pada linea alba diteruskan dan dibantu oleh dosen pembimbing praktikum, karena kondisi pasien sangat tidak stabil. 11. Dilanjutkan menjahit lapisan subkutan dengan benang jenis cat gut plain dan teknik jahitan sederhana menerus, pada saat praktikum ini proses penjahitan dilakukan dengan cepat karena ditakutkan pasien sadar kembali. Sebelum dilakukan penjahitan kembali dimasukkan amphicilin pada daerah atas linea alba. 12. Penjahitan dilanjutkan pada lapisan kutan dengan benang jenis silk dan teknik jahitan terputus sederhana. Sebelumnya dimasukkan pula amphicilin. 13. Setelah penjahitan selesai dilakukan, pada tempat penjahitan diberi amphicilin cair dan penicillin bubuk, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kontaminasi sekunder yang terjadi. 14. Dilakukan bandage atau penutupan luka dengan kasa dan hypafix serta dipakaikan gurita untuk menghindari pasien menjilat daerah yang dioperasi. 15. Pasien diberi injeksi amphicilin secara IM dengan dosis 0,22 ml, dengan perhitungan :

16. Serta diberi Tolfenamic acid sebagai analgesic secara sub kutan dengan dosis 0,11 ml, dengan perhitungan :

17. Pasien dimasukkan ke dalam kandang hingga sadar dari pengaruh anastesi.

3.3 Pemeriksaan Pasca Operasi Hasil pemeriksaan ini dilakukan selama satu minggu pengamatan yang meliputi beberapa hal yakni suhu, makan, urinasi, defekasi,minum, jahitan.

Hari Selasa

Treatment

Pemberian Obat

Keterangan Kucing sehat keadaan semua normal Makan normal Minum normal suhu tubuh 37,80C Lincah Defekasi normal Urinasi normal

Pemberian Pakan dan Minum Normal Kemudian 21.00 Pukul mulai

dipuasakan makan

Rabu

Pemberian Premedikasi Pemberian Anestesi Memulai Operasi Pemberian Antibiotic Pemberian Anti nyeri

Premedikasi

Keadaan normal Suhu tubuh 37,90c Diberi ketamin kucing menjadi lebih tenang

Ketamin HCl Anestesi

Xylazine Antibiotik Anti Nyeri Telofenic acid

Diberi Xylazine dosis pertama tidak ada efek Setelah 45 menit diberi dosis kedua,15 menit kemudian tidak sadar, dilakukan operasi, setelah 5 menit operasi kucing bangun diberi dosis ketiga,5 menit berikutnya sadar kembali diberi dosis ke 4, 10 menit kemudian operasi selesai, kucing sadar pukul 21.00 Mau makan hanya sedikit sekali Tidak minum Tidak urinasi

Kamis

Pemberian pakan sain Antibiotik Oral diet 3 kali sehari Pemberian iodine Penggantian perban Pemberian anti nyeri Pemberian antibiotic Antinyeri Iodine

Kucing Sehat sangat lincah Suhu 38,20C Perban Lepas 2 kali karena digigiti Kotoran normal Makan minum normal Bekas jahitan normal Urinasi normal

peroral 2 kali sehari

Jumaat

Pemberian pakan 3 kali sehari Pemberian Antibiotik Peroral 2 kali sehari Pemberian Iodine Penggantian Perban

Nafsu makan meningkat Minum meningkat Suhu 39,40C Defekasi normal Terjadi radang disekitar jahitan Urinasi normal

Sabtu

Pemberian Pakan 3x sehari Antibiotik peroral 2 kali sehari Pemberian iodine

Suhu 38,20C Defekasi normal Nafsu makan menurun Terjadi radang disekitar luka Urinasi normal

Minggu

Pemberian pakan 2 kali sehari Antibiotik peroral 2 kali sehari Pemberian Iodine Penggantian perban Pemberian Pakan 2 kali sehari Antibiotik peroral Pemberian iodine

Nafsu makan normal suhu 37,90C defekasi normal Terasa sakit saat dipegang perut bagian samping Radang mulai menurun Urinasi normal

Senin

Nafsu makan menurun Hanya minum terus Suhu tubuh 37,80C Terasa sakit pada perut bagian samping Sedikit radang pada luka Kucing kurang aktif Defekasi normal Urinasi normal Nafsu makan menurun Hanya minum terus Suhu 38,20C Temparamen meningkat Sedikit radang pada luka Tidak defekasi

Selasa

Pemberian pakan 2 kali sehari Pemberian iodine Pengantian perban Pemberian pakan lunak w iskas

Rabu

Pemberian Pakan 1 kali sehari

Tidak mau makan Hanya minum terus

Pemberian iodine Penggantian perban Pemberian Antacida 2 kali sehari

Temperamen semakin meningkat Suhu 37,30C Muntah 3 kali Tidak defekasi Radang diujung luka bagian belakang Kucing tidak aktif Tidak defekasi urinasi Kondisi menurun Tidak mau makan Suhu 37,80C Muntah terus Tidak berdefekasi Muntah berisi cairan dan cacing Defekasi darah beserta cacing Luka mulai mengering Kucing sangat lesu Tidak defekasi Urinasi normal

Kamis

Pemberian pakan 1 kali sehari Pemberian iodine Penggantian perban Pemberian Antasida Pemberian infuse Pemberian penambah makan vitamin nafsu

Jumat

Pemberian pakan 1 kali sehari Pemberian iodine

Kondisi meningkat Dapat beraktifitas normal Nafsu makan belum kembali

Penggantian perban Diberi metaclopromide

Suhu 37,90C Muntah cairan dan cacing Defekasi darah dan cacing Luka mongering tidak ada inflamasi Tidak urinasi Tidak defekasi

Sabtu

Meninggal pukul +-04.00

b) Perlakuan Pra Operasi Setelah operasi kucing harus selalu diperiksa dan dipantau agar kondisinya terjamin. Karena perlakuan tersebut juga akan mempengarui kesembuhan luka dan trauma. Setelah operasi pada hari rabu kucing mulai sadar pada pukul 21.00 Wib, untuk mendukung kesembuhannya harus pula diciptakan lingkungan yang kondusif oleh karena itu kami beri lampu penghangat agar kondisinya semakin membaik. Pada hari pertama pasca operasi kucing terlihat sehat dan lincah, untuk menambah nafsu makan kami berikan pakan kualitas baik yaitu sains diet 3 kali sehari, kemudian mengecek luka secara berkala dengan memberikan iodine 3% yang dioleskan pada luka, kemudian mengeringkannya. Iodine ini berfungsi sebagai antiseptik agar tidak ada kontaminasi dari benda asing seperti bakteri dan membantu mempercepat penyembuhan luka, yang perlu diingat adalah pemberian betadine tidak boleh sampai terlalu basah atau lembab karena justru memperlambat penyembuhan luka dan harus dikeringkan menggunakan kasa atau tampon. Kemudian menutup luka dengan tampon atau perban agar saat beraktifitas, luka tidak akan tersentuh atau terkena benda asing. Ada berbagai macam tampon/pembalut luka, setiap tampon memiliki permukaan jaring-jaring yang berbeda-beda. Kemudian merekatkanya dengan plester. Plester luka ini memiliki berbagai macam tipe dan merek diantaranya adalah hypafik, ultrafik, bifafik. Setiap merek tersebut memiliki permukaan yang berbeda-beda ada yang kasar sampai halus. Kami memakai hypafik. Setelah dipastikan luka tertutup kucing harus dipakaikan semacam aju k usus atau sering ise ut se agai grito yang memiliki ujung-ujung yang banyak yang dapat diikatkan ke badannya, ini untuk mencegah kucing menggigiti bekas luka operasi. Ada beberapa kucing yang nakal dan sering menggigiti luka ini dikarenakan gatal, untuk itu sangat diperlukan penggunaan Elizabet Colar untuk mencegah hal tersebut. Penggantian perban harus diganti setiap hari bahkan jika perban lepas harus segera diganti kembali. Selanjutnya untuk menjaga agar tidak terjadi sepsis maka wajib diberikan antibiotik untuk kurun waktu tertentu. Kami menggunakan antibiotik amphicilin peroral dengan dosis 1,76 ml yang diberikan 2 kali sehari selama 5 hari setelah operasi. Saat system imun melemah saat pasca operasi dapat menyebabkan bakteri dan organism lain berkembang meningkatkan patogenesitasnya , antibiotik yang diberikan secara peroral akan diserap kemudian diedarkan oleh darah keseluruh tubuh termasuk ke luka bekas operasi dan mencegah adanya bakteri diarea tersebut maupun diseluruh tubuh. Dalam jumlah banyak

jangka pemakaian yang lama, akan mengakibatkan flora normal dalam tubuh juga akan mati karena antibiotic tersebut dan justru menimbulkan efek bahaya lainnya yaitu dapat menyebabkan sepsis. Pemakaian dalam dalam tempo waktu yang singkat dan jumlah yang tidak terukur juga justru akan menyebabkan bakteri tersebut menjadi resistant terhadap antibiotik tersebut. Oleh karena itu dosis dan lama pemakaian haruslah sesuai. Untuk mencegah terjadi nyeri pasca operasi juga wajib diberikan obat antinyeri atau antiinflamasi seperti asam mefenamat, tolfenamic Acid . Tolfenamic Acid (TA) adalah salah satu dari kelas non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAIDs). Tolfenamic Acid digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. kami memakai tolfenamic acid dengan dosis 0,11 ml. Pemakaian obat ini ditunjukan untuk mengatasi rasa nyeri terhadap luka bekas operasi sehingga kucing tidak menggigiti bekas luka dan mengurangi angka kesakitan yang dia rasakan. Pada kamis hari ke-2 sesudah operasi kucing sudah terlihat sehat tidak ada tanda tanda demam(suhunya 38,2) maupun nyeri, kucing dapat melakukan aktifitas dengan baik, kemudian nafsu makannya sudah pulih, kucing dapat makan dan minum lumayan banyak, kemudian defekasinya lancer seperti biasanya. Untuk jahitan belum ditemukan gejala radang. Pa a jumaat ari ke-3 Keadaan kucing baik, sehat dapat makan minum dengan baik, namun terjadi peningkatan suhu badan (suhunya 38,2), kemudian kucing dapat berdefekasi dengan baik. Perlakuan yang kami berikan di hari ke-2 pasca operasi adalah pemberian antibiotic peroral sebesar 1,8 ml. Antibiotic diberikan menggunakan spuit tanpa jarum dimasukan kemulut bagian samping agar mudah pemberiannya dan tidak tersedak, diberikan 2 kali sehari. Karena kucing mengalami demam maka kami memberikan lampu penghangat di dalam kandangnya. Kemudian penggantian perban masih dilakukan, Pada hari ke-4 atau hari saptu keadaan kucing sudah lebih membaik dari hari sebelumnya, suhu badan normal yaitu 38,20C. Seluruh keadaan fisiologis masih menunjukan tanda-tanda normal dan kucing masih terlihat jinak dan lincah, namun pada hari ke-5 atau hari minggu kucing menjadi temperamen mudah marah jika disentuh anggota badannya terutama pada bagian perut. kemudian nafsu makannya menurun namun cenderung banyak minum. Pada hari ke-5 masih terus dilakukan penggantian perban setiap hari. Pada Hari ke-5 kucing nafsu makan kucing terus menurun namun hanya minum, temperamen meningkat bahkan menggigit jika dipegang bagian perutnya. Jahitan terlihat

sedikit radang dan bengkak, Pada hari ke-6 atau hari selasa kucing tidak mau makan sama sekali suhu badan meningkat sekitar38,20C. karena kucing tidak mau makan kemudian kami belikan whiskas basah agar diharapkan kucing mau makan namun ternyata tetap tidak mau makan. Terpaksa diberi makan secara paksa dengan melarutkan makanan kering kedalam spuit tanpa jarum kemudian memakankannya, dalam sehari kucing mampu menghabiskan 8 spuit,namun Kucing terlihat tidak aktif, dan muntah cairan 3 kali dalam sehari, dan hanya minum terus tanpa ada asupan makanan yang masuk, bekas jahitan terlihat sudah agak kering. Pada hari ke-7 Kucing semakin lemas dan frekuensi muntahnya semakin tinggi kemudian diberikan Antacida karena diduga mengalami masalah penceranaan atau maag, sehingga antacida diharapkan dapat mengurangi asam lambung yang berlebih karena antacid kandungannya adalah basa. Antacida diberikan 2 kali sehari sebanyak 1 ml setiap pemberian. Dihari ke-7 pasca operasi ini kucing tidak berdefekasi. Kemudian bekas jahitan telah kering sepenuhnya. Namun temperamen kucing tetap tinggi. Dan terus muntah. Pada hari ke-8 atau hari kamis kucing tetap tidak mau makan, dan jika diberi paksa akan muntah, karena tidak memungkinkan pemberian asupan nutrisi secara peroral maka diberi infus. Setelah diberi infuse kemudian diberikan tidankan supportif berupa pemberian vitamin penambah nafsu makan. Kemudian makanannya diganti kembali dengan Recovery agar diharapkan lebih merangsang kucing untuk makan, namun cara ini tetap tidak berhasil. Lalu pada siang hari kucing muntah lagi berisi ciran dan cacing-cacing yang banyak, disertai diare darah. Cacing yang keluar menunjukan morfologi sebagai cacing diplidium caninum Ini menunjukan kucing mengalami infestasi cacing berat. Pada hari kamis ini luka jaitan sudah sembuh.

Gambar 1. Cacing pita atau diplidium caninum

Pada hari jumat atau hari ke-9 kucing di infuse kembali dan menghabiskan 1 botol infuse. Pada hari jumat ini kucing tampak lebih sehat dan dapat beraktifitas normal, dan menunjukan gejala membaik. Frekuensi muntah juga semakin berkurang. Kemudian diberikan metaclopromide untuk mengurangi penyebab gejala (causative) yaitu infestasi cacing. Dan diberikan secara IM dengan dosis 1,5 ml.

Gambar 2. Metoclopramide Pada hari ke-10 atau pada hari Sabtu kucing sudah meninggal dunia, diperkirakan mati pada pukul 2 sampai 3 dini hari . Kematian kucing dikarenakan infestasi cacing yang kronis dan menganggu pencernaan sehingga menghilangkan nafsu makan kucing. Kemudia cacing ini telah banyak menyerap sari makanan dan darah kucing, menjadikannya semakin lemah, dan pada puncaknya kucing tidak dapat bertahan c. Foto keadaan kucing pasca operasi

DAFTAR PUSTAKA Adams HR. 2001. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. 8th. Lowa State Press. United States of America. Bishop YM. 1996. The Veterinary Formulary. 3rdED.The Pharmaceutical Press. London. Booth NH, Meyer JL, Donald LEM. 1997. Veterinary Pharmacology. The lowa State University Press. USA. Forsyth S. 1995. Administration of low dose tiletamine-zolazepam combination to cats. NZ Vet J.43(3): 101-3. Fossum TW. 1997. Smal Animal Surgery. Mosby Year Book. USA Frecknell PA. 1987. Laboratory Animal Anaesthesia, an Introduction for research Workers and Technicians Academic Press. Inc. San Diego. Gorda IW, Wardhita GY, Dharmayudha GO. 2010. Perbandingan efek pemberian anestesi xylazin-ketamin hidroklorida dengan anestesi tiletamin-zolazepam terhadap capillary refill time (CRT) dan warna selaput lendir pada anjing. Bul Vet Udayana. 1(2): 21-27. Jones LM, Booth NH, Donald LEM. 1998. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. 3thED. The lowa State University Press. Kul M, Koc Y, Alkan F, Ogurtan Z. 2001. The Effects of Xylazine-Ketamine and DiazepamKetamin on Arterial Blood Pressure and Blood Gases in Dog. OJVR 4(2):124-132. Pathak SC, Migan JM, Peshin PK, Singh AP. 1982. Anasthetic and Hemodynamic Effecs of Ketamin in Buffalo Calves. Am.J.Vet 5(43):875-877. Sulistia G. 1987. Farmakologi dan Terapi. Edisi.3. Bagian Farmakologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.