Anda di halaman 1dari 22

MANFAAT SIRIH UNTUK KESEHATAN GIGI DAN MULUT

2.1 Sirih Tanaman sirih mempunyai banyak spesies dan memiliki jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai yang tumbuh berselang seling dari batangnya.

2.1.1 Sirih Merah (Piper Crocatum) Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyembuhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat (Manoi, 2007). Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes militus, hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak digunakan pada klinik 6

7 herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat moderen.Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyembuhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat. Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes millitustushepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak digunakan pada klinik herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat moderen (Manoi, 2007). Sirih merah (Piper crocatum) adalah salah satu tanaman obat potensial yang sejak lama telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, disamping itu juga memiliki nilai-nilai spritual yang tinggi. Sirih merah termasuk dalam satu elemen penting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat khususnya di Jogyakarta. Tanaman ini termasuk di dalam famili

8 Piperaceae dengan penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap saat kena cahaya (Manoi, 2007). Sirih merah tumbuh merambat di pagar atau pohon. Ciri khas tanaman ini adalah berbatang bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian ujung daun meruncing. Permukaan daun mengkilap dan tidak merata. Yang membedakan dengan sirih hijau adalah selain daunnya berwarna merah keperakan, bila daunnya disobek maka akan berlendir serta aromanya lebih wangi(Manoi, 2007). Klasifikasi sirih merah menurut Backer (1963) adalah sebagai berikut : Kingdom Divisio Class Order Family Genus Species : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Piperales : Piperaceae : Piper : Piper crocatum

Tanaman sirih merah (Piper crocatum) menyukai tempat teduh, berhawa sejuk dengan sinar matahari 60-75%, dapat tumbuh subur dan bagus di daerah pegunungan. Bila tumbuh pada daerah panas, sinar matahari langsung, batangnya cepat mengering. Selain itu, warna merah daunnya akan pudar (Manoi 2007). Ramuan sirih merah telah lama dimanfaatkan oleh lingkungan kraton Jogyakarta sebagai tanaman obat yang beguna untuk ngadi saliro. Pada tahun 1990-an sirih merah difungsikan sebagai tanaman hias oleh para hobis, karena penampilannya yang menarik. Permukaan daunnya merah keperakan dan mengkilap. Pada tahuntahun terakhir ini ramai dibicarakan dan dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Dari

9 beberapa pengalaman, diketahui sirih merah memiliki khasiat obat untuk berbagai penyakit. Dengan ramuan sirih merah telah banyak masyarakat yang tersembuhkan dari berbagai penyakit. Oleh karena itu banyak orang yang ingin membudidayakannya (Manoi, 2007). Tanaman memproduksi berbagai macam bahan kimia untuk tujuan tertentu, yang disebut dengan metabolit sekunder. Metabolit sekunder tanaman merupakan bahan yang tidak esensial untuk kepentingan hidup tanaman tersebut, tetapi mempunyai fungsi untuk berkompetisi dengan makhluk hidup lainnya. Metabolit sekunder yang diproduksi tanaman bermacam-macam seperti alkaloid, terpenoid, isoprenoid, flavonoid, cyanogenic, glucoside, glu-cosinolate dan non protein amino acid. Alkaloid merupakan metabolit sekunder yang paling banyak di produksi tanaman. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistim heterosiklik. Nenek moyang kita telah memanfaatkan alkaloid dari tanaman sebagai obat. Sampai saat ini semakin banyak alkaloid yang ditemukan dan diisolasi untuk obat moderen (Manoi, 2007). Para ahli pengobatan tradisional telah banyak menggunakan tanaman sirih merah oleh karena mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Dari buku A review of natural product and plants as potensial antidiabetic dilaporkan bahwa senyawa alkokoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah (Manoi, 2007). Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, pcymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, terpenena, dan fenil propada . Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia bermanfaat inilah, daun sirih merah

10 memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Eugenol dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat digunakan untuk mengobati sakit perut (Manoi, 2007). Dalam Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia (JKKI) di dapatkan kesimpulan dari bahwa ekstrak etanol sirih merah ( Piper crocatum) mempunyai efek antibakteri terhadap bakteri gram positif dan terhadap gram negatif. Konsentrasi hambat minimum (KHM) dan Konsentrasi bunuh minimum (KBM) Staphylococcus aureus pada konsentrasi 25% sementara untuk Escherichia coli KHM dan KBM pada konsentrasi 6,25% (Juliantina dkk, 2011).

2.1.2 Sirih Hijau (Piper Betle L) Daun sirih (Piper betle L) adalah nama sejenis tumbuhan merambat, daun dan buahnya dimakan orang dikunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Sirih termasuk sebagai tanaman obat (fitofarmaka) (Sukmono, 2009). Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betlephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan (Sukmono, 2009). Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan (Sukmono, 2009).

11 Sirih dikenal dalama beberapa nama Betel (Perancis), Betel, Betelhe, Vitele (Portugal), Suruh, Sedah (Jawa), Seureuh (Sunda) dan Ju jiang (China) (Sukmono, 2009). Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan, berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas (Sukmono, 2009). Minyak atsiri daun Piper betel L. mempunyai aktivitas terhadap bakteri Gram dan Bacillus subtilits, B. megaterium, Diplococcus pnemoniae, Eschericia coli, Erwinia carotovora, Micrococcus pyogenes, proteus vulgaris, Pseudomonas solanacearum, Salmonella typhosa, Sarcinia lutea, Shigella dysentriae, Streptococcus pyogens, Vibrio comma (aktivitas antimikroba tersebut diperkirakan dari kavikol) (Sukmono, 2009). Di samping terhadap bakteri, aktivitas tersebut dapat pula terhadap berbagai jamur (Asperlgillus niger, A. oryzae, Curvilaria lunata Fusarium oxysporum). Triterpen dan triterpenoid dapat berefek sebagai antiplateled dan anti-inflamasi (Sukmono, 2009). Pada pengunyahan campuran daun Piper betel, biji pinang ( Areca catechu) dan kapur akan merubah arekolin menjadi arekaidin sehingga dapat menyebabkan terjadinya stimulasi syaraf pusat (Sukmono, 2009). Daya hambat terhadap pertumbuhan Staphyllococcus aureus dan Entamoeba coli minyak atsiri yang diperoleh dengan metode ekstraksi lebih kuat dari pada minyak atsiri yang diperoleh secara destilasi (Sukmono, 2009). Minyak atsiri daun pada pengenceran 1:10.000 dapat mematikan

Paramoecium caudatum dalam jangka waktu 5 menit; sedangkan pada pengenceran

12 1:4000 dapat menghambat pertumbuhan Vibrio cholerae. Pengenceran 1:3000 dan 1:2000 dapat menghambat berturut-turut Salmonella typhosum, Shigella flexneri dan Escherichia coli, Micrococcus pyogenes var. aureus. Krotepoksida mempunyai potensi sitotoksik. Senyawa fenolik bunga Piper betle dapat berefek pada sekresi katekolamin (Sukmono, 2009). Di masyarakat sirih hijau dipakai untuk tujuan pengobatan pada hidung berdarah (mimisen-Jawa), mulut berbau, mata sakit, radang tenggorokan. Daun dikunyah bersama kapur (injet-Jawa) bersama biji pinang untuk penguat gigi dan stimulansia; Campuran tersebut berasa pedas, astringent; menyebabkan air ludah berwarna merah dan gigi menjadi berwarna hitam (Wijayakusuma, 2009). Banyak digunakan untuk pengobatan penyakit asma, rheumatic arthritis, rheumatalgia, luka-luka (Wijayakusuma, 2009).

2.1.3 Mekanisme Daun Sirih Membunuh Bakteri Komponen aktif sirih hijau yaitu kavikol dan fenol, yang merupakan turunan fenol dan sirih merah mengandung Flavonoid dan polifenolat yang merupakan

senyawa fenol (Juliantina, 2010; Hayne, 1987). Fenol atau asam karbolat atau benzonel adalah zat kristal tidak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH). Fenol memiliki sifat kelarutan terbatas dalam air, cenderung asam, dan mempunyai titik didih yang tinggi. Daya bunuhnya disebabkan fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya (Waluyo, 2004).

13 Fenol terhidroksilasi yang bersifat toksik terhadap bakteri. Sisi dan jumlah grup hidroksil pada fenol memiliki hubungan dengan toksisitas terhadap bakteri. Hidroksi yang meningkat menyebabkan toksisitas yang meningkat. Mekanisme terhadap toksisitas fenolik terhadap bakteri meliputi inhibitor enzim oleh senyawa yang teroksidasi, kemungkinan melalui reaksi dengan grup sulfidril atau melalui interaksi non spesifik dengan protein (Rini dan Mulyono, 2003). Kavikol pada sirih hijau merupakan turunan fenol, dan mempunyai daya antibakteri lima kali lebih kuat dari pada fenol. Kavikol inilah yang memberi bau khas pada daun sirih. Fenol memiliki kemampuan untuk mendenaturasi protein dan merusak membran sel. Kehadiran fenol yang merupakan senyawa toksik, mengakibatkan struktur tiga dimensi protein terganggu, dan terbuka menjadi struktur acak tanpa adanya kerusakan pada struktur kerangka kovalen. Hal ini menyebabkan protein terdenaturasi. Deret asam amino protein tersebut tetap utuh setelah denaturasi, namun aktivitas biologisnya menjadi rusak, sehingga protein tidak dapat melakukan fungsinya. Akibat yang ditimbulkan karena ikatan yang dibentuk oleh fenol adalah dinding sel bakteri menjadi tidak stabil, dan pengendalian susunan protein bakteri menjadi terganggu. Kerusakan dinding sel tersebut berakibat pada lolosnya makromolekul, dan ion dari sel. Sel bakteri menjadi kehilangan bentuknya, dan terjadilah lisis (Rini, 2005; Heyne, 1987). Perbedaan kandungan kimia antara daun sirih hijau dan daun sirih merah juga terletak pada kandungan flavanoid dan polifenolat, yang terdapat dalam sirih merah, dimana keduanya memiliki efek yang besar untuk menghambat sintesis protein bakteri gram positif seperti S. mutans, dan kurang efektif terhadap bakteri gram negatif. Pada tumbuhan tingkat tinggi kandungan flavanoid lebih banyak dari pada polifenolat, tetapi keduanya memiliki sifat yang hampir sama. Cara kerja

14 antibakterinya sebagai koagulator protein bakteri, sehingga mengakibatkan protein menggumpal dan tidak dapat berfungsi lagi (Dwidjoseputro, 1994; Robinson, 1995)

2.1.4 Ektraksi Daun Sirih Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Armando, 2005). Ada beberapa metode ekstraksi, yaitu : 1. Cara Dingin a. Maserasi Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya (Armando, 2005). b. Perkolasi Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahap

pengembangan bahan, tahap maserasi antara dan tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan) (Armando, 2005).

2. Cara Panas a.Refluks Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titih didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Armando, 2005).

15 b. Sokletasi Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontiniu dengan jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Armando, 2005). c. Digesti Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50 C (Armando, 2005). d. Infus Infus adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia menggunakan air pada temperatur 96-980 C selama 15-20 menit (Armando, 2005). e. Dekok Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama ( 300 C) dan temperur sampai titik didih air (Armando, 2005). Metode ekstraksi yang digunakan untuk membuat ekstrak baik dari sirih merah maupun sirih hijau adalah metoda ekstraksi Soxhlet. Metoda ini merupakan pengembangan dari metoda maserasi dengan kelebihan antara lain: penggunaan jumlah pelarut yang sedikit, ekstrak langsung terpisah dari sampel, waktu yang relatif singkat. Ekstraksi sampel dilakukan secara bertahap menggunakan 3 pelarut yaitu nheksana, etilasetat dan etanol, sehingga diperoleh fraksi-fraksi ekstrak. Setiap tahapan ekstraksi yang dilakukan diharapkan akan mengekstrak senyawa yang

16 mempunyai kepolaran sesuai dengan kepolaran pelarut yang sesuai kaidah like dissolve like (Armando, 2005). Komponen yang dapat terekstrak diharapkan semaksimal mungkin karena setiap tahapan ekstraksi dihentikan setelah pelarut yang keluar dari ekstraktor sudah tidak berwarna (+ 20 sirkulasi). Ekstraksi komponen daun sirih dilakukan menggunakan Soxhlet dengan metode ekstraksi bertahap, menggunakan pelarut non polar (n-heksana) dilanjutkan dengan pelarut yang kepolarannya sedang (etilasetat) dan terakhir menggunakan pelarut polar etanol. Pelarut n-heksana merupakan pelarut non polar, sehingga ekstraksi menggunakan pelarut n-heksana diharapkan yang terekstrak senyawa-senyawa yang mempunyai kepolaran yang rendah. Ekstraksi menggunakan pelarut etilasetat yang merupakan pelarut dengan kepolaran sedang, maka diharapkan yang terekstrak senyawa-senyawa dengan kepolaran yang sedang, sedangkan pelarut etanol dengan kepolaran yang tinggi, diharapkan dapat mengekstrak senyawa-senyawa yang mempunyai kepolaran tinggi (Armando, 2005). Fraksi n-heksana akan menunjukkan komponen non-polar dari daun sirih yang kemungkinan merupakan senyawa minyak atsiri, lemak atau minyak. Etilasetat diharapkan akan mengekstrak komponen daun sirih yang semi polar. Tidak terlalu banyak senyawa yang dapat terekstrak dalam pelarut yang bersifat semi polar dibandingkan dengan fraksi n-heksana dan sekaligus hal juga menunjukkan bahwa penggunaan n-heksana sebagai pelarut pengekstrak awal berhasil memfraksinasi komponen non-polar dari daun sirih merah. Fraksi etanol lebih sederhana tampilan kromatogramnya dan menunjukkan bahwa hanya senyawa yang bersifat polar yang terdapat di dalam fraksi etanol dengan waktu retensi berkisar 28 32 menit, sehingga fraksi etanol ini relatif terbebas dari komponen non-polar dan semi polar (Armando, 2005).

17

2.2 Streptokokus Mutans Klasifikasi Streptococcus mutans menurut Bergey adalah : Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Firmiculares : Firmicutes : Lactobacilalles : Streptococcaceae : Streptococcus

Species : Streptococcus mutans (Kidd & Bechall, 1991) Streptococcus mutans adalah salah satu jenis bakteri yang mempunyai kemampuan dalam proses pembentukan plak dan karies gigi. Bakteri ini pertama kali diisolasi dari plak gigi oleh Clark pada tahun 1924 yang memiliki kecendrungan membentuk kokus dengan formasi rantai panjang apabila ditanam pada medium (Kidd & Bechall, 1991) Streptococcus mutans menjadi yang paling banyak menyebabkan gigi berlubang di sekitar luka tetapi sampai pada tahun 1960-an mikroba tersebut tidak ditemukan (Kidd & Bechall, 1991) Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif, bersifat nonmotil (tidak bergerak), bakteri anaerob fakultatif. Memiliki bentuk kokus berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam rantai. Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 180C 400C. Streptococcus mutans biasanya ditemukan pada rongga gigi manusia yang luka dan menjadi bakteri yang paling kondusif menyebabakan karies untuk email gigi (Kidd & Bechall, 1991)

18 Streptococcus mutans adalah bersifat asidogenik yaitu menghasilkan asam, asidourik, mampu tinggal pada lingkungan asam, dan menghasilkan suatu polisakarida yang dapat melekat, yang disebut dextran. Oleh karena kemampuan ini, S. mutans bisa menyebabkan melekatnya dan mendukung bakteri lain menuju ke email gigi. Dengan demikian pH turun dan keadaan pH asam ini dapat melarutkan email gigi sehingga terjadi karies gigi (Kidd & Bechall, 1991).

2.3 Uji Aktivitas Antibakteri Kemampuan antimikroba dalam melawan bakteri dapat diukur menggunakan metode yang biasa dilakukan yaitu (Jawetz dkk, 2008): A. B. Metode konvensional : dilusi (agar atau kaldu), difusi dan Etest Uji kepekaan komersial

2.3.1 Persiapan Sebelum Uji Dilakukan Beberapa persiapan yang diperlukan untuk melaksanakan uji dengan metode dilusi dan difusi yaitu meliputi persiapan inokulum dan antimikroba yang akan digunakan (Dwidjoseputro, 1994; Jawetz dkk, 2008).

2.3.1.1 Persiapan Inokulum Persiapan inokulum yang tepat penting untuk uji kepekaan untuk mendapatkan hasil yang akurat dan konsisten. Ada dua persiapan yang harus dilakukan yaitu: biakan murni dan pembuatan inokulum standar (Jawetz dkk, 2008). Biakan murni diperlukan karena interpretasi berdasarkan inokulum yang tercampur tidak dapat diterima dan akan menghambat mendapatkan hasil. Biakan murni dilakukan dengan mengambil empat atau lima koloni yang sama secara

19 morfologi dan ditanam pada media perbenihan cair dan dibiarkan tumbuh subur, pada umumnya memerlukan waktu inkubasi 3 sampai 5 jam. Bisa juga sebagai alternative 4 sampai 6 koloni berusia 16 sampai 24 jam dipilih dari media agar dan dibuat suspensi dengan NaCl 0,85% untuk mendapatkan suspensi yang keruh. Kemudian kekeruhan dibandingkan dengan suspensi standar Mc Farland, pada latar belakang hitam. Standar Mc Farland dibuat dengan mencampur asam sulfat 1% dan barium klorida 1,175% untuk mendapatkan kekeruhan standar. Standar kekeruhan 0,5 Mc Farland telah tersedia secara komersial, yang memiliki kekeruhan sebanding dengan 1,5 x 108 colony forming unit (CFU)/ml (Jawetz dkk, 2008).

2.3.1.2 Memilih Antimikroba Untuk Uji Kepekaan Pemilihan antimikroba dilakukan oleh staf medis terutama dokter spesialis penyakit infeksi dan bila perlu disertai ahli farmasi. Pemilihan berdasarkan kelompok bakteri, hasil identifikasi bakteri (karena ada beberapa antimikroba spesifik hanya untuk bakteri tertentu. Deretan antimikroba secara umum didasarkan pada kelompok organisme ,secara umum dibagi menjadi (Dwidjoseputro, 1994): i. ii. iii. iv. v. vi. vii. viii. Enterobacteriaceae Pseudomonas aeruginosadan Acinetobacterspp Staphylococcusspp Enterococcus spp Streptococcus spp (kecuali S. pneumoniae) Streptococcus pneumonia Haemophilus influenza Neisseria gonorrhoeae

20 2.3.2 Metode Konvensional 2.3.2.1 Metode Dilusi Metode dilusi terdiri dari dua teknik pengerjaan yaitu teknik dilusi perbenihan cair dan teknik dilusi agar. Yang bertujuan untuk penentuan aktifitas antimikroba secara kuantitatif, antimikroba dilarutkan kedalam media agar atau kaldu, yang kemudian ditanami bakteri yang akan dites. Setelah diinkubasi semalam, konsentrasi terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri di sebut dengan MIC (minimal inhibitory concentration). Nilai MIC dapat pula dibandingkan dengan konsentrasi obat yang didapat di serum dan cairan tubuh lainnya untuk mendapatkan perkiraan respon klinik (Ansel, 1989; Jawetz dkk, 2008)

a)

Dilusi perbenihan cair

Dilusi perbenihan cair terdiri dari makrodilusi dan mikrodilusi. Pada prinsipnya pengerjaannya sama hanya berbeda dalam volume. Untuk makrodilusi volume yang digunakan lebih dari 1 ml, sedangkan mikrodilusi volume yang digunakan 0,05 ml sampai 0,1 ml. Antimikroba yang digunakan disediakan pada berbagai macam pengenceran biasanya dalam satuan g/ml, konsentrasi bervariasi tergantung jenis dan sifat antibiotik. (misalnya cefotaxime untuk uji kepekaan terhadap Streptococcus pneumonia, pengenceran tidak melebihi 2 g/ml, sedangkan untuk Escherichia coli pengenceran dilakukan pada 16 g/ml atau lebih) (Ansel, 1989; Jawetz dkk, 2008). Secara umum untuk penentuan MIC pengenceran antimikroba dilakukan penurunan konsentrasi setengahnya misalnya mulai dari 16, 8, 4, 2, 1, 0,5, 0,25 g/ml) konsentrasi terendah yang menunjukkan hambatan pertumbuhan dengan jelas baik dilihat secara visual atau alat semiotomats dan otomatis, disebut dengan

21 konsentrasi daya hambat minimum/ MIC (minimal inhibitory concentration) (Ansel, 1989; Jawetz dkk, 2008) . b) Dilusi agar

Pada teknik dilusi agar, antibiotik sesuai dengan pengenceran akan ditambahkan kedalam agar, sehingga akan memerlukan perbenihan agar sesuai jumlah pengeceran ditambah satu perbenihan agar untuk kontrol tanpa penambahan antibiotik, konsentrasi terendah antibiotik yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri merupakan MIC antibiotik yang di uji. Salah satu kelebihan metode agar dilusi untuk penentuan MIC Neisseria gonorrhoeae yang tidak dapat tumbuh pada teknik dilusi perbenihan cair (Ansel, 1989; Jawetz dkk, 2008).

c. Penentuan MBC dari MIC perbenihan cair Dasar penentuan antimikroba secara invitro adalah MIC (minimum inhibition concentration) dan MBC (minimum bactericidal concentration). MIC merupakan konsentrasi terendah bakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan hasil yang dilihat dari pertumbuhan koloni pada agar atau kekeruhan pada pembiakan kaldu. Sedangkan MBC adalah konsentrasi terendah antimikroba yang dapat membunuh 99,9% pada biakan selama waktu yang ditentukan.Agar antimikroba efektif pada MIC atau MBC. Sedapat mungkin mencapai tempat infeksi. Absorpsi obat dan distribusi antimikroba akan mempengaruhi dosis, rute dan frekuensi pemberian antimikroba untuk mendapatkan dosis efektif di tempat terjadinya infeksi (Ansel, 1989; Dwidjoseputro, 1994; Jawetz dkk, 2008)

22 Penentuan konsentrasi minimum antibiotik yang dapat membunuh bakteri / minimum bactericidal concentration (MBC) dilakukan dengan menanam bakteri pada perbenihan cair yang digunakan untuk MIC ke dalam agar kemudian diinkubasi semalam pada 37C. MBC adalah ketika tidak terjadi pertumbuhan lagi pada agar (Ansel, 1989; Dwidjoseputro, 1994; Jawetz dkk, 2008) . 2.3.2.2 Metode Difusi. Cakram kertas, yang telah dibubuhkan sejumlah tertentu antimikroba, ditempatkan pada media yang telah ditanami organism yang akan di uji secara merata. Tingginya konsentrasi dari antimikroba ditentukan oleh difusi dari cakram dan pertumbuhan organism uji dihambat penyebarannya sepanjang difusi antimikroba (terbenuk zona jernih disekitar cakram), sehingga bakteri tersebut merupakan bakteri yang sensitif terhadap antimikroba. Ada hubungan persamaan yang hampir linear (berbanding lurus) antara log MIC, seperti yang diukur oleh metode dilusi dan diameter zona daya hambat pada metode difusi (Ansel, 1989; Jawetz dkk, 2008).. Hasil dari tes kepekaan, mikroorganisme diklasifikasikan ke dalam dua atau lebih kategori. Sistim yang sederhana menentukan dua kategori yaitu sensitif dan resisten. Meskipun klasifikasi tersebut memberikan banyak keuntungan untuk kepentingan statistik dan epidemiologi, bagi klinisi merupakan ukuran yang terlalu kasar untuk digunakan. Dengan demikian hasil dengan 3 klasifikasi yang biasa digunakan, (sensitif, intermediate, dan resisten) seperti pada metode Kirby-Bauer. Terapi antimikroba idealnya berdasarkan penentuan bakteri penyebab dan antimikroba sesuai yang sensitif terhadap bakteri tersebut (Ansel, 1989; Jawetz dkk, 2008).

23 Di laboratorium klinik, uji kepekaan lebih banyak digunakan metode cakram difusi. Pada metode ini inokulum bakteri ditanam secara merata pada permukaan agar. Cakram antimikroba diletakkan pada permukaan agar dan dibiarkan berdifusi ke dalam media sekitarnya. Hasilnya dilihat zona hambat antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri. Ukuran zona jernih tergantung kepada kecepatan difusi antimikroba, derajat sensitifitas mikroorganisme dan kecepatan pertumbuhan bakteri. Zona hambat cakram antimikroba pada metode difusi berbanding terbalik dengan MIC. Semakin luas zona hambat, maka semakin kecil konsentrasi daya hambat minimum MIC. Untuk derajat kategori bakteri dibandingkan terhadap diameter zona hambat yang berbeda-beda setiap antimikroba, sehingga dapat ditentukan kategori resisten, intermediate atau sensitif terhadap antimikroba uji (Ansel, 1989; Jawetz dkk, 2008).

Uji kepekaan Metode agar difusi Kirby-Bauer: Bahan yang diperlukan : Agar Muller Hinton Cakram antibiotik Inokulum Standar Mc farland 0,5

(Ansel, 1989; Dwidjoseputro, 1994; Jawetz dkk, 2008)

Cara kerja: 1) Disiapkan agar Muller Hinton kondisikan pada suhu ruangan dan permukaan agar kering

24 2) Persiapkan inokulum 0,5 Mc Farland (dibuat baru dari 4-6 koloni dalam 2 ml NaCl fisiologis, digunakan tidak lebih dari 15 menit dan supaya homogen bisa dibantu dengan vortex 3) Penanaman pada agar Muller Hinton Celupkan swab steril ke dalam inokulum bakteri , angkat swab kemudian di atas permukaan suspensi inokulum pada sisi tabung putar swab dengan sedikit ditekan agar tidak berlebih 4) Goreskan swab pada agar Muller Hinton dengan memutar agar sekitar 60 derajat 2 sampai 3 kali untuk memastikan seluruh permukaan agar tergores 5) Putarkan swab pada pinggiran agar untuk mengambil kelebihan suspensi bakteri pada sekeliling cawan petri 6) Tempatkan cakram antibiotik pada permukaan agar yang telah ditanami bakteri dengan memperhatikan jarak penyimpanan cakram. Dapat dilakukan menggunakan pinset steril atau disk feeder (Ansel, 1989; Dwidjoseputro, 1994; Jawetz dkk, 2008)

2.3.2.3

E-test

Metode yang digunakan selain metode Kirby-Bauer dalam uji kepekaan adalah E-test (Epsilometer test) yang juga berdasarkan prinsip difusi. E-test digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologis untuk kepekaan bakteri dan jamur (Dwidjoseputro, 1994). Etest menggunakan strip persegipanjang yang telah mengandung antibiotik. Bakteri ditanam pada perbenihan agar kemudian diletakkan strip Etest pada permukaan agar, setelah antibiotik berdifusi ke dalam agar akan terbentuk zona hambat pada konsentrasi antibiotik yang bertingkat terdapat pada strip Etest. Setelah 24 jam inkubasi akan tampak zona hambat yang berbentuk elips, ketika sampai pada

25 garis zona yang telah melekat pada strip (tidak ada zona hambat lagi) pada konsentrasi tersebut merupakan pembacaan hasil MIC (Dwidjoseputro, 1994).

2.3.3 Uji kepekaan Metode Komersial Pada dasarnya metode komersial merupakan penggabungan metode konvensial dilusi dan difusi dan keakuratan metode komersial ini dievaluasi dengan cara membandingkan dengan metode konvensional. Media perbenihan , kondisi

lingkungan disesuaikan dengan standar metode konvensional dan ujuan dari metode tetap sama seperti metode konvensional, hanya pengerjaan dan cara penggunaan alatnya yang lebih praktis, dimana pencapaian tujuan bervariasi tergantung kepada (Sacher dan McPherson, 2000): Susunan bakteri dan komposisi antimikroba yang digunakan Tingkat otomatisasi dalam penanaman, inkubasi, interpretasi dan pelaporan Metode yang digunakan untuk mengukur hambatan pertumbuhan bakteri Kecepatan memperoleh hasil Akurasi

Jenis-jenis Metode komersial (Sacher dan McPherson, 2000) : 1. Metode mikrodilusi perbenihan cair (broth microdilution methods) 2. Secara umum metode ini didesain untuk menrima inokulum dan diinkubasi pada kondisi sesuai petunjuk penggunaan, biasanya untuk pembacaannya memerlukan alat semiotomatis. 3. Agar dilusi derivatif (agar dilution derivations)

26 4. Pada metode ini telah disediakan perbenihan agar yang telah mengandung antimikroba melingkar, dimulai dari tengah-tengah /pusat lingkaran perbenihan agar dengan konsentrasi tertinggi, terus melingkar ke arah tepi dengan konsentrasi semakin menurun. Penanaman bakteri dimulai dari tepi perbenihan dengan satu goresan tegak lurus. Difusi antibiotik akan tampak zona hambat dari konsentrasi tinggi (pusat lingkaran) ke rendah (tepi) 5. Difusi pada agar derivatif (diffusion in agar derivations) 6. Pada metode ini digunakan perbenihan Muller Hinton yang diletakkan di atasnya strip antibiotik secara melingkar 7. System pengujian otomatis (automated antimicrobial susceptibility test system) 8. Metode ini dalam persiapan inokulum dan penanamam bakteri dilakukan secara otomatis, cara pembacaan dan interpretasi kategori menggunakan system algoritma 9. Metode pengujian alternative dan suplemen. Metode pengujian yang bertujuan untuk mengetahui mekanisme resistensi 10. Metode yang langsung mendeteksi mekanisme resistensi spesifik 11. Metode dengan pengukuran antimikroba berdasarkan keberadaan

mekanisme

khusus, misalnya

berdasarkan metode

fenotip, deteksi

asetiltransferase kloramfenikol. 12. Metode khusus untuk mendeteksi kompleks interaksi antimikroba-organisme 13. Tes kombinasi aktifitas antimikroba 14. Spiral Gradient Endpoint Test (SGE), merupakan uji kepekaan pada satu agar terdiri dari 15 suspensi mikroba dapat digoreskan swab dengan arah memutar melalui beberapa konsentrasi. Software dibutuhkan untuk

27 menghitung konsentrasi yang sebenarnya dari setiap mikroba yang tumbuh yang menghambat pertumbuhan. Teknik ini digunakan untuk

menghilangkan keterbatasan metode konvensional dimana setiap media agar hanya satu konsentrasi, menghemat waktu dan bahan karena satu plate SGE sama dengan 8 plate pada metode konvensional (Sacher dan McPherson, 2000).