Anda di halaman 1dari 5

TKM 308 Engineering Measurement Mechanical Engineering Department, USU

Page 1 of 5

Pengukuran Laju Aliran Fluida


Di dalam dunia keteknikan (engineering), terutama teknik mesin, pengukuran aliran fluida adalah suatu masalah yang sangat banyak dijumpai. Fluida yang dimaksud di sini bisa berupa cairan ataupun gas. Parameter yang biasa digunakan sebagai besaran yang diukur adalah debit aliran yang didefenisikan sebagai volume per satuan waktu ataupun laju aliran massa yang didefenisikan sebagai massa yang mengalir persatuan waktu. Banyak pilihan alat ukur yang tersedia di pasaran maupun yang bisa dirancang sendiri untuk menghitung laju aliran fluida. Dasar pemilihan biasanya berdasarkan : akurasi yang diperlukan, range pegukuran, biaya, kemudahan pembacaan, dan umur alat ukur. Dari banyaknya pilihan seorang engineer biasanya dituntut untuk memilih yang murah tetapi dapat menjalankan fungsi pengukuran dengan akurasi yang diinginkan. Peralatan pengukuran aliran fluida dapat dibagi menjadi 4 bagian, yaitu : 1. metode pengukuran langsung, 2. metode pembatasan aliran, 3. pengukur laju aliran linier, dan 4. metode traversing. Arti dari metode ini akan dijelaskan satu-persatu pada paragraph berikut. 1. Metode Pengukuran Langsung Pada metode ini sejumlah volume dari fluida yang mengalir ditampung secara langsung dengan menggunakan wadah penampung atau tangki. Laju aliran yang didapatkan akan merupakan jumlah aliran yang ditampung dibagi dengan lama penampungan. Cara ini tergolong sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan yang rumit, cukup media penampung dan juga alat pengukur waktu. Tetapi kelemahannya adalah kurang akurat, dan terutama pada pengukuran yang melibatkan gas efek dari perubahan volume harus diperkirakan. 2. Metode Pembatasan aliran Metode ini umumnya digunakan untuk mengukur aliran fluida di dalam pipa (Bisa juga untuk aliran luar tetapi khusus aliran laminar). Prinsip dasar metode ini adalah membatasi aliran fluida pada suatu penampang, akibat penampang yang menyempit maka kecepatan aliran fluida akan bertambah (mengalami percepatan). Akibat perbedaan kecepatan aliran fluida akan terjadi perbedaan tekanan. Dengan mengaplikasikan hukum Bernoully, maka perbedaan tekanan ini dapat diubah menjadi laju aliran. Jika memperhatikan prinsip kerja metode ini, sebenarnya yang diukur secara langsung adalah perbedaan tekanan. Perbedaan tekanan inilah yang dikonversikan menjadi laju aliran. Prinsip kerja metode ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut.

Gambar 1 Aliran dalam pipa yang dipasang nozel Aliran fluida pada penampang 1 dengan kecepatan v1 akan mempunyai tekanan p1. Akibat penyempitan, kecepatannya akan bertambah menjadi v2, tetapi tekanan nya akan berkurang menjadi p2. Dengan menggunakan hokum kekekalan energy (Hukum Bernoully) pada fluida ini, maka akan didapatkan laju aliran massa, yang secara theory dirumuskan sebagai berikut:

theory = m

A2 1 ( A2 A1 )
2

2 ( p1 p 2 )

(1)

Persamaan ini hanyalah persamaan theory, karena banyak faktor-faktor yang telah diasumsikan pada penurunan rumus ini. Misalnya: profil kecepatan benar-benar seragam di setiap penampang dan koefisien gesekan antara penampang dan fluida dianggag nol. Pada kenyataannya (actual) persamaan di atas akan menyimpang menjadi:

Created by AMBARITA Himsar

TKM 308 Engineering Measurement Mechanical Engineering Department, USU

Page 2 of 5

actual = m

1 ( A2 A1 )

CA2

2 ( p1 p2 )

(2)

Dimana C adalah koefisient discharge yang didapatkan secara eksperiment. Jika dimensi dari pipa dan koefisient discharge disatukan lagi menjadi koefisient aliran K, persamaan (2) dapat ditulis menjadi: actual = KA1 2 ( p1 p 2 ) m (3) Dimana K
C 14

dan = D2 D1

Data hasil pengujian alat ukur laju aliran dapat digunakan untuk membangun persamaan empiris untuk memprediksi hubungan antara koefisient aliran (K), diameter pipa dan bilangan Reynolds. Jika persamaan ini tidak tersedia, maka anda harus mengujinya sendiri untuk menentukan nilai dari koefisien aliran yang sesuai. Salah satu persamaan empiris yang dapat digunakan untuk menghitung koefisien aliran dalam pipa dengan jenis aliran turbulent ( Re D > 4000 ) adalah : 1 b K = K + (4) 4 Re n 1 D

Dimana simbol tak terhingga ( ) menyatakan koefisient aliran pada bilangan Reynolds tak terhingga dan konstanta b dan n adalah faktor. Nilai dari konstanta-konstanta ini akan ditentukan oleh bentuk penghambat aliran yang digunakan. Untuk menentukan koefisient yang sesuai, maka jenis-jenis penghambat akan dibagi berdasarkan Tabel 1 berikut ini (Fox and McDonald, 1992). Tabel 1. Karakteristik dari Orifice, Flow Nozzle, dan Ventury meter

Flat Orifice Sistem ini digambarkan pada gambar 2. Sistem ini mudah diinstal (biayanya lebih murah) dan ditarik lagi. Kelemahan utama system ini adalah: karena bentuknya yang tajam membuat hambatan yang besar kepada aliran fluida (high head loss) dan kapasitas pengukurannya yang terbatas. Persamaan empiris dari koefisient discharge untuk flat orifice yang consentrik dapat dituliskan pada persamaan berikut:

C = 0,5959 + 0,0312 2.1 0.184 8 + 91,71


(5)

2.5 0.75 Re D1
2

Created by AMBARITA Himsar

TKM 308 Engineering Measurement Mechanical Engineering Department, USU

Page 3 of 5

Persamaan ini dapat memprediksi koefisient discharge dengan akurasi kisaran bilangan Reynolds 10 4 < Re D1 < 10 7

0.6% untuk

0.2 < < 0.75 dengan

Gambar 2 Type Flat Orifice Beberapa grafik koefisien aliran yang dihitung dengan menggunakan persamaan (5) ditampilkan pada gambar (3).

Gambar 3 Koefisien aliran untuk konsentrik orifice

Gambar 4 Tipical pemasangan nozel pada plenum dan duct

Created by AMBARITA Himsar

TKM 308 Engineering Measurement Mechanical Engineering Department, USU

Page 4 of 5

Flow Nozzle Flow nozzle dapat digunakan untuk pengukuran pada plenum dan duct, seperti yang ditunjukkan di gambar 4. Umumnya penampang nozzle yang digunakan berbentuk seperempat ellips. Persamaaan yang direkomendaikan ASME yang dapat digunakan adalah:

C = 0.9975

6.53 0.5 ,5 Re 0 D1

(6)

Persamaan ini mempunyai toleransi sekitar 2.0% untuk 0,25 < < 0,75 dan 10 4 < Re D1 < 10 7 . Dengan meggunakan persamaan ini, grafik koefisien untuk beberapa kasus dapat digambarkan pada gambar (5)

Gambar 5 Koefisien aliran untuk aliran nozel Venturi meter Ventury meter umumnya dibuat dengan menggunakan casting machine dengan standarisasi yang tinggi, dengan cirri utama berat dan mahal. Secara experimental koefisien discharge unutk venture meter berkisar antara 0,98-0,995 pada bilangan Reynolds yang besar ( Re D1 > 2 10 5 ). Oleh karena itu, nilai C=0,99 dapat digunakan untuk menghitung laju aliran dengan toleransi 1% pada bilangan Reynolds yang tinggi. Contoh soal 1. Sebuah flat orifice dipasang pada pipa air berdiameter D1=20 cm. Pada orifice dipasang plat penyempit hingga diameter penampangnya menjadi 14 cm. Air mengalir melalui pipa pada suhu 20 0C dengan sifat: massa jenis 997 kg/m3 dan viskositas 1,002 10 3 Ns/m2. Jika perbedaan tekanan sebelum dan setelah orifice, sebesar 10 kPa, tentukanlah laju aliran di dalam pipa saat itu. 2. Tentukan laju aliran di dalam pipa pada soal No 1, jika yang anda gunakan itu adalah Flow nozzle. Semua besaran yang lainnya anggap sama.

Created by AMBARITA Himsar

TKM 308 Engineering Measurement Mechanical Engineering Department, USU

Page 5 of 5

3. Tentukan laju aliran di dalam pipa pada soal No 1, jika yang anda gunakan itu adalah Venturi meter. Semua besaran yang lainnya anggap sama. Penyelesaian Soal No 1. Known : D1=20cm, A1 =
1 4 2 2 D12 = 0,0314m 2 , D2=14cm, A2 = 1 4 D2 = 0,015386m

= D2 D1 = 0,7 , p1-p2= 10kPa CA2 actual = 2 ( p1 p2 ) ..?? Question : m 2 1 ( A2 A1 )


Untuk menjawab soal ini kita hanya perlu menghitung nilai C, dengan menggunakan persamaan (5) atau grafik pada gambar (3). Yang menjadi masalah, untuk menghitung C dari persamaan (3) atau grafik pada gambar (5) kita harus mengetahui niai dari Bilangan Reynolds di dalam pipa. Sementara nilai bilangan Reynolds hanya bisa dihitung jika kecepatan air di dalam pipa diketahui. Kesimpulannya, karena semua parameternya saling terkait, untuk menyelesaikan soal ini, kita harus melakukan perhitungan trial and error (coba-coba). Kita harus memulainya dengan menebak besar kecepatan air di dalam pipa. Untuk mempersingkat langkah cobacoba, maka diperlukan tebakan awal yang sedekat mungkin dengan jawaban. Oleh karena itu, gunakanlah persamaan (1), aliran therotik. Langkah 1

theory = m

A2 1 ( A2 A1 )
2

2 ( p1 p 2 ) , dengan memasukkan semua nilainya, didapat m theory = 78,81522kg / s

= A1V1 akan didapat nilai dari V1=3,5966 m/s. Dengan menggunakan persamaan m Langkah 2 (Di sini Nilai V1 diketahui)
Hitung bilangan Reynolds Re D1 = Langkah 3 Hitung nilai C = 0,5959 + 0,0312 Langkah 4
2.1

V1 D1 =501005

0.184 8 + 91,71

2.5 0.75 =0,602 Re D1

actual = Hitung m

1 ( A2 A1 )

CA2

2 ( p1 p2 ) =47,45 kg/s

= A1V1 Hitung lagi nilai V1 dengan menggunakan m


Diperoleh V1 =1,515 m/s. Karena nilai ini masih jauh dari tebakan awal tadi, maka harus kita hitung ulang lagi. Kembali ke Langkah 2, tetapi masukkan nilai V1 yang sekarang = 1,515 m/s. Jika anda ikuti langkah di atas maka akan didapatkan nilai V1=1,518 m/s. Jika anda ingin mendapatkan jawaban yang lebih teliti lagi maka perhitungan bisa diulang lagi. Tetapi karena bedanya tidak terlalu jauh lagi maka perhitungan bisa dihentikan sampai di sini. Dan jawaban yang dinginkan adalah V1=1,518 m/s. Penyelesaian soal No 2. Sama dengan No 1, tetapi untuk menghitung nilai C gunakan persamaan (6). Penyelesaian soal No 3. Tidak perlu menggunakan proses coba-coba seperti soal sebelumnya, karena di sini disarankan nilai C yang digunakan bisa sebesar C=0,99. Jadi persamaan (2) bisa langsung digunakan.

Created by AMBARITA Himsar

Anda mungkin juga menyukai