Anda di halaman 1dari 9

Tita R Nuryunita B 1C 080423

Sang Pemimpi
Disatu bagian langit matahari rendahmemantulkan uap lengket yang terjebak ditudungi cendrawan gelap gulita, menjerang pesisir sejak pagi. Sedangkan dibelahan yang lain,semburan ultra violet menari-nari di atas permukaan laut yang biru berlapis minyak, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur ke laut seperti reign of fire, lingkaran api. Dan disini, di sudut dermaga ini, dalam sebuah ruangan yang asing, aku terkurung terperangkap, mati kutu. Aku gugup jantungku berayun-ayun seumpama punch bag yang dihantam beruntun seorang petinju. Bertingkat-tingkat di balik peti es, kedua kakiku gemetar. Bau ikan busuk dari peti-peti amis, di ruangan asing ini, sirna dikalahkan rasa takut. Jumron yang tambun dan invalid, kakinya panjang sebelah, terengah-engah di belakangku. Di sebelahnya Arai, biang keladi seluruh kejadian ini lebih menyedihkan sudah dua kali Ia muntah. Kami bertiga baru saja lari semburat, pontang-panting, lupa diri karena dikejar-kejar tooh paling antagonis. Samar-samar suara langkah sepatu terhujam seram di atas jalan setapak yang ditaburi kerangkerang halus. Tersengal Arai memberi saran, saran yang menjengkelkan. Ikal Aku tak kuat lagihhh Habis sudah nafasku Kalian lihat para-para itu? Aku menoleh cepat lompati para-para itu, menyelinap ke warung A Lung, dan membaur diantara para pembeli tahu, aman Jimron yang penakut memohon putus asa Aku tak bisa melompat, kal Semuanya gara-gara Arai. Tapi lamat-lamat berdetak mendekat suara Pantofel, dekat sekali, ketika Ia membalik, Aku membaca nama pada emlem yang tersemat di dadanya: MUSTAR M. DJAIDIN, B.A. Pak mustar menyandang semua julukan seram yang berhubungan dengan tata cara keras dan disiplin. Sebenarnya pak Mustar adalah orang penting. Tanpa dia, kampong kami tak akan pernah punya SMA. I a salah satu perintisnya. Akhirnya kampung kami memiliki sebuah SMA Negeri. Bukan main! Pak mustar berubah jadi monster karena justru anak lelaki satu-satunya tak diterima di SMA Negeri itu. Senin pagi ini kuanggap hari sial. Setengah jam sebelm jam masuk pak Mustar mengunci pagar sekolah. Lebih celaka lagi beberapa siswa yang terlambat justru mengejek pak Mustar. Pemimpin para siswa yang berkelakuan seperti monyet sirkus itu tak lain Arai!! Pak Mustar ngamuk, mengajak dua orang penjaga mengejar kami. Saat itu aku dan Jimron sedang duduk penuh gaya di atas sepeda jengkinya yang butut. Sekelompok siswa kelas satu yang terlambat nongkrong

berderet-deret. Hanya aku dan Jimron pejantan di sana. Di dekat para siswai Aku berpura-pura menunduk untuk membetulkan tali sepatu, ketika bangkit aku menyibakkan jambulku seperti gaya pembantu membilas cucian. Bukannya mendapat simpati, ketika mengayun jambul dengan sedikit putaran manis seperti aksi Jailhouse Rock Elvis Presley, para siswi di depanku menjerit-jerit histeris, separti melihat kuntilanak. Tak sempat kusadari, pak Mustar telah berdiri di sampingku. Pak Mustar merenggut kerah bajuku, menyentakku dengan keras sehingga seluruh kancing bajuku putus, berjatuhan gemerincing. Se detik kemudian aku melesat kabur. Berandalll. . . . . Suara pak mustar membahaha. Aku berlari kencang menyusuri terali sekolah. Kejar-kejaran semakin serusaat aku melintasi pelataran dengan pilar-pilar yang dipenuhi pedagang kaki lima. Pak Mustar ketinggalan dibelakangku semakin jauh. Baru saja berbelok dari sebuah mulut gang, Jimron dan Arai terengah-engah saling berpegangan. Kami menyelinap, hingga akhirnya di gudang peti es inilah kami terperangkap. Aku berjalan menuju pintu gudang. Tiba-tiba kami terperanjat karena dentuman kenalpot Vespa Lambretta. Benar-benar sial, sebab penunggang Vespa itu adalah Nyonya Lam Nyet Pho, pemilik gudang ini. Karena kami telah menyelinap dalam gudangnya, pasti Ia akan menuduh kami mencuri. Jantungku berdetak mengikuti derap langkah Nyonya Pho mendekati peti, ketika Capo membuka tutup peti, wajahnya terkejut membiru seperti anak kecil melihat hantu. Kami bertiga bangkitserentak tanpa ekspresi. Kami melenggang tenang dipimpin seorang lakilaki pemimpi yang hebat bukan main. Arai adalah orang kebanyakan. Sesungguhnya, aku dan Arai masih bertalian darah. Neneknya adalah adik kandung kakekku dari pihak Ibu. Aku teringat beberapa hari setelah yahnya meninggal. Sore itu Ia sudah menunggu kami di depan gubuknya, berdiri sendirian di tengah belantara lading tebu yang tak terurus. Tampak jelas wajah cemasnya menjadi lega ketika melihat kami. Araiu adalah sebatang pohon kara ditengah padang, karena hanya tinggakl Ia sendiri dari satu garis keturunan keluarganya. Ayah Ibunya merupakan anak-anak tunggal and nenek kakeknya dua pihak orang tuanya juga telah tiada. Orang melayu memberi julukan sampai keramat untuk orang terakhir yang tersisa dari suatu klan. Sore yang indah. Prkebunan kelapa sawit di kaki gunung kampong kami seperti garispanjang yang membelah matahari. Pada momen itu aku sedang membicarakan persoalan yang sangat serius dengan Arai melalui pesawat telepon. Kami membahas kerusakan lingkungan karena ulah PN. Timah. Aku duduk santai di atas talang mendengarkan usulnya melalui pesawat telepon kaleng susu bendera yang dihubungkan dengan kawat nyamuk. Arai meneleponku melalui kaleng botan, posisinya di kandang ayam. Saat itu tiba seorang wanita setengah baya, Mak Cik Maryamah datang bersama putrinya, mata mereka bengkak, semuanya habis menangis. Sudah tiga kali minggu ini Mak Cik dating meminjam beras. Keluarga kami memang miskin tapi Mak Cik lebih tak beruntung.

Mata Arai berkaca-kaca melihat Mak Cik bergandengan tangan dengan anakanaknya sambil menenteng setengah karung beras. Aray bergegas membuka pintu peregasan, mengambil celengan ayam jagonya, dan tanpa ragu menghempaskannya. Tanpa berpikir panjang aku menjangkau celenganku lalu melemparkannya. kumpulkan semua Ikal!! perintahnya bersemangat masukkan ke dalam karung gandum. Kami berlari menuju sepeda sambil menenteng karung gandum yang berat gemerincing. Yng terpikir olehku kami akan enghibahkan tabungan kami untuk Mak Cik, seharusnya Ia belok kanan. Arai jelas sedang menuju ke pasar. Kami tiba di took yang sesak. Nyah. . . Seru Arai pada Nyonya Deborah, pemiik took kelontong. terigu 10 kilo, gandum 10 kilo, gula. . . . Aku terkejut tak kepalang. Rai, apa-apaan ini?! Tangkas Aray Ssttt!! Diam, Kal. Ku tepis dengan marah Kemana pikiranmu, Rai Arai, kita memerlukan tabungan itu. Aku tak punya banyak waktu, Kal. . . Nanti kujelaskan. Ikut saja rencanaku, percayalah. . . Kami kembali bersepeda dengan tergesa-gesa, aku masih tak mengerti maksud Arai. Waktu Ia memasuki pekarangan rumah Mak Cik Maryamah, Arai menyerahkan karung-karung tadi pada Mak Cik. Beliau kaget. Lalu kau tertegun mendengar rencana Arai: Dengan bahan-bahan itu diminta Mak Cik membuat kue dan kami yang menjualnya. Aku sangat merasa malu pada diriku sendiri. Sungguh tak kuduga, Arai merencanakansesuatu yang sangat mulia untuk Mak Cik. Sejak itu aku mengenal bagian paling menarik dari Arai. Ia mampu melihat keindahan dibalik sesuatu, keindahan yang hanya bisa orang temui di dalam mimpi-mimpi. Maka Arai adalah seorang pemimpi yang sesungguhnya, seorang pemimpi sejati. Aku selalu berlari. Aku senang berlari menerobos hujan, seperti selendang menembus tirai air berlapis-lapis. Aku tak pernah kelelahan berlari. Sekarang, setiap kali Pak Balia membuai kami dengan puisi-puisi indah Prancis aku hanya menunduk, menghitung hari yang tersisa untuk memikul ikan dan menabung. Aku sangat maklum, bahwa tabungankutak akan mampu membawaku keluar dari pulau kecil Belitong yang bau karat ini. Bagi kami, harapan sekolah ke Perancis tak ubahnya pungguk merindukan dipeluk bulan purnama. Altar suci almamater Sorboune, menjelajah Eropa sampai Afrika, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yagn kelelahan agar tegar bangun pukul dua pergi untuk memikul ikan. Kini aku pesimis, malas belajar. Berangkat dan pulang sekolah lariku tak lagi deras.

Pepatahku sekarang adalah pepatah konyol kuli-kuli Meksiko yang patah orang dengan nasib: Ceritakan mimpimu, agar Tuhan bias tertawa . Seyogyanya sikap buruk yang berubanh keburukan: Pesimistis menimbulkan sinis, lalu iri, lalu dengki, lalu mungkin fitnah. Dan dengarlah ini, akibat nyata sikap buruk itu. Tujuh puluh lima, sekali lagi 75!! Itulah nomor kursi ayahmu sekarang. Aku dipanggil Pak Mustar. Dengan gaya orang melayu tulen aku disemprotnya habis-habisan. Wan prestasi!! Cidera janji!! Anak yang tak mampu memenuhi harapan orang tua!! Tak tahukah engkau, bujang?? Tak ada yang lebih menyenangkan ayahmu selain menerima lapormu?? Hatiku sakit, perih sekali. Pagi-pagi sekali aku dan Arai telah menunggu ayahku dengan harapan yagn amat tipis beliau akan dating. Sejak mengetahui aku terdepakdari gardu depan, karena kepicikan sendiri, Arai sudah malas bicara denganku. Tiba-tiba mataku silau melihat kap lampu alumunium putih dari sepeda yang dikayuh seoran pria berbaju safari empat saku. Aku tak mampu bicara ketika beliau menyapa kami dengan salam pelan Assalamualaikum, tersenyum dan menepuk-nepuk pundak kami dengan bangga. Sungguh berat detik demi detik ku lalui menunggu ayahku keluar dari aula. Ketika beliau menatap kami satu persatu, masih jelas pesan bahwa apapun yang terjadi, bagaimanapun yang terjadi, kami tetaplah pahlawan baginya. Beliau menepuk-nepuk lembut pundak kami dan mengucapkan kata salam dengan pelan. Dadaku ingin meledak memandangi punggung ayahku perlahan-lahan meninggalkan halaman sekolah. Puaskah kau sekarang??!! Arai menumpahkan kemarahannya kepadaku. Apa yang terjadi denganmu Ikal?? Mengapa jadi begini sekolahmu? Keman semangatmu itu?? Mimpi-mimpi itu??!! Arai geram sekali. Biar kau tahu Kal, orang seperti ita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!! Aku tersentak Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati. . . . Aku merasa disiram seember air es. Kita lakukan yang terbaik disini!! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika!! Kita akan sekolah ke Perancis!! Kita akan menginjakkan Altar suci almamater Sorbone! Apapun yang terjadi!! Seketika mataku terbuka untuk melihat harapan besar yang tersembunyi di dalam hati ayahku. Ayahku yang selalu diam, tak pernah menuntut apapun. Yang pendiam, ayah juara satu seluruh Dunia. Zaman dahulu orang melayu bepergian naik perahu atau jalan mkaki. Kuda bukan merupakan bagian dari kebudayaan melayu. Kaku tak bergerak yagn

ditampiljkan Jimbron waktu mendengar kabar amat mengejutkan siang itu. Aku membawa berit aitu padanya. Bron!! Sudahkah kau dengar kabar itu?? Kabar apa, Ikal? Jawabnya lembut. Capo akan memelihara kuda Tubuh jimbron mendadak sontak menjadi kayu, mirip orang disambar petir. Apapun yang berhubungan dengan kuda amat sensitive bagi Jimbron. Makhluk berkaki empat yang pandai tersenyum itu adalah jiwa teganya. Jimbron bolos sekolah. Usai sholat lohor Ia sudah hilir mudik di dermaga. BINTANG LAUT SELATAN merapat. Pintu kapal dibuka para pengunjung tegang dan senyapmenunggu kuda-kuda hebat Australia melangkah keluar. Seekor mahluk hitam berkilat yang sangat besar melompat ke mulut pintu tiba-tiba berdiri seekor kuda hitam Stallion. Lalu seekor kuda putih keluar. Kuda-kuda itu dinaikkan ke atas truk, dan disana Jimbron berdiri tegak di atas tong aspal. Jimbron mendadak lesu darah, telah berubanh menjadi orang lain yang rusak vitalitasnya gara-gara merindukan kuda. Pagi merekah, Arai mengendarai kuda menyusuri tepian pantai, pagi semakin istimewa karena Arai memberi kesempatan kepada Jimbron mengendarai kuda. Jimbron tak berhenti tersenyum. Tak perlu belajar matematika ke SMA hanya untuk menghitung semua rencana mas depan, rencana itu dibuat rapih untuk lima tahun. Rata-rata sarjana Indonesia menganggur setelah lulus kuliah namun, Aku, Jimbron dan Arai berdiri rencana konvensional itu tidak berlaku. Karena kami adalah para pemimpi. Paling tidak karena tenaga diri optimisme, pada bagian rapor terakhir saat tamat SMA Negeri hari ini, Aku kembali mendudukan ayahku di kursi no 3, Arai melejit ke kursi no 2. Jimbron dari kursi 128 menjadi kursi 47. Kebiasaan adalah racun, rutinitas tak lain adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Aku memandangi pasar ikan yang pesing ketika panas dan becek. Tapi aku gamang ketika akan meninggalkan semua kekumuhan ini Merantau, kita harus merantau, berapapun tabungan kita, sampai di Jawa urusan belakangan Arai yakin dengan rencana ini. Kami inhin mengunjungi pulau jawa dan berspekulasi dengan nasib kami. Kami berangkat dari dermaga Olivir ke Tanjung priok, sampai di priok naik bus ke terminal Ciputat di Jakarta Selatan. Hanya itulah petunjuk yang kami pegang dalam perantauan mengadu nasib ini, Ciputat. Aku dan Arai pulang untuk berpamitan kepada Ayah dan Ibu. Ketika membereskan tas, Jimbron menghampiri kami. Aku trkejut, Jimbron menyerahkan tabungannya untukku dan Arai. Kami menghampiri Jimbron dan memeliknya. Air muka Jimbron yang polos menmjadi sembab Kalian lebih pintar, lebih punya kesempatan untuk sekolah lagi, pakailah uang itu, kejarlah cita-cita. Hari ke enam aku melompat dan berteriak sejadi-jadinya Araiii. . . Jakarta. . .

Tiba-tiba seseorang merampas tasku dan Arai, kemudian melemparnya ke dalam bus Naik. . !! Naik . .!! perintahnya. Ke Ciputat pak?! Dia tak menjawab, bagi orang melayu tak menjawab berarti tak setuju. Malam turun, satu persatu penumpang menghilang, Ciputat tak kunjung sampai. Aku dan Aarai tertidur pulas. Kami tiba disebuah terminal yang jauh lebih sepi dari terminal Tanjung Priok. Sebuah jam di taman menunjukkan pukul 12 malam. Misi pertama menemukan terminal ciputat gagal. Kami terdampar di Bogor yang asing bagi kami. Kami berjalan meninggalkan terminal bogor, tak tentu arah segala penat dan pening di kepala selama enam hari seakan menguap demi melihat took yang memukau ini. Toko yang memesona itu: KENTUCKY, FRIED CHICKEN. Aku dan Arai masih terpaku tak mampu mengalihkan pandangan dari took yang seperti istana peri ini. Esoknya dengan mudah kami menemukan kamar kost di sebuah kampong di belakang IPB. Nama kampong ini Babakan Fakultas. Sungguh menyenangkan, baru pertama kali aku melihat kehidupan mahasiswa. Kami yakin dapat kuliah. Berbulan-bulan di Bogor berbekal ijazah SMA, kami tak kunjung mendapat pekerjaan. Pada bulan keempat terpaksa kami memecahkan celengan Jimbron tapi, apa boleh buat melamar kerja pun perlu biaya. Beruntung pada bulan kelima kami mendapat pekerjaan yang istimewa. Kami menjual wajan, Teflon, serta berbagai macam peralatan rumah tangga. Bagiku dan Arai susah bukan main. Lalu kami mendapat pekerjaan di pabrik tali, keadaan kami semakin kritis, sayangnya pbrik tutup sebab bangkrut. Beruntung lagi seorang tetangga kost mengajak kami bekerja di kios photocopy-nya di IPB. Pekerjaan photocopy menimbulkan perasaan sakit nun jauh di dalam hati kami. Waktu itu masih pagi tempat photocopy tempat kami bekerja sepi karena sedang libur. Mang, 20 kali ya, bolak-balik perintah seorang Ibu muda. Yang di photocopy adalah pengumuman penerimaan pegawai baru di kantor pos Bogor. Kalau berminat, boleh saja melamar kata Ibu itu. Kami melamar dan Arai gagal pada tes kesehatan karena ada yagn tak beres dengan paru-parunya. Sedangkan aku diterima. Sebulan penuh aku menjalani pendidikan dasar militer agar nanti dijawatan pos dapat disiplin melayani masyarakat. Setelah sebulan aku pulang ke Bogor karena aku rindu pada Arai, tapi di kamar kost ku tidak ada siapa-siapa, aku melihat sepucuk surat, lututku gemetar. Dengan sahabatnya dri pabrik tali, Arai telah berangkat ke Kalimantan. Selama aku bekerja, menjadi pengawas posadalah puncak karirku. Ribuan surat bertumpuk-tumpuk setiap hari. Aku selalu berdoa semoga ada surat Arai untukku. Aku sedih dan kehabisan cara menghubungi Arai. Tahun berikutnya aku diterima di UI. Aku merindukan Arai setiap hari. Waktu yang pandai menipu demikian cepat berlalu. Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku. Aku baru saja lulus kuliah, masih sebagai pelonco fresh graduate, Ketika membaca sebuah pengumuman beasiswa strata dua yang diberikan Uni Eropa kepada sarjana-sarjana

Indonesia, maka tak sedikitpun kulewatkan kesempatan. Setelah melalui berbagai tes, aku sampai pada wawancara akhir yang menentukan. Aku berjalan santai melewati sebuah koridor dengan pintu berbaris di pinggir kiri dan kanannya. Langkahku terhenti karena aku mendengar suara yangsamar tapi ku kenal. Suara itu nyaring, kering, tak enak didengar. Itu adalah suara Arai. Aku semakin yakin, pasti Arai. Hatiku bergetar, gagang pintu berputar, aku tahu pasti Arai ada di situ. Halo, Boy sapanya lembut. Sampai kramat kami berpelukan. Betapa aku merindukkan sepupu jauhku ini. Arai tampak jelas sebih dewasa. Aku bekerja dalam ruangan di Kalimantan!. Dan sekarang Ia tampan. Ia kuliah di Universitas Mulawarman. Aku mengundurkan diri dari kantor pos bogor. Aku dan Arai pertama kalinya pulang kampong ke Belitong. Kami menitipkan alamat rumah Ibuku pada pengurus beasiswa agar dapat mengirimkan hasil tes kami kesana. Aku dan Arai menyergapnya ketika Ia sedang memasikkan anaknya kedalam knatong besi. Ia terkejut bukan main. Usianya bertambah, tubuhnya semakin besar. Ia bertanya apakah aku sudah selesai sekolah! Sudah. . . teriakku. Mendengar itu Jumbron serta merta mengangkat anamk laki-laki dua tahun itu tinggi-tinggi sambil berteriak girang. Berbulan-bulan aku dan Arai berdebar-debar menunggu keputusan beasiswa. Akhirnya, petang ini Tuan pos! kata Ibuku. Beliau menyerahkan surat padaku dan Arai. Kami sepakat membuka surat-surat itu setelah shalat magrib. Aku tak sanggup membuka surat itu maka aku serahkan pada Ibuku. Ibu membuka dan membacanya, Beliau tercenung, matanya berkacakaca. Detik itu aku langsung tau bahwa aku lulus. Ayahku tersenyum bangga. Kami bangkit menuju ruang tamu. Kami lihat wajah Arai berurai air mata. Kerinduan kepada Ayah Ibunya, seumur hidupku tak pernah melihat Arai menangis. Ia mengatakan dengan lirih Aku lulus. Hari ini milyaran bintang gemintang yang berputar dengan eksentrik yang bersilangan membentuk lingkaran episiklus mengelilingi milyaran siklus yang lebih besar. Tuhan telah mengatur potongan-potongan mozaik hidupku dan Arai, demikian indahnya Tuhan bertahun-tahun telah memeluk mimpi-mimpi kami, karena di kertas itu tertulis nama Universitas yang menerimanya sama dengan yang menerimaku, di sana jelas tertulis: Univesit De Paris, Sorbonne, Perancis.

Tema mencapai

: Dua orang sahabat yang selalu bersama dalam suka dan duka dalam cita-cita.

Alur Latar Tokoh

: Ganda (maju, mundur) : Dermaga, sekolah, rumah, kosan, kampus, terminal. : Ikal (Protagonis) Pendiam, pintar, setia kawan, pantang menyerah. Arai (Protagonis) Setia kawan, berontak tapi berhati pahlawan, pantang menyerah, pintar. Jimbron (Protagonis) Pendiam, polos, setia kawan. Mustar (Antagonis) Keras. Nyonya Pho (Antagonis). Balia (Protagonis). Ayah (Protagonis). Ibu (Protagonis). A long (Tritagonis). - Penjaga Sekolah (Tritagonis). Maryamah dan anak-anaknya (Protagonis). Mahasiswa IPB (Tritagonis). Tetangga (Tritagonis). Sopir (Tritagonis).

Amanat

: 1. 2. 3. 4. 5.

Jangan cepat menyerah pada keadaan. Kejarlah cita-cita dan mimpimu. Jangan mendahului nasib. Tetap sabar demi mencapai cita-cita dan mimpi-mimpimu. Selalu tetap optimis dalam menjalani hidup.