Anda di halaman 1dari 17

INDEKS KEBERSIHAN GIGI DAN KARIES

2.1 TINJAUAN PUSTAKA Hasil penelitian Natamiharja (2010) menunjukkan gambaran

hubungan nilai pengetahuan dengan indeks OHIS. Kelompok yang pengetahuaannya ditingkatkan dengan penyuluhan mengalami penurunan indeks OHIS sebesar 1,53 dan terlihat adanya perbedaan bermakna ( p = 0,0001 ) dimana skor OHIS sebelum penyuluhan adalah 3,54 dan setelah penyuluhan adalah 2,01. Untuk nilai pengetahuan juga terjadi peningkatan sebesar 49,72 dan terlihat adanya perbedaan bermakna sebelum dan setelah penyuluhan kedua dilakukan ( p = 0,0001 ). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan sample dengan indeks OHIS nya. Penelitian yang dilakukan peneliti sekarang adalah hubungan tingkat pengetahuan tentang upaya menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan indeks kebersihan gigi dan mulut anak usia 9-12 tahun di Dusun Bagek Kedok Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur. Desain penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan metode simple random sampling. Data diambil secara langsung dengan instrumen kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Kesamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang yaitu sama-sama menilai indeks kebersihan gigi dan mulut. Perbedaannya yaitu

penelitian sekarang tidak diberi perlakuan, sedangkan penelitian terdahulu diberi perlakuan. 2.2 LANDASAN TEORETIK 2.2.1 Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan umumnya datang dari penginderaan yang terjadi melalui panca indera manusia, yaitu: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Dari tahap penginderaan, sampai dihasilkan pengetahuan sangat dipengaruhi oleh intensitas persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo 2003). a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya dan merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. d. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (synthesis) Sintesis adalah suatu kemampuan seseorang untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek (Muhariani 2008). 2.2.2 Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Kesehatan gigi adalah bagian integral dari kesehatan umum, sehingga perlu bagi tenaga kesehatan gigi untuk senantiasa meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan kesehatan pada umumnya. Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat salah satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan

gigi dan mulut (Notoatmodjo 2003). Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut. Anak masih sangat tergantung pada orang dewasa dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan gigi karena kurangnya pengetahuan anak mengenai kesehatan gigi dibanding orang dewasa. Pada umumnya keadaan kebersihan mulut anak lebih buruk yang mana salah satu faktornya adalah kebiasaan mengkonsumsi makanan yang beresiko menyebabkan kerusakan gigi (karies). Pentingnya perawatan gigi dan mulut serta usaha untuk menjaga kebersihannya merupakan hal mutlak harus dilakukan karena mulut bukan sekedar pintu masuknya makanan dan minuman saja, tetapi mulut juga bisa menjadi pintu masuknya mikroorganisme yang dapat menyebabkan kerusakan pada gigi (Notoatmodjo 2003). Menurut Bloom (1908), terdapat tiga domain untuk mengukur perilaku manusia terhadap kesehatan, yaitu pengetahuan, afektif dan psikomorik. Dimana disini dikatakan bahwa pengetahuan merupakan hal yang sangat penting karena pengetahuan tentang kesehatan mancakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan. Penyakit gigi dan mulut menduduki urutan pertama dari daftar 10 besar penyakit yang paling sering dikeluhkan masyarakat Indonesia. Persepsi dan perilaku masyarakat Indonesia terhadap kesehatan gigi dan mulut masih buruk. Ini terlihat dari masih besarnya angka karies gigi dan penyakit mulut di Indonesia yang cenderung meningkat. Hal yang sangat mempengaruhi masalah tersebut, faktor pendidikan merupakan faktor kedua terbesar dari faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi terhadap

10

pengetahuan sikap, dan perilaku seseorang untuk hidup sehat, sehingga diharapkan seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi mampu memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang kesehatan. Dan alangkah baiknya berbagi dengan masyarakat yang tingkat pendidikanya rendah, dan membutuhkan lebih banyak lagi informasi (Depkes 1994). Pemberian pengetahuan ini bisa dilakukan oleh dokter gigi di praktek ataupun saat dilapangan, atau tenaga kesehatan khususnya tenaga kesehatan gigi. Pendidikan kesehatan yang diberikan adalah meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, masyarakat harus semakin sadar bahwa perawatan gigi dan mulut merupakan tindakan yang segera dan tidak boleh dianggap remeh ( Depkes 1994). Dengan demikian diharapkan rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, yang menggariskan arah pembangunan kesehatan yang mengedepankan paradigma sehat, khususnya

penanggulangan dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta pencegahannya akan terwujud. Mari kita mulai pola hidup sehat dengan menjaga kesehatan secara utuh dan menyeluruh dengan maksimal (Depkes 1994). Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada anak usia sekolah perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang. Keadaan gigi sebelumnya akan berpengaruh terhadap

11

perkembangan kesehatan gigi pada usia dewasa nanti. Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak salah satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut (Depkes 1994). 2.2.3 Upaya Menjaga Kebersihan Gigi Dan Mulut Termasuk dalam pengetahuan kesehatan gigi yang harus diketahui oleh masyarakat adalah tentang cara-cara menjaga kebersihan gigi dan mulut (Herijuliyanti 2002): a) Sikat Gigi Dan Manfaatnya Ada berbagai ukuran, corak, bentuk dan pola sikat gigi yang dapat diperoleh masyarakat. Terdapat sikat dengan kepala yang panjang, kepala yang pendek, dengan tangkai yang lunak, serta dengan berbagai derajat kekerasan dari bulu sikat alami dan bulu sikat plastik. Alasan untuk mendapat sikat gigi yang baik, cukup banyak, tetapi belum pernah dibicarakan secara menyeluruh pada lingkungan profesional (Herijuliyanti 2002). 1) Desain dan bentuk sikat gigi telah sering mengalami perubahan selama bertahun tahun, tetapi walaupun demikian, banyak dokter gigi yang masih menggunakan konsep lama tersebut ( Harijuliyanti 2002). 2) Pandangan kita terhadap pembersihan telah berubah. Kita memandang lebih penting untuk memperhatikan plak dan gingiva

12

daripada menghilangkan sisa makanan dan memoles atau memutihkan enamel ( Harijuliyanti 2002). b) Pasta Gigi Pasta gigi dimaksudkan untuk membersihkan dan

menghaluskan permukaan gigi geligi dan dapat memberikan rasa serta aroma yang nyaman dalam rongga mulut. Selain itu, pasta gigi juga berfungsi sebagai media melekatkan fluor pada jaringan gigi. Bubuk pasta gigi berisi bahan yang abrasive, pembersih, bahan penambah rasa dan pewarna serta pemanis. Disamping mengandung juga bahan Kebanyakan pasta gigi

pengikat, pelembap, pengawet dan air.

yangberedar dipasaran juga mengandung fluor. Sebagian kecil lainnya berisi bahan desensitisasi (Herijuliyanti 2002, Kidd 1992). c) Frekuensi Menyikat Gigi Kesehatan mulut tidak lepas dari etiologi, dengan plak sebagai salah satu faktor terjadinya karies. Penting di sadari bahwa plak pada dasarnya di bentuk terus-menerus. Dalam waktu setengah jam bakteri dalam plak dapat berkolonisasi, untuk itu gigi dan gusi harus sering dibersihkan. Namun, bagi banyak orang, sulit untuk mncapai kebersihan mulut yang demikian teliti. Berapa kali gigi harus disikat untuk mencegah karies, lebih sukar dijawab. Sebuah penelitian melaporkan, tentang penelitian yang berusaha membuat korelasi, antara frekuensi menyikat gigi dan frekuensi karies. Didapatkan hasil yang bertentangan. Meskipun suatu hubungan yang positif, antara frekuensi menyikat dan frekuensi karies, belum merupakan bukti

13

bahwakaries gigi dapat dicegah, dengan menggosok gigi hanya hubungan kedua faktor (Herijuliyanti 2002, Kidd 1992, Suryo 1993) Pada umumnya menyikat gigi dua kali sehari. Saat yang dipilih adalah pada pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Tetapi ada yang berpendapat bahwa menyikat gigi sekali sehari, asalkan efektif dapat menguntungkan bagi kesehatan gigi dan mulut (Ratih 2000) d) Tujuan Menyikat Gigi Tujuan menyikat gigi adalah untuk membersihkan,dan menghilangkan semua sisa-sisa makanan dan plak yang menempel pada gigi geligi,dan memijat gusi untuk melancarkan peredaran darah di gigi.Frekuensi mengosok gigi yang disarankan adalah dua kali sehari,pagi hari dan malam sebelum tidur (Kidd 1992, Suryo 1993) e) Waktu Menyikat Gigi Bersihkan gigi yang tepat waktu adalah pagi hari dan sebelum tidur,sehingga kebiasaan menyikat gigi saat mandi tidak betul.Sebab sesudah bersikat gigi pagi di saat mandi,orang akan makan pagi.Setelah makan pagi,kalau hana berkumu-kumur akan

kotor.Demikian juga,apabila bersikat gigi pada saat mandi sore hari.Padahal menurut beberapa ahli,kuman paling aktif dapat merusak email gigi,ialah sekitar setengah jam sejak saat selesai makan.Pada saat itu sisa makanan segera di rubah oleh kuman,menjadi asam yang dapat melunakkan email itu.Oleh karena itu , menyikat gigi yang benar

14

adalah setiap setelah makan,dan sebelum tidur.Bila hanya 3 kali, yang terakhir sebaiknya menjelang tidur,sbebab antara saat makanan hendak tidur mungkin saja masih makan-makanan kecil (Ratih 2000) f) Teknik Menyikat Gigi Walaupun kita selalu mengatakan telah menyikat gigi dua kali sehari, namun sebagian besar orang tetap memiliki plak dalam mulutnya. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembersihan yang dilakukan belum tepat. Ada beberapa metode yang disarankan para ahli namun belum dapat dibuktikan metode mana yang terbaik (Pratiwi 2009). Metode tersebut diantaranya: 1) Scrub memperkenalkan cara sikat gigi dengan menggerakakan sikat secra horizontal. Ujung bulu sikat diletakkkan pada area batas gusi dan gigi, kemudian digerakkan maju dan mundur berulangulang (Pratiwi 2009). 2) Roll memperkenalkan cara menyikat gigi dengan gerakan memutar mulai dari permukaan kunyah gigi belakang, gusi dan seluruh permukaan gigi sisanya. Bulu sikat diletakkan pada area batas gusi dan gigi dengan posisi paralel dengan sumbu tegaknya gigi (Pratiwi 2009) 3) Bass meletakkan bulu sikatnya pada area batas gusi dan gigi sambil membentuk sudut 45o dengan sumbu tegak gigi. Sikat gigi digetarkan ditempat tanpa mengubah-ubah posisi bulu sikat (Pratiwi 2009).

15

4) Stillman mengaplikasikan metode dengan menekan bulu sikat dari arah gusi ke gigi secara berulang. Setelah sampai di permukaan kunyah, bulu sikat digerakkan memutar. Bulu sikat diletakkan pada area batas gusi dan gigi sambil membentuk sudut 45o dengan sumbu tegak gigi seperti metode bass (Pratiwi 2009). 5) Fones mengutarakan metode garakan sikat secara horizontal sementara gusi ditahan pada posisi menggigit atau oklusi. Gerakan dilakukan memutar dan mengenai seluruh permukaan gig atas dan bawah (Pratiwi 2009). 6) Charters meletakkan bulu sikat menekan gigi dengan arah bulu sikat menghadap permukaan kunyah atau oklusal gigi. Arahkan 45 0 pada daerah leher gigi. Tekan pada daerah leher gigi dan sela sela gigi kemudian getarkan minimal 10 kali pada tiap tiap area dalam mulut. Gerakan berputar dilakukan terlebih dulu untuk

membersihkan daerah mahkota gigi. Metode ini baik untuk membersihakan plak di daerah sela-sela gigi, pada apsien yang memakai alat orthodontik cekat atau kawat gigi dan pada pasien dengan gigi tiruan yang permanen (Pratiwi 2009). Setiap metode yang telah disarankan oleh beberapa Dokter Gigi ahli memiliki kesulitan tersendiri. Bagi anak-anak disarankan memulai dengan metode scrub dan dilanjutkan dengan metode bass. Secara umum sampai saat ini disimpulkan bahwa cara sikat gigi yang paling efektif adalah dengan mengkombinasikan metode-metode tersebut (Pratiwi 2009).

16

2.2.4

Status Kebersihan Gigi dan Mulut 2.2.4.1 Kebersihan Gigi dan Mulut Kebersihan mulut sangat penting karena kurangnya kebersihan gigi dan mulut memungkinkan terjadinya penimbunan plak dan sisa-sisa makanan. Karbohidrat dapat mengalami peragian, terutama sukrosa, merupakan substrat utama untuk menghasilkan asam-asam metabolis oleh bakteri-bakteri yang terjerat. Plak menetralisasi asam dan mencegah penyebaran

bakteri. Asam akan menghancurkan lapisan email gigi dengan jalan dekalsifikasi (Kidd 1992, Pratiwi 2009). Kebersihan gigi dan mulut yang maksimal dapat tercapai dengan baik dengan cara membersihkan gigi dan mulut dari sisa makanan yang tertinggal diantara gigi atau fissure. Gigi yang bersih sedikit sekali kemungkinannya terkena karies gigi. Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebersihan gigi dan mulut adalah suatu keadaan dimana gigi gedligi yang berada dalam rongga mulut dalam keadaan yang bersih, bebas dari plak dan kotoran lain yang berada diatas permukaan gigi seperti debris, karang gigi dan sisa makanan serta tidak terciumbau mulut dalam mulut (Kidd 1992, Pratiwi 2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut adalah menggosok gigi, karena salah satu pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut adalah menggosok gigi, yang meliputi

17

frekuensi menggosok gigi, cara menggosok gigi, dan bentuk sikat gigi. Ketiga faktor tersebut sangat mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut (Kidd 1992, Pratiwi 2009). 2.2.4.2 Indeks Kebersihan Gigi dan Mulut (OHI-S) Pemeriksaan OHI-S (Simplified Oral Hygiene Index) adalah pemeriksaan gigi dan mulut dengan menjumlahkan debris Index (DI) dan Calculus Index (CI). DI adalah score/nilai dari endapan lunak yang terjadi karena adanya sisa makanan yang melekat pada gigi penentu. CI adalah score/nilai dari endapan keras/karang gigi terjadi karena debris yang mengalami pengapuran yang melekat pada gigi penentu. Pemeriksaan debris dan kalkulus dilakukan pada gigi tertentu dan pada permukaan tertentu dari gigi tersebut (Herijuliyanti 2002, pratiwi 2009), yaitu : Untuk rahang atas yang diperiksa: a. Gigi M1 kanan atas pada permukan bukal. b. Gigi I1 kanan atas pada permukaan labial. c. Gigi M1 kiri atas pada permukaan bukal.

Untuk rahang bawah, yang diperiksa : a. Gigi M1 kiri bawah, permukaa lingual. b. Gigi I1 kiri bawah pada permukaan labial.

Gigi M1 kanan bawah pada permukaan lingual.

18

Bila ada kasus salah satu dari gigi gigi tersebut tidak ada (telah dicabut/tinggal sisa akar), penilaian dilakukan pada gigi gigi pengganti yang sudah ditetapkan untuk mewakilinya, yaitu : a.) Bila gigi M1 rahang atas atau rahang bawah tidak ada, penilaian dilakukan pada gigi M2 rahang atas atau rahang bawah. b.) Bila gigi M1 dan M2 rahang atas atau rahang bawah tidak ada, penilaian dilakukan pada gigi M3 rahang atas/rahang bawah. c.) Bila M1,M2 dan M3 rahang atas atau rahang bawah tidak ada, tidak dapat dilakukan penilaian. d.) Bila gigi I1 kanan rahang atas tidak ada, penilaian dilakukan pada I1 kiri rahang atas. e.) Bila gigi I1 kanan dan kiri rahang atas tidak ada, tidak dapat dilakukan penilaian. f.) Bila gigi I1 kiri rahang bawah tidak ada, penilaian dilakukan pada gigi I1 kanan rahang bawah g.) Bila gigi I1 kiri dan kanan rahang bawah tidak ada, tidak dapat dilakukan penilaian. Bila terdapat kasus beberapa gigi diantara keenam gigi yang seharusnya diperiksa tidak ada, debris index dan kalkulus

19

masih dapat dihitung apabila terdapat paling sedikit 2 gigi yang dapat dinilai (Herijuliyanti 2002). Penilaian dapat diperoleh dengan melakukan pemeriksaan hanya pada gigi permanen. 1. Individu a. Simplified Debris Index (DI-S) Skor/kriteria : 0 : tidak ada debris maupun stain 1 : debris lunak menutupi tidak lebih 1/3 permukaan gigi / extrinsic stains tanpa debris 2 : debris lunak menutupi lebih 1/3 s.d tidak lebih 2/3 permukaan gigi 3 : debris lunak menutupi lebih 2/3 permukaan gigi b. Simplfied Calculus Index (CI-S) Skor/kriteria : 0 : tidak ada calculus 1 : supragingival permukaan gigi calculus menutupi tidak lebih 1/3

20

2 : supragingival calculus menutupi lebih 1/3 s.d tidak lebih 2/3 permukaan gigi / subgingival calculus sedikit 3 : supragingival calculus menutupi lebih 2/3 permukaan gigi / subgingival calculus banyak

2. Kriteria OHI-S baik sedang kurang : 0,1 1,2 : 1,3 - 3,0 : 3,1 6,0 (Herijuliyanti 2002).

2.2.5 Hubungan Pengetahuan Menjaga Kebersihan Gigi dan Mulut Terhadap Status Kebersihan Gigi dan Mulut Pengetahuan, sikap, dan tindakan merupakan 3 tingkatan perilaku. Banyak yang bisa dikaitkan dari ketiga tingkatan tersebut. Pengetahuan yang baik, sikap yang baik, belum tentu tindakan yang dilakukan baik juga. Hal tersebut terjadi karena pengetahuan dan sikap sebatas perilaku tertutup, artinya masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi. Sedangkan tindakan merupakan perilaku terbuka, artinya telah dilakukan atau telah dipraktekkan (Notoatmodjo 2003). Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Usia sekolah dasar merupakan saat yang ideal untuk

21

melatih kemampuan motorik seorang anak, termasuk di antaranya menyikat gigi (Trehan 1995). Kemampuan menyikat gigi secara baik dan benar merupakan faktor yang cukup penting untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut juga dipengaruhi oleh faktor penggunaan alat, metode penyikatan gigi, serta frekuensi dan waktu penyikatan yang tepat. Tersedia berbagai variasi dalam desain sikat gigi, berbagai metode penyikatan gigi, frekuensi penyikatan gigi, dan waktu penyikatan gigi (Trehan 1995, Pratiwi 2009). Perubahan yang diharapkan terjadi dalam proses pendidikan bukanlah sekadar penambahan atau pengurangan perilaku atau

keterampilan, namun perubahan struktur pola perilaku dan pola kepribadian menuju pola yang makin sempurna (Notoatmodjo 2003). Penelitian eksperimental semu oleh Riyanti dkk (2005) untuk mengetahui tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa-siswi sebuah sekolah dasar setelah diberikan pendidikan kesehatan gigi menunjukkan perubahan yang signifikan nilai rata-rata OHI-S antara sebelum dan sesudah perlakuan. Perubahan yang signifikan juga terjadi selama proses pendidikan dengan thitung -8,346. Kesimpulan dari penelitian ini terjadi perubahan tingkat kebersihan gigi dan mulut antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kunjungan kedua, ketiga, dan keempat dan selama proses pendidikan.

22

Hasil penelitian Natamiharja (2010) menunjukkan gambaran hubungan nilai pengetahuan dengan indeks OHIS. Kelompok yang pengetahuannya ditingkatkan dengan penyuluhan mengalami penurunan indeks OHIS sebesar 1,53 dan terlihat adanya perbedaan bermakna ( p = 0,0001 ) dimana skor OHIS sebelum penyuluhan adalah 3,54 dan setelah penyuluhan adalah 2,01. Untuk nilai pengetahuan juga terjadi peningkatan sebesar 49,72 dan terlihat adanya perbedaan bermakna sebelum dan setelah penyuluhan kedua dilakukan ( p = 0,0001 ). Berdasarkan jawaban kuesioner sebelum penyuluhan, banyak penderita yang tidak mengetahui fungsi dan cara penyikatan yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan sample dengan indeks OHIS nya. Pendidikan cara-cara penyikatan gigi bagi anak-anak perlu diberikan contoh suatu model yang baik serta dengan teknik yang sesederhana mungkin. Penyampaian pendidikan kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak harus dibuat semenarik mungkin, antara lain melalui penyuluhan yang atraktif tanpa mengurangi isi pendidikan, demonstrasi secara langsung, program audio visual, atau melalui sikat gigi massal yang terkontrol (Anningrum 2000).