Anda di halaman 1dari 8

KEMBALI KE JATI DIRI UNTUK MENEGAKKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

Oleh : Afifi Fauzi Abbas

آ و ا رو م ا

ا و

آا ا

x3 آا ا – آا ا – آا اا

، او ، و ، و ق ى ا ا

. و با ا م هو . ة ا بر ا ا ا نا ا . ا ل ﺱر ا ﻡ نا او , ا ﺱو ا ا ﺱو ا . او ﻡو و ا و ا د ، ﻡا .ن ا ز ا ى ى یاو وا

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah. Allahu Akbar 3 x Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Agung, Penjaga alam semesta, Pengayom bagi seluruh makhluk di jagad raya ini, kita mohonkan ampunan dari-Nya, kiranya kita segera dijauhkan dari musibah dan marabahaya, kita dijauhkan dari perpecahan dan sikap permusuhan dan saling curiga karena perbedaan visi dan sikap politik. Kita bersyukur kepada Allah karena berkat lindungan dan inayah-Nya kita masih dapat hadir di tempat ini dalam rangka mengagungkan asma-Nya, menunaikan perintah-Nya, melaksanakan shalat Idul Fitri tahun 1426 H . Kita mohonkan kepada Allah, kiranya salawat serta salam tidak henti- hentinya dicurahkan kepada nabi kita Muhammad SAW yang telah memberikan

di

Gadang VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kab.50 Kota Sumbar

Khutbah Idul Fitri1426Hijriyah yang disampaikan

Masjid Raya Ampang

arahan dan petunjuk kepada kita umatnya, agar kita selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang lempang, jalan keselamatan, shirathal mustaqim, sehingga dapat mengantarkan kita kepada kehidupan yang menyenangkan dan penuh kenikmatan tidak hanya di dunia ini tapi juga di akhirat kelak. Insya Allah. Ma’asyiral muslimin yang berbahagia ! Sejak tadi malam kumandang takbir terdengar dimana-mana, riuhnya bagaikan memenuhi rongga-rongga kehidupan kita, menggetarkan dan menggugah hati sanu bari setiap orang beriman. Ia menembus rongga-rongga langit, naik terus tanpa henti, bersahut-sahutan dari mulut setiap muslim, tak peduli apakah ia sudah tua ataupun mereka masih muda, apakah ia orang kaya ataupun mereka orang papa, apakah ia dalam keadaan gembira ataupun berduka, dimanapun mereka berada, di masjid ataupun di lapangan terbuka . Seluruhnya bertakbir, tunduk dan tafakkur dengan setulus hati kepada Allah SWT. sebagai puncak pengakuan tauhid yang mendalam, bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Besar, hanya Allah-lah Yang Maha Agung, tiada tuhan kecuali Dia. Reformasi telah mengantarkan kita menjadi orang bebas, bebas dari rasa takut, bebas dari intimidasi, bebas melakukan ekspressi, bebas menyampaikan dan menyalurkan aspirasi sesuai dengan yang kita kehendaki. Akan tetapi ada ironi di balik kebebasan yang kita peroleh pada masa sekarang ini. Ada kesan dan kecendrungan yang kuat dan mendalam bahwa kita masyarakat Indonesia telah memiliki terlalu banyak kebebasan (to much freedom), yang pada gilirannya kita rasakan telah menimbulkan berbagai ekses/akibat. Jika demokrasi adalah dambaan kita semua, tetapi “to much democrasy” telah memunculkan fenomena “demo-crazy”, kebebasan yang kebablasan, demo yang gila-gilaan, apa saja didemo oleh masyarakat, pejabat korup didemo, kenaikan BBM didemo, tidak mendapatkan jatah beras murah didemo, tidak kebagain kartu sehat didemo, bahkan tidak dapat surat keterangan miskin supaya dapat subsidipun didemo,sehingga ia telah menambah akumulasi disorientasi dan dislokasi sosial budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan kehidupan beragama kita. Kini atas nama kebebasan dan demokrasi, kita sering melihat berbagai kelompok dalam masyarakat melakukan fait a compli (peta kompli) terhadap perorangan dan bahkan lembaga, baik itu lembaga politik, lembaga ekonomi, lembaga sosial dan bahkan lembaga keagamaan. Yang menakutkan kita adalah “fait a compli” itu sering dilakukan dengan cara-cara intimidatif, arogan dan

bahkan dengan kekerasan. Kebebasan seperti ini ternyata justru telah mengancam kebebasan itu sendiri, kebebasan yang kebablasan dapat menelan kebebasan yang yang sedang diperjuangkan. Atasnama kebebasan, misalnya kebebasan berfikir (berijtihad), dengan arogansi intelektualnya sekelompok intelektual muda Islam (baik dari kalangan Muhammadiyah maupun dari kalangan NU), beranggapan bahwa perbedaan agama tidak dapat dijadikan sebagai penghalang (mani’) bagi dilangsungkannya suatu perkawinan. Mahar perkawinan bukanlah hanya kewajiban suami dan hak istri, akan tetapi adalah hak dan kewajiban timbal balik antara keduanya. Anak luar nikah nasabnya tidak hanya dapat dinisbahkan kepada ibunya tapi juga kepada laki-laki yang menghamili ibunya. Masa iddah bukan hanya milik istri akan tetapi juga milik suami, dan masih banyak contoh lainnya. Dengan alasan kebeban ijtihad tersebut, apa yang telah menjadi aturan dan padangan Islam secara umum dianggap bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi, pluralisme, dan kesetaraan jender. Dalam pandangan mereka ayat al-Quran itu tidak ada yang qath’I, semuanya dhanny, semuanya relatif, sama kedudukannya dengan informasi lainnya, hanya sebagai wacana, yang sekali waktu dapat digunakan dan sekali waktru juga dapat diabaikan. Na’uzubillahi. Euforia kebebasan, dengan demikian telah menggiring kalangan masyarakat kita ke arah sejarah kelam baik pada tingkat wacana maupun pada tingkat empiris. Secara kasat mata ekpresinya dapat kita lihat dalam berbagai bentuk dan tindakan aksi demo, yang bukan tidak sering sangat anarkis dan vulgar, dari sudut pandang manapun kita melihatnya; apakah dari sudut pandang kemanusiaan, sudut pandang agama, sudut pandang hukum, etika dan moral, budaya dan adat istiadat sekalipun. Dari sudut manapun kita melihatnya sangat sulit bahkan tidak mungkin kita menemukan alasan terhadap berbagai bentuk aksi dan tindakan demo tersebut. Itulah kenyataan yang sedang kita hadapi, dibayang-bayangi oleh rasa keterhimpitan ekonomi, kenestapaan karena musibah demi musibah dan cobaan yang diberikan Allah sepertinya tiada henti, dalam ketidak berdayaan dan frustasi, dan perasaan terbelenggu dan tidak memiliki kebebasan yang dialami masa lalu, ia telah berbaur, berjalin berkelindan dengan dislokasi dan disorientasi sosial yang meningkat akibat krisis multi dimensi yang menimpa bangsa kita, kadang masyarakat telah kehilangan kemanusiaannya. Masyarakat sangat

mudah kalap dan mengamuk ketika mereka menemukan orang-orang yang tertangkap basah melakukan tindakan kriminal, memang tidak masuk akal, teganya masyarakat kita yang mengaku masyarakat yang berbudaya dan beragama dan mayoritas muslim membakar hidup-hidup saudaranya sendiri hanya karena tetangkap basah melakukan pencurian. Na’uzubillah. Allahu Akbar 3x La Ilaha illa Allah, Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd Ma’asyiral muslimin rahima kumullah. Akankah peristiwa demi peristiwa yang telah dikemukakan di atas akan kita biarkan berkembang begitu saja, ataukah kita perlu melakukan perlawanan, agar kita tidak terjerembab pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Marilah kita melakukan perenungan, melakukan refleksi teologis dengan menggunakan momentum Idul Fitri ini, dengan kembali ke jati diri kita sebagai orang Minang, kembali kepada fitrah kemanusiaan kita : yaitu sebagai orang yang beragama dan orang yang beradat. Kembali kepada jati diri orang Minang itu artinya, bagaimana kita sebagai orang Minang mampu mengintegrasikan antara nilai-nilai sosial, nilai budaya, agama dan adat Minangkabau secara sinergis dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Untuk itu semua seluruh anak nagari haruslah bahu membahu berusaha secara maksimal dengan melakukan berbagai aktifitas, terutama dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang mampu menyongsong dan mengahadapi milenium III yang ditandai dengan persaingan yang ketat, transparansi dan globalisasi. Masa datang adalah abad persaingan, siapa yang tidak mampu bersaing maka dengan sendirinya akan terpinggirkan. Untuk dapat bertahan dan memenangkan persaingan tidak ada jalan lain kecuali dengan keunggulan. Hanya dengan kompetensi keunggulan kita dapat memamsuki abad persaingan dengan aman, agar kita bisa bertahan dan memenangkan persaingan. Keunggulan yang dimaksud tentu saja dalam berbagai dimensi kemanusiaan kita, dimana kita manusia ini terdiri dari unsur jasmani dan rohani serta akal pikiran. Manusia yang unggul dalam perspektif Islam adalah seperti yang disinyalir oleh al-Quran dengan sebutan ulul albab atau al-insan al-kamil. Yaitu manusia paripurna, cerdas dan brillian, yang indikatornya minimal : antara jasmani dan rohaninya, antara pikiran dan perasaannya, dan antara urusan

duniawi dan urusan ukhrawinya tumbuh dan berkembang secara serasi dan seimbang. Pada diri mereka berpadu antara zikir dan fikir, rohaninya mengalami pencerahan karena sangat tekunnya ia berzikir kepada Allah, akalnya mengalami pencerahan karena kuatnya ia mencermati fenomena alam dan masyarakat. Artinya mereka adalah orang-orang yang selalu berupaya secara amaksimal melakukan pendalaman terhadap ayat-ayat Allah. Problematikanya adalah, bahwa adat Minang yang telah diwarisi secara turun temurun itu, saat ini terkesan telah dilupakan oleh sebahagian masyarakat

kita, baik yang di kampung maupun yang dirantau, yang mengakibatkan dirasakannya sekarang ini seolah-olah orang Minang telah kehilangan jati dirinya sebagai orang Minang terutama di kalangan generasi mudanya. Akibat yang ditimbulkan oleh situasi seperti itu adalah bergesernya nilai- nilai luhur dari dat tersebut, sehingga generasi mudanya hanya mengenal adat Minang sebatas upacara seremonial saja. Hal ini lebih jauh mengakibatkan langkanya pemangku adat “yang mumpuni”, tenggelamnya kaum cerdik pandai, terbatasnya alim ulama yang memiliki pengetahuan adat yang memadai. Kehilangan jati diri sebagai orang Minang terutama bagi tokoh dan intelektual yang berasal dari Minang, akan mengakibatkan kemunduran martabat dan identitas yang pernah dikagumi oleh banyak daerah dan masyarakat daerah lain. “Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik” Terlalu banyak tokoh Minang masa lalu jika disebutkan satu persatu, dan sungguh sangat sedikit dan memprihatinkan bila dibandingkan dengan tokoh intelektual Minang masa kini. Jika dipertanyakan apa jawaban yang dapat diberikan ? Jika kita merujuk ke sinyal yang pernah diberikan oleh adat Minang, sekurang-kurangnya ada empat faktor yang mendukung lahirnya manusia baik, cerdik, tenar dan brilian, yaitu :

1. Pemilihan jodoh yang selektif,

2. Faktor adat yang melekat,

3. Faktor kepemimpinan masa lalu, dan

4. Ajaran agama yang dijalankannya

Maasyiral muslimin rahima kumullah.

Telah menjadi ketentuan adat, bahwa untuk mendapatkan keturunan yang baik, haruslah dengan menyeleksi jodoh anak kemenakan perempuan, “ di indang di tampi tareh, dipiliah atah ciek-ciek, ma awai sahabih raso, mangauk sahabiah gaung, dipakai usuo jo pareso, usuo dimainkan cabua dibuang, dicaliak tuah ka nan manang, dicalik contoh ka nan sudah, gadang aia dicalik ka hulunyo, gadang kayu dicalaik ka pangkanyo, calaik anak pandang minantu, duduk samo randah tagak samo tinggi”. Kecendrungan masyarakat awak saat ini dalam memilih menantu adalah, apa titelnya, dimana ia bekerja, berapa gajinya. “dahulu rabab nan batangakai, kini langgundi nan ba bungo, dahulu adat nan dipakai, kini piti nan baharago’. Adat Minang sebagai bagian dari kebudayaan nasional mempunyai ciri khas dalam prinsip, sistem dan ajarannya. Adat Minang diwarisi secara turun temurun, bukan merupakan pengetahuan yang telah dikodifikasikan sebagai layaknya ilmu pengetahuan, akan tetapi diwariskan dalam bentuk budaya tutur dari mulut ke mulut, berupa pepatah, petitih, bidal, mamang, dan gurindam. Implementasinya dicontohkan dalam bentuk prilaku sehari-hari dalam kehidupan berkeluarga oleh ayah, ibu, mamak, datuak, angku dan nenek dalam bakorong bakampuang, seanak sekemenakan, selarang sepantangan dalam kehidupan banagari. Adat yang khas yang melekat pada diri seorang laki-laki Minang adalah melekatnya dwifungsi kepemimpinan. Ibarat pisau bermata dua, dia adalah Bapak darianak-anaknya, dan Mamak dari kemenakan-kemenkanya dalam kaumnya. Kedua fungsi kepemimpinan itu melekat pada diri setiap laki-laki Minang yang dewasa tanpa kecuali, apakah ia seorang ulama, seorang intelektual ataupun sebagai seorang pemangku adat ataupun masyarakat kebanyakan sekalipun.Kedua fungsi tersebut harus dapat berjalan secara serasi dan seimbang dalam kepemimpinannya. Anak dipangku dengan mata pencaharian, kemenakan dibimbing dengan pusako secara persuasif dan edukatif. Karena ada dua kepemimpoinan yang penuh keserasian dan kebersamaan memangku dan membimbing kemenakannya, hal ini merupakan faktor penunjang kecerdasan generasi masa lampau. Faktor dominan yang menunjang jadinya generasi masa lampau tersebut, cerdas dan brilian prestasinya adalah karena faktor ajaraan agama Islam yang begitu kental dalam dirinya. Akidah mereka tidak dapat ditawar, mereka begitu istriqamah, ibadahnya sangat tertib.

Jika kesemua hal tersebut dihadapkan pada generasi muda Minang masa kini “ jauh panggang dari api”, meskipun rata-rata mereka berpendidikan cukup memadai. Akan tetapi keempat faktor penunjang tersebut tidak lagi dihayati, apalagi dipraktekan dalam kehdupan sehari-hari masyarakat awak. Memang adat Minang telah mengingatkan masyarakatnya dalam sebuah pepatah “ Pariangan manjadi tampuak tangkai, Pagaruyung pusek Tanah Data, tigo Luhak urang mangataokan, Adat jo Syarak kok bacarai, tampek bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban” Allahu akbar 3x La Ilaha illallahu wallahu Akbar, Allahu akbar walillahilhamdMaasyiral muslimin rahima kumullah. Apa yang telah kami kemukakan di atas setidak-tidak memberikan isyarat kepada kita semua, bahwa jalan keluar dari permasalah yang dihadapi tiada lain adalah bahwa awak urang Minang harus tetap konsisten dengan “ pusako adat Minang yaitu : adat basandi syarak, syaral basandi kitabullah, syarak mangatao adat mamakai” Agar jati diri urang Minang “ indak hanyuik dibao aia dan indak hilang dibao angin”, jalan satu-satunya dan tidak ada pilihan lain adalah upaya pengintegarasaian agama dan adat harus dilakukan secara sungguh-sungguh, terencana dan terukur. Semua unsur dan semua pihak dan semua anak nagari harus bersatu padu, seayun selangkah, memikirkan, merencanakan dan mengupayakan agar integrasi tersebut berjalan dengan baik dan benar agar awak uarang Minang tidak kehialngan jati dirinya. Untuk itu mari kita tingkatkan cara berislam kita, kita perluas wawasan agama kita, kita arahkan pandangan sosial kita ke arah yang lebih positif untuk kemajuan masa depan. Mari kita bangun bersama-sama lehidupan dan peradaban masyarakat yang lebih beradab, dengan menggunakan metoda- metoda yang jauh lebih etis dan bermoral. Kita tingkatkan dan kembangkan kemanusiaan kita meski ia menuntut banyak pengorbanan. Terakhir, melalui mimbar ini kami mengajak seluruh kaum muslimin, untuk senantiasa tanpa hentinya , berupaya mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus meningkatkan kadar tauhid kita. Hanya Allah-lah yang paling mengetahui tentang segala peristiwa dan rahasia dari satu peristiwa, dan Dia pulalah yang paling bijak untuk menilai semuanya. Kepada-Nyalah kita memohon ampun dan kepada-Nyalah kita berserah diri. Allahu Akbar 3x Maasyiral muslimin rahima kumullah.

Sebagai penutup khutbah ini mari kita bermunajat kepada Allah kiranya bangsa ini dijaga oleh Allah dari segala malapetaka, dijauhkan dari segala musibah dan dipelihara-Nya dari segala kebangkrutan.

ب ه ا ا ا ر هو ی ه ذا غ ّر آ ا ا و ّر ا وا نا ا ّر ا راو او او ّ و ّر ی ا ّو ﻡو ّ أ ا ّا . ی ا م ا ى ّر . ا ا را ی و او . ر ﻡا ا و ﺱر و ر .را ا ّ و ّﺱ ّ ّآو ذ ة ا و ا ر . د ا ا ا م ی ا با و

. ا و آا ا – آا او ا ا ا آا ا – آا ا - آا ا . آ و ا رو م ــ او