Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latarbelakang Sejak program KB menjadi program nasional pada tahun 1970 berbagai cara kontrasepsi telah ditawarkan dalam pelayanan KB di Indonesia. Mulai dari cara tradisional, system kalender, barier, hormonal (pil, suntikan, susuk KB), alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), dan kontrasepsi mantap (KONTAP). Dari sudut pandang hak-hak pasien/ klien, segala cara kontrasepsi yang ditawarkan haruslah mendapat persetujuan pasangan suami istri (PASUTRI), setelah memperoleh penjelasan, (persetujuan setelah penjelasan, PSP) dengan cara lisan untuk cara-cara non-bedah dan secara tertulis untuk cara kontap. Di Indonesia, kontrasepsi mantap (kontap, sterilisasi), yaitu tubektomi pada wanita dan vasektomi pada pria telah dikembangkan sejak tahun 1974 oleh PUSSI (Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela), yang kemudian berubah nama menjadi PKMI (Perkumpulan kontrasepsi Mantap Indonesia). Meskipun efektif untuk mengatur kesuburan, pil KB bukan tanpa risiko. Antusiasme masyarakat terhadap pil KB pada awal 1960-an sudah merosot karena orang semakin berhati-hati setelah membaca laporan tentang kontrasepsi akibat pemakaian pil KB baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pihak yang berwenang dibidang kesehatan telah menyarankan perempuan perokok diatas 35 tahun untuk mencari metode KB lain. Juga disarankan agar berhati-hati memberikan pil KB kepada perempuan diatas usia 40 tahun. Kini kondom, sterilisasi atau pengguguran kandungan sudah menjadi mode, tapi banyak perempuan merasa metode-metode itu tidak memuaskan dan tidak cocok. Metode pengatur kesuburan harus bisa diandalkan, tidak berbahaya, bisa mengembalikan kesuburan dengan segera, dan tidak mahal. Metode itu tidak boleh menghambat hubungan suami-istri, tapi justru harus membangkitkan hubungan emosional dan seksual yang sehat di antara keduanya. Kemajuan pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan berdampak besar terhadap peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan yang dilaksanakan oleh tenaga profesional, dalam melaksanakan tugasnya dapat bekerja secara mandiri dan dapat pula bekerja sama dengan profesi lain. Perawat dituntut untuk melaksanakan asuhan keperawatan untuk pasien/klien baik secara individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan memandang manusia secara biopsikososial spiritual yang komperhensif. Sebagai tenaga yang profesional, dalam melaksanakan tugasnya diperlukan suatu sikap yang menjamin terlaksananya tugas tersebut dengan baik dan bertanggungjawab secara moral. Masalah, merupakan suatu bagian yang tak dapat dipisahkan dari segala segi kehidupan. Tidak ada satupun benda ataupun subjek hidup yang bersih tanpa masalah, namun ada yang tersembunyi namun ada juga yang lebih dominan oleh masalahnya. Begitupun dalam praktik keperawatan, terdapat beberapa isu yang bisa jadi merupakan masalah dalam praktik keperawatan kita. Baik merupakan perbuatan dari pihak yang tidak bertanggung jawab, ataupun segala hal yang terjadi disebabkan oleh pertimbangan etis.Untuk itu kelompok akan membahas tentang kontrasepsi dan teknologi yang sering kita temui di masyarakat dan sekeliling kita. 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan Umum Berdasarkan latar belakang di atas, perlu kiranya kami menyusun sebuah tulisan tentang bioetis

medis, sebagai sesuatu yang hidup dan terus dilakukan di lingkungan medis, yang seyogyanya adalah dunia kita sendiri. Tujuan Khusus Untuk Mengetahui secara lebih spesifik tentang bioetis medis dan isu permasalahan praktik keperawatan Untuk Mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa tentang masalah praktik keperawatan Untuk Memenuhi tugas pembuatan makalah pada mata ajar etika keperawatan 1.3 Rumusan Masalah Bagaimana permasalahan keperawatan muncul dalam praktik keperawatan? Bagaimana peran undang-undang dan aturan pemerintah dalam pelayanan praktik keperawatan? Apa yang harus kita lakukan untuk mempertimbangkan permasalahan etik dalam praktik keperawatan? BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Teori Kontrasepsi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mewakili semua tindakan atau usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Di negara-negara dengan tingkat kelahiran yang tinggi kontrasepsi diartikan sebagai sebuah tindakan untuk mengendalikan kelahiran. Saat ini ada banyak metode dan jenis kontrasepsi, ada yang diperuntukkan bagi pria dan ada juga khusus wanita. Beberapa metode kontrasepsi bersifat permanen dan jenis yang lain sifatnya sementara. Secara umum metode kontrasepsi terbagi atas dua jenis yaitu barrier (pembatas/penghalang) dan hormon. Terdapat juga beberapa jenis kontrasepsi yang lain yaitu sterilisasi, KB alami dan abstinence. A. Metode Sederhana 1. Tanpa Alat KB Alamiah Profil Ibu harus belajar mengetahui kapan masa suburnya berlangsung Efektif bila dipakai dengan tertib Tidak ada efek samping Pasangan secara sukarela menghindar senggama pada masa subur ibu (ketika ibu tersebut dapat menjadi hamil). Atau senggama pada masa subur untuk mencapai kehamilan. Macam KB Alamiah Metode Lendir Serviks atau dikenal sebagai Metode Ovulasi Billing/ MOB atau metode dua hari serviks dan metode semtomtermal adalah yang paling efektif. Cara yang kurang efektif misalnya system Kalender atau Pantang Berkala dan Metode Suhu Basal yang sudah tidak dianjurkan lagi oleh pengajar KBA. Hal ini disebabkan oleh kegagalan yang cukup tinggi (>20%) dan waktu pantang yang lebih lama. Lagi pula sudah ada cara lain yang lebih efektif dan masa pantang lebih singkat. Di Indonesia dengan surat dari BKKBN Pusat kepada BKKBN Provinsi SK 6668/K.S.002/E2/90, tanggal 28 December 1990, Metode Ovulasi Billing (MOB) sudah diterima sebagai salah satu metode KB (mandiri). a. Teknik Pantang Berkala Untuk Kontrasepsi

Senggama dihindari pada masa subur yaitu dekat pertengahan siklus haid atau terdapat tandatanda adanya kesuburan yaitu keluarnya lender encer dari liang vagina. Untuk perhitungan masa subur dipakai rumus siklus terpanjang dikurangi 11, siklus terpendek dikurangi 18 antara kedua waktu, senggama dihindari. Manfaat Kontrasepsi Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan Tidak ada risiko kesehatan yag berhubungan dengan kontrasepsi Tidak ada efek samping sistemik Murah atau tanpa biaya Nonkontrasepsi Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga bencana Menambah pengetahuan tentang system reproduksi pada suami dan istri Memungkinkan mengeratkan relasi/ hubungan melalui peningkatan komunikasi antara suami istri/pasangan. Keterbatasan Sebagai kontraseptif sedang (9-20 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama pemakaian) Keefektifan tergantung dari kemauan dan disiplin pasangan untuk mengikuti instruksi Perlu ada pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan jenis KBA yang paling efektif secara benar Dibutuhkan pelatih/guru KBA(bukan tenaga medis). Pelatih/guru KBA harus mampu membantu ibu mengenali masa suburnya, memotivasi pasangan untuk menaati aturan jika ingin menghindari kehamilan dan menyediakan alat bantu jika diperlukan; misalnya buku catatan khusus, thermometer (oral atau suhu basal) Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehamilan Perlu pencatatan setiap hari Infeksi vagina membuat lender serviks sulit dinilai Thermometer basal diperlukan untuk metode tertentu Tidak terlindung dari IMS termasuk HBV (virus Hepatitis B) dan HIV AIDS. Yang dapat menggunakan KBA Untuk kontrasepsi Semua perempuan semasa reproduksi, baik siklus haid teratur maupun tidak teratur tidak haid baik karena menyusui maupun pramenopause. Semua perempuan dengan paritas berapapun termasuk nulipara. Perempuan kurus atau gemuk Perempuan yang merokok Perempuan dengan alas an kesehatan tertentu, antara lain: hipertensi sedang, varises, dismenorea, sakit kepala sedang atau hebat, mioma uteri, endometriosis, kista ovarii, anemia defisiensi besi, hepatitis virus, malaria, thrombosis vena dalam, atau emboli paru. Pasangan dengan alasan agama atau filosofi untuk tidak menggunakan metode lain. Perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain Pasangan yang ingin pantang senggama lebih dari seminggu pada setiap siklus haid. Pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi, mencatat, dan menilai tanda dan gejala kesuburan.

Untuk kontrasepsi Pasangan yang ingin mencapai kehamilan senggama dilakukan pada masasubur untuk mencapai kehamilan Yang seharusnya tidak menggunakan KBA Perempuan yang dari segiumur, paritas atau masalah kesehatannya membuat kehamilan menjadi satu kondisi risiko tinggi Perempuan sebelum mendapat haid (menyusui, segera setelah abortus), kecuali MOB Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur; kecuali MOB Perempuan yang pasanganya tidak mau bekerja sama (berpantang) selama waktu tertentu dalam siklus haid Perempuan yang tidak suka menyentuh daerah genitalianya. Intruksi kepada Klien Metode Lendir Serviks Billings/ Metode Ovulasi Billing (MOB) Anda dapat mengenali masa subur dengan memantau lender serviks yang keluar dari vagina. Pengamatan sepanjang hari dan ambil kesimpulan pada malam hari. Periksa lender dengan jari tangan atau tisu di luar vagina dan perhatikan perubahan perasaan kering-basah. Tidak dianjurkan untuk memeriksa ke dalam vagina. Untuk menggunakan Metode Ovulasi Billing (MOB) B. Cap serviks Tutup serviks adalah secangkir kecil yang terbuat dari karet lateks atau plastik. Tutup serviks diisi dengan krim atau jeli spermisida dan dimasukkan ke dalam vagina dan ditempatkan di atas leher rahim. Kontrasepsi Sponge Spons adalah jenis kontrasepsi berbentuk piring yang terbuat dari busa poliuretan. C. Metode Hormonal Metode hormonal terdiri atas beberapa jenis kontrasepsi yang berbentuk pil, patch, cincin, implant ataupun obat-obatan yang dapat memproduksi hormon estrogen dan atau progesteron. Metode hormonal bekerja dengan cara sebagai berikut: 1. Mencegah indung telur melepaskan telur setiap bulannya, 2. Mempertebal lendir di leher rahim sehingga menyulitkan sperma untuk mencapai atau menembus sel telur, 3. Penipisan lapisan rahim yang mengurangi kemungkinan telur dibuahi. Kontrasepsi jenis hormonal tidak dapat melindungi dari terjadinya penularan penyakit seksual. Berikut ini beberapa jenis alat kontrasepsi dengan metode hormonal. Pil Pil KB adalah jenis kontrasepsi yang diminum setiap hari seperti yang ditentukan oleh petugas KB Lunelle Lunelle adalah kontrasepsi jenis suntikan yang diberikan petugas KB untuk mencegah kehamilan selama satu bulan.

Nuva Ring / Cincin Nuva ring merupakan salah satu jenis kontrasepsi yang berbentuk cincin fleksibel yang dimasukkan ke dalam vagina selama tiga minggu, dilepas selama satu minggu, kemudian diganti dengan yang baru. Nuva ring akan memproduksi hormon estrogen dan progesteron ke dalam tubuh. Ortho Evra patch Sebuah patch akan di tempelkan langsung pada kulit untuk membangun hormon pada sisi yang bersentuhan dengan kulit. Setiap minggu selama tiga minggu pertama patch di tempatkan di pinggul, bokong dan daerah lengan atas. Minggu ke empat lepaskan patch untuk memungkinkan periode menstruasi terjadi. Intrauterine Device (IUD) IUD adalah jenis kontrasepsi berbentuk perangkat plastik kecil berisi tembaga atau hormon dan dimasukkan ke dalam rahim oleh seorang ahli medis. IUD tidak menghentikan sperma memasuki rahim tapi mengubah lendir serviks sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya fertilisasi. D. Metode Withdraw dan Sterilisasi Metode kontrasepsi withdraw/penarikan dan sterilisasi dapat mencegah kehamilan tapi tidak mencegah penularan penyakit seksual. Withdraw Termasuk jenis kontrasepsi alami dimana penis ditarik dari vagina sesaat sebelum ejakulasi terjadi Sterilisasi Sterilisasi adalah kontrasepsi yang dilakukan dengan menutup saluran tuba yang membawa sel telur dari ovarium ke rahim. Prosedurnya disebut ligasi tuba. Sterilisasi pada pria dilakukan dengan menutup tabung yang membawa sperma, prosedurnya disebut vasektomi. Ada banyak pilihan untuk menunda atau mengatur kelahiran, jenis-jenis kontrasepsi tersebut diciptakan untuk pria dan wanita, tetapi meski demikian terkadang ada yang cocok dan ada yang tidak. Karena itu sebelum menggunakan salah satu alat kontrasepsi di atas anda perlu berkonsultasi dengan petugas KB. 2.2 Isu Bioetik Dalam Keperawatan Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak & Gallo,1997). Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada bioetik sebagaimana tercantum dalam sumpah janji profesi keperawatan dan kode etik profesi keperawatan. Bioetik adalah etika yang menyangkut kehidupan dalam lingkungan tertentu atau etika yang berkaitan dengan pendekatan terhadap asuhan kesehatan. Dalam pelaksanaanya, etika keperawatan mengacu pada bioetik yang terdiri dari tiga pendekatan, yaitu: pendekatan teleologik, pendekatan deontologik, dan pendekatan intuitionism. A. Kelalaian Perawat dalam menjalankan Tugas Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, perawat bisa saja melakukan kesalahan yang dapat merugikan klien sebagai penerima asuhan keperawatan,bahkan bisa mengakibatkan kecacatan dan lebih parah lagi mengakibatkan kematian, terutama bila pemberian asuhan keperawatan tidak

sesuai dengan standar praktek keperawatan. kejadian ini di kenal dengan malpraktek dan hal ini merupakan kelalaian perawat dalam menjalankan tugas. B. Bioetika keperawatan Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap pada kesejahteraan manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu yang sehat maupun yang sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-harinya. Salah satu yang mengatur hubungan antara perawat pasien adalah etika. Istilah etika dan moral sering digunakan secara bergantian. Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standar dan prinsip-prinsip yang menjadi penuntun dalam berprilaku serta membuat keputusan untuk melindungi hak-hak manusia. Etika diperlukan oleh semua profesi termasuk juga keperawatan yang mendasari prinsip-prinsip suatu profesi dan tercermin dalam standar praktek profesional. (Doheny et all, 1982). Profesi keperawatan mempunyai kontrak sosial dengan masyarakat, yang berarti masyarakat memberi kepercayaan kepada profesi keperawatan untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Konsekwensi dari hal tersebut tentunya setiap keputusan dari tindakan keperawatan harus mampu dipertanggungjawabkan dan dipertanggunggugatkan dan setiap penganbilan keputusan tentunya tidak hanya berdasarkan pada pertimbangan ilmiah semata tetapi juga dengan mempertimbangkan etika. Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perlaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggungjawanb moral.(Nila Ismani, 2001). Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak & Gallo, 1997).Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada bioetik sebagaimana tercantum dalam sumpah janji profesi keperawatan dan kode etik profesi keperawatan. Kemajuan ilmu dan teknologi terutama di bidang biologi dan kedokteran telah menimbulkan berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian besar belum teratasi ( catalano, 1991). Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku. Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir dan bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Banyak pihak yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI atau IBI. Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan terhadap suatu standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang. Sistem nilai dalam suatu organisasi adalah rentang nilai-nilai yang dianggap penting dan sering diartikan sebagai perilaku personal. Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan praktek professional. Perawat atau bidan memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang berkualitas berdasarkan standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan profesional. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat atau bidan, dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau teman. Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat atau bidan mencoba dan mencontoh perilaku pengambilan keputusan yang etis untuk membantu memecahkan masalah etika. Dalam hal ini, perawat atau bidan seringkali

menggunakan dua pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan pendekatan berdasarkan asuhan keperawatan /kebidanan. C. Pendekatan berdasarkan prinsip Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika untuk menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994) menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika biomedik antara lain: a) Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap kapasitas otonomi setiap orang. b) Menghindarkan berbuat suatu kesalahan. c) Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala konsekuensinya. d) Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi Dilema etik muncul ketika kebaikan hati terhadap diri dan orang lain menimbulkan penyebab konflik dalam bertindak. Contoh; ST adalah seorang wanita berusia 31 tahun. Dia tunggal, dan sampai saat ini dia adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar. Pada usia 49, ia mulai mengalami gejala menopause dan menyadari bahwa dia sangat ingin punya bayi. Dia mulai mencoba untuk memiliki anak, pertama dengan menggunakan inseminasi intra-uterus menggunakan sperma donor dan saat ini tidak bekerja, dengan mencari donor telur. Seorang wanita ditemukan yang dibayar untuk menjalani kursus stimulasi varian dan yang kemudian menjalani panen telur. Ini oosit dicampur dengan sperma dari donor dan ditanamkan dalam rahim ST. Anak itu lahir melalui operasi caesar karena dokter tidak berpikir bahwa tubuhnya bisa berdiri kerasnya kerja. ST sangat senang dengan hasilnya. Aku tidak tahu, katanya yang pernah saya bisa mencintai orang ini banyak (Kasus ini didasarkan pada Belkin, 1997). Kelahiran Louise Brown, anak pertama di dunia lahir dari fertilisasi in vitro (IVF), pada tanggal 25 Juli 1978, secara permanen mengubah pemahaman ilmiah dan populer reproduksi manusia. Perkembangan teknologi reproduksi yang dibantu (yang meliputi IVF, donor inseminasi (DI) dan gamet intrafallopian transfer (GIFT), dan ketersediaan jaringan reproduksi disumbangkan, (seperti sperma, telur dan embrio) telah mengangkat berbagai klinis yang kompleks, sosial, hukum dan moral kontroversi tentang konsep-konsep dasar seperti ibu, keluarga, dan status moral embrio dan janin (Antinori et al, 1993, Saunders di al, 1995). Perdebatan etis yang telah mengepung pengenalan teknologi baru telah menyebabkan pengenalan pedoman klinis dan undang-undang untuk mengatur praktek klinis, penelitian kontrol dan memperjelas hubungan keluarga (Dawson & Leeton, 1995). Kemungkinan teoritis IVF pertama kali dipertimbangkan dalam tahun 1930-an, tapi tidak sampai 1969 bahwa pemupukan extracorporeal manusia dicapai di laboratorium (Edwards, 1970), dan pada tahun 1978 itu menjadi kenyataan klinis. IVF membutuhkan oosit yang akan diambil dari ovarium seorang wanita dan dibuahi di laboratorium dengan sperma donor. Oosit yang diaspirasi dari folikel dalam wanita laparoskopi atau transvaginally setelah ovarium telah prima dengan relatif aman, ada beberapa risiko yang terkait dengan hal ini termasuk sindrom ovarium hiperstimulasi berpotensi fatal (Forman, 1990). Oosit diambil kemudian ditempatkan dalam budaya dengan sperma donor dan diperiksa untuk pemupukan setelah 20-24 jam. Dari 10 sampai 20 oosit yang dikumpulkan dari siklus tunggal stimulasi ovarium sekitar 80% diharapkan untuk membuahi. Setelah 24 jam lebih (di mana embrio telah mengalami pembelahan sel lebih lanjut ke tahap empat-sel) mereka cocok untuk transfer ke rahim wanita.

Kehamilan tidak dijamin setelah embrio (Tan et al, 1992). pengakuan bahwa tingkat kehamilan meningkat dengan jumlah embrio ditransfer ke rahim secara bersamaan te menyebabkan praktek transfer embrio ganda. Sayangnya transfer dari empat atau lebih embrio ke rahim meningkatkan risiko kehamilan ganda (ietwins, triplet dll) sehingga meningkatkan risiko bagi ibu dan janin. Kriopreservasi (pembekuan embrio praimplantasi untuk penggunaan nanti) telah menyediakan sarana yang risiko ini dapat dihindari. Setelah demonstrasi bahwa tingkat implantasi dan kehamilan dari embrio beku dan dicairkan pada dasarnya sama dengan segar embrio, kriopreservasi embrio telah menjadi proses, standar aman dan hemat biaya. Dampak teknologi reproduksi yang dibantu dalam pengelolaan medis infertilitas telah besar. Saat ini lebih dari 60% dari pasangan yang memasuki program ART hamil setelah empat siklus dan lebih dari 75% setelah sembilan siklus (Kovacs, 1993). munculnya sel tunggal teknologi DNA telah diperpanjang rentang terapi IVF luar infertilitas-memungkinkan diagnosis dan pencegahan penyakit genetik dengan embrio biopsi dan seleksi embrio (Handyside, 1990). Respon terhadap teknologi reproduksi yang dibantu Dampak teknologi reproduksi pada wanita telah menjadi fokus perhatian dari pakar etika feminis. luas berbicara, tanggapan feminis untuk teknologi reproduksi yang dibantu telah baik noninterventionist (Reich, 1995). Noninterventionists umumnya melihat teknologi reproduksi sebagai manifestasi dari penindasan perempuan dan berspekulasi apakah teknologi reproduksi yang dibantu memperkuat gagasan bahwa perempuan bernilai sosial hanya jika subur (Mies, 1987). Prointerventionist umumnya menyambut teknologi reproduksi bahwa server aspek biologi reproduksi dari identitas sosial perempuan dan membayar janji kebebasan dari biologi tirani. Posisi prointerventionists berutang banyak untuk klasik feminis Simone de Beauvoir The Second Sex (de Beauvoir, 1968). Gelombang Kedua hal teknologi reproduksi feminis sebagai memiliki kekuatan sosial-politik yang melekat yang dapat menyediakan sarana untuk menyerahkan kendali womens kemampuan reproduksi laki-laki, untuk ilmu pengetahuan dan technopartriarchs (keseluruhan, 1983). Tulisan feminis yang lebih baru telah menekankan aspek sosial dan politik dari teknologi reproduksi dan pentingnya persetujuan. Teknologi reproduksi yang dibantu telah datang di bawah serangan dari antropolog sosial, ekologi, dan filsuf dengan alasan bahwa di dunia yang kelebihan penduduk di mana jutaan orang meninggal setiap tahun dari preventatable diease ada sesuatu yang sangat aneh tentang penggunaan dana negara dan keahlian medis untuk menciptakan lebih banyak anak. Di sini terlihat adanya kebutuhan untuk bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala konsekuensinya, tetapi dilain pihak sebagian masyarakat berpendapat bahwa masalah memiliki anak dengan cara mendonorkan spermanya di anggap bertentangan dengan agama islam karena dianggap melakukan perbuatan perzinahan. Hal ini tentu sangat mengecewakan karena tidak ada satu metoda pun yang mudah dan aman untuk menetapkan prinsip-prinsip mana yang lebih penting, bila terjadi konflik diantara kedua prinsip yang berlawanan. Umumnya, pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik, hasilnya terkadang lebih membingungkan. Hal ini dapat mengurangi perhatian perawat atau bidan terhadap sesuatu yang penting dalam etika. Terutama kemajuan di bidang biologi dan kedokteran, telah menimbulkan berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian besar belum teratasi (cakalano, 1991). Kemajuan teknologi kesehatan saat ini telah meningkatkan kemampuan bidang kesehatan dalam mengatasi kesehatan dan memperpanjang usia. Jumlah golongan usia lanjut yang semakin banyak, keterbatasan tenaga perawat, biaya perawatan yang semakin mahal, dan keterbatasan sarana kesehatan, telah menimbulkan etika keperawatan bagi individu perawat. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan dilema etik:

1) Etik Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku manusia, baik secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke arah tujuannya ( Pastur scalia, 1971 ). 2) Etik Keperawatan Etik keperawatan adalah norma-norma yang dianut oleh perawat dalam bertingkah laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan keperawatan yang bersifat professional. Prilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan. 3) Kode Etik Keperawatan kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip umum yang telah diterima oleh suatu profesi. Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari profesi yang memberikan tuntutan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek keperawatan, baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga masyarakat, teman sejawat, diri sendiri dan tim kesehatan lain, yang berfungsi untuk ; a. Memberikan dasar dalam mengatur hubungan antara perawat, pasien, tenaga kesehatan lain, masyarakat dan profesi keperawatan. b. Memberikan dasar dalam menilai tindakan keperawatan. c. Membantu masyarakat untuk mengetahui pedoman dalam melaksanakan praktek keperawatan. d. Menjadi dasar dalam membuat kurikulum pendidikan keperawatan ( Kozier& Erb, 1989 ). 4) Dilema Etik Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih ) landasan moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana setiap alternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson & Thompson (1985 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau yang salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang perawat tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional. 2.3 Masalah Etis Yang Langsung 1. ALTRUISM : Peduli bagi kesejahteraan orang lain (keiklasan) dengan sikap yang ditunjukan yaitu: Caring, Commitment, Compassion (kasih), Generosity (murah hati), Perseverance (tekun, tabah (sabar), kegiatan perawat yang berhubungan dengan Altruism:Memberikan perhatian penuh saat merawat klien, Membantu orang lain/perawat lain dalam memberikan asuhan keperawatan bila mereka tidak dapat melakukannya, Tunjukan kepedulian terhadap isu dan kecenderungan social yang berdampak terhadap asuhan kesehatan. 2. Teknologi Reproduktif Pro : Prointerventionist umumnya menyambut teknologi reproduksi bahwa server aspek biologi reproduksi dari identitas sosial perempuan dan membayar janji kebebasan dari biologi tirani. Posisi prointerventionists berutang banyak untuk klasik feminis Simone de Beauvoir The Second Sex (de Beauvoir, 1968). Gelombang Kedua hal teknologi reproduksi feminis sebagai memiliki kekuatan sosial-politik yang melekat yang dapat menyediakan sarana untuk

menyerahkan kendali womens kemampuan reproduksi laki-laki, untuk ilmu pengetahuan dan technopartriarchs (keseluruhan, 1983). Tulisan feminis yang lebih baru telah menekankan aspek sosial dan politik dari teknologi reproduksi dan pentingnya persetujuan. Anti : Dampak teknologi reproduksi pada wanita telah menjadi fokus perhatian dari pakar etika feminis. luas berbicara, tanggapan feminis untuk teknologi reproduksi yang dibantu telah baik yang bukan intervensi (Reich, 1995). Non-intervensi umumnya melihat teknologi reproduksi sebagai manifestasi dari penindasan perempuan dan berspekulasi apakah teknologi reproduksi yang dibantu memperkuat gagasan bahwa perempuan bernilai sosial hanya jika subur (Mies, 1987). 1. Prinsip-Prinsip Moral Dalam Praktek Keperawatan Prinsip moral merupakan masalah umum dalam melakukan sesuatu sehingga membentuk suatu sistem etik. Prinsip moral berfungsi untuk membuat secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi tertentu.( John Stone, 1989 ). Fry (1991) menjelaskan bahwa dalam praktik keperawatan, ada beberapa konsep penting yang harus termaktub dalam standar praktik keperawatan, diantaranya yaitu: 1. Advokasi Menurut ANA (1985) advokasi adalah melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun. Fry (1987) sendiri mendefinisikan sebagai dukungan aktif terhadap setiap hal yang memiliki dampak/penyebab penting. Sementara itu Gadow (1983) mengatakan bahwa advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas untuk menentukan nasib sendiri. Peran perawat sebagai advokat klien adalah memberi informasi dan bantuan kepada klien atas keputusan yang telah dibuat klien. Hal ini berarti perawat memberikan penjelasan/informasi sesuai kebutuhan klien. Menurut Kohnke (1982), perawat dalam memberikan bantuan memiliki dua peran yaitu peran aksi dan nonaksi.peran aksi berarti perawat memberikan keyakinan kepada klien bahwa mereka memiliki hak dan tanggung jawab dalam memnentukan pilihan atau keputusan sendiri tanpa tekanan pengaruh orang lain. Sedangkan peran nonaksi mengandung arti bahwa sebagai advokat, perawat harus menahan diri untuk tidak mempengaruhi klien. Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus menghargai klien sebagai individu yang memiliki berbagai karakteristik. Perawat harus memberikan perlindungan terhadap martabat dan nilai manusiawi klien selama dalam keadaan sakit. 2. Responsibilitas dan Akuntabilitas Responsibilitas (tanggung jawab) adalah eksekusi terhadap tugas yang berhubungan dengan peran tertentu dari perawat . perawat yang selalu bertanggung jawab dalam melaksanakan tindakannya akan mendapatkan kepercayaan dari klien atau profesi lain. Sehingga ia akan tetap kompeten dalam pengetahuan dan keterampilan serta selalu menunjukan keinginan untuk bekerja berdasarkan kode etik profesi. Akuntabilitas (tanggung gugat) mengandung arti dapat mempertanggungjawabkan suatu tindakan yang dilakukan, dan menerima konsikuensi dari tindakan tersebut (Kozier, erb, 1991). Mengandung dua komponen utama yaitu tanggung jawab dan tanggung gugat (Fry, 1990) dan dipandang dalam suatu tingkatan hierarki, dimulai dari tingkat individu, institusi/profesional, serta sosial (Sulliva, decker, 1998) perawat bertanggung gugat terhadap dirinya, profesi , klien, sesama karyawan, dan masyarakat. Agar dapat bertanggung gugat, perawata harus bertindak profesional serta sesuai dengan kode etik

profesinya. Akunsibilatas dilakukan untuk mengevaluasi efektifikasi perawat dalam melakukan praktik keperawatan. 3. Loyalitas Merupakan suatu konsep yang meliputi simpati, peduli dan berhubungan dengan timbal balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawata. Untul mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan pihak yang harmonis, loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat baik kepada klien, teman sejawat, institusi, maupun profesi. Untuk mewujudkannya, Tabbner mengajukan berbagai argumerntasi: Masalah klien tidak boleh didiskusikan dengan klien lain, karena informasi klien harus didiskusikan secara profesional. Perawat harus menghindari pembicaraa yang tidak manfaat. Perawat harus menghargai dan memberikan bantuan kepada teman sejawat Perawat harus menunjukan loyalitasnya kepada profesi dengan berprilaku secara tepat pada saat bertugas. 2. Prinsip Etis Dalam Pelayanan Keperawatan Lima prinsip penting dalam bidang keperawatan yang dikembangkan oleh Fry (1991) meliputi : 1. Kemurahan Hati (Beneficence) Inti dari prinsip ini adalah tanggung jawab untuk melakukan kebaikan yang menguntungkan klien dan menghindari perbuatan yang merugikan atau membahayakan klien. Tetapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi, resiko yang membahayakan klien dapat terjadi sehingga akan menimbulkan konflik atau 2. Keadilan (Justice) Beauchamp dan Childress memandang bahwa mereka yang sederajat harus diperlakukan sederajat, sedangkan yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan kata lain ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka ia harus mendapatkan sumber kesehatan yang besar pula. 3. Kemandirian (Otonomi) Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk menentukan tindakan atau keputusan berdasarkan rencana yang mereka pilih (Veatch dan Fry, 1987). Penerapan prinsip ini dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, sia, penyakit, ekonomi, lingkungan rumah sakit, tersedianya informasi dan lain-lain. 4. Kejujuran (Veracity) Menurut Veatch dan Fry (1987), prinsip ini didefinisikan dengan menyatakan yang sebenarnya atau tidak bohong. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada klien dalam keadaan terminal, klien ingin diberi tahu tentang kondisinya secara jujur (Vh, 1978). Kejujuran harus dimiliki perawat saat berhubungan dengan klien, karena kejujuran merupakan dasar terbinanya hubungan saling percaya antara perawat dengan klien. 5. Ketaatan (Fidelity) Prinsip ini didefinisikan oleh Veatch dan Fry sebagai tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan. Dalam konteks hubungan perawat-klien meliputi tanggungjawab menjaga janji, mempertahankan konfidensi, dan memberikan perhatian/kepedulian. Kesetiaan perawat

terhadap janji-janji tersebut mungkin tidak akan mengurangi penyakit atau mencegah kematian klien, tetapi akan mempengaruhi kehidupan serta kualitas kehidupan klien. 3. Dilema Etik Dilemma dapat diartikan sebagai konflik antara nilai pribadi dengan kewajiban professional (Ismani, 12001). Dilemma dapat diartikan sebagai konflik antara nilai pribadi dengan kewajiban professional (Ismani, 12001). Dengan ketujuh langkah tersebut, perawat dapat menjelaskan nilai mereka sendiri dan dapat mempertinggi pertumbuhan pribadinya. Langkah ini dapat diterapkan pada situasi pasien yang berbeda-beda, dimana perawat dapat mebantu pasien dalam mengidentifikasi bidangbidang konflik, memilih dan menetukan berbagai alterbatif, menetapkan tujuan, serta melakukan tindakan (Coletta, 1978). 4. Kerangka Proses Pemecahan Masalah Dilema Etik Beberapa kerangka model pembuatan keputusan etis keperawatan dikembangkan dengan mengacu pada kerangka pembuatan kepurusan etika medis (murphy dan murphy, 1976; Borody, 1981). Beberapa kerangka disusun berdasarkan posisi falsafah praktik keperawatan (Benjamin dan Curtis, 1986; Aroskar, 1980), sementara model-model lain dikembangkan berdasarkan proses pemecahan masalah seperti yang diajarkan di pendidikan keperawatan (Bergman, 1973; Curtin, 1987; Jameton, 1984; Thompson dan Thompson, 1985). Berikut ini merupakan contoh kerangka model pembuatan keputusan: Model Jameton yang ditulis oleh Fry: Tahap 1, tinjau ulang situasi yang dihadapi Tahap 2, kumpulkan informasi tambahan Tahap 3, identifikasi aspek etis dari masalah yang dihadapiTahap 4, ketahui atau bedakan posisi pribadi dan posisi moral professional Tahap 5, Identifikasi posisi moral dan keunikan individu yang berlainan Tahap 6, identifikasi konflik-konflik nilai bila ada Tahap 7, gali siapa yang harus membuat keputusan Tahap 8, identifikasi rentang tindakan dan hasil yang diharapkan Tahap 9,Tentukan tindakan dan laksanakan Tahap 10, Evaluasi hasil dari keputusan/tindakan Model keputusan bioetis ( Thompson & Thompson) keputusan bioetik ; Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yangdiperlukan, komponen etis dan petunjuk individual. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi. Mengidentifikasi Issue etik. Menentukan posisi moral pribadi dan professional. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada 5. Strategi Penyelesaian Masalah Etik Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan dokter tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat.Bila ini berlanjut dapat menyebabkan masalah

komunikasi dan kerjasama, sehingga menghambat perawatan pada pasien dan kenyamanan kerja.(Mac Phail, 1988). Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan rounde ( Bioetics Rounds ) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak difokuskan untuk menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi secara terbuka tentang kemungkinan terdapat permasalahan etis. 6. Peran Undang-Undang Dan Aturan Pemerintah Dalam Praktik Keperawatan Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi dengan system klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk praktik keperawatan individual dan berkelompok (RUU keperawatan Pasal 1 ayat 2) 2.4 Pembuatan Keputusan Masalah Etis Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan 1) faktor agama dan adat-istiadat 2) faktor social 3) faktor IMTEK 4) faktor legislasi dan keputusan yuridis 5) faktor keuangan 6) faktor pekerjaan BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak & Gallo, 1997). Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada bioetik sebagaimana tercantum dalam sumpah janji profesi keperawatan dan kode etik profesi keperawatan. 2. Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab konflik dalam bertindak. 3. Dalam praktiknya, seorang perawat harus memiliki prinsi-prinsip Autonomi, Benefesience, Justice, Veracity, Avoiding Killing, Fedelity Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan rounde ( Bioetics Rounds ) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak difokuskan untuk menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi secara terbuka tentang kemungkinan terdapat permasalahan etis. 4. Perbedaan besar nampak antara teleologi dengan deontologi. Secara sederhana, hal ini dapat kita lihat dari perbedaan prinsip keduanya. Dalam deontologi, kita akan melihat sebuah prinsip benar dan salah. Namun, dalam teleologi bukan itu yang menjadi dasar, melainkan baik dan jahat. 3.2 Saran 1. Isu bioetik dalam praktik keperawatan tentu saja bukan barang langka, yang bisa didapatkan oleh calon perawat sekalipun. Dengan mempelajarinya secara rinci, dan dengan mengatahui akibat yang dapat ditimbulkannya. Maka tidaklah bisa dikatakan seorang perawat yang baik, apabila masih melakukan tindakan di luar batas yang diperbolehkan. 2. Dengan adanya bahasan menganai isu bioetik seperti ini, kita akan diingatkan betapa kejinya perbuatan yang melanggar aturan itu. Dan kita juga diajarkan tentang bagaimana menyikapi

segala bentuk dilema dalam praktik keseharian kita. Semoga makalah ini dapat menjadi acuan, atau referensi dalam pengajaran mata kuliah etika keperawatan. DAFTAR PUSTAKA Billings, dr. eveliyn dan Westmore, dr. Ann. Metode Ovulasi Billing: cara mengatur kesuburan. Hanafiah, Amri Amir (2007). Etika Kedokteran dan hokum Kesehatan. Jakarta:EGC Noviawati, Sujiyatii (2009). Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Jogyakarta:MITRA CENDIKIAWAN. Kerridge, Ian dan dkk. (1998). Ethics and Law Health Professions. Australia: Social Sciense Press. Diambil dari web :http://assets.cambridge.org/97805218/01218/sample/9780521801218ws.pdf pada tanggal 06 october 2012. Diambil dari web: http://www.dcmsonline.org/jax-medicine/2000journals/may2000/art.pdf pada tanggal 06 october 2012. Diambil dari website: http://www.rutgerspolicyjournal.org/sites/rutgerspolicyjournal.org/files/issues/8_5/JLPP_85_Singer.pdf pada tanggal 06 october 2012. Diambil dari website: http://www.ahrq.gov/downloads/pub/evidence/pdf/infertility/infertility.pdf pada tanggal 06 october 2012. Diambil dari website:http://www.geneticsandsociety.org/downloads/ART.pdf pada tanggal 06 october 2012. Diambil dari website: http://www.sart.org/uploadedFiles/ASRM_Content/Resources/Patient_Resources/Fact_Sheets_a nd_Info_Booklets/ART.pdfhttp://www.sart.org/uploadedFiles/ASRM_Content/Resources/Patien t_Resources/Fact_Sheets_and_Info_Booklets/ART.pdf pada tanggal 06 october 2012.