Anda di halaman 1dari 7

Analisis Film Glass House : The Good Mother Abdul Hafidz Ahmad / 201110230311355 I.

Resume Film Film ini bercerita tentang Abby dan Ethan Snow yang kehilangan orang tua mereka dalam sebuah kecelakaan tragis dan diadopsi oleh Eve dan Raymond Goode, dua orang tua yang tampaknya ideal yang baru saja kehilangan anak mereka sendiri, David. Tetapi setelah mereka pindah ke rumah besar gaya Spanyol yang terisolasi milik Goode, mereka dilarang meninggalkan atau membuat panggilan telepon. Abby menyadri banyak hal aneh, ada sebuah tempat tidur di ruang bawah tanah dengan nama 'David' diukir ke dalamnya dan banyak tempat yang mereka tidak dapat masuk ke dalam, seperti kamar anak sebelumnya. Ethan mendapat kamar sendiri dengan dekat kamar mandi untuk kamar tidur utama, tapi Abby mendapat kamar tidur jauh, di menara rumah. Ethan tiba-tiba menjadi sakit parah dan Abby menemukan Eve yang meracuni dia, dan ternyata Eve yang telah melakukan hal yang sama kepada anak-anak asuh sebelumnya yang meninggal dalam perawatan nya. Abby membuat upaya untuk melarikan diri, tapi Eve menangkap dan menguncinya di loteng. Ben Koch (teman dari orangtua Abby dan Ethan) datang ke rumah untuk membawa anak-anak ke Six Flags, tapi Raymond mengatakan kepadanya bahwa Eve mengajak mereka ke pameran seni anak-anak. Setelah berjalan melalui rumah, Ben menjadi curiga. Abby berhasil melarikan diri melalui jendela yang sebelumnya tersembunyi di loteng. Setelah menyadari bahwa Abby telah melarikan diri dari berlomba kurungan, Eve kemudian mulai mengejar dia melalui rumah dengan membawa golok daging. Telepon berdering, Eve dan Abby untuk menjawabnya. Eve mendapatkannya pertama dan orang yang

menelpon menutup teleponnya. Hal ini menunjukkan bahwa itu adalah Ben, mencari tahu apakah mereka benar-benar pergi. Setelah Abby mencoba untuk pergi di dalam mobil lagi, dia dihentikan oleh Raymond, Abby mengetuk dengan kunci inggris. Ben kemudian pergi ke dalam rumah, tetapi disergap oleh Eve, yang menyuntikkan obat penenang ke begian lehernya. Eve terus mengejar Abby dan akhirnya menangkap dia. Dia memegang dia di atas pagar, tapi Abby membalas, menendangnya ke bawah tangga. Eve jatuh ke bawah dan itu menunjukkan bahwa ia mungkin mati. Abby berlari untuk menemukan Ethan, yang ditinggalkan di bak mandi oleh Eve dan tidak dapat bergerak, dengan bak mandi terisi penuh air. Abby menarik Ethan dari bak mandi tepat pada waktunya untuk menyelamatkan nyawanya. Tak lama setelah menyelamatkan Ethan, Eve kembali. Dia berdiri di belakang Abby dengan golok. Dia terlihat ingin membunuh Abby ketika Ben masuk dengan pistol. Tembakan ditembakkan dan Eve terbunuh. Hal ini kemudian mengungkapkan bahwa Raymond menembakkan senjata yang menewaskan istrinya. Raymond ditangkap. Ethan dibawa ke rumah sakit, dan film berakhir dengan Abby duduk dengan Ben dalam ambulans, mereka bertukar pandangan, dan film berakhir. Abby dan Ethan mungkin berakhir dengan Ben.

II.

Analis Teoritis Peran Eve

1. Pandangan Humanistik Dalam pandangan Humanistik, penulis menggunakan pemikiran dari Carl Rogers, di mana menurut Rogers, orang maladjustment sepertinya sepertinys tidak sadar dengan perasaan yang mereka ekspresikan (yang ditangkap jelas oleh orang luar). Mereka juga tidak sadar akan pernyataan yang bertentangan dengan selfnya dan berusaha menolak ekspresi yang dapat mengungkap hal itu. Hubungan akrab dipandang sebagai ancaman, dan keterlibatan dengan orang lain dihindari. Sebaliknya, orang sehat menyadari pengalaman dan ekspresi perasaannya, bertanggung jawab dengan perasaan yang dimilikinya, dan berani bergaul akrab dengan segala resikonya. Tak saling sesuai (incongruence) : orang yang secara psikologik sangat sehatpun secara berkala tetap dihadapkan dengan pengalaman yang mengancam konsep dirinya yang memaksanya untuk mendistorsi atau mengingkari pengalamannya. Ketika pengalaman sangat tidak konsisten dengan struktur self atau pengalaman ingkongruen sering timbul, tingkat kecemasan yang terjadi dapat merusak rutinitas dan orang menjadi neurotic. Kecemasan dan Ancaman : Rogers mendefinisi kecemasan sebagai keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan yang sebabnya

tidak diketahui. Ketika orang semakin menyadari ketidak kongruenan antara pengalaman dengan persepsi dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri kongruen, dan terjadi pergeseran menjadi sikap diri tak kongruen. Tingkah laku bertahan (defensiveness) : Tingkah laku bertahan yang dipakai untuk menangani ingkongruen, dapat efektif atau tidak efektif. Mirip dengan mekanisme pertahanan ego dari Freud. Rogers mengklasifikan ada 2 mekanisme bertahan. Yakni distorsi dan denial. Distorsi adalah pengalaman diinterpretasikan secara salah dalam rangka menyesuaikannya dengan aspek yang ada di dalam konsep self. Distorsi dapat menimbulkan bermacam defense dan tingkahlaku salah suai. Denial paling adalah tidak orang menolak menyadari bagian suatu dari pengalaman, menghalangi beberapa

pengalaman untuk disimbolisasi. Pengingkaran itu dilakukan terhadap pengalaman yang tidak kongruen dengan konsep diri, sehingga orang terbebas dari ancaman ketidak-kongruenan diri. Dalam film ini ditunjukkan bahwa Eve mengalami maladjusmen. Dia tak sadar akan perasaannya bahwa dia membutuhkan perhatian, dan dia juga berusaha menolak pernyataan akan itu. Pernyataan dari Abby yang mengatakan bahwa dia tidak wajar dalam mendidik anak. Dia juga ingkongruen, diketahui dari konsep dirinya bahwa dia adalah ibu yang baik dan juga pengalaman terakhirnya kehilangan David hingga dia menjadi neurotic. Dia juga merasakan kecemasan akan kehilangan anak lagi dan juga mendapat ancaman dari Abby. Dan juga kecemasan dari sebab yang sebabnya itu pun tak diketahui. Eve juga mengalami distorsi dan denial, bahwa interpretasi sosok ibu yang baik berubah menjadi ibu yang kejam dan sangat otoriter. Itu dikarenakan karena Eve gagal mempersepsi

pengalamannya

tetapi

gagal

untuk

menangkapnya.

Dia

juga

mengingkari bahwa sebenarnya anak-anaknya takut akan sosok Eve, namun Eve merasa bahwa mereka baik-baik saja. Konsep diri Eve yang menganggap dirinya ibu yang baik sangat jauh dari kenyataan hingga terjadi ingkongruensi.

2. Pandangan psikoanalisis Karen Horney mengungkapkan dalam teorinya terdapat neurotic needs, yaitu : a. Need for affection & approval (kasih sayang & persetujuan) b. Need for a dominant partner in life c. Need for Narrow & constricted limits to life d. Need for power (kekuasaan) e. Need for exploitation f. Need for prestige (prestis) g. Need for personal admiration (penghargaan/ dikagumi) h. Need for personal achievement/ambition (prestasi) i. Need for self sufficiency & independency (kemandirian) j. Need for perfection & unassailability (kesempurnaan &

ketidaktercelaan) Dalam kasus MSP (Munchausen Syndrom Proxy) yang terdapat dalam film Glass House 2 ini kita dapat mengaitkannya dengan neurotic needs tersebut. Sosok ibu (Eve) dalam film tersebut menggambarkan bahwa sang ibu sangat membutuhkan pengakuan

dan kasih sayang (Need for affection & approval), kekuasaan sebagai sosok ibu yang sempurna (need for power), dan kebutuhan akan kesempurnaan (need for perfection). Eve, membutuhkan pengakuan dari anak-anak mereka agar Eve dapat menjadi ibu yang baik. Sikapnya juga dapat dimasukkan dalam kebutuhan akan kekuasaan (need for power), hal ini terlihat dari Eve yang mendominasi dalam rumah tersebut. Dan kebutuhan akan kesempurnaan dimana Eve terlihat sangat bersih dan tidak akan membiarkan 1 titik kotoran mengotori rumahnya. Dalam teori Karen Horney terdapat Neurotic coping

strategies, di mana Berkembang dari protective mechanism. Neurotic Coping Strategies adalah perluasan dari protectives devices. Moving towards people (a,b) compliant personalities. Digambarkan dengan kebutuhan akan perhatian dan persetujuan yang kuat dan terus menerus yaitu kebutuhan untuk dicintai, diinginkan, diperlukan dan dilindungi. Individu akan mendekati orang yang dianggap sebagai sumber ancaman. Ia akan melakukan apapun yang dibutuhkan oleh orang lain untuk mendapatkan perhatian, persetujuan, dan cinta.

3. Pandangan Behaviorisme Bandura mengungkapkan bahwa self regulation bisa dicapai bila self efficacy telah terpenuhi. Ada 4 sumber self efficacy : 1. Performance Experience : Prestasi yang pernah dicapai pada masa lalu 2. Vicarious Experience : Mengamati model atau orang lain yang pernah berhasil

3. Social support : Dukungan dan persuasi sosial 4. Emotional arroushal : Banyak tidaknya emosi negative yang dipendam. Bisa kita lihat bahwa Eve tidak mendapatkan semuanya. Dia anti social. Interaksi dengan orang sekitar kurang. Letak rumah yang isolative membuat Eve tidak mendapatkan contoh dari orang sekitar, juga tak mendapatkan dukungan dari social, serta prestasi yang selalu gagal dalam mendidik anak.