Anda di halaman 1dari 4

Takut Jabatan dan Kekuasaan

ِ ‫ وَ مِنْ سَيّئَا‬،‫ وَ نَعُوذُ بِالِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا‬،ُ‫ وَ نَسْتَغْفِرُه‬،ُ‫ وَ نَسْتَعِينُه‬،ُ‫إِنّ اْلحَمْدَ لِ نَحْمَدُه‬
‫ت‬
َ‫ و‬،ُ‫ وَ أَشْهَدُ أَنْ لَ إِلَهَ إِلَ ال‬،ُ‫ وَ مَنْ يُضِْللْ فَلَ هَادِيَ لَه‬،ُ‫ مَنْ يَهْدِهِ الُ فَلَ مُضِلّ لَه‬،‫أَعْمَالِنَا‬
ُ‫أَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُه‬
(َ‫ )يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُوا اتّقُوا الَ حَقّ تُقَاتِهِ وَ لَ تَمُوتُنّ إِلّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُون‬:‫قَالَ تَعَالَى‬
َ‫ )يَا أَيّهَا النّسُ اتّقُوا رَبّكُمُ الّذِي َخلَقَكُمْ مِن نّفْسٍ وّحِدَةٍ وّ خََلقَ مِنْهَا زَوْجَهَا و‬:‫وَ قَالَ أَيْضًا‬
ْ‫بَثّ مِنْهُمَا رِجَالً كَثِيًا وّ نِسَاءً وّ اتّقُوا الَ الّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَ الْأَرْحَامَ إِنّ الَ كَانَ عَلَيْكُم‬
(‫رَقِيبًا‬
َ‫ ) يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُوا اتّقُوا الَ وَ قُولُوا قَوْلً سَدِيدًا يّصِْلحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ و‬:ُ‫وَ قَلَ َجلّ َجلَ لَه‬
(‫يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ مَنْ يّطِعِ الَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا‬
َ‫ و‬،َ‫ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمّدٍ صَلّى الُ عَلَيْهِ وَ سَلّم‬،ِ‫ فَإِنّ َأحْسَنَ الْكَلَمِ كَلَمُ ال‬:ُ‫أَمّا بَعْد‬
ِ‫ وَ كُلّ ضَلَلَةٍ فِى النّار‬،ٌ‫ وَ كُلّ بِدْعَةٍ ضَلَلَة‬،ٌ‫ وَ كُلّ مُحْدَثَتٍ بِدْعَة‬،‫شّرّ ْالُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا‬
Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Sudah menjadi keharusan, agar kita bertakwa kepada Allah  dengan takwa yang sebenarnya,
karena takwa kepada Allah merupakan bekal terbaik bagi seorang hamba dalam mengarungi
kehidupan di dunia ini. Yaitu dunia yang penuh dengan tantangan dan godaan setan, baik yang
berwujud jin atau manusia ataupun dalam wujud godaan yang lain yang di antaranya adalah
jabatan, kekuasaan atau kepemimpinan.

Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,


Menjadi pemimpin, penguasa atau pejabat, dalam skala paling kecil sekalipun, bukanlah perkara
enteng. Berat di dunia terlebih-lebih di akhirat, dikarenakan harus bertanggung jawab atas orang-
orang yang dipimpin. Umar bin Khaththab  yang pernah menjabat sebagai pemimpin kaum
muslimin sedunia menyatakan bahwa andai saja kebaikan dan kesalahan beliau dalam memimpin
bisa impas, itu sudah merupakan kesuksesan yang luar biasa.

Sayangnya banyak orang yang menginginkan jabatan, kekuasaan dan kepimpinan. Apalagi bagi
orang yang tergila-gila dengannya, ia akan memperjuangkannya, berusaha meraih dan
mendapatkannya dengan cara apa pun: obral janji, uang, sedekah dan hadiah, pamer kebaikan,
pamer amal dan sosial, jabatan, prestasi, titel dan apapun yang bisa digunakan untuk meraih
angan-angan dan cita-citanya. Jabatan dan kepemimpinan yang sedemikian beratnya, kini
diperebutkan laiknya hidangan lezat di hadapan orang-orang yang kelaparan. Sangat berlawanan
dengan pola sikap ulama salaf terdahulu mengenai jabatan.
Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Rasulullah  telah menyampaikan akan terjadinya ketamakan dan perebutan jabatan dan
kepemimpinan ini pada umat beliau. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah , Nabi
 bersabda,

ُ‫ فَنِعْمَ الْمُرضِعَةُ وَ بِئْسَتِ الْفَاطِمَة‬،ِ‫ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَة‬،ِ‫إِنّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى اْلِمَارَة‬
“Sesungguhnya kalian akan tamak dengan kekuasaan dan kepempimpinan, dan hal itu akan
menjadi penyesalan pada hari kiamat. Nikmat ketika awal mendapatkannya, namun seburuk-
buruk keadaan ketika usai menjalaninya.” (HR. Bukhari)

Pada masa Nabi  masih hidup, tersebutlah bahwa Abu Dzar al-Ghifari  pernah meminta
jabatan kepada Rasulullah . Maka Rasulullah  menepuk pundaknya kemudian bersabda,
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan jabatan itu adalah
amanah. Dan sesungguhnya hal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, melainkan orang
yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban di dalamnya.” (HR. Muslim)

Demikian juga ketika Abu Musa al-Asy'ari  masuk kepada Nabi  bersama dua orang dari
anak-anak pamannya, salah satu di antara mereka berkata, “Wahai Rasulullah , berikanlah
kami jabatan atas sebagian wilayah yang Allah  berikan kepadamu,” dan yang lain pun
mengatakan demikian. Maka Rasulullah  menjawab, “Sesungguhnya -demi Allah- kami tidak
akan memberikan jabatan atas amal ini kepada seorang pun yang memintanya atau seorang pun
yang sangat menginginkannya.” (HR. Bukhari)

Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,


Demikianlah Rasulullah  memperingatkan dengan sangat keras bahwa amanah ini akan menjadi
penyesalan dan kehinaan di akhirat. Dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim
dalam tafsirnya, Neraka berkata, “Adapun aku tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang
sombong, keras kepala dan para pembesar, serta orang-orang yang memiliki harta kekayaan.”

Imam Ahmad mengeluarkan dari hadits Abi Said  dari Nabi , “Surga dan neraka itu saling
berbangga. Neraka berkata, 'Ya Rabb, aku dimasuki oleh orang-orang sombong, keras kepala,
orang-orang mulia dan para raja.' Surga berkata, 'Ya Rabb, yang masuk padaku adalah orang-
orang lemah, fakir dan miskin'.”

Hadits Anas  menjelaskan bahwa Nabi  berkata, “Maukah aku beritahukan kepada kalian
tentang penghuni surga dan penghuni neraka? Penghuni surga adalah setiap yang lemah dan
dilemahkan, memakai pakaian yang lusuh. Kalau dia bersumpah (berdoa) kepada Allah, niscaya
Allah akan mengabulkan doanya. Adapun penghuni neraka adalah orang-orang yang keras
kepala, berbuat kasar sesuka hati dan punya pengikut (ditaati).” (HR. Tirmidzi, ad-Dhiya' dan al-
Hakim)

Hadits-hadits di atas menyebutkan bahwa para penghuni neraka di antaranya adalah para
pembesar, orang-orang mulia dan para raja serta mereka yang mempunyai pengikut dan ditaati.
Ciri-ciri ini semua lekat dengan mereka yang memiliki jabatan, kekuasaan atau kepemimpinan.

Ancaman tersebut juga dikarenakan jabatan, kekuasaan dan kepempimpinan adalah amanah di
atas pundak seseorang. Sedangkan melalaikan amanah adalah khianat. Dan telah disebutkan dari
Iyadh bin Himar  menyatakan bahwa Nabi  dalam khotbahnya menyebutkan, “Penghuni
neraka ada lima: Orang lemah yang tidak punya akal yang selalu mengikuti kamu dan tidak
mempunyai harta dan keluarga, pengkhianat yang tidak menyembunyikan ketamakan
(keinginannya) untuk berkhianat jika ada kesempatan, laki-laki yang selalu menipu keluarga dan
hartamu baik siang atau malam, bakhil lagi dusta dan jahat.” (HR. Muslim)
Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Perhatikanlah wahai orang-orang yang berakal, bagaimana beratnya ancaman kepada mereka
yang mengemban jabatan dan kekuasaan. Perhatikanlah wahai para pejabat dan para penguasa,
bagaimana ancaman yang yang ditujukan kepada kalian di akhirat kelak atas jabatan dan
kekuasaan yang hari ini kebanyakan kalian menginginkannya bahkan menghalalkan segala cara
untuk mendapatkannya. Tidak adakah kita takut sedikit pun terhadap ancaman neraka yang telah
ditujukan kepada kita yang rakus jabatan dan kekuasaan? Apakah kita tidak pernah mendengar
akan dahsyatnya siksaan di neraka?

ْ ْ ْ
Firman Allah ,
ْ ْ ْ ٓ
‫سلٰـِسُل ۖ ي ُسحبون ۝ ِف ٱلحِمِي ُث ِف ٱلنَّاِر‬ َ َ ّ ‫غلٰـُل ِف أ َعنَٰـِقِه َو ٱل‬
َ ‫ل‬َ ‫ِإِذ ٱ‬
َّ َ َ ُ َ
‫يُْسجرون ۝‬
َ ُ َ
“Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang
sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS. Ghafir: 71-72)

Firman Allah ,
ْ
‫طعنَا ٱلرسوَل‬ ‫أ‬ ‫و‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ا‬
ْ
‫عن‬ ‫ط‬ ‫أ‬ ‫آ‬ ‫تن‬‫ي‬ْ ‫يْوم تقلب وجوههْ ف ٱلنار يقولون يـل‬
ُ َّ َ َ َ َ َّ َ َ َ َ َ َ ٰ َ َ ُ ُ َ ِ َّ ِ ُ ُ ُ ُ ُ َّ َ ُ َ َ
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, 'Alangkah
baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.'” (QS. al-Ahzab: 66)

Perhatikanlah ayat-ayat di atas, kemudian marilah kita merenung, apakah kita taat kepada Allah
dan taat kepada Rasul-Nya dalam hal jabatan dan kekuasaan? Ataukah kita senantiasa melanggar
perintah Allah dan Rasul-Nya dan tetap haus jabatan serta meminta-minta jabatan?

Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,


Bagaimanakah kita bersikap terhadap jabatan? Dari Abu Sa'id 'Abdurrahman bin Samurah  ia
berkata, Rasulullah  bersabda kepada saya, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah
engkau meminta jabatan, karena jika engkau diberi jabatan bukan karena engkau meminta,
engkau akan diberi pertolongan atasnya, dan jika engkau diberi jabatan karena engkau
memintanya niscaya jabatan itu akan diserahkan dan dibebankan atasmu. Dan jika engkau
bersumpah atas sesuatu lalu engkau melihat yang lain lebih baik darinya maka lakukanlah yang
lebih baik tersebut dan bayarlah kaffarah atas sumpahmu.” (HR. Bukhari)

Jabatan atau kekuasaan yang dijalankan dengan baik, penuh amanah serta adil merupakan salah
satu penyebab seorang hamba mendapatkan balasan surga di akhirat kelak. Dalam Shahih
Muslim dari Iyadh bin Himar  menyatakan bahwa Nabi  dalam khotbahnya berkata,
“Penghuni surga itu ada tiga: orang yang mempunyai kekuasaan yang adil lagi dermawan (suka
sedekah); laki-laki yang penuh kasih sayang dan lembut hati kepada semua kerabatnya; setiap
muslim yang menjaga dirinya dari hal-hal yang haram dan mempunyai keluarga (anak).”

َ‫أَقُوْ ُل قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الَ لِي وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيَ وَ الْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنّهُ هُو‬
ُ‫الْغَفُورُ الرّحِيْم‬
Khutbah Kedua

ُ‫ وَ أَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَم‬،َ‫ وَ َأشْهَدُ أَنْ لَ إِلَهَ إِلّ الُ وَلِيّ الصّالِحِي‬،َ‫اَلْحَمْدُ لِ رَبّ الْعَالَمِي‬
َ‫ اللّهُمّ صَلّ عَلَى مُحَمّدٍ وَ َعلَى آلِهِ مُحَمّدٍ كَمَا صَلّيْتَ َعلَى آلِ إِبْرَاهِيم‬،َ‫اْلَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِي‬
،ٌ‫وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَ عَلِى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِْبرَاهِيمَ إِنّكَ حَمِيدٌ مَجِيد‬
ُ‫أَمّا بَعْد‬
Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Dengan memahami uraian pada khutbah pertama, hendaklah kita memperhatikan keadaan diri
kita dalam hal kekuasaan. Tidak ambisi dalam menginginkan jabatan, tidak meminta-minta
jabatan serta senantiasa memikirkan akibat bila tidak mampu mengemban amanah berupa jabatan
namun tetap menginginkan jabatan. Hendaknya kita memikirkan akibat di dunia dan terlebih-
lebih akibat di akhirat nanti berupa ancaman siksaan api neraka.

Dan bila kita diserahi jabatan dan kita mampu, hendaknya senantiasa amanah dan adil dengan
jabatan dan kekuasaan yang dimiliki, sehingga insya Allah akan mendapatkan pertolongan Allah
 dalam mengemban jabatan tersebut serta mendapatkan balasan berupa surga di akhirat kelak.

Nabi  berdoa dalam sebuah sabdanya,


‫اللّهُمّ مَنْ وَ لِيَ مِنْ أَمْرِ أُمّتِيْ شَيْئًا فَشَقّ عَلَيْهِمْ فَاشْقِقْ عَلَيْهِ وَ مَنْ وَلِيَ ِمنْ أَمْرِ أُمّتِيْ شَيْئًا‬
ِ‫فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ ِبه‬
“Ya Allah, barangsiapa yang memegang urusan umatku lalu ia mempersulitnya atas mereka,
maka persulitlah dia, dan barangsiapa yang memegang urusan umatku lalu ia berlemah lembut
atas mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut.” (HR. Muslim)

َ ّ‫اللّهُمّ صَلّ عَلَى مُحَمّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى آلِ إِْبرَاهِيْمَ إِن‬
‫ك‬
ِ‫ اللّهُمّ بَرِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَ َعلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَرَكْتَ َعلَى إِْبرَاهِيمَ وَ عَلَى آل‬،ٌ‫حَمِيدٌ مَجِيد‬
.ٌ‫إِبْرَاهِيْمَ إِنّكَ حَمِيدٌ مَجِيد‬
َ‫اللّهُمّ أَصْلِحْنَا وَ أَصِْلحْ وُلَةَ أُمُورِنَا وَ أَعْطِهِمْ الِسْتِقَامَةَ فِى دِينِهِمْ وَ اهْدِهِمْ إِلَى كُلّ خَيْرٍ و‬
ِ‫اجْعَلْنَا مُطِيعِيَ لِوُلَةِ أُمُورِنَا إِنّكَ مُجِيبُ الدّعْوَة‬
‫اللّهُمّ إِنّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التّقَى وَ الْعَفَافَ وَ الْغِنَى‬
‫اللّهُمّ لَ ُتزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنّكَ أَنْتَ الْوَهّاب‬
ُ‫رَبّنَا لَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لّلّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبّنَا إِنّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم‬
.َ‫ وَ الْحَمْدُ لِ رَبِ الْعَالَمِي‬،ِ‫رَبّنَآ ءَاتِنَا فِى الدّنْيَ حَسَنَةً وَ فِى اْلَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النّار‬