Anda di halaman 1dari 14

A.

Pengertian Epilepsi yang sukar untuk mengendalikan secara medis atau pharmacoresistant, sebab mayoritas pasien dengan epilepsi adalah bersifat menentang, kebanyakan yang sering terserang terlebih dahulu yaitu bagian kepala. Obat yang bias menenangkan antiepileptik yang standar. Berkaitan dengan biomolekular basis kompleksnya. Sakit kepala yang menyerang sukar sekali untuk diperlakukan secara pharmakologis, walaupun obat antiepileptic sudah secara optimal diberikan,sekitar 30-40% tentang penderita epilepsi yang terjangkit, biasanya pasien melakukan operasi pembedahan untuk menghilangkan rasa sakit sementara. Akan tetapi gejala epilepsi akan timbul sesekali, karena epilepsi sukar untuk dihilangkan rasa sakit kepala yang menyerang. B. Faktor Resiko Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan bayi yang baru lahir. Angka kejadian epilepsi pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita, yaitu 1-3% penduduk akan menderita epilepsi seumur hidup. Di Amerika Serikat, satu di antara 100 populasi (1%) penduduk terserang epilepsi, dan kurang lebih 2,5 juta di antaranya telah menjalani pengobatan pada lima tahun terakhir. Menurut World Health Organization (WHO) sekira 50 juta penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsi (2004 Epilepsy.com). C. Epidemiologi Pada dasarnya setiap orang dapat mengalami epilepsi. Setiap orang memiliki otak dengan ambang bangkitan masing-masing apakah lebih tahan atau kurang tahan terhadap munculnya bangkitan. Selain itu penyebab epilepsi cukup beragam: cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, infestasi parasit, tumor otak.Epilepsi dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan, umur berapa saja, dan ras apa saja. Jumlah penderita epilepsi meliputi 12% dari populasi. Secara umum diperoleh gambaran bahwa insidensi epilepsi menunjukan pola bimodal: puncak insidensi terdapat pada golongan anak dan usia lanjut. D. Etiologi Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama, ialah epilepsi idopatik, remote symptomatic epilepsy (RSE), epilepsi simtomatik akut, dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan prognosis yang baik dan yang buruk. Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit neurologik yang jelas. Sementara itu, dipandang dari kemungkinan terjadinya bangkitan ulang pasca-awitan. Definisi neurologik dalam kaitannya dengan umur saat awitan mempunyai nilai prediksi sebagai berikut: Apabila pada saat lahir telah terjadi defisit neurologik maka dalam waktu 12 bulan pertama seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang, Apabila defisit neurologik terjadi pada saat pascalahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang adalah 75% pada 12 bulan pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama. Kecuali itu,

bangkitan pertama yang terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan mempunyai resiko 40% dalam 12 bulan pertama dan 36 bulan pertama untuk terjadinya bangkitan ulang. Secara keseluruhan resiko untuk terjadinya bangkitan ulang tidak konstan. Sebagian besar kasus menunjukan bangkitan ulang dalam waktu 6 bulan pertama. Epilepsi dapat dibagi dalam tiga golongan utama antara lain: Epilepsi Grand Mal Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang berlebihan dari neuron diseluruh area otak-di korteks, di bagian dalam serebrum, dan bahkan di batang otak dan talamus. Kejang grand mal berlangsung selama 3 atau 4 menit. Epilepsi Petit Mal Epilepsi ini biasanya ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau penurunan kesadaran selama 3 sampai 30 detik, di mana selama waktu serangan ini penderita merasakan beberapa kontraksi otot seperti sentakan (twitch- like),biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan mata. Epilepsi Fokal Epilepsi fokal dapat melibatkan hampir setiap bagian otak, baik regional setempat pada korteks serebri atau struktur-struktur yang lebih dalam pada serebrum dan batang otak. Epilepsi fokal disebabkan oleh lesi organik setempat atau adanya kelainan fungsional. E. Patogenesis Sistem saraf merupakan communication network (jaringan komunikasi). Otak berkomunikasi dengan organ-organ tubuh yang lain melalui sel-sel saraf (neuron). Pada kondisi normal, impuls saraf dari otak secara elektrik akan dibawa neurotransmitter seperti GABA (gammaaminobutiric acid) dan glutamat melalui sel-sel saraf (neuron) ke organ-organ tubuh yang lain. Faktor-faktor penyebab epilepsi di atas menggangu sistem ini, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan aliran listrik pada sel saraf dan menimbulkan kejang yang merupakan salah satu ciri epilepsi. Faktor mencetus epilepsi : Tekanan, Kurang tidur atau rehat, Sensitif pada cahaya yang terang (photo sensitive),dan Minum minuman keras. F. Diagnosis Evaluasi penderita dengan gejala yang bersifat paroksismal, terutama dengan faktor penyebab yang tidak diketahui, memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus untuk dapat menggali dan menemukan data yang relevan. Diagnosis epilepsi didasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan klinik dikombinasikan dengan hasil pemeriksaan EEG dan radiologis.penderita atau orang tuanya perlu diminta keterangannya tentang riwayat adanya epilepsi dikeluarganya. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa pemeriksaan antara lain:

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan ini menapis sebab-sebab terjadinya bangkitan dengan menggunakan umur dan riwayat penyakit sebagai pegangan. Pada usia lanjut auskultasi didaerah leher penting untuk menditeksi penyakit vaskular. Pada anak-anak, dilihat dari pertumbuhan yang lambat, adenoma sebasea (tuberous sclerosis), dan organomegali (srorage disease). Elektro-ensefalograf Pada epilepsi pola EEG dapat membantu untuk menentukan jenis dan lokasi bangkitan. Gelombang epileptiform berasal dari cetusan paroksismal yang bersumber pada sekelompok neuron yang mengalami depolarisasi secara sinkron. Gambaran epileptiform anatarcetusan yang terekam EEG muncul dan berhenti secara mendadak, sering kali dengan morfologi yang khas. Pemeriksaan pencitraan otak MRI bertujuan untuk melihat struktur otak dan melengkapi data EEG. Yang bermanfaat untuk membandingkan hipokampus kanan dan kiri. Disamping itu juga dapat mengidentifikasi kelainan pertumbuhan otak, tumor yang berukuran kecil, malformasi vaskular tertentu, dan penyakit demielinisasi. Diagnosis Banding Kejadian paroksismal Diagnosis banding untuk kejadian yang bersifat paroksismal meliputi sinkrop, migren, TIA(TransientIschaemic Attack),paralisis periodik,gangguan gastrointestinal, gangguan gerak dan breath holding spells. Diagnosis ini bersifat mendasar. Epilepsi parsial sederhana Diagnosis ini meliputi TIA, migren, hiperventilasi, tics, mioklonus, dan spasmus hemifasialis. TIA dapat muncul dengan gejala sensorik yang dibedakan dengan epilepsi parsial sederhana. Keduanya paroksimal, bangkitan dapat berupa kehilangan pandangan sejenak, dan mengalami penderita lanjut usia. Epilepsi parsial kompleks Diagnosis banding ini berkaitan dengan tingkat kehilangan kesadaran, mulai daridrop attacks sampai dengan pola prilaku yang rumit.secara umum diagnosis ini meliputi sinkrop, migren, gangguan tidur, bangkitan non epileptik, narkolepsi, gangguan metabolik dan transient global amnesia. G. Penatalaksanaan Setelah diagnosa ditetapkan maka tindakan terapeutik diselenggarakan. Semua orang yang menderita epilepsi, baik yang idiopatik maupun yang non-idiopatik, namun proses patologik yang mendasarinya tidak bersifat progresif aktif seperti tumor serebri, harus mendapat terapi medisinal. Obat pilihan utama untuk pemberantasan serangan epileptik jenis apapun, selain petit mal, adalah luminal atau phenytoin. Untuk menentukan dosis luminal harus diketahui umur penderita, jenis epilepsinya, frekuensi serangan dan bila sudah diobati dokter lain. Dosis obat yang sedang digunakan. Untuk anak-anak dosis luminal ialah 3-5 mg/kg/BB/hari, sedangkan orang dewasa tidak memerlukan dosis sebanyak itu. Orang dewasa memerlukan

60 sampai 120 mg/hari. Dosis phenytoin (Dilatin, Parke Davis) untuk anak-anak ialah 5 mg/kg/BB/hari dan untuk orang dewasa 5-15 mg/kg/BB/hari. Efek phenytoin 5 mg/kg/BB/hari (kira-kira 300 mg sehari) baru terlihat dalam lima hari. Maka bila efek langsung hendak dicapai dosis 15 mg/kg/BB/hari (kira-kira 800 mg/hari) harus dipergunakan. Efek antikonvulsan dapat dinilai pada follow up. Penderita dengan frekuensi serangan umum 3 kali seminggu jauh lebih mudah diobati dibanding dengan penderita yang mempunyai frekuensi 3 kali setahun. Pada kunjungan follow up dapat dilaporkan hasil yang baik, yang buruk atau yang tidak dapat dinilai baik atau buruk oleh karena frekuensi serangan sebelum dan sewaktu menjalani terapi baru masih kira-kira sama. Bila frekuensinya berkurang secara banding, dosis yang sedang dipergunakan perlu dinaikan sedikit. Bila frekuensinay tetap, tetapi serangan epileptik dinilai oleh orangtua penderita atau penderita epileptik Jackson motorik/sensorik/march sebagai enteng atau jauh lebih ringan, maka dosis yang digunakan dapat dilanjutkan atau ditambah sedikit. Jika hasilnya buruk, dosis harus dinaikan atau ditambah dengan antikonvulsan lain. Terapi Pengobatan Epilepsi : Obat pertama yang paling lazim dipergunakan: (seperti: sodium valporat, Phenobarbital dan phenytoin) Ini adalah anjuran bagi penderita epilepsi yang baru, Obat-obat ini akan memberi efek samping seperti gusi bengkak, pusing, jerawat dan badan berbulu (Hirsutisma), bengkak biji kelenjardan osteomalakia. Obat kedua yang lazim digunakan: (seperti: lamotrigin, tiagabin, dan gabapetin) Jika tidak terdapat perubahan kepala penderita setelah mengunakan obat pertama, obatnya akan di tambah dengan dengan obatan kedua. Lamotrigin telah diluluskan sebagai obat pertama di Malaysia. Obat baru yang diperkenalkan tidak dimiliki efek samping, terutama dalam hal kecacatan sewaktu kelahiran. A. Kesimpulan Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan (seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan berkala. Bangkitan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekolompok besar sel-sel otak, bersifat singkron dan berirama. Bangkitnya epilepsi terjadi apabila proses eksitasi didalam otak lebih dominan dari pada proses inhibisi. Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi. Pengguna narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna narkotik mungkin mendapat seizure pertama karena menggunakan narkotik, tapi selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure walaupun sudah lepas dari narkotik. Umumnya epilepsi mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam process kelahiran, luka kepala, strok, tumor otak, alkohol. Kadang epilepsi mungkin juga karena genetik, tapi epilepsi bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui.

B. Saran Disarankan kepada pembaca agar menghindari faktor resiko penyebab epilepsi karena epilepsi dapat ditimbulkan karena kebiasaan yang salah. Daftar pustaka Harsono.2007.Epilepsi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Sidharta, Priguna M.D.,Ph. D.1999. Neurology klinis dalam praktek umum, Dian Rakyat, Jakarta. http//epilepsi.web.//www.google.co.id//2009 Pemicu: Seorang laki-laki, 19 tahun, yang selama ini tinggal di Pulau Samosir, dirujuk kePoliklinik Saraf RSUP H. Adam Malik Medan dengan keluhan riwayat kejang. Darianamnese oleh ibunya, kejang telah dialami os sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan. Kejang bersifat tonik selama 10-15 detik dan diikuti oleh gerakan menghentak-hentak pada kedua lengan dan tungkai 5-10 menit. Sebelum serangan os sering menjeritterlebih dahulu, selama serangan os tidak sadrakan diri dan dijumpai mulut berbuih.Setelah serangan os tampak kebingungan. Demam (-), riwayat penyakit sebelumnya (-),riwayat penyakit dalam keluarga (-). Riwayat sering mengalami diare dan tidak enak di perut (-). Riwayat gemar makan daging babi. Yang bersangkutan pernah melakukan pemeriksaan tinja anal swab, ditemukan telur cacing pita dan telur Taenia (+). Klarifikasi Istilah: 1.Tonik : fase relaksasi (-) 2.Epilepsi : manifestasi klinis serupa, berulang, bersifat sementara akibathiperaktivitas listrik di otak Identifikasi Masalah: Laki-laki, 19 tahun : 1. Kejang 3x dalam 6 bulan terakhir Gerakan tonik diikuti klonik Sebelum serangan : menjerit 2. Diare dan tidak enak perut, pada anal swab dijumpai telur taenia (+).5 Hipotesa Masalah: 1. Os kemungkinan menderita epilepsy2. Os kemungkinan mengalami neurocystisercosis Analisa MasalahMore Info: Dari peneriksaan klinis dijumpai: Selama serangan : tidak sadar Setelah serangan : disorienta

TD :120/80 mmHg Nadi : 80 x/menit Pernafasan : 20 x/menit Temperatur : 36,8 Learning Issue:

EEG : Spike Dan Wave Paroxysmal hampir di seluruh lapangan CT-Scan: tidak dijumpai kelainan

1. Anatomi dan fisiologi sistem motorik 2. Kejang3. Epilepsi6 Pembahasan: 1.Anatomi dan fisiologi sistem motorik Sistem piramidalismerupakan bagian yang serabut2nya menyatu dalam medula oblongatamembentuk piramis-UMN (dari korteks motorik sampai ke neuron motorik)-LMN (mulai dr motor neuron, k saraf tepi dan ke otot) 2. Kejang Defenisi: Kondisi dimana otot berkontraksi dan relaksasi secara cepat dan berulang oleh karenaabnormalitas sementara dari aktivitas listrik di otak. Etiologi: Cedera kepala Infeksi Kelainan metabolik : hiponatremi, hipernatremi, hipoglikemi, hipokalsemi,hipoksia, uremia, hiperosmolar Tumor otak Insufisiensi cereprovaskular arteriosklerotik dan infark cerebr Toksin dan obat Diagnosis: Anamnesis Pemeriksaan penunjang:-EEG-MRI-CT SCAN Pemeriksaan darah dan urine Pemeriksaan CSF Pemeriksaan herediter(keturunan) 3. Epilepsi Defenisi Dijumpai rangsangan berupa musik, cahaya berkedip dan rangsang lainnya3. GeneralisataAbsans (petit mal): terdapat hilang kesadaran, onset pada usia 4-8 tahun, polaEEGspike wave

- Tonik klonik (grand mal): hilang kesadaran secara cepat, menangis,inkontinensia urin, mnggigit lidah, EEG tdk patognomik - Mioklonik: kontraksi serupa pada beberapa otot tungkai- Atonik:drop attacks - Klonik: gerakan menyentak repetitif - Tonik: peningkatan tonus otot Patofisiologi 1. Kontraksi otot-otot ekspirasi dan otot laring sehingga ekspirasi (-) sebabkan epileptic cry .2. Kontraksi otot-otot maksila dan mandibula menyebabkan lidah tergigit (biting of the tongue) 3. Kontraksi dari otot v.urinaria yang penuh menyebabkan inkontinesia urin 4. Kontaksi otot pipi sehingga air liur terkocok dan mulut berbuih. 5. Terputusnya pengiriman impuls aspesifik ke seluruh korteks serebriPelepasan muatan listrik yang berlebihan dan tidak terkendali neuron-neuron dithalamushilangnya kesadaran Diagnosis 1.Anamnesis (autoanamnesis & alloanamnesis) Karakteristik serangan a. Pola/bentuk b.Waktu c. Durasi Usia serangan pertama Riwayat epilepsy 2.Pemeriksaan Fisik (umum dan neurologi)Eliminasi kemungkinan-kemungkinan seperti: Trauma kepala Infeksi telinga atau sinus Gangguan kongenital 3.Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) 4.Pemeriksaan NeuroImaging Struktural dan Fungsional 5.Pemeriksaan Laboratorium 6.Pemeriksaan Kromosom dan Mitokondria bila dicurigai ada kelainan genetik Diagnosis Banding: 1. Sinkop, 2.Transient Ischaemic Attack, 3.Transient Global Amnesia, 4.Migren, Gangguan neurologik Kecanduan alkohol/obat terlarang Kanker d.Faktor pencetus10 e.Gejala Penyakit penyerta

5.Katapleksi, 6. Serangan Panik, PenatalaksanaanFarmakologiFirst line drugs :11 difenilhidantoin Fenobarbital Karbamazepin Valproat Mekanisme Kerja

7. Disaritmia jantung, 8. Histeria,dll.

Second line drugs : Gabapentin Klobazam Lamotrigin

Oksikarbazepin Topiramat Vigabatrin

1. Inhibitor kanal Na aksonContoh: fenitoin, karbamazepin, fenobarbital, as.valproat, lamotigrin, topiramat,zonisamid 2. Inhibitor kanal Ca type-TContoh: etosuksimid, as. Valproat, clonazepam 3. Peningkatan inhibisi oleh GABALangsung pd kompleks barbituratHambat degradasi GABA : tiagabin, as.valproat, gabapentin : benzodiazepin,

4.Penurunan glutamatContoh: Lamotigrin, fenobarbital, topiramat Non Farmakolog Kenali & hindari pencetus Diet Ketogenik Dengan memberikan asupan makan yang tinggi lemak, protein yang adekuat danrendah karbohidrat. Dengan demikian diharapkan akan terbentuk badan-badan ketonyang akan mencegah epilepsi Vagus nerve stimulation Dengan menanamkan /implant sejenis baterai biasanya di bawah kulit di dada,yang akan menyemburkan muatan listrik lemah kepada saraf vagus. Behaviour therapy KomplikasiPrognosisKurang lebih 70% serangan epilepsi dapat dicegah dengan obat anti epilepsi.Prognosis bergantung kepada jenis serangan, usia terjadinya serangan pertama, saatmulai pengobatan, kelainan neurologi, dan faktor etiologi. Apabila serangan yangterjadi berupa serangan umum primer seperti kejang tonik klonik dan petit mal, makaumumnya prognosis baik. Namun, apabila serangan parsial, diikuti gejala kompleksdan dimulai pada waktu bayi <3 tahun, maka prognosis relatif buruk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Epilepsi merupakan salah satu kelainan neorologis yang terbanyak setelah stroke.. Epilepsi adalah gangguan sementara system saraf akibat pelepasan listrik secara tiba-tiba dan berlebihan dari neuron serebral yang dapat mengakibatkan kejang, gangguan sensasi, dan kehilangan kesadaran. Epilepsi sering terjadi pada anak yang berusia di bawah 20 tahun, dan orang tua yang berusia 60 tahun, karena hal ini berhubungan dengan stroke, tumor otak, penyakit alzhimer atau akibat proses penuaan. Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapatkan epilepsi. Untuk itulah di dalam makalah ini akan di bahas hal-hal apa saja mengenai penyakit epilepsi, apa penyebabnya, siapa saja yang beresiko menderita epilepsi dan cara pengobatannya. 1.2 Batasan masalah Agar penjelasan dalam makalah ini terlihat jelas dan dapat dimengerti, maka penulis membatasi hal-hal yang akan dibahas, yaitu : Pengertian epilepsi Insidens yang terjadi Penyebab Patologi dan diagnosis Manajemen pengobatan BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Epilepsi terkadang disebut ayan atau sawan, berasal dari bahasa yunani (epilepsia) yang berarti serangan. Epilepsi merupakan gejala-kompleks dari banyak gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan yaitu modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekelompok besar sel-sel otak yang bersifat spontan, singkron, berirama dan berkala serta dikarakteristikkan oleh kejang berulang atau kehilangan kesadaran dan gangguan perilaku. Bangkitnya epilepsi terjadi apabila proses eksitasi di dalam otak lebih dominant dari pada proses inhibisi. Epilepsi yang sukar untuk mengendalikan secara medis, sebab mayoritas pasien dengan epilepsi adalah bersifat menentang, kebanyakan yang sering terserang terlebih dahulu yaitu bagian kepala. Sakit kepala sukar sekali untuk diperlakukan secara pharmakologis, walaupun obat antiepileptic sudah secara optimal diberikan sekitar 30-40% penderita biasanya melakukan operasi pembedahan untuk menghilangkan rasa sakit untuk sementara, tetapi gejala akan timbul sesekali. 2.2 Insidens Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan bayi yang baru lahir. Angka kejadian pada pria lebih tinggi ndibangdingkan wanita yaitu 1-3% penduduk

akan menderita epilepsi seumur hidup. Di inggris satu orang diantara 131 orang mengidap epilepsy. Setidaknya 456000 pengidap epilepsy di inggris. Di AS, satu diantara 100% populasi penduduk terserang epilepsy dan kurang lebih 2,5 juta telah menjalani pengobatan pada lima tahun terakhir. Menurut WHO, sekitar 50 juta penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsi (2004 epilepsi.com). di indonesi penyandang epilepsi berkisar 1% dari total jumlah penduduk, atau sebanyak 2 juta jiwa. 2.3 Penyebab Setiap orang memiliki otak dengan ambang bangkitan masing-masing apakah lebih tahan atau tidak terhadap munculnya bangkitan. Pada penderita epilepsi, aktivitas tubuh yang dikoordinasi oleh otak tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Penyebabnya cukup beragam yaitu : trauma kepala, alcohol, cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, infestasi parasit, tumor otak, masalah-masalah sirkulasi, demam, gangguan metabolisme dan nutrisi/ gizi dan intoksikasi obaobatan. Kadang epilepsy mungkin juga karena genetic (meski relative kecil antara 5-10 %), tapi epilepsi bukanlah penyakit keturunan. Penyebab utam ialah epilepsi idiopatik, remote symptomatic epilepsi (RSE), epilepsi simtomatik akut dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri-atau antenatal. Klasifikasi epilepsi yang menonjol ada 2 jenis yaitu : Epilepsy idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) Remote symptomatic epilepsi (RSE dan penyebab diketahui) Epilepsi simptomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT scan maupun kerusakan otak yang tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan deficit neurologik yang jelas. Apabila pada saat lahir telah terjadi deficit neurologikmaka dalam waktu bulan pertama seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang Pada saat pasca lahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang adalah 75% pada bulan pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama, kecuali bangkitan pertama terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan mempunyai resiko 40% dalam 12 buln pertama dan 36 bulan pertama untuk bangkitan ulang. Epilepsi dapat dibagi antara lain : Epilepsi grand mal Ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang berlebihan dari neuron di seluruh area otak di korteks, di bagian dalam serebrum dan bahkan di batang otak dan thalamus. Kejang berlangsung selama 3-4 menit Epilepsi petit mal Ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau penurunan kasadaran selama 3-30 detik, di man selama waktu serangan ini penderita merasakan beberapa kontraksi otot seperti sentakan, biasanya daerah kepala, terutama pengedipan mata. Epilepsi fokal

Melibatkan hamper setiap bagian otak, baik regoi setempat pada korteks serebri atau strukturstruktur yang lebih dalam pada serebrum dan batang otak. Disebabkan oleh resi organic setempat atau adanya kelainai fungsional. Epilepsi atonik Epilepsi mioklonik 2.4 Patologi Pada kondisi normal, impuls saraf dari otak secara elektrik akan dibawa neurotransmitter seperti GABA (gamma-aminobutiric acid) dan glutamate melalui sel-sel saraf (neuron) ke organ-organ tubuh ini. Faktor-faktor penyebab epilepsi dapat mengganggu system ini, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan aliran listrik pada sel saraf dan menimbulkan kejang yang merupakan salah satu cirri epilepsi. Adapun faktor pencetus epilepsy : Tekanan Kurang tidur/ rehat Sensitive pada cahaya yang terang (photo sensitive) dan Minum-minuman keras

2.5 Diagnosis Didasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan klinis dikombinasikan dengan hasil pemeriksaan EEG dan radiologis. Penderita atau orang tuanya perlu diminta keterangan tentang riwayat adanya epilepsy keluarga dan kemudian melanjutkan dengan : Pemeriksaan fisik Pada usia lanjut auskultasi di daerah leher penting untuk mendeteksi penyakit vaskuler. Pada anak-anak dilihat dari pertumbuhan yang lambat, adenoma sebasea dan organomegali Elektroensefalograf Untuk menetukan jenis dan lokasi bangkitan Pemeriksaan pencitraan otak Untuk melihat struktur otak dan melengkapi data EEG. Dan mengidentifikasikan kelainan pertumbuhan otak, tumor yang berukuran kecil, malformasi vaskuler tertentu dan penyakit demielinisasi. Selain diagnosis biasa, ada juga diagnosis banding, yang dilakukan dengan : Kejadian paroksismal Meliputi sinkrop, TIA (Transient Ischaemic Attack), paralysis periodic, gangguan gastrointestinal, gangguan gerak dan breath holding spells (mendasar) Epilepsi parsial sederhana

Meliputi TIA, migren, hiperventilasi, tics, mioklonus, dan spasmus hemifasialis. Epilepsi parsial kompleks Berkaitan dengan tingkat kehilangan kesadaran, mulai dari drop attacks sampai pola prilaku yang rumit. 2.6 Manajemen Pengobatan Dilakukan tindakan terapeutik, obat piliha utama untuk pemberantasan serangan epileptic jenis apapun, selain petit mal, adalah luminal atau phenytoin. Dosis luminal harus diketahui umur penderita, jenis epilepsinya, frekuensi serangan dan bila sudah diobati dokter lain. Untuk anak-anak dosis yang luminal ialah 3-5mg/kg/BB/hari, sedangkan orang dewasa 60120mg/hari. Dosis phenytoin (dilatin, parked avis) untuk anak-anak 5mg/kg/BB/hari dan untuk orang dewasa 5-15mg/kg/BB/hari. Efek phenytoin 5mg/kg/BB/hari (kira-kira 300 mg sehari) baru terlihat dalam lima hari. Maka bila efek langsung hendak dicapai dosis 15mg/kg/BB/hari (kira-kira 800/mghari) harus dipergunaka Efek obat antikonvulsan (farmakoterapi) dapat dinilai pada follow up, yaitu hasil baik, yang buruk atau yang tidak dapat dinilai baik atau buruk oleh karena frekuensi serangan sebelum dan sewaktu menjalani terapi baru masih kira-kira sama. Tujuan dari pengobatan ini adalh untuk mencapai pengontrolan kejang dengan efek samping minimal. Jika hasilnya buruk, maka dosis harus dinaikkan atau ditambah dengan antikonvulsan lain. Adapun terapi pengobatan epilepsi : Obat pertama yang paing lazim dipergunakan : Sodium Valporat, Phenobarbital dan Phenytoin. Ini adalah anjuran bagi penderita epilepsi yang baru. Obat-obat ibi akan memberi efek samping gusi bengkak, jerawat dan badan berbulu, bengkak biji kelenjar osteomalakia. Obat kedua yang lazim digunakan : lamotrigin, tiagabin, gabapetin Jka tidak terdapat perubahan kepala penderita, ibatnya akan ditambah dengan obatan kedua. Tidak memiliki efek samping, terutama dalam hal kecacatan sewaktu kelahiran. Tindakan bedah saraf Diindikasikan untuk pasien yang mengalami epilepsy akibat tumor antrakranial, abses, kista, atau adanya anomall vaskuler dan tidak berespons terhadap pengobatan. Dilakukan dengan alat Bantu berupa tekhnik bedah mikro, Elektroensefalograf dalam, perbaikan iluminasi dan hemostasisi, dan pengenalan agens nuropeltanalgesik (droperidol dan fentanil) Terapi Diet epilepsi Diet Ketogenik : alternative perawatan pasien epilepsi melalui pengaturan makanan yang ditujukan untuk memicu timbulnya ketosis dan mempertahankannya, agar otak menggunakan keton untuk bahan baker energi. Jenis diet kategonik : - Diet kategonik klasik :

1. Ratio le 2. Lemak umumnya long chain trigliserid (LCT) 3. Cairan dibatasi - Diet medium chain trigliserid (MCT) 1. Jumlah kalori dapat diberikan sesuai RDA/ kebutuhan

- Diet the john Radcliff 1. Perhitungan E berdasarkan kebutuhan sehari anak 2. 60 % energi berasal dari lemak, dimana 30% berasal dari MCT dan #) % dari sumber lemak lainnya - Diet the great Ormond street Komposisi energi berasal dari : 30% MCT, 30% dari LCT-penukar 15 gr, 40% makanan lainpenukar 100 kal. Jika penderita tengah kumat, jangan menahan gerakan saat klonik (kejang). Biarkan penderita sadar sendiri, tapi terlebih dahulu lindungi kepala penderita dengan bantal. Setelah sadar miringkan tubuhnya dan Bantu memulihkan pernapasan. Jangan beri minum terlebih dahulu, karena bahaya bila tersedak. Minum obat secara teratur, kemudian hindari kelelahan, kemalaman, kedinginan, kecemasan, kelaparan. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Epilepsi merupakan gejala-kompleks dari banyak gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan yaitu modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekelompok besar sel-sel otak yang bersifat spontan, singkron, berirama dan berkala serta dikarakteristikkan oleh kejang berulang atau kehilangan kesadaran dan gangguan perilaku. Penyebabnya cukup beragam yaitu : trauma kepala, alcohol, cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, infestasi parasit, tumor otak, masalah-masalah sirkulasi, demam, gangguan metabolisme dan nutrisi/ gizi dan intoksikasi obaobatan. Kadang epilepsi mungkin juga karena genetic (meski relative kecil antara 5-10 %), tapi epilepsy bukanlah penyakit keturunan. Epilepsy dapat dibagi antara lain : Epilepsi grand mal, Epilepis petit mal, Epilepsi fokal, Epilepsi atonik, Epilepsi mioklonik Adapun faktor pencetus epilepsy :Tekanan, Kurang tidur/ rehat, Sensitive pada cahaya yang terang (photo sensitive) dan Minum-minuman keras

Pengobatan : obat pertama yang paing lazim dipergunakan : (sodium valporat, Phenobarbital dan phenytoin), Obat kedua yang lazim digunakan : lamotrigin, tiagabin, gabapetin, Tindakan bedah saraf. Diet ketogenik : alternative perawatan pasien epilepsy melalui pengaturanmakanan yang ditujukan untuk memicu timbulnya ketosis dan mempertahankannya, agar otak menggunakan keton untuk bahan baker energi.

3.2 Saran Bahwa setelah membaca makalah ini, para pembaca dapat mengetahui dan menghindari halhal apa yang dapat menyebabkan epilepsi dan bagaimana cara pencegahan dan perawatan bagi penderita.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzenne. C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Price, Silvia A. 2006. Patifisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Behrman, Kliegman, Arvin. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Vol. 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. www.wikipedia.org/wiki/epilepsi. (www.google.com)

Anda mungkin juga menyukai