Anda di halaman 1dari 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Media Pertumbuhan Mikroorganisme Media pertumbuhan adalah suatu bahan yang merupakan campuran dari zat-zat makanan yang diperlukan mikroorganisme selama proses pertumbuhan berlangsung. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi yang terdapat dalam media untuk

berkembangbiak dengan cara merakit molekul-molekul yang kemudian menyusun komponen sel dan memperbanyak diri sehingga sel-sel tersebut dapat dimanfaatkan. Dengan media pertumbuhan, dapat dilakukan isolasi mikroorganisme menjadi kultur tunggal dan juga mengembangbiakkan mikroorganisme menguntungkan untuk

kepentingan tertentu. Sedangkan menurut Andrews dkk (2004:4), kultur media adalah substansi dengan kadar tertentu dalam bentuk cair, setengah padat atau padat yang mengandung bahan alami dan atau buatan untuk mendukung perkembangbiakan mikroorganisme. Menurut Stanier dkk (1976), tujuan utama dalam pembuatan media biakan bagi setiap mikroorganisme adalah memberikan suatu campuran nutrisi dengan syarat zat gizi yang berimbang dan pada konsentrasi yang dapat memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme dengan baik. 2.2 Syarat Media Pertumbuhan Mikroorganisme Media pertumbuhan mikroorganisme, harus memenuhi persyaratan untuk dapat dijadikan sebagai tempat pengembangbiakan mikroba yang baik antara lain: 1. Mengandung semua unsur hara baik makro maupun mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan mikoorganisme 2. Memiliki tekanan osmosis, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba agar mikroba dapat tumbuh dan berkembang. 3. Media harus dalam keadaan steril, artinya sebelum ditanami mikroorganisme yang diinginkan, media harus disterilisasi terlebih dahulu agar tidak ditumbuhi mikroba lain yang tidak diharapkan. (Hamdiyati, 2012). 2.3 Nutrien dalam Media yang Dibutuhkan untuk Pertumbuhan Mikroorganisme Dalam pertumbuhannya, mikroorganisme memerlukan banyak nutrisi. Beberapa komponen-komponen tertentu yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media pertumbuhan adalah sebagai berikut: 1. Sumber karbon: mikroorganisme autotrof mendapatkan karbon dari sumber karbon anorganik, sedangkan mikroorganisme heterotrof mendapatkan karbon dari sumber karbon organik. 1

2. Sumber nitrogen: mikroorganisme dapat mendapatkan nitrogen dari sumber nitrogen yang mencakup asam amino, protein atau senyawa bernitrogen lain yang terkandung pada peptone, meat extract, atau tryptose. 3. Sumber oksigen: mikroorganisme heterotrof yang dikulturkan pada cawan, sebagian besar mendapatkan oksigen langsung dari udara sedangkan mikroorganisme yang dikultur pada media cair mendapatkan oksigen dari oksigen yang terlarut dalam air. 4. Sumber fosfat: mikroorganisme dapat mendapatkan fosfat dari sumber organik seperti beberapa protein, kofaktor atau ATP yang dapat dijumpai pada bahan yeast extract atau pepton. 5. Sumber unsur mikronutrien: mikroorganisme dapat memperoleh unsur mikronutrien dari akuades atau peralatan gelas. Fungsinya sebagai bagian dari enzim atau kofaktor untuk menjadi katalis reaksi (Prescott & Harley, 2002:98). 2.4 Komposisi Media Pertumbuhan Mikroorganisme Komposisi media pertumbuhan mikroorganisme harus diatur dengan takaran yang sesuai. Berikut adalah beberapa bahan-bahan yang umumnya dipakai dalam pembuatan media pertumbuhan menurut Atlas (2010:1-8): 1. Agar Agar adalah bahan yang paling umum digunakan sebagai gelling agent pada media yang terbuat dari ekstrak alga. Agar bukan sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme namun fungsinya lebih bersifat mekanis yaitu memadatkan media cair sehingga sel tidak larut dalam cairan. 2. Peptone Peptone adalah hasil hidrolisis protein yang dibentuk dari proses enzimatik atau digesti asam. Casein banyak digunakan sebagai substrat pembentuk peptone, tetapi beberapa bahan lain seperti soybean meal juga sering digunakan. 3. Meat/plant extract Ekstrak daging dan tumbuhan mengandung asam amino, peptida dengan berat molekul rendah, karbohidrat, vitamin, mineral, dan trace metals. Ekstrak jaringan hewan mengandung lebih banyak bahan protein larut air dan glikogen sedangkan ekstrak tumbuhan lebih banyak terdapat karbohidrat di dalamnya.

2.5 Macam-macam Media Pertumbuhan Mikroorganisme Berdasarkan sifat fisiknya, media pertumbuhan terbagi menjadi 3 yaitu: 1. Media padat: media yang mengandung agar 15g/L sehingga setelah dingin media menjadi padat. Media padat berguna untuk menjaga sel agar tidak berpindah tempat

sehingga akan mudah dihitung dan dipisahkan jenisnya ketika tumbuh menjadi koloni. 2. Media cair: media yang tidak mengandung agar. Contohnya adalah NB (Nutrient Broth), dan LB (Lactose Broth). Medium cair akan memberi kesempatan bakteri untuk menyebar dan tercampur dengan seluruh nutrien sehingga lebih cocok untuk mengoptimumkan pertumbuhan mikroba. 3. Media semi padat: media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat dan tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tanpa mengalami percampuran sempurna. (Pradhika, 2013) Berdasarkan komponen bahan penyusunnya, media pertumbuhan terbagi menjadi: 1. Media sintetik: media yang seluruh komposisinya diketahui. Media sintetik digunakan dalam penelitian mengenai uji metabolisme suatu mikroorganisme. Banyak jenis mikroorganisme kemoorganotrof heterotrof dapat tumbuh pada media sintetik dengan glukosa sebagai sumber karbon dan ammonium salt sebagai sumber nitrogen (Prescott dkk 2002:105). 2. Media kompleks: media yang sebagian komposisinya tidak diketahui. Media kompleks dibutuhkan karena kebutuhan nutrien dari beberapa bakteri tidak diketahui sehingga media sintetik tidak dapat dibuat untuk keperluan ini. (Prescott dkk 2002:105).

2.6 Definisi Teknik Sterilisasi Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada,

sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang baik. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri (Fardiaz, 1992). Sterilisasi juga dapat diartikan, suatu tindakan untuk membunuh

kuman patogen dan apatogen beserta sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran dengan cara merebus, stoom, panas tinggi, atau menggunakan bahan kimia. Jenis peralatan yang dapat disterilkan antara lain: a. Peralatan yang terbuat dari logam, misalnya pinset, gunting, speculum b. Peralatan yang terbuat dari kaca, misalnya semprit (spuit), tabung kimia c. Peralatan yang terbuat dari karet, misalnya, kateter, sarung tangan, pipa d. Peralatan yang terbuat dari ebonit, misalnya kanule rectum, kanule trachea e. Peralatan yang terbuat dari email, misalnya bengkok (nierbekken), baskom f. Peralatan yang terbuat dari porselin, misalnya mangkok, cangkir, piring 3

g. Peralatan yang terbuat dari tenunan, misalnya kain kasa, tampon, baju. (Harnawati, 2008). 2.7 Macam-macam Teknik Sterilisasi Metode yang paling umum digunakan untuk sterilisasi alat dan bahan pengujian mikrobiologi adalah metode sterilisasi uap (panas lembap) dan metode sterilisasi panas kering. 1. Sterilisasi uap (panas lembap) Sterilisasi uap dilakukan di dalam autoklaf dengan menggunakan uap air dengan tekanan dan temperatur tertentu sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air), bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan bila tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organisme tersebut. Autoklaf adalah alat untuk mensterilisasi berbagai macam alat dan bahan yang mengggunakan tekanan 1 atm dan suhu 121OC. Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama-kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi. 2. Sterilisasi Panas Kering Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven pensteril. Karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas, maka metode ini memerlukan temperatur yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-170OC dengan waktu 1-2 jam. Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk membunuh mikroba untuk disterilkan dengan uap air panas. Karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air. Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode ini juga efektif untuk mensterilisasikan alat-alat gelas dan alat bedah. Karena suhu sterilisasinya yang tinggi, sterilisasi panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh, alat ukur) dan penutup karet atau plastik (Alroza, 2012). 4

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2 Pembahasan Pembuatan media pertumbuhan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar mikroorganisme yang akan dibiakkan. Kebutuhan dasar yang dimaksud adalah kebutuhan nutrien berupa unsur hara mikro dan makro serta faktor abiotik yang sesuai dengan kebutuhan mikroorganisme sehingga dapat tumbuh dan berkembang. Nutrien yang dibutuhkan oleh mikroorganisme adalah karbon, nitrogen, oksigen, fosfat, dan mikronutrien. Mikroorganisme yang dibiakkan akan mendapatkan nutrien-nutrien tersebut dari media pertumbuhan yang dibuat, yaitu media taoge agar dan media taoge cair. Taoge mengandung mikronutrien, makronutrien, vitamin, asam amino, dan karbohidrat yang dibutuhkan bagi pertumbuhan mikroorganisme sehingga taoge dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan media alami untuk pertumbuhan mikroorganisme. Berdasarkan sifat fisiknya, media taoge agar merupakan media padat karena media tersebut mengandung agar 15 g/L yang setelah dingin menjadi padat. Pembuatan media agar dilakukan untuk menjaga mikroorganisme supaya tidak berpindah tempat sehingga akan mudah dihitung dan dipisahkan jenisnya ketika tumbuh menjadi koloni. Media taoge cair merupakan media cair karena media tersebut tidak mengandung agar sehingga tidak akan memadat. Media taoge cair memberi kesempatan bagi mikroorganisme untuk tubuh secara optimum dengan cara menyebar dan bercampur dengan seluruh nutrien. Berdasarkan komponen bahan penyusunnya, media taoge agar dan media taoge cair merupakan media kompleks karena dalam praktikum ini belum diketahui secara pasti mikroorganisme mana yang akan ditemukan dan dibiakkan sehingga kebutuhan nutriennya juga belum diketahui. Oleh karena itu, media taoge agar dan media taoge cair diasumsikan sebagai media dengan nutrien kompleks yang bisa memenuhi semua kebutuhan nutrien mikroorganisme pada umumnya. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media tauge cair adalah taoge, gula, dan akuades. Taoge dan gula berperan sebagai pemasok nutrien dan sumber energi utama untuk memenuhi kebutuhan dasar mikroorganisme, sedangkan akuades digunakan untuk melarutkan taoge dan gula. Penambahan agar pada media taoge cair untuk membuat media taoge agar adalah untuk memadatkan taoge. Prosedur umum dalam pembuatan media taoge cair yaitu dengan memasak 250 g taoge untuk tiap 1 liter akuades kemudian menyaringnya dengan menggunakan kain dan kapas bersih sehingga memperoleh filtrat ekstrak taoge. Filtrat dipanaskan kembali 5

setelah ditambahkan 60 g gula pasir hingga larut. Akuades dapat ditambahkan hingga filtrat mencapai volum 1 liter. Filtrat yang sudah siap selanjutnya dapat dimasukkan ke dalam tabung reaksi sesuai kebutuhan kemudian ditutup dengan sumbat kapas, dibungkus kertas/alumunium foil, dan diikat agar tidak terkontaminasi setelah dilakukan sterilisasi. Prosedur pembuatan media taoge agar sama dengan pembuatan media taoge cair, namun saat penambahan gula pasir disertai juga penambahan 15 g agar batang. Pembuatan media pertumbuhan ini diikuti dengan tahap sterilisasi untuk mencegah adanya mikroorganisme yang hidup dan tumbuh dalam peralatan ataupun media sebelum penanaman sampel mikroorganisme yang akan mempengaruhi keberhasilan dari praktikum. Teknik sterilisasi yang digunakan dalam praktikum persiapan dan pembuatan media pertumbuhan ini adalah sterilisasi pemanasan basah (sterilisasi uap) dan sterilisasi pemanasan kering. Sterilisasi pemanasan basah di dalam autoklaf dilakukan untuk mensterilkan peralatan yang berisi media taoge cair, media taoge agar, akuades, dan peralatan lainnya dengan menggunakan uap air selama 15 menit pada suhu 121C dengan tekanan 1 atm. Bahan dan peralatan yang sudah dibungkus kertas dan plastik serta diikat dengan tali dimasukkan dalam autoklaf yang telah terisi akuades sampai setinggi tapisan dengan posisi keran dan katup pembuangan tekanan udara dalam keadaan tertutup. Selanjutnya autoklaf dihubungkan dengan sumber arus listrik, memasang pengetahanan, memutar timer sesuai dengan yang dikehendaki, kemudian mengatur tombol on-off ke posisi on. Lampu merah menyala berarti pemanasan telah berlangsung. Bila sterilisasi selesai, akan terdengar alarm berbunyi kemudian tombol segera dikembalikan ke posisi off, sambungan listrik diputus, klep pembuangan tekanan udara dibuka, dan ditunggu hingga tekanan dalam autoklaf turun menjadi sama dengan tekanan udara luar. Peralatan dan bahan dapat dikeluarkan secara hati-hati setelah tutup autoklaf dibuka kemudian membuang akuades dalam autoklaf dengan membuka keran pembuangan. Sterilisasi pemanasan kering di dalam oven dilakukan untuk mensterilkan cawan petri kosong (tanpa media). Cawan petri yang telah dibungkus dengan kertas dan diikat dengan tali dimasukkan ke dalam oven. Oven dihubungkan dengan arus listrik kemudian mengatur tombol pengatur suhu dan tombol pengaturan waktu sesuai yang dikehendaki. Sterilisasi akan dimulai saat suhu oven naik mencapai suhu yang dikehendaki. Bila sterilisasi selesai, oven akan otomatis mati sehingga cukup ditunggu hingga dingin untuk dapat mengeluarkan peralatan yang disterilisasi. Penggunaan pengemasan, seperti sumbat kapas, alumunium foil, tali, kertas, dan plastik dalam proses sterilisasi sangat mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan untuk tahap praktikum selanjutnya. Sumbat kapas digunakan untuk menutup lubang peralatan gelas. Kapas merupakan bahan yang mudah terbakar bila langsung bersentuhan dengan 6

dinding dalam autoklaf sehingga perlu adanya alumunium foil untuk melindungi kapas. Tali digunakan untuk mengikat. Kertas digunakan untuk melindungi peralatan yang terbuat dari kaca sehingga tidak terkena suhu tinggi secara langsung. Plastik yang digunakan dalam sterilisasi adalah plastik tahan panas untuk menghindari adanya uap air yang membasahi kertas saat sterilisasi. Selain itu, plastik juga dapat mencegah adanya kontaminasi spora-spora dari jamur yang berada di Laboratorium Mikro yang menjadi tempat penyimpanan bersama peralatan dan bahan praktikum dari mata kuliah Mikrobiologi Dasar dan Mikologi.

Anda mungkin juga menyukai