Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) A.

Pengertian Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih (Agus Tessy, 2001). Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih (Enggram, Barbara, 1998) B. 1. 2. 3. 4. 1. Klasifikasi Jenis Infeksi Saluran Kemih, antara lain: Kandung kemih (sistitis) uretra (uretritis) prostat (prostatitis) ginjal (pielonefritis) ISK uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. 2. ISK complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut: a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. b. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.

Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:

c. d.

Gangguan daya tahan tubuh Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease.

C. 1.

Etiologi Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain: a. (simple) b. c. lain-lain. 2. a. b. c. d. humoral e. f. Adanya hambatan pada aliran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu: masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain: Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif Mobilitas menurun Nutrisi yang sering kurang baik Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun Pseudomonas, complicated Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, danProteus, Klebsiella : penyebab ISK Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated

D.

tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. Mobilitas menurun Nutrisi yang sering kurang baik System imunnitas yng menurun Adanya hambatan pada saluran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

Pathway : terlampir

E.

Tanda dan Gejala Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis): Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis Hematuria Nyeri punggung dapat terjadi

Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis) Demam Menggigil Nyeri panggul dan pinggang Nyeri ketika berkemih Malaise Pusing Mual dan muntah F. Pemeriksaan Penunjang 1. Urinalisis Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. 2. Bakteriologis

Mikroskopis Biakan bakteri 3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. 5. Metode tes Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek). Tes- tes tambahan: Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. G. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina. Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas: Terapi antibiotika dosis tunggal

Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi. Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya: Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan Interansi obat Efek samping obat Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal: 1. Efek nefrotosik obat 2. Efek toksisitas obat Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut: Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/ Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau malh membahnayakan/ Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan? Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan?

H.

Pengkajian 1. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe dan system tubuh 2. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: Adakah riwayat infeksi sebelumnya? Adakah obstruksi pada saluran kemih? 3. Adanya factor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial. Bagaimana dengan pemasangan kateter foley? Imobilisasi dalam waktu yang lama. Apakah terjadi inkontinensia urine? 4. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor

predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah) Adakah disuria? Adakah urgensi? Adakah hesitancy? Adakah bau urine yang menyengat? Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas. 5. Pengkajian psikologi pasien: Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya.

I.

Diagnosa Keperawatan Yang Timbul 1. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain. 2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. 3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

J. 1. Dx 1 :

Intervensi Keperawatan Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain. Kriteria evaluasi: Tidak nyeri waktu berkemih, tidak nyeri pada perkusi panggul Intervensi: a. Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, baud an pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan b. Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri. Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri c. Berikan tindakan nyaman, seprti pijatan punggung, lingkungan istirahat; Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot. d. Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus Relaksasi: membantu mengarahkan kembali perhatian dan untuk relaksasi otot. e. Berikan perawatan perineal

Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra f. Jika dipaang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2 nkali per hari. Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. g. Kolaborasi: Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning, jingga gelap, berkabut atau keruh. Pla berkemih berubah, sring berkemih dengan jumlah sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih. Nyeri menetap atau bertambah sakit Rasional: Temuan- temuan ini dapat memeberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya Rasional: analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri h. Berikan antibiotic. Buat berbagai variasi sediaan minum, termasuk air segar . Pemberian air sampai 2400 ml/hari Rasional: akibta dari haluaran urin memudahkan berkemih sering dan membentu membilas saluran berkemih 2. Dx 2: Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. Kriteria Evaluasi: Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria) Intervensi: a. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi b. Tentukan pola berkemih pasien

c. Dorong meningkatkan pemasukan cairan Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri. d. Kaji keluhan kandung kemih penuh Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung kemih/ginjal) e. Observasi perubahan status mental:, perilaku atau tingkat kesadaran Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat f. Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam Rasional: untuk mencegah statis urin g. Kolaborasi: kreatinin Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin. Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih. 3. Dx 3: Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. Kriteria Evaluasi: menyatakna mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostic, rencana pengobatan, dan tindakan perawatan diri preventif. Intervensi: a. Kaji ulang proses pemyakit dan harapan yang akan datanng Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi. Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN,

b. Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskna pemberian antibiotic, pemeriksaan diagnostic: tujuan, gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan. Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan m,embantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik. c. Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan lanjut dan instruksi tertulis untuk perawatn sesudah pemeriksaan Rasional: instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan d. Instruksikan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, inum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari khususnya sari buah berri. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal. Asam piruvat dari sari buah berri membantu mempertahankan keadaan asam urin dan mencegah pertumbuhan bakteri e. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan. Rasional: terapeutik. Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. A DENGAN SUSPECT INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUANG ASOKA RSUD MARGONO SOEKARDJO A. Pengkajian Tanggal : : 12 Oktober 2012 Jam : 19.08 WIB

1. Identitas Pasien a. Nama b. Umur c. Alamat Banyumas d. Pendidikan e. Jenis Kelamin f. Suku/Bangsa g. Agama h. Status Perkawinan i. Tanggan Masuk RS j. Pekerjaan k. Diagnosa Medik l. Nomor Rekam Medik : Nn. A : 65 Tahun : Ds. Pasinggangan RT 01/08 : SMA : Perempuan : Jawa/Indonesia : Islam : Kawin : 12 Oktober 2012 : Karyawati : Infeksi Saluran Kemih :

m. Orang paling dekat yang dihubungi : Anak kandung

2. Status Kesehatan Saat ini : a. Keluhan utama Ny. A datang ke Rumah Sakit Margono Soekarjo pada tanggal 12 Oktober 2012 jam 7 malam dengan keluhan nyeri pada bagian perut kiri bawah.

b.

Riwayat kesehatan sekarang (PQRST) P: Nyeri akibat anyang anyang dan bertambah ketika berkemih Q: Nyeri seperti diremas remas R: daerah nyeri di bagian perut kiri bawah S: Sering dan skala 10 T: Paling dirasakan adalah saat berkemih.

3. Riwayat Kesehatan Dahulu Ny. A mengatakan bahwa sebelumnya pernah memeriksakan diri ke bidan di desa tempat tinggalnya dan di diagnosa mengalami ISK. Ny. A sudh menderita penyakit ini sejak tahun 2010. Penyakitnya sering kambuh dan sudah sering diperiksakan ke bidan. Setelah disuntik dan diberi obat, penyakitnya berangsur sembuh. Namun sudah satu bulan terakhir penyakitnya kambuh lagi.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Ibu dari Ny. A mengalami penyakit anemia kronis, sedangkan Ayah dari Ny. A menderita stroke. Tidak ada anggota keluarga lain yang mengalami penyakit yang sama dengan Ny. A. Saudara dari Ny. A hanya pernah menderita penyakit gastritis dan tipus. 5. Pemeriksaan Fisik per sistem a. Keadaan Umum Keluhan Kelelahan Perubahan BB setahun yang lalu Perubahan nafsu makan Demam Keringat malam Kesulitan tidur Sering filek, infeksi TB......cm, BB Postur tubuh Penilaian terhadap seluruh status kesehatan Penjelasan

Ya V V V

Tidak V V

V V

b. Sistem Integrumen Keluhan Lesi atau Luka Pruritus Perubahan pigmen kulit Perubahan tekstur kulit Kulit kering Keratosis Sering memar Kelainan pada rambut Kelainan pada kuku Kelainan pada jari kaki Penurunan respon terhadap ketajaman dan ketumpulan Penurunan respon terhadap panas dan dingin Penurunan sensitivitas sentuhan Warna kulit Suhu Pola penyembuhan luka Penjelasan Ya Tidak V V V V V V V V V V V V V V V

c. Sistem Hemopoitik Keluhan Perdarahan Pembengkakan kelenjar limfa Conjungtiva anemis Muka pucat Kadar haemoglobin : Penjelasan Ya Tidak V V V

d. Sistem Pengideraan Mata Keluhan Perubahan penglihatan Nyeri pada mata Air mata berlebih Ya V V Tidak V

Ptosis Bengkak sekitar mata Diploppia Penglihatan kabur Keringatan pada mata Penggunaan obat tetes mata Fotobia Kesulitan menentukan objek yang jauh Kesulitan menentukan objek yang dekat Adanya halo (spt melihat pelangi) Riwayat infeksi Peningkatan TIO (Tekanan Intra Okuler) Reaksi pupil : Lapang pandang : Visus : Riwayat operasi Jenis operasi Dampak terhadap aktivitas sehari-hari Penjelasan

V V V V V V V V V V V V

Hidung Keluhan Mendengur Epitaksis Iritasi muklosa hidung Penurunan ketajaman penciuman Nyeri pada sinus Penggunaan obat nasal Riwayai infeksi Penilaian kemampuan olfaktori Penjelasan Ya V Tidak V V V V V V V

Lidah Keluhan Penurunan sensasi rasa Lidah kotor dan pecah-pecah Penjelasan Ya V Tidak V

e. Sistem pencernaan Keluhan Dysfagia Nyeri ulu hati Mual/muntah Penurunan nafsu makan Odinofagia (nyeri pada saat menelan) Nyeri perut bagian kiri bawah Benjolan atau massa Diare Konstipasi Hemoroid Pendarahan pada rektum Keutuhan gigi Penggunaan gigi palsu Pendarahan gusi Karies gigi Halitosis Penggunaan obat-obatan Kemampuan mengunyah Bising usus LILA ( Lingkar Lengan Atas ) Pola defekasi Frekuensi (BAB) Karakteristik feses Penjelasan Ya V V V V V V V V V V V V V V V V V Tidak V

f. Sistem pernafasan Keluhan Batuk Sesak nafas Seputum Nyeri dada saat bernafas Penggunaan otot-otot tambahan saat bernafas Kesimetrisan ekspansi paru Kesimetrisan taktil premitus Hemaptoe Whezing Respirasi rate reguler/tidak Ya Tidak V V V V V V V V V

Suaran nafas Suara nafas tambahan Penjelasan g. Sistem Cardiovaskuler Keluhan Nyeri dada Palpitasi Pusing Peningkatan JVP ( Jugularis Vena Pressure ) Edema kaki dan tungkai Varises Akral dingin Bunyi jantung Bunyi jantung t Respirasi rate reguler/tidak Suaran nafas Suara jantung tambahan Blood pressure Heart rate Penjelasan reguler/tidak Ya V V V V V V V Tidak V V

110/80 mmHg

h. Sistem perkemihan Keluhan Disuria Inkontensia Nokturia Poliuria Oliguria Hematuri Urgensi Distensi kandung kemih Riwayat pembedahan Nyeri saat berkemih Palpasi nyeri area pinggang Nyeri tekan pada abdomen Keluhan cairan saat miksi Ya V Tidak V V V V V V V V V V V

Jumlah cairan yang masuk Frekuensi berkemih : >10x/hari Karakteristik urine : kuning kemerahan Penjelasan

i. Sistem Genitoreproduksi Keluhan Lesi Benjolan payudara Nyeri tekan payudara Riwayat Ca payudara Pelaksanaan pemeriksaan payudara sendiri Masalah prosentase pada laki-laki Perubahan libido Perdarahan post koitus Nyeri pada saat koitus Keluarnya rabas vagina Penggunaan terapi estrogen Darahan pervagina Kekeringan / rasa gatal pada vagina Menopouse PAP SMEAR Riwayat menstruasi (usia menarche, post menstruasi tahun lamanya haid, banyaknya haid, keluhan haid) Penyakit kelamin Penjelasan Ya Tidak V V V V V V V V V V V V V

j. Sistem Muskuloskeletal Keluhan Nyeri sendi Kekakuan sendi Parestsia Kifosis Skoliosis Lordosis Nyeri tekan diatas prosesus xipoideus Pembengkakan sendi Deformitas Spasme Ya V Tidak V V V V V V V V

Kram Kelemahan otot Nyeri punggung Riwayat cedera pada muskuloskeletal Penggunaan obat-obatan Kekuatan otot ROM Aktivitas sehari-hari Penjelasan

V V V V V

k. Nyeri syaraf Keluhan Sakit kepala Sinkope Paralisis Parastesia Masalah koordinasi Tremor penurunan fungsi motorik Riwayat kejang Kuku kuduk Penurunan kognitif komunikatif Penurunan status mental Reflek reflek Ya V Tidak V V V V V V V V V V

Fungsi Nerves

Penjelasan l. System Endokrin Keluhan Gloiter Intolerance panas Intolerance dingin Pigmentasi kulit polipagia polidipsi poliuria Ya Tidak V V V V V V

retinopati Peningkatan gula darah Penjelasan

V V

B. Pengkajian setatus fungsional klien 1. KATZ INDEKS Termasuk kata gori manakah klien ? a. b. c. d. Mandiri dalam makan, kontinen, berpindah, ke kamar mandi, berpakaian dan mandi. Mandiri semuanya diatas kecuali salah satu diatas Mandiri, kecuali mandi dan satu lagi fungsi lainnya Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, dan satu fungsi diatas Lain Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke kamar mandi dan satu fungsi diatas Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke kamar mandi, berpindah dan satu fungsi diatas Ketergantungan untuk semua fungsi diatas Keterangan : Mandiri berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain, seseorang yang menolak untuk melakukan satu fungsi di anggap tidak melakukan fungsi meskipun dianggap ia mampu. Intrepretasi:

e. f.

2. MODIFIKASI dari BARTHEL INDEKS

NO 1

Kriteria Makan

Dengan Mandiri dibantu 5 10

Keterangan Frekuensi : Jumlah : Jenis :

Minum

10

Frekuensi Jumlah Jenis

Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur(sebaliknya) Personal toilet(cuci muka, menyisir rambut, gosok gigi) Keluar masul toilet (mencuci pakaian, menyeka tubuh, menyiram) mandi Jalan dipermukaan datar Naik turun tangga Mengnakan pakaian BAB

5-10

15

Frekuensi

10

6 7 8 9 10

5 0 5 5 5

15 5 10 10 10 Ferkuensi Konsistensi

11

BAK

10

Ferkuensi Warna

12

Olahraga /latihan

10

Frekuensi Jenis

13

Rekreasi/pemanfaatan 5 waktu luang

10

Frekuensi Jenis

Termasuk katagori apa klien anda? a. Skor 130 : Mandiri b. c. Skor 65 125 : ketergantungan sebagian Skor < 60 : ketergantungan total

3. pengkajian setatus kognitif / afektif a. Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portabel Status Questioner (SPMSQ) Instruksi Ajukan pertanyaan 1-10 pada daftar di bawah ini dan catat semua jawaban, kemudian jumlahkan kesalahan total berdasarkan 10 pertanyaan tsb. Benar Salah Nomar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pertanyaan Tanggal berapa hari ini? Hari apa sekarang? Apa nama tempat ini? Dimana alamat anda? Berapa umur anda? Kapan anda lahir?(minimal tahun lahir) Siapa presiden anda sekarang? Siapa presiden anda sebelumnya? Siapa nama ibu anda? Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari setiap angka baru. Semua dilakukan secara menurun

Jumlah

Jumlah

Intrpretasi hasil a. Salah 0-3 b. Salah 4-5 c. Salah 6-8 d. Salah 9-10 : fungsi intelektual utuh : kerusakan fungsi intelektual jaringan : kerusakan intelektual sedang : kerusakan intelektual berat

b. No

Identifikasi aspek kognitif dari fungsi dengan menggunakan Mini Mental Status Examination ( MMSE) Aspek kognitif Nilai maksimal 5 Nilai klien Kriteria

orientasi

Menyebutkan dengan benar: o Tahun o Musim o Tanggal o Hari o Bulan Dimana sekarang kita berada? o Negara indonesia o Propinsi jawa tengah o Kabupaten cilacap o Panti resos dewanata o Wisma ( berapa ) Sebutkan nama 3 objek (oleh emeriksa) dengan waktu 1 detik untuk mengatakan masingmasing objek kemudian tanyakan kepada klien objek tadi (untuk disebutkan) o o

Regristrasi

Perhatian dan kalkuasi

o Minta klien untuk memulai menghitung dari angka 100 kemudian dikurangi 7 sampai 5 kali o 93 o 86 o 79 o 72 o 65 Minta klien mengulangi ketiga objek pada no.2 (regristrasi) tadi. Bila benar, satu point untuk masing- masing objek. Tunukan pada klien suatu benda dan tanyakan namana pada klien. o (misal jam tangan) o ( misal pensil) Minta klien mengulangi kata berikut: tak ada, jika, dan tetapi o Bila benar satu point Minta klien untuk mengikuti perintah berikut yang terdiri dari 3 langkah : o Ambil kertas ditangan anda o Lipat dua o Taruh di lantai Perintahkan pada klien untuk hal berikut ( bila aktifitas sesuai

Mengingat

Bahasa

perintah nilai 1 point) o Tutup mata anda Perintahkan klien untuk menulis satu kalimat dan menyalin gambar o Tulis satu kalimat o Menyalin gambar TOT AL NILA I

Interprestasi a. >dari 23 b. 18-23 c. < 17 : aspek kognitif dari fungsi mental baik : kerusakan asfek fungsi mental ringan : terdapat kerusakan asfek fungsi mental berat

Penjelasan ....

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC. Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC. Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC. Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.