Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN Dengue Haemoragic Fever (DHF) RUMAH SAKIT UMUM Dr.

SAIFUL ANWAR MALANG

Disusun oleh : Agus Jaipur 201210461011034

PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2013
1. Definisi DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang

disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (betina). (Christantie Effendy, 1995). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty betina (Seoparman , 1990). DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegepty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001). 2. Klasifikasi a. Derajat I Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi. b. b. Derajat II : Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat. c. c. Derajat III : Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah. d. d. Derajat IV :

Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba. 3. Etiologi a. Virus dengue Berdiameter 40 monometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel sel mamalia, maupun sel sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990; 36). b. Vektor : nyamuk aedes aegypti Yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polyne siensis, infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420). c. Host : pembawa. Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. 4. Manifestasi Klinis a. Demam Demam berdarah dengue biasanya ditandai dengan demam yang mendadak tanpa sebab yang jelas, continue, bifasik. Biasanya berlangsung 2-7 hari (Bagian Patologi Klinik, 2009). Naik turun dan tidak berhasil dengan pengobatan antipiretik. Demam biasanya menurun pada hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi lemah, ujung jari, telinga dan hidung teraba dingin dan lembab. Masa kritis pda hari ke 3-5. Demam akut (38-40 C)

dengan gejala yang tidak spesifik atau terdapat gejala penyerta seperti , anoreksi, lemah, nyeri punggung, nyeri tulang sendi dan kepala.

b. Perdarahan Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniquet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura. ( Soedarto, 1990 ; 39). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. (Nelson, 1993 ; 296). Perdarahan gastrointestinal biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. (Ngastiyah, 1995 ; 349). c. Hepatomegali Ditemukan pada permulaan demam, sifatnya nyeri tekan dan tanpa disertai ikterus. Umumnya bervariasi, dimulai dengan hanya dapat diraba hingga 2-4 cm di bawah lengkungan iga kanan (Bagian Patologi Klinik, 2009). Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit namun nyeri tekan pada daerah tepi hati berhubungan dengan adanya perdarahan. d. Renjatan (Syok) Syok biasanya terjadi pada saat demam mulai menurun pada hari ke-3 dan ke-7 sakit. Syok yang terjadi lebih awal atau periode demam biasanya mempunyai

prognosa buruk (Bagian Patologi Klinik, 2009). Kegagalan sirkulasi ini ditandai dengan denyut nadi terasa cepat dan lemah disertai penurunan tekanan nadi kurang dari 20 mmHg. Terjadi hipotensi dengan tekanan darah kurang dari 80 mmHg, akral dingin, kulit lembab, dan pasien terlihat gelisah. e. Trombositopeni Jumlah trombosit dibawah 150.000 /mm3 yang biasanya terjadi pada hari ke tiga sampai ke tujuh. f. Hemokonsentrasi Meningkatnya nilai hematokrit merupakan indikator kemungkinan terjadinya syok. 5. Patofisiologi

6. Komplikasi Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya : a. Perdarahan luas b. Shock atau renjatan c. Effusi pleura d. Penurunan kesadaran 7. Pemeriksaan Penunjang a. Darah Trombosit menurun HB meningkat lebih 20 % HT meningkat lebih 20 % Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3

Protein darah rendah Ureum PH bisa meningkat NA dan CL rendah b. Foto roentgen Gambaran foto torak efusi pleura c. Urine rutin Mungkin ditemikan albuminuria ringan d. Sumsum tulang Pada awal-awal sakit biasanya hiposeluler pada hari ke 5 e. Serologi Uji serologi untuk infeksi dengue di kategorikan atas 2 kelompok besar : yaitu uji serologi memakai serum ganda dan uji serologi memakai serum tunggal 8. Penatalaksanaan a. Tirah baring b. Pemberian makanan lunak c. Pemberian cairan melalui infus Pemberian cairan intra vena, ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter. d. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik, e. Anti konvulsi jika terjadi kejang f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR). g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut i. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari. 9. Pemeriksaan Fisik

Meliputi inspeksi, palpasi, auskultrasi, dan perkusi, dari ujung rambut sampai ujung kaki.berdasarkan tingkatan ( grade ) DHF, keadaan fisik adalah sebagai berikut : Grade I : kesadaran kompasmenthis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi lemah. Grade II : kesadaran kompasmenthis, keadaan umum lemah, ada perdarahan sepontan,petikie, perdarahan gusi, dan telinga, serta nadi lemah, kecil dan tidak teratur Grade III : kesadaran apatis, samnollen, keadaan umum lemah,nadi lemah, kecil dan tidak teratur Grade IV : kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba, tensi tidak teratur, pernafasan tidak teratur, ekstermitas dingin, berkeringat dan kulit tanpak biru. a. Sistem Integumen Adanya petekie pada kulit, turgor kulit menurun dan muncul keringat dingin dan lembab, kuku sianosis / tidak. b. kepala dan leher Kepela terasa nyeri, muka tanpak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan ( epistaksis ) padsa grade II,III dan IV. Pada mulut didapatkan mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan telinga

c. Dada Bentuk simentris dan kadang-kadang terasa sesak, pada foto torax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan ( efusi plaura ). Rares (+), Ronchi (+), yang biasanya terdapat pada grade III dan IV d. Abdomen mengalami nyeri tekan, pembesran hati ( hepatomegali ) dan esites.

e. Ekstremitas, akral dingin, serta terjadi nyeri otoy, sendi serta tulang 10. Diangnosa Keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen patologis b. Gangguan kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia c. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri, terapi tirah baring. d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif e. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue f. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh g. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia 11. Intervensi NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri terkontrol dengan criteria hasil : N o 1 2 3 4 5 6 7 Kriteria Mengenal faktor penyebab nyeri Mengenali tanda dan gejala nyeri Mengetahui onset nyeri Menggunakan langkah-langkah pencegahan nyeri Menggunakan teknik relaksasi Menggunakan analgesic yang tepat Melaporkan nyeri terkontrol Sco re 5 5 5 5 5 5 5

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen patologis

NIC : Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: skala nyeri, lokasi, karakteristik dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor-faktor presipitasi. Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan

Gunakan

komunkiasi

terapeutik

agar

klien

dapat

mengekspresikan nyeri Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunaka Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama, dan tindakan Motivasi klien untuk memonitor nyerinya Ajarkan penggunaan teknik relaksasi nafas dalam Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup Monitor TTV Kolabirasi dengan dokter dalam penberian analgetik pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari

b. Gangguan

kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, status nutrisi adekuat ditandai dengan : N o 1. 2. 3. 4. NOC Intake makanan dan minuman adekuat Albumin dbn Hematokrit dbn Hemoglobin dbn Scor e 5 5 5 5

NIC : Berikan makanan dalam keadaan hangat, berikan makanan yang bervariasi untuk menarik minat makan klien Catat intake makanan dan minuman klien Kolaborasikan pemberian terapi nutrisi Monitor status nutrisi secara komprehensif meliputi

kebiasaan makan, berat badan dan porsi makan Monitor makanan kesukaan klien, berikan apabila tidak bertentangan dengan program diet

Monitor keterbatasan aktifitas fisik klien Kolabirasi dengan dokter

c. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri, terapi tirah baring. NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, terjadi peningkatan mobilisasi dengan criteria hasil: N o 1. 2. NOC ROM aktif / pasif meningkat Perubahan posisi adekuat Scor e 5 5

NIC : Kaji kemampuan klien dalam melakukan mobilitas fisik Jelaskan kepada klien dan keluarga manfaat latihan Kaji lokasi nyeri/ketidaknyamanan selama latihan Jaga keamanan klien Bantu klien utk mengoptimalkan gerak sendi pasif manpun aktif Beri reinforcement ppositif setipa kemajuan Ukur TTV sebelum sesudah latihan

Daftar Pustaka
Depkes RI. 1992. Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga. Jakarta : Depkes RI. Rampengan. ______. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Sastroasmoro, Sudigdo. 1993. Kedaruratan pada Anak. Jakarta : Binapura Aksara. Soegijanto, Soegeng. 2002. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan Edisi 1. Jakarta : Salemba. Suriadi. _______. Asuhan Keperawatan pada Anak. Soeparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua . Jakarta : FKUI.