Anda di halaman 1dari 26

HADIS DHAIF DAN MAUDHU Serta Permasalahannya

MAKALAH
Disampaikan Dalam Forum Seminar Kelas Mata Kuliah Ulumul Hadis Semester 1 Program Pascasarjana (S2) UIN Alauddin Makassar

Oleh: IRMAWATI 80100212081 Dosen Pemandu:

Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, M. Ag Prof. Dr. PHIL. H. Kamaruddin Amin, M. A


PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hadis atau Sunnah adalah sumber ajaran Islam yang kedua setelah AlQuran. Dimana keduanya merupakan pedoman dan pengontrol segala tingkah laku dan perbuatan manusia. Untuk Al-Quran semua periwayatan ayat-ayatnya

mempunyai kedudukan sebagai suatu yang mutlak kebenaran beritanya sedangkan hadis Nabi belum dapat dipertanggungjawabkan periwayatannya berasal dari Nabi atau tidak. Namun demikian hadis memiliki peranan dalam menjelaskan setiap ayatayat Al-Quran yang turun baik yang bersifat Muhkamat maupun Mutasabihat. Sehingga hadis ini sangat perlu untuk dijadikan sebagai sandaran umat Islam dalam menguasai inti-inti ajaran Islam. Dalam kondisi faktualnya terdapat hadis-hadis yang dalam periwatannya yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu untuk diterimanya sebagai sebuah hadis atau yang dikenal dengan hadis maqbul (diterima); Shahih dan hasan. Namun disisi lain terdapat hadis-hadis yang dalam periwayatannya tidak memenuhi kriteria-kriteria tertentu atau lebih dikenal dengan istilah Hadis mardud (ditolak); dhaif atau bahkan ada yang palsu (maudhu), hal ini dihasilkan setelah adanya upaya penelitian kritik Sanad maupun Matan oleh para ulama untuk yang memiliki komitmen tinggi terhadap sunnah.

Hal ini terjadi disebabkan keragaman orang yang menerima maupun meriwayatkan hadis Rasulullah. Berbagai macam hadis yang menimbulkan

kontraversi dari berbagai kalangan. berbagai analisis atas kesahihan sebuah hadis baik dari segi putusnya Sanad dan tumpah tindihnya makna dari Matan pun bermunculan untuk menentukan kualitas sebuah hadis. Penulis di dalam makalah ini akan membahas masalah hadis dhaif, kemudian akan diulas juga masalah hadis maudhu Sebagai upaya menambah kembali pemahaman kita akan hadis Rasulullah Saw. B. Rumusan Masalah Dengan uraian latar belakang diatas penulis hendak menyajikan makalah yang berkisar pada permasalahan Hadis dhaif dan maudhhu yang bertitik tolak pada permasalahan, sebagai berikut: 1. Pengertian, Pembagian, Pengamalan dan Kitab-kitab Hadis Dhaif 2. Pengertian Hadis Maudhu, Sejarah Munculnya, Ciri-ciri untuk

Mengetahuinya, Kitab-kitab dan Hukum Meriwayatkan Hadis Maudhu

BAB II PEMBAHASAN A. Hadis Dhaif 1. Pengertian dan Pembagian Hadis Dhaif Kata dhaif, secara bahasa adalah lawan dari al-qawiy, yang berarti lemah. Pengertiannya menurut istilah Ulama hadis adalah Hadis yang tidak menghimpun sifat shahih dan hasan1 Diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinisikan Hadis dhaif ini, akan tetapi pada dasarnya isi dan maksudnya sama. An-Nawawi mendefinisikannya dengan: Hadis yang didalamnya tidak terdapat syarat-syarat Hadis shahih dan syarat-syarat Hadis hasan2 As-Suyuthi mendefinisikan Hadis dhaif dengan: Hadis yang hilang salah satu syarat atau keseluruhan dari syarat-syarat Hadis maqbul, atau dengan kata lain Hadis yang tidak terpenuhi didalamnya syarat-syarat Hadis maqbul Hadis dhaif apabila ditinjau dari segi sebab-sebab kedhaifannya, maka dapat dibagi menjadi dua bahagian, pertama: Dhaif disebabkan karena tidak memenuhi syarat bersambungnya sanad. Kedua: Dhaif karena terdapat cacat pada rawinya. a. Dhaif disebabkan karena tidak memenuhi syarat bersambungnya Sanad adalah:
1

Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, (Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya, 1998), h. 236

Ibrahim Abdul Fattah, Alqaul al-Hasif Fi Bayani al-Hadis al-Dhaif , (Kairo: Dar Thibaah al-Muhammadiyah, 1992) h. 6

1) Hadis Muallaq Hadis muallaq menurut istilah yaitu Hadis yang gugur rawinya, baik seorang, dua orang atau semuanya secara berurutan. Contohnya pada Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari al-Majisyun dari Abdullah bin Fadhl dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bersabda:


janganlah kalian melebih-lebihkan diantara para Nabi Dikatakan Muallaq karena pada Hadis ini, Bukhari tidak pernah bertemu alMajisyun.3 2) Hadis Mursal Hadis mursal menurut istilah adalah Hadis yang gugur rawi dari sanadnya setelah tabiin, seperti bila seorang tabiin mengatakan,Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda begini atau berbuat seperti ini4. Contoh Hadis ini adalah: Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya pada kitab al-Buyu berkata: telah bercerita kepadaku Muhammada bin Rafi,(ia mengatakan) telah bercerita kepada kami Hujain, (ia mengatakan) telah bercerita kepada kami Laits dari Aqil dari Ibnu Syihab dari Said bin al-Musibi,


Bahwa Rasulullah SAW telah melarang Muzabanah (jual beli dengan cara borongan hingga tidak dikeahui kadar timbangannya).
Mannaal-Qatthan, Mabahits Fi Ulum al-Hadis diterjemahkan oleh Mifdol Abdurrahman dalam judul Pengantar ilmu Hadits, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar Cet .I, 2005) h. 133
4 3

Ibid, h. 134

Said bin al-Musyayib adalah seorang tabiin senior, menyatakan Hadis ini dari Rasulullah tanpa menyebutkan perantara dia dan Nabi.5 3) Hadtis Munqathi' Hadis munqathi menurut istilah para ulama Hadis mutaqaddimin sebagai Hadis yang sanadnya tidak bersambung dari semua sisi. Sedangkan menurut para ulama Hadis mutaakhkhirin adalah suatu Hadis yang ditengah sanadnya gugur seorang perawi atau beberapa perawi tetapi tidak berturut-turut 6 Contoh Hadis ini adalah; Diriwayatkan Abu Dawud dari Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab

bahwasanya Umar bin al-Khathab berkata sedang dia berada diatas mimbar, Wahai manusia, sesungguhnya rayu itu jika berasal dari Rasulullah maka ia akan benar, karena Allah yang menunjukinya, sedangkan rayu yang berasal dari kita adalah zhan (prasangka) dan berlebih-lebihan. Hadis ini jatuh dari tengah sanadnya satu rawi, karena Ibnu Syihab tidak bertemu dengan Umar.

4) Hadis Mu'dhal Hadis mudhal menurut istilah adalah Hadis yang gugur pada sanadnya dua atau lebih secara berurutan. Contoh Hadis ini adalah :
5

Ibid, h. 135

Manna al-Qatthan, ibid., h. 138

Diriwayatkan oleh al-Hakim dengan sanadnya kepada al-Qanaby dari Malik bahwasanya dia menyampaikan, bahwa Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,

"
Al-Hakim berkata, Hadis ini mudhal dari Malik dalam kitab alMuwaththa., Letak ke-muadalahan-nya karena gugurnya dua rawi dari sanadnya yaitu Muhammad bin Aljan, dari bapaknya. Kedua rawi tersebut gugur secara berurutan7 5) Hadis Mudallas Yaitu Hadis yang penyembunyian aib dalam Hadis dan menampakkan kebaikan pada zhahirnya. Tadlis sendiri dibagi menjadi beberapa macam; a) Tadlis Isnad, Adalah Hadis yang disampaikan oleh seorang rawi dari orang yang semasa dengannya dan ia betemu sendiri dengan orang itu namun ia tidak mendengar Hadis tersebut langsung darinya. Apabila rawi memberikan penjelasan bahwa ia mendengar langsung Hadis tersebut padahal kenyataannya tidak, maka tidak termasuk mudallas melainkan suatu kebohongan/ kefasikan. b) Tadlis qathi : Apabila rawi menggugurkan beberapa rawi di atasnya dengan meringkas menggunakan nama gurunya atau misalnya rawi mengatakan telah berkata kepadaku, kemudian diam beberapa saat dan melanjutkan al-Amasi . . .
7

Ibid. 136-137

umpamanya. Hal seperti itu mengesankan seolah-olah ia mendengar dari al-Amasi secara langsung padahal sebenarnya tidak. Hadist seperti itu disebut juga dengan tadlis Hadf (dibuang) atau tadlis sukut (diam dengan tujuan untuk memotong). c) Tadlis Athaf (Merangkai dengan kata sambung semisal Dan). Yaitu bila rawi menjelaskan bahwa ia memperoleh Hadis dari gurunya dan menyambungnya dengan guru lain padahal ia tidak mendengar Hadis tersebut dari guru kedua yang disebutnya. d) Tadlis Taswiyah : Apabila rawi menggugurkan rawi di atasnya yang bukan gurunya karena dianggap lemah sehingga Hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya saja, agar dapat diterima sebagai Hadis shahih. Tadlis taswiyah merupakan jenis tadlis yang paling buruk karena mengandung penipuan yang keterlaluan. e) Tadlis Syuyukh: Yaitu tadlis yang memberikan sifat kepada rawi dengan sifat-sifat yang lebih dari kenyataan, atau memberinya nama dengan kinayah (julukan) yang berbeda dengan yang telah masyhur dengan maksud menyamarkan masalahnya. Contoh: Seseorang mengatakan: Orang yang sangat alim dan teguh pendirian bercerita kepadaku, atau penghafal yang sangat kuat hafalannya berkata kepadaku. f) Tadlis bilad Termasuk dalam golongan tadlis syuyukh adalah tadlis bilad (penyamaran nama tampat). Contoh: Haddatsana fulan fi andalus (padahal yang dimaksud adalah suatu tempat di pekuburan). Ada beberapa hal yang mendasari seorang rawi

melakukan tadlis syuyukh, adakalanya dikarenakan gurunya lemah hingga perlu diberikan sifat yang belum dikenal, karena rawi ingin menunjukkan bahwa ia mempunyai banyak guru atau karena gurunya lebih muda usianya hingga ia merasa malu meriwayatkan Hadis darinya.8 b. Dhaif karena terdapat cacat pada rawinya Sebab-sebab cela pada rawi yang berkaitan dengan keadalahan rawi ada lima, dan yang berkaitan dengan kedhabithannya juga ada lima. 1) Adapun yang berkaitan dengan keadalahannya, yaitu: Dusta, Tuduhan berdusta, Fasik, bidah, al-Jahalah (ketidak jelasan) Adapun yang berkaitan dengan kedhabitannya, yaitu: kesalahan yang sangat buruk, Buruk hafalan, Kelalaian, Banyaknya waham, menyelisihi para perawi yang tsiqah Dan berikut ini macam-macam Hadis yang dikarenakan sebab-sebab diatas: a) Hadis Maudhu' Hadis maudhu adalah Hadis kontroversial yang di buat seseorang dengan tidak mempunyai dasar sama sekali. Menurut Subhi Shalih adalah khabar yang di buat oleh pembohong kemudian dinisbatkan kepada Nabi.karena disebabkan oleh faktor kepentingan.9 Contohnya adalah Hadis tentang khasiat madu yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh dalam ats-Tsawab dengan sanad dari Ali bin Urwah, dari Abdul Malik, dari Atha, dari Abu Hurairah r.a.

8 9

Manna al-Qaththan, ibid, h. 140-142 Subhi Shalih, Ulumul Hadis Wamustalahatuhu, (Beirut; Dar alIlm, 1988), h. 263

10

,
"Barang siapa yang meminum madu tiga hari setiap bulan pada pagi hari sebelum makan dan minum, maka akan selamat dari penyakit besar, lumpuh, lepra, dan kusta" Sanad ini maudhu dan kelemahannya ada pada Ali bin Urwah. Ibnu Hibban mengatakan, Ali bin Urwah terbukti telah emalskan Hadis.10 b) Hadis Matruk Hadis matruk adalah Hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang disangka suka berdusta.11 Contoh Hadis Amru bin Syamr al-Jufi al-Kufi asy-Syii dari Jabir dari Abu Thufail, dari Ali dan Ammar keduanya berkata,

, , ,
Adalah Nabi SAW melakukan kunut pada shalat fajar, dan bertakbir pada hari Arafah dalam shalat dzuhur dan memotong shalat ashar pada hari tasyriq.12 Menurut an Nasa'i dan Daruqutni, dan ulama lainnya bahwa Amru bin Syamr adalah orang yang tidak dianggap Hadisnya (Matruk). c) Hadis Munkar

Muhammad Nasiruddin al-Albani, Silsilah Al-Hadits Al-Dhaif Wa Al-Maudhu , diterjemahkan oleh Basalamah dalam judul Silsilah Hadits Dhaif Dan Maudhu, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 229
11

10

Hasby as-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis,(Jakarta: PT.Bulan Bintang,1987) h.


12

262 Manna al-Qhaththan, op.cit. h. 149

11

menyalahi orang kepercayaan.13 rawi itu tidak memenuhi syarat biasa dikatakan seorang dhabit. Atau dengan pengetian Hadis yang rawinya lemah dan bertentangan dengan riwayat rawi tsiqah. Munkar sendiri tidak hanya sebatas pada sanad namun juga bisa terdapat pada matan. Contoh haidts yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Habib bin Habib az-Zayyat tidak tsiqah- dari Abu Ishaq dan Aizar bin Haris, dari Ibnu Abbas, Nabi SAW bersabda,

, , , , ,
Barang siapa yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, berpuasa dan menghormati tamu, dia masuk syurga14 d) Hadis Majhul a. Majhul 'aini : majhul aini artinya, seorang rawi yang disebut namanya dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali seorang rawi saja. Orang ini tidak diterima riwayatnya kecuali ada ulama yang mengatakan bahwa ia adalah rawi yang dapat dipercaya.15 b. Majhul hali : majhul hal dinamakan juga al-mastur (yang tertutupi). Yang dimaksud dengan majhul al-hal adalah: seorang rawi yang mana ada dua orang atau lebih meriwayatkan Hadis darinya dan tidak ada ulama yang mengatakan bahwa ia

13

Ibid., h. 264
14

Manna al-Qaththan, op.cit. h. 122 Manna al-Qaththtan, op.cit. h. 169

15

12

adalah rawi yang dapat dipercaya. Riwayat orang seperti ini menurut pendapat yang paling kuat adalah ditolak.16 e) Hadis Mubham Hadis mubham yaitu Hadis yang tidak menyebutkan nama orang dalam rangkaian sanad-nya, baik lelaki maupun perempuan.17 Contohnya adalah Hadis Hujaj ibn Furadhah dari seseorang (rajul), dari Abi Salamah dari Abi Hurairah. f) Hadis Syadz Hadis syadz, yaitu Hadis yang beretentangan dengan Hadis lain yang riwayatnya lebih kuat18. g) Hadtis Maqlub Yang dimaksud dengan Hadis maqlub ialah yang memutar balikkan (mendahulukan) kata, kalimat, atau nama yang seharusnya ditulis di belakang, dan mengakhirkan kata, kalimat atau nama yang seharusnya didahulukan. h) Hadis Mudraj Secara terminologis Hadis mudraj ialah yang didalamnya terdapat sisipan atau tambahan, baik pada matan atau pada sanad. Pada matan bisa berupa penafsiran rawi terhadap Hadis yang diriwayatkannya, atau bisa semata-mata tambahan, baik pada awal matan, di tengah-tengah, atau pada akhirnya. i) Hadis mushahaf
16

Manna al-Qhaththan, op.cit. h. 169

17 18

Ibid, h. 300 Ibid, h. 268

13

Hadis mushahaf ialah yang terdapat perbedaan dengan Hadis yang diriwayatkan oleh orang kepercayaan, karena di dalamnya terdapat beberapa huruf yang di ubah. Perubahan ini juga bisa terjadi pada lafadz atau pada makna, sehingga maksud Hadis menjadi jauh berbeda dari makna dan maksud semula.

Selain Hadis diatas masih terdapat beberapa Hadis lagi yang termasuk dha'if antara lain, mudhtharab, mudha'af , mudarraj, mu'allal, musalsal, mukhtalith untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam bukunya Hasby as-Shiddieqy; Pokok-pokok dirayah ilmu hadis dan juga dalam bukunya Manna al- Qaththan; Mabahits fii ulum al-Hadis. 2. Pengamalan Hadis Dhaif Hadis dhaif pada dasarnya adalah tertolak dan tidak boleh diamalkan, bila dibandingkan dengan Hadis shahih dan Hadis hasan. Namun para ulama melakukan pengkajian terhadap kemungkinan dipakai dan diamalkannya Hadis dhaif, sehingga terjadi perbedaan pendapat diantara mereka. Ada tiga pendapat dikalangan ulama mengenai penggunaan Hadis dhaif: a. Hadis dhaif tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadhail amal maupun ahkam. pendapat ini diperpegangi oleh Yahya bin Main, Bukhari dan Muslim, Ibnu Hazm, Abu Bakar ibn Araby. b. Hadis dhaif bisa digunakan secara mutlak, pendapat ini dinisbatkan kepada Abu Daud dan Imam Ahmad. Keduanya berpendapat bahwa Hadis dhaif lebih kuat dari rayu perorangan.

14

c. Sebagian ulama berpendapat bahwa Hadis dhaif bisa digunakan dalam masalah fadhail amal bila memenuhi beberapa syarat.19 Ulama-ulama yang mempergunakan Hadis dhaif dalam fadhilah amal, mensyaratkan kebolehan mengambilnya dengan tiga syarat: 1) Kelemahan Hadis itu tidak seberapa. 2) Apa yang ditunjukkan Hadis itu juga ditunjukkan oleh dasar lain yang dapat diperpegangi, dengan arti bahwa memeganginya tidak berlawanan dengan suatu dasar hukum yang sudah dibenarkan. 3) Jangan diyakini kala menggunakannya bahwa Hadis itu benar dari Nabi. Ia hanya dipergunakan sebagai ganti memegangi pendapat yang tidak berdasarkan pada nash sama sekali.20 3. Kitab-kitab Yang diduga Mengandung Hadis Dhaif. a. Ketiga Mujam at-Thabrani: al-Kabir, al-Awsat, as-Shagir b. Kitab al-Afrad, karya ad-Daruquthny c. Kumpulan karya al-Khatib al-baghdadi d. Kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya, karya abu Nuaim alAsbahani.21 B. Hadis Maudhu 1. Pengertian Hadis Maudhu
19 20

Ibrahim Abdul Fattah, op.cit h. 17-18 Manna al-Qatthan, op.cit., h. 131


21

Manna al-Qaththan, op. cit, h. 132

15

Maudhu menurut bahasa artinya sesuatu yang diletakkan, sedangkan menurut istilah adalah: sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah secara dusta22. Hadis ini adalah yang paling buruk dan jelek diantara Hadis-Hadis dhaif lainnya. Selain ulama membagi Hadis menjadi empat bagian: shahih, hasan, dhaif dan maudhu. Maka maudhu menjadi satu bagian tersendiri.23 2. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai terjadinya pemalsuan Hadis, berikut pendapat mereka: a. Menurut Ahmad Amin bahwa Hadis maudhu terjadi sejak masa Rasulullah masih hidup. b. Shalahuddin al-Dabi mengatakan bahwa pemalsuan Hadis berkenaan dengan masalah keduniaan yang terjadi pada masa Rasulullah saw. c. Menurut jumhur al-Muhaddisin, pemalsuan Hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.24

3.

Motivasi-Motivasi Munculnya Hadis Maudhu Hadis maudhu tidaklah bertambah kecuali bertambahnya bidah dan

pertikaian. Berdasarkan data sejarah, pemalsuan hadis tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang non islam.
22 23 24

Ibrahim Abdul Fattah, op. cit., h. 119 Manna al-Qatthan, op.cit., h. 145 Mudassir, Ilmu Hadis (Bandung, 2007) h. 172

16

Ada beberapa motif yang mendorong mereka membuat hadis palsu, antara lain: a. Pertentangan Politik Perpecahan umat Islam terjadi akibat permasalahan politik yang terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, membawa pengaruh besar terhadap munculnya Hadis-Hadis palsu. Masing-masing golongan berusaha mengalahkan lawannya dan berusaha mempengaruhi orang-orang tertentu, salah satu usahanya adalah dengan membuat Hadis palsu. b. Usaha Kaum Zindiq Para pemimpin dan penguasa negeri yang ditaklukkan telah tunduk pada kekuasaan Islam. Akan tetapi mereka masih menyimpan kedengkian dalam hati, namun mereka tidak mampu terang-terangan memusuhinya. Dan mereka merasa tidak mungkin dapat memalsukan Al-Quran sehingga mereka beralih melakukan upaya pemalsuan Hadis.25 Dengan tujuan ejekan dan ingin menghancurkan Islam dari dalam.

c. Sikap Fanatik Buta Salah satu faktor upaya pembuatan Hadis palsu adalah adanya sifat ego dan fanatik buta tehadap suku, bangsa, negeri dan pimpinan Contoh golongan yang fanatik yaitu ash-Syuubiyah yang fanatik terhadap bangsa Persia, dia mengatakan Sesungguhnya Allah apabila Murka, dia menurunkan
25

Hasby as-Shiddieqy, op. cit., h. 259

17

wahyu dengan bahasa Persia dan apabila senang dia menurunkan dengan bahasa Arab.26 Sebaliknya, kelompok yang bersebrangan dengan bangsa Persia membuat Hadis palsu untuk mendiskresditkan bangsa Persia, misalnya: Perkataan yang paling dibenci Allah adalah bahasa Persia27 d. Mempengaruhi Kaum Awam Dengan Kisah dan Nasehat Kelompok yang melakukan pemalsuan Hadis ini bertujuan untuk memperoleh simpati dari pendengarnya sehingga mereka kagum melihat

kemampuannya.28 Hadis yang mereka katakan terlalu berlebih-lebihan. e. Perselisihan dalam fiqhi dan ilmu kalam Munculnya Hadis palsu dalam masalah fiqhi dan ilmu kalam, berasal dari para pengikut madzhab. Mereka melakukan pemalsuan Hadis karena ingin menguatkan madzhabnya masing-masing.

f. Lobby dengan penguasa Sebuah peristiwa yang terjadi pada masa khilafah bani Abbasiyah, seorang yang bernama Ghiyats ibn Ibrahim pernah membuat Hadis yang disebutkannya didepan khalifah al-Mahdi yang menyangkut kesenangan khalifah.29 g. Semangat ibadah yang berlebihan tanpa didasari pengetahuan.
26

Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushul Hadis Ulumuhu wamusthalahatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1975), h. 359 Sitti Aisyah, Kontribusi Imam Al-Bukhari Dalam Validasi Hadits , (Makassar: Alauddin Prss, 2011), h. 66
28 29 27

Fathur Rahman, Ikhtishar Mushthalah Hadis, (Bandung: Al-Maarif ,1991) h.153

Muhammad Ajjaj al-Khatib, op.cit., h. 362

18

Dikalangan para ahli ibadah ada yang beranggapan bahwa membuat HadisHadis yang bersifat mendorong agar giat beribadah (targhib) adalah hal yang dibolehkan, dalam rangka ber-taqarrub kepada Allah.30 4. Ciri-ciri Untuk Mengetahui Hadis Maudhu Ciri-ciri dimaksud merupakan kesimpulan pengkajian para muhaddisin terhadap Hadis-Hadis maudhu satu persatu. Ciri-ciri tersebut dapat mempermudah pengenalan terhadap Hadis maudhu.31 Pedoman-pedoman itu melipui telaah atas keadaan sanad dan matan sebagaiman perincian berikut: 1. Ciri-ciri pada sanad a. Pengakuan dari orang yang memalsukan hadis: seperti pengakuan Abi Ismat Nuh bin Abi Maryam, dan Maisarah bin Abdi Rabbih yang digelari Nuh alJami, bahwa dia telah memalsukan Hadis atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan al-Quran surah persurah. b. Rawi itu terkenal pendusta dan Hadisnya diriwayatkan oleh orang yang tidak dipercaya. c. Menurut sejarah mereka tidak mungkin bertemu. d. Keadaan rawi-rawi itu sendiri serta dorongan membuat Hadis.32 2. Ciri-ciri pada matan

30

Nawir Yuslem, op. cit., h. 312


31 32

Nuruddin ltr, Ulum Al-Hadits, (Bandung,: Remaja Rosdakarya, Cet. I, 1994), h. 79-80 Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddiqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits,(Semarang: Pustaka Rizki Putra, Cet. I: 1997), h. 213-214

19

e. Kerancauan redaksi atau makna Hadis, sebagaiman ditegaskan oleh ibnu alShalah. f. Menyalahi keterangan al- Quran yang terang, keterangan Sunnah Mutawatir dan kaidah-kaidah kulliyah. g. Menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal dimasa Nabi SAW. h. Sesuai dengan madzhab yang dianut oleh rawi, sedang rawi iti pula orang yang sangat fanatic kepada madzhabnya. i. Menerangkan urusan yang menurut seharusnya, kalau ada, dinukilkan oleh orang ramai. j. Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan yang sangat kecil, atau siksa yang sangat besar, terhadap suatu yang kecil.33

5. Hukum Meriwayatkan Hadis Maudhu Para ulama sepakat bahwsanya diharamkan meriwayatkan Hadis maudhudari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhuannya, berdasarkan sabda Nabi saw: Barang siapa yang menceritakan Hadis dariku sedangkan dia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta.(HR.Muslim)

33

Nuruddin ltr, Op.cit. h. 215-220

20

6. Kitab-kitab Hadis Maudhu: a. al-Maudhuat, karya Ibn al-Jauzi-beliau paling awal menulis dalam ilmu ini. b. al-Laali al-Mashum fii al-Hadtis al-Maudhuah, karya as-Suyuthiringkasan kiab ibnu al-Jauzi dengan beberapa tambahan. c. Tanzihu asy-Syariah al-Marfuah an al-AHadis Asy-Syaniah al-

Maudhuah, karya Ibnu Iraq al- Kittani, ringkasan dari kedua kitab tersebut. d. Silsilah al-Ahadis ad-Dhaifah, karya al-Albani.34

BAB III PENUTUP

A. kesimpulan
Dari uraian makalah yang penulis paparkan diatas, dapat disimpulkan beberapa hal: 1. Hadis Dhaif

34

Manna al-Qaththan, op.cit. h. 149

21

a).

Hadis dhaif adalah Hadis yang didalamnya tidak didapati syarat Hadis shahih dan tidak pula didapati syarat Hadis hasan

b).

Ditinjau dari segi sebab-sebab kedhaifannya, maka dapat dibagi kepada dua bahagian: 1) Dhaif disebabkan karena tidak memenuhi syarat bersambungnya sanad, yang tergolong didalamnya antara lain: a) Muallaq b) Mursal c) Munqathi' d) Mu'dhal e) Mudallas 2) Dhaif karena terdapat cacat pada rawinya, yang tergolong didalamnya antara lain: a) Maudhu' b) Munkar c) Majhul d) Matruk e) Mubham f) Syadz g) Mudhtharab h) Mudraj i) Mu'allal j) Musalsal k) Mukhtalith l) mudha'af

c). Terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai pengamalan Hadis dhaif, mengenai hal ini ada tiga pendapat:

22

1)

Hadis dhaif tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadhail alamal maupun ahkam.

2)

Hadis dhaif bisa digunakan secara mutlak, Hadis dhaif lebih kuat dari rayu perorangan.

3)

Sebagian ulama berpendapat bahwa Hadis dhaif bisa digunakan dalam masalah fadhail al-amal bila memenuhi beberapa syarat.

d). Kitab-kitab Yang diduga Mengandung Hadis Dhaif 1) 2) 3) Ketiga Mujam at-Thabrani: al-Kabir, al-Awsat, as-Shagir Kitab al-Afrad, karya ad-Daruquthny Kumpulan karya al-Khatib al-baghdadi

2. Hadis Maudhu a. Pengertian Hadis maudhu Hadis Maudhu adalah sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah secara dusta b. Motivasi-Motivasi Munculnya Hadis Maudhu 1). Pertentangan Politik 2). Usaha Kaum Zindiq 3). Sikap Fanatik Buta 4). Mempengaruhi Kaum Awam Dengan Kisah dan Nasehat 5). Perselisihan dalam fiqhi dan ilmu kalam 6). Lobby dengan penguasa 7). Semangat ibadah yang berlebihan tanpa didasari pengetahuan

23

b. Ciri-Ciri Untuk Mengetahui Hadis Maudhu 1). Ciri-ciri pada sanad a) Pengakuan dari orang yang memalsukan Hadis: seperti pengakuan Abi Ismat Nuh bin Abi Maryam, dan Maisarah bin Abdi Rabbih yang digelari Nuh alJami, bahwa dia telah memalsukan Hadis atas Ibnu Abbas tentang keutamaankeutamaan al-Quran surah persurah. b) Rawi itu terkenal pendusta dan Hadisnya diriwayatkan oleh orang yang tidak dipercaya. c) Menurut sejarah mereka tidak mungkin bertemu. d) Keadaan rawi-rawi itu sendiri serta dorongan membuat Hadis. 2). Ciri-ciri pada matan a). Kerancauan redaksi atau makna Hadis, sebagaiman ditegaskan oleh ibnu alShalah. b). Menyalahi keterangan al- Quran yang terang, keterangan Sunnah Mutawatir dan kaidah-kaidah kulliyah. c). Menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal dimasa Nabi SAW. d). Sesuai dengan madzhab yang dianut oleh rawi, sedang rawi itu pula orang yang sangat fanatic kepada madzhabnya. e). Menerangkan urusan yang menurut seharusnya, kalau ada, dinukilkan oleh orang ramai. f). Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan yang sangat kecil, atau siksa yang sangat besar, terhadap suatu yang kecil.

24

c. Hukum Meriwayatkan Hadis maudhu Para ulama sepakat bahwanya diharamkan meriwayatkan Hadis maudhudari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhuannya d. Kitab-kitab Hadis Maudhu 1). al-Maudhuat, karya Ibn al-Jauzi 2). al-Laali al-Mashum fi al-Hadis al-Maudhuah, karya as-Suyuthi 3). Silsilah al-Hadis ad-Dhaifah, karya al-Albani

DAFTAR PURSTAKA Itr, Nuruddin, Manhaj an-Naqd Fi Ulum al-Hadis, Damaskus: Dar al-Fikr yang diterjemahkan oleh Mujiyo, Ulum al-Hadis, Bandung: Remaja Rosda Karya, Cet. II, 1997 Fattah, Ibrahim Abdul, Alqaul al-Hasif Fi Bayani al-hadtis al-Dhaif, Kairo: Dar Thibaah al-Muhammadiyah, 1992

25

Hasby as-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, Jakarta: PT. Bulan Bintang,1987 Al-Khatib, Muhammad Ajjaj, Ushul Hadis Ulumuhu wamusthalahatuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 1975 Mudassir, Ilmu Hadis, Bandung, 2007 Muhammad Nasiruddin al-Albani, Silsilah Al-Hadis Al-Dhaif Maudhu, Jakarta: Gema Insane Press, 1997 Muhammad Teungku, Hasbi ash-Shiddiqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadis, Semarang: Pustaka Rizki Putra, Cet. I: 1997 Al-Qatthan, Manna, Mabahits Fii Ulum al-Hadis diterjemahkan oleh Mifdol Abdurrahman dalam judul Pengantar ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka al-Kautsar Cet.II, 2006 Rahman, Fathur Ikhtishar, Mushthalah Hadis, Bandung: al-Maarif ,1991 Shalih, Subhi, Ulumul Hadtis Wamustalahatuhu, Beirut; Dar alIlm, 1988. Yuslem, Nawir, Ulum al-Hadis, Mutiara sumber Widya, 2001 Wa Al-Maudhu ,

diterjemahkan oleh basalamah dalam judul Silsilah Hadis Dhaif Dan

26