Anda di halaman 1dari 9

Uji Stabilitas Kimia Suspensi Amoksisilin dengan Metode

Spektrofotometri UV
Chemical Stability Testing of Amoxicillin Suspension by UV
Spectrophotometric
Risti Asrina, Rehana,

Hendri Wasito
J urusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Ilmu Kesehatan Universitas J enderal
Soedirman
rere.rehana@gmail.com, 085287654014
INTISARI
Amoksisilin adalah salah satu antibiotik golongan beta laktam yang banyak
digunakan. Amoksisilin tidak stabil dalamair karena tegangan ikatan antara atomN
dengan atom C gugus karbonil pada cincin -laktam sangat besar. Hal ini berpengaruh
terhadap stabilitas sirup kering amoksisilin yang telah direkonstitusi menjadi suspensi
amoksisilin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu kadaluwarsa suspensi
amoksisilin yang disimpan pada suhu ruang.
Waktu kadaluwarsa dapat diketahui melalui uji stabilitas. Uji stabilitas suspensi
amoksisilin dilakukan dengan cara mengukur kadar amoksisilin dalam suspensi
amoksisilin sesaat setelah rekonstitusi dan setiap 24 jamhingga 14 hari. Pengukuran
kadar amoksisilin dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV. Data
waktu kadaluwarsa disajikan dalambentuk rerata dan simpangan baku.
Analisis amoksisilin dengan spektrofotometri UV memperoleh absorbansi
maksimal pada panjang gelombang 247,2 nm. Hasil penelitian menunjukkan waktu
kadaluwarsa sampel suspensi amoksisilin generik adalah 13,98 hari.
Kata kunci: amoksisilin, suspensi amoksisilin, spektrofotometri UV
ABSTRACT
Amoxicillin is the most widely used of beta-lactam antibiotics. Amoxicillin is
unstable in water due to highly strain of the C - N bond in carbonyl group of -lactam
ring. This affect the stability of amoxicillin dry syrup that have been reconstituted to be
amoxicillin suspension. The purpose of this study was to determine the expiry date of
amoxicillin suspension that storage in room temperature.
Expiry date can be determined through stability test. Stability test was conducted
by measurement the levels of amoxicillin in amoxicillin suspension immediately after
reconstitusion and every 24 hours during 14 days. The levels of amoxicillin examined by
UV spectrophotometric method. Data of expiry date was presented as mean and standard
deviasi.
Amoxicillin was analyzed by UV spectrophotometric method obtained absorbs
maximally at 247,2 nm. The study results show that the expiry date of generic amoxicillin
suspension sample is 13,98 days.
Keywords: amoxicillin, amoxicillin suspension, UV spectrophotometric
PENDAHULUAN
Amoksisilin merupakan salah satu antibiotik yang paling banyak
digunakan di Indonesia (Hadi et al., 2008). Antibiotik ini termasuk golongan
penisilin yang sukar larut dalam air (Anonim
a
, 2009). Amoksisilin rentan berubah
khususnya apabila disimpan dalam keadaan bersuhu cukup tinggi (di atas 30 )
dan dicampur dengan air (Nugrahani et al., 2007).
Amoksisilin dalam perdagangan biasanya diformulasikan dalam bentuk
sediaan sirup kering yang dapat mengatasi sifat amoksisilin yang kurang stabil
dalam air tersebut (Ansel, 1995; Lasy, et al., 2004). Amoksisilin dalam sediaan
sirup kering sebelum digunakan terlebih dahulu direkonstitusi menjadi suspensi
amoksisilin dengan cara ditambah air hingga tanda batas. Sifat amoksisilin yang
cenderung kurang stabil dalam air menjadikan suspensi amoksisilin mempunyai
waktu kadaluwarsa yang cukup pendek setelah direkonstitusi yaitu 14 hari
(Dawson, 1994).
Suhu merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap degradasi
kimia dalam suatu obat. Hal ini juga berpengaruh terhadap stabilitas obat di
negara Indonesia dimana terdapat fluktuasi suhu yang memungkinkan adanya titik
waktu pada siang hari berada di atas suhu yang disarankan (di bawah 30 ).
Termasuk amoksisilin, yang penguraiannya ini salah satunya dipengaruhi oleh
suhu. Peningkatan suhu akan mempercepat penguraian amoksisilin (Markhamah,
2005; Martiningsih, 2005).
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
waktu kadaluwarsa suspensi amoksisilin yang disimpan pada suhu ruang.
METODE
Rancangan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental labolatoriumyang meliputi
pengambilan sampel suspensi amoksisilin generik diambil dari satu pabrikan secara
accidental sampling dilanjutkan dengan pengujian stabilitas kadar zat aktif suspensi
amoksisilin pada suhu kamar (di bawah 30
o
C) selama 14 hari.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah amoksisilin standar (BPOM), sirup kering
amoksisilin (generik), aquadest, NaOH p.a (Merk Jerman).
Alat yang digunakan antara lain: Spektrofotometer UV-Vis (Halo RB-10-
Dynamica designed in Australia), timbangan analitik (HR-200 made in J apan, spesifikasi:
Max 210 g, d=0,1 mg), alat-alat gelas.

Cara Kerja
1. Penyiapan suspensi amoksisilin
Sirup kering amoksisilin disuspensikan dalam aquades dengan cara penambahan
aquades sampai setengah tanda batas kemudian digojog, lalu ditambah aquades lagi
hingga tanda batas kemudian digojog hingga tersuspensi homogen. Suspensi amoksisilin
kemudian disimpan pada ruangan tanpa pendingin ruangan.
2. Uji stabilitas suspensi amoksisilin
Uji stabilitas suspensi amoksisilin dilakukan dengan cara mengukur kadar amoksisilin
dalam suspensi amoksisilin sesaat setelah rekonstitusi dan setiap 24 jamhingga 14 hari.
Uji stabilitas dilakukan dengan tiga botol suspensi amoksisilin dengan nomor batch yang
sama.
3. Pengukuran kadar amoksisilin dengan metode spektrofotometri UV
a. Penentuan panjang gelombang maksimal
Sebanyak 1 mg amoksisilin dilarutkan dalam10 mL NaOH 0,1 N maka diperoleh
larutan amoksisilin dengan konsentrasi 100 g/mL. Kemudian dari 100 g/mL
diambil 3 mL diencerkan dengan 10 mL NaOH 0,1 N sehingga diperoleh larutan
amoksisilin dengan konsentrasi 30 g/mL. Larutan amoksisilin tersebut dibaca
serapannya pada rentang panjang gelombang 190-380 nm(Unal et al.,2008).
b. Penentuan waktu operasional
Sebanyak 1 mg amoksisilin standar dilarutkan dalam 10 mL NaOH 0,1 N sehingga
diperoleh larutan amoksisilin dengan konsentrasi 100 g/mL. 3 mL diambil dari
100 g/mL kemudian dilarutkan dengan 10 mL NaOH 0,1 N sehingga diperoleh
larutan dengan konsentrasi 30 g/mL. Larutan amoksisilin 30 g/mL dalamNaOH
0,1 N dibaca absorbsinya pada panjang gelombang maksimal hingga 60 menit
sejak pelarutan (Rohman, 2007).
c. Pembuatan kurva baku standar amoksisilin
Kurva baku larutan standar amoksisilin ditentukan dengan cara membuat kurva
kalibrasi regresi linier antara absorbansi larutan dengan konsentrasi standar
amoksisilin dalamlarutan NaOH 0,1 N dengan kadar bertingkat dari 10,40- 32,50
g/mL yang dibaca pada panjang gelombang maksimumyang didapat.
d. Preparasi sampel
Sebanyak 2 mL sampel suspensi amoksisilin dimasukkan ke dalam labu takar 25
mL dan ditambahkan larutan NaOH 0,1 N sampai 25 mL kemudian digojog hingga
homogen dan didiamkan pada suhu ruang hingga terjadi pengendapan sempurna
komponen yang tidak larut. Sampel kemudian disaring menggunakan kertas
whattman 42. 5 mL filtrat pertama dibuang filtrat berikutnya ditampung. Kemudian
1 mL filtrat dilarutkan dengan 100 mL NaOH 0,1 N. Kemudian larutan tersebut
dibaca absorbansinya dengan spektrofotometer UV-Vis (Unal et al.,2008).


Keterangan:
t90% = waktu kadaluwarsa
a =berpotongan dengan sumbu y
(intercept)
b = kemiringan(slope)
e. Pengukuran kadar amoksisilin dalamsampel
Larutan amoksisilin dalam NaOH 0,1 N diukur absorbansinya pada panjang
gelombang maksimal dalam rentang waktu operasional kadar amoksisilin dalam
sampel (mg/5 mL) dihitung dengan rumus:



Keterangan: b =kemiringan (slope)
a =berpotongan dengan sumbu y (intercept)

4. Penentuan orde reaksi
Orde reaksi suspensi amoksisilin ditentukan dengan membandingkan nilai koefisien
korelasi (r) kadar atau log kadar atau 1/ kadar sebagai fungsi waktu. Orde reaksi terpilih
adalah persamaan yang memiliki nilai koefisien korelasi paling mendekati nilai 1.
Untuk mengetahui koefisien korelasi (r) dimana degradasi obat diasumsikan
mengikuti orde nol atau orde satu atau orde dua, maka dibuat kurva hubungan kadar
(mg/5mL sampel) sebagai fungsi waktu (hari).
y =bx +o
Keterangan: y =kadar amoksisilin (mg/5mL sampel atau log mg/5mL sampel atau
1/(mg/5mL sampel))
x =waktu (hari)
a =berpotongan dengan sumbu y (intercept)
b =kemiringan (slope)
(Bolton dan Bon, 2010)
5. Penentuan waktu kadaluwarsa
Waktu kadaluwarsa adalah waktu dimana kadar amoksisilin tidak boleh kurang dari
90% kadar yang tercantum pada label atau dengan kata lain tidak kurang dari 112,5 mg/ 5
mL, sesuai dengan Farmakope Indonesia edisi IV (1995). Waktu kadaluwarsa (t
90%
)
ditentukan menggunakan persamaan regresi terpilih dengan cara memasukkan nilai 112,5
mg/5 mL sebagai nilai y dalam bentuk kadar (112,5) ataupun log kadar (log 112,5) atau
1/kadar (1/112,5).
J ika degradasi obat mengikuti orde 0 maka :
t
90%
=
(112,5 o)
b


(Bolton dan Bon, 2010)

(absorbansi a)
1000
Kadar
=
b
faktor pengenceran x 5
x
Keterangan:
TK = Suhu rata-rata kinetik
H = Energi aktivasi (83144.72 J /mol)
R = konstanta gas universal(8.314472 J /mol.K)
T1 = nilai untuk suhu yang tercatat selama periode waktu
pertama, misalnya minggu pertama
T2 = nilai untuk suhu yang tercatat selama periode waktu
yang kedua, misalnya, minggu kedua
Tn = nilai suhu dicatat selama periode waktu ke-n, misalnya
n minggu th
[Catatan-Semua suhu, T, adalah suhu mutlak dalamderajat
Kelvin(K).]
(Anonim
b
, 2009)
Keterangan:
t90% = waktu kadaluwarsa
a =berpotongan dengan sumbu y
(intercept)
b = kemiringan(slope)
Keterangan:
t90% = waktu kadaluwarsa
a =berpotongan dengan sumbu y
(intercept)
b = kemiringan(slope)
J ika degradasi obat mengikuti orde 1 maka :

t
90%
=
(log112,5 o)
b

(Bolton dan Bon, 2010)
J ika degradasi obat mengikuti orde 2 maka :

t
90%
=
[
1
112,5
o
b



(Bolton dan Bon, 2010)
6. Pemantauan suhu penyimpanan
Suhu penyimpanan dipantau sejak pembuatan suspensi hingga hari ke 14 setiap
harinya secara periodik setiap 6 jam. Suhu dipantau pada saat titik tertentu setiap hari
pada pukul 06.00, pukul 12.00, pukul 18.00, dan pukul 24.00.
Suhu rata rata kinetik penyimpanan dihitung dengan rumus :
I
K
=
E
R
ln_
c
-H
R1
1
+c
-H
R1
2
++c
-H
R1
n
n
_








7. Penentuan Persen Perolehan Kembali (Recovery)
Uji perolehan kembali (recovery) dilakukan dengan cara menambahkan
amoksisilin standar 20 ppm sebanyak 2 mL ke dalam 2 mL sampel amoksisilin kemudian
diperlakukan sama seperti pada sampel.
Perhitungan perolehan kembali dapat ditetapkan dengan rumus sebagai berikut:
% Pcrolcon kcmboli =
(C
P
C
A
)
C
A

100%
Keterangan: C
F
=konsentrasi total sampel yang diperoleh dari pengukuran
C
A
=konsentrasi sampel sebenarnya
C*
A
=konsentrasi analit yang ditambahkan
(Harmita, 2004)
G. Analisis Data
Data waktu kadaluwarsa disajikan dalam bentuk rerata dan simpangan baku. Data
suhu penyimpanan disajikan dalambentuk rerata kinetik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Amoksisilin dianalisis menggunakan spektrofotometer UV dengan pelarut
NaOH 0,1 N pada panjang gelombang maksimal 247,2 nm dengan rentang
panjang gelombang 190-380 nm. Panjang gelombang maksimal masih berada
dalam rentang penerimaan panjang gelombang maksimal menurut European
Pharmacopoeia (2011
b
) yaitu 2 nm dari panjang gelombang maksimal teorik
yaitu 247 nm (Unal et al.,2008). Amoksisilin yang memiliki sistem bisiklik dalam
keadaan asam atau netral, memungkinkan nitrogen -laktam tidak stabil untuk
memberikan pasangan elektron bebas ke dalam gugus karbonil. Sehingga
pasangan elektron bebas itu tetap pada nitrogen dan gugus karbonil menjadi jauh
lebih elektrofilik (Patrick, 1995). Oleh karena itu, pelarut yang digunakan dalam
penelitian ini adalah NaOH 0,1 N.
Kestabilan amoksisilin dalam suasana basa dibuktikan dengan
diperolehnya nilai absorbansi yang stabil pada saat pengukuran waktu operasional
amoksisilin menit ke 20-80 sejak pelarutan amoksisilin dengan NaOH 0,1 N.
Penentuan waktu operasional dilakukan dengan menggunakan larutan standar
amoksisilin 30 g/mL. Amoksisilin ditentukan waktu operasionalnya dengan
tujuan untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil (Rohman, 2007).
Hasilnya dibuat kurva baku yang menyatakan hubungan antara waktu pengukuran
larutan standar dengan respon instrumen berupa hasil absorbansi.





Dari kurva waktu operasional dapat dilihat absorbsi awal 0,790 stabil
hingga 60 menit dengan penyimpangan terbesar 0,788 (99,747% terhadap nilai
absorbansi awal) yang berarti masih dalam rentang penerimaan untuk analisis
fisikokimia dengan kepercayaan 95% (Santjaka, 2008).
Hasil penetapan kadar amoksisilin rata-rata dari pengukuran tiga botol
suspensi amoksisilin sejak sesaat setelah direkonstitusi selama 24 jam selama 14
hari disajikan dalam bentuk kurva. Hasil penetapan kadar ini didasarkan pada
persamaan regresi linier absorbansi sebagai fungsi konsentrasi amoksisilin standar
yaitu y =0,0268x - 0,0888 dengan r= 0,9981. Nilai r tersebut >r
95%; 4
(0, 729)
0.788
0.789
0.79
0.791
0 20 40 60 80 100
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Waktu (menit)
Gambar 1. Kurva waktu operasional larutan standar amoksisilin
0
50
100
150
200
250
0 5 10 15
yang berarti terdapat hubungan linear antara absorbansi dan sehingga persamaan
tersebut dapat digunakan untuk konfersi absorbansi sampel menjadi kadar
amoksisilin (Nasir, 1985). Kurva tersebut merupakan hubungan hasil kadar (mg/5
mL) sebagai fungsi waktu (hari).








Dilihat dari kurva dapat diperoleh bahwa terdapat kecenderungan
penurunan kadar amoksisilin setiap harinya. Meskipun kadar awal melebihi
persyaratan yaitu 120% dari 125 mg/5 mL, kadar yang lebih besar juga
kemungkinan dikarenakan metode analisis tidak valid maka dilakukan uji
perolehan kembali. Persen perolehan kembali (recovery) dilakukan dengan
metode penambahan amoksisilin standar pada sampel (standard addition). Hasil
persen perolehan kembali adalah 423% yang menunjukkan metode analisis yang
digunakan tidak akurat jika diterapkan pada spektrofotometer UV-Vis di
laboratorium Biologi Faramasi.
Metode yang digunakan merupakan metode yang dikembangkan oleh
Unal, et al (2008). Hasil penelitian Unal, et al (2008) telah mencapai tahap
validasi yang meliputi selektivitas, akurasi, dan ketahanan. Namun, tidak ada
pernyataan metode tersebut memiliki ketahanan jika diterapkan pada berbagai
instrumen dan kondisi laboratorium.
Kadar amoksisilin selama penyimpanan dijadikan acuan untuk penentuan
waktu kadaluwarsa dengan terlebih dahulu ditentukan orde reaksi suspensi
amoksisilin tersebut. Orde reaksi dilakukan dengan membandingkan koefisien (r)
persamaan regresi kadar atau log kadar atau 1/kadar sebagai fungsi waktu. Nilai
koefisien korelasi yang paling mendekati |1| adalah koefisien korelasi log kadar
sebagai fungsi waktu yaitu -0, 9451 yang berarti degradasi suspensi amoksisilin
mengikuti orde satu. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Connors, et al.,(1992)
bahwa amoksisilin secara umum beraksi dengan kinetika orde satu dan Gohel, et
al., (2007) bahwa suspensi secara umum mengikuti orde nol atau orde satu tetapi
jika konsentrasi tidak encer cenderung mengikuti orde satu.
Hasil perhitungan waktu kadaluwarsa sampel suspensi amoksisilin
berdasarkan orde satu adalah 13, 98 hari. Pemantauan suhu yang dilakukan selama
14 hari menghasil rata-rata kinetik suhu penyimpanan suspensi amoksisilin yaitu
29,48 . Berdasarkan hasil pemantauan suhu penyimpanan tersebut, maka suhu
penyimpanan masih berada dalam rentang suhu penyimpanan yang disarankan (di
bawah 30 ).

K
a
d
a
r

(mg/5mL)
Gambar 2. Kurva hasil penetapan kadar rata-rata amoksisilin
Waktu (hari)
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Waktu kadaluwarsa sampel suspensi amoksisilin generik yang diteliti adalah
13,98 hari.
Saran
Perlu pelaksanaan analisis amoksisilin yang lebih cermat dengan didukung
dengan peralatan yang telah dikalibrasi, pelarut yang baik, dan taat asas prosedur.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim
a
, 2009, British Farmakopeia, 361- 362, 7984-7985, Departemen of
Health, London.
Anonim
b
, 2009, United States Pharmacopeial 29-NF24, 1625, United States
Pharmacopeial Convention, United States of Amerika.
Ansel, H.C., Nicholas G.P., Loyd V.A., 1995, Pharmaceutical Dosage Forms and
Drug Delivery systems, Sixth edition, 120-133, 231, 253-255, A Lea and
Febiger Book, Philadelphia.
Bolton, S. dan Bon, C., 2010, Pharmaceutical statistics: practical and clinical
applications, 5
rd
ed, 147-180, Informa Healthcare USA Inc., New York.
Connors, K.A, Amidon GL, dan Kennon L., 1992, Stabilitas Kimia Sediaaan
Farmasi jilid 1, diterjemahkan oleh Didik Gunawan, Edisi ke 2, 31- 78,
129- 139, 163- 171, IKIP Semarang Press, Semarang.
Dawson, M., 1994, Expired Date,
http://www.australianprescriber.com/magazine/17/2/46/8/, diakses 2 April
2011.
Gohel, Dr. M., Dr. Rajesh P., Amirali P., Ashutosh M., Bhavesh B., Chetan P.,
Hardik J ., Krishnakant S., Lalji B., Pritesh M., Punit P., Ramesh P., Stavan
N., dan Tushar P., 2007, Pharmaceutical Suspensions, Review
Hadi, U., D.Offra D., Endang S. L., Nico J . N., Susanne W., Monique K., Eddy
S., Eddy R., Peterhans van den B., dan Inge C. G., 2008, Survey of
antibiotic use of individuals visiting public healthcare facilities in Indonesia,
Artikel Ilmiah
Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Pelaksanaanya,
Review Artikel
Lasy, C. F., L.L. Amstrong, M.P. dan Goldman, L. L. Lance, 2004, Drug
Information Handbook, 12
th
Edition, 97, Lexi Comp, Ohio.
Markhamah, 2005, Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Stabilitas Kaplet
Amoksisilin Merk Dagang, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas
Muhammadiyah Purwokerto, Purwokerto. Tidak Dipublikasikan.
Martiningsih, 2005, Pengaruh Suhu Penyimpanan terhadap Stabilitas Kaplet
Amoksisilin (Generik), Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas
Muhammadiyah Purwokerto, Purwokerto. Tidak Dipublikasikan.
Nasir, M., 1985, Metode Penelitian cetakan pertama, Ghalia Indonesia, J akarta.
Nugrahani, I.S. Asyarie, S.N., Soewandhi, S., Ibrahim, 2007, Potensi Antibiotika
dan Profil Farmakokinetika Amoksisilina Monohidrat Hasil Kristalisasi
beku Kering, Pharmacon, 8(2): 51-55.
Patrick, G. L., 1995, An Introduction to Medicinal Chemistry, 166- 178, Oxford
University Press, New York.
Rohman, A., 2007, Kimia Analisis Farmasi, 220- 264, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.
Santjaka, A., 2008, Biostatistik, 55-57, Global Internusa, Purwokerto.
Unal, K., Murat P., Elif K., dan Feyyaz O., 2008, Spectrophotometric
Determination of Amoxicillin in Pharmaceutical Formulation, Turk. J.
Pharm. Sci. 5(1) 1-16.