Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TAMBAHAN UKD II RINGKASAN MENGENAI ISU HUKUM DAN PENDEKATAN DALAM PENELITIAN HUKUM

I. MENGIDENTIFIKASI ISU HUKUM Isu hukum mempunyai posisi sentral di dalam penelitian hukum sebagaimana kedudukan masalah di dalam penelitian lainnya karena isu hukum itulah yang harus dipecahkan di dalam penelitian hukum sebagaimana permasalahan yang harus dijawab di dalam penelitian bukan hukum. Peneliti mengawali penelitian dengan merumuskan masalah. Masalah timbul karena adanya dua proposes yang mempunyai hubungan, baik yang bersifat fungsional, kausalitas maupun yang satu menegaskan yang lain. Isu hukum juga timbul karena adanya dua proposisi hukum yang saling berhubungan satu terhadap lainnya. A. Isu Hukum Dalam Dogmatik Hukum Isu hukum dalam dogmatik hukum timbul apabila: 1. Para pihak yang berperkara atau yang berbeda atau bahkan saling bertentangan terhadap teks peraturan karena ketidakjelasan peraturan itu sendiri. 2. Terjadi kekosongan hukum. 3. Terdapat perbedaan penafsiran atas fakta. Tidak dapat disangkal bahwa isu hukum dalam ruang lingkup dogmatik hukum lebih memberat kepada aspek praktis ilmu hukum. Akan tetapi tidak berarti bahwa kegunaan untuk praktis tersebut tidak dimungkinkan diperoleh dari penelitian yang bersifat akademis. Justru melalui penelitian akademis diharapkan diperoleh hasil untuk dapat diterapkan guna keperluan praktik hukum bukan sekedar wishful thinking semata. Untuk menjawab isu hukum dalam dogmatik hukum perlu dilakukan interpretasi. Ajaran interpretasi pertama kali diajarkan oleh F.C. Von Savigny. Kejelasan interpretasi akan berfungsi sebagai rekonstruksi gagasan yang tersembunyi di balik aturan hukum. Ajaran interpretasi ini menggunakan metode hermeneutik. Metode ini berpangkal dari suatu proposisi bahwa terdapat adanya saling ketergantungan yang bermakna antara kehidupan manusia dan budayanya. Berbeda dengan alam yang tidak bernyawa, manusia bukan dikondisi oleh kuasa, melainkan oleh pikiran atau aturan. Dengan perkataan lain, manusia memberikan makna kepada kehidupannya dan yang demikian ini tidak dapat diamati dengan menggunakan model ilmu-ilmu eksakta alam. Hal itu harus dipahami dari sisi dalam manusia itu sendiri. Mengingat hukum merupakan aturan, bagi mereka yang mempelajari hukum, mereka harus memaparkan apa sebenarnya realitas itu. Sebagai contoh, misalnya isu hukum tentang dapat tidaknya suatu perjanjian yang dibuat oleh salah seorang Direktur suatu CV yang masih berusia 18 tahun dimintakan pembatalan. Dalam menghadapi isu ini, yang perlu dilihat apakah perjanjian itu dibuat berdasarkan hukum Indonesia. Jika memang jawabnya ya, maka perlu dirujuk ketentuan pasal 1320 BW. Salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kecakapan. Selanjutnya dipertanyakan apakah usia 18 tahun menurut hukum cakap melakukan tindakan hukum. Dalam menghadapi hal seperti itu perlu ditengok ketentuan mengenai usia berapa yang memungkinkan seseorang dianggap telah mampu melakukan tindakan hukum. Di dalam pasal 330 BW ditetapkan bahwa mereka yang belum berusia 21 tahun penuh dan belum kawin dianggap minderjarig atau belum cukup umur. Ketentuan yang sama juga terdapat di dalam Staatsblaad 1931 No. 54. Oleh karena itulah semua golongan penduduk yang ada di Indonesia sebelum 21 tahun penuh dan belum kawin dianggap minderjarig atau belum cukup umur. Istilah minderjarig tidak sama dengan dewasa. Cukup umur dalam bahasa Belanda meerderjarig sedangkan dewasa volwassen. Dalam bahasa 1

Inggris, meerderjarig identik dengan legal age sedangkan volwassen dalam bahasa inggrisnya adult. Dewasa, volwassen, dan adult bukan pengertian hukum. Apabila menurut hukum Indonesia cukup umur adalah 21 tahun penuh atau sudah kawin, secara a contrario suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh seseorang yang belum berusia 21 tahun penuh dan belum kawin dapat dimintakan pembatalan. Oleh karena itu mengadakan perjanjian merupakan suatu perbuatan hukum, jawaban atas isu yang dapat diajukan tersebut adalah perjanjian itu dapat dimintakan pembatalan.

B. Isu Hukum Dalam Teori Hukum Untuk menggali makna lebih jauh dari aturan hukum, tidak cukup dilakukan penelitian dalam ruang lingkup dogmatik hukum, melainkan lebih mendalam lagi memasuki teori hukum. Penelitian hukum dalam tataran teori ini diperlukan bagi mereka yang ingin mengembangkan suatu bidang kajian hukum tertentu. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan dan memperkaya pengetahuannya dalam penerapan aturan hukum. Dengan melakukan telaah mengenai konsep-konsep hukum, para ahli hukum akan lebih meningkatkan daya interpretasi dan juga mampu menggali teori-teori yang ada di belakang ketentuan hukum tersebut. Sebagai contoh dapat dikemukakan masalah di bidang Hak Kekayaan Intelektual. Pada saat terjadinya musibah gempa bumi dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, beberapa stasiun televisi di antaranya SCTV, Metro TV, dan TVRI meliput bencana itu yang kemudian ditayangkan lewat siaran masingmasing. Bukan tidak mungkin tayangan direkam oleh mereka yang berkepentingan baik untuk dokumentasi pribadi atau untuk yang lain. Seandainya suatu rumah produksi sinetron atau film kemudian menghasilkan cerita yang dalam beberapa settingnya menayangkan apa yang telah ditayangkan oelh salah satu stasiun televisi tersebut, perlukah minta izin kepada stasiun televisi itu dan membayar royalty kepada stasiun tersebut? Jika tidak, apakah rumah produksi itu dapat digugat oleh stasiun itu apalagi sinetron tersebut ditayangkan di stasiun lain? Isu hukum yang timbul dari masalah ini adalah apakah dalam tindakan tersebut berlaku konsep hukum mengenai fair dealing dalam hukum di bidang Hak Kekayaan Intelektual. Dalam hal ini peneliti harus dapat menemukan pengertian dair dealing tersebut. Sekali lagi di sini perlu pemahaman mengenai pengertian hukum tertentu. Apabila pengertian itu telah diketemukan, perlu dilihat lebih jauh untuk apa konsep fair dealing itu diadakan? Hal ini diperlukan di dalam menelaah apakah konsep demikian tertuang di dalam ketentuan-ketentuan Undang-Undang Hak Cipta Indonesia. Jika memang ada ketentuan-ketentuan yang menyiratkan konsep fair dealing apakah benar-benar mengadopsi konsep itu atau mungkin ada penyimpangan atau mungkin ada modifikasi atau bahkan mungkin ada sesuatu yang lain yang hendak dituju sehingga hanya meminjam saja konsep itu untuk tujuan yang lain? Dalam hal ini peneliti sudah benar-benar masuk ke dalam ruang lingkup teori hukum.

C. Isu Hukum Dalam Filsafat Hukum Dalam tataran filsafat hukum, isu hukum harus berkaitan dengan asas-asas hukum. J.H.P Bellefroid menyatakan bahwa peraturan-peraturan hukum yang berlaku umum dapat diuji oleh aturanaturan pokok. Aturan-aturan pokok tersebut tidak perlu diuji lagi. Diatas aturan-aturan pokok tersebut tidak ada lagi aturan. Aturan-aturan pokok inilah yang disebut sebagai asas-asas hukum. Beberapa contoh asas-asas hukum yang diketengahkan oleh Bellefroid adalah: 2

Seorang anak harus menghormati orang tuanya Tiada pemidanaan tanpa kesalahan Tiada suatu perbuatan yang dapat dihukum tanpa adanya peraturan perundangan yang ada sebelumnya Setiap orang dianggap tahu hukum Tiada seorang pun wajib mempertahankan haknya bertentangan dengan kehendaknya.

Asas-asas hukum juga dapat mengalami perubahan. Akan tetapi mengingat asas hukum merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, perubahan asas hukum amatlah lambat dibandingkan dengan perubahan peraturan hukum. Dengan berpegang kepada pandangan bahwa asas hukum yang berlaku di suatu Negara dapat dipergunakan di Negara lain, dapatlah dikemukakan bahwa suatu asas hukum yang lama yang asli yang dimiliki oleh suatu negara mungkin dapat diganti oleh asas hukum yang dimiliki oleh bangsa lain karena asas hukum yang asli tersebut tidak lagi sesuai dengan situasi yang ada. Asas-asas hukum juga memiliki arti penting bagi pembentukan hukum, penerapan hukum, dan pengembangan ilmu hukum. Bagi pembentukan hukum, asas-asas hukum memberikan landasan secara garis besar mengenai ketentuan-ketentuan yang perlu dituangkan di dalam aturan hukum. Di dalam penerapan hukum asas-asas hukum sangat membantu bagi digunakannya penafsiran dan penemuan hukum maupun analogi. Sedangkan bagi pengembangan ilmu hukum asas hukum mempunyai kegunaan karena di dalam asas-asas hukum dapat ditunjukkan berbagai aturan hukum yang pada tingkat yang lebih tinggi sebenarnya merupakan suatu kesatuan. Contoh isu hukum dalam ruang lingkup asas hukum adalah apakah putusan Mahkamah Konstitusi tertanggal 23 Juli 2004 yang menyatakan tidak berlaku Undang-undang No. 16 Tahun 2003 tentang Penuntutan terhadap Tersangka Bom Bali sesuai dengan asas hukum? Dalam menghadapi isu ini, peneliti sebenarnya harus mempelajari ketentuan undang-undang itu yang sebenarnya merupakan penetepan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2 Tahun 2002. Selanjutnya yang harus diacu adalah ketentuan-ketentuan konstitusi yang dilanggar oleh undang-undang yang berasal dari Perpu itu. Apabila ternyata kemudian di dalam konstitusi yaitu Pasal 28 I UUD 1945 yang telah diamandemen disebutkan bahwa hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut merupakan hak asasi manusia, isu hukum itu lalu bergeser apakah konstitusi itu tidak mengandung asas hukum yang saling bertentangan? Dalam hal demikian peneliti perlu menelaah lebih jauh timbulnya asas Nullum delictum nulla poena sina praevea lege poenali yang diajarkan oleh Anselm von Feurbach. Apakah ajaran Feurbach ini harus ditetapkan secara mutlak untuk perbuatan yang bertentangan dengan hak asasi manusia sekalipun? Pemahaman demikian akan menimbulkan isu hukum ikutan yaitu apakah ketentuan konstitusional Pasal 28 I yang menyatakan bahwa hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut sesuai dengan asas hukum yang dikemukakan oleh Feurbach dalam teori vom psychologischenzwang-nya? Sebelum Feurbach menyusun teori itu perlu juga dibaca (sedapat mungkin buku aslinya) tulisan Montesquieu yang berjudul LEsprit des Lois yang pertama kali memunculkan asas tersebut. Apakah peneliti tidak mampu menemukan buku aslinya atau tidak paham bahasanya, peneliti dapat juga mencari rujukan dari penulispenulis yang mempunyai kualifikasi tinggi yang membahs asas tersebut seperti Paul Scholten dan lainlain. Dalam melakukan penelitian mengenai asas retroaktivitas itu, peneliti juga dapat membandingkan dengan kasus Adolf Eichman dan Peradilan Nuremberg. Bukan tidak mungkin peneliti kemudian memang menemukan bahwa pencantuman ketentuan itu dalam UUD 1945 tidak sesuai dengan asas tersebut. Apabila hal itu yang terjadi, peneliti dapat merekomendasikan seyogianya ketentuan itu dicabut.

II. PENDEKATAN DALAM PENELITIAN HUKUM 3

1. Pendekatan Undang-Undang (Statute Approach) Pendekatan undang-undang merupakan pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undangundang lainnya atau antara undang-undang dan Undang-undang Dasar atau antara regulasi dan undangundang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argument untuk memecahkan isu yang dihadapi. Bagi penelitian untuk kegiatan akademis, peneliti perlu mencari ratio legis dan dasar ontologis lahirnya undang-undang tersebut. Dengan mempelajari ratio legis dan dasar ontologism suatu undang-undang, peneliti sebenarnya mampu menangkap kandungan filosofi yang ada di belakang undang-undang itu, peneliti tersebut akan dapat menyimpulkan mengenai ada tidaknya benturan filosofis antara undangundang dengan isu yang dihadapi. Jenis-Jenis interpretasi: a. Interpretasi berdasarkan kata-kata undang-undang. Interpretasi menurut kata-kata dalam undang-undang beranjak dari makna kata-kata yang tertuang di dalam undang-undang. Interpretasi ini juga dikenal dengan intepretasi harfiah/literal atau plain meaning. b. Interpretasi sistematis. Adalah interpretasi dengan melihat kepada hubungan di antara aturan dalam suatu undangundang yang saling bergantung. Landasan pemikiran interpretasi sistematis adalah undangundang merupakan suatu kesatuan dan tidak satu pun ketentuan di dalam undang-undang merupakan aturan yang berdiri sendiri. c. Interpretasi historis. Di dalam interpretasi ini makna ketentuan undang-undang dilacak dari segi lahirnya ketentuan tersebut. d. Interpretasi teologis. Interpretasi ini yang menentukan adalah tujuan adanya undang-undang itu. Dalam hal ini yang perlu ditelaah adalah pemikiran apakah yang melandasi adanya undang-undang tersebut. Disamping itu perlu adanya penjelasan yang rasional untuk apa dibuat undang-undang itu. e. Interpretasi antisipatoris. Interpretasi ini dilakukan apabila interpreter untuk menemukan jawaban akan permasalahan yang dihadapkan kepadanya, akan merujuk baik secara keseluruhan maupun sebagian kepada RUU yang telah disahkan menjadi undang-undang tetapi belum berlaku. f. Interpretasi modern. Titik berat interpretasi ini adalah makna kata-kata dalam konteks tempat digunakannya kata-kata tersebut. Sehingga yang paling penting dalam melakukan interpretasi modern adalah kemampuan mengidentifikasi elemen-elemen yang membentuk konteks tersebut.

2. Pendekatan Kasus (Case Approach) Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan yang tetap. Kasus itu dapat berupa kasus yang terjadi di Indonesia maupun di Negara lain. Yang menjadi kajian pokok di dalam pendekatan kasus adalah ratio decidendi atau reasoning yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai kepada suatu putusan. Baik untuk keperluan praktik maupun untuk kajian akademis, ratio decidendi atau reasoning tersebut merupakan referensi bagi penyusunan argumentasi dalam pemecahan isu hukum. Perlu dikemukakan di sini bahwa pendekatan kasus tidak sama dengan studi kasus. Didalam pendekatan kasus, beberapa kasus ditelaah untuk referensi bagi suatu isu hukum. Studi kasus merupakan suatu studi terhadap kasus tertentu dari berbagai aspek hukum, misalnya kasus Akbar Tanjung yang telah diputus oleh Mahkamah Agung pada 12 Februari 2004 dilihat dari sudut Hukum pidana, Hukum Administrasi, dan Hukum Tata Negara.

3. Pendekatan Historis (Historical Approach) Pendekatan historis dilakukan dengan menelaah latar belakang apa yang dipelajari dan perkembangan pengaturan mengenai isu hukum yang dihadapi. Telaah demikian diperlukan oleh peneliti manakala peneliti memang ingin mengungkap filosofis dan pola pikir yang melahirkan sesuatu yang sedang dipelajari. Pendekatan historis ini diperlukan kalau memang peneliti menganggap bahwa pengungkapan filosofis dan pola pikir ketika sesuatu yang dipelajari itu dilahirkan memang mempunyai relevansi dengan masa kini. Isu mengenai advokat sebagai officium nobile (jasa pelayanan mulia) dikaitkan dengan Undang-undang Advokat, misalnya perlu pendekatan historis mengenai lahirnya jabatan tersebut.

4. Pendekatan Komparatif ( Comparative Approach) Pendekatan komparatif merupakan pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan undangundang suatu Negara dengan undang-undang dari satu atau lebih Negara lain mengenai hal yang sama. Dapat juga yang diperbandingkan di samping undang-undang juga putusan pengadilan di beberapa Negara untuk kasus yang sama. Kegunaan pendekatan ini adalah untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara undang-undang tersebut. Hal ini untuk menjawab mengenai isu antara ketentuan undang-undang dengan filosofi yang melahirkan undang-undang itu. Dengan melakukan perbandingan tersebut, peneliti akan memperoleh gambaran mengenai konsistensi antara filosofi dan undang-undang di antara negara-negara tersebut. Hal yang sama juga dapat dilakukan dengan membandingkan putusan pengadilan antara suatu negara dengan negara lain untuk kasus serupa.

5. Pendekatan Konseptual (Conseptual Approach) Pendekatan konseptual, pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrindoktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. Dengan mempelajari pandangan-pandangan dan doktrindoktrin dalam ilmu hukum, peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi. 5

Misalnya, seorang peneliti dalam topik penelitiannya akan meneliti tentang makna kepentingan umum dalam Perpres No. 36 Tahun 2005. Apabila peneliti mengacu pada peraturan itu, ia tidak akan menemukan pengertian yang ia cari. Yang ia temukan hanya makna yang bersifat umum yang tentunya tidak tepat untuk membangun argumentasi hukum. Jika ia berpaling kepada ketentuan-ketentuan lain juga tidak akan menemukan. Oleh karena itulah ia harus membangun suatu konsep untuk dijadikan acuan di dalam penelitiannya.

** Buku Referensi : Marzuki, Peter Mahmud. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana.