Anda di halaman 1dari 4

www.afififauziabbas.tanjabok.com (www.afa.tanjabok.

com)

MAKNA HIJRAH BAGI KEHIDUPAN

Oleh : Afifi Fauzi Abbas

Sidang Jum'at yang berbahagia.


Tiada ucapan yang layak untuk kita sanjungkan kepada Allah, kecuali rasa
syukur kita yang amat dalam atas segala nikmat dan karunia yang diberikan oleh
Allah kepada kita, sehingga kita masih diberi-Nya kesempatan untuk
menikmati hidup dan kehidupan di tahun baru ini, tahun 1417 Hijriah. Semoga
dalam menapaki hidup dan kehidupan ini Allah ta'ala akan selalu memberikan
kekuatan dan ketabahan kepada kita sehingga kita dapat memperoleh rida-Nya.
Hari ini adalah Jum'at pertama dari bulan Muharram 1417 Hijriah, hari
yang teramat mulia (sayyidul ayyam), ada baiknya kita melakukan
perenungan kembali tentang apa yang telah kita lakukan selama kita
menempuh kehidupan ini. Ada baiknya kita mengevaluasi sudah seberapa
banyak amal yang telah kita lakukan untuk bekal kehidupan kita di akhirat
kelak. Mari kita coba membuat perhitungan sebelum Allah sendiri nanti yang
menghitungnya di Yaumul Hisab.
Rasulullah pernah bersabda :
, &'(‫  )ر& () ا‬:
‫ول م  م ا    ار‬# $
+)0 ‫ و‬, , +-‫ و() اﻥ‬+‫ ا اآ‬+ ‫ و‬, ,+
)  +), ‫و‬
Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat
kelak, sehingga ia dapat mempertanggung jawabkan empat hal : pertama :
tentang umur-nya, untuk apa dihabiskan, kedua : tentang ilmunya, apa yang
telah dia sumbangsihkan (dihasilkannya), ketiga : tentang hartanya, bagaimana
ia memper-olehnya dan untuk apa saja ia pergunakan, dan keempat : fisiknya
(jasmaninya), dalam hal apa ia kurbankan.
Jama'ah Jum'at yang berbahagia.
Sabda Rasulullah tersebut di atas memberikan petunjuk kepada kita,
untuk mengisi hidup dan kehidupan ini, maka segala potensi yang kita miliki
haruslah kita daya gunakan semaksimal mungkin ke arah hal-hal yang positif
sehingga menjadi amal saleh, yang Allah rida dengannya dan juga

Halaman | 1
www.afififauziabbas.tanjabok.com (www.afa.tanjabok.com)

memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan masyarakat,


termasuk untuk dirinya sendiri. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang
mampu memberikan nilai tambah atau memberikan manfaat buat orang lain (
(‫ 'س‬456-‫ ا'س  اﻥ‬78 . Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang
pasti mempunyai motivasi atau niat. Hal ini pernah ditegaskan oleh Rasulullah,
ketika seorang sahabatnya ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau
berkata : setiap pekerjaan haruslah di dahului dengan niat, maka siapa saja
yang hijrah didorong oleh niat semata-mata karena Allah, hijrahnya akan dinilai
demikian. Akan tetapi siapa saja yang niatnya hanya didorong oleh keinginan
mendapatkan keuntungan duniawi atau karena ingin mengawini seseorang,
maka hijrahnya juga dinilai sesuai dengan tujuan tersebut.
Ketika Nabi berhijrah bersama-sama sahabatnya, motivasi utama yang
memicu dan mendorong mereka adalah karena ingin memperoleh ridla Allah.
Menjelang hijrah kaum muslimin berada pada posisi yang lemah dan
teraniaya, namun karena keyakinan yang amat dalam bahwa Allah akan
menolong dan membantu mereka, maka tak pernah sirna dalam sanubari
mereka bahwa pertolongan Allah pasti akan datang, dan mareka pasti akan
memperoleh kemenangan. Hal ini disebabkan oleh karena tebalnya iman yang
mereka miliki. Berhijrah bagi mereka adalah sama halnya dengan berpindah
dari suatu keadaan kepada keadaan yang lebih baik. Masa depan yang
gemilang terbayang-bayang di rongga mata, kehidupan yang lebih baik, damai
dan sejahtera telah menunggu mereka.
Jadi hijrah tersebut dapat kita maknai dengan "berpindah dari suatu
keadaan/situasi kepada keadaan/situasi yang lebih baik, situasi yang lebih
menguntungkan, situasi yang lebih kondusif untuk memaksimalisir
pendayagunaan segala potensi diri yang kita miliki, mendayagunakan umur
yang masih tersisa, mendayagunakan harta yang kita miliki, mendayagunakan
ilmu serta ketrampilan yang kita kuasai, sehingga hidup dan kehidupan kita
lebih bermakna dari hari-hari sebelumnya".
Allah berfirman :
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah
baik dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah,
dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Sidang Jum'at yang berbahagia.

Halaman | 2
www.afififauziabbas.tanjabok.com (www.afa.tanjabok.com)

Hijrah Rasulullah saw. telah berlalu empat belas abad yang lalu, namun
dari hijrah dan celah-celah peristiwanya, banyak sekali pelajaran yang dapat
kita petik, beberapa diantaranya adalah:
Ketika Rasulullah menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa Allah swt
memerintahkannya untuk berhijrah, dan sekaligus Rasulullah mengajak
sahabatnya itu untuk berhijrah bersama, Abu Bakar menangis karena
kegirangan. Ia bergegas untuk membeli dua ekor unta dan menyerahkannya
kepada Rasulullah untuk memilih yang disukainya. Terjadilah dialog antara
keduanya : Kata Abu Bakar : aku tidak akan mengendarai unta yang bukan
milikku, unta ini kuserahkan untukmu. Jawab Rasulullah, baiklah, tapi aku akan
membayar harganya. Abu Bakar tetap menginginkan agar Rasulullah mau
menerima unta pemberiannya itu sebagai hadiah, namun nabi tetap
menolaknya, akhirnya Abu Bakar menyetujui sikap dan pendirian nabi. Tentu
timbul pertanyaan, mengapa nabi tetap ngotot untuk membelinya, bukankan
Abu Bakar adalah sahabat beliau, dan bukankah nabi sebelum, bahkan
sesudahnya sering menerima hadiah dan pemberian dari Abu Bakar? Disini
terdapat suatu pelajaran yang sangat berharga.
Rasulullah saw. ingin mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai
suatu usaha besar, dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang.
Beliau bermaksud berhijrah dengan segala daya dan potensi yang dimilikinya,
tenaga, pikiran dan materi bahkan dengan jiwa dan raga beliau. Dengan
membayar harga unta itu nabi mengajarkan kepada Abu Bakar dan kepada kita
bahwa dalam mengabdi kepada Allah, janganlah mengabaikan segala
kemampuan dan potensi yang kita miliki. Allah mengingatkan Sesungguhnya
kepada Tuhanlah tempat kembali (QS 96: 8).
Kaum muslimin sidang Jum'at yang berbahagia.
Peristiwa lain yang menarik dari hijrah Rasulullah adalah, ketika beliau
akan beranghkat ke Madinah beliau memesan keponakannya Ali bin Abi Thalib
agar tidur di tempat pembaringan beliau, dan berselimut dengan selimut
beliau. Hal demikian beliau lakukan adalah untuk mengelabui kaum musyrik
Makkah. Ali pada hakikatnya mempertaruhkan jiwa raganya demi membela
agama Allah. Disini sekali lagi kita hendak memetik pelajaran dari peristiwa ini,
apa sebenarnya arti hidup ini menurut pandangan agama ?

Halaman | 3
www.afififauziabbas.tanjabok.com (www.afa.tanjabok.com)

Hidup bukanlah hanya sekedar menarik dan menghembuskan nafas.


Sebab Al-Quran memberikan i'tibar kepada kita. Ada orang-orang yang
terkubur, tetapi Al-Quran menyebutnya orang yang hidup dan mendapat rezeki
( ‫ز ن‬7 45
‫ا ( ﺱ ا@ ااﺕ
 اء ' ر‬, B‫ ا‬C‫ ﺕ‬$‫) و‬
QS 3 : 169. Demikian juga sebaliknya, ada orang-orang yang menarik dan
menghembuskan nafasnya, namun dianggap sebagai orang-orang mati
(‫ات‬$‫ ا‬$‫ء و‬$‫ ) و ى‬QS 35:22.
Hidup dalam pandangan agama adalah kesinambungan antara dunia dan
akhirat dalam keadaan berbahagia, kesinambungan yang melampaui usia dunia
ini. Sehingga dengan demikian, tiadalah akan bermakna hidup seseorang
manakala ia tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban-kewajiban yang
lebih besar dan yang melebihi kewajiban-kewajibannya hari ini. Setiap orang
beriman wajib mempercayai dan menyadari bahwa di samping wujudnya masa
kini, masih ada lagi wujud yang lebih kekal dan dapat menjadi lebih jauh dan
lebih indah daripada kehidupan dunia ini.
Firman Allah swt.
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka
dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di
dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka
mengetahui.
. Oleh sebab itu marilah segala potensi dan kemampuan yang kita miliki
kita dayagunakan semaksimal mungkin, agar hidup dan kehidupan kita akan
lebih bermakna, dan kita di akhirat kelak akan beroleh kebahagiaan yang lebih
hakiki, dan lebih permanen. Kita berdoa kepada Allah kiranya Allah akan
memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap beramal dan mengabdi kepada-
Nya, sehingga kita akan memperoleh Rida-Nya.

Halaman | 4