Anda di halaman 1dari 31

1

DISKUSI RAMADHAN ATHEISME 20 September 2007 Pembicara: Rizal Mallarangeng Goenawan Mohamad Luthfi Assyaukanie Moderator: Martin Sinaga

Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat Malam, Seperti biasa tiap tahun Freedom Institute menyelenggarakan diskusi sambil beramal karena memberikan makan gratis kepada Anda-anda, itu amaliah jariyah, mungkin sebagian yang ada di Freedom nggak puas tapi amalnya jelas, memberi makan kepada kaum fakir. Apalagi makannya enak. Kalau di Makassar itu apa yatapi saya kira cukup representatif terhadap Freedom Institute, dan dalam istilah makanan itu mak nyoss Baik saudara-saudara. Seperti biasa diskusi ramadhan ini kami pilihkan beberapa topik-topik yang menarik. Dalam bulan ini 3 kali, jadi seperti anda lihat topik-topiknya sengaja kita pilih yang kira-kira bisa menggugah. Ya..sengaja memang topik ramadhan ini kita bicarakan beberapa isu, seperti atheisme modern, dengan beberapa buku yang provokatif, menarik, tajam, dalam, sekaligus sangat filosofis. Jadi, dengan harapan bahwa iman anda semakin kuat. Jadi kalau ujiannya makin top, makin berat, hasilnya adalah ya.. bisa dua hal, bisa anda terkapar porak-poranda keimanannya tetapi juga bisa tumbuh semakin kuat. Karena memang buat Freedom Institute tidak ada jalan tengah. Nanti disini ada Mas Dawam, nanti bisa kita minta kepada senior kita ngasih beberapa pendapat tentang hal-hal seperti ini. Tapi topik-topik dan buku-buku yang kami pilihkan dan juga review yang ada, yang akan dibagikan, pada setiap diskusi saya kira akan mencapai tujuan yang kami inginkan di sini yaitu, menghentakkan kita dari tidur dogmatik dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang diwakili oleh para penulis, novelis, esais pemikir yang memang sangat mumpuni dalam bidangnya. Jadi untuk yang pertama ini dan minggu depan, dan minggu setelahnya, yang pertama mendiskusikan topik tentang atheisme modern dengan beberapa buku yang baik, yang saya kira sudah anda lihat topiknya. Kemudian yang kedua novel Snow karya Orhan Pamuk, pemenang nobel

dari Turki, dan yang ketiga atau yang terakhir The Islamist karya Ed Husain yang kontroversial itu. Jadi tiga-tiganya berbicara kurang lebih dalam topik yang sama tapi dengan berbagai macam pendekatan. Kalau di The Islamist tentang pengalaman seseorang yang telah masuk dalam pergolakan dan pergerakan keislaman kemudian keluar dan memberikan kesaksian. Anda bisa setuju, anda bisa tidak setuju, tapi kesaksian semacam ini, yang ditulis dengan sebuah semangat berpolemik, saya kira selalu menarik untuk didiskusikan. Kalau anda mau rajanya polemik, anda harus baca bukunya Richard Dawkins dan saya kira kalau anda tahan membacanya sampai akhir, saya jamin iman anda maki kuat. Baik saudara moderator, mewakili Freedom, saya kira sampai disitu pengantar saya. Nanti saya akan membahas sebagai penanggap, dan saudara Goenawan Mohamad, dan saudara Luthfie. Mas Goen katanya sebentar lagi akan sampai. Tapi kata-katanya ini bukan kata-kata seorang saintis, tapi kata-kata seorang penyair jadi artinya agak pasif. Kita buktikan lagi nanti, Bung Martin. Moderator Terima kasih saudara Rizal. Saudara-saudara, sebagaimana kita tahu, kita akan membicarakan 3 buku dan tampaknya buku ini memang ada di toko-toko buku besar di dunia ini. Saya waktu tiba di airport, di toko buku, di kota-kota menemukan 3 buku ini. Sampai saya merasa kok buku-buku yang mendukung Tuhan susah didapat. Untung saya masih dapat satu buku karangan Giovanni Fatimo, After the Dead of God. Jadi, setelah kematian Tuhan itu bagaimana? Dan sekilas saya melihat dia ini seorag (nihilis?) tapi karena dia seorang Nitzschean, dia malah mau melanjutkan sesuatu mengenai Tuhan. Tapi saudara-saudara, 3 buku ini tampaknya beda dari buku-buku atheisme klasik, dari Freud sebagaimana kita tahu dia teleh membuat agama hanyalah..apa..invantilisme. Dari Turhan kita tahu agama adalah cerminan moral sosial, dari Marx kita tahu agama adalah cerminan orang miskin, begitulah kalau agak kasar. Nah, saudara-saudara, pada hari ini kita nenbicarakan 3 buku atheisme yang kontemporer. Kalau ditanya mengapa tiba-tiba buku-buku ini masuk ke pasar dan laku, tampaknya mencerminkan situasi agama dan masyarakat. Kalau saudara amati, maka buku-buku, atau seperti buku Sam Harris, Letter to a Christian Nation kira-kira mau menyatakan semakin kau cari ke dalam agama, intoleransi yang kau temukan. Jadi untuk apa? Kira-kira gitu ya..dan ini cerminan dari situasi beragama juga sehingga buku-buku ini laku. Kalau God is not Great kita baca, maka kira-kira dia mengatakan, lihat itu 11/9, lihat katrina, lihat tsunami, dimana Dia?dimana Tuhan?Nggak ada itu. Jadi Teodesi tidak bisa dijawab, bahkan menurut Christoper Hitchens meyakinkan dia bahwa nggak bisa lagi ada dasar percaya pada Tuhan. Sementara Dawkins kita kenal

bahwa semakin diperiksa manusia dengan seluruh proses evolusinya, ketahuanlah Allah itu (redundant), tidak faktor, tidak perlu menjadi faktor penentu kita sampai begini. Jadi saudara-saudara, Tuhan, agama, intoleransi, impoten, irrasional. So, apalagi yang bisa kamu katakan bahwa Tuhan itu ada? Kira-kira begitu argumen umum mereka, dan ini memang amat kontemporer karena terbukti memang agama semakin intoleran, kehidupan semakin tak berdaya, tsunami, dan sains semakin menentukan setiap perkembangan manusia dll. Nah, mungkin untuk lebih rincinya, Luthfie dulu katanya, untuk memberi potret atheisme kontemporer ini, nanti Mas Goen ya, lalu nanti Bang Rizal. Silahkan Mas Luthfie Luthfie Asysyaukanie Terima kasih Martin. Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat malam semua. Saya kira Martin sudah memberikan pengantar yang bagus sekali, cukup komprehensif dan tugas saya adalah memberikan detail-detailnya. Saya menulis makalah sudah agak lama karena memang agak bersemangat. Seperti Martin katakan tadi, memang buku-buku ini saya jumpai di tokotoko buku. Saya kebetulan belakangan ini tinggal di Singapura dan ada 2 toko buku besar yang selalu saya kunjungi yaitu, Borders dan Kine Kunia, buku-buku tentang atheisme itu selalu best seller, selalu di depan dan hampir semua buku saya beli dan tidak semua saya baca sampai habis. Ada beberapa, Dawkins saya beli di Melbourne beberapa tahun yang lalu dan buku-buku lain saya beli di Singapura. Dan secara umumkecenderungannya adalah menghidupkan kembali wacana tentang atheisme atau mempertanyakan kembali eksistensi tentang Tuhan. Saya menulis makalah yang sengaja saya beri judul, dimana judul datang belakangan, sengaja saya beri judul agak provokatif, yang kalau bagi umat islam judul ini sangat dekat dengan syahadat kita. Kira-kira asyhadu an laa ilaaha illa Allah saya ganti asyhadu an laa ilaaha illa Darwi n, tidak ada Tuhan selai Darwin artinya aku bersaksi tiada tuhan selain Darwin. Nah, kenapa saya beri judul seperti ini? Karena kalau kita amati dari seluruh buku-buku tentang atheisme kontemporer itu argumen-argumennya bermuara pada Darwinisme, pada teori evolusi, pada teori seleksi alam. Jadi, betul-betul argumen-argumen yang dikembangkan oleh Darwin dihidupkan kembali, dikasih bukti-bukti sains yang lebih baru, baik dalam penemuan sains eksakta, biologi, kimia, dll ataupun sains sosial yang

dijelaskan secara lebih filosofis misalnya oleh Daniel Dennett. Nah, jadi secara umum muara Darwinisme khususnya evolusi dan teori seleksi. Kenapa buku-buku semacam ini muncul? Tadi mas Martin sudah menyebutkan karena ini merupakan reaksi dari munculnya agama-agama, lebih khusus lagi reaksi dari betapa obskurantisnya fenomena agama yang muncul belakangan ini. Kita tahu puncaknya adalah 9/11, peristiwa pengeboman WTC. Sebetulnya tema tentang keberadaan Tuhan sendiri itu kan tema yang tidak perna mati khususnya dalam tradisi filsafat. Kalau anda ikuti misalnya, dari tahun 20 ada debat yang sangat klasik antara Bertrand Russell dan Frederika Poulsten misalnya, tentang apakah Tuhan itu ada? Yang kesimpulannya dua-duanya sangat hebat. Kita tidak bisa mengatakan Russell menang dalam debat itu debat yang disiarkan oleh radio BBC pada saat itu karena Russell cukup pintar. Pada saat itu dia memposisikan diri bukan sebagai atheis tapi sebagai agnostik dan biasanya dalam perdebatan filsafat tentang ketuhanan itu, para filosof lebih suka memilih posisi agnostik ketimbang posisi atheis karena posisi agnostik itu lebih selamat, menunda sesuatu yang tidak cukup bukti. Ada anekdot dari Russel yang dia kutip misalnya dalam bukunya. Pada sebuah ulang tahun dia Bertrand Russell ini cukup lanjut usia dan kemudian pada ulang tahun yang ke 70 th ke atas lah didatangi oleh seorang ibu, seorang ibu yang tahu bahwa Bernard Russel ini seorang atheis lah, kira-kira begitu. Terus sang ibu bertanya, Russell, kalau kau nanti meninggal dan ternyata Tuhan itu ada, apa yang akan kamu katakan pada Tuhan?. Saya akan katakan pada Tuhan, God, the evidence is not enough. Jadi buktinya tidak cukup, jadi saya tidak bisa beriman. Salah saya sendiri, salah tuhan sendiri tidak memberikan bukti yang cukup jadi dia tidak bisa beriman. Nah, itu..kira-kira posisi kaum agnostik seperti itu, bahwa karena bukti-bukti untuk keberadaan Tuhan ini tidak cukup, maka kita tidak bisa memutuskan, beriman atau kafir?kira-kira gitu. Ini posisi yang paling selamat di dalam wacana filsafat. Pada .juga sebetulnyakita lebih baik percaya sama teknisi deh, percaya pada tuhan nanti lama. Ya..pada tahun 80-an dan 90-anitu kan tema atau diskusi tentang keberadaan Tuhan juga cukup intensif, misalnya kita mengenal Alfin Pratinga misalnya, atau Kay Nelson dari New York University. Ada debat yang sangat bagus sekali antara Kay Nelson dengan seorang pendeta di Amerika dan lagi-lagi tidak pernah selesai. Diskusi tentang Tuhan itu tidak pernah selesai dan saya kira juga apa yang dibahas dalam wacana atheisme kontemporer ini juga tidak selesai sebetulnya, tapi ini paling tidak bisa menggugah pikiran kita, merenungkan dan melihat kembali wacanawacana yang selama ini berkembang. Nah, tapi ada satu hal yang kebetulan menarik, kenapa buku-buku atau literatur semacam ini muncul? Yaitu karena mempertanyakan kembali peran agama. Ada, kalau kita lihat dari sana dan berangkat dari sana, maka dari wacana filsafat bisa kita bagi 2 sebetulnya. Jadi ada reaksi yang

bersifat atau muncul dari pertanyaan-pertanyaan teodesi yang disebut Martin tadi. Dalam makalah saya, saya sebutkan disitu bahwa buku semacam God is not Great itu sebetulnya argumennya berangkat dari argumen teodesi. Jadi berangkat dari kenyataan kenapa kejahatan di dunia ini, kejahatan dalam artian evil, betapa kejahatan, kemalangan di dunia ini begitu nyata. Pertanyaannya adalah buat para filosof, kalau kejahatan begitu nyata di hadapan kita, dimana Tuhan? Itukan pertanyaan klasik. Ini sudah lama sekali didebat dan didiskusikan dalam wacana filsafat. Salah satu filosof yang cukup intensif membahas tentang ini adalah Lemlit. Dia menulis buku tentang teodisi dan dia mencoba menjelaskan bahwa pada dasarnya apa yang disebut dengan kejahatan di dunia ini tidak kejahatan dalam pengertian kejahatan riil, yang kemudian penjelasan Lemlit ini ditiru oleh para teolog dan tokoh agama. Jadi untuk menjelaskan kenapa kita mengalami tsunami, kenapa kita menjumpai gempa bumi dll, itu sebetulnya adalah sesatu yang pada dasarnya bukan kejahatan. Sesuatu yang..kejahatan tapi tidak riil kejahatan gitu. Ini untuk menjelaskan konsep yang diperkenalkan oleh Nietzsche sebagai best of all possible world. Dunia yang paling baik. Karena dunia itu tidak ada dan kaidah antologi mengatakan bahwa ada itu lebih baik dari tiada. Maka, kita terima saja. Penjelasannya adalah kalau ini sudah ada, maka hal-hal yang bertentangan dengan penciptaan dll itu harus ditafsirkan, harus dipahami sedemikian rupa. Nah, kaum atheis itu memiliki respon yang berbeda, dengan meminjam apa yang disebut Ochams Razor ini kan sebetulnya solusi yang sangat sederhana. Jika anda memiliki 2 penjelasan yang satu rumit, yang satu sederhana, buang saja yang rumitambil yang sederhana. Ini disebut Ochams Razor. Artinya apa? Kalau begitu rumitnya dunia ini tidak ada penjelasan, ya sudah, tidak ada tuhan. Bahwa dunia ini bekerja dengan sendirinya, dunia ini ada dengan sendirinya. Ini penjelasan kaum atheis. Tapi tentu saja kan harus ada penjelasan-penjelasan, harus ada argumen-argumen. Nah, dari sekian banyak buku saya menemukan Richard Dawkins cukup punya vision untuk melayani kaum teolog, dan dia dalam buku ini betul-betul berperan sebagai filosof dan juga teolog dalam tingkat tertentu. Alfin Pratinga menulis resensi bukunya Dawkins dan sangat kasar sekali dia mengkritik Dawkins dengan mengatakan bahwa Dawkins nggak ngerti filsafat, sehingga apa yang didiskusikan dalam filsafat kadang-kadang e..apa namanyaedia mengkritik sesuatu yang meleset dari yang biasa didiskusikan dalam wacana filsafat. Tetapi Dawkins betul-betul mengikuti wacana yang dikembangkan dalam dunia filsafat. Misalnya begini, pembuktian adanya Tuhan merupakan diskusi yang panjang lebar kalau kita lihat buku-buku tentang The Proove of Existence of God itu jumlahnya sudah ratusan. Ada buku esiapa itu ya..teolog dari Boston University kalau gak salah, itu menginventarisir bukti-bukti adanya Tuhan. Ada sekitar 320 atau berapa bukti-bukti adanya tuhan. Dari bukti-bukti yang klasik seperti argumen antologi, argumen kosmologi, dll sampai bukti-bukti yang

ilmiah atau turunan dari argumen-argumen klasik. Nah, Dawkins menyadari itu dan dia mengemukakan, menyinggung sedikit bukti-bukti keberadaan Tuhan dalam bukunya tapi kemudian dia juga mencoba menolak bukti-bukti ini dengan mengemukakan bukti-bukti ini keberadaan Tuhan (selamat datang Mas Gun, ini bapak atheis kita ini). Dawkins memberikan beberapa argumen tentang ketiadaan Tuhan. Saya kira inti dari bukunya Dawkins adalah bab IV yaitu yang judulnyae..apa itu Martin? Judulnya agak mengandung skeptis juga. Almost Certainly, jadi agak-agak skeptis juga ya..karena posisi..di dalamgimana Rizal? mengapa hampir pasti walau tuhan tidak ada.why almost certainly if no god yaa..artinya gini, kita harusberanjak pada persepsi Kantian saya kira, hal-hal yang bersifat metafisik, yang bersifat humenon kita kan ga bisa memastikannya secara pasti gitu lho.. dan saya kira Dawkins itu sadar dengan itu. Karena itu dia memberikan judulnya seperti itu. Tapi yang menarik adalah dia menggunakan pola pembuktian-pembuktian tuhan yang biasa didiskusikan dalam wacana keberadaan tuhan. Ada 6 argumen yang sebetulnya secara umum, boleh saya ringkaskan bahwa argumen ini kira-kira ingin mengusir tuhan dari kemungkinan-kemungkinan Dia punya peran di dunia ini gitu. Ada argumen pertama yang dia sebut sebagai The Ultimate Boeing 747. Nama argumen ini sendiri diambil dari Fred Hoyle, Fred Hoyle ini seorang astronom, atheis. Seorang astronom di masa fisika kuantum yang berbeda dengan astronom lain. Astronom lain kan percaya dengan teori bigbang, dia tidak percaya dan ketidakpercayaan dia cukup beralasan, dia seorang atheis. Teori bigbang itu kan, menurut dia, mengandaikan adanya permulaan dan setiap permulaan harus ada penciptaan. Nah, karena itu dia menolak teori bigbang. Dia salah satu pendukung teori steady state, bahwa alam raya itu..apa namanyatetap, tidak berkembang. Kalaupun berkembang itu berkembang di dalam satu ketetapan itu. Nah, Fred Hoyle punya teori tentang itu dan salah satu pernyataan dia, dikutip oleh dan kemudian diadopsi oleh Dawkins ini adalah bahwa probabilitas kehidupan di bumi ini itu tidak lebih besar dari kemungkinan adanya badai yang menyapu potongan-potongan material dan kemudian secara begitu saja menciptakan boeing 747. jadi kemungkinan kehidupan di dunia ini kecil sekali gitu. Nah, kemudian pernyataan, atau Fred Hoyle ini dikutip oleh banyak kaum kreasionis untuk mengatakan, lho, kalau dunia ini tidak ada pencipta, ini ga mungkin terjadi, begitu kompleks, begitu rapi dalam kompleksitas itu. Pasti ada seorang designer yang campur tangan gitu. Nah, oleh Dawkins argumen ini dibalik kemudian. Bahwa kompleksitas itu sangat dekat sekali dengan ketiadaan, karena sesuatu yang kompleks itu membutuhkan kompleksitas itu sendiri danapa namanyakalau kita melibatkan, tiba-tiba kita melibatkan tuhan atau sesuatu unsur dari luar kepada kompleksitas itu, maka seolah-olah kita menyatakan bahwa tuhan itu adalah boeing 747 itu sendiri. Nah, sebetulnya argumen ini bisa lebih jelas lagi kalau kita menggunakan argumen yang digunakan oleh Dawkins pada argumen kelima dan keenam, yaitu yang di dalam fisika disebut argumen entropi atau antropi. .sori..argumen antropi.

Nah, inikan untuk menyanggah kaum agamawan yang menyertakan tuhan di dalam kompleksitas alam. Terciptanya bumi, terciptanya alam semesta ini, itu karena campur tangan tuhan. Tetapi oleh Dawkins, konsep atau prinsip antropi itu bisa menjelaskan kenapa alam ini muncul atau kenapa ada kompleksitas yang rapi yang kita miliki sekarang ini. Konsep antropi menyatakan bahwa kehidupan terjadi karena adanya dukungan konstanta fisika dan kimia yang pas, artinya kalau dalam perjalanan evolusi yang begitu panjang, konstantanya unsur-unsur yang ada di alam raya ini berbeda, tidak pas, maka tidak akan muncul kehidupan. Jadi ada unsur kebetulan memang, ada unsur kebetulan. Lawannya design dalah kebetulan, bahwa ada kebetulan disana tapi kebetulan itu melewati proses yang panjang, melewati proses seleksi alam yang brutal sehingga kemudian memunculkan suatu, sebuah kompleksitas. Nah, sebagai seorang ilmuwan, Dawkins merasa penting untuk membela atau mengemukakan argumen-argumen seperti ini. Karena kalau kita tiba-tiba memasukkan unsur dari luar, itukan tuhan, kata Dawkins seolah-olah..apa ya..penumpang gelap yang ingin makan yang gratis di tengah jerih payah ilmuwan untuk mencari sebab akibat, sebab terjadinya ebumi dan alam raya ini. Tiba-tiba setiap ada celah, nah itu kemudian yang salah satu argumen yang biasa disebut God of Gap, tuhan penyembah celah, atau tuhan celah. Jadi setiap ada misteri di alam raya ini yang belum bisa dijelaskan, agama memasukkan tuhan disana. Kita tahu pada masa kecil, kita sering mendengar orang-orang tua kita, bahwa ada penyakit seperti cacar, penyakit kusta dll itu dianggap sebagai kutukan. Padahal menurut dokter itu semua bisa dijelaskan secara ilmiah, dari kuman, dari bakteri dlsb. Kelemahan dari argumen tuhan celah adalah semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin menyusutnya atau semakin kecilnya ruang buat tuhan untuk berperan. Jadi anda bayangkan dalam 30 atau 40 tahun lagi ketika teori of everything bisa ditemukan, makatuhan betul-betul dibuang dari seluruh celah yang selama ini coba dimasukkan oleh kaum beriman gitu. Nah, ini adalah argumen-argumen yang dikemukakan oleh Dawkins. Saya ingin mempersingkat saja dengan melompat pada buku yang secara khusus yang saya baca yaitu Daniel Dennett. Nah, Daniel Dennett ini seorang filosof, tidak seperti Dawkins, tapi dia mendalami Darwinisme, membaca buku-buku biologi. Orangnya cukup santun dan punya jenggot yang lebat sekali. Saya beberapa kali menonton video presentasi dia, cukup kocak orangnya. Nah, dia mengambil atau meninjau teori evolusi untuk melihat fenomena agama. Jadi yang dia kaji sebetulnya bukan tuhan, tetapi agama, untuk mengatakan, karena menurut dia agama adalah institusi yang paling bertanggung jawab karena menciptakan konsep-konsep metafisik, konsep tuhan, malaikat, kitab suci, wahyu dll. Itu semua kan dari agama. Karena itu kita berkepentingan, yang harus kita teliti adalah agama, bukan konsep-konsep metafisik itu. Nah, dengan menggunakan teori yang

sama, yaitu teori evolusi dan teori seleksi alam, dia kemudian memperkenalkan istilah bukan natural selection tetapi group selection, karena agama itu sebagai satu kesatuan kelompok. Disana terjadi benturan-benturan, terjadi seleksi antar kelompok itu dan kemudian yang paling pas dengan tuntutan zaman, The Struggle of the Fittest itukan bukan The Struggle of the Strongest, tetapi pertarungan siapa yang paling pas yang bisa bertahan. Nah ini, kerangka ini kemudian dia jelaskan untuk menerangkan evolusi agama menurut dia, tentu saja berdasarkan kajiankajian arkeologis, berdasarkan kajian-kajian sejarah. Umat manusia inikan relatif muda dibanding usia planet ini. Bumi itu usianya, correct me if I am wrong, 5 milyar, iya to? Lima milyar atau 5 juta? Lima milyar tahun. Nah, usia manusia modern itu sekitar 195 ribu tahun yang lalu, muncul apa yang disebut homo sapiens. Dan menurut bukti-bukti arkeologi, pada masa awalawal, tentu manusia sangat primitif sekali. Yang pertama diciptakan tentu bukan agama tetapi bahasa sebagai alat untuk komunikasi dan kita tahu bahasa juga berkembang, dari bentuk yang sangat sederhana. Orang-orang primitif yang kita temukan di utan-hutan, mereka paling, kalau kita suruh mereka membuat kamus, paling vocabularinya kurang dari 1000. kan manusia modern itu kerjaannya mengembangkan bahasa. Kita punya kamus berjilid-jilid, tebal-tebal karena kita terus-menerus mengembangkan bahasa. Nah, jadi manusia awal itu yang mereka kerjakan pertama adalah bahasa. Ketika bahasa semakin kompleks, kemudian semakin rumit, kemudian berinteraksi, dan disanalah ada kebutuhan untuk menciptakan sebuah lembaga yang bisa menyatukan, yang bisa menampung. Nah, Dennett dalam hal ini berhutang kapada David Hume. David Hume menulis 2 buku yang bagus sekali tentang natural religion atau agama sebagai fenomena natural. Ada Concerning on Dialog of Natural Religion, dimana dia mengatakan bahwa agama tertua manusia adalah polytheisme. Jadi keyakinan-keyakinan polytheis itu adalah agama tertua tapi kemudian ada seleksi alam atau seleksi grup. Jadi polytheisme semakin lama semakin tidak pragmatis buat manusia maka lama-lama tuhan itu dipenggal menjadi satu saja. Nah, berdasarkan hal ini maka bisa kita katakan atheisme adalah kesimpulan terakhir dari proses seleksi grup itu. Tapi yang ingin dikatakan Dennett adalah bahwa agama adalah fenomena natural belaka, sesuatu yang dimunculkan manusia karena ada 3 alasan. Saya sebutkan disini yang pertama adalah manusia membutuhkan agama karena untuk mengatasi penderitaan dan ketakutan akan kematian. Kematian adalah fenomena yang nyata, setiap orang mengalami mati, dan untuk mengatasi kematian itu kita harus berpegang. Tidak ada jalan lain, kita harus menciptakan sesuati yang bisa kita jadikan pegangan yaitu agama. Alasan kedua adalah untuk menjelaskan hal-hal yang mereka tidak mengerti. Ilmu pengetahuan adalah barang mewah. Hanya segelintir orang yang bisa mengakses ilmu pengetahuan, tapi sebagian besar orang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Yang bisa mereka lakukan adalah berkumpul,

saling menggosip, dan kemudian muncullah agama disana. Dan yang ketiga adalah mendorong terbitnya kelompok untuk menghadapi musuh, dan kalau kita baca sejarah agama-agama mayoritas yang sekarang itu tidak terlepas dari ketiga unsur ini, baik itu Yahudi, Kristen, Islam, atau agamaagama lainnya. Jadi saya ingin memberikan satuesaya kira karena masih ada dua pembicara lainnya, saya ingin menutup saja presentasi saya bahwa teori evolusi itu dijadikan sebagai penjelas untuk menjelaskan tuhan dan juga agama. Dalam kasus Dawkins, dia berusaha menjelaskan bahwa kehidupan kita itu bisa sepenuhnya dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, dengan biologi evolusi dalam kasus dia, dan agama juga menurut Dennett bisa dijelaskan dengan teori evolusi, dengan evolusi sosial, dengan group selection, sehingga kita kemudian menciptakan sebuah sistem e..apa yang kita sebut agama sekarang ini. Saya kira ini apa ang bisa saya sampaikan, nanti mungkin Mas Goen bisa mengelaborasi lebih jauh, terima kasih. Moderator Terima kasih Luthfie, jadi kita telah mendengar saudara-saudara betapa e proses-proses pemikiran dll telah mengusir etuhan perlahan-lahan, hampir pasti, demikian menurut teori itu. Dan ketika Mas Goen datang ada yang bilang dia atheis. Menurut saya terlalu kasar itu, walaupun terlalu berlebih-lebihan kalau mengatakan dia seorang teolog. Jadi kita mungkin mengundang Mas Goen untuk bicara, apakah masih bisa diundang tuhan yang telah diusir itu atau malah esudahlah begitu. Goenawan Mohamad Saudara-saudara sekalian. Assalamualaikum Wr. Wb. Saya tadi disebut atheis, itu mengherankan sekali sebab menurut saya, atheis itu bermula dari kesulitan bahasa dan kemudian karena kebuntuan. Dan kalau kita baca buku Christoper Hitchens, karena sedikit kepongahan. Ehmjadi saya anggap atheisme sebuah reaksi terhadap sebuah theisme, nanti kita bicarakan, yang esetali tiga uang dengan theisme e..dan karena itu ada sebuah pemikiran lain untuk mengatasi dikotomi itu. Tapi saya bisa mengerti kalau Christoper Hitchens bisa menulis semacam itu, saya kira sudah disebut oleh saudara Luthfie tadi, reaksi terhadap revivalisme, voluntarisme dan saya pernah menulis di catatan pinggir mudah-madahan belum dibaca. Saya mau mengutip bahwa, kan sebelum 11 September 2001, Christoper Hitchens ditanya dalam sebuah wawancara

10

radio. Dia ditanya begini, Bayangkan Anda berada di sebuah kota kecil asing, di suatu waktu senjakala, dan sejumlah besar orang datang ke arah Anda, akan lebih merasa amankah Anda atau justru merasa kurang aman, bila Anda tahu orang-orang itu baru selesai berkumpul untuk berdoa?. Hitchens yang pernah berada di Belfast, Beirut, Bombay, dan Beograd, Betlehem, dan Baghdad menyatakan kurang aman. Karena dia lihat di Auxerre, di Belfast, konflik antara kaum katholik dan protestan sangat menakutkan. Di Beirut dan Betlehem, muslim dan kristen. Di Kroasia, orang-orang kristen ortodoks dengan orang-orang muslim di tempat lain. Di Baghdad Syiah dan Sunni, di Indonesia Ahmadiyah dikejar-kejar. Jadi bagi Hitchens, agama itu suatu enormous multiplier, sebuah pengganda yang besar sekali untuk menggandakan kecurigaan dan kebencian antarpuak, antar kelompok. Nah, ini suatu hal yang melahirkan orang bersikap (internal?) atau bersikap seperti Hitchens, yang tidak aneh karena selama 30 tahun bahkan lebih perang agama di Eropa yang berakhir di tahun 1648, akhirnya melahirkan pencerahan yang kita tahu dari karya-karya Montagne dan Descartes berdasarkan pada suatu skeptisisme yang ekstrim, yang radikal. Sehingga yang dipertanyakan bukan hanya ada atau tidak ada, mengetahuai ada atau tidak ada itu dipersoalkan. Apa itu pengetahuan. Akhirnya skeptisisme ini memang tidak melahirkan suatu atheisme, tapi jelas bahwa doktrin agama telah di letakkan pada suatu jarak yang cukup untuk diamati dan dipersoalkan. Dan kita lihat bahwa yang sekarang seperti yang dikatakan oleh Hitchens, ya yang terjadi adalah agama hanya suatu multiplier, pengganda yang besar dari suatu kebencian. Nah, tapi sebetulnya ada tren lain dalam masa sejak 20 tahun yang lalu yang tdk hanya merupakan menyaksikan bangkitnya agama dalam bentuk fundamentalisme dan militansi dan kebencian. Ada satu tren lain yang disebut ke..apa ya..tendensi pascamodernisme terhadap agama, kepada iman. Nah ,ini terjadi terutama dalam esainya Jacque Derrrida yang bolakbaliknya kembali kepada pemikiran Heidegger. Didalam pemikiran Heidegger sebetulnya, Heidegger berdasarkan fenomenologi, dia melihat bahwa orang itu bukan berfikir maka dia ada tapi dia ada maka dia berfikir. Nah, didalam fenomenologi dia alami dan kita alami bahwa ada kebutuhan dan ada momen yang disebutnya pemikiran meditatif, bahkan pemikiran tuitif dimana subyek itu tidak menguasai alam untuk diketahui, untuk dipegang, tapi dibiarkan hidup seperti kalau seorang penyair melihat alam, seorang pelukis melihat alam. Itu bukannya dikuasai untuk ditafsirkan atau diakrabkan tetapi dialami dan dibiarkan hidup disebutnya gelatenheit. Kata Gelatenheit ini sebetulnya berasal dari kata yang dipakai oleh seorang mistikus Eropa abad 13, Mr. Einhart, seorang pengkhotbah dominikan yang nanti saya bicarakan lebih lanjut. Dan dengan Gelatenheit ini, dengan membiarkan cara berpikir meditatif ini kita juga melihat ada alternatif lain dalam mengetahui. Maka para penerus Heidegger, yang saya ingat Gabriel Marcel di Prancis, berbicara tentang beda antara problem dan misteri. Problem itu dari kata problem dari kata Yunani parablem, sesuatu yang dilemparkan di depan kita dan kita harus tempuh, pecahkan. Misteri ,

11

misteri itu sesuatu yang tidak ada di depan kita, mengungkung kita, memenuhi kita dan kita tidak bisa melepaskannya dengan mudah, kita tidak bisa mengambil jarak seperti kalau kita mungkin jatuh cinta, mungkin mengalami kedahsyatan keharuan revolusi atau perjuangan suatu yang kemudian oleh Alain Bajui disebut levenemon, suatu kejadian. Nah, didalam misteri inilah tidak ada problem skeptisisme. Dan lalu adalah Derrida saudara Caputo yang saudara Martin kenal betul, edigambarkan sebagai seorang esais yang punya tuhan sendiri dan yang mencintai nama tuhan. Seorang esais yang aneh tapi ada. Kerena memang ada satu kecenderungan, ada satu seorang Belanda, seorang filosof, Heidefis namanya, menulis Philosophi and the Turn to Religion yang terbit tahun 1999, buku yang sangat sukar dan membosankan tapi layak dibaca mungkin. Dia mengikhtisarkan kecenderungan filsafat pascamodern itu sebagai dalam kata Prancis, tetapi lebih baik saya Spanyol saja biar mudah diucapkan, Adios. Adios itu berarti selamat tinggal kan? Adios amigos, kalau sunda adios amigos safios. Hahaha jadi adios itu berarti selamat tinggal tapi juga menuju dios, menuju tuhan. Jadi ada suatu gerakan ke arah tuhan, ke arah..ke arah..kata dan nama tuhan tapi di dalam ambiguitas tentang tuhan itu ada juga ucapan selamat tinggal kepada tafsir yang dogmatik, yang kanonik, dan yang disebut ontosiologis atas pengertian tuhan yang tadi dipakai. Dan disini kelihatan sebetulnya yang terjadi memang kesulitan bahasa. Kita tahu bahwa didalam teori pascastrukturalis sebuah kata itu, katanya terdiri dari penanda dan yang ditandai, yang ketanda, signifier dan signified. Nah, didalam teori pascastrukturalis, yang ditandai itu menjadi tidak penting karena yang penanda itu menjadi yang bermain. Setiap kali kita, makna itu lahir dari perbedaan antara penanda. Jadi kalau kita bicara tentang kucing, apa kucing? Kita tidak menunjuk satu, mendefinisikan satu binatang yang kita juga tidak bisa definisikan. Artinya ga bisa mendefinisikan kucing, apa definisi kucing? Ga bisa kan? Karena kucing baru kita mengerti kalau kita bandingkan dengan anjing. Juga soal tuhan dengan manusia itu hanya pengertian-pengertian lahir, makna yang lahir dari perbedaan, yang tidak pernah final, yang selalu ditunda, finalnya aa makna finalnya. Dengan kata lain memang ada persoalan bahasa yang serius di dalam ekspresi kita dan terutama mengenai tuhan. Ehm.. karena itu tiap kali, misal, tuhan diucapkan, kita sebetulnya sudah menyekutukan tuhan. Bahkan kalau ketika kita mengatakan tuhan yang satu atau esa, satu itu kan menunjuk ke salah satu yang kita hitung, jika tuhan dapat dihitung maka Ia praktis setaraf dengan benda-benda lain. Karena itu ada seorang filosof Prancis namanya Jean Luc Marion, seorang katholik yang menyatakan bahwa orang harus memperoleh pemaafan untuk setiap esai yang ditulis. Jadi tidak mengherankan bahwa memang bingung para teolog e..dan ada seorang teolog yang dikenal betul oleh saudara Martin, Paul namanya, orang Jerman yang kemudian lari ke Amerika, orang yang dikaitkan dengan eksistensialisme tapi menurut saya disini lebih menarik daripada

12

eksistensialisme. Dia dalam bukunya The Khaliq ..(tidak jelas). Jadi, sampai dimana tadi? Saya kutip Marion lagi, jadi karena tiap kata sebutan tuhan itu dengan sendirinya menyekutukan tuhan, apalagi mengatakan tuhan satu, itukan tuhan seolah-oleh bisa dihitung, jadi kalau ada tuhan satu, ada satu . Jadi sama aja dengan benda-benda lain. Karena itu seorang filosof Prancis Jean Luc Marion mengatakan bahwa orang harus memperolah pemaafan untuk setiap esai yang ditulis mengenai teologi. Jadi Martin Sinaga ini setiap kali nulis, yaa minta maafkepada siapa ngaak tahu. Hahahaehm..sehingga kritik pada monotheisme itu datang dari kaum teologis juga, dan justru kritik ini juga kepada theisme. Saya akan kutip Paul yang ingin, dalam bukunya The Khaliq itu, berbicara tentang tuhan diatas tuhannya eh..tuhan diatas tuhannya theisme. Sebab menurut dia theisme itu mereduksi hubungan manusia dan ilahi, tuhan, menjadi hubungan personal. Setaraf dengan hubungan sesama kita, cuma yang satu disebut ilahi yang satu tidak. Karena ini dimulai dengan cara kita berpikir yang menyebabkan lahirnya subyek dan obyek. Saya mengetahui, tuhan diketahui. Tuhan bersabda, saya mendengar. Ada satu jarak antara subyek dengan obyek sehingga kemudian hubungan itu menjadi suatu hubungan yang strict karena retak. Nah, karena itu yang tidak dikatakan penuh oleh (clevek) tadi, diacu, sedikit, ialah pengalaman mistik. Karena (Philip) seorang protestan yang percaya pada kenabian dan sebagainya kayak orang muslim, maka tuhan ada, ada nabi. Nah, bagi seorang Eighart, seorang mistikus itu yang terjadi adalah manunggaling kawula gusti itu yang orang Jawa bilang. Yang dalam bahasa latinnya (bahasa latin, kurang jelas). Dengan kata lain eh terjadi peleburan antara tuhan dengan manusia, yaa antara satu pengalaman religius yang memang kalau menurut .itu sesuatu yang kalau tersentuh dihati tercetus dalam bahasa, yang konvensional, bahasa selalu konvensional, itu menjadi secondary religion, menjadi agama pilihan, agama barang bekas. Jadi pengalaman religius itu yaa..problem karena bagaimana dia diutarakan, bagaimana dikemukakan, dikomunikasikan tanpa bahasa. Nah, karena itu saya tadi mengatakan bahwa bahasa atheisme barasal dari bahasa sebagaimana theisme berasal dari bahasa. Karena ketika kita bicara tentang tuhan sebagai wujud, ada, sesuatu yang ada, kita bisa mengatakan tidak ada. Nah, problem yang timbul adalah bahwa eh..ini menimbulkan kebuntuan. Atheisme adalah suatu hasil kebuntuan, suatu hasil cepat saja bahwa tuhan tidak ada. Tapi sebagaimana kaum atheis tidak bisa membuktikan tuhan ada, kaum atheis juga tidak bisa membuktikan tidak ada. Karena itu Jean Luc Marion melepaskan diri dari masalah ada dan tidak ada dengan dia bicara mengenai god without being. (bahasa Prancis) god without being. Tuhan yang berada di luar tataran ada dan tidak ada. Sesuatu yang jauh, mungkin ya..jauhpun itu kata-katanya salah, karena jauh mengindikasikan jarak. Tuhan kalau dalam jarak berarti ada Dia dalam ruang. Dalam ruang berarti Dia terbatas. Dengan kata lain memangsusah ya.. nah, karena itu ada yang mengatakan dalam, ada dua kutipan yang menarik, dalam film yang saya tonton, filmnya Bergman, seorang pastur mengatakan, tuhan

13

yang ada itu adalah tuhan gema, tuhan yang memantulkan apa yang kita inginkan atau yang kita takutkan. Kutipan lain ada di The People, God is a notion that natures our think. Tuhan itu satu pengertian untuk mengukur kepedihan kita. Tapi sebaliknya atheisme juga demikian. Atheisme adalah suatu ekspresi e..yaa..gemas saja, yaa kita agak jengkel sama orang (bunuh membunuh ....kan ga ada) padahal karena kejengkelan kita. Bukan karena soal betul ada atau nggak. Nah, karena itu memang sukar sekali berbicara tentang tuhan dan sebetulnya apa betul ada atheisme? Kalau kita mulai merenung, kita mulai merenung tidak mempersoalkan ada atau tidak ada, ketika kita berpikir, ini Heideger, dia mengatakan begini, kita sebetulnya harus bertanya kok ada ya? Saya bayangkan orang yang pertama melihat bulan, keluar, lho apa ini?artinya mikir, kok ada itu apa? Dari mana itu ada? Nah ada itu menurut Heideger itu status seperti cahaya siang. Dia itu menimbulkan barang kelihatan tapi dia sendiri ga kelihatan. Heideger seolah-olah menyamakan tuhan semacam itu. Karena itu ada seorang filosof Prancis Yahudi yang tradisinya abrahamis seperti kita mengatakan bahwa Heideger itu paganisme karena dia tidak menyebut nama-nama, tidak menyebut person, suatu being, suatu ada yang tidak bernama. Nah, memang kritik ini berdasarkan tradisi abrahamis. Kalau kita berasal dari tradisi laucen misalnya, mengatakan ibu dari segala hal itu tidak bernama. Nah, dengan kata lain kita sebetulnya berbicara theisme dan atheisme itu berbicara dalam tradisi abrahamis. Mungkin kalau kita mempunyai pengalaman lain dengan paradigma lain maka tidak ada atheisme. Semua orang pasrah aja ada tuhan atau tidak ada tuhan. Terutama kalau kita bahagia dan bersyukur. Nah, karena itu ada seorang seorang, ada seorang, (kultum, kultum ini) ada seorang katholik India, katholik tradisi, dan belajar filsafat kombinasi antara budhisme, hinduisme, dan katholisme, rempanika namanya. Dia menyebut sembilan cara untuk berbicara tentang tuhan. Satu, kita tidak bisa berbicara tentang tuhan tanpa pertama-tama mencapai suatu kediaman. Wah ini kebatinan ya.. Kedua, kita berbicara tentang tuhan itu berbicara tentang sesuatu yang bukan tentang hal-hal. Jadi tuhan bukan saja sesuatu yang Maha Kuasa atau tidak itu semacam, ...mahluk juga nanti jadinya. Berbicara tentang tuhan itu juga menyangkut pembicaraan seluruh diri kita. Bahwa kita bisa, ada seorang filosof, teolog, mengatakan bahwa pengalaman mengenai tuhan itu pengalaman nggak terkena apaemfasme. Jadi sebentar, terpukau, terpesona, dan juga merasa dalam eh Nah itu hanya bisa kita bicarakan, lalu mengubah juga, mempunyai pengaruh kalau kita menghayati itu. Karena itu pengalaman-pengalaman religius secara fenomenologis memang mengubah orang. Jadi kalau ada yang dapat wahyu, kalau saudara dapat wahyu, mesti saudara berubah. Kalau dapat wangsit lain lagi, atau dapat pulung itu jadi presiden. Nah, tapi karena tuhan juga tidak berbicara tentang satu agama pada umumnya ya.., kemudian ya kita harus menyadari keterbatasan bahasa, juga kita menyadari bahwa itu suatu bukan konsep tapi simbol. Marion membedakan antara ikon dan berhala, idol. Kalau berhala itu adalah semacam tuhan

14

gema. Kita memandang pada diri kita sendiri lalu kita seolah-olah itu tuhan, jadi pantulan saja. Sedang kalau ikon itu tidak bisa dirumuskan. Sesuatu yang seperti puisi, tidak bisa selesai dan tidak bisa divisualisasikan juga. Dan itu waktu, dalam perjanjian lama, Musa di pucuk Tursina atau Sinai dia pikir tuhan akan menampakkan wajahnya tapi tidak. Hanya menampakkan bunyinya. Berarti itu sudah, menurut saya agak serem juga. Tapi maksud saya nggak bisa merumuskan, melihat, apalagi memberhalakan tuhan. Dalam patung apalagi juga bahkan dalam pengertian. Karena itu tadi saya bilang (bahasa perancis, ga jelas) pemberhalaan konsep tentang tuhan. Jadi kalau ada orang yang mengatakan bahwa tuhan itu begini begitu, itu berhala. Nah, saya kira supaya jangan terlalu berlebihan, lebih baik kita berhenti di sini dan mungkin paling baik adalah diam. Ya, terima kasih. Moderator Terima kasih mas Gun, renungannya luar biasa saudara-saudara. Tapi mengancam profesi saya sebab setiap minggu saya harus bicara tentang tuhan dan membicarakannya. Soal buku menarik sekali saudara-saudara, saya kebetulan di toko buku dan membeli buku heinderfrisk yang terbaru, bagaimana menulis teologi masih bisa? Dan dia mengatakan masih bisa dan judulnya Minimal Teologi. Dalam bahasa latinnya Teologi Inpianisimo. Jadi teologi itu ya..tidak bisa terang benderang lagi tapi minimal. Sehingga itu juga mengancam pendapatan jadi minimal. Oke langsung saja Rizal memberikan. Rizal Mallarangeng Kalau sudah pendapatan soal lain lagi. Jadi kita diam Mas Goen, satu setengah jam kita coba diam bersemedi, kita merenungkan. Kalau tadi Mas Goen berkata bahwa mungkin ada sesuatu yang di luar ada dan tiada, contohnya adalah cahaya, dia tidak kelihatan tapi memberi kemungkinan bagi yang lain untuk kelihatan, tapi sebenarnya cahayapun sesuatu yang ada, ada unsurnya. Adalah kalau kata Einstein, apa dia partikel atau dia gelombang tapi jelas dia salah satu dari keduanya atau kedua-duanya sekaligus tapi dia tetap ada aja. Baik, kalau tadi Luthfie bilang dan juga Martin bahwa ini, buku-buku seperti ini sekarang gampang sekali ditemukan di airport kalau Anda ke luar negeri akan muncul di book sell, sebaliknya juga kalau Anda ke pasar-pasar, ke Tanah Abang, di pinggir-pinggir jalan, yang banyak muncul itu buku-buku tentang dari Fi Sabilillah itu. Jadi dalam genre yang sama sekali bertolak belakang dengan ini. Jadi mungkin disini ada masalah kelas juga Luthfie. Tapi eh..tapi saya kira kalau kita coba, kalau anda baca kolomnya Mas Goen sebenarnya bagus sekali eh..tentang atheisme ini. Mas Goen bukan seorang atheis pasti kalau anda mendengarkan dan melihat orangnya juga nggak pantes Mas Goen jadi atheis. Ehada jenggotnya hahaha kayak siapa

15

tadi kau bilang? Penulis itu? Daniel Dennett. Kalau, disini kami katakan bahwa mungkin zaman ini membutuhkan buku-buku seperti ini. Soal anda percaya apa nggak, itu soal lain lah. Merangsang anda berpikir, kalau anda percaya, anda lebihlebih percaya bukan solid tapi lebih arif, lebih luas, lebih memahami dimana kelemahan sesuatu yang membuat saya harus mencari jawab terhadap hal yang sangat vertikal ini. E..jadi, apalagi dalam tahapan seperti ini yang membutuhkan banyak sekaliapa ya kalau orangorang begitu banyak yang fanatik tentang agama mas? Di Amerika, di Timur Tengah. Nanti kita bahas kenapa disebut sebagai refoundation. Nah, sebetulnya menarik kalau kita bandingkan zaman ini dengan zaman sebelumnya. Pada tahun 27 Bertrand Russell berpidato dan kemudian menerbitkan tulisan I am not Christian yang tadi dikutip oleh Lutfie, dan kemudian diterbitkan lagi pada tahun 57, sebenarnya sama kira-kira yang dikatakan, tetapi anda lihat perbedaan zaman dengan sikap Russel. Disitu sikap Russel tercermin dari apa yang dikatakan ilustrasi tadi dari Luthfie, memang dari segi epistemologi, sikap itu seperti itu bahwa kalau dia mengaku dia seorang borderline antara seorang agnostisism dengan atheism. Tetapi sikap dia adalah bahwa bukan saya nggak mau percaya pada tuhan, tetapi kalau dia mati seperti cerita Luthfie tadi kalau dia mati dan dia bertemu tuhan maka dia berkata, tuhan, maaf kemarin saya nggak begitu serius soalnya bukti-bukti Anda nggak cukup buat saya untuk percaya pada Anda. Jadi ini sebenarnya sikap yang sangat terbuka, ini sebuah sikap yang e..ya secara epistemologis membuktikan sesuatu ada apa tidak ada dengan prosedur berpikir dengan tulus, dengan bukti-bukti yang dibutuhkan untuk saya tahu bahwa ini ada, nggak cukup. Mungkin dia ada, dia, segala macam argumen tentang sejari trotle tentang kausa prima, semua ini, yaa sebelum ada argumen tentang evolusi, semua ini pasti ada yang menyebabkan. Kita pasti ada, kalau ditarik ke belakang, baik waktu, baik kehadiran kita pasti ada yang menciptakan, pasti ada asalusulnya. Pasti sesuatu ada titik berhentinya dan itu yang disebut sebagai kausa prima. Tetapi secara logis kalau toh kausa prima ini disebut tuhan, pertanyaan berikutnya kalau logikanya kita terima, siapa yang menciptakan tuhan? And on and on and on. Pada filosof abd pertengahan seperti Thomas Aquinas sudah berusaha memberikan bukti-bukti kehadiran tuhan secara alamiah, tetapi pada abad 20 saya kira bukti-bukti semacam itu sudah terlalu re.. foundation. Jadi sama seperti sebelum ditemukannya pikiran atau teori tentang gravitasi oleh Newton, ada misteri yang belum diketahui, orang lari gampang kepada Tuhan. Tetapi setelah Newton, diketahui bahwa unsur intervensi Tuhan nggak diperlukan dalam percaturan perputaran planet karena disitu adalah hukum gravitasi. Sekali dia berputar, karena hukum-hukum yang sudah ada dan sudah pasti, maka dia akan berputar terus tanpa diperlukan intervensi. Walaupun sebenarnya kalau anda baca biografi Newton, kadang-kadang perputaran itu nggak sempurna, Newton

16

masih agak percaya sedikit bahwa Tuhan kadang-kadang ngatur sedikit jalur orbit planet-planet, tapi itu juga sebenarnya karena Newton adalah transisi dari sebuah zaman ke zaman yang lain. Dia seorang bapak ilmu pengetahuan modern, tetapi dia juga seorang praktisi a..lis yang sangat fanatik di sela-sela waktunya meneliti di London, bulan dan bintang. Jadi eh..tetapi pada abad 20 saya kira segala upaya para filosof, sebagaimana yang dilakukan para filosof sebelumnya untuk membuktikan tuhan lewat bukti-bukti alamiah saya kira semakin hari semakin terdesak. Bisa saja dipertahankan sekarang, masih ada celah-celah yang bisa diperdebatkan mengenai teori evolusi, mengenai masalah fisika, mengenai masalah fisika kuantum antara ada dan tiada, antara kemungkinan mendefinisikan sesuatu pada saat kita harus mengetahui sesuatu. Tapi lama-kelamaan teori-teori baru akan ditemukan dan setiap upaya untuk menjelaskan tuhan lewat bukti-bukti alamiah saya kira akan semakin terdesak. Dan orang seperti Bertrand Russell berkata bahwa buktinya nggak cukup, maaf bukannya saya nggak mau percaya pada Anda. Jadi itu sikap yang sangat dahsyat sebenarnya dari segi wisdom, dari segi elegan dan dia lahir pada sebuah zaman. Dan kalau kita lihat Dawkins dan Christoper Hitchens, disini memang mungkin dia, benar kata Mas Goen dia agak arogan terutama Christoper Hitchens, dan Dawkins semangat polemisnya luar biasa. Kalau Russell, dia nggak bersemangat polemis. Kalimat-kalimatnya begitu frigid, begitu insight.., saya kira orang susah tersinggung pada dia. Tetapi buku ini anda bisa semakin yakin pada iman anda tapi anda bisa juga rontok, tetapi anda bisa juga marah besar kepada mereka dengan menuduh mereka arogan. Saya sendiri nggak menganggap mereka terlalu arogan. Tetapi reaksi keras terhadap revivalisme agama itu saya kira tercermin disini. Tentu saja dengan perangkat-perangkat yang lebih banyak ketimbang e..Russell. Russell tidak berkata tentang, bercerita tentang masalah sosiologis dalam agama, masalah pengaruh-pengaruh lain dalam agama tetapi dia strictly, kalau istilah kalian tadi, dia teodesi. Jadi ada atau tidak ada tuhan kemudian apa dampaknya kepada kepercayaan yang ada. Jadi ini perbedaannya. Kalau kita melihat, sebenarnya setiap penulis dalam tradisi inikan harus menbeda-bedakan beberapa tingkat yang kita sebut sebagai steps of leapes of faith. Jadi eh..tingkat-tingkat bagaimana kita percaya. Kita bisa berdebat ada atau tidak adanya tuhan dan sampai pada sikap seorang theistik, seorang agnostik, atau seorang atheis. Atheis nggak percaya sama sekali. Seorang agnostik nggak peduli, ada atau nggak ada, pokoknya biarin terserah. Seorang theistik percaya tapi bukan sebagaimana, ini nanti kita hubungkan dengan leapes of faith itu. Ada tuhan, ada pencipta, ada keagungan, ada misteri. Mungkin apa yang dikatakan oleh Mas Goen adalah variasi lain dari sikap seorang theistik. Jadi orang seperti Einstein, seringkali orang keliru melihat Einstein, ilmu tanpa agama buta agama tanpa ilmu Einstein bukan seorang yang beragama seperti itu. Einstein mengagumi the beauty of the truth dalam mathematical truth, truth dalam hukum-hukum

17

fisika, truth dalam hukum-hukum biologi dll. Kekaguman pada misteri yang mungkin belum dipecahkan oleh akal sekarang, mungkin nanti dipecahkan sebagaimana dulu belum dipecahkan tentang gravitasi dan macam-macam. Tetapi bahwa itu ada dan itu mengandung begitu banyak hal yang belum dipahami, begitu banyak simetri, begitu banyak hal yang sinkron, membuat orang seperti Einstein kagum terhadap the being. Tidak berarti bahwa turunan kekaguman ini sama dengan yang lain-lain atau sebuah sikap yang sebenarnya akan dikritik oleh buku-buku seperti ini. Nah, kalau kita bicara tentang stages of our faith, pertama soal tuhan ada atau tidak ada, ok? Mostly, orang berkata bahwa tuhan ada. Ada sebuah sikap theistik disana. Tapi leapes of faith yang kedua, kalau anda islam misalnya, selain percaya pada tuhan anda harus percaya bahwa tuhan punya wakil di bumi ini yaitu Muhammad. Ada beberapa wakil tetapi wakil yang tertinggi kedudukannya adalah Muhammad. Selain itu ada, ini sudah dua tingkat dari leapes of faith. Tingkat berikutnya adalah tuhan menurunkan kitab lewat Jibril untuk Muhammad untuk diikuti oleh semuanya. Ada lagi leapes of faith yang ketiga, kalau anda tidak mengikuti apa yang dituliskan disitu akan ada neraka atau surga beserta sanksisanksinya. Jadi ada tingkat-tingkat turun terus ke bawah. Mungkin yang paling jauh adalah bahwa semua itu merupakan sistem dunia, sebuah syariah yang menjadi jawaban terbaik bagi manusia di bumi ini. Jadi bukan cuma surga, untuk mencapai surga di akhirat tetapi juga untuk mencapai surga di bumi. Sebenarnya kalau Dawkins dan Hitchens hanya bergerak pada tingkat pertama kedua, saya kira, saya soal setuju nggak setuju kembali lagi kepada anda, itu soal lain. Tetapi saya kira pembahasan mereka luar biasa canggih. Lebih canggih ketimbang Russell karena mereka memasukkan elemen-elemen ilmu pengetahuan modern yang pada saat Russell belum dipahami sepenuhnya, seperti teori terbaru tentang evolusi. Misalnya tentang penciptaan mata dan sebagainya walaupun oleh Darwin juga sudah disebut. Tetapi begitu banyak bukti-bukti baru yang mereka masukkan. Pada tingkat itu saya kira buku ini wajib dibaca dan tidak mendatangkan kemarahan karena justru harus mendatangkan kearifan, seperti tadi yang dicerminkan oleh Mas Gun. Kemungkinan, ketidakmungkinan. Masalah kita kan sebenarnya kalau kita fanatik kepada sesuatu yang begitubegitu duniawi sifatnya. Pada saat Dawkins dan Hitchens mambahas faith pada tingkat ketiga, keempat, kelima beserta pengaruhnya dan dampaknya, pada saat itu kita bisa berdebat. Pada saat itu kita bisa..kita bisa..kita bisa menganggap bahwa mereka mungkin dasarnya keliru. Mungkin faktanya salah, mungkin terlalu bias, atau mungkin terlalu marah melihat revivalisme agama. Jadi kalau..kalau.., agama tentu saja bisa menjadi bagian dari kekerasan, dia bisa menjadi bagian dari kearifan. Enenek saya tiap hari sholat, tiap hari puasa segala macam, saya melihat disitu agama justru menjadi, dia semakin tua semakin saleh, semakin tenang hidupnya, karena ada

18

pegangannya. Bahwa pegangan ini tentu saja tidak harus tuhan, tidak harus agama, iya. Tetapi buat nenek saya dalam kasus dia agama menjadi sebuah kekayaan, menjadi sebuah sumber kearifan. Buat saya, apapun atau siapapun yang bisa membuat nenek saya pasrah dengan baik, dengan senang, dengan happy menerima kehidupan, buat saya itulah yang paling penting. Bahwa tuhan ada atau tidak ada, atau leapes of faith pertama, kedua, ketiga, keempat itu salah semua, itu soal lain. Tetapi bahwa dia dengan itu menjadi seorang yang sangat tenang, sangat gracefull, baik dalam, hadir dalam kehidupan maupun exit dalam kehidupan buat saya thats what matters from all. Itu yang paling penting. Dan mungkin ini sebenarnya juga dibahas oleh Dawkins, diakui juga oleh Dawkins, tetapi jangan lupa bahwa dia tidak mengkritik orang-orang seperti nenek saya. Dalam pikiran dia ini bukan nenek saya. Dalam pikiran dia ini Jefry Farewell, dalam pikiran dia inianda tahu lah. Terlalu banyak contoh, begitu loh. Indonesia juga banak contoh tetapi nggak usahlah kita sebut beberapa nama. Jadi ekekayaan, ya ini mungkin juga bener kata Luthfie kata Daniel Dennett bahwa memang dia kebutuhan sosial dan anthropologis gitu. Tapi dia ada sepanjang zaman, berarti memang part of art. Kalau kata Dawkins dan Hitchens selama orang masih takut dengan gelap, selama orang masih takut dengan kematian. Aduh, mati itu kan dahsyat. Bayangkan kita ada, kenal Mas Gun, kenal Luthfie, saya punya anak, punya istri, punya tementemen tiba-tiba, BANG!!! Gak ada. Ya ada orang serakah berkata bahwa ya..saya kan dapat surga, dapat bidadari 75, dapat sekian-sekian, dapat mandi susu. Itukan, itu bukan sekedar takut terhadap misteri tetapi juga agak serakah dikit gitu lho. Udah mati masih mau lagi dapet sesuatu. Yang begini inikan ..inikan agama tidak menjadi sumber kearifan. Buat nenek saya nggak peduli dia mau, Ridwan itu juga nggak jelas di surga bikin apa gitu. Jadi nggak peduli dia. Tetapi kan pada saat dia sujud, dia berserah diri, dia berserah diri, dia itu berserah kepada sesuatu yangapa ya..? Sudahlah, ini hanya orang Jawa yang bisa menjelaskannya, manunggaling kawula gusti atau apa tapi saya lihat luar biasa. Dia mengeluarkan dalam bentuk agama tetapi saya kira satu-satunya yang paling penting itu religiusitisnya. Nah, memang orang seperti saya kan bisa berbeda penafsiran. Bahwa kematian, segala macam itu, aduh kenapa sih harus mengungkapkan apaterhadap misteri itu kok pakai bersujud, kok tuhan harus memerintahkan orang untuk menyembah Dia? Apa sih sembah? Gila sembah amat seehdiciptakan rame-rame sekian ratus juta, sekian milyar kok hanya untuk menyembah Dia sendiri inikan, tapi inikan cara berpikir agama kanak-kanak yang dikritik secara kanak-kanak. Jadi level yang dikritik dan yang mengkritik ini hampir sama gitu loh. Nah, saya salut dengan orang seperti Mas Goen karena levelnya sudah beyond. Hahaha... Nah, intinya kata Dennett bahwa, kembali ke tadi, secara anthropologis selalu ada, secara sosiologis selalu ada agama, selalu ada upaya, Tuhan. Sesuatu yang kita ini, karena memang dalam psikologi manusia dan disini mungkin modifikasi Freud juga bisa bermanfaat, ya

19

secara alamiah tanpa agama tanpa apa kalau anda lebih suka mana? Di sebuah ruangan yang terang atau di sebuah ruangan yang gelap? Jadi kan ada..ada sesuatu yang membuat kita agak takut dengan gelap. Ini mungkin hasil evolusi jutaan tahun. Ada sesuatu yang membuat kita, kalau soal evolusi mungkin anda paling gampang, buktinya anda setiap kali kita melihat ular takut, ini, padahal apa sih sebenarnya yang kita takutkan, tapi ini kan hasil evolusi jutaan tahun dalam psikologi manusia yang kerakkeraknya mungkin masih ada dari masa lampau jadi mungkin agama seperti itu juga. Takut pada kematian bahwa kemudian kita menyikapinya dengan yachildish reaction, yaitu mau surga, mau apa, segala macam, kita berbuat baik karena kita baik. Karena kita anggap berbuat baik itu baik pada dirinya sendiri. Bukan karena diperintah Tuhan atau bukan karena mau masuk surga. Bahwa ..sudahlah nanti kalau ternyata masuk surga ya berarti bonus gitu lho. Jadi itukan..itu sebenarnya sikap yang paling baik. Nah, mungkin Richard Dawkins dan Christoper Hitchens ini e..apa ya..bener juga gitu. Tapi dimensinya yang satu seperti ini, ini nggak dapet kita. Saya bisa mengerti karena kedua orang inikan memang mau..mau memukul, dan pada saat ini memang kaum fanatik perlu dipukul dengan orang-orang pinter seperti Dawkins. Orang seperti Dawkins ini kan, dia, orang-orang beragama ini, orang-orang bego sebenarnya. Kata-katanya disitu membuat kita, kalau kita ada makna kata yang bagus untuk kita pakai menyimpulkan orang-orang yang dikritiknya, saya kira yang kita pakai adalah ignorence, ignoranus, and stupidity. Bertuhan, beragama, kok nggak boleh makan babi, urusannya apa dengan kearifan, dengan kesentosaan hidup. Babi, itukan warisan dari tradisi Yahudi dimana mereka nggak tahu, tanpa sebabsebabnya apalah pokoknya babi itu haram diwariskan oleh islam segala macam. Kok Tuhan mengurusi soal makan babi itu lho. Inikan kalau ke tingkat itu kita memang, memang, apa namanya? Yaa agama jadi kayak anak kecil. Nah, kadang-kadang Dawkins sama Hitchens ini mengkritik yang seperti itu. Ya bagus juga kritik itu, kita juga tepuk tangan tapi kan dibutuhkan penulispenulis lain yang beyond. Tapi beyond untuk apa gitu lho. Lha Mas Goen sudah tahu, saya sudah ngerti, Luthfie sudah ngerti. Buat apalagi kita baca gitu. Itu kan cuma memperkuat, apa mengenak-enakkan kita lagi gitu. Jadi mungkin pada saat ini kalau dikatakan bahwa, mungkin dalam hal-hal tertentu, pada tingkat kemakrifatan tertentu, diskusi selesai. Tetapi saya tahu bahwa banyak orang masih membutuhkan diskusi-diskusi yang..yang..nah ini saya pake pendekatan politik. Mungkin kita melihatnya setelah beyond itu ya politik. Beyond ini melihatnya cara Straussian. Bahwa kalau kita hubungkan tadi dengan, dengan di pasar-pasar, ini di air port nih buku ini. Tapi di pasar-pasar buku fi sabilillah semua yang anda baca. Pada saat itu orang seperti Strauss bilang demokrasi modern ini, kita lihat kan The Power of the People, demos; masyarakat, cratein; pemerintahan. Yang memerintah itu meraka. Mereka harus dapat cara yang paling gampang untuk dikumpulkan bersama-sama, digerakkan ke arah tujuan-tujuan yang

20

baik. Ya ini variasi dari pendapat kapitalisme dan agama tapi dalam demokrasi, tanpa ikatan-ikatan bersama, untuk mencari kebaikan bersama, maka fondasi demokrasi akan lemah. Kenapa orang seperti Strauss, juga seorang agnosti barangkali, mungkin juga dia seorang theis, tetapi dia sangat republikan. Dalam pengertian bahwa dia ingin menggunakan fakta yang ada, karena dia seorang pemikir politik yang baik, fakta yang ada bahwa banyak sekali orang percaya kepada tuhan. Faktanya itu. Faktanya nenek saya begitu damai dalam kepercayaannya. Nah, kalau begitu kita gunakan itu untuk tujuan-tujuan yang baik. Bagaimana membuatnya membawa kebaikan bersama. Bukan sebaliknya. Nah, saya kira itulah..apa ya..dimensi kekayaan diskusi tentang agama, politik, filsafat. Ada tingkattingkatnya memang. Ada jenis-jenis buku untuk menghadapi gejala-gejala seperti Martin. Saya bukan menegasikan teologinya atau profesi Martin tetapi ya kita hargai lah. Cuma kalau anda berpidato tentang Tuhan atau mengajar tentang Tuhan kepada mahasiswa anda, kasih sedikit (kurang jelas) bahwa mungkin tuhan tidak ada dan kalau toh ada mungkin ketawa pada anda. Ini orang kok ngomong soal saya, wong saya aja nggak peduli saya ada atau nggak ada gitu. Jadi ada kadang-kadang kita juga butuh buku-buku, mungkin ya, seperti buku-buku Voltaire, agak gelitik-gelitik, bikin lucu-lucu dikit, serius tapi nggak terlalu serius. Ini mungkin yang kita perlukan tetapi saya yakin bahwa, saya yakin bahwa saat itu akan datang. Buku-buku yang lain yang serupa tetapi dengan tema, dengan variasi, dengan cara yang berbeda akan datang dan we are . for it. Jadi memang sudah saatnya revivalisme itu ditanggapi dengan serius. Baik oleh bukubuku seperti ini, maupun oleh buku-buku yang lain, dan juga orang-orang seperti Mas Goen dan Luthfie. Thank you. Moderator Terima kasih saudara Luthfie, Rizal, dan Mas Gun. Saudara-saudara, kita bersyukur dalam sejam lebih sedikit seluruh panorama atheisme, theisme, jalan ketiga, sudah cukup berhasil diuraikan. Tapi saudara-saudara sebelum kita buru-buru setuju dengan Rizal bahwa fungsi agama yang kita pertaruhkan agar baik, sebenarnya ada mozaik, ada puzzle yang saya hadapi dari ketiga mereka ini. Pertama adalah kita berdiri di hadapan tsunami, lalu Mas Goen mengatakan, mengutip Heidegger why there is something rather than nothing? Lalu Rizal mengatakan, lihatlah agama begitu rinci mengatur hidup, membangun ketaatan. Lalu bagaimana di tengah ketiga soal-soal ini, bagaimana kita bisa getting along? Atau tidak perlu? Atau ini masalah bahasa yang kita tidak bisa selesaikan sebenarnya? Ada tsunami, tapi ada something rather than nothing, tapi ada our religion yang begitu rinci. Silahkan saudara-saudara untuk masuk ke dalamnya, bertanya boleh. Silahkan yang berbaju merah, Hamid yang saya kenal, yang berkacamata. Mungkin tiga dulu ya, supaya lebih tajam dan to the point. Silahkan! Perkenalkan nama kalo bisa.

21

Feri (sentra tama) Terima kasih, selamat malam. Nama saya Feri dari sentra tama. Kalo kita berbicara hari ini tentang pergulatan dan gugatan terhadap tuhan dan agama tentunya kita tidak terlepas dari segi pandang kita seperti apa gitu. Apakah itu dari segi agama, dari segi filsafat, maupun tinjauan kita dari segi politik maupun segi yang lainnya. Tapi kalo kitalihat lebih fokus dan lebih teliti, tentunya seperti dibahas tentang adanya tuhan dan tidak adanya tuhan. Maupun dikaitkan lagi tentang adanya orang yang percaya maupun tidak. Jadi ada semacam tanda kutip atheis gitu. Disini kita mengutip bahwa kalo memang dari segi kepercayaan, orang pasti melihat bahwa segala sesuatu itu dari sudut pandang mata orang melihat secara nyata, kelihatan gitu. Tetapi kalo dilihat dari segi sudut pandang tidak nyata, itu tidak hanya orang sebagi ilusi gitu maksudnya tidak sesuai dengan riil atau fakta. Nah yang kita sekarang ini hadapi, bahwa terjadinya gempa bumi, terjadinya tsunami di tanah air itu kita melihat disatu sisi ada kebesaran tuhan yang kita lihat bahwa itu memang ada gitu dan kita rasakan memang itu ada satu apa ya..satu kemahabesaran dan kemahaadilan di dalam tuhan mengelola alam semesta ini. Jadi kalau kita mengetahui, orang itu terbagi dalam pola pikirnya itu, dalam pola menganalisisnya harus seperti apa? Apakah dia bisa melihat secara kasat mata ataupun merasakan dalam pikiran dan perasaan itu memang nyata gitu di dalam diri seorang, ada gitu merasakan. Dan yang saya tadi lihat bahwa dalam, dalam, bahwa tuhan itu dalam satu delusi gitu. Mungkin orang-orang yang berpikir begitu e..pandangannya seperti apa gitu. Harus diteliti seperti apa gitu. Moderator Boleh dipertajam pertanyaannya? Iya, jadi seperti kalau kita lihat ya pertanyaannya, saya tadi ingin mengetahui. Jadi seperti yang saya rasakan, bahwa seperti terjadi bencana alam di Indonesia gitu, apakah tuhan itu ada didalam sekitar kita dan saya rasakan memang ada. Dan itu memang harus kita apa ya..kita akui itu ada gitu. Baik terima kasih. Hamid silahkan! Hamid Basyaib Ini kan kita membahas 3 buku ini ya, jadi saya mencoba tetap berbasis pada 3 buku ini. Dawkins dan Hitchens sudah dibahas dengan baik. Hitchens saya belum baca, tapi Dawkins saya sudah baca. Saya mau masuk ke buku yang ini Letter to a Christian Nation. Saya kira bener kata

22

Celi dan terutama Celi ya, saya nggak denger tadi Luthfie ngomong apa nggak. Intinya sebetulnya mereka ini sangat jengkel kepada eksesifnya orang-orang beragama. Makanya mereka menulis buku ini. Kelihatan betul arogan dan sebagainya. Tapi saya mencoba memahami itu karena justru pihak agama ini yang betul-betul sombong. Dalam arti mereka mengklaim bisa mengerti semua hal, bisa mengatur semua hal. Secara individu mereka mengatur dari kepala sampai ujung kaki kita, caranya masuk WC, caranya melahirkan dst. Sampai sistem politik, sistem manajemen, sistem perbankan, semua dia mau atur. Sampe sistem reproduksi, kesehatan, penyakit. Betul-betul totaliter, padahal tanpa ada pertanggungjawaban nalarnya dan seterusnya. Itu sebetulnya intinya kenapa mereka begitu marah. Di sini Sam Harris saya kira lebih sopan dan dia mengemukakan data-data yang luar biasa. Dan kalo orang-orang agama itu dibilang sombong itu memang betul dan dampaknya luar biasa sekali. jadi dari tadi tidak disinggung, dimana dampak? Dampaknya luar biasa sekali, misalnya dalam upaya penemuan metode stem cell, di Amerika lagi ribut ya. Si Harris ini menyebut ini orang-orang agama bisanya ngelarang doang tanpa ngerti duduk perkara. Duduk perkaranya itu begini lho. Stem cell itu, itu adalah sel yang jumlahnya cuma 150 biji sel, yang didapat dari embrio yang berusia 3 hari. Seratus lima puluh itu namanya blastosis stem. Itu jumlahnya hanya 150 biji. Kalo mau tau betapa kecilnya 150 ini, saya bandingkan dengan sel yang ada di otak seekor lalat. Sel yang ada di otak seekor lalat itu ada lebih dari 100 ribu biji. Jadi diukur dari ini gak ada artinya sama sekali. Pertanyaan dia, kenapa ini dilarang gitu? Apa, terobosan-terobosan dahsyat dalam ilmu pengetahun yang bisa mengurangi penderitaan manusia luar biasa besar, ada berjuta-juta orang sakit kanker misalnya, bisa disembuhkan dengan breakthrough sains semacam ini, yang mengalami, macem-macemlah. Kan ini menjanjikan hal yang luar biasa sekali. Lho..gara-gara keyakinan yang seperti itu, ini dihambat dan berjuta-juta orang bisa mati sia-sia, dan nggak tahu sampai kapan. Jadi kata Harris orang-orang beragama ini nggak peduli sama penderitaan manusia. HIV juga begitu. Paus melarang pake kondom, lho sudah jelas ini, transmisi penyakit ini luar biasa di Afrika, 4 juta orang mati tiap tahun gara-gara ini. Dan gereja katholik terus saja melarang penggunaan kondom. Di negaranegara Amerika Latin, aborsi juga dilarang. Dan sekarang ini ada beberapa perempuan yang dihukum 30 tahun penjara hanya karena aborsi, dan orang beragama tidak peduli kenapa mereka melakukan aborsi. Nah jadi banyak sekali. Kalo argumem agama kembali ke blastosis tadi, kalo argumen agama adalah itu semua sel bisa menjadi mahluk hidup, secara teoritis kata Harris, temuan ilmu mengatakan bahwa semua sel sekarang ini berpotensi menjadi mahluk hidup berkat rekayasa genetik. Sel apapun. Jadi kata dia, kalau anda menggaruk hidung anda begini, anda melakukan holocaust. Ada berjuta-juta mahluk hidup mati. Jadi apa yang dibela gitu

23

lhonah inilah yang membuat dia sangat jengkel gitu. Nah, saya kira ini penting sekali dan kalau kita kaitkan dengan di Indonesia, misalnya ilmuwan. Di Amerika anggota akademi ilmu Amerika 93 % atheis. Jadi kesimpulan dia, dan berdasarkan riset-riset, makin berpendidikan orang, makin atheis. Dan makin atheis sebuah negara, makin sehat masyarakatnya. Itu penelitian lho, jadi kelihatan di Denmark, di Perancis, di Austria, dibanding Amerika misalnya. Amerika kan 5/3 persen kreasionisme percaya. Masih sangat gitu lho itu data-datanya sangat jelas, sehingga saya kira kalo kita mau bikin kounter balik harus sebanding, gitu kira-kira. Karena mereka menunjukkan data yang sangat jelas. Agama sebagai sumber moral juga nggak benar. Misalnya Kristen, Martin Luther aja belajar dari Gandhi. Gandhi darimana? Dari agama jaim. Jaim sebelum kristen. Martin Luther King, bukan Martin Sinaga. Lha kalo agama dibangun sebagai sumber moral, inti agama adalah ten commandemend. Kata Si Harris, empat pertama nggak ada hubungannya dengan moralitas, baru mulai poin ketiga nggak boleh mencuri, nggak boleh apa. Tetapi kata dia, semangat untuk tidak mencuri tidak membunuh itu jauh ada sebelum agama. Jadi dari mana, sebagai sumber moralpun nggak tepat gitu lhoapalagi kalo kita periksa kitab-kitab suci. Banyak sekali yang menyerukan kekerasan. Quran juga banyak, harus menjauhi, membunuhi orang Yahudi, orang kristen dimanapun berada. Ada di Quran. Di kitab Bibble juga banyak sekali. Harus membunuh orang dan sebagainya, Martin lebih tau sebagai teolog. Lha jadi kenapa bilang agama juga pedoman hidup, sumber moral, ini juga diragukan. Gitu lhomakasih ya Moderator Ok. Tampaknya masalahnya bukan tuhan melainkan agama. Ya, silahkan. Tapi nanti Mas mungkin bisa jawab itu ya. Hikmat (Cilandak) Assalamualaikum Wr. Wb. Saya Hikmat dari Cilandak. Ee..saya membaca God is not Great tidak di airport tetapi di Kino Kuningan kebetulan ada buku yang dilepas plastiknya. Saya baca sekilas-sekilas saya merasakan apa yang dikatakan Mas Goen ada nuansa kepongahan ya.. walaupun dibelakangnya atau banyak pujian di dalam buku itu yang menyatakan, wow! dia jurnalis yang hebat tapi terasa banget gitu. Lalu Letter to a Christian Nation saya nggak baca tapi saya sempet baca yang The End of Faith yang saya kira itu lebih seminal yadaripada Letter to a Christian Nation. Sam Harris, kesan saya awal adalah Sam Harris sebagaimana banyak dipromosikan oleh banyak media di Amerika

24

.di ateism ya, suasana zamannya lagi begitu. Lalu God of Delusion, Richard Dawkins, terus terang saya memilih tidak membacanya karena boleh dibilang saya apriori terhadap Dawkins bukan karena kepercayaannya ya, tidak percaya kepada Tuhan, tapi saya merasa, apalagi buku ini, apa ya..dia kayak aki-aki yang udah cerewet aja gitu jadi jualannya udah basi lah ateism gaya Dawkins ini. Saya apriori karena saya merasa Dawkins ini sebagai ilmuwan yang bukanlah tipe ilmuwan yang telaten, dia tipe ilmuwan yang banyak melakukan lompatan, misalnya apa sih prestasinya? Selfishgene? Apa prestasi dia..e..meme. Itu teori-teori yang sebetulnya terlalu spekulatif untuk khazanah teori evolusi kontemporer. Tapi saya bisa merasakan kesan itu karena saya mendapatkan informasi dari media, kebetulan salah satu edisi khusus majalah Forbes, sebuah tulisan dari Tom Wolve, yang memberikan perbandingan, ada dua perbandingan, pertama bahwa Dawkins itu tidak lebih pengikut dari seorang ilmuwan lain yang lebih telaten yang pada tahun 70-an 80-an memberikan kontroversi besar dengan determines biologinya yang membuahkan perhatian besar terhadap, e..terhadap genetik, ilmu genetika yaitu Edward Wilson, dan di masanya, Edward Wilson itu sebagai ilmuwan telaten itu banyak dipertentangkan dengan lawan polemiknya adalah Stephen Jeigles. Nah, tapi kalo Tom Wolve itu sangat antipati terhadap Stephen Jeigles, saya justru merasa menemukan keindahan-keindahan dalam tulisan Stephen Jeigles. Nah, saya merasa God of Delusion ini, dari Dawkins, itu mendapatkan popularitasnya antara lain karena Dawkins sudah nggak ada lawannya lagi karena kebetulan Stephen Jeigles ini sudah meninggal pada tahun 2001 apa 2002? 2002. Nah, udah nggak ada lawan yang setara lagi atau yang sama passionate-nya dengan Dawkins, dan kemudian, makanya saya setuju juga ketika dateng kesini ada Terry Eagleton membahas buku God of Delusion-nya Richard Dawkins, dari awal dia sudah bilang, baca bukunya Richard Dawkins itu kayak dia itu nggak mengerjakan PR-nya. Dia mencoba membahas teologi tapi kurang bacaannya, sama seperti kalo kita melihat ada orang mengkritik teori evolusi tapi pegangan dia cuma buku panduan burung Inggris, yang ada di Inggris. Jadi sangat minim banget gitu. Itu yang saya rasakan dan saya heran kalo itu terus dimaksud saya adalah sederhana, sebaiknya, betul bahwa tidak dibungkam dan tidak hendak membungkam Dawkins, saya cuma bosen aja, basi aja menurut saya dia. Tapi saya merasa kita perlu mendapatkan spektrum yang lebih lengkap. Mengapakah dalam popularitas buku-buku kaum ateis modern ini, lawan yang setanding yaitu misalnya Si Stephen Jeigles ini juga tidak dikedepankan. Mungkin masalahnya ada konteks ekonomi politik juga, disamping sebagai lawan tanding sudah meninggal gitu ya, (karena dokis prosubsidi e..apa, anti subsidi) iya betul, saya kira kan banyak pertempuran perebutan ruang publik teori evolusi dan kaum kreasionis di Amerika itukan perebutan grant, terus tadi kan riset, stem cell, itukan masalah ekonomi, ada konteks ekonomi politik juga. Kebetulan pemerintahan Bush itu sangat tidak endors terhadap proyek-proyek akademisnya Dawkins dan temantemannya gitu. Nah, jadi saya merasa bahwa perlu ada imbangan yang lain

25

dan menurut saya, saya menawarkan bahwa Stephen Jeigles adalah imbangan yang indah. Saya sebetulnya pengen ngomong lebih banyak lagi tapi eh..kepanjangan jadi itu aja, terima kasih. Moderator Ok, mungkin itu dulu ya, e..satu lagi di belakang, terakhir yasebelum diberi respons. Silahkan. Isra Ramli Terima kasih, mungkin pertanyaan saya singkat saja. Nama saya Isra Ramli. Esebenarnya munculnua lagi e..munculnya lagi gejala ingin menandingi apaingin meberangkat dari keprihatinan terhadap bangkitnya revivalisme fundamentalisme agama tadi dengan mengangkat lagi ateisme ini, mungkin dari rasa tidak aman tapi rasa tidak amannya siapa sebenarnya gitu? Apakah ejadi gini menurut saya, sekian lama isu ateisme itu terpendam gitu ya, ditengah keberhasilan berbagai macam produk-produk ilmu pengetahuan yang sebelumnya menjauhkan manusia dari iman dan agama, Tuhan dan agama gitu. Tapi pada penghujung abad 21, banyak sekali proyek-proyek itu yang gagal. Lalu kemudian memunculkan lagi hasrat itu untuk kembali kepada agama dan itu disambut dengan semangat yang mungkin di beberapa pihak itu keterlaluan gitu ya, sehingga memunculkan ketidakamanan bagi yang berbeda. Nah, saya kira, selama tatanan dunia yang diciptakan dengan berbagai macam temuan ilmu pengetahuan baru, misalnya pengaturan sistem sosial politik dengan model Darwinisme ini tidak bisa menciptakan rasa aman yang sebenarnya gitu, tadi itu, yangseperti yang disampaikan Mas Hamid tadi juga misalnya, di sejumlah negara yang, kita ada penelitian juga, survey gitu ya, dulu pernah didiskusikan disini juga, yang sekuler di negara-negara Finlandia, Denmark gitu. Ternyata masyarakatnya memang lebih sejahtera, lebih tetapi itu hanya berlaku disana. Di belahan dunia yang lain, yang beragama justru yang terjadi sebaliknya. Mereka merasa terancam, mereka merasa tertindas, merasa di eksploitasi, dan muncul ancaman ini daridari tempat-tempat itu gitu. Nah, lalu kemudian direaksi lagi oleh, kata Bang Rizal tadi kalo pake model kelas, ini kelas yang terancam ini yang kemudian ingin mengajukan lagi gitu, ateisme ini sebagai kritik terhadap kebangkitan agama tadi gitu. Saya kira bagaimana sebenarnya menjembatani ini? antara ketidakamanan dari kelompok yang sebenarnya merasa jawaban non agama, jawaban non Tuhan itu sudah cukup memadai sebenarnya untuk kita menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Tapi bagi yang kelompok ini, itu tidak bisa. Itu hanya baik buat kamu, tidak baik buat kami. Kami punya jawaban yang mengacu kepada sejarah kami sendiri yang itu akhirnya memang mengancam kelompok

26

yang sebelumnya lebih apalebihapa istilahnyakelompok yang mapan saat ini gitu. Saya kira memang susah untuk mereka memegang keyakinan terhadap itu karena mereka sendiri belum mencapai hal itu gitu, keadaan itu. Mungkin itu Moderator Ya, mungkin kalau saya tangkap pertanyaan-pertanyaannya tampaknya memang persoalannya lebih pada agama itu sendiri ya. Cara beragama, bagaimana agama itu diajarkan. Namun mungkin kepada Luthfie, apa memang tantangan biologi itu tidak serius gitu? Sehingga kok percakapan kita cenderung mau memahami situasi agama tapi belum cukup mengkounter bahwa ini masalah Tuhan, masalah eksistensi Tuhan. Luthfie A. Saya jawab Hamid dulu ya, lalu kemudian pertanyaan teman yang diajukan sebelum yang terakhir ini. Buku yang disebut Hamid itu adalah sebetulnya kumpulan respon dari Sam Harris yang dia pernah muat di website dia, dia punya website sendiri. Respon dia terhadap orang-orang Amerika yang marah terhadap buku dia sebelumnya, The End of Faith. The End of Faith ini sebetulnya lebihlebih kokoh argumen-argumennya dan banyak sekali, separo dari buku itu adalah catatan kaki. Dia berusaha menulis argumenargumen dia ke dalam buku-buku ilmiah. Nah, yang menarik dari Sam Harris dia sebetulnya seorang mahasiswa filsafat, masih muda sekali, masih mengambil Ph.d dan dia nyeberang dari filsafat ke neuro sains yang lebih saintis. Dia mempelajari tentang saraf-saraf dan dia menemukan apa yang disebut saraf kafir dan saraf iman. Nah yang menarik, yang menarik itu gini, di dalam wacana tentang agama dan Tuhan yang muncul belakangan ini, ada apa yang disebut konsep God Spot. Penemuan titik Tuhan-lah kirakira atau god center yang ada di, nggak tau lah letaknya dimana tapi ada yang bilang di salah satu bagian otak kita. Nah, dengan mengutip Dawkins, Sam Harris bilang bahkan kalaupun kemudian kita ketemukan yang disebut God Spot, maka itu harus kita pertanyakan. Benarkah itu ada? Dan bagaimana itu muncul? Artinya eya pendekatannya tetap itu tadi, tetap begitu percayanya dengan sains bisa menjelaskan semuanya. Bahkan kalau kita menemukan ada kecenderungan-kecenderungan agama dan spiritual dalam tubuh kita, maka kita harus stretch back ke kerangka evolusi dan penjelasan sains bisa menjelaskan itu. Pertanyaan yang kedua atas soal pilihan kenapa kita lebih cenderung mendiskusikan Dawkins dan Dawkins lebih populer. Saya kira tidak juga benar. Stephen Jeigles itu juga banyak sekali dikutip orang dan dia berkalikali diundang sebelum dia meninggal tahun 2002 dan merupakan teman diskusi yang bagus, diskusi-diskusi dalam wacana ini dia cukup populer.

27

Nah, yang menarik menurut saya sebetulnya buku-buku atau pendekatan diskusi tentang Tuhan belakangan ini itukan mencoba melibatkan temuantemuan ilmiah. Sampai tahun 80-an tema-tema tentang pembuktian adanya Tuhan itu sangat spekulatif sekali. Saya sudah hampir bosan baca buku-buku filsafat tentang keberadaan Tuhan. Ada bukunya John Hick The Exixtence of God misalnya, dari Aristoteles, Plato, David Hume dll itukan sesungguhnya tema-tema yang sangat spekulatif. Perdebatan metafisik itu tidak pernah berakhir sampai akhir kehidupan nanti. Tetapi para saintis ini disukai atau tidak, memberikan bukti-bukti baru yang riil. Mereka kan kaum realis. Bahwa ada kebenaran independen di luar dunia kita. Itu yang mereka coba libatkan, mereka jadikan bukti bahwa ini lho bisa dijadikan argumen untuk membuktikan perdebatan kita selama ini tentang keberadaan Tuhan. Saya kira setelah tahun 80-an. Tahun 80-an aja perdebatan tentang eksistensi Tuhan ada tapi masih sangat filosifikal. Tokohnya namanya Kay Nelson dan Alfin Pratinga juga berbicara tentang itu tapi masih tetap dalam pola lama. Baru belakangan tahunterutama setelah 9/11 itu banyak sekali para saintis yang berperan sebagai filosof dan teolog sekaligus menjelaskan dengan semangat ateisme. Goenawan Mohamad Saya nggak tau ada yang tanya pada saya apa nggak, tapi saya pikir saya melihat perdebatan antara orang-orang kayak Dawkins dan beberapa orang yang mendekati persoalannya denga keilmuan dan orang-orang agama yang juga berdasarkan doktrin. Dua-duanya sama sebetulnya. Kedua-duanya bertolak dari kepastian dan keinginan akan kepastian. Jadi ya cocok untuk berdebat. Tapi tidak kena bagi saya. Kedua, tadi Luthfie mangatakan ilmu lawan metafisika, ya sama aja bagi saya sebab sains dan metafisika, sebab beberapa pemikir mengatakan kita sudah saatnya menghilangkan metafisika, The End of Metaphisic. Karena metafisika, kembali seperti yang dikatakan Heidegger tadi, seperti juga ilmu pengetahuan, yaitu berpikir dengan cara yang disebut calculatif thinking. Berpikir dengan menghitung, berpikir dengan menguasai, berpikir dengan comprehention. Comprehention itu kancomprendre itu kan memegang, sis merangkum. Tapi kan hidup tidak semuanya demikian. Jadi kalo, karena saya seniman katakanlah, saya mengalami yang hal lain yang menurut saya perdebatan antara sains dan agama sama-sama membosankan dan sama-sama tidak berarti bagi saya. Sebab Tuhan mereka adalah Tuhan kepastian, Tuhan saya adalah Tuhan harapan dalam ketidakpastian. Moderator Sori ini moderator mau bertanya ke Mas Gun, tapi apakah kita boleh berpikir begitu Mas Gun, ketika kita harus berkata tidak! secara total terhadap Holocaust. Bisakah kita kehilangan metafisika di hadapan Holocaust bukankah kita justru perlu sungguh-sungguh?

28

Goenawan Mohamad Tanpa agama tanpa metafisika, kebiadaban harus dibilang tidak! Jadi kalau tadi mengatakan dengan agama orang jadi bermoral kadang-kadang tanpa agama orang bisa bermoral. Sangat bisa. Dengan agama juga orang bisa bermoral. Tapi masalahnya persoalan tadi yang dikatakan Hamid terlalu banyak peraturan dalam agama, melarang ini melarang itu, kita baca dalam fikih, kita baca dalam perjanjian lama, semua detail sampai soal pakaian diatur. Itu karena the article itu sudah menjadi the normatif, yang eksis, yang mangakui kedhaifan kita digantikan dengan norma-norma. Nah, disitu kita tidak lagi melihat bahwa sebetulnya kita ini kurang, kekurangan sama sekali. Jadi kalotadi saya mengatakan manunggaling kawula gusti, bersatunya aku denga Tuhan atoitu kadang-kadang bisa menimbulkan orang takabur. Padahal menurut saya, saya ini lagi mempromosikan the ethic of fenitude, etika kegaiban yang pada dasarnya kita dalam kekurangan dan karena itu kita harus mencoba mengakui itu dengan hidup dari situ. Itu sebabnya maka agama, kita kembali kepada agama, itu sebetulnya bisa mengingkari Tuhan. Karena agama begitu angkuhnya untuk mengekang bahwa dia merepresentasikan Tuhan. Sama dengan agama mengaku mengartikulasikan dengan kebenaran. Didalam masa demokrasi saya kiraCeli betul sekali bahwa pada akhirnya ya, pragmatism determines, menentukan. Ya, kalo beragama membikin banyak orang menjadi baik ya oke kita manfaatkan. Itu memang pada akhirnya, asal menurut saya jangan sampai klaim dari agama bisa mengatakan bahwa dia bisa menyelesaikan soal. Tapi satu kontradiksi dari negara islam adalah bahwa islam dianggap sempurna lalu bisa menciptakan masyarakat sempurna. Tuhan mengatakan dunia tidak sempurna. Nah, baik kembali kepada masalah ilmu, sains, iman yang seperti itu tadi, fundamentalisme agama tadi, seperti Sayyid Qutub itu hanya meneruskan apa yang disebut oleh Gadamer the enlightment to judice, bahwa orang bisa mengerti, menemukan makna dengan menguasai pengetahuan. Nah kita, karena saya seniman dan tidak merasa bisa menguasai makna, makna selalu merucut saja, maka saya pikir perlawanan yang bisa dilakukan oleh puisi adalah perlawanan terhadap dis-enlightment prejudice. Kembali kita harus, menurut saya, bahwa ada yang lain yang tidak bisa kita rumuskan. Ada seorang filosof katholik Fatimo namanya, yang berbicara tentang weak thought, (nggak jelas, bahasa perancis). Pikir lemah, berpikir lemah, berpikir dhaif. Dari sana banyak hal dipecahkan. Kita tidak akan mengatakan bahwa sebuah kekuatan apapun bisa memecahkan persoalan masyarakat. Nah, karena itu saya kebih suka pada pemikiran kaum (tidak jelas) daripada kaum liberal. Maaf disini saya harus mengatakan begitu.

29

Bahwa pada dasarnya ada suatu vacuum, kekosongan yang tidak akan sepenuhnya diisi oleh siapa saja. Dan bahwa dalam kekosongan itu ada suatu konflik yang tidak bisa dihindarkan. Bahwa tidak ada konsensus yang diimpikan oleh Habermas tanpa pergulatan politik, tapi pergulatan politik juga harus rendah hati, pada dasarnya dia akan mencapai batas. Bahwa pada akhirnya adalahiya, ada yang lain yang kita tidak bisa kuasai. Pada akhirnya adalah the ethic of fenitude. Moderator : Wow! Terima kasih. Silahkan Mas Rizal untuk memberi respon. Rizal Mallarangeng Terima kasih. Kalau kembali ke pertanyaan anda tadi ya, apakah mungkin untuk menolak ketidakadilan atau barbarisme tanpa teologi? Ya bukan cuma tidak mungkin tapi kita alami sehari-hari. Itukan sama dasarnya kalau misalnya anda nonton film atau sinetron, anda menangis karena melihat sesuatu yang menyedihkan. Tanpa harus berpikir soal tentang Tuhan dan filsafat, anda menangis. Anda lihat anak kecil dipukul di jalan tiba-tiba anda tersentak. Mungkin anda berani juga untuk melawan ya, memukul kalo anda cukup kuat badannya tapi kan anda merasa tiba-tiba sedih atau terenyuh. Ini yang disebut oleh David Hume sebagai sympathy as the basis of human relationship and basis of justice. Jadi ada sesuatu yang inheren dalam diri manusia, dalam kompleksitas psikologis kita yang seperti itu gitu. Dan inilah sebenarnya kalau kita mau berfikir secara naturalis, foundation of religion. Teologi dasarnya dari situ, jangan dibalik. Agama juga begitu. Kalau kita ambil cara berfikir sosiolog dan anthropolog gitu. Nah memang yang jadi soal adalah, boleh saja anda pakai teologi untuk mengungkapkan simpati, itu malah memperkuat dan memberikan justifikasi yang lebih baik. Tapi kan kadang-kadang yang dipersoalkan adalah teologi ini sudah terpisah dengan apa yang disebut dengan simpati tadi, dengan perasaan inheren itu. Agama setelah menjadi lembaga yang begitu besar, dia sudah rumit dalam hukum-hukumnya, dalam aturan-aturannya sendiri sehingga unsur core-nya, unsur substansinya yaitu simpati tadi jadi hilang. Jadi banyak politiknya, banyak ininya, apalagi kalo sudah dicampur dengan segala macam fanatisisme. Jadi esama dengan anda mau menciptakan polisi agama, menangkap orang kalo berzina, menangkap orang kalo nggak berjilbab, menangkap oranag kalo jadi masalah simpati, masalah grace yang tadi saya katakan pada nenek saya sudah sama sekali nggak kelihatan disitu, dan itukan jadi masalah. Dan pada tingkat yang ekstrim buku-buku seperti ini menyentak kita. Hei, dasarmu apa sih semuanya ini? Semua ini kan karena kamu percaya sama Tuhan. Karena itu saya mau mengkritik kamu dari fondasimu yang paling dasar yaitu konsepsi

30

ketuhanan. Nah, saya juga tidak setuju tadi kalo Mas Goen memberi kesan seolah-oleh bahwaya memang tidak ada ujungnya tetapi seperti kata Plato Unexamined life is not worth living. Nah, bagi banyak orang konsep yang paling penting adalah konsep tentang misteri dan Tuhan. Kalo itu anda tidak coba bahas sedikit, kenapa saya bertuhan, bagaimana saya bertuhan, dasarnya apa segala macem, itukan sama dengan berada terus-terus dalam gelap. Karena itu kalo anda mau tumbuh dewasa, anda bisa saja keliru sekarang tetapi kan anda belum tentu keliru terus menerus. Suatu saat anda akan ketemu pencerahan. Seperti Mas Goen sudah ketemu pencerahan tapi kan prosesnya harus anda lalui. Mungkin anda akan kebentur dulu jadi fanatik. Berapa bayak dari kita yang sampai pada tingkat wisdom setelah melalui saya sendiri mengaku masa remaja saya, saya ikut pengajian islam jamaah. Islam jamaah yangjenggot dan celananya nggak boleh sampai mata kaki. Setahun lebih saya sama juru bicara presiden boncengan waktu remaja menghadiri, apalagi bulan puasa, semaleman kita. Hamid juga mungkin begitu. Tetapi itukanitu proses. Yang kita nggak mau adalah jika proses ini terputus oleh satu atau lain hal. Jadi ini kan ada life should be examined trully. Kalo kita menganggap bahwa masalah Tuhan penting, bicarakan soal Tuhan, diskusikan soal Tuhan. Baca buku-buku seperti ini. Saya bukan nggak mau memasukkan Jeigles , tapi levelnya Jeigles dengan Dawkins dalam soal masalah diskusi ketuhanan jauh sekali. Kalau masalah evolusi mereka bersaing. Kalo masalah gini, Jeigles gak ada apa-apanya karena memang dia nggak membahas terlalu banyak soal yang beginian. Tapi begini deh intinya adalah bahwaini kan proses. Orang lebih banyak berbicara soal ini sekarang, karena memang barangkali, ini yang saya katakan tadi bandingkan dengan zamannya Bertrand Russel, dengan sikap seperti itu dan bukunya kan dibaca di kalangan tertentu. Anda harus tahu bahwa buku ini selama 13 minggiu menjadi best seller di New york Times. Bararti ini sudah buku, bukan Cuma buku airport. Ini best seller, orang bacanya dengan serius. Ini sudah berbulan-bulan jadi best seller. Bagus dalam mengerjakan itu bahwa orang sekarang mulai mempertanyakan baik mereka yang percaya maupun yang nggak. Ini satu hal yang boleh anda nggak setuju dengan buku ini, tapi saya bacakan satu paragraf yang sangat bagus dalam buku ini. The argument of this faith is the foundation and the origin of all argumenst because it is the beginning but not the end of all arguments about philosophie, science, humanity, and human nature. Argumen-argumen baik kontrol maupun againts tentang agama, terutama tentang Tuhan, tentang kepercayaan, itu sangat penting. Karena memang sejak awalnya pembicaraan, diskusi, teori, argumen, mengenai human nature, mengenai siapa kita, mengenai manusia, bagaimana kita harus bersikap satu sama lain, awalnya adalah diskusi-diskusi seperti ini. Tentang Tuhan, tentang penciptaan, tentang astronomi. Bahwa dia kemudian berkembang itu kita syukuri. Tapi inilah gunanya buku-buku seperti ini. Dia kembali membuat kita merenung apa sih penciptaan? Apa sih kita? Dan

31

saya percaya sama dengan Plato bahwa pada akhirnya semakin kita bertanya, semakin kita jauh melangkah, semua proses-proses ini membuat kita lebih dewasa. Yang kita nggak mau adalah ada satu kelompok fanatik yang berkata, bakar buku ini! jangan terjemahkan buku ini! Larang buku ini! Dia memberikan proses pendewasaan. Karena itu, kita bukan anti kepada yang anti buku ini, kita anti kepada meraka yang ingin melarang buku ini, for whatever reason. Jadi saya kira this is not the end of the discussion, diskusi tentang Tuhan yang baik, yang filosofis, yang dalam, its only the beginning of the discussion. Moderator Terima kasih. Percakapan sebenarnya petanya sudah jelas. Kecuali ada yang ingin masuk lagi, 15 menit lagi mungkin. Rio (Mahasiswa UKI) Ketika bicara tentang agama, saya kok selalu ingat dengan ideologi anarkisme. Menolak pusat ato tidak ada pusat bagi sesuatu. Saya pikir ketika kita bicara tentang agama, kita bicara tentang Tuhan, kita bicara surga neraka, kita bicara imbalan dan kebebasan. Ketika manusia tidak punya kebebasan, akhirnya ada logika rahmatan lil alamin kalo orang islam bilang. Agama ini penyelamat bagi semua orang, bagi seluruh alam. Rumah saya bersebelahan dengan masjid dan saya cukup kesal ketika orang di masjid itu merasa punya hak untuk menyelamatkan saya sehingga dia merasa punya hak untuk terus-menerus datang ke rumah saya dan mengajak saya ke masjid. Saya kira disinilah masalahnya Ketika terjadi kekerasan-kekerasan yang mengatasnamakan agama. Ketika orang merasa ada pusat dan memaksakan itu menjadi pusat bagi orang lain. Ketika ada arki-arki dan orang lain harus punya pusat yang sama dan ketika ada hukuman, semua orang maksa ingin menyelamatkan kawan-kawannya. Ketika ayah saya nyuruh saya sholat karena takut saya masuk neraka, ketika ibu saya nyuruh saya puasa karena takut saya masuk neraka. Itu sebenarnya satu kondisi dimana ayah dan ibu saya memaksa saya untuk menerima pusatnya mereka. Jadi saya pikir kekerasan di dalam agama ini, penyembuhnya atau cure-nya justru anarkisme. Terserahlah seseorang itu punya pusat tetapi dia tidak boleh memaksakan pusat itu kepada orang lain. Terima kasih. Moderator: Ok. Saya kira kita akhiri saja diskusi kita malam ini. Terima kasih buat Luthfi, dan Mas Goen. Terima kasih juga buat Celi. Selamat malam. Wassalamualaikum.