Anda di halaman 1dari 28

Osteomyelitis

PENYUSUN Mentari Dwi Putri 406127100 PEMBIMBING Dr. Shofiatul M., Sp.Rad Dr. Syarifah S., Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI PERIODE 17 JUNI 13 JULI 2013

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugerah yang dilimpahkanNya, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan Referat dengan topik Osteomyelitis Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan hati terbuka penulis menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini. Pada kesempatan ini juga penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Dr. Shofiatul M, Sp. Rad 2. Dr. Syarifah S, Sp. Rad yang telah banyak memberikan ilmu dan bimbingannya selama siklus kepaniteraan Radiologi di RSUD CIawi sejak tanggal 17 juni 13 juli 2013 Dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan wacanawacana yang berkaitan dengan Osteomyelitis serta gambar-gambar yang diambil dari situs internet. Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.

Jakarta, 12 Juli 2013 Penulis,

Daftar Isi
Kata Pengantar Daftar Isi Bab I : iii Pendahuluan Bab II : iv Definisi Epidemiologi Etiologi Klasifikasi Patofisiologi Gejala Pendekatan Diagnostik Penatalaksanaan Bab III : Kesimpulan Daftar Pustaka v i ii

BAB I PENDAHULUAN Osteomielitis adalah suatu penyakit kuno yang mempunyai reputasi hebat dalam menimbulkan penyakit yang terus-menerus dan dapat menimbulkan kekambuhan. Hal ini telah di-diagnosa pada fosil manusia pada jaman Neolithic dan telah diuraikan oleh banyak para penulis kuno termasuk Hippocrates. Istilah osteomyelitis menandai infeksi / peradangan sumsum tulang (pada akhiran 'myelitis'), tetapi yang akan digunakan di sini adalah untuk menandai adanya infeksi manapun yang mengenai tulang, sekalipun terbatas pada korteks ( kadang-kadang dinamakan osteitis). Osteomielitis adalah merupakan suatu bentuk proses inflamasi pada tulang dan struktur-struktur disekitarnya akibat infeksi dari kuman-kuman piogenik. Infeksi muskuloskeletal merupakan penyakit yang umum terjadi; dapat melibatkan seluruh struktur dari sistem muskuloskeletal dan dapat berkembang menjadi penyakit yang berbahaya bahkan membahayakan jiwa. Infeksi dalam suatu sistem muskuloskeletal dapat berkembang melalui dua cara, baik melalui peredaran darah maupun akibat kontak dengan lingkungan luar tubuh. Osteomielitis sangat resisten terhadap pengobatan dengan antibiotika. Menurut teori, hal ini disebabkan oleh karena sifat korteks tulang yang tidak memiliki pembuluh darah. Infeksi tulang sangat sulit untuk ditangani, bahkan tindakan drainase dan debridement, serta pemberian antibiotika yang tepat masih tidak cukup untuk

menghilangkan penyakit ini. Karena itu, perlu sekali mendiagnosis osteomielitis ini sedini mungkin, terutama pada anak- anak, sehingga pengobatan dengan antibiotika dapat dimulai, dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan dengan pencegahan penyebaran infeksi yang masih terlokalisasi dan untuk mencegah jangan sampai seluruh tulang mengalami kerusakan yang dapat menimbulkan kelumpuhan. Diagnosis yang salah pada anak-anak yang menderita osteomielitis dapat mengakibatkan keterlambatan dalam memberikan pengobatan yang memadai. BAB II

Definisi Osteomielitis (osteo berasal dari bahasa yunani, yang berarti tulang, mielo-yang berarti sumsum tulang, dan itis adalah inflamasi) yang berarti suatu infeksi dari tulang dan sumsum tulang. Osteomielitis dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang, melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa dan periosteum. Osteomielitis dapat diklasifikasikan pada organisme penyebabnya (piogenik atau mikobakteria), durasi (akut atau kronik), dan anatomi lokasi infeksi. Paling banyak terjadi pada tulang panjang seperti femur, tibia kemudian diikuti oleh humerus, radius, ulna dan fibula. Epidemiologi Morbiditas Prevalensi keseluruhan adalah 1 kasus per 5.000 anak. Prevalensi neonatus adalah sekitar 1 kasus per 1.000 kejadian. Sedangkan kejadian pada pasien dengan anemia sel sabit adalah sekitar 0,36%. Prevalensi osteomielitis setelah trauma pada kaki sekitar 16% (30-40%

pada pasien dengan DM). insidensi osteomielitis vertebral adalah sekitar 2,4 kasus per 100.000 penduduk. Morbiditas dapat signifikan dan dapat termasuk penyebaran infeksi lokal ke jaringan lunak yang terkait atau sendi, berevolusi menjadi infeksi kronis dengan rasa nyeri dan kecacatan, amputasi ekstremitas yang terlibat, infeksi umum atau sepsis. Sebanyak 10-15% pasien dengan osteomielitis vertebral menunjukkan gangguan neurologis atau kompresi corda spinalis. Sebanyak 30% dari pasien anak dengan osteomielitis tulang panjang dapat berkembang menjadi Deep Vein Thrombosis (DVT). Perkembangan DVT juga dapat menjadi penanda adanya penyebarluasan infeksi. (Randall, 2011).

Komplikasi vaskular tampaknya lebih umum dijumpai dengan Staphylococcus Aureus yang resisten terhadap methicilin yang didapat dari komunitas (Community-Acquired Methicillin- Resistant Staphylococcus Aureus / CA-MRSA) dari yang sebelumnya diakui. Mortalitas Tingkat mortalitas rendah, kecuali yang berhubungan dengan sepsis atau keberadaan kondisi medis berat yang mendasari. Ras Tidak ada peningkatan kejadian osteomielitis dicatat berdasarkan ras. Jenis kelamin Pria memiliki resiko relatif lebih tinggi, yang meningkat melalui masa kanak-kanak, memuncak pada masa remaja dan jatuh ke rasio rendah pada orang dewasa.

Usia Secara umum, osteomielitis memiliki distribusi usia bimodal. Osteomielitis akut hematogenous merupakan suatu penyakit primer pada anak. Trauma langsung dan fokus osteomielitis berdekatan lebih sering terjadi pada orang dewasa dan remaja dari pada anak. Osteomielitis vertebral lebih sering pada orang tua dari 45 tahun. Etiologi Staphylococcus aureus adalah mikroorganisme tersering yang dapat ditemukan pada osteomielitis. Osteomielitis hematogenous sering diketemukan pada anakanak, dan hampir 90% kasus disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Pada infant, yang sering diisolasi adalah kuman S. aureus, Streptococcus grup-B (paling sering) dan bakteri Escherichia coli. Pada anak umur 1-16 tahun paling sering ditemukan S. aureus, Streptococcus pyogenes, and Haemophilus influenza. Pada beberapa populasi seperti pada pengguna obat-obatan intravena dan pasien splenektomi, bakteri gram negatif,

termasuk Enteric bacilli merupakan bakteri patogen yang tersering. Pada pasien dengan sickle cell anemia, Salmonella adalah bakteri patogen yang tersering. Pada pasien dewasa dengan cedera terbuka yang memungkinkan terjadi infeksi tulang, Staph. aureus merupakan salah satu penyebab tersering, tapi tidak juga dapat dikesampingkan kuman anaerob dan kuman gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa, E. coli, dan Serratia mercescens. Mikosis sistemik merupakan penyebab osteomielitis. Jenis jamur yang tersering adalah Blastomycess dan Cocciddioides immitis. Pada osteomielitis yang melibatkan corpus vertebrae, sekitar setengahnya diakibatkan oleh S. aureus, dan setengah laginya oleh M.tuberculosis (melalui penyebaran hematogen dari paru/traktus urinarius).

KLASIFIKASI Ada beberapa sistem dalam mengklasifikasikan osteomielitis. Sistem tradisional membagi infeksi tulang berdasarkan durasi gejala: akut, subakut, dan kronis. Osteomielitis akut diidentifikasi dalam onset 7-14 hari. Infeksi akut seringkali berhubungan dengan penyebaran secara hematogen dari tulang pada anak-anak. Bagaimanapun, orang dewasa juga dapat menjadi infeksi akut hematogen, terutama pada sekeliling dari protesis metal implant dan fiksasi keras. Durasi dari

osteomielitis subakut antara beberapa minggu dan beberapa bulan. Osteomielitis kronis adalah infeksi tulang yang terjadi lebih dari 3 bulan. Ini berhubungan dengan nekrosis tulang episenter atau yang disebut sequestrum yang secara umum menyebabkan pengaktifan kembali vaskularisasi yang disebut involucrum. Sistem lainnya, dikembangkan oleh Waldyogel, mengkategorikan infeksi tulang berdasarkan etiologi dan kronisitas: hematogen, penyebaran secara kontinyu (dengan atau tanpa keikutsertaan penyakit vaskular), dan kronis. Infeksi hematogen dan penyebaran kontinyu dapat tejadi secara akut, walaupun sebelumnya berhubungan dengan trauma atau infeksi jaringan lunak local seperti ulkus diabetes tungkai. Ciemy dan Mader mengembangkan system tahapan pada osteomielitis yang mengklasifikasikan berdasarkan luas anatomis dari infeksi dan status fisiologis host dibandingkan dengan kronisitas dan etiologi. Empat tahapan memiliki karakteristik berdasarkan pada keterlibatan tulang yang infeksi dalam meningkatkan kompleksitas: tahap 1 (hanya sumsum tulang), tahap 2 (hanya korteks superficial), tahap 3 (sumsum tulang dan korteks lokal), dan tahap 4 (sumsum tulang dan korteks difus).

Patogenesis Osteomielitis hematogen akut merupakan infeksi tulang dan sumsum tulang akut yang disebabkan oleh bakteri piogenik dimana mikro-organisme berasal dari focus di tempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. Kelainan ini sering ditemukan pada anak-anak dan sangat jarang pada orang dewasa. Beberapa alasan osteomielitis hematogen menyerang anak-anak adalah karena anak-anak rentan terhadap infeksi bakteri secara umum. Oleh karena itu, pada anak- anak sering terjadi infeksi fokus primer dan bakteremia yang menyebabkan osteomielitis. Anatomi yang khas dari lempeng pertumbuhan pada anak-anak juga berperan dalam perkembangan osteomielitis hematogen. Sebenarnya, osteomielitis hematogen pada anak berasal dari metafisis tulang, yang berada tepat di bawah lempeng epifisis. Pada regio ini, percabangan terakhir dari arteri metafisis melingkar, dan masuk sinusoid vena afferen, yang besar dan irregular. Ukuran dari pembuluh darah akan meningkat secara nyata dari arteri metafise ke vena sinusoid, dan aliran darah menjadi turbulensi. Perubahan yang mendadak dalam aliran darah secara dinamik menyebabkan bakteri mengendap dan terakumulasi pada tempat ini. Ini menyebabkan terbentuknya fokus infeksi. Selain itu, sel-sel dalam sinusoid vena dan daerah sekitarnya hanya sedikit memfagosit atau tidak terjadi fagositosis sehingga menjadi tempat yang ideal untuk pertumbuhan bakteri. Setelah tulang terinfeksi bakteri secara hematogen, bakteri akan berkembang biak secara cepat, yang akan membentuk abses tepat dibawah lempeng pertumbuhan tadi. Abses tersebut meluas ke saluran Volkmann sampai regio subperiosteal, yang akan menyebabkan peninggian dari periosteum yang tebal. Peninggian periosteum menstimulasi pembentukan tulang yang baru. Perluasan abses yang

lebih lanjut menyebabkan ruptur periosteum dan mengalir keluar melalui cloaca dan dapat meluas ke jaringan subkutan, dan kemudian ke kulit, membentuk saluran sinus. Infeksi dapat meluas secara subperiosteal sepanjang batang tulang. Perluasan ini menguliti bagian dari batang dan supply darahnya, menghasilkan kepadatan, potongan yang avaskular dari tulang kortikal yang dinamakan sequestrum. Sequestrum, kekurangan supply darah untuk menghantarkan antibiotik atau sel inflamasi untuk melawan infeksi. Sebagai usaha untuk membatasi dan mengisolasi infeksi, periosteum yang meninggi merendahkan tulang yang baru. Tulang baru ini, yang disebut involucrum, terdiri atas sub-periosteal yang baru, yang seperti ditemukan pada pembentukan callus pada fraktur. Secara histologis, osteomielitis hematogen akut menipiskan bagian metafise dari tulang panjang, merusak tulang cancellous (spongy bone) yang normal, yang berbentuk sequestra, dan membuat involucrum dari tulang baru di sekitar perifer dari infeksi. Terkecuali pada anak yang sangat muda, infeksi secara jarang meluas melewati barrier fisik dari lempeng pertumbuhan. Pada anak kurang dari 1 tahun, beberapa cabang dari arteri metafise berjalan melewati lempeng pertumbuhan untuk memberi makanan ke epifise. Jalan terusan untuk pembuluh ini diikuti oleh infeksi untuk selanjutnya disebarkan ke epifise, kemudian ke perbatasan ruang sendi itu sendiri. Saat itu, respon imunitas tubuh secara efektif membasmi infeksi minor di metafise. Jika area infeksi telah terbatasi dan bakteri penyebab infeksi telah mati, ruang abses yang tersisa dapat ada untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Ruang tersebut, terdiri dari jaringan fibrous, tetapi tidak mengandung sisa-sisa bakteri yang aktif, disebut juga Brodie abscess, walaupun tidak ada sisa-sisa infeksi yang aktif. Kebalikannya, infeksi yang lebih agresif dan mematikan melanjutkan aktifitasnya dalam merusak tulang, dan membuat sinus

yang kering. Sinus akan kering sampai jaringan yang nekrotik dan terinfeksi secara lengkap dipindahkan dan diganti dengan jaringan fiber atau tulang yang tidak terinfeksi.

Manifestasi Klinik Tanda dan gejala osteomielitis hematogen adalah demam, menggigil,

malaise, dan nyeri yang terlokalisasi, dengan berbagai derajat rasa sakit pada area yang terinfeksi. Demam terdapat pada 75% pasien, walaupun tidak sebanyak terjadi saat infeksi sudah kronis. Pada pasien biasa terjadi malaise, penurunan nafsu makan, dan kelemahan tubuh. Rasa sakit yang terfokus dapat terlokalisasi di sekitar area infeksi, dan palpasi yang mendalam juga dapat menyebabkan rasa sakit. Osteomielitis menyebabkan rasa nyeri saat area yang terlibat digerakkan atau digunakan. Sebagai contoh, anak dengan osteomielitis hematogen akut pada femur bagian distal terlihat malas untuk berdiri atau berjalan menggunakan tungkai yang terinfeksi. Pembengkakan jaringan lunak terjadi pada area infeksi, dan saat palpasi terasa hangat pada area tersebut. Sympathetic effusion juga sering terjadi pada sendi yang berdekatan. Pembengkakan pada sendi ini terjadi sebagai respon terhadap infeksi pada tulang terdekat, tetapi efusi tidak mengandung bakteri patogen. Pergerakan aktif pada sendi dengan symphatetic effusion dibatasi oleh rasa sakit tulang yang terinfeksi. Pengeringan abses merupakan manifestasi yang terjadi hanya pada infeksi kronik, dan tidak ditemui pada osteomielitis hematogen yang akut. Manifestasi klinik osteomielitis hematogen akut pada tulang punggung lebih sulit didiagnosa. Pasien dapat mengeluh nyeri punggung yang samar-samar, malaise, penurunan nafsu makan, dan demam. Nyeri terbatas hanya jika ada gerakan yang melibatkan punggung belakang, dan perkusi secara halus pada prosesus spinosus sering menyebabkan rasa tidak nyaman. Kumpulan gejala ini tidak spesifik untuk osteomielitis, dan diagnosis osteomielitis sering salah digunakan pada banyak pasien yang mengeluh nyeri punggung belakang. Sering terjadi bahwa osteomielitis pada tulang punggung terjadi pada orang dengan infeksi traktus urinarius. Juga riwayat infeksi atau pembedahan pada trakrus urinarius dapat menambah kecurigaan

klinis terjadinya infeksi sekunder pada tulang punggung. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan darah lengkap: Jumlah leukosit mungkin tinggi,tetapi sering normal. Adanya shift to the left biasanya disertai dengan peningkatan jumlah leukosit polimorfonuklear. Tingkat C-reactive protein biasanya tinggi dan non spesifik; penelitian ini mungkin lebih berguna daripada laju endapan darah (LED) karena menunjukan adanya peningkatan LED pada permulaan. LED biasanya meningkat (90%), namun, temuan ini secara klinis tidak spesifik. CRP dan LED memiliki peran terbatas dalam menentukan osteomielitis kronis seringkali didapatkan hasil yang normal. Kultur : Kultur dari luka superficial atau saluran sinus sering tidak berkorelasi dengan bakteri yang menyebabkan osteomielitis dan memiliki penggunaan yang terbatas. Darah hasil kultur, positif pada sekitar 50% pasien dengan osteomielitis hematogen. Bagaimanapun, kultur darah positif mungkin menghalangi kebutuhan untuk prosedur invasif lebih lanjut untuk mengisolasi organisme. Kultur tulang dari biopsi atau aspirasi memiliki hasil diagnostik sekitar 77% pada semua studi. Pemeriksaan Radiologi Foto polos : Foto polos pada 10 hari pertama, tidak ditemukan kelainan radiologis yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan jaringan lunak. Gambaran destruksi tulang dapat terlihat setelah 10-14 hari berupa rarefaksi tulang yang bersifat difus pada daerah metafisis dan pembentukan tulang baru di bawah periosteum yang terangkat. Akan terlihat gambaran lesi

radiolusen dan perubahan dari periosteum. Infeksi jaringan lunak biasanya tidak dapat dilihat pada radiograf kecuali apabila terdapat edema. Pengecualian lainnya adalah apabila terdapat infeksi yang menghasilkan udara yang disebut gas formation. Udara pada jaringan lunak ini dapat dilihat sebagai area radiolusen, analog dengan udara usus pada foto abdomen. Pada osteomyelitis vertebra, ditemukan adanya destruksi tulang yang menonjol, selanjutnya terjadi pembentukan tulang baru yang terlihat sebagai sclerosis. Lesi dapat bermula di bagian sentral atau tepi korpus vertebra. Pada lesi yang bermula di tepi korpus vertebra, diskus cepat mengalami destruksi dan sela diskus akan menyempit. Juga sering ditemukan timbulnya penulangan antara vertebra yang terkena proses dengan vertebra di dekatnya (bony bridging).

Ultrasound : Berguna untuk mengidentifikasi efusi sendi dan menguntungkan untuk mengevaluasi pasien pediatrik dengan suspek infeksi sendi panggul.

Radionuklir : Jarang dipakai untuk mendeteksi osteomielitis akut. Pencitraan ini sangat sensitif namun tidak spesifik untuk mendeteksi infeksi tulang. Umumnya, infeksi tidak bisa dibedakan dari neoplasma, infark, trauma, gout, stress fracture, infeksi jaringan lunak, dan artritis. Namun, radionuklir dapat membantu untuk mendeteksi adanya proses infeksi sebelum dilakukan prosedur invasif dilakukan.

CT Scan : CT scan dengan potongan koronal dan sagital berguna untuk mengidentifikasi sequestrum pada osteomielitis kronik.

Sequestrum akan tampak lebih hipodense dibanding involukrum disekelilingnya.

MRI : MRI efektif dalam deteksi dini dan lokalisasi operasi osteomyelitis. Penelitian telah menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan radiografi polos, CT, dan scanning radionuklir dan dianggap sebagai pencitraan pilihan. Sensitivitas berkisar antara 90-100%. Tomografi emisi positron (PET) scanning memiliki akurasi yang mirip dengan MRI

Diagnosis Banding Gambaran radiologik osteomyelitis dapat menyerupai gambaran penyakit-penyakit lain pada tulang, di antaranya yang terpenting adalah tumor ganas primer tulang. Destruksi tulang, reaksi periosteal, pembentukan tulang baru dan pembengkakan jaringan lunak, dijumpai juga pada osteosarcoma dan Ewing sarcoma. Osteosarcoma, seperti halnya osteomyelitis, biasanya mengenai metafisis tulang panjang sehingga pada stadium dini sangat sukar dibedakan dengan osteomyelitis. Pada stadium yang lebih lanjut, kemungkinan untuk membedakan lebih besar karena pada osteosarcoma biasanya ditemukan pembentuka tulang yang lebih banyak serta adanya infiltrasi tumor yang disertai penulangan patologik ke dalam jaringan lunak. Juga pada osteosarcoma ditemukan adanya segitiga Codman.

Pada tulang panjang, Ewing sarcoma biasanya mengenai diafisis, tampak destruksi tulang yang bersifat infiltrative, reaksi periosteal yang kadang-kadang menyerupai kulit bawang yang berlapis-lapis dan massa jaringan lunak yang besar. Pengobatan 1. Pemberian antibiotic : Osteomielitis kronis tidak dapat diobati dengan antibiotik semata-mata. Pemberian antibiotik ditujukan untuk : Mencegah terjadinya penyebaran infeksi pada tulang sehat lainnya Mengontrol eksaserbasi akut

2. Tindakan operatif : Tindakan operatif dilakukan bila fase eksaserbasi akut telah reda setelah pemberian antibiotik yang adekuat. Operasi dilakukan dengan tujuan : Mengeluarkan seluruh jaringan nekrotik, baik jaringan lunak maupun jaringan tulang (sekuestrum) sampai ke jaringan sehat sekitarnya. Selanjutnya dilakukan drainase dan dilanjutkan irigasi secara kontinyu selama beberapa hari. Adakalanya diperlukan pemberian antibiotik di dalam bagian tulang yang terinfeksi. Sebagai dekompresi pada tulang dan memudahkan antibiotik mencapai sasaran dan mencegah penyebaran osteomielitis lebih lanjut.

Komplikasi Kematian tulang (osteonekrosis) : Infeksi pada tulang dapat menghambat sirkulasi darah dalam tulang, menyebabkan kematian tulang. Jika terjadi nekrosis pada area yang luas, kemungkinan harus diamputasi untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi. Arthritis septik : Dalam beberapa kasus, infeksi dalam tulang bisa menyebar ke dalam sendi di dekatnya. Gangguan pertumbuhan : Pada anak-anak lokasi paling sering terjadi osteomielitis adalah pada lempeng epifisis, di kedua ujung tulang panjang pada lengan dan kaki. Pertumbuhan normal dapat terganggu pada tulang yang terinfeksi. Abses tulang

BAB III KESIMPULAN Osteomielitis adalah suatu proses inflamasi akut ataupun kronis dari tulang dan struktur-struktur disekitarnya akibat infeksi dari kuman-kuman piogenik. Infeksi dalam suatu sistem muskuloskeletal dapat berkembang melalui dua cara, baik melalui peredaran darah maupun akibat kontak dengan lingkungan luar tubuh. Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade 1-2; tetapi dapat pula ditemukan pada bayi dan infant. Anak laki-laki lebih sering dibanding anak perempuan (4:1). Lokasi yang tersering ialah tulangtulang panjang seperti femur, tibia, radius, humerus, ulna, dan fibula.Penyebab osteomielitis pada anak-anak adalah kuman Staphylococcus aureus (89- 90%), Streptococcus (4-7%), Haemophilus influenza (2-4%), Salmonella typhii dan Eschericia coli (1-2%). Penegakan diagnosa bisa dilakukan dengan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah dan radiologik berupa foto polos, CT scan, MRI maupun PET Scan Penatalaksanaannya harus secara komprehensif meliputi pemberian antibiotika, pembedahan, dan konstruksi jaringan lunak, kulit, dan tulang. Juga harus dilakukan rehabilitasi pada tulang yang terlibat setelah pengobatan.

Prognosis seseorang dengan osteomielitis biasanya baik bila diberikan pengobatan dini. Walau bagaimanapun, terkadang berkembang menjadi osteomielitis kronis dan abses tulang dapat sembuh dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun.

DAFTAR PUSTAKA Rasad, S. Radiologi Diagnostik.(2011).Bab2: 62-67. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, Jakarta Skinner, Harry. Current Diagnosis & Treatment in Orthopedics Edisi 3. Appleton & Large ; 2003 Chairuddin, R. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.(2007).Jakarta : Yarsif Watampone Sjamsuhidajat, Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi revisi Robin, Cotrans. Pathologic Basis of Disease 7th Edition. 2007 King, RW. Osteomyelitis. December 9, 2009 (cited February 1, 2010). Available at http://emedicine.medscape.com/article/785020- overview